cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ganendra@batan.go.id
Editorial Address
Jl. Babarsari Kotak Pos 6101 ykbb, Yogyakarta 55281
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Ganendra: Majalah IPTEK Nuklir
ISSN : 14106957     EISSN : 25035029     DOI : https://doi.org/10.17146/gnd
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Iptek Nuklir Ganendra merupakan jurnal ilmiah hasil litbang dalam bidang iptek nuklir, diterbitkan oleh Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan (PTAPB) - BATAN Yogyakarta. Frekuensi terbit dua kali setahun setiap bulan Januari dan Juli.
Arjuna Subject : -
Articles 236 Documents
APLIKASI MESIN BERKAS ELEKTRON UNTUK PENGOLAHAN GAS BUANG Sudjatmoko Sudjatmoko
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 9 Nomor 2 Juli 2006
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.342 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2006.9.2.171

Abstract

APLIKASI MESIN BERKAS ELEKTRON UNTUK PENGOLAHAN GAS BUANG. Emisi gas buang SO2 dan NOx keudara dari suatu aktivitas industri berat terutama dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak bumipada pembangkit listrik merupakan salah satu sumber utama polusi lingkungan. Polutan udara tersebut seringkaliberpindah tempat sampai ribuan kilometer dan menimbulkan masalah lingkungan di tempat lain, bahkan negara lain,oleh karena itu polusi udara tersebut menjadi masalah besar dunia. Pada saat ini beberapa negara telah menerapkanaturan pengendalian emisi yang lebih ketat untuk menyelesaikan masalah polusi udara. Pada saat ini pengolahan gasbuang dengan berkas elektron diketahui sebagai suatu metode pengendalian polusi yang menjanjikan denganbeberapa keunggulan antara lain dapat mengolah SO2 dan NOx secara serentak dengan tingkat efisiensi tinggi,merupakan proses kering, ramah lingkungan karena mengubah polutan menjadi pupuk pertanian dan lain sebagainya.Dalam makalah ini akan dibahas tentang Mesin Berkas Elektron dan aplikasinya untuk pengolahan gas buang PLTUbatubara.
IDENTIFIKASI OZON DAN APLIKASINYA SEBAGAI DESINFEKTAN Isyuniarto Isyuniarto; Widdi Usada; Suryadi Suryadi; Agus Purwadi; Mintolo Mintolo; Tri Rusmanto
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 5 Nomor 1 Januari 2002
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.682 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2002.5.1.209

Abstract

IDENTIFIKASI OZON DAN APLIKASINYA SEBAGAI DESINFEKTAN. Telah dilakukan identifikasi ozon dan aplikasinya sebagai desinfektan. Ozon dibuat dari udara dan gas oksigen yang dihasilkan dari alat ozoniser. Untuk mengidentifikasi ozon digunakan metode spektrofotometri pada panjang gelombang maksimum 252 nm, waktu kestabilan 20-25 menit, sedang untuk menghitung ozon secara kuantitatif digunakan pembanding larutan iodium (I2) karena mol I2 sebanding dengan mol ozon. Ozon ini kemudian dikontakkan dengan sampel air sumur yang tercemar bakteri E-coli dan ternyata hasilnya sangat efektif untuk membunuh bakteri E-coli tersebut.
KAJIAN PENGURANGAN S02 DAN NOx DARI GAS BUANG HASIL PEMBAKARAN DENGAN AKSELERATOR Sukarsono .
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 7 Nomor 1 Januari 2004
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1408.809 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2004.7.1.1283

Abstract

Emisi gas nitrogen oksida dan sulfur oksida merupakan salah satu sumberpencemaran dan kerusakan lingkungan. Gas-gas tersebut disebut gas asam, dapat menyebabkanhujan asam, efek rumah kaca secara tidak langsung, merusakkan hutan, menghancurkan hasilpanen, merusakkan lahan pertanian dan kehidupan hewan, korosi bangunan dan menimbulkanmasalah-masalah kesehatan. Pengurangan gas berbahaya dalam gas hasil pembakaran banyakdilakukan dengan penyerapan gas SOl, dikombinasi dengan proses pencegahan terjadinya gas NOxmelalui pembakaran ulang gas NOx atau reduksi gas hasil pembakaran baik secara katalitik maupuntidak Cara tersebut menimbulkan banyak limbah cairo Cara baru yang tidak menimbulkan limbahcair dan dapat menghilangkan NOx dan SO2 secara simultan dapat dilakukan dengan iradiasimenggunakan berkas elektron. Gas Hasil Pembakaran diiradiasi menghasilkan senyawa radikalyang memicu reaksi NOx menjadi asam nitrat dan SOl menjadi asam sulfat yang apabila direaksikandengan ammoniak menghasilkan ammonium sulfat dan ammonium nitrat. Kedua hasil sampingdapat digunakan sebagai pup uk tanaman. Dengan proses baru ini biaya investasi lebih besar tetapibiaya opeasional menjadi murah dan dihasilkan produks samping sehingga biaya keseluruhan
PENGARUH SUDUT KOLIMASI KOLIMATOR 2 TERHADAP RESOLUSI DAN INTENSITAS BERKAS DIFRAKTOMETER NEUTRON DN3 Fajar Fajar; Mugirahardjo Mugirahardjo
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 13 Nomor 2 Juli 2010
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.668 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2010.13.2.49

Abstract

PENGARUH SUDUT KOLIMASI KOLIMATOR 2 TERHADAP RESOLUSI DAN INTENSITAS BERKASDIFRAKTOMETER NEUTRON DN3. Telah dilakukan studi efek perubahan sudut kolimasi kolimator 2 terhadapperforma difraktometer neutron serbuk DN3. Semakin besar sudut kolimasi kolimator 2 maka intensitas berkasterukur di detektor utama juga semakin tinggi. Sebaliknya resolusi peralatan menjadi semakin rendah pada suduthamburan rendah dan tinggi. Telah didiskusikan beberapa alternatif untuk meningkatkan kinerja peralatan DN3dengan mempertimbangkan kompromi antara resolusi dan intensitas seperti peningkatan kolimasi berkas danpemanfaatan sistem monokromator fokusing.Kata Kunci : difraktometer, intensitas, resolusi, TiO2
ANALYSIS ON AlMg2 AS RSG-GAS CLADDING MATERIAL CORROSION IN CHLORIDE CONTAINING WATER Febrianto Bahar; Sriyono Sriyono; Geni Rina Sunaryo
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 21 Nomor 2 Juli 2018
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1382.298 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2018.21.2.4271

Abstract

AnalYsis On AlMg2 AS RSG-GAS CLADDING material corrosion IN CHLORIDE CONTAINING WATER. The AlMg2is one of an alluminium alloy that used as cladding material for the RSG GA. Siwabessy (RSG-GAS) research reactor in Serpong, Indonesia. The reactor uses demineralized water as primary coolant with 6.5 to 7.5 of pH. A poor treatment of water in primary coolant can lead to the problem of AlMg2 integrity. The primary coolant concentration of chloride must lower than 0.0094 ppm to protect cladding corrosion. The purpose of this study is to determine the effect of temperature and chloride ion concentration to AlMg2. The method in this research is to observe the corrosion rate for AlMg2 material by using Potentiostat. The laboratory experiments were conducted in various temperatures (28, 35, 40 and 45°C) and concentration of sodium chloride of 0.005, 0.010, 0.015, 0.020, 0.025, 0.030 and 0.035 ppm. The results show the corrosion rates were very small, and the highest corrosion rate occurred is 1.23 x 10-3mpy in 0.035 ppm of NaCl at 45°C .
DESAIN KOLIMATOR TIPE TABUNG UNTUK PENYEDIAAN BERKAS RADIOGRAFI DENGAN SUMBER GENERATOR NETRON Yohannes Sardjono
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 10 Nomor 2 Juli 2007
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.829 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2007.10.2.162

Abstract

DESAIN KOLIMATOR TIPE TABUNG UNTUK PENYEDIAAN BERKAS RADIOGRAFI DENGAN SUMBERGENERATOR NETRON. Telah dilakukan desain kolimator untuk penyediaan berkas radiografi netron dengansumber generator netron. Kolimator ini berguna untuk mendapatkan fluks netron termal yang optimal dengan pengotorradiasi (netron epitermal dan gamma) yang sekecil-kecilnya. Proses desain dilakukan dengan melakukan simulasimenggunakan Monte Carlo N-Particle (MCNP) code untuk menghitung tally berupa fluks netron dan laju dosisekuivalen. Desain kolimator yang dipilih adalah jenis tabung yang tersusun dari material moderator parafin, reflektorgrafit, dan kolimator wall alumunium. Parameter optimasi desain adalah panjang kolimator 4 - 8 cm, dengan interval 1cm, jenis bahan moderator (parafin, grafit, berilium, dan air), jenis beam filter adalah timbal, dan material apertureadalah boron atau kadmium. Kriteria penerimaan adalah fluks netron termal 103 - 106 n.cm-2.s-1, n/γ ratio > 106n.cm-2.mR-1 dan Cd ratio > 2. Untuk keselamatan lingkungan digunakan parafin sebagai biological shielding dan timbalsebagai casing. Dari hasil perhitungan optimasi desain dapat diperoleh bahwa kolimator dengan sumber generatornuetron menghasilkan keluaran fluks netron termal 4.67 + 0.5981 x 103 n.cm-2.s-1, rasio netron-gamma (n/γ) ≥ (1.56 +0,000111).106 n.cm–2 mR-1 dan laju dosis ekuivalen pada jarak 10 cm dari permukaan fasilitas adalah 0,0378 - 0,0521mR/jam.
DESAIN DAN KONSTRUKSI CORONG PEMAYAR MESIN BERKAS ELEKTRON Suprapto Suprapto; Sudjatmoko Sudjatmoko; Setyo Atmodjo; Sukaryono Sukaryono; Sukidi Sukidi
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 6 Nomor 1 Januari 2003
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.598 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2003.6.1.200

Abstract

DESAIN DAN KONSTRUKSI CORONG PEMAYAR MESIN BERKAS ELEKTRON. Telah dilakukan desain dan konstruksi corong pemayar mesin berkas elektron. Dalam mesin berkas elektron, corong pemayar digunakan untuk melewatkan berkas elektron. Agar dapat berfungsi dengan baik maka harus divakumkan sampai 10-6 mbar. Desain ini adalah untuk menentukan jenis dan demensi material dalam pengkonstruksian corong pemayar sehingga jika divakumkan tidak terjadi defleksi. Dari hasil desain dan konstruksi corong pemayar didapatkan hasil rancangan dalam bentuk gambar susunan dan detil serta konstruksi bagian-bagian corong pemayar untuk mesin berkas elektron. Menurut perhitungan untuk konstruksi corong pemayar digunakan bahan stainless steel 316 L. Agar didapatkan defleksi yang terjadi kurang dari 4 mm digunakan sirip penahan stainless steel 316 L dengan tebal 10 mm sebanyak 12 buah. Dalam konstruksinya untuk sirip penahan ke 7 sampai ke 12 digunakan stainless steel 316 L tebal 20 mm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa defleksi maksimum terjadi pada sirip penahan ke 5 dan ke 10 yaitu sebesar 1 mm sehingga jauh lebih kecil dibanding yang direncanakan. Tingkat kevakuman akhir dengan pompa rotari saat masih terjadi kebocoran adalah 5×10-1 mbar dan setelah diperbaiki sehingga kebocoran tidak terjadi adalah 6,6×10-2 mbar. Pengujian tingkat kevakuman akhir dengan pompa difusi saat masih ada kebocoran tidak dapat dilakukan, sedangkan setelah diperbaiki sehingga tidak terjadi kebocoran adalah 5×10-4 mbar. Tingkat kevakuman akhir yang dapat dicapai baik dengan pompa rotari maupun pompa difusi hampir mendekati kemampuan pompa ratari dan pompa difusi yang digunakan.
INSTALASI DAN EVALUASI GROUNDING UNTUK MBE INDUSTRI LATEKS PTAPB MENGGUNAKAN MULTIPLE ROD Suyamto Suyamto; Sutadi Sutadi; Elin Nuraini
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 15 Nomor 2 Juli 2012
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.088 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2012.15.2.17

Abstract

INSTALASI DAN EVALUASI GROUNDING UNTUK MBE INDUSTRI LATEKS PTAPB MENGGUNAKAN MULTIPLE ROD. Telah dilakukan instalasi dan evaluasi grounding pada MBE untuk industri lateks PTAPB menggunakan multiple rod. Instalasi didasarkan pada kebutuhan nilai tahanan pentanahan Rp yang kecil dengan cara pemilihan bentuk, ukuran dan jumlah elektrode serta lokasi penanaman elektrode. Agar diperoleh resistivitas tanah  yang rendah, sumur ditimbun tanah liat pada bagian di sekitar elektrode. Instalasi dilakukan dengan menanam elektrode-2 batang tembaga (Cu) pejal diameter 16 mm pada 2 buah sumur, masing-2 berjumlah 4 buah @ 2 meter dan 8 buah @ 1 meter, menembus 2 lapisan tanah. Dengan konfigurasi elektrode yang telah ditentukan, diperoleh Rp terukur rata-rata 3,99  pada sumur I dan 5,82  pada sumur II atau Rpt = 2,36  jika dirangkai paralel, sedangkan dari pengukuran setelah keduanya dikopel diperoleh nilai rata-rata Rpt = 1,97 . Dari perhitungan secara trial and error dengan memvariasi , diperoleh tahanan tanah bagian atas R1 = 6,53  dan tahanan tanah bagian bawah R2 = 10,41  atau jika diparalel RpI = 4,01  untuk sumur I, sedangkan untuk sumur II diperoleh R1 = 7,72  dan R2 = 23,64  yang jika diparalel diperoleh Rp2 = 5,81 . Bila tahanan pada sumur I dan II diparalel diperoleh Rpt = 2,37 . Perbedaan Rpt antara pengukuran dan perhitungan 0,40  sangat dimungkinkan karena pengukuran Rpt sulit dilakukan dan sangat dipengaruhi oleh inhomogenitas resistivitas tanah antara satu tempat dengan tempat yang lain. Dari evaluasi diketahui bahwa pengaruh panjang dan kedalaman penanaman lebih dominan dibanding dengan jumlah elektrode. Dengan perbedaan kedalaman elektrode 0,55 m dibanding dengan jumlah elektrode 2 kali diperoleh perbedaan tahanan yang sangat besar yaitu 18,47 Ω.Kata kunci : MBE, tahanan pentanah, batang banyak
KARAKTERISTIK FISIKO-KIMIA SEDIAAN RADIOISOTOP 175YbCl3 HASIL IRADIASI BAHAN SASARAN 174Yb DIPERKAYA 98,4% Azmairit Aziz; Nana Suherman
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 16 Nomor 1 Januari 2013
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.092 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2013.16.1.478

Abstract

Radioisotop pemancar-β terus dikembangkan di berbagai negara baik untuk paliatif, radiosinovektomi maupun terapi kanker.Iterbium-175 (175Yb) merupakan salah satu radiolantanida yang dapat digunakan untuk tujuan tersebut. Pada penelitian sebelumnya telah dilaporkan pembuatan radioisotop 175YbCl3 hasil iradiasi bahan sasaran iterbium oksida alam di reaktor TRIGA 2000 Bandung. Akan tetapi, radioisotop 175YbCl3 yang dihasilkan belum dapat diaplikasikan secara luas, khususnya dalam penandaan peptida dan antibodi sebagai radiofarmaka untuk terapi kanker. Radiosotop yang digunakan harus memiliki kemurnian radionuklida dan aktivitas jenis tinggi. Untuk itu,makapada penelitian ini dilakukan pengembangan pembuatan sediaan radioisotop 175YbCl3 hasil iradiasi bahan sasaran iterbium oksida di RSG-G.A Siwabessy Serpong (fluks neutron =1,8 x 1014 n.cm-2.det-1) dengan pengayaan isotop 174Yb sebesar 98,4%. Sediaan radioisotop 175YbCl3yang diperoleh ditentukan karakteristik fisiko-kimianya meliputi penentuan tingkat keasaman (pH), kejernihan, kemurnian radionuklida, aktivitas jenis, muatan listrik, kestabilan dan kemurnian radiokimia. Kemurnian radiokimia ditentukan dengan menggunakan metode kromatografi kertas dan elektroforesis kertas. Hasil menunjukkan bahwa sediaan radioisotop 175YbCl3 tidak bermuatan, memiliki kemurnian radionuklida sebesar 100% dan aktivitas jenis pada saat end of irradiation (EOI) sebesar 173,12 – 480,21 mCi/mg Yb. Sediaan radioisotop 175YbCl3 berupa larutan jernih, memiliki pH 2 dankemurnian radiokimia sebesar 99,66 ± 0,22% serta masih stabil sampai satu bulan dengan kemurnian radiokimia sebesar 99,24 ± 0,48%. Sediaan radioisotop175YbCl3 hasil iradiasi bahan sasaran 174Yb diperkaya 98,4% memiliki karakteristik fisiko-kimia yang memenuhi syarat untuk terapi kanker,radiosinovektomi dan paliatif.
REACTIVITY INSERTION ACCIDENT ANALYSIS OF KARTINI REACTOR Tegas Sutondo
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 14 Nomor 2 Juli 2011
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.22 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2011.14.2.40

Abstract

REACTIVITY INSERTION ACCIDENT ANALYSIS OF KARTINI REACTOR. A transient analysis of reactivity insertionaccident of Kartini reactor during start up from the minimum critical condition has been performed to estimate the effect onthe fuel temperature increase. Two cases of reactivity insertion limits had been assumed in this study i.e. the reactivityinsertions were limited by the actuation of overpower trip system (110 %) for the 1st case and by manual scram when thecontrol rod reached the 100 % UP position, assuming the overpower trip system was failed to function for the 2nd case.Adiabatic condition was assumed in this study, to get the most severe condition. The result shows that based on theassumed power level of trip setting for the 1st case, the total reactivity insertion was 0.82 $, corresponding to the reactorperiod of about 2 s and causing the maximum fuel temperature increase of around 11 oC or the maximum fuel temperature of45 oC. For the 2nd case the total reactivity insertion at the trip point was 1.367 $, resulting in the maximum fuel temperatureincrease of about 103 oC or maximum fuel temperatur of around 137 oC which is still far below the defined design limit of1115 oC for transient condition and 700 oC for steady state as well. This result concludes that by limiting the available coreexcess of reactivity at reasonably low, it could prevent the fuel from possible of undergoing an excessive temperatureincrease, during the postulated reactivity insertion accident.Keywords: Transient analysis, reactivity insertion, accident, reactor kartini, fuel temperature.