cover
Contact Name
Meri Septiani
Contact Email
meryseptia99@gmail.com
Phone
+6281818895790
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Dokter Soejono, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Mabasan
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : https://doi.org/10.62107/mab.v19i2.1177
Core Subject : Education, Art,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. The scope of MABASAN includes linguistics, applied linguistics, interdisciplinary linguistics studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. MABASAN is published by Balai Bahasa NTB, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. MABASAN accepts articles from authors of national or international institutions.
Articles 277 Documents
SOCIOLINGUISTICS IN LANGUAGE TEACHING Ahmad Faizin HS
MABASAN Vol. 9 No. 2 (2015): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v9i2.159

Abstract

Pengajaranbahasaberkaitandengansosiolinguistikdalamberbagaicara. Faktorsosial yang berbedamempengaruhipengajarandanpembelajaranbahasa.Tulisaninimengkajihubunganantarasosialinguistikdanpengajaranbahasa.Beberapafaktorsosialsepertisituasikonteks, dan settingsosialmemilikiperandalampembelajaranbahasa.Sosiolinguistikmenjelaskantentangfaktor-faktorutama yang mempengaruhipemilihanlinguisticdanmenjelaskanseberapabaikpengajaransaatinidalammemanfaatkanfaktor-faktortersebut.Sosiolinguistikjugamenelaahberbagaivariasidalampenggunaanbahasayang digunakanoleh orang yang memilikiberbagaikarakter.
MODALITAS DEONTIK DIALEK KUTO-KUTE BAHASA SASAK DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENGAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP Denda Puspita Sari
MABASAN Vol. 9 No. 2 (2015): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v9i2.160

Abstract

Salahsatu bahasa lokal yang ditemukan di Nusantara adalah bahasa Sasak. Bahasa Sasak salah satu bagian dari budaya nasional seperti bahasa lokal lainnya, perlu dilestarikan, dipelihara dan dikembangkan perannya tidak hanya sebagai bagian media komunikasi tetapi dapat juga menjadi sumber pengajaran bahasa lokal sebagai kekayaan nasional yang beragam. Berdasarkan pada masalah di atas, masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah bentuk modal deontik dialek Kuto-kute bahasa Sasak? (2) Bagaimanakah bentuk makna modal deontik dalam dialek Kuto-kute bahasa Sasak? (3) Bagaimanakah hubungan antara modal deontik dialek Kuto-kute dan relevansinya dengan pembelajaran bahasa di sekolah? Teknik pengumpulan data adalah wawancara dengan teknik lanjutan teknik rekam dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Bentuk modal deontik dialek Kuto-kute bahasa Sasak adalah bentuk permisi yang mencakup bentuk langsung dan tidak langsung, sedangkan bentuk perintah dalam bentuk deklaratif dan imperatif. (2) Modalitas deontik bahasa Sasak mencakup dua makna, yaitu makna permisi dan perintah penting yang dapat diekspresikan menggunakan penanda modalitas dan (3) Salah satu tipe dialek, dialek Kuto-kute berbedadengan dialek lainnya, sehingga dalam memformulasikan materi pengajaran bahasa membutuhkan langkah khusus dalam bentuk yang logis dan makna yang terkandung di dalamnya dapat dimengerti dengan mudah oleh siswa dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
FUNGSI TRADISI LISAN SUSURUNGAN BAGI MASYARAKAT BANJAR HULU NFN Hestiyana
MABASAN Vol. 9 No. 2 (2015): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v9i2.161

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi tradisi lisan susurungan bagi masyarakat Banjar Hulu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data adalah teknik rekam dan teknik catat. Prosedur pengolahan data dilakukan dengan empat tahapan, yaitu: (1) transkripsi rekaman data, (2) klasifikasi data, (3) penerjemahan data, dan (4) menganalisis data. Sumber data dalam penelitian ini adalah: (1) data primer, yaitu data yang diperoleh dari informan di lapangan sebanyak 4 orang yang dikategorikan sebagai penutur tradisi lisan susurungan yang bertempat tinggal di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, dan Kabupaten Tabalong; dan (2) data sekunder, yaitu data pelengkap yang diperoleh dari hasil penelitian yang sudah ada yang terkait dengan penelitian tradisi lisan Banjar Hulu susurungan. Dari hasil sumber data primer di lapangan diperoleh hasil perekaman, yaitu sebanyak 27 tuturan. Akan tetapi, dalam tahap analisis data hanya disajikan hasil teks tuturan yang dianggap mewakili masing-masing fungsi susurungan. Hasil penelitian ditemukan ada tiga fungsi tradisi lisan susurungan bagi masyarakat Banjar Hulu, yaitu(1) fungsi susurungan untuk menguji kepandaian seseorang, 2) fungsi susurungan untuk mengisi waktu pada saat bergadang menjaga jenazah, dan 3) fungsi susurungan untuk dapat melebihi orang lain.
EKSISTENSI MASALAH SUPRANATURAL DALAM FOLKLOR LISAN SASAK: SUATU KAJIAN TEMATIS TERHADAP CERITA RAKYAT SASAK YANG TELAH DIDOKUMENTASIKAN Lalu Fakihuddin
MABASAN Vol. 9 No. 2 (2015): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v9i2.162

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bentuk-bentuk kepercayaan masyarakat Sasak zaman dahulu tentang hal-hal yang bersifat supranatural dan eksistensinya pada masyarakat Sasak saat ini. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif-interpretatif. Sumber data penelitian ini berupa sekuen-sekuen tertentu dari Cerita Rakyat Sasak yang menggambarkan keyakinan masyarakat Sasak tentang masalah supranatural. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutik, yakni suatu pendekatan yang berusaha menafsirkan suatu teks secara mendalam. Analisis data mengacu pada model perspektif-konstruktifis, yaitu diarahkan oleh intensi, kategori-kategori yang telah ditentukan, dan target hasil yang ingin diperoleh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam  cerita rakyat Sasak banyak terungkap kepercayaan kepada hal-hal supranatural, gaib, atau di luar nalar manusia. Masalah-maalah supranatural tersebut berupa karamah/keramat Wali Allah, kepercayaan terhadap  kebenaran wangsit, firasat, dan mimpi, serta kepercayaan kepada makhluk halus.
PENGEMBANGAN MODEL KEMAMPUAN GENERIK MENULIS CERPEN (STUDI CLASSROOM ETNOGRAPHY SISWA KELAS XI MAN 1 MATARAM) Rabiyatul Adawiyah; Syukrina Rahmawati
MABASAN Vol. 9 No. 2 (2015): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v9i2.163

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan model pembelajaran kemampuan generik dalam materi menulis cerpen terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Pembelajaran menekankan pada peserta didik untuk bekerja dalam kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran dengan berpusat pada siswa (student centered). Metode yang digunakan yaitu Classroom etnograpy dengan subyek satu kelas yaitu kelas XI IPA 2 MAN 1 Mataram. Data dikumpulkan melalui observasi, angket, dokumentasi, wawancara dan pemberian tugas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan model pembelajaran dengan kemampuan generik ini mempunyai kelebihan: ketepatan waktu 76%, kerja sama 92%, Motivasi 94%, tanggung jawab 74% dan berpikir kritis 64%. Adapun hasil kemampuan menulis cerpennya 94% kategori tinggi. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan pengembangan model pembelajaran kemampuan generik lebih baik dan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan produk siswa.
CONSTRUCTING COMPLIMENT IN ENGLISH AND BAHASA INDONESIA : A COMPARATIVE STUDY Syaiful Akhyar
MABASAN Vol. 9 No. 2 (2015): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v9i2.164

Abstract

Compliment defined as a form of appreciation, entertainment, manifesting of satisfaction, and the way of encouragement to increase the learning motivation. It identifies that the form of compliment take some varieties of patterns. In Bahasa Indonesia, using metaphor seems to be one of the alternatives forms of composing compliment. It is also used by any different profession of humankind, from personal to interpersonal relationship, from ordinary people to the top politicians, in the formal and informal institution. In teaching and learning activity, teacher proposes compliment as the essential topic that must be acquired by the students. The acquisition of compliment can be taught by numerous strategies and techniques. It depends on the situation and school environment. The knowledge of linguistic expressions and sociolinguistics rules of the relevance topic should be put as the top consideration.
KONTRIBUSI MEDIA GRAFIS DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS CERPEN SISWA KELAS X SMA SE-KABUPATEN LOMBOK TENGAH NFN Hapazah
MABASAN Vol. 7 No. 1 (2013): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v7i1.167

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kontribusi media grafis dan motivasi belajar terhadap kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMA Se-Kabupaten Lombok Tengah. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengisian kuesioner, wawancara, dan tes. Penganalisisan data dilakukan dengan teknik analisis korelasi dan regresi. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa kontribusi media grafis terhadap kemampuan menulis cerpen tergolong rendah dan tidak signifikan, yakni sebesar 0,1621%, sedangkan kontribusi motivasi belajar terhadap kemampuan menulis cerpen tergolong signifikan, yakni sebesar 0,7553%. Hasil uji lanjut kontribusi media grafis terhadap kemampuan menulis cerpen sebesar 0,002581116. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan satu unit penggunaan media grafis akan diikuti oleh kenaikan kemampuan menulis cerpen sebesar 0,002581116. Besar kontribusi motivasi belajar terhadap kemampuan menulis cerpen adalah 0,020857317. Artinya, setiap kenaikan satu unit motivasi belajar akan diikuti oleh kenaikan kemampuan menulis cerpen sebesar 0,020857317.
KEUNIKAN SAPAAN DAN PANGGILAN DALAM BAHASA SASAK DIALEK NGGETO-NGGETE Lalu Fakihuddin
MABASAN Vol. 7 No. 1 (2013): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v7i1.168

Abstract

Masyarakat suku Sasak pada umumnya dan penutur bahasa Sasak dialek nggeto-nggete, khususnya yang berdomisili di desa Wanasaba, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat memiliki perbedaan status sosial. Perbedaan status sosial ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain (1) status kebangsawanan, (2) status ekonomi, (3) tingkat pendidikan (tinggi rendahnya pendidikan seseorang), dan (4) status sosial karena seseorang telah menjadi haji. Variasi status sosial tersebut mempengaruhi kegiatan interaksi sosial, termasuk keunikan di dalam interaksi berbahasa, seperti cara menyapa, memberi salam, dan cara memanggil. Dengan kata lain, variasi-variasi tersebut menuntut cara menyapa, memberi salam, dan cara memanggil yang berbeda antara satu dan lainnya. Bagi masyarakat Wanasaba, perbedaan status sosial sangat berperan dalam mengubah bentuk sapaan/panggilan.
PERANG CINE: CARA PANDANG ETNIS SASAK YANG TERCERMIN DALAM FOLKLOR LISANNYA Nining Nur Alaini
MABASAN Vol. 7 No. 1 (2013): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v7i1.169

Abstract

 Karya sastra diciptakan bukan hanya demi karya sastra itu sendiri, tetapi digunakan untuk berbagai tujuan yang dikehendaki manusia, memberi sugesti, sindiran, kritik, pendidikan, dan lain-lain. Karya sastra merupakan sebuah fakta yang terlahir sebagai bagian dari berbagai permasalahan dan situasi kongkret yang dihadapi manusia. Melalui karya sastra, proses pewarisan nilai moral dan karakter kelompoknya biasanya dilakukan. Salah satu wujud sastra yang berkembang dalam masyarakat adalah sastra lisan. Lombok, wilayah asal suku Sasak,  merupakan wilayah yang sangat kaya dengan sastra lisan, yang salah satunya berwujud nyanyian rakyat. Dengan mengkaji sastra lisannya yang merupakan bagian dari kebudayaan mereka, akan dapat diungkapkan sikap, perbuatan, pikiran, perasaan, kepercayaan, dan cita-cita etnis Sasak yang merupakan salah satu unsur identitas bangsa Indonesia yang sangat berharga. Salah satu nyanyian rakyat Sasak yang sarat dengan nilai-nilai yang layak diwariskan guna mereka ulang identitas bangsa adalah “Perang Cine”. Kearifan lokal yang merupakan salah satu identitas bangsa ini tidak selayaknya dibiarkan hilang seiring dengan menghilangnya dendangan nyanyian rakyat “Perang Cine” dari pendengaran kita. Kajian ini mencoba menggali kembali kearifan lokal yang terkandung dalam nyanyian rakyat Sasak “Perang Cine”.
ANALISIS PERCAKAPAN BAHASA SASAK DALAM PERSPEKTIF GENDER: SEBUAH KAJIAN WACANA KRITIS Irma Setiawan
MABASAN Vol. 7 No. 1 (2013): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v7i1.170

Abstract

Percakapan kerap digunakan sebagai media mentransfer ideologi para penutur. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini untuk: mendeskripsikan representasi peran laki-laki atau perempuan Sasak dalam pilihan kosakata, dalam melakukan kendali interaksional, dalam struktur sintaksis, dan dalam pemakaian metafora dengan percakapan bahasa Sasak. Teori yang dipergunakan adalah teori wacana kritis model Norman Fairclough dan dilengkapi oleh teori Teun A. Van Dijk. Pengumpulan dilakukan dengan metode simak dan cakap (wawancara) serta teknik dasar dan turunannya, metode observasi, dan metode dokumentasi. Sumber data diperoleh dari para pemuda dan pemudi Sasak yang sedang berkomunikasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis, kategorisasi, dan pemolaan. Data disajikan secara formal dan informal. Pada akhirnya, penelitian ini menghasilkan realita motif atau ideologi sikap komunikator yang memihak peran laki-laki atau perempuan Sasak dalam perspektif gender, yang kerap menimbulkan persinggungan fisik-psikis, seperti; pelecehan seksual, KDRT, dan bahkan dalam budaya kawin cerai.            

Page 9 of 28 | Total Record : 277