cover
Contact Name
Lukman Cahyadi
Contact Email
lukman.cahyadi@esaunggul.ac.id
Phone
+6221-5674223
Journal Mail Official
nutrirediaita.ueu@esaunggul.ac.id
Editorial Address
https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Nutrire/about/editorialTeam
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
NUTRIRE DIAITA
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 19798539     EISSN : 27461734     DOI : -
Core Subject : Health, Agriculture,
Journal Description NUTRIRE DIAITA publishes original research articles, review articles, and clinical studies covering the broad and multidisciplinary field of human nutrition. In the aim of improving the quality of the journal since Oktober 2019 this journal officially had made a cooperation with Nutrition Department Universitas Esa Unggul FOCUS AND SCOPE NUTRIRE DIAITA aim to deliver findings and innovations in the field of nutrition and health. NUTRIRE DIAITA is published 2 times per year (April and October). The journal covers all aspect relating to Human Nutrition including clinical nutrition, community nutrition, food service management, food technology and sport nutrition.
Articles 164 Documents
Perbedaan Asupan Cairan Berdasarkan Kelompok Umur, Jenis Kelamin, Tipe-Daerah, Dan Status-Ekonomi Di Pulau Sulawesi Putri, Renata Mega; Mulyani, Erry Yudhya
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 4, No 2 (2012): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v4i2.1243

Abstract

AbstractWater is the main component in the human body. The water content in the body of the adult male is 55% - 60% while; in adult women 50% - 60%. Status of mild dehydration occurred in Makassar (59.4%) and urban areas Malino (35.7%) rural / mountainous areas both on the island. The aims of this study was to determine the differences of fluid intake in Sulawesi Island based on age group, sex, type of area, and economic status. The study uses secondary data Riskesdas 2010, the cross-sectional design. The samples are all resident on the island of Sulawesi totaling 20 127 people. Data were analyzed using ANOVA. Based on the results in fluid intake can according to the type of beverage and the type of area is the largest of the water as much as 822.78 liters in urban and rural 803.69 liters. The difference in fluid intake of water by sex is (813.35 ± 381.907) liter in men and (809.20 ± 372.224) liters in women. Based on the average type of area (822.78 ± 413.827) liters in the urban and (803.69 ± 350.640) liters in the countryside. The difference in total fluid intake by sex (796.22 ± 457.578) liter in men and (810.98 ± 433.655) liters in women. Based on the type of area; in urban areas (818.97 ± 476.963) and liters (793.54 ± 423.486) liters in the countryside. There are differences in fluid intake by age group, sex, type of area, and economic status (P <0.05). Fluid intake is highest among women, living in urban areas, and were in the age group 14-18 years. The highest fluid intake in poor, low on the rich. Therefore, the government needs to provide access to clean water and poor populations, especially in rural areas. Keywords: Water Intake, Age, Sex AbstrakAir merupakan komponen utama dalam tubuh manusia. Kandungan air dalam tubuh pada pria dewasa yaitu 55% - 60% sedangkan; pada perempuan dewasa 50% - 60%. Status dehidrasi ringan terjadi di Makassar (59,4%) daerah perkotaan dan Malino (35,7%) daerah pedesaan/pegunungan yang keduanya merupakan daerah di Pulau Sulawesi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan asupan cairan di Pulau Sulawesi berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, tipe daerah, dan status ekonomi. Penelitian menggunakan data sekunder Riskesdas 2010, rancangan cross-sectional. Sampel adalah semua penduduk di Pulau Sulawesi berjumlah 20.127 orang. Analisis data menggunakan Anova. Berdasarkan hasil di dapat asupan cairan menurut jenis minuman dan tipe daerah terbanyak adalah dari air putih sebanyak 822,78 liter di perkotaan dan 803,69 liter di pedesaan. Perbedaan asupan cairan dari air putih berdasarkan jenis kelamin yaitu (813,35±381,907) liter pada laki-laki dan (809,20±372,224) liter pada perempuan. Berdasarkan tipe daerah rata-rata (822,78±413,827) liter di perkotaan dan (803,69±350,640) liter di pedesaan. Perbedaan asupan cairan total berdasarkan jenis kelamin (796,22±457,578)liter pada laki-laki dan (810,98±433,655) liter pada perempuan. Berdasarkan tipe daerah; di perkotaan (818,97±476,963)liter dan (793,54±423,486) liter di pedesaan. Ada perbedaan asupan cairan berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, tipe daerah, dan status ekonomi (p<0.05). Asupan cairan tertinggi yaitu pada perempuan, tinggal di perkotaan, dan berada pada kelompok umur 14-18 tahun. Asupan cairan tertinggi pada penduduk miskin, terendah pada penduduk kaya. Oleh karenanya, pemerintah perlu menyediakan akses air bersih kepada penduduk tidak mampu terutama di wilayah pedesaan. Kata Kunci: Asupan Cairan, Umur, Jenis Kelamin
Perbedaan Asupan Energi, BCAA (Branched Chained Amino Acid) dan Status Gizi (IMT/U) Anak Usia 6 – 12 Tahun di Provinsi Jawa Timur (Analisis Data RISKESDAS 2010) Komariah, Lilis; Jusat, Idrus
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 6, No 1 (2014): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v6i1.1260

Abstract

AbstractCurrently, Indonesia is facing a double burden of nutritional problems. The prevalence of overweight children aged 6-12 years in East Java is 12.4%, above the national prevalence (9.2%). Overweight and obesity in Indonesia occurred in all age groups and in all socioeconomic levels. Overweight and obesity is mainly caused due to excess of energy intake compared to the requirement and lack of physical activity. A high intake of BCAA (leucine, isoleucine and valine) are associated with a reduced risk of overweight / obesity. The purpose of this study was to determine differences of energy intake, BCAA, and nutritional status of children aged 6-12 years in East Java in 2010. This study using the secondary data from Riskesdas 2010 with a cross-sectional and survey analytic design. Samples were obtained 3471 people. Statistical test using independent sample t-test, one-way ANOVA test and linear regression. There are significant differences between the z-score (BAZ) by sex and economic status. There is a significant difference between energy intake and BCAA children aged 6-12 years in East Java province by sex, type of area and economic status. There are significant differences between the nutritional status based on energy intake and BCAA. Keywords: energy, BCAA, nutritional status (BMI/A) children  AbstrakSaat ini Indonesia sedang menghadapi double burden (beban ganda) masalah gizi. Prevalensi kegemukan anak usia 6-12 tahun di Jawa Timur sebesar 12.4%, di atas prevalensi nasional (9.2%). Masalah kegemukan dan obesitas di Indonesia terjadi pada semua kelompok umur dan pada semua tingkat sosial ekonomi. Kegemukan dan obesitas terutama disebabkan karena kelebihan asupan energi dibandingkan dengan kebutuhan dan kurangnya aktivitas fisik. Asupan tinggi BCAA (leusin isoleusin dan valin) berhubungan dengan penurunan resiko kegemukan/obesitas . tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan asupan energi, BCAA, dan status gizi anak usia 6-12 tahun di Provinsi Jawa Timur tahun 2010. Data yang digunakan adalah data sekunder Riskesdas 2010 dengan pendekatan cross-sectional dan desain survei analitik. Sampel yang didapat 3471 orang. Pengujian statistik menggunakan uji t-test independent, uji one-way anova dan regresi linier. Terdapat perbedaan bermakna antara z-score (IMT/U) berdasarkan jenis kelamin dan status ekonomi. Terdapat perbedaan bermakna antara asupan energi dan BCAA anak usia 6-12 tahun di Provinsi Jawa Timur berdasarkan jenis kelamin, tipe daerah, dan status ekonomi. Ada perbedaan bermakna antara status gizi berdasarkan asupan energi dan BCAA. Kata kunci: energi, BCAA, status gizi (IMT/U) anak
Hubungan Status Gizi Dengan Asupan Zinc dan Kalsium Pada Remaja Usia 10-15 Tahun di Provinsi NTB NTT (Analisis Riskesdas 2010) Fauziah, Faradhilla; Irianto, Sugeng Eko
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 7, No 1 (2015): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v7i1.1276

Abstract

AbstractBackground: Basic Health Research (RISKESDAS) data of 2010 shows that thinness prevalence of adolescents within 13-15 years old is 10.1 percent including 2.7 percent of very thin adolescents and obesity prevalence of 2.5 percent. Purpose: To understand the relationship of body mass index towards education level, intake of zinc and calcium to adolescents within 10-15 years old in West Nusa Tenggara and East Nusa Tenggara. Total respondents in this research are 1015 person, forming a sample of 2010’s Basic Health Research (Riset Kesehatan Dasar / RISKESDAS). Data collected in this research based on RISKESDAS report in 2010 on RKD10 block. RT and RKD10.OND block and interview method 1x24 hours. Result: The Average age of adolescents (12.28±1.725 SD), nutrition status is very skinny in West Nusa Tenggara in amount of 27 respondents (5.9%), skinny of 39 respondents (8.5%), normal of 331 respondents (72.4%), fat of 46 respondents (10.1%) and obese of 14 respondents (3.1%). Whereas in East Nusa Tenggara nutrition status of very skinny is 24 respondents (4.3%), skinny of 77 respondents (13.8%), normal of 417 respondents (74.7%), fat of 28 respondents (5.0%) and obese of 12 respondents (2.2%). The average of zinc intake in West Nusa Tenggara on male of age 10-12 and 13-15 years old (4.64±1.88 SD) and (5.34±2.1 SD), on female of age 10-12 and 13 – 15 years old (4.83±2.23 SD) and (4.96±2.24 SD), in East Nusa Tenggara on male of age 10-12 and 13-15 years old (3.42±1.82 SD) and (3.77±1.79 SD), on female of age 10-12 and 13 – 15 years old (3.64±1.99 SD) and (4.17±2.98 SD). There is no relationship between nutrition status with age and zinc intake (p>0.05). There is no difference between nutrition status and education level, nor between sex with zinc intake and calcium. There is a difference between nutrition status with sex and there is also a difference between nutrition status with intake of calcium (p<0.05). Conclusion: Information and socialization about balance nutrition and nutrition status towards adolescents is required. Keywords: body mass index, zinc, calcium
ANALISIS KUALITAS MAKANAN DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN PADA PENYELENGGARAAN MAKANAN DI KANTIN UNIVERSITAS ESA UNGGUL Ronitawati, Putri; Simangunsong, Desi W.T
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 8, No 2 (2016): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v8i2.1607

Abstract

AbstractThe development of the food service industry caused competition to meet consumer needs in order to obtain satisfaction. The advantages of a service depends on the quality shown by these services.Consumer satisfaction is the starting point of the growth of loyalty consumer so it's important to know the customer satisfaction ratings. The purpose of this study was to assess the quality of service to the level of customer satisfaction in the implementation of the food in the cafeteria EsaUnggul University. This type of research is observational with cross sectional study. The population of this research is that consumers in the canteen EsaUnggul University with a sample of 100 people. The results of this study are 55% of the sample said that the quality of service in the cafeteria EsaUnggul University is good and there is a relationship between service quality and customer satisfaction levels (p value = 0.000). Keywords: Food quality, quality of service, consumen AbstrakMakanan sebagai faktor yang sangat penting bagi kehidupan manusia harus memenuhi cita rasa yang enak danpenampilan yangmenarik agar memenuhi kebutuhan konsumen. Setiap jasa boga harus dapat meningkatkan kualitas produk untuk dapat menciptakan kepuasan pelanggan yang dapat berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan.Berkembangnya industri jasa makanan menyebabkan adanya persaingan untuk memenuhi kebutuhan konsumen agar memperoleh kepuasan. Selain kualitas makanan, kualitas pelayanan juga berperan penting dalam menentukan tingkat kepuasan konsumen. Tujuan penelitian ini adalah menganalisiskualitasmakanandankualitas pelayanan terhadap tingkat kepuasan konsumen di kantin Universitas Esa Unggul. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional study. Populasi penelitian ini adalah konsumen di kantin Universitas Esa Unggul dengan sampel 100 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara kualitas makanan dan kualitas pelayanan terhadap tingkat kepuasan konsumen (pvalue =0,001). Berdasarkan hasil analisa regresi logistik bahwa kualitas pelayanan merupakan faktor yang paling dominan yang mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen (OR = 9,286).Kata kunci: Kualitas makanan, kualitas pelayanan, konsumen
HUBUNGAN ASUPAN SERAT, LEMAK, AKTIVITAS FISIK DAN KADAR LDL PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RSUD Dr. M. YUNUS BENGKULU TAHUN 2016 Yusira, Puvet; Wahyuni, Yulia; Hartati, Lilik Sri
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 9, No 01 (2017): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v9i01.1724

Abstract

According to the National Household Health Survey (SKRTN), heart disease is the greatest causes of mortality (about 26.4%). In Bengkulu, out of ten, cardiovascular disease is the second most prevalence disease. We aimed to examine the association of dietary fiber and fat intake and physical activity with Low Density Lipoprotein (LDL) level among coronary heart diseases (CHDs)’s patient. The study was Cross-sectional study design. Samples were 52 which taken from total sampling method. Intake nutrients were collected using 24 hours food recall. Physical activity measured physical activity level questionnaire. LDL levels in CHDs’s patient were obtained from medical records. Results showed that two variables significantly associated with LDL levels in CHDs’s patient, namely fat intake (p value =0,008) and physical activity (p value = 0,019) while fiber intake was not significantly associated with LDL levels in CHDs’s patient (p value = 0,194). Fat intake in accordance with individual needs accompanied by good physical activity can affect the value of LDL level among CHDs’s patient. Keywords: Physical Activity, Fat intake, Fiber Intake, LDL, Coronary Heart Disease
PENGARUH ANTIOKSIDAN EKSTRAK BUAH NAGA MERAH TERHADAP SUPEROKSIDA DISMUTASE TIKUS YANG DIPAPAR ASAP ROKOK Herdiani, Novera; Permana Putri, Endah Budi
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 10, No 02 (2018): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v10i02.2540

Abstract

vAsap rokok mengandung senyawa radikal bebas yang akan menyebabkan stres oksidatif. Ekstrak buah naga merah dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas antioksidan ekstrak buah naga merah dan Superoksida Dismutase tikus dipapar asap rokok. Penelitian ini eksperimental laboratorium, 24 ekor tikus wistar dibagi menjadi 4 kelompok : kontrol negatif, kontrol positif, perlakuan ekstrak buah naga merah 7,2 g/200 g BB dan 10,8 g/200 g BB. Kontrol negatif hanya diberi pakan standar. Kontrol positif diberi pakan standar dan dipapar 2 rokok per hari. Kelompok perlakuan diberi pakan standar dan ekstrak buah naga merah di pagi hari dan setelah itu dipapar 2 rokok. Masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor tikus. Penelitian ini dilakukan selama 21 hari. Data dianalisis menggunakan uji statistik One Way ANOVA dan Tukey HSD (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak buah naga merah mengandung antioksidan 16,181 ppm dan Superoksida dismutase kelompok positif berbeda nyata dengan semua kelompok nilai signifikansi p = 0,000 < 0,05. Kelompok pemberian ekstrak buah naga merah dosis 10,8 g/200 g BB, tidak berbeda nyata dengan dosis 7,2 g/200 g BB dan kontrol negatif, nilai signifikansi ekstrak buah naga merah dosis 7,2 g/200 g BB yaitu p = 0,997 > 0,05 dan kontrol negatif yaitu p = 0,231 > 0,05. Kesimpulan penelitian bahwa pemberian ekstrak buah naga merah dosis 10,8 g/200 g BB dan 7,2 g/200 g BB mengandung antioksidan dan mampu mencegah terjadinya stres oksidatif ditandai peningkatan Superoksida Dismutase tikus dipapar asap rokok. Saran perlu dilakukan penelitian lebih lanjut parameter stres oksidatif. Kata kunci : Rokok, Superoksida Dismutase, tikus, buah naga merah
KEPATUHAN DIET DAN AKTIVITAS FISIK PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 YANG SUDAH MENGIKUTI PROLANIS Herawati, Nida; Sa'pang, Mertien; Harna, Harna
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 12, No 01 (2020): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v12i01.3154

Abstract

Indonesia menempati peringkat ke tujuh penderita diabetes terbanyak di dunia. Menurut Riskesdas prevalensi DM di Indonesia mencapai 2,0% dan pada Provinsi Jawa Barat mencapai 1,7%. Upaya promotif dan preventif yang dikembangkan BPJS Kesehatan dengan Fasilitas Kesehatan primer adalah Prolanis untuk penyandang DM dan hipertensi agar penderita dan keluarganya dapat mengawasi kesehatan diri secara mandiri sehingga tercapai keadaan yang baik dan stabil. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui distribusi frekuensi kepatuhan diet dan aktivitas fisik pasien DM tipe 2 yang sudah mengikuti Prolanis. Metode yang digunakan analitik observasional, desain cross sectional. Jumlah subjek sebanyak 50 responden pada usia ≥45 tahun. Analisis data melihat frekuensi karakteristik, kepatuhan diet, dan aktivitas fisik pasien DM  tipe 2 yang sudah mengikuti Prolanis minimal 2 bulan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa rata-rata skor kepatuhan diet 47,22 (cut off mean >41) artinya responden patuh dalam menjalankan terapi diet. Rata-rata total aktivitas fisik 2808,76 METs aktivitas tinggi. Kesimpulan yaitu kepatuhan diet responden yang mengikuti Prolanis paling banyak didapatkan kategori patuh 47 responden (94,0%)  dalam menjalankan terapi diet DM dan tidak patuh 3 responden (6%) dalam menjalankan terapi diet DM. Aktivitas fisik responden yang mengikuti Prolanis paling banyak didapatkan kategori aktivitas sedang yaitu 36 responden (72,0%) dan didapatkan kategori aktivitas tinggi yaitu 14 responden (28,0%). Saran bagi responden diharapkan untuk terus dijaga kerutinan mengikuti kegiatan Prolanis.
Konsumsi Kalsium dan Keluhan Menstruasi pada Remaja Putri di SMA Negeri 6 Tangerang Oktabriawatie, Dyah; Mulyani, Erry Yudhya; Herlianti, Maria Poppy
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 2, No 2 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v2i2.671

Abstract

AbstractCalcium is the mineral content of the most widely in the body, which is 1.5 to 2.0% of adult body weight or as much as ± 1 kg. The dietary requirement Calcium for adolescent girl is 1000 mg. The purpose of this study is to determine the relationship between Calcium consumption and menstruation disorders in adolescent girl aged 16-18 years at public high school 6, Tangerang. The data was collected on 7-9 May 2009. This study used simple random sampling, based on estimation formula, then the total subject is known to 81 girls. The data collected included: 1) Characteristics of sample: Height, Weight, Age, Nutritional Status; 2). Calcium Consumption was taken from recall 3x 24 hours with visual aids; 3) Menstruation Disorders was taken from questionnaire. The results shows that the average intake of Calcium adolescent girls (586.86mg ±385.478); Height (159.83cm ± 5.305); Weight (48.85kg±4.851); Age (16.16y±0.402); Nutritional status (1.80±0.401); 80.2% girls have menstruation disorders. There was a significant relationship between Calcium consumption and menstruation disorders in adolescent girls (p<0.05). There was no significant relationship between nutritional status, age and menstruation disorders (p>0.05). The average Calcium intake  in adolescent girls is still below the recommended adequacy rate, therefore it is necessary to encourage the adolescent girls to consume Calcium in an attempt to reduce mentruation disorders.Keywords: calcium consumption, menstruation disorders, adolescent girls Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat didalam tubuh, yaitu 1,5–2 % dari berat badan orang dewasa atau ± sebanyak 1 kg. Kebutuhan kalsium remaja putri adalah 1000 mg. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari hubungan konsumsi kalsium, umur, status gizi remaja putri usia 16-18 tahun. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 7-9 Mei 2009. Cara pengambilan sample dilakukan secara acak sederhana, berdasarkan rumus estimasi diketahui total subjek adalah 81 orang. Data yang dikumpulkan meliputi: 1) Karakteristik sample : TB, BB, umur, status gizi; 2) Konsumsi kalsium diambil melalui food recall 3x24 jam disertai alat bantu visual; 3) Keluhan menstruasi, di ambil melalui kuesioner keluhan-keluhan menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsumsi kalsium remaja putri 586,86 mg (±385,478); TB remaja putri 159,83 cm (± 5,305); BB remaja putri 48,85 kg (± 4,851); umur remaja putri 16,16 th (± 0,402); status gizi remaja putri 1,80 (± 0,401); keluhan menstruasi 80,2%. Ada hubungan yang signifikan antara keluhan menstruasi, dengan keluhan menstruasi pada remaja putri (p<0,05). Tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi dan umur dengan keluhan menstruasi (p>0,05). Konsumsi kalsium remaja putri masih dibawah anjuran perlu didorong untuk mengurangi keluhan mentruasi.Kata kunci: konsumsi kalsium, ketidak teraturan menstruasi, remaja putri
Penerapan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Pertumbuhan Dan Kesehatan Bayi Usia 2 Bulan Lepong, Maria; Amrihati, Endang Titi; Hosizah, Hosizah
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 3, No 2 (2011): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v3i2.1237

Abstract

AbstractEarly Initiation of Breastfeeding (IMD) is a government program to increase the quality and quantity of breast feeding for infants. Breast milk is the main food for infants, it also reduce the risk of infectious diseases that can adversely affect to the growth of infants. The objective of this study was to understanding the effect of IMD on the growth and health for infants aged 2 months. This study is retrospective study with total sample was 41 and get data from KMS with the complete data of birth weight and routinely monitored every month until the age of 2 months. The infants do not have abnormality or specific disease since birth. The Indicators of this study is IMD with breastfeeding within 1 hour after birth. The growth of infants, measured by an increase in body weight (BW ) and body length ( PB ) from birth until the age of 2 months. The health data, measured by the frequency of occurrence of illness from birth until the age of 2 months. Analysis of the data using T-test Independent and regression test. The results shows the number of infants who with IMD is 31.96 %. The average of weight and length infants who with IMD greater than infants with non-IMD. The increase average of weight and length for infant with IMD respectively are ± 179.89 g ( t = 2.197 , p = 0.034 ) and ± 2.138 cm ( t = 2.197 , p = 0.034 ). The incidence of illness in infants with IMD less than infants with non-IMD, which is about -7.034 ( t = 1.953 , p = 0.048 ) scor event of sickness. IMD in this study led to the growth and health of infants to be better than non-IMD. Keywords: IMD, Growth and Health, Infants 2 months  AbstrakInisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan program pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pemberian ASI kepada bayi.  ASI merupakan makanan utama bagi bayi, ASI juga dapat mengurangi risiko penyakit infeksi yang dapat berdampak negatif terhadap pertumbuhan bayi. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh IMD terhadap pertumbuhan dan kesehatan bayi berusia 2 bulan. Penelitian bersifat retrospektif dengan sampel berjumlah 41 dan memiliki data KMS  dan  berat  badan  lengkap dari kelahiran dan dipantau  rutin  setiap  bulannya hingga berusia 2 bulan. Bayi tidak mempunyai kelaianan atau penyakit khusus sejak lahir. Indikator penelitian ini ialah IMD yaitu pemberian ASI dalam waktu 1 jam setelah lahir. Pertumbuhan bayi, diukur berdasarkan peningkatan  berat badan (BB) dan panjang badan (PB) sejak lahir sampai usia 2 bulan. Kesehatan, diukur berdasarkan frekuensi kejadian sakit dari lahir sampai usia 2 bulan. Analisa data yang digunakan adalah uji T dan uji regresi., Berdasarkan hasil analisis diketahui jumlah bayi yang IMD sebesar 31,96%. Rata-rata BB dan PB bayi IMD lebih besar dibandingkan bayi non-IMD. Bayi IMD rata-rata peningkatan BB ±179,89g (t=2,197; p=0,034) dan rata-rata peningkatan PB ±2,138cm (t=2,197; p=0,034). Kejadian sakit pada bayi IMD lebih sedikit dibandingkan bayi non-IMD, yaitu sebanyak -7,034 (t=1,953; p=0,048) scor kejadian sakit. IMD dalam studi ini menyebabkan pertumbuhan dan kesehatan bayi menjadi lebih baik dibandingkan non-IMD Kata Kunci: IMD, Pertumbuhan dan Kesehatan, Bayi usia 2 bulan
Hubungan Asupan Zat Gizi Makro dan Status Gizi Terhadap Kebugaran Atlet Bulutangkis Jaya Raya Pada Atlet Laki-Laki Dan Perempuan di Asrama Atlet Ragunan Tahun 2013 Dewi, Evi Komala; Kuswary, Murry
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 5, No 2 (2013): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v5i2.1255

Abstract

 AbstrakData Sport Development Index (SDI) tahun 2006 menunjukkan bahwa data tingkat kebugaran sebesar 37,40% masuk dalam katagori kurang sekali. Ketersediaan zat gizi dalam tubuh juga akan berpengaruh pada kemampuan otot berkontraksi dan daya tahan kardiovaskular. Mengetahui hubungan asupan zat gizi makro dan status gizi terhadap kebugaran atlet bulutangkis Jaya Raya pada atlet laki-laki dan perempuan di Asrama Atlet Ragunan. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik non random sampling dengan metode acidental sampling dan jumlah sampel yang didapat yaitu 33 atlet. Analisa data menggunakan uji statistik pearson product moment correlation dan uji t-test independent. Rata-rata umur atlet 15,4 tahun (±2,0), berat badan 56,5 kg (±7,3), tinggi badan 163,4 cm (±6,0), asupan energi 1941,2 kkal (±378,2), asupan protein 65,9 gram (±14,4), asupan lemak 58,7 gram (±12,3), asupan karbohidrat 284,7 gram (±61,6), lingkar pinggang 70,6 cm (±4,8), nilai VO2max 46,4 ml/kg/menit (±5,9), status gizi 97% normal, dan status kebugaran 63,6% bugar. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan nilai rata-rata VO2max laki-laki dan perempuan (p≤0,05), namun tidak ada hubungan yang bermakna antara umur, energi, protein, karbohidrat dan nilai VO2max (p≥0,05). Hubungan antara asupan lemak, lingkar pinggang dan nilai VO2max sangat bermakna (0,05≤ p ≤0,1). Kata kunci: kebugaran, asupan, status gizi

Page 3 of 17 | Total Record : 164