cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 591 Documents
Peningkatan Kemampuan Kognitif Anggota PMR MTS Terpadu Ar-Roihan Lawang Melalui Pelatihan Rawat Luka Terbuka Metode Drill And Practice Ulil Absar Ramadhan; Bayu Budi Laksono; Riki Ristanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.505

Abstract

Latar belakang: Kemampuan kognitif remaja dalam memberikan pertolongan pertama, khususnya perawatan luka terbuka, masih tergolong rendah dan memerlukan metode pelatihan yang efektif. Metode Drill and Practice merupakan pendekatan pembelajaran berbasis latihan berulang yang dapat meningkatkan pemahaman dan ketepatan dalam tindakan klinis. Tujuan: Mengetahui pengaruh pelatihan perawatan luka terbuka dengan Metode Drill and Practice terhadap kemampuan kognitif anggota Palang Merah Remaja. Metode: Penelitian ini menggunakan desain One Group Pretest–Posttest, melibatkan 30 responden anggota PMR yang dipilih dengan teknik total sampling. Instrumen berupa tes tulis 25 soal pilihan ganda. Analisis yang digunakan meliputi uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk dan uji Paired Sample t-Test. Hasil: Nilai rata-rata pre-test 13,53 meningkat menjadi 17,00 pada post-test. Sebelum pelatihan, sebagian besar responden berada pada kategori cukup (50,0%) dan kurang (46,7%). Setelah pelatihan, kemampuan kognitif meningkat menjadi cukup (53,3%) dan baik (43,3%). Uji Paired Sample t-Test menunjukkan t = –4,089, df = 29, p < 0,001, yang berarti terdapat peningkatan signifikan setelah pelatihan. Simpulan: Pelatihan rawat luka terbuka dengan metode Drill and Practice berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kemampuan kognitif anggota PMR.
Pengetahuan Dan Tindakan Pencegahan Stunting Pada Kader Kesehatan Dan Ibu Muda Etika Dewi Cahyaningrum; Noor Yunida Triana
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.506

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan prioritas di Indonesia, terutama di wilayah miskin ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengetahuan dan tindakan pencegahan stunting pada kader kesehatan dan ibu muda serta mengeksplorasi pengaruh nilai budaya lokal terhadap praktik pengasuhan dan gizi anak. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan sampel 104 responden (10 kader dan 94 ibu muda) di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Instrumen berupa kuesioner terstruktur yang telah dimodifikasi dan divalidasi. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan dan tindakan pencegahan stunting dalam kategori tinggi (pengetahuan ibu 62,77%, kader 70%; tindakan ibu 79,79%, kader 90%). Namun, ditemukan pengaruh nilai budaya lokal, seperti pantangan makanan, kepercayaan terhadap makanan tradisional, dan pengaruh tokoh adat/agama dalam praktik pemberian makan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pengetahuan dan tindakan saja belum cukup untuk menurunkan prevalensi stunting jika tidak diimbangi dengan intervensi lintas sektor yang sensitif budaya. Studi ini memberikan rekomendasi untuk merancang intervensi edukatif berbasis budaya lokal yang melibatkan komunitas secara aktif. Keterbatasan studi adalah belum mengukur dampak langsung terhadap status gizi anak. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengembangkan model intervensi dan media edukasi yang terintegrasi.
Analisis Tren Dan Strategi Peningkatan Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan Yang Baik Di Balai Pom Bogor Defita Roza; Ester Junita Sinaga; Shanty Sarah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.507

Abstract

Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (IP CPPOB) merupakan instrumen penting dalam pengawasan pre-market yang bertujuan untuk memastikan bahwa proses produksi pangan olahan telah dilaksanakan sesuai dengan kaidah CPPOB, sehingga dapat menjamin keamanan dan mutu pangan sebelum beredar di masyarakat. Dalam rangka memenuhi persyaratan keamanan pangan, pelaku usaha yang melakukan kegiatan produksi pangan olahan wajib memiliki IP CPPOB yang diterbitkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kepemilikan IP CPPOB juga menjadi prasyarat utama dalam proses pendaftaran izin edar produk pangan olahan di BPOM. Sebagai salah satu bentuk pelayanan publik, penyelenggaraan sertifikasi IP CPPOB di wilayah kerja Kabupaten, Kota Bogor dan Kota Depok dilaksanakan oleh Balai POM di Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren volume permohonan IP CPPOB serta merumuskan strategi peningkatan kualitas pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Balai POM di Bogor. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder yang bersumber dari laporan tahunan instansi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan jumlah permohonan IP CPPOB dengan laju kenaikan sebesar 21,2–36,9% per tahun pada periode 2022–2024. Layanan sertifikasi IP CPPOB juga merupakan pelayanan publik yang dominan di Balai POM di Bogor, dengan proporsi rata-rata lebih dari 84% dari keseluruhan layanan publik setiap tahunnya. Berdasarkan hasil analisis tersebut, strategi peningkatan pelayanan publik yang direkomendasikan meliputi penerapan pelayanan berbasis risiko, penguatan mutu evaluasi teknis dan pengelolaan sumber daya manusia, optimalisasi digitalisasi layanan, serta penguatan pembinaan pra-sertifikasi bagi pelaku usaha.
Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Usia Dewasa Di Atas 30 Tahun Di Wilayah Kerja Pustu Bajuh Lili Putiana Rambang; Maulana Arif Murtadho
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.508

Abstract

Latar Belakang: Penelitian ini menjelaskan pola makan dan usia merupakan salah satu factor resiko yang dapat menyebabkan hipertensi dapat meningkat, menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat untuk menurunkan tekanan darah. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan pola makan dengan kejadian hipertensi pada usia dewasa diatas 30 tahun. Metode penelitian: Menggunakan Cross Sectional Sampel diambil secara non probability sampling dengan menggunakan consecutive sampling yaitu pengambilan sampel dari populasi sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel 68 orang. Analisa Data: Menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Menunjukkan sebanyak 30 responden (44,1 %) mengalami pola makan baik dan yang mengalami pola makan tidak baik sebanyak 38 responden (55,9%). Pengukuran tekanan darah lebih banyak yang menderita hipertensi adalah derajat 1 sebanyak 37 responden (54,4 %), disusul responden yang menderita hipertensi derajat 2 sebanyak 28 responden (41,2%) dan yang prehipertensi 3 responden (4,4 %). Berdasarkan SPSS nilai signifikan yaitu p value ɑ <0,05 = 0,001 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan pasien hipertensi pada usia dewasa di atas 30 tahun di wilayah kerja Pustu Bajuh. Saran: Diharapkan penelitian ini berguna untuk menjadi referensi bagi penderita hipertensi agar lebih menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Efektivitas KIE BPOM terhadap Peningkatan Literasi Keamanan Obat dan Makanan: Studi di Wilayah Bogor dan Kota Depok Krisna Ayu Setiawati; Idham Affandi; Eva Nikastri; Hefni Humaeda Zen
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.512

Abstract

Kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) merupakan salah satu strategi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat terkait keamanan obat dan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dan efektivitas kegiatan KIE BPOM terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat di wilayah Bogor dan Kota Depok. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre–post test dan survei efektivitas KIE. Responden merupakan peserta kegiatan KIE BPOM yang dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner pengetahuan sebelum dan sesudah KIE serta survei persepsi efektivitas kegiatan. Data dianalisis secara deskriptif dan komparatif untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan masyarakat setelah pelaksanaan KIE BPOM, yang mengindikasikan bahwa kegiatan KIE efektif dalam meningkatkan literasi masyarakat terkait keamanan obat dan makanan. Selain itu, sebagian besar responden menilai materi, metode penyampaian, dan media KIE mudah dipahami dan bermanfaat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa KIE BPOM berpengaruh positif terhadap peningkatan pengetahuan dan literasi masyarakat, sehingga perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dan diperkuat sebagai upaya perlindungan kesehatan masyarakat.
Penerapan Posisi Semifowler Untuk Mengurangi Sesak Nafas Pada Tn.N Post Thorakotomi Dengan Diagnosa Medis Tumor Paru Di ICU RSUD Prof. Dr. Margono Seokarjo Purwokerto Nurun Nabila; Adiratna Sekar Siwi; Respati Wahyu Ardianto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.513

Abstract

Pasien post-thorakotomi dengan diagnosis medis tumor paru sering mengalami sesak napas akibat nyeri insisi, penurunan ekspansi paru, dan gangguan mekanika ventilasi pasca pembedahan. Kondisi tersebut meningkatkan kerja napas serta risiko komplikasi pulmoner, sehingga diperlukan intervensi keperawatan yang berfokus pada optimalisasi ventilasi dan oksigenasi. Posisi semifowler (30°–45°) diterapkan sebagai intervensi nonfarmakologis pada pasien post-thorakotomi untuk mengurangi tekanan pada diafragma, meningkatkan ekspansi paru, dan membantu menurunkan derajat sesak napas. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus pada pasien Tn. N dengan diagnosis medis post-thorakotomi akibat tumor paru yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Pengumpulan dan analisis data dilakukan melalui proses keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi hasil. Intervensi keperawatan berupa penerapan posisi semifowler (30°–45°) dilaksanakan selama dua hari perawatan, yaitu pada 16–17 September, sesuai kondisi klinis pasien. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan indikator gangguan pertukaran gas sebelum dan sesudah intervensi, meliputi frekuensi napas, saturasi oksigen (SpO₂), serta keluhan subjektif sesak napas. Hasil menunjukkan adanya perbaikan fungsi respirasi, ditandai dengan penurunan frekuensi napas dari 27×/menit menjadi 20×/menit dan saturasi oksigen yang tetap stabil pada angka 100%. Secara subjektif, pasien tampak lebih rileks dan melaporkan penurunan keluhan sesak napas, yang mengindikasikan peningkatan efektivitas ventilasi dan kenyamanan pernapasan setelah penerapan posisi semifowler. Penerapan posisi semifowler terbukti efektif dalam mengurangi sesak napas, menurunkan frekuensi napas, dan menstabilkan saturasi oksigen pada pasien post-thorakotomi dengan tumor paru, sehingga layak direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis di ruang intensif.
Hubungan Pola Konsumsi Makanan Cepat Saji (Junk Food) Dengan Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Pra Lansia Di Posyandu Lansia Kelurahan Bumiayu Kota Malang Nony Adelia Ardiana; Amin Zakaria; Tien Aminah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.514

Abstract

Konsumsi makanan cepat saji (junk food) yang tinggi gula, lemak jenuh, dan garam, namun rendah serat merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2, khususnya pada kelompok usia pra lansia yang mengalami penurunan fungsi metabolisme. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola konsumsi junk food dengan risiko Diabetes Melitus Tipe 2 pada pra lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Bumiayu, Kota Malang tepatnya di Posyandu Lansia Mawar Kuning 2 RW 1 dan Posyandu Lansia Anggrek RW 3. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pra lansia yang terdaftar di Posyandu Lansia Mawar Kuning 2 RW 1 dan Posyandu Lansia Anggrek RW 3 sebanyak 54 responden, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pola konsumsi junk food diukur menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), sedangkan risiko Diabetes Melitus Tipe 2 diukur menggunakan Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC). Hasil analisis menggunakan uji Spearman’s rho menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola konsumsi makanan cepat saji (junk food) dengan risiko Diabetes Melitus Tipe 2 (p = 0,027; r = 0,300), dengan arah hubungan positif dan kekuatan hubungan lemah. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin sering konsumsi junk food, maka semakin tinggi risiko Diabetes Melitus Tipe 2 pada pra lansia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendukung upaya promotif dan preventif melalui edukasi pola makan sehat serta pengendalian konsumsi junk food sebagai strategi pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 pada kelompok pra lansia di tingkat komunitas.
Hubungan Kebiasaan Mengonsumsi Junk Food Dengan Kadar Gula Darah Pada Usia Dewasa Di Kota Pekanbaru Fitri Mustikowati; Yesi Hasneli; Rismadefi Woferst
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.515

Abstract

Latar Belakang: Junk food merupakan makanan cepat saji yang semakin banyak dikonsumsi oleh kelompok usia dewasa seiring dengan gaya hidup praktis dan kemudahan akses makanan. Konsumsi junk food yang berlebihan berpotensi meningkatkan kadar gula darah dan menjadi faktor risiko terjadinya hiperglikemia serta diabetes melitus. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan mengonsumsi junk food dengan kadar gula darah pada usia dewasa di Kota Pekanbaru. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 97 responden yang diambil menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk menilai kebiasaan konsumsi junk food serta pemeriksaan kadar gula darah sewaktu menggunakan glukometer. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 18–30 tahun (66,0%), berjenis kelamin perempuan (54,6%), memiliki tingkat pendidikan sedang (54,6%), dan bekerja sebagai karyawan swasta (51,5%). Berdasarkan kebiasaan konsumsi junk food, sebanyak 48,5% responden termasuk kategori sering mengonsumsi junk food dan 51,5% jarang mengonsumsi junk food. Berdasarkan kadar gula darah, sebanyak 50,5% responden memiliki kadar gula darah normal, 32,0% memiliki kadar gula darah tinggi, dan 17,5% memiliki kadar gula darah rendah. Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai p = 0,029 (< 0,05) yang menandakan terdapat hubungan antara kebiasaan mengonsumsi junk food dengan kadar gula darah pada usia dewasa di Kota Pekanbaru. Kesimpulan: Kebiasaan mengonsumsi junk food berhubungan secara signifikan dengan kadar gula darah pada usia dewasa. Namun demikian, kadar gula darah tidak hanya dipengaruhi oleh konsumsi junk food, melainkan juga oleh faktor lain seperti aktivitas fisik dan riwayat keluarga.
Hubungan Burnout Syndrome, Stres Kerja Dan Kompensasi Dengan Pelayanan Kebidanan Di RSUD Budhi Asih Kota Jakarta Timur Tahun 2025 – 2026 Udur Diana Tumanggor; Lia Nur Djamilah; Juwita
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.516

Abstract

Pelayanan kebidanan yang berkualitas merupakan faktor penting dalam menjamin kesehatan dan keselamatan ibu bersalin. Kualitas pelayanan kebidanan tidak hanya dipengaruhi oleh kompetensi klinis, tetapi juga oleh kondisi psikologis dan kesejahteraan bidan, seperti burnout syndrome, stres kerja, dan kompensasi. Tingginya tuntutan kerja di ruang bersalin dan nifas berpotensi meningkatkan tekanan psikologis bidan yang dapat berdampak pada mutu pelayanan kebidanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan burnout syndrome, stres kerja dan kompensasi dengan pelayanan kebidanan di ruang bersalin dan nifas RSUD Budi Asih Kota Jakarta Timur Tahun 2025–2026. Studi dilakukan pada 42 responden bidan di ruang bersalin dan nifas, menggunakan total sampling dan analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian di ketahui bahwa terdapat hubungan burnout syndrome dengan pelayanan kebidanan (p=0,000), terdapat hubungan stres kerja dengan pelayanan kebidanan (p=0,000) dan terdapat hubungan kompensasi dengan pelayanan kebidanan (p=0,000). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi bidan yang mengalami burnout syndrome dan stres kerja serta kompensasi sehingga dapat melakukan pelayanan kebidanan dengan baik.
Pengaruh Edukasi Diabetes Mellitus Terhadap Kemampuan Deteksi Dini Diabetes Mellitus Pada Remaja Di SMP Negeri 1 Tumpang Pebri Triwandika; Nurul Pujiastuti; Tri Nataliswati; Hurun Ain
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.517

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat, termasuk pada usia remaja. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran remaja dalam mengenali gejala dini serta faktor risiko DM berpotensi menunda deteksi dini dan pencegahan. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi kesehatan sejak usia sekolah. Untuk mengetahui pengaruh edukasi Diabetes Mellitus terhadap kemampuan deteksi dini Diabetes Mellitus pada remaja di SMP Negeri 1 Tumpang. Penelitian ini menggunakan quasi experiment pre and post-test control group design.Jumlah responden sebnayak 80 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-24) dan ADA Diabetes Risk Test. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon Ranked Sign Test dan Mann Whitney U. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan gejala DM, kemampuan mengenali risiko pribadi, sikap waspada, dan keinginan melakukan pemeriksaan dini pada kelompok perlakuan setelah diberikan edukasi (p < 0,05). Sebaliknya, pada kelompok kontrol tidak ditemukan perbedaan bermakna antara pretest dan posttest (p > 0,05). Oleh karena itu edukasi Diabetes Mellitus menggunakan booklet dan media PowerPoint efektif meningkatkan kemampuan deteksi dini Diabetes Mellitus pada remaja. Edukasi kesehatan berbasis sekolah direkomendasikan sebagai strategi pencegahan DM sejak usia dini.