cover
Contact Name
Muhammad Syafiq
Contact Email
yppijurnal@gmail.com
Phone
+6282170781263
Journal Mail Official
yppijurnal@gmail.com
Editorial Address
Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru, Riau - Indonesia
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SOSHUM
ISSN : -     EISSN : 30477840     DOI : https://doi.org/10.62207
Core Subject : Social,
Social Studies & Humanities Journal (SOSHUM) is an academic journal that focuses on interdisciplinary research in the fields of social science, science, and humanities studies. The journal aims to present high-quality articles that make significant contributions to our understanding of society, culture, science, and human interaction. Within this journal, authors from various disciplines are invited to share original research findings relevant to the social sciences, such as sociology, psychology, anthropology, political studies, economics, management, accounting and related fields. Additionally, the journal welcomes contributions from scientific studies, such as biology, physics, chemistry, and mathematics, that are related to social and human contexts. The fields of humanities studies, including history, literature, art, philosophy, culture, linguistics, communication are also a primary focus of this journal
Articles 73 Documents
RITUAL SEIKEREI SEBAGAI TEKNOLOGI KEKUASAAN: DEKONSTRUKSI HEGEMONI BUDAYA SHINTO DALAM PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA Linuwih Prihartanto
Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM) Vol. 3 No. 2 (2026): Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/xwrcm692

Abstract

Paper ini mengkaji praktik Seikerei dalam konteks pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942–1945 sebagai bagian dari strategi kekuasaan kolonial yang bekerja melalui ranah simbolik dan ideologis. Dalam konteks dekolonisasi dari Belanda, Jepang memobilisasi State Shinto bukan semata sebagai agama, melainkan sebagai instrumen politik kolonial untuk membangun hegemoni baru. Dengan kerangka teoritis yang memadukan analisis kekuasaan Foucault—khususnya konsep teknologi politik dan disiplin tubuh—serta teori hegemoni dan konsensus Gramsci, tulisan ini berargumen bahwa Seikerei berfungsi sebagai mekanisme dekonstruktif ganda yang secara simultan mendekonstruksi sisa-sisa hegemoni Eropa dan mengonstruksi konsensus baru melalui sakralisasi negara Jepang serta pendisiplinan simbolik kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka (library research) dan analisis wacana kritis atas sumber-sumber historis dan teoritis, dengan ruang analisis mencakup performativitas ritual, semiotik simbol, disiplin tubuh kolektif, penguasaan ruang publik, serta artikulasi ideologi Hakko Ichiu. Hasil kajian menunjukkan bahwa Seikerei beroperasi sebagai teknologi kekuasaan yang mendisiplinkan tubuh, mensakralkan ruang publik, dan memproduksi konsensus ideologis, sekaligus membuka ruang negosiasi lokal dan resistensi simbolik yang membuat hegemoni kolonial bersifat tidak pernah final dan senantiasa dikontestasikan. Paper ini berkontribusi secara konseptual pada kajian sejarah kolonial Indonesia dan studi agama dengan menyoroti peran ritual sebagai medium utama dalam produksi dan reproduksi kekuasaan, serta memperkaya teori kekuasaan dalam konteks kolonialisme Asia Timur.
THEOLOGICAL ANALYSIS OF THE DUAL ROLE OF WIDOWS IN PROVIDING FOR THEIR FAMILIES IN THE ORA ET LABORA BOGAKELE CONGREGATION Rahel Fiktoria Kamore; Delila Tanaem; Agnes Magdelina Kolly
Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM) Vol. 3 No. 2 (2026): Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/zfj3sw53

Abstract

This study aims to determine how widowed women carry out their dual role in raising families in the Ora Et Labora Bogakele congregation, identify the economic, social, and spiritual challenges they face, and analyze theological perspectives on the dual role of widowed women in family life. The method used in this study is descriptive with a qualitative approach. Data collection techniques were conducted through interviews and documentation.The participants in this study consisted of four widowed women and one pastor as a supporting informant from the Ora Et Labora Bogakele congregation. The results show that widowed women in the Ora Et Labora Bogakele congregation carry out dual roles as housewives, caregivers and educators of children, and also as the primary breadwinners of their families. To meet their family's needs, the informants work as farmers and weavers. This dual role presents various challenges, particularly in the economic, social, and spiritual spheres. Economic challenges are evident in income instability and limited financial resources. Social challenges are evident in the form of societal stigma, limited social support, and the burden of responsibilities that must be carried out alone. Meanwhile, spiritual challenges emerge in the form of inner struggles, feelings of loss, and the need to maintain faith amidst the pressures of life. the dual role of widowed women is understood as a form of calling to faith that reflects perseverance, responsibility, and faithfulness to God. Widowed women are not only seen as a vulnerable group, but also as individuals with dignity as images of God and capable of playing an active role in family and church life. The church is called to provide pastoral, social, and spiritual support to widowed women so that they retain hope and strength in their lives.
EKOLOGI HINDU DAN KRISIS LINGKUNGAN: REKONSTRUKSI FILOSOFIS RELASI MANUSIA, ALAM, DAN REALITAS DALAM PERSPEKTIF ADVAITA VEDĀNTA Pande Putu Toya Wisuda
Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM) Vol. 3 No. 3 (2026): Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/d5fa2j97

Abstract

Krisis lingkungan kontemporer tidak hanya merupakan persoalan ekologis, teknologis, ekonomi, dan kebijakan publik, tetapi juga merupakan krisis cara manusia memahami dirinya, alam, dan realitas. Perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, deforestasi, pencemaran, degradasi tanah, dan tekanan terhadap sumber daya menunjukkan bahwa persoalan lingkungan berhubungan dengan pola produksi, konsumsi, serta pandangan dunia yang menempatkan alam sebagai objek eksternal. Artikel ini bertujuan merekonstruksi secara filosofis relasi manusia, alam, dan realitas melalui perspektif Advaita Vedānta serta merumuskan relevansinya bagi pengembangan etika ekologis Hindu kontemporer. Penelitian menggunakan metode kualitatif berupa studi kepustakaan dengan pendekatan hermeneutika filosofis dan analisis kritis terhadap literatur mengenai Advaita Vedānta, Hindu ecology, eco-theology, agama dan perilaku lingkungan, serta kearifan ekologis Bali. Hasil kajian menunjukkan bahwa non-dualitas, hubungan Ātman–Brahman, kritik terhadap avidyā, serta orientasi dharma dapat menjadi sumber konseptual untuk mendekonstruksi antroposentrisme yang eksploitatif. Namun, Advaita Vedānta tidak dapat begitu saja diposisikan sebagai filsafat lingkungan. Konsep māyā dan mithyā memerlukan pembacaan hati-hati agar status non-absolut dunia empiris tidak disalahartikan sebagai ketiadaan nilai moral. Rekonstruksi yang ditawarkan terdiri atas tiga lapis yang saling berhubungan, yaitu ontologi non-dual, epistemologi transformasi kesadaran ekologis, dan etika dharma yang diwujudkan dalam non-eksploitasi, tanggung jawab, pengendalian konsumsi, dan keberlanjutan. Dalam konteks Indonesia, kerangka tersebut dapat berdialog dengan Tri Hita Karana tanpa menyamakan kedua tradisi. Artikel ini menegaskan bahwa kontribusi utama Advaita Vedānta terhadap ekologi bukan sekadar memberikan daftar larangan terhadap perusakan alam, melainkan mengubah struktur kesadaran yang memandang manusia sebagai pusat dan alam sebagai objek.