cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humanika : Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
ISSN : 14121271     EISSN : 25794248     DOI : 10.21831
Core Subject : Humanities, Art,
HUMANIKA published by P-MKU LPPMP is an academic journal, publishes high quality manuscripts that engage theoretical and empirical issues including education, social sciences, and religion studies. They are tackled from a multidisciplinary perspective. The journal also features case studies focusing on practical implications, or papers related to learning and teaching in social and science disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 207 Documents
KONFLIK PERADABAN SAMUEL P. HUNTINGTON (Kebangkitan Islam yang Dirisaukan?) Fitria, Vita
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 9 No. 1 (2009): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v9i1.3782

Abstract

Istilah "˜konflik peradaban' diperkenalkan Samuel Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996). Menurut Huntington, dengan berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan runtuhnya ideologi komunisme, wilayah konflik meluas melewati fase Barat, dan yang mewarnainya adalah hubungan antara peradaban Barat dan non-Barat serta antarperadaban non-Barat itu sendiri. Huntington mengelompokkan negara-negara bukan atas dasar sistem politik ekonomi, tetapi lebih berdasarkan budaya dan peradaban. Ia mengidentifikasi sembilan peradaban kontemporer, yaitu, peradaban Barat, Cina, Jepang, Amerika Latin, Afrika, Hindu, Budha, Islam, dan Kristen Ortodoks. Benturan yang paling keras – menurut Huntington - akan terjadi antara kebudayaan Kristen Barat dengan kebudayaan Islam. Tesis tersebut secara tidak langsung memperkuat asumsi sebagian besar ilmuwan Barat yang melihat Islam sebagai aggression and hostility (agresi dan ancaman). Pendek kata, bagaimana Barat menciptakan stereotipe-stereotipe simplistis yang menunjukkan wajah the rage of Islam.
PERSEPSI MASYARAKAT KOTAGEDE TERHADAP PENGGUNAAN MEDIA KOMUNIKASI OLEH ORGANISASI FORUM JOGLO UNTUK PELESTARIAN BUDAYA DI KOTAGEDE YOGYAKARTA Fajri, Choirul
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 15 No. 1 (2015): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v15i1.7639

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat Kotagedeterhadap penggunaan media komunikasi guna membantu melestarikan budaya olehOrganisasi Forum Joglo di Kotagede. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif.Data diperoleh melalui teknik angket, wawancara mendalam, observasi dan studidokumen. Hasil penelitian menunjukkan adanya persepsi yang baik dari masyarakatKotagede terkait dengan penggunaan media komunikasi oleh Organisasi Forum Joglo.Persepsi yang baik itu memberikan pengaruh berupa tingkat partisipasi yang tinggiterhadap program-program yang dilaksanakan.Kata kunci : persepsi, media komunikasi, OrganisasiForum Joglo, Kotagede
MELACAK ETIKA PROTESTAN DALAM MASYARAKAT MUSLIM INDONESIA Ummah, Sun Choirol
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 17 No. 2 (2017): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v17i1.18565

Abstract

Etika Protestan mendasarkan pada tradisi penyelamatan dari aliran Calvinisme.Paham yang dipelopori oleh Yohanes Calvin ini menekankan bahwa segala kehidupan didunia merupakan pengabdian terhadap Tuhan. Kaum Calvinis mengajarkan kepadapengikutnya untuk gigih dalam menggapai kejayaan hidup di dunia. Hal itu hanya akandapat diwujudkan dengan spirit dan etos kerja keras. Bila seseorang menginginkankehidupan akhirnya bahagia, maka harus berupaya untuk memperbanyak harta. Islamsebagai agama yang sangat lengkap mengatur tata kehidupan pemeluknya jugamemberikan arahan menjalankan kehidupan ekonominya. Harta bukanlah tujuan, ia hanyasekedar alat untuk menumpuk pahala demi tercapainya falah (kebahagiaan dunia danakhirat). Empat prinsip utama dalam sistem ekonomi yang diisyaratkan dalam Alquranyakni hidup hemat dan tidak bermewah-mewahan, pengimplementasian zakat,penghapusan riba, dan menjalankan usaha-usaha yang halal. Protestant ethics is based on the salvation tradition of Calvinism. This notion pioneered byJohn Calvin emphasizes that all life in the world is devotion to God. Calvinists teach theirfollowers to be persistent in achieving the glory of life in the world. It will only be realizedby the spirit and ethos of hard work. If someone wants life to finally be happy, then theymust try to increase their wealth. Islam as a religion that is very complete governs the lifeof its adherents also provides direction to run its economic life. Property is not a goal, it isonly a tool to accumulate merit for the achievement of falah (happiness of the world andthe hereafter). The four main principles in the economic system that are implied in theQur'an are living frugally and not being extravagant, implementing zakat, abolishingusury, and running halal businesses.
DEMOKRASI DI INDONESIA (KONSEP, PROSPEK, DAN IMPLEMENTASINYA) Sunarso, Sunarso
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 10 No. 1 (2010): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v10i1.21002

Abstract

Sejarah peristilahan demokrasi  dapat ditelusuri jauh ke belakang. Konsep ini ditumbuhkan pertama kali dalam praktik negara kota Yunani dan Athena (450 SM dan 350 SM). Dalam tahun 431 SM, Pericles, seorang negarawan ternama Athena, mendefinisikan demokrasi dengan mengemukakan beberapa kriteria: (1) pemerintahan oleh rakyat dengan partisipasi rakyat yang penuh dan langsung.; (2) kesamaan di depan hukum; (3) pluralisme, yaitu penghargaan atas semua bakat, minat, keinginan dan pandangan; dan (4) penghargaan terhadap suatu pemisahan dan wilayah pribadi untuk memenuhi dan mengekspresikan kepribadian individual.            Samuel Huntington mengidentifikasi tiga gelombang demokratisasi dalam sejarah manusia. Gelombang pertama antara tahun 1828 hingga 1926, gelombang kedua tahun 1943 hingga tahun 1962, Sejak tahun 1974, menurutnya, dunia memasuki gelombang ketiga demokratisasi dengan lebih banyak lagi negara menjadi demokratis. Gelombang demokratisasi ini juga diikuti arus balik di mana beberapa negara yang telah menjadi demokrasi kembali menjadi otoriter. Kendati demikian, gelombang demokratisasi selalu datang dan lebih banyak negara menjadi demokratis. Demokrasi, meskipun ada arus balik, adalah suatu yang tak terelakkan dan bakal hadir bagi semua negara.            Indonesia adalah salah satu dari negara yang sedang memasuki gelombang ini. Setelah 32 tahun berkuasa, rezim Jenderal Soeharto  yang kuat tiba-tiba runtuh pada 21 Mei 1998 di tengah krisis ekonomi Asia. Kondisi politik Indonesia, bagaimanapun, masih belum jelas benar apakah kekuatan-kekuatan demokrasi akan menang.
PENDIDIKAN DAN KEHIDUPAN SOSIAL Puwanto, Nurtanio Agus
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 7 No. 1 (2007): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v7i1.21015

Abstract

Education is it doesn't matter always closely related with social life. That thing is in limited scale earned we to see as interaction of school with public around and education in society itself. In public laymen looks into someone based on it's the social status, like level of it's (the economics social, education even material properties owned).In public is recognized also social institution as an order applied at one particular certain public. Institution of Social is life pattern standard reference a public so that always adhered by group of the public. If some acquitted outside institution embraced a public hence people or the group will be assumed impinges institution which has been specified. Talks about institution of social don't get out of development of culture happened in public.Cultural development hardly influenced by public patterned thinking formed by education obtained, experience of public individual or group of people, foreign intervention and change of internal area and external happened.
Metode tafsir kontemporer Abdullah Saeed Ummah, Sun Choirol
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 18 No. 2 (2018): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v18i2.29241

Abstract

The Qur'an as an open book does not close the ongoing interpretation in accordance with the times, situations and conditions. This is important so that the Qur'an does not experience stagnation of meaning. The problem arises when some Muslim scholars do not have the courage to develop the meaning and interpretation of the Qur'an which is considered sinful and fears of changing the Qur'anic text. In other spaces, it turns out that the meaning of the Qur'an with the classical approach will be considered rigid, and untouchable. Abdullah Saeed captures how the efforts to interpret the Qur'an must continue and adapt to the times. Departing from the courage of the companions of the Prophet Muhammad in interpreting the verses about the law, it turns out that the law must be arrested in accordance with its laws, not just enforcing its laws. In line with Saeed, some scientists interpret the method and approach of the Qur'an to carry out concept renewals, from textual, semi-textual, contextual, and contextual progressive. Saeed defined himself to the interpreter with a contextual progressive approach. That is, the interpretive approach considers legal-legal ethics and value hierarchy. The reader should carry out a continuous process of interpretation of the text and be adapted to the socio-historical context.Alquran sebagai kitab terbuka tidak menutup interpretasi yang berkelanjutan sesuai dengan perkembangan zaman, situasi dan kondisi. Hal ini penting agar Alquran tidak mengalami kemandegan makna. Permasalahan muncul ketika sebagian sarjana Muslim tidak memiliki keberanian untuk mengembangkan makna dan penafsiran Alquran yang dinilai berdosa dan kekhawatiran merubah teks Alquran. Di ruang lainnya ternyata pemaknaan Alquran dengan pendekatan klasik akan dianggap kaku, rigit, dan tak tersentuh.Abdullah Saeed menangkap betapa upaya pemaknaan Alquran harus terus dilanjutkan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Berangkat dari keberanian para sahabat Nabi Muhammad dalam menafsirkan ayat-ayat tentang hukum, ternyata hukum harus ditangkap sesuai dengan etis-hukumnya, tidak justru menegakkan legal-hukumnya. Senada dengan Saeed beberapa ilmuwan metode dan pendekatan tafsir Alquran mengadakan pembaruan-pembaruan konsepnya, dari tekstualis, semi-tekstualis, kontekstualis, dan progesif kontekstualis. Saeed mendefinisikan dirinya pada penafsir dengan pendekatan progesif kontekstualis. Artinya, pendekatan tafsirnya mempertimbangkan etis-legal teks dan hirarki nilai. Pembaca seharusnya melakukan proses interpretasi secara berkesinambungan (a continous process) terhadap teks dan disesuaikan dengan socio-historical context-nya.
Pendidikan lingkungan berbasis experiential learning untuk meningkatkan literasi lingkungan Hayati, Riza Sativani
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 20 No. 1 (2020): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v20i1.29039

Abstract

Damage to the ecosystem and decline in the amount of biodiversity continues. Ecosystem damage due to human activities has become a global problem. This destructive activity reflects the low of the community's environmental literacy. Environmental education can be a solution to improve community's environmental literacy. The objectives of environmental education are (1) awareness; (2) knowledge; (3) attitude; (4) skills; and (5) participation. One effective method in environmental education is based on experiential learning. This article aims to explain the concept of environmental education based on experiential learning which can be an alternative integration of environmental education in schools. This article discusses the urgency of environmental literacy, how environmental education can improve environmental literacy, and detailed concepts of how to implement environmental education based on experiential learning in schools. Experiential learning-based environmental education means instilling Kolb's learning cycle in learning and environmental education programs. The Kolb cycle consists of: (1) Concrete Experience; (2) Observation and Reflection; (3) Forming Abstract Concept; (4) Testing in New Situation. Experiential learning based environmental education will provide provisions for students to be able to design pro-environment actions or participate in providing solutions to environmental problems.
MENGGALI KEMAMPUAN AKADEMIK PESERTA DIDIK MELALUI APLIKASI MULTIPLE INTELEGENSI DALAM PROSES PEMBELAJARAN Sunartini, Fransisca Valeria
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 13 No. 1 (2013): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v13i1.3323

Abstract

Abstrak : Pendidikan mempunyai peranan penting dalam mendukung keberhasilanseseorang dalam meraih kesuksesan. Pentingnya pendidikan ini mendorong pemerintahsenantiasa melakukan perubahan kurikulum untuk mengakomodasikannya dengan kebutuhanpeserta didik. Kendala utama dunia pendidikan saat ini adalah banyaknya instansi pendidikanyang menerapkan pola pikir tradisional dalam menjalankan proses belajar mengajar. Prestasianak didik hanya diukur dari kemampuan matematika dan bahasa. Pola ini tidak mampumenghasilkan lulusan yang berkualitas. Mengingat kecerdasan intelektual tidak hanyamencakup dua parameter tersebut, maka sistem pendidikan nasional yang mengukur tingkatkecerdasan anak didik hanya menekankan pada kemampuan logika dan bahasa perlu direvisi.Kecerdasan intelektual juga harus dilihat dari aspek kinestetis, musikal, visual-spatial,interpersonal, intrapersonal, dan naturalis, atau yang biasa disebut dengan MultipleIntelligences. Multiple Intelligences yang menc.akup delapan kecerdasan itu pada dasarnyamerupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ),kecerdasan spiritual (SQ). Penerapan metode ini sebaiknya dilakukan oleh segenap tenagakependidikan yang bekerjasama dengan orang tua, bersinergi untuk mengembangkanberbagai jenis kecerdasan pada anak didik di dalam proses belajar yang dilaksanakan dilingkungan lembaga pendidikan. Melalui penerapan metode ini kemampuan dan potensiakademik anak akan tergali dan terbina sejak dini.Kata Kunci : Multiple Intelegensi, Peserta didik, Proses Pembelajaran.
ZAKAT HARTA DAN SPORTIVITAS DALAM BERKOMPETISI MENCARI REJEKI Syamsudin, Amir
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 12 No. 1 (2012): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v12i1.3655

Abstract

Zakat adalah ibadah sosial yang selalu digandengkan dengan shalat sebagai ibadah personal. Jiwa yang menyatakan tunduk patuh pada kehendak Allah pada saat shalat, akan dibuktikan perbuatan kebajikan kepada sebanyak mungkin manusia lain, salah satunya berzakat. Harta yang wajib dizakati ada dua jenis, yaitu semua jenis keuntungan yang diperoleh dari jerih payah bekerja dan semua jenis benda yang ditemukan dari dalam perut bumi. Zakat harta hanya diwajibkan kepada individu muslim yang sudah cukup untuk kebutuhan diri dan keluarganya. Secara teknis, Nisab adalah ukuran minimum seorang muslim dianggap kaya dan memiliki kewajiban berbagi harta dengan saudaranya yang miskin. Ukuran pengambilan harta zakat ditentukan oleh seberapa banyak kadar alamiah sebagai penopang proses memperoleh keuntungan tersebut digunakan. Ukuran pengambilan minimum adalah seperempatpuluh (2.5%), seperduapuluh (5%), sepersepuluh (10%), dan seperlima (20%). Semakin sedikit kadar alamiah yang digunakan maka semakin sedikit pula ukuran pengeluaran zakanya.   Kata kunci: zakat, nisab, mustahiq, penghitungan. ganegarQ� ss�_�Q telah berfungsi sebagai alat penguasa untuk melanggengkan kekuasaan. Sosok Pendidikan Kewarganegaraan (Civic atau Citizenship) yang demikian memang sering muncul di sejumlah negara, khususnya negara-negara berkembang termasuk Indonesia.  
MENGANGKAT KASUS POLITIK AKTUAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Sunarso Sunarso
Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 6, No 1 (2006): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v6i1.3812

Abstract

Materi untuk pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) erat sekali hubungannya dengan kajian dalam bidang politik. Sedangkan kajian dalam bidang ilmu politik sangat dipengaruhi oleh perkembangan realitas politik di suatu negara baik yang masuk dalam wilayah supra struktur politik maupun yang masuk dalam infra struktur politik. Pembelajaran dan kajian PKN yang mengabaikan perkembangan dan dinamika politik akan kehilangan kontektulitas, kehilangan daya tarik, serta kurang bermanfaat bagi peserta didik. Oleh karena itu, pemahaman dan penguasaan pengampu Pendidikan Kewarganegaraan pada berbagai persoalan politik beserta dinamika dan perkembangannya merupakan suatu keniscayaan.

Page 10 of 21 | Total Record : 207


Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 2 (2025): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 25 No. 1 (2025): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 24 No. 2 (2024): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 24 No. 1 (2024): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 23 No. 2 (2023): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 23 No. 1 (2023): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 22 No. 2 (2022): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 22 No. 1 (2022): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 21 No. 2 (2021): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 21 No. 1 (2021): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 20 No. 2 (2020): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 20 No. 1 (2020): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 19 No. 2 (2019): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 19 No. 1 (2019): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 18 No. 2 (2018): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 18 No. 1 (2018): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 17 No. 2 (2017): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 17 No. 1 (2017): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 16 No. 1 (2016): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 15 No. 1 (2015): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 14 No. 1 (2014): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 13 No. 1 (2013): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 12 No. 1 (2012): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 11 No. 1 (2011): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 10 No. 1 (2010): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 9 No. 1 (2009): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 8 No. 1 (2008): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 7 No. 1 (2007): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol 6, No 1 (2006): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum More Issue