cover
Contact Name
Pharmascience
Contact Email
dita.sandi@ulm.ac.id
Phone
+6285189393438
Journal Mail Official
jps@ulm.ac.id
Editorial Address
https://pharmascience.ulm.ac.id/index.php/pharmascience/about
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Journal of Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : https://doi.org/10.20527/jps.v13i1
Core Subject :
ournal of Pharmascience accepts scientific articles as original reasearch articles and review articles on pharmacy and health. Journal of Pharmascience publishes various scientific articles covering Pharmacy and Pharmaceutical Sciences in the field but not limited to: Clinical Pharmacy Community Pharmacy Pharmacology Natural Pharmacy Pharmaceutical Chemistry Pharmaceutical Technology Pharmaceutical Management Pharmaceutical Education Apart from the topics above, the Journal of Pharmascience also accepts other manuscripts in the health field, such as: Validation and development of analytical methods for a variety of samples, including food Implementation and analysis of a variety of surveys related to medical therapy, disease, health procedures, and other aspects of health
Arjuna Subject : -
Articles 362 Documents
Swamedikasi di Apotek MK: Studi Kepuasan Konsumen Estu Varesya Maulina; Diah Ratnasari; Norainny Yunitasari
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15107

Abstract

Pada pelayanan swamedikasi, Apotek MK sebagai tempat pelayanan kefarmasian harus benar-benar memberikan pelayanan yang maksimal atas kebutuhan dan keluhan yang dirasakan pasien demi mewujudkan kesembuhan pasien. Kualitas pelayanan akan mempengaruhi kepercayaan dan loyalitas pasien kepada apotek tersebut. Dalam rangka untuk menjaga kualitas pelayanan di Apotek MK, perlu dilakukannya penelitian terkait kepuasan konsumen, khususnya mengenai pelayanan swamedikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei, dengan analisis data yaitu deskriptif kuantitatif. Data penelitian berupa data primer dari hasil penyebaran kuesioner kepada konsumen di Apotek MK. Purposive sampling dipilih sebagai teknik dalam penentuan sampel. Berdasarkan studi yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dari dimensi kehandalan dikategorikan sangat puas (85,56%), dimensi ketanggapan dikategorikan sangat puas (83,28%), dimensi jaminan dikategorikan sangat puas (77,42%), dimensi empati dikategorikan sangat puas (80,44%) dan dimensi bukti fisik dikategorikan sangat puas (82,17%). Rerata dari kepuasan konsumen terhadap kelima dimensi tersebut adalah sebesar (81,77%) atau dikategorikan sangat puas terhadap swamedikasi di Apotek MK. Hal ini didukung oleh data lain terkait loyalitas konsumen yaitu mayoritas kunjungan konsumen swamedikasi di Apotek MK adalah antara 2 sampai 3 kali dan disusul lebih dari 3 kali. Kata Kunci: Survei Kepuasan, Pelayanan Kefarmasian, Pelayanan Non-resep, Metode Servqual, Purposive SamplingIn self-medication services, MK Pharmacy as a place for pharmaceutical services must really provide maximum service for the needs and complaints felt by patients in order to realize their recovery.  The quality of service will affect the trust and loyalty of patients to the pharmacy.  To maintain the quality of service at the MK Pharmacy, it is necessary to conduct research related to consumer satisfaction, especially regarding self-medication services.  The research method used is survey, with data analysis that is descriptive quantitative.  Research data in the form of primary data from the results of distributing questionnaires to consumers at MK Pharmacy.  Purposive sampling was chosen as a technique in determining the sample.  Based on the studies that have been done, it can be concluded that the reliability dimension is categorized as very satisfied (85,56%), the responsiveness dimension is categorized as very satisfied (83,28%), the assurance dimension is categorized as very satisfied (77,42%), the empathy dimension is categorized as very satisfied (80,44%), and the dimension of physical evidence is categorized as very satisfied (82,17%).  The mean of consumer satisfaction with the five dimensions is (81,77%) or categorized as very satisfied with self-medication at the MK Pharmacy. This is supported by other data related to consumer loyalty, namely the majority of self-medication consumer visits at the MK Pharmacy are between 2 to 3 times, followed by more than 3 times.
Uji Aktivitas Antioksidan pada Hidrosol Sereh Wangi (Cymbopogon nardus) Ester Dwi Antari; Umi Nafisah; Wanda Eka Rosita Dewi; Khoiril Muna
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15193

Abstract

Antioksidan adalah senyawa yang melindungi sel-sel dalam tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Antioksidan biasanya merupakan bagian dari flavonoid pada tumbuhan. Tanaman sereh wangi, menurut penelitian sebelumnya dinyatakan memiliki aktivitas antioksidan. Metode penyulingan uap biasanya digunakan untuk membuat minyak atsiri dan produk sampingan, seperti hidrosol, yang akan dihasilkan dari hasil destilasi uap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan hidrosol sereh wangi terhadap radikal bebas DPPH. Hidrosol di peroleh dari destilasi uap batang sereh wangi. Pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan menggunakan panjang gelombang maksimum 513,3 nm. Berdasarkan hasil perhitungan nilai aktivitas antioksidan, diperoleh aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dari hidrosol sereh wangi menunjukkan hasil rata-rata nilai IC50 yaitu 9,322 ± 1,63. Nilai ini menunjukkan hidrosol sereh wangi tergolong antioksidan yang sangat kuat (IC50<50 ppm). Kata Kunci: Antioksidan, Sereh Wangi, Hidrosol, DPPH, IC50  Antioxidants are compounds that protect cells in the body from damage caused by free radicals. Antioxidants are usually part of the flavonoids in plants. Citronella plants, according to previous research, have antioxidant activity. The steam distillation method is usually used to prepare essential oils and by-products, such as hydrosols, which are produced by steam distillation. This study aimed to determine the antioxidant activity of citronella hydrosol against DPPH free radicals. Hydrosol is obtained from the steam distillation of citronella stems. Measurement of antioxidant activity using the DPPH method using a maximum wavelength of 513.3 nm. Based on the results of calculating the value of antioxidant activity, the antioxidant activity of DPPH citronella hydrosol obtained showed an average IC50 value of 9.322 ± 1.63. This value indicates that citronella hydrosol is classified as a very strong antioxidant (IC50<50 ppm).
Formulasi dan Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Serum Wajah Ekstrak Daun Singkong (Manihot esculenta) dengan Variasi Konsentrasi Xanthan Gum Putri Alissa Setiawan; Dina Rahmawanty; Destria Indah Sari
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15214

Abstract

Radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan kulit. Senyawa flavonoid dan vitamin C yang terkandung dalam daun singkong (Manihot esculenta) dapat berkhasiat sebagai antioksidan. Aktivitas dari radikal bebas dapat dicegah oleh senyawa antioksidan. Ekstrak daun singkong diformulasikan dalam sediaan serum wajah dengan menggunakan zat pengental xanthan gum. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sifat fisik apa saja yang dapat dipengaruhi oleh variasi konsentrasi xanthan gum dan menentukan pengaruh variasi konsentrasi xanthan gum terhadap sifat fisik sediaan serum ekstrak daun singkong. Variasi konsentrasi xanthan gum pada formula yaitu, formula 1 (0,5%), formula 2 (1%) dan formula 3 (2%). Hasil penelitian menunjukkan sediaan serum berwarna coklat kehitaman, memiliki aroma khas sakura, dan memiliki konsistensi kurang kental hingga kental, nilai pH antara 6,04-6,10, viskositas antara 650-3000 cPs, daya sebar antara 5,2-7 cm, dan daya lekat antara 1,22-3,80 detik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa variasi pada konsentrasi xanthan gum mempengaruhi hasil uji organoleptis, viskositas, daya sebar, dan daya lekat serum. Jumlah konsentrasi xanthan gum yang meningkat dapat menurunkan intensitas warna, meningkatkan konsistensi, meningkatkan nilai viskositas, menurunkan nilai daya sebar, dan meningkatkan waktu daya lekat sediaan. Kata Kunci: Antioksidan, Kosmetik Serum, Ekstrak Daun Singkong, Xanthan Gum, Sifat Fisik  Free radical can cause skin damage. Cassava leaves (Manihot esculenta) contain flavonoid and vitamin C which are efficacious as antioxidant. Antioxidant can prevent free radical activity. Cassava leaves extract was formulated into face serum dosage form using xanthan gum as thickening agent. This research aimed to determine the physical characteristics that are influenced by the xanthan gum concentration variations and to determine the effect of xanthan gum concentration variations on the physical characteristics of the cassava leaves extract serum. The use of xanthan gum concentration variations are formula 1 (0,5%), formula 2 (1%) and formula 3 (2%). The results showed that the serum had black to blackish-brown performance, characteristic smell of sakura, and less thick to thick consistency, pH value is between 6,04-6,10, viscosity between 650-3000 cPs, spreadability between 5,2-7 cm, and the adhesivity between 1,22-3,80 seconds. The conclusion of this research is that variations in the concentration of xanthan gum affected the organoleptic test, viscosity, spreadability, and adhesivity of serum. The greater xanthan gum concentration decreases color intensity, increases consistency, increases viscosity, decreases spreadability, and increases adhesivity of serum.
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Labu Siam (Sechium edule (Jacq.) Swartz) dalam Sediaan Gel Antibakteri terhadap Aktivitas Staphylococcus aureus Muzayyidah Muzayyidah; Muhammad Yusuf; Nurfiddin Farid; Jangga Jangga; Wira Anugrah
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15341

Abstract

Daun labu siam (Sechium edule (Jacq.) Swartz) telah diidentifikasi mengandung flavonoid, tannin, dan saponin yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri formula sediaan gel ekstrak etanol daun labu siam dan pengaruh variasi konsentrasi ekstrak terhadap aktivitas tersebut pada Staphylococcus aureus. Formulasi sediaan gel ekstrak etanol daun labu siam dibuat dengan variasi konsentrasi ekstrak 10% (F1), 15% (F2), dan 20% (F3) dengan kontrol positif sediaan gel Klindamisin. Pengujian aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus menggunakan metode sumuran dan pengamatan dilakukan dengan mengukur diameter zona hambat. Hasil pengujian menunjukkan F1 memiliki rata-rata diameter zona hambat sebesar 13,2 mm, F2 memiliki diameter zona hambat 15,4 mm, dan F3 memiliki diameter zona hambat 18,6 mm. Analisis data dengan uji One Way ANOVA menunjukkan adanya peningkatan diameter zona hambat yang signifikan setiap penambahan konsentrasi ekstrak daun labu siam dalam sediaan gel (p<0.05). Kata Kunci: Labu Siam, Gel Antibakteri, Metode Sumuran, Staphylococcus aureus, Zona Hambat Siamase Pumpkin Leaves (Sechium edule (Jacq.) Swartz) have been identified as containing flavonoids, tannins, and saponin potential as antibacterial agents. This study aims to determine the antibacterial activity of the etanol extract gel formulation of siamase pumpkin leaves and the effect of varying concentrations of the extract in Staphylococcus aureus activity. The formulation of siamase pumpkin leaves ethanol extract gel prepared using various extract concentration of 10% (F1), 15% (F2), and 20% (F3) with a positive control of clindamycin gel. Antibacterial activity against Staphylococcus aureus was tested using the well method and observations by measuring the inhibition zone. The results showed that F1 had an average inhibition zone of 13,2 mm, F2 had an inhibition zone of 15,4 mm, and F3 had an inhibition zone of 18,6 mm. Data analysis using the Oneway ANOVA test showed that there was an effect of the concentration of the ethanol extract of siamase pumpkin leaves in the gel preparation on antibacterial activity (p<0,05). In addition, of the three gel formulations, F3 showed the best antibacterial activity against Staphylococcus aureus with a strong category of inhibition zone.
Potensi Antijamur Ekstrak Etanol Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L.) terhadap Trichophyton mentagrophytes Subaryanti Subaryanti; Feby Ramdhony; Desy Muliana Wenas
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15425

Abstract

Dermatofitosis adalah suatu infeksi pada jaringan berkeratin yang disebabkan oleh adanya kolonisasi dari jamur jenis dermatofita Trichophyton mentagrophytes. Kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) merupakan limbah hasil olahan industri kakao dari sisa biji dan daging buahnya yang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, antosianidin, dan katekin. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi kandungan senyawa metabolit sekunder serbuk dan ekstrak etanol kulit buah kakao, menguji potensi antijamur terhadap pertumbuhan T. mentagrophytes, dan menentukan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM). Kulit buah kakao diperoleh dari Citayam, Kota Depok, Jawa Barat. Ekstrak etanol dibuat secara maserasi dengan etanol 96%. Pengujian aktivitas antijamur dilakukan dengan mengukur diameter daya hambat (DDH) menggunakan metode difusi cakram dan mengukur konsentrasi hambat minimum (KHM) menggunakan metode dilusi agar padat. Konsentrasi ekstrak yang digunakan pada pengujian DDH yaitiu 25, 50, 75, dan 100%. Kontrol positif digunakan ketokonazol. Kontrol negatif digunakan DMSO 10%. Pengujian KHM dilakukan pada konsentrasi 25, 20, 15, 10, dan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serbuk dan ekstrak etanol kulit buah kakao mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Diameter daerah hambat tertinggi (20,68 mm) diperoleh dari konsentrasi 100% dengan kategori sangat kuat. Konsentrasi hambat minimum (KHM) terhadap T. mentagrophytes adalah 10%. Kesimpulannya adalah senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada kulit buah kakao yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Konsentrasi ekstrak etanol kulit buah kakao yang menghambat T. mentagrophytes adalah 100% (20,68 ± 0,40 mm) dan KHM untuk T. mentagrophytes adalah 10%. Kata Kunci: Antijamur, Ekstrak Etanol, Kulit Buah Kakao, Metabolit Sekunder, KHM  Dermatophytosis is an infection of keratinized tissue caused by colonization of the dermatophyte fungus Trichophyton mentagrophytes. Cacao pod skin (Theobroma cacao L.) is a waste product processed by the cocoa industry from the remaining seeds and fruit pulp which contains alkaloids, flavonoids, tannins, anthocyanidins, and catechins. The aims of the research were to identify the content of secondary metabolites of powder and ethanol extract of cocoa pod shells, to test their antifungal potential on the growth of T. mentagrophytes, and to determine the value of minimum inhibitory concentration (MIC). Cocoa pod skin is obtained from Citayam, Depok City, West Java. The ethanol extract was prepared by maceration with 96% ethanol. Antifungal activity testing was carried out by measuring the inhibition zone diameter (DDH) using the disc diffusion method and measuring the minimum inhibitory concentration (MIC) using the dilution method to solidify. The concentration of the extract used in the DDH test was 25, 50, 75 and 100%. The positive control used Ketoconazole. The negative control used 10% DMSO. MIC testing was carried out at concentrations of 25, 20, 15, 10, and 5%. The results showed that the powder and ethanol extract of cocoa pod shells contained alkaloids, flavonoids, saponins and tannins. The diameter of the highest inhibition area (20.68 mm) was obtained from 100% concentration with very strong category. The minimum inhibitory concentration (MIC) against T. mentagrophytes is 10%. The conclusion is that secondary metabolites found in cocoa pod skin are alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. The concentration of the ethanol extract of cocoa pod husk that inhibited T. mentagrophytes was 100% (20.68 ± 0.40 mm) and the MIC for T. mentagrophytes is 10%.
Kesesuaian Penggunaan Obat di Puskesmas Rawat Inap Cempaka Banjarbaru Tahun 2019 Ditinjau dari Indikator Peresepan Menurut WHO Herningtyas Nautika Lingga; Oktaviani Nadia Aulia; Prima Happy Ratnapuri; Jingga Septiandy
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.15491

Abstract

Penggunaan obat rasional sangat penting dalam mendukung ketercapaian kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Ketidakrasionalan penggunaan obat berdampak buruk dan dapat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan. Penelitian dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan obat di Puskesmas Rawat Inap Cempaka Banjarbaru dilihat dari indikator peresepan World Health Organization. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif. Sampel yang digunakan adalah resep pasien rawat jalan tahun 2019 sebanyak 195 sampel. Hasil dari penelitian ini secara berturut-turut yaitu rata-rata item obat perlembar resep 2,3; persentase peresepan antibiotik 21.02%; persentase penggunaan obat sesuai formularium 82,81%; persentase peresepan obat generik 89,50%; persentase peresepan sediaan injeksi 0%. Kesimpulannya terdapat 3 indikator yang sesuai dengan indikator WHO yaitu persentase peresepan obat generik, persentase persepan antibiotik dan persentase peresepan sediaan injeksi. Kata Kunci: Indikator Peresepan, Indikator WHO 1993, Penggunaan Obat, Puskesmas, Rasionalitas   Rational drug use is very important to achieve quality of life and better public welfare and provide benefits to society from an economic perspective. Irrational drugs use can raise a danger such as unwanted reaction. This study aimed to describe drugs use at Cempaka primary healthcare Banjarbaru based on  prescribing indicators by WHO. This study was observational with descriptive design. Data collection was conducted retrospectively. Sample of this study was outpatient prescription in 2019 as much as 195. Results of this study showed that average number of drugs per encounter was 2,3; percentage of antibiotics was 21,02%; percentage of drugs prescribed from essential drugs list was 82,81%; percentage of using generic drugs was 89,50%, percentage of injection was 0%. In conclusion, 3 indicators were obtained in accordance with the WHO indicator, namely the percentage of using generic drugs, percentage of antibiotic and percentage of injection.
Pengaruh Masa Inkubasi Bakteri Propionibacterium acnes terhadap Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 96% Umbi Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr.) Didik Rio Pambudi; Fitriyanti Fitriyanti; Siti Kholilah; Wahyudin Bin Jamalludin; M. Andi Chandra
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15531

Abstract

Masa inkubasi bakteri berbeda-beda tergantung jenis bakteri yang digunakan. Propionibacterium acnes (P.acnes) merupakan bakteri gram positif dengan masa inkubasi 24 jam dan 48 jam. Penetilian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari masa inkubasi P. acnes terhadap aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96% umbi bawang dayak (E. palmifolia (L.) Merr.). Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumuran dengan 5 variasi konsentrasi yaitu 20%, 25%, 30%, 35%, 40% dengan kontrol positif yang digunakan adalah Doksisiklin 30 µg/disk dan Na-CMC 0,5% sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian ekstrak etanol 96% umbi bawang dayak (E. americana Merr.) terhadap bakteri P. acnes diperoleh zona hambat berturut-turut 8,21±1,092; 6,89±1,160; 5,74±1,992; 8,71±2,392 dan 10,12±1,840 untuk 24 jam dan9,5±1,586; 8,912±1,888; 8,575±3,035; 9,6±1,810 dan 11,575±1,694 untuk 48 jam. Hasil menunjukkan masa inkubasi bakteri P.acnes berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol 96% umbi bawang dayak (E. americana Merr.). Kata Kunci: Bawang Dayak, 24 Jam, 48 Jam, Zona Hambat, Metode Sumuran The incubation time for bacteria varies depending on the type of bacteria used. Propionibacterium acnes (P.acnes) is a gram-positive bacterium with an incubation period of 24 hours and 48 hours. This study aims to determine the effect of the incubation period of P. acnes on the antibacterial activity of the 96% ethanol extract of Dayak onion (E. palmifolia (L.) Merr.) bulbs. Antibacterial activity testing used the well-diffusion method with 5 concentration variations, namely 20%, 25%, 30%, 35%, and 40% with the positive control used being Doxycycline 30 µg/disk and 0.5% Na-CMC as a negative control. The results of the 96% ethanol extract of Dayak onion (E. americana Merr.) bulbs against P. acnes bacteria obtained inhibition zones of 8.21 ± 1.092; 6.89±1.160; 5.74±1.992; 8.71 ± 2.392 and 10.12 ± 1.840 for 24 hours and 9.5 ± 1.586; 8,912±1,888; 8.575±3.035; 9.6±1.810 and 11.575±1.694 for 48 hours. The results showed that the length of incubation time for P.acnes bacteria affected the antibacterial activity of the 96% ethanol extract of Dayak onion (E. americana Merr.) bulbs.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Masker Peel-Off dari Ekstrak Buah Kasturi (Mangifera casturi Kosterm.) dengan Variasi Konsentrasi PVA Sutomo Sutomo; Nhaya Riskita; Mia Fitriana
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.15569

Abstract

Kasturi (Mangifera casutri Kosterm.) merupakan salah satu tumbuhan endemik dari Kalimantan yang telah terbukti memiliki senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Ekstrak buah tumbuhan M. casturi dapat dibuat menjadi salah satu bentuk sediaan masker peel-off dengan memanfaatkan polivinil alkohol (PVA) untuk film-forming agent. Sediaan masker peel-off mampu merileksasikan terhadap otot wajah, melembabkan, dan juga dapat membersihkan kulit wajah serta efektif dalam menghilangkan sel kulit yang mati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menetapkan sifat fisik apa saja yang dapat dipengaruhi oleh adanya variasi konsentrasi PVA. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental. Variasi konsentrasi PVA yang digunakan pada penelitian ini yaitu: formula 1, 2, dan 3 secara berturut-turut adalah 8%, 10%, dan 12%. Evaluasi yang dilakukan meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya lekat, daya sebar, waktu kering, dan uji hedonik. Evaluasi yang dilakukan terhadap formula 1, 2, dan 3 menegaskan bahwa dengan adanya variasi konsentrasi dari PVA menghasilkan formula yang berbeda secara signifikan baik dari hasil pengujian pH, daya lekat, daya sebar, dan waktu kering sediaan. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpukan bahwa dengan bervariasinya konsentrasi PVA yang digunakan dapat mempengaruhi terhadap sifat organoleptis, pH, daya lekat, daya sebar, serta waktu kering sediaan. Kata Kunci: Masker Peel-off, Buah Kasturi, Mangifera casturi, Polivinil Alkohol, Formulasi  Casturi fruit (Mangifera casturi Kosterm.) is one of the endemic plants of South Kalimantan which contains natural antioxidants compound. The casturi fruit extract was formulated into a peel-off mask preparation using polyvinyl alcohol (PVA) as a film-forming agent. The peel-off mask has several benefits, including being able to relax facial muscles, cleanse and moisturize facial skin and effective in removing dead skin cells. This research aimed to determine the physical characteristics that are influenced by the PVA concentration variations. The used PVA concentration variations are formula 1 (8%), formula 2 (10%) and formula 3 (12%). The conducted evaluations are the organoleptic tests, homogeneity, pH, adhesion, spread ability, dry time, and hedonic tests. The evaluation results show that there are significant differences in the pH test, adhesion, spread ability and dry time of the preparations. The conclusion of this research is that the PVA concentration variations affected the organoleptic test, pH, adhesion, dispersion and dry time of the casturi fruit extract peel-of mask.
Identifikasi Bahan Kimia Obat (BKO) dalam Sediaan Jamu Pegal Linu dari Kota Wonosobo Alvisnayna Aida Maharani; Perdana Priya Haresmita; Arief Kusuma Wardani; Khusnul Fadhilah; Indra Yudhawan
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.15783

Abstract

Obat tradisional adalah ramuan atau bahan berupa tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan. Obat tradisional yang banyak diminati masyarakat salah satunya adalah jamu pegal linu. Meningkatnya permintaan pasar akan jamu membuat adanya produsen yang secara langsung menambahkan Bahan Kimia Obat (BKO) pada produknya. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi apakah terdapat kandungan BKO pada produk jamu pegal linu yang beredar di Kota Wonosobo. Metode yang digunakan adalah Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan fase diam silika gel 60 F254, fase gerak etil asetat:kloroform (4:1), etil asetat:kloroform (1:1) dan etil asetat:n- heksan (3:2) dengan deteksi sinar UV254 nm. Pada penelitian ini digunakan 6 sampel jamu dengan baku pembanding parasetamol, asam mefenamat, prednison dan natrium diklofenak. Berdasarkan hasil penelitian ini, sampel yang positif mengandung BKO adalah sampel A dan E, yaitu positif mengandung prednison dengan nilai Rf 0,275. Kata Kunci: Obat Tradisional, Parasetamol, Asam Mefenamat, Prednison, Natrium Diklofenak Traditional medicines are mixtures or concoctions made from substances such as plants, animals, minerals, herbal preparations, or combinations of these substances that have been utilized for therapeutic purposes for many years. Herbal remedies for stiff and aching muscles are one of the ancient treatments that are in high demand by the general public. Producers have been forced to directly add Medicinal Chemicals to their products as a result of the rising market demand for herbal medicine. The goal of this study was to determine whether herbal products used to treat rheumatic pain in Wonosobo City included any medicinal chemicals. Thin Layer Chromatography (TLC) was the technique employed, with silica gel 60 F254 serving as the stationary phase and the mobile phases being ethylacetate:chloroform (4:1), ethyl acetate:chloroform (1:1), and ethyl acetate:n-hexane (3:2). using UV254 nm light detection. Six herbal medicine samples were employed in this trial, along with industry-standard doses of paracetamol, mefenamic acid, prednisone, and diclofenac sodium. According to the study's findings, samples A and E tested positive for the presence of pharmaceutical compounds because they contained prednisone, which had an Rf value of 0.275. 
Analisis Efektivitas Biaya Antihipertensi Amlodipin Tunggal dan Kombinasi pada Pasien Hipertensi dengan Diabetes Melitus Tipe II Rawat Jalan di Rumah Sakit di Kota Pontianak Dwi Wulan Anggraini; Nurmainah Nurmainah; Shoma Rizkifani
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.16014

Abstract

Penyakit hipertensi dengan diabetes melitus tipe II berisiko tinggi untuk berkembangnya penyakit kardiovaskular. Penyakit degeneratif ini membutuhkan pengobatan jangka panjang sehingga analisis efektivitas biaya perlu dilakukan untuk membantu dalam pemilihan obat yang efektif secara biaya maupun luaran klinis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya penggunaan antihipertensi amlodipin tunggal dan kombinasi amlodipin-kandesartan melalui perhitungan Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost per Unit of Effectiveness Ratio (ICER). Metode penelitian berupa penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross-sectional. Data dikumpulkan secara retrospektif dengan menggunakan data rekam medis dan klaim kuitansi pembayaran pasien hipertensi dengan diabetes melitus tipe II rawat jalan di rumah sakit di Kota Pontianak pada Januari hingga Desember 2021. Subyek penelitian ini sebanyak 34 subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik terbanyak terdapat pada usia ≥60 tahun (58,82%), jenis kelamin perempuan (55,88%), menggunakan antihipertensi amlodipin tunggal (61,76%), dan tekanan darah di hipertensi stage 1 (64,71%). Amlodipin tunggal memiliki efektivitas terapi lebih tinggi 28,57% dibandingkan kombinasi amlodipin-kandesartan (15,38%). Hasil nilai ACER amlodipin tunggal sebesar Rp90.155,93, sedangkan pada kombinasi amlodipin-kandesartan sebesar Rp358.932,05 serta nilai ICER yang sebesar (-)Rp223.246,40. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan antihipertensi yang memiliki biaya lebih efektif adalah amlodipin tunggal dibandingkan kombinasi amlodipin-kandesartan. Kata Kunci: Amlodipin, Amlodipin-Kandesartan, Diabetes Melitus Tipe II, Efektivitas Biaya, Hipertensi  Hypertension with diabetes mellitus type II is at high risk for the development of cardiovascular disease. This degenerative disease requires long-term treatment, so it is necessary to carry out a cost-effectiveness analysis in order to assist in the selection of drugs that are cost-effective and clinical outcomes. This study aimed to analyze the cost-effectiveness of using amlodipine monotherapy and the combination of amlodipine-candesartan through Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) and Incremental Cost per Unit of Effectiveness Ratio (ICER) calculations. This study method was an observational study with a cross-sectional research design. Data were collected retrospectively using medical records and claim receipts for payment of hypertensive patients with diabetes mellitus type II outpatient in a hospital in Pontianak City from January to December 2021. The subjects of this study were 34 subjects who have the inclusion and exclusion criteria. The results of the statistical study showed that the most common were aged ≥60 years (58.82%), female (55.88%), using the antihypertensive amlodipine monotherapy (61.76%), and blood pressure was in hypertension stage 1 (64.71%). Amlodipine monotherapy has a higher therapeutic effectiveness of 28.57% compared to the amlodipine-candesartan combination (15.38%). The results of the ACER of amlodipine monotherapy was Rp90,155.93, while for the amlodipine-candesartan combination it was Rp358,932.05 and the ICER value obtained was (-)Rp223,246.40. Based on the results of this study, it was concluded that amlodipine monotherapy is more cost-effective than the amlodipine-candesartan combination.Â