cover
Contact Name
Pharmascience
Contact Email
dita.sandi@ulm.ac.id
Phone
+6285189393438
Journal Mail Official
jps@ulm.ac.id
Editorial Address
https://pharmascience.ulm.ac.id/index.php/pharmascience/about
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Journal of Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : https://doi.org/10.20527/jps.v13i1
Core Subject :
ournal of Pharmascience accepts scientific articles as original reasearch articles and review articles on pharmacy and health. Journal of Pharmascience publishes various scientific articles covering Pharmacy and Pharmaceutical Sciences in the field but not limited to: Clinical Pharmacy Community Pharmacy Pharmacology Natural Pharmacy Pharmaceutical Chemistry Pharmaceutical Technology Pharmaceutical Management Pharmaceutical Education Apart from the topics above, the Journal of Pharmascience also accepts other manuscripts in the health field, such as: Validation and development of analytical methods for a variety of samples, including food Implementation and analysis of a variety of surveys related to medical therapy, disease, health procedures, and other aspects of health
Arjuna Subject : -
Articles 362 Documents
Penentuan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Bunga Ceguk (Combretum Indicum L.) Tipe Membulat pada Beberapa Wilayah di Kalimantan Selatan Amalia Khairunnisa; Samsul Hadi; Sri Oktaviana Sari
Journal of Pharmascience Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v9i2.13859

Abstract

Tanaman ceguk (Combretum indicum L.) memiliki 2 variasi yaitu tipe membulat dan tipe memanjang dan berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan bunga ceguk tipe membulat pada beberapa wilayah di Kalimantan Selatan yakni di Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Kabupaten Kotabaru. Penentuan aktivitas antioksidan baik secara kualitatif maupun kuantitatif dilakukan dengan menggunakan KLT dan Spektrofotometer UV-Vis. Ekstrak etanol bunga C. indicum tipe membulat dari Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Kotabaru secara kualitatif memiliki aktivitas antioksidan yang ditandai dengan adanya bercak kuning dengan latar belakang ungu pada plat KLT setelah penyemprotan reagen DPPH. Adapun nilai IC50 ekstrak etanol bunga C. indicum tipe membulat pada Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Kotabaru masing-masing sebesar 16,358 ppm, 28,445 ppm, dan 20,868 ppm dengan kategori sangat kuat. Berdasarkan hasil penelitian ini bunga C. indicum tipe membulat memiliki aktivitas antioksidan tertinggi pada wilayah  Kota Banjarbaru.Kata Kunci : Combretum indicum L, bunga ceguk, ekstrak, antioksidan Combretum indicum L. has 2 types, rounded and elongated , as an antioxidant activity. This study aims to determine the antioxidant activity of round-type flowers in several areas in South Kalimantan, such as in Banjarbaru City, Banjar Regency and Kotabaru. Determination of antioxidant activities, qualitatively and quantitatively, was carried out using TLC and UV-Vis Spectrophotometer. The qualitative test of ethanolic extract of round type C. indicum flowers from Banjarbaru City, Banjar Regency, and Kotabaru had antioxidant activity which was indicated by the presence of yellow spots on a purple background on the TLC plate after spraying DPPH reagent. The IC50 values for the ethanolic extract of C. indicum flower type in Banjarbaru City, Banjar Regency, and Kotabaru were 16.358 ppm, 28.445 ppm, and 20.868 ppm with a very strong category antioxidant. Based on the results of this study, the round type of C. indicum flowers had the highest antioxidant activity in the Banjarbaru City area.
Pengaruh Penyakit Penyerta terhadap Toksisitas Obat Metamizole Athira Syafika; Syarifah NYRS Asseggaf; Mistika Zakiah
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.13920

Abstract

Metamizole merupakan obat yang memiliki efek analgesik, antipiretik, dan spasmolitik. Metamizole diketahui memiliki toksisitas yang dipengaruhi oleh penyakit penyerta, dosis dan interaksi obat. Hal ini yang menjadi salah satu latar belakang bagi peneliti untuk membahas lebih lanjut terkait pengaruh penyakit penyerta terhadap toksisitas metamizole. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penyakit penyerta terhadap toksisitas obat metamizole. Desain penelitian yang digunakan adalah literature review dan data yang digunakan berasal dari Google Schoolar, PubMed, dan Science Direct. Hasil dari review sepuluh jurnal menunjukkan bahwa adanya pengaruh penyakit penyerta seperti kardiovaskular, autoimun, infeksi virus, acute liver injury, kanker dan asma terhadap toksisitas obat metamizole. Pengaruh ini sering kali diperberat oleh interaksi obat seperti obat aspirin, antibiotik, antikonvulsan, dan cDMARD (methotrexate). Kesimpulan review ini adalah adanya pengaruh penyakit penyerta terhadap toksisitas obat metamizole. Penyakit penyerta tersebut antara lain adalah kardiovaskular yang dapat menyebabkan MACCE (P<0,001), autoimun yang dapat meningkatkan resiko agranulositosis dengan OR 2,28 (CI 95%: 1,294,04), infeksi virus, acute liver injury, kanker dan asma. Kata Kunci: Penyakit Penyerta, Toksisitas, Metamizole, Interaksi Obat, Efek Samping Obat Metamizole is a drug that has analgesic, antipyretic, and spasmolytic effects. Metamizole is known to have a toxicity that is influenced by comorbidities, dosage, and drug interactions. This is one of the backgrounds for researchers to discuss further regarding the effect of co-morbidities on metamizole toxicity. This study aims to examine the effect of comorbidities on the toxicity of the metamizole. The research design used was a literature review and the data used came from Google Schoolar, PubMed, and Science Direct. The results of a review of ten journals showed that there was an influence of comorbidities such as cardiovascular, autoimmune, viral infections, acute liver injury, cancer, and asthma on the toxicity of the metamizole. This effect is often exacerbated by drug interactions such as aspirin, antibiotics, anticonvulsants, and cDMARD (methotrexate). The conclusion of this study is that there is an effect of comorbidities on the toxicity of the metamizole. These comorbidities include cardiovascular disease that can cause MACCE (P < 0.001), autoimmune which can increase the risk of agranulocytosis with an OR of 2.28 (95% CI: 1.29 4.04), viral infections, acute liver injury, cancer and asthma.
Aktivitas Rimpang Temulawak sebagai Antibakteri Berdasarkan Lokasi Tumbuhnya: Narrative Review Catur Aryanto Rahman; Djoko Santosa; Purwanto Purwanto
Journal of Pharmascience Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v9i2.14007

Abstract

Temulawak (Curcuma zanthorriza Roxb.) merupakan salah satu spesies tanaman dari keluarga Zingiberaceae yang mempunyai banyak efek farmakologi yang salah satunya adalah  antibakteri. Aktivitas farmakologis tanaman ditentukan oleh kandungan kimia yang ada didalamnya dan sangat dipengaruhi oleh lokasi tumbuhnya. Dilaporkan bahwa perbedaan jenis tanah, suhu, pH, kelembaban, curah hujan, dan ketinggian dari lokasi tempat tumbuhnya rimpang temulawak berpengaruh terhadap profil metabolit dan aktivitas farmakologisnya. Di dalam penelitian ini dilakukan kajian pustaka tentang pengaruh perbedaan lokasi tumbuh rimpang temulawak terhadap aktivitas antibakterinya. Informasi rimpang temulawak yang akan dilaporkan dalam hal ini meliputi distribusi geografis dan senyawa aktif terhadap aktivitas antibakteri dari rimpang temulawak di berbagai daerah. Temulawak dapat tumbuh dengan baik pada jenis tanah latosol, andosol, podsolik dan regosol, pH tanah antara 5,0 – 6,5, curah hujan 1.500 mm/tahun, suhu 19-30oC, dan kelembaban udara 70-90%. Budidaya temulawak dapat dilakukan pada ketinggian tempat antara 100 – 600 mdpl. Temulawak yang tumbuh di dataran tinggi (sekitar 800 mdpl) cenderung memiliki kandungan xanthorrizol yang semakin tinggi, yang mana senyawa ini diketahui mempunyai efek yang kuat sebagai antibakteri. Kata Kunci: Temulawak, Antibakteri, Lokasi Tumbuh, Kandungan Kimia Temulawak (Curcuma zanthorriza Roxb.) is a plant species of Zingiberaceae family which has many pharmacological effects, one of which is antibacterial. As we know, the pharmacological activity of plants is determined by the chemical content of their metabolite and strongly influenced by location of their growth. It was reported that differences of soil type, temperature, pH, humidity, rainfall, and altitude of growth location affect the metabolite profile and pharmacological activity. In this study, a literature review was conducted on the effect of growth location difference of temulawak rhizome on its antibacterial activity. Information of temulawak rhizome which will be reported in this study includes geographic distribution and active compound related to its antimicrobial activity.          Temulawak grow well at latosol, andosol, podsolic and regosol soil types, soil pH in range of 5,0 – 6,5, rainfall 1.500 mm/year, temperature 19-30oC, and air humidity 70-90%. Temulawak cultivation can be performed at an altitude of 100-600 m above sea level. This herb which grows in the high altitude (around 800 above sea level) tends to have higher xanthorrizol content, which is known to have strong antibacterial effect.
Gambaran Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi di Instalasi Rawat Jalan RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak Tahun 2020 Muhammad Akib Yuswar; Nera Umilia Purwanti; Umi Khairiyah
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14041

Abstract

Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah di atas ambang batas normal yaitu 120/80 mmHg. Penggunaan obat yang rasional merupakan langkah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan rasionalitas dan distribusi pola penggunaan obat pada pasien hipertensi tanpa dan dengan penyakit penyerta di instalasi rawat jalan RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak berdasarkan kriteria tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, dan tepat pasien. Metode yang digunakan adalah metode observasional deskriptif dengan rancangan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif melalui penelusuran data rekam medis dan data resep pasien periode Januari- Desember 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien hipertensi paling banyak berusia 56-65 tahun (41,24%), jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan (51,55%), tekanan darah paling banyak yang diderita adalah hipertensi stage 2 (63,23%) dan pasien hipertensi paling banyak menderita hipertensi dengan penyakit penyerta (75,74%). Hasil analisis rasionalitas penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi tanpa penyakit penyerta berdasarkan tepat indikasi sebanyak 93,94%, tepat obat sebanyak 72,73%, tepat dosis sebanyak 100%, serta tepat pasien sebanyak 100% dan dengan penyakit penyerta berdasarkan tepat indikasi sebanyak 100%, tepat obat sebanyak 80,58%, tepat dosis sebanyak 100%, dan tepat pasien sebanyak 42,72%. Distribusi pola penggunaan obat antihipertensi yang paling sering digunakan dalam pengobatan hipertensi adalah amlodipin. Kata Kunci: Hipertensi, Amlodipin, Evaluasi, Penyakit Penyerta, Pola Penggunaan Hypertension is a condition where there is an increase in blood pressure above the normal threshold of 120/80 mmHg. Rational use of drugs is a step to get good health services. The purpose of this study was to describe the rationality and distribution of drug use patterns in hypertensive patients without and with comorbidities in the outpatient installation of RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie in Pontianak based on the criteria for the right indication, the right drug, the right dose, and the right patient. The method used is descriptive observational method with a cross sectional design. Data collection was carried out retrospectively through searching medical record data and patient prescription data for the period January-December 2020. The results showed that the majority of hypertensive patients were aged 56-65 years (41.24%), the most gender was female (51.55%), the highest blood pressure suffered was stage 2 hypertension (63.23%) and hypertension patients suffered the most from hypertension with comorbidities (75.74%). The results show the rationality of the use of antihypertensive drugs in hypertensive patients without comorbidities based on the right indication by 93.94%, the right drug by 72.73%, the right dose by 100%, and the right patient by 100% and with comorbidities based on the right indication by 100%, the right drug by 80.58%, the right dose by 100%, and the right patient by 42.72%. The distribution of the pattern of use of the most commonly used antihypertensive drug  is amlodipine.
Evaluasi Tingkat Kepatuhan Konsumsi Obat pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan di Rumah Sakit Dewi Sri Karawang Menggunakan Metode MMAS-8 Tsani Arsy Mura; Indah Laily Hilmi; Salman Salman
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14075

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu problematika di bidang kesehatan di seluruh dunia dan menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Tingkat kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi di Jawa Barat sebanyak 55,12% rutin minum obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan pasien hipertensi dalam mengkonsumsi obat antihipertensi di rumah sakit Dewi Sri Karawang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik sampling purposive sampling dengan pendekatan prospektif. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Dewi Sri Karawang dalam jangka waktu Februari – April 2022. Pada penelitian ini diperoleh hasil 137 sampel pasien hipertensi dengan  tiga kategori kepatuhan konsumsi obat anti hipertensi. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 90 pasien. Karakteristik pasien yang terlibat dalam penelitian ini cenderung wanita sebanyak 54%, usia 41-50 tahun sebanyak 46,0%, dan pekerjaannya sebagai karyawan sebanyak 35%. Tingkat kepatuhan penggunaan obatnya beragam, di mana 90 pasien (65,7%) berada pada tingkat kepatuhan sedang, 40 pasien (29,2%) pada tingkat kepatuhan rendah, dan 7 pasien (5,1%) pada tingkat kepatuhan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat antihipertensi pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Dewi Sri Karawang berada di kategori kepatuhan sedang. Kata Kunci: Konsumsi Obat, Hipertensi, MMAS-8, Tingkat Kepatuhan, Kardiovaskular Hypertension is a health problem worldwide and is a major risk factor for cardiovascular disease. The prevalence of hypertension continues to increase, it is estimated that people with hypertension in 2025 will reach 29% of the number of adults worldwide. In West Java, hypertension sufferers reached 39.60%, which is the province with the second largest percentage of hypertension cases, with a compliance rate of 55.12% of patients taking the medication regularly. While in Karawang itself, based on data obtained from the West Java Health Office, the number of people with hypertension for ages over 15 years in 2019 reached 606,946 people. The purpose of this study was to evaluate the compliance level of hypertensive patients in consuming antihypertensive drugs at Dewi Sri Hospital, Karawang. This study uses a descriptive-analytic method with a prospective purposive sampling technique. This research was conducted at Dewi Sri Karawang Hospital in the period from February to April 2022. In this study, the results of 137 samples of hypertensive patients were found in three categories of adherence to antihypertensive drug consumption. A total of 90 patients (65.7%) had moderate adherence, 40 (29.2%) had low adherence, and 7 patients (5.1%) had high adherence. Based on the results of the study, it can be concluded that patients at Dewi Sri Karawang Hospital are in the category of moderate compliance.
Profil FTIR dan GC/MS Ekstrak Jamur Endofit dari Akar Seluang Belum (Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz.) Asal Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan Pratika Viogenta; Nashrul Wathan; Sunardi Sunardi; Jehan Azizah
Journal of Pharmascience Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v9i2.14221

Abstract

Akar seluang belum (Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz.) merupakan tumbuhan asal Kalimantan yang biasa dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai afrodisiaka karena memiliki metabolit sekunder yang bervariasi. Endofit adalah mikroba yang hidup didalam jaringan tumbuhan dan mampu menghasilkan metabolit sekunder yang serupa dengan inangnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis jamur endofit yang dapat diisolasi dari akar seluang belum asal Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan dan menentukan profil senyawa metabolit sekunder dari jamur endofit akar seluang belum. Identifikasi isolate jamur endofit dilakukan secara mikroskopik dan makroskopik dan isolate jamur endofit dibiakkan selama 14 hari. Profil senyawa sekunder dianalisis dengan GC-MS dan FTIR. Hasil isolasi jamur endofit akar seluang belum didapat 6 isolat yang berbeda. Hasil identifikasi tiga isolate jamur endofit dari 6 spesies jamur endofit yaitu Rhizoctonia solani, Arthrobotrys oligospora Fresenius, dan Phytophthora capsici. Profil GC-MS ekstrak jamur endofit Corynespora citrocola diperoleh 10 senyawa yang berhasil diidentifikasi dan memiliki 15 panjang gelombang dengan 9 macam gugus fungsi yang berbeda. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat beragam jenis jamur endofit yang tumbuh pada akar seluang belum yang memiliki potensi sebagai bahan obat. Kata Kunci: Seluang Belum, Isolasi, Identifikasi, Jamur Endofit, Kromatografi, FTIR, GCMS Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz. is a plant from Kalimantan which is commonly believed by local people as an aphrodisiac because it has various secondary metabolites. Endophytes are microbes that live in plant tissues and are able to produce secondary metabolites similar to their host. The purpose of this study was to determine the type of endophytic fungi that could be isolated from the roots of seluang belum yet from Tabalong Regency, South Kalimantan and to determine the profile of secondary metabolites from seluang root endophytic fungi. Identification of endophytic fungal isolates was carried out microscopically and macroscopically and endophytic fungal isolates were cultured for 14 days. Secondary compound profiles were analyzed by GC-MS and FTIR. The results of the identification of three isolates of endophytic fungi from 6 species of endophytic fungi, namely Rhizoctonia solani, Arthrobotrys oligospora Fresenius, and Phytophthora capsici. The GC-MS profile of the endophytic fungus Corynespora citrocola extract obtained 10 compounds that were identified and had 15 peaks with 9 different functional groups. Based on this research, it can be concluded that there are various types of endophytic fungi that grow on seluang belum root which have potential as medicinal ingredients.
Studi Tumbuhan Obat Tradisional Berkhasiat Antidiabetes di Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah Syariful Anam; Ni Luh Yeni Safitri; Muhamad Rinaldhi Tandah; Khusnul Diana
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i2.14229

Abstract

Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit degeneratif dengan karakteristik khas berupa kadar gula darah melebihi angka normal. Data tahun 2019 menunjukkan angka penderita DM di Kabupaten Parigi Moutong sebesar 33.873 jiwa. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan data jenis, bagian dan cara penggunaan tumbuhan obat tradisional untuk pengobatan DM oleh masyarakat di Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong. Penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling dalam periode bulan Oktober 2021-Mei 2022. Hasil penelitian diperoleh 22 spesies tumbuhan obat yang terdiri dari 17 famili. Persentase bagian tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan antidiabetes, yaitu daun 73,01%, kulit batang 11,11%, buah 6,34%, rimpang 4,76%, dan tumbuhan utuh 4,76%. Persentase cara pengolahan tumbuhan obat yang digunakan yaitu direbus 71,88%, diseduh 9,38%, diparut 6,25%, ditumbuk/dilumat 6,25%, dan diremas 6,25%. Studi ini menunjukkan bahwa tumbuhan yang paling banyak digunakan untuk pengobatan antidiabetes yaitu kersen (11,4%), kelor (11,4%) dan kayu manis (11,4%) serta tumbuhan lain seperti klorofil (10%), sembung (5,7%), kunyit (5,7%), kumis kucing (5,7%), ciplukan (4,3%), insulin (4,3%), mahkota dewa (4,3%), sambiloto (4,3%), pinang (2,9%), salam (2,9%), belimbing wuluh (2,9%), sirih merah (2,9%), jarak pagar (1,4%), bengkuang (1,4%), meniran (1,4%), mengkudu (1,4%), brotowali (1,4%), beluntas (1,4%), dan dadap (1,4%). Kata Kunci: Etnofarmakologi, Diabetes Mellitus, Obat Tradisional, Jamu, Kecamatan Balinggi Diabetes mellitus (DM) is a degenerative disease with distinctive characteristics in the form of blood sugar levels that exceed expected levels. Data for 2019 show that the number of DM sufferers in the Parigi Moutong Regency is 33,873. This study aims to obtain data on the types, parts, and ways of using traditional medicinal plants to treat DM by the community in Balinggi District, Parigi Moutong Regency. This research was conducted using the purposive sampling method from October 2021-May 2022. The results obtained were 22 species of medicinal plants consisting of 17 families. The percentage of plant parts used for anti-diabetic treatment, namely leaves 73.01%, bark 11.11%, fruit 6.34%, rhizomes 4.76%, and whole plants 4.76%. The percentage of medicinal plant processing methods used was 71.88% boiled, 9.38% brewed, 6.25% grated, 6.25% crushed/crushed, and 6.25% crushed. This study shows that the plants most widely used for anti-diabetic treatment are kersen (11,4%), moringa (11,4%), and cinnamon (11,4%) other plants such as klorofil (10%), sembung (5,7%), turmeric (5,7%), kumis kucing (5,7%), ciplukan (4,3%), insulin (4,3%), mahkota dewa (4,3%), sambiloto (4,3%), areca nut (2,9%), salam (2,9%), carambola wuluh (2,9%), red betel (2,9%), jarak pagar (1,4%), bengkuang (1,4%), meniran (1,4%), noni (1,4%), brotowali (1,4%), beluntas (1,4%), dan dadap (1,4%).
Studi Fitokimia Jamur Endofit Tumbuhan Seluang Belum (Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz) Asal Kabupaten Tabalong Kalsel Nashrul Wathan; Pratika Viogenta; Jehan Azizah; Fery Ramadhan; Sindwi Rinanda Sari
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14317

Abstract

Seluang belum adalah tumbuhan asal Kalimantan yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai afrodisiaka karena memiliki metabolit sekunder yang bervariasi. Endofit adalah mikroba yang hidup di dalam jaringan tumbuhan dan mampu menghasilkan metabolit sekunder yang serupa dengan inangnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan isolat jamur endofit dari akar Seluang belum (Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz.) dan melakukan skrining fitokimia senyawa yang dikandungnya. Proses penumbuhan isolat jamur endofit dari akar seluang belum (L. sarmentosa) dilakukan pada media Potato Dextrose Agar (PDA) hingga didapatkan isolat terpisah. Jamur endofit murni yang dihasilkan kemudian diamati identitasnya secara makroskopik dan mikroskopik. Jamur endofit hasil isolasi lalu dibiakkan dalam media Potato Dextrose Broth (PDB), senyawa bioaktif yang terkandung lalu diekstraksi menggunakan etil asetat dan dilanjutkan identifikasi senyawa fitokimianya. Penelitian ini mendapatkan 6 isolat endofit yang diidentifikasi sebagai Rhizoctonia solani, Corynespora citricola Ellis, Arthrobotrys oligospora Fresenius, Alternaria Nees:Fr., Phytophthora capsici dan Tripospermum Speg. Kandungan senyawa fitokimia yang diskrining dari ekstrak etil asetat keenam jamur endofit hasilnya beberapa isolat positif mengandung golongan senyawa fenolik, flavonoid, steroid, dan terpenoid. Kata Kunci: Saluang Bilung, lavanga sarmentosa, Fungi Endofit, Herba Kalimantan, Suku Dayak   Seluang belum. is a plant from Kalimantan which commonly believes by local people as an aphrodisiac because it has various secondary metabolites. Endophytes are microbes that live in plant tissues and are able to produce secondary metabolites similar to their host. The purpose of this study is to isolating the endophytic fungus from Seluang belum (Luvunga sarmentosa (Blume) Kurz) root and to perform phytochemical screening of its metabolites. Endophytic fungi isolated from seluang belum roots then grown in PDA (Potato Dextrose Agar) media until obtained separate isolates. The obtained fungal isolates then identified macroscopically and microscopically to determine their identity. The isolated fungi then fermented in PDB (Potato Dextrose Broth) media, the secondary metabolites then extracted with ethyl acetate and identified its phytochemicals. The results showed that 6 endophytic isolates were identified as Rhizoctonia solani, Corynespora citricola Ellis, Arthrobotrys oligospora Fresenius, Alternaria Nees:Fr., Phytophthora capsici and Tripospermum Speg. The phytochemical content that screened from the ethyl acetate extract of 6 endophytic fungi was resulting some positive containing groups of phenolic compounds, flavonoids, steroids, and terpenoids.
Identifikasi Fitokimia dan Uji Aktivitas Antiinflamasi In vitro Fraksi n- heksana Kapur Naga (Calophyllum soulattri Burm F) Dengan Metode Uji Penghambatan Denaturasi Protein Menggunakan Spektrofotometer Uv-Vis Fadlilaturrahmah Fadlilaturrahmah; Jariyah Amilia; Yuana Sukmawaty; Nashrul Wathan
Journal of Pharmascience Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v9i2.14372

Abstract

Tumbuhan kapur naga (Calophyllum soulattri Burm F) merupakan salah satu spesies dari  keluarga Calophyllum yang terdapat di hutan Kalimantan khususnya daerah lahan basah. Secara empiris dimasyarakat memanfaatkan kulit batang C. soulattri untuk mengobati penyakit kulit yang salah satu mekanisme proses penyembuhan melawati tahap inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penulusuran kandungan fitokimia dari fraksi n-heksana kulit batang C. soulattri dan melakukan uji aktivitas antiinflamasi in vitro dengan metode uji penghambatan denaturasi protein menggunakan spektrofotometer uv-vis. Metode penelitian diawali dengan tahapan pembuatan simplisia, ekstraksi dengan etanol 96%, dan difraksinasi menggunakan n-heksana.  Setelah itu dilakukan  uji penelusuran kandungan fitokimia menggunakan uji tabung dan pengujian antiinflamasi menggunakan spektrofotometri uv-vis menggunakan metode penghambatan denaturasi protein secara kuantitatif dengan natrium diklofenak sebagai kontrol positif. Hasil dari identifikasi fitokimia diperoleh bahwa fraksi n-heksana mengandung alkaloid, fenol, tanin, flavonoid, saponin, dan triterpenoid. Uji aktivitas antiinflamasi fraksi n-heksana kulit batang C. soulattri menghasilkan nilai IC50 sebesar 27,43±0,74 ppm dan natrium diklofenak dengan nilai  IC50 sebesar 39,17±0,86 ppm. Berdasaran uji t-test diperoleh hasil yang menunjukkan berbeda bermakna  dengan IC50 Natrium diklofenak (sig = 0,00). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu fraksi n-heksana kulit batang C. soulattri memiliki aktivitas antiinflamasi yang lebih baik dari natrium diklofenak. Kata Kunci: Bovine Serum Albumin, IC50, Natrium Diklofenak, Kuantitatif Kapur naga (Calophyllum soulattri Burm F) is a species of the Calophyllum family that found in the forests of Kalimantan, especially in wetland areas. Empirically, the community uses the bark of C. soulattri to treat skin diseases, which is one of the mechanisms of the healing process through the inflammatory stage. The purpose of this study was to investigate the phytochemical content of the n-hexane fraction of the stem bark of C. soulattri and to test its anti-inflammatory activity in vitro with the protein denaturation inhibition test method using uv-vis spectrophotometer. The research method begins with the steps of making simplicia, extraction with 96% ethanol, and fractionation using n-hexane. After that, a test for tracing the phytochemical content was carried out using a tube test and an anti-inflammatory test using uv-vis spectrophotometry using a quantitative protein denaturation inhibition method with diclofenac sodium as a positive control. The results of the phytochemical identification showed that the n-hexane fraction contained alkaloids, triterpenoids, phenols, tannins, flavonoids, and saponins. The anti-inflammatory activity test of the n-hexane fraction of C. soulattri stem bark produced an IC50 value of 27.43±0.74 ppm and diclofenac sodium with an IC50 value of 39.17±0.86 ppm. Based on the t-test, the results showed that it was significantly different from the IC50 of diclofenac sodium (sig = 0.00). The conclusion of this study is that the n-hexane fraction of the stem bark of C. soulattri has better anti-inflammatory activity than diclofenac sodium.
Potensi Kacang Gude, Kayu Manis, dan Kulit Jeruk Nipis sebagai Bahan Baku Minuman Fungsional Berbasis Antioksidan Yuli Kusuma Dewi
Journal of Pharmascience Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14401

Abstract

Dewasa ini penggunaan bahan-bahan alam sebagai bahan obat-obatan kembali menjadi trend di kalangan masyarakat setelah pandemi COVID-19 merebak, terutama pada bahan-bahan alam yang memiliki kandungan senyawa bioaktif antioksidan. Beberapa contoh bahan alam yang ada di sekitar kita yang mudah didapatkan dan memiliki kandungan senyawa bioaktif adalah kacang gude, kayu manis dan kulit jeruk nipis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antioksidan dari kacang gude, kayu manis, dan kulit jeruk nipis untuk digunakan sebagai bahan baku dari minuman berbasis antioksidan. Parameter uji yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji fitokimia, uji kadar air dengan metode thermogravimetri dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Vitamin C digunakan sebagai pembanding pada uji aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kacang gude, kayu manis dan kulit jeruk nipis memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku minuman berbasis antioksidan dengan nilai aktivitas peredaman (% inhibisi) pada konsentrasi 80 ppm secara berturut-turut sebesar 63,80%; 81,25%; dan 50,23% dengan proses pengeringan sinar matahari tidak langsung selama 12 hari. Kata Kunci: Teh Antioksidan, Cajanus cajan, Cinnamomum burmannii, Citrus aurantifolia, Kacang Gude, Kayu Manis  Today, the use of natural ingredients as medicinal ingredients is again becoming a trend among the public after the COVID-19 pandemic spread, especially on natural ingredients that contain antioxidant bioactive compounds. Some examples of natural ingredients that are around us that are easily available and contain bioactive compounds are gude beans, cinnamon and lime peel. This study aims to determine the antioxidant potential of gude beans, cinnamon, and lime peel as raw materials for antioxidant-based beverages. The test parameters carried out in this study were phytochemical tests, water content tests using the thermography method and antioxidant activity tests using the DPPH method. Vitamin C was used as a comparison in the antioxidant activity test. The results showed that gude beans, cinnamon and lime peel have the potential to be developed into raw materials for antioxidant-based drinks with reducing activity values (% inhibition) at a concentration of 80 ppm, respectively, of 63.80%, 81.25%, and 50.23% using indirect sunlight drying process for 12 days.