cover
Contact Name
Muhammad Faizal Alfian
Contact Email
faizalalfian@live.undip.ac.id
Phone
+6281216362221
Journal Mail Official
faizalalfian@live.undip.ac.id
Editorial Address
jl. dr. Antonius Suroyo, Kampus Tembalang, Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of International Relations Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 30632684     EISSN : 30632684     DOI : https://doi.org/10.14710/jirud.v10i2
Core Subject :
Journal of International Relations Diponegoro publishes articles on contemporary transnational crimes from a variety of methodologies and approaches. The journal was originally established to encourage scholarly publications by students from International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro. JIRUD will be pubished twice a year May and November. Journal of International Relations Diponegoro seeks original manuscripts that provide theoretically informed empirical analyses of issues in international relations, as well as original theoretical or conceptual analyses. The journal represents no particular school or approach, nor is it restricted to any particular methodology. Instead, it seeks to foster an awareness of methodological and epistemological questions in the study of International Relations, and to reflect research and developments of a conceptual, normative and empirical nature in all the major sub-areas of the field. Journal of International Relations Diponegoro publishes research, development and review articles in social and political fields with the following scope: 1. Transnational Crime 2. International Crime 3. Security Studies 4. Globalization & Transnationalism 5. Humanitarianism 6. Foreign Policy 7. International Politics
Arjuna Subject : -
Articles 517 Documents
PENGARUH TIPE KEPEMIMPINAN DAN ORIENTASI PRESIDEN JOKOWI TERHADAP KEBIJAKAN HILIRISASI MINERAL BAUKSIT TAHUN 2019-2024 Ghari Fazulur Rahman Nur Hamjah
Journal of International Relations Diponegoro Vol 10, No 2: (December 2025)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v10i2.49971

Abstract

The raw bauxite export ban is one of Jokowi's breakthroughs in his efforts to downstream the mineral and coal industry. Despite being prosecuted by the European Union to the WTO at the time of the implementation of the raw nickel export ban, President Jokowi remains steadfast downstream to increase selling value and achieve natural resource sovereignty. Jokowi continues his program and believes that downstreaming can bring Indonesia into a developed country. This study aims to analyze President Jokowi's idiosyncratic factors in making Indonesia's international trade policy regarding the bauxite ore export ban as one of the steps in realizing downstreaming. This research uses a qualitative method with Margaret G Hermann's idiosyncratic approach through data obtained from content analysis on the internet. The results of this study based on Margaret G Hermann's Idiosyncratic theory, show that the bauxite export ban and downstreaming policies implemented by President Jokowi reflect that he has personality characteristics with an aggressive type and independent orientation but still shows openness to foreign investment in smelter construction and industrial supporting infrastructure which reflects flexibility in his foreign policy approach. For future research, it is recommended to conduct a more in-depth study by expanding the object of study to other leaders in the context of Indonesia's foreign policy and conducting quantitative data-based studies as well as further exploration of international responses to this policy to provide a more comprehensive understanding of the dynamics of global trade and Indonesia's economic diplomacy.
SCHREMS II DAN HAK KITA ATAS DATA: PERTARUNGAN ANTARA KEAMANAN DAN KEPENTINGAN GLOBAL Dhaifan Salhan Darari Ardiantoro; Ika Riswanti Putranti
Journal of International Relations Diponegoro Vol 10, No 1: (June 2025)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v10i1.50727

Abstract

Kasus Schrems II menjadi tonggak penting dalam penegakan hak asasi manusia (HAM) di era digital, terutama hak privasi. Keputusan Mahkamah Eropa (CJEU) pada tahun 2020 membatalkan Privacy Shield, mekanisme transfer data antara Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS), yang menimbulkan tantangan signifikan dalam perlindungan hak privasi. Keputusan ini menegaskan bahwa perlindungan hak privasi harus diprioritaskan, bahkan dalam konteks hubungan ekonomi dan perdagangan internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis putusan CJEU dalam kasus Schrems II dan implikasinya terhadap keamanan data sebagai bentuk pemenuhan HAM. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan deskriptif analitis, penelitian ini mengumpulkan data dari sumber primer seperti putusan CJEU dan GDPR UE, serta sumber sekunder berupa buku, artikel jurnal, dan laporan penelitian terkait. Penelitian ini juga menggunakan teori Liberalisme dan Human security untuk menganalisis putusan Schrems II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa putusan Schrems II memperkuat perlindungan data pribadi warga UE dengan membatasi transfer data ke negara-negara yang tidak memiliki standar perlindungan data yang memadai. Penelitian ini juga mengungkap adanya ketegangan antara keamanan data dan kepentingan ekonomi serta implikasi putusan Schrems II terhadap kebijakan perlindungan data di berbagai negara. Studi ini memberikan kontribusi penting dalam memahami perlindungan hak privasi di era digital serta dampaknya terhadap hubungan internasional.
Foreign Aid Cina Kepada Laos dalam Upaya Memberantas Perdagangan Obat-Obatan Terlarang di Wilayah Golden Triangle Melalui Safe Mekong Joint Operation Periode 2022-2025 Adelita Diaz Sasangka; Vania Faadhilah Khansa; Muhammad Hanif Abidin
Journal of International Relations Diponegoro Vol 11, No 1: (June 2026)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v11i1.58457

Abstract

Kejahatan lintas batas seperti perdagangan obat-obatan terlarang muncul sebagai ancaman non-tradisional di kawasan Asia Tenggara, khususnya di wilayah Golden Triangle. Wilayah Golden Triangle yang meliputi Myanmar, Laos, dan Thailand, menjadi pusat produksi opium, heroin, dan metamfetamin terbesar kedua di dunia setelah Afghanistan. Perdagangan obat-obatan terlarang di wilayah Golden Triangle memanfaatkan aliran Sungai Mekong sebagai jalur utamanya. Secara geografis, hilir Sungai Mekong yang terletak di wilayah Cina menghasilkan inisiatif untuk membangun kerja sama dengan Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Kamboja, dalam kegiatan patroli gabungan di Sungai Mekong yang disebut dengan Safe Mekong Joint Operation. Kontribusi Cina dalam Safe Mekong Joint Operation dapat dilihat salah satunya melalui pemberian bantuan atau foreign aid kepada negara-negara yang terlibat di dalamnya. Penelitian ini berfokus untuk menganalisis motif Cina dalam memberikan foreign aid kepada Laos sebagai salah satu negara anggota dalam pelaksanaan Safe Mekong Joint Operation periode 2022-2025. Analisis motif Cina dalam memberikan foreign aid kepada Laos dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan konsep foreign aid yang dikemukakan oleh Maria Andersson dengan mengkategorikannya dalam jenis economic motive dan strategic motive berdasarkan karakteristik foreign aid dan niat politik Cina yang membersamainya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksplanatif kualitatif dengan mengambil data dari sumber sekunder, seperti buku, artikel jurnal, situs internet, dan dokumen laporan. 
The Role of the World Meteorological Organization (WMO) in Mitigating Natural Disasters in Laos 2024 Through the Climate Risk and Early Warning Systems (CREWS) Program Finna Kharisma Marulitta; Gonda Yumitro
Journal of International Relations Diponegoro Vol 11, No 1: (June 2026)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v11i1.51397

Abstract

 Developing countries face significant challenges in managing climate-related disaster risks due to limitations in technical capacity, institutional frameworks, and early warning systems. Laos is one of the countries with high vulnerability to hydrometeorological disasters, particularly floods. The World Meteorological Organization (WMO) is an international organization that plays a crucial role in enhancing the capacity of developing nations to address climate-related disaster risks through technical assistance, early warning systems, and institutional strengthening. One of its flagship programs, the Climate Risk and Early Warning Systems (CREWS), is designed to assist high-risk countries in developing impact-based early warning systems. This study aims to analyze the role of WMO through the CREWS program in disaster mitigation efforts in Laos, using the 2024 major flood as a case study. The research adopts a descriptive qualitative approach and is analyzed through the theoretical framework of the role of international organizations from a liberalist perspective as proposed by Kelly-Kate S. Pease, specifically focusing on the roles of problem solver, capacity builder, and aid provider. The method involves a literature study approach, with data collected from books, journals, internet sources, and other written references as the foundation for the analysis. The findings reveal that prior to the intervention, Laos faced significant limitations in infrastructure, risk data, and inter-agency coordination. Through the CREWS program, WMO contributed to strengthening the technical capacity of the Department of Meteorology and Hydrology (DMH) of Laos, modernizing weather stations, and implementing an impact-based forecasting approach. This study finds that WMO's intervention through CREWS has encouraged improved disaster preparedness and response at both national and community levels, although challenges remain in system integration and funding sustainability. The research underscores the importance of multilateral cooperation and strengthened climate risk governance in enhancing the resilience of developing countries to disasters.
Nestapa di Balik Tambang: Kekerasan Ekologi Transnasional Pada Pertambangan Timah Inkonvensional di Bangka Belitung Muhammad Adzan Amien; Anjani Tri Fatharini
Journal of International Relations Diponegoro Vol 11, No 1: (June 2026)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v11i1.58695

Abstract

Indonesia melalui Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu negara penghasil timah terbesar di dunia. Namun, timah yang berasal dari aktivitas pertambangan timah ilegal (tambang inkonvensional) telah mengalir ke rantai pasok raksasa teknologi global, termasuk Apple, Samsung, hingga Tesla, sehingga menjadi isu kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana aktivitas pertambangan timah, baik ilegal maupun legal menjadikan masyarakat lingkar tambang Desa Rebo, Sungailiat, Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbebani secara tidak proporsional oleh bahaya lingkungan, bahkan menjadikan mereka “korban kejahatan hijau” melalui pendekatan Transnational Ecoviolence oleh Stoett & Omrow. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri pertambangan timah telah berkontribusi terhadap perekonomian, tetapi eksistensinya telah memicu kerusakan lingkungan. Meskipun terdapat pembaruan undang-undang, seperti UU No. 4 Tahun 2009, UU No. 3 Tahun 2020, dan Perpres No. 55 Tahun 2022, penambangan ilegal masih berlanjut, memperburuk kerusakan lingkungan. Di Desa Rebo, hal tersebut pada gilirannya berkontribusi terhadap hilangnya pendapatan dan mata pencaharian yang diperoleh dari pekerjaan dan sumber daya lingkungan hingga hilangnya keamanan dari praktik komunitas yang menindas. Dalam pendekatan Transnational Ecoviolence, adanya bentuk-bentuk ketidakadilan lingkungan dan ketidakamanan manusia tersebutlah yang menjadikan masyarakat lingkar tambang Desa Rebo “korban kejahatan hijau”.
Menelaah Peran Rezim Internasional dan Penegakan Hukum AS dalam Mendorong Keadilan Lingkungan bagi Komunitas Pesisir California: Kasus Bilge Dumping Zeaborn I Gede Gohan Adiputra; Muhammad Arief Zuliyan
Journal of International Relations Diponegoro Vol 11, No 1: (June 2026)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v11i1.56893

Abstract

Kejahatan lingkungan bilge dumping oleh perusahaan pelayaran menimbulkan dampak serius terhadap ekosistem laut dan komunitas pesisir, namun hal ini seringkali luput dari penegakan hukum yang efektif. Esai ini mengkaji bagaimana rezim internasional dan penegakan hukum Amerika Serikat mampu mengakomodasi prinsip keadilan lingkungan bagi komunitas pesisir dalam kasus bilge dumping oleh Zeaborn Ship Management di Perairan California. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan analisis studi kasus, esai ini membahas keterkaitan antara instrumen hukum internasional, mekanisme hukum domestik AS, serta keterlibatan komunitas lokal dalam menuntut pertanggungjawaban korporasi. Hasil kajian menunjukan bahwa meskipun kerangka hukum internasional seperti MARPOL dan UNCLOS memberikan landasan penting, efektivitasnya sangat bergantung pada penegakan hukum nasional yang tegas dan berbasis kolaboratif. Kasus Zeaborn mencerminkan perlunya sinergi antara otoritas federal, negara bagian, dan masyarakat sipil dalam mendeteksi, menindak, dan mencegah pencemaran laut. Esai ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik dan partisipatif dalam mewujudkan keadilan lingkungan yang substansial serta menawarkan rekomendasi untuk penguatan tata kelola lingkungan laut secara berkelanjutan.
ESKALASI KONFLIK CHINA-TAIWAN DALAM PERSPEKTIF REALISME OFENSIF: DINAMIKA PENAMBAHAN KAPABILITAS MILITER CHINA SEBAGAI RESPONS TERHADAP KERJASAMA TAIWAN-AMERIKA SERIKAT Rahma - Azizah; Mayza Ariella Nurandriyanti
Journal of International Relations Diponegoro Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jirud.v9i2.48014

Abstract

Konflik China-Taiwan telah menjadi salah satu isu utama dalam geopolitik Asia Timur sejak lama yang melibatkan kepentingan global. China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Taiwan berupaya mempertahankan otonomi dengan dukungan Amerika Serikat. Ketegangan meningkat, ditandai dengan persaingan militer, di mana China memperkuat kemampuan militernya untuk menanggapi pengaruh AS di Taiwan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eskalasi konflik China-Taiwan dalam perspektif Realisme Ofensif, dengan fokus pada dinamika peningkatan kapabilitas militer China. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur yang merupakan bagian dari pendekatan kualitatif, dengan menganalisis berbagai sumber sekunder seperti jurnal ilmiah, Buku, dan artikel terkait. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kapabilitas militer China mencerminkan prinsip Realisme Ofensif. China menganggap kerjasama strategis antara Taiwan dan Amerika Serikat, sebagai ancaman terhadap kepentingan nasional dan kedaulatan wilayahnya. Sebagai respons, China memperkuat postur militernya untuk mengimbangi dan mengantisipasi potensi ancaman eksternal.