cover
Contact Name
Ahmad Arifuddin
Contact Email
arifuddin@uinssc.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alibtida@uinssc.ac.id
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Cirebon, West Java 45132, Indonesia Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI
Core Subject :
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is a high-quality peer-reviewed journal published by Department of Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Indonesia in collaboration with Indonesian Islamic Elementary Education Lecturers Association (Perkumpulan Dosen PGMI Indonesia). Publishing twice a year, in June and October and already have a registration number p-ISSN: 2442-5133 and e-ISSN: 2527-7227. Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is the leading journal in Islamic educational institutions concerning Islamic elementary education. The journal promotes research and scholarly discussion concerning Islamic Elementary education in Academic disciplines and Institutions, focusing on the advancement of scholarship both formal and non-formal education. Topics might be about curriculum development, teaching and learning, learning methodologies, instructional technologies, teacher competences, and assessments.
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
PENERAPAN PRINSIP KERJA SAMA DAN PRINSIP SOPAN SANTUN BERBAHASA DI KALANGAN MASYARAKAT KAMPUNG PESISIR KOTA CREBON Syibli Maufur
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v3i1.576

Abstract

ABSTRAKGaya bahasa masyarakat Cirebon dan pesisir berdasarkan watak dan letak geografisnya yang panas, cenderung apa adanya, lugas, ceplas-ceplos, keras nada dan intonasinya, dan terkesan kasar. Dalam menyelesaikan suatu masalah juga cenderung tidak suka berbelit-belit. Hal ini sangat berbeda dengan bahasa yang digunakan masyarakat pedalaman yang penuh tatakrama, halus, dan tidak bernada tinggi. Bagi mereka yang tidak terbiasa  dengan kehidupan dan mengerti watak masyarakat pesisir, gaya  bahasa seperti ini mungkin akan terdengar tidak santun. Akan tetapi, bagi penggunanya, gaya babasa yang keras dan lugas ini tidak berarti membuat bahasa masyarakat pesisir tidak santun.Berdasarkan latar belakang tersebut, dilakukan penelitian tentang Penerapan Prinsip Kerja Sama dan Prinsip Sopan Santun Berbahasa di Kalangan Masyarakat Kampung Pesisir Kota Cirebon. Melalui penelitian ini, penulis ingin mengungkapkan rumusan masalah, yaitu (1) Bagaimanakah bentuk penerapan prinsip kerja sama yang digunakan oleh masyarakat Kampung Pesisir Kota Cirebon, (2) Bagaimanakah bentuk penerapan prinsip sopan santun yang digunakan oleh masyarakat Kampung Pesisir Kota Cirebon, dan (3) Apakah strategi yang digunakan masyarakat kampung pesisir kota cirebon dalam merealisasikan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan.Untuk menjawab pertanyaan, penulis menggunakan pendekatan pragmatik dengan desain penelitian kualitatif. Data penelitian ini diperoleh dari latar alamiah dengan metode observasi, catatan lapangan, wawancara, dan perekaman. Berkenanan dengan dengan rumusan masalah pertama, analisis data menghasilkan sejumlah kesimpulan. Bentuk kerja sama yang tercermin dalam komunikasi masyarakat Kampung Pesisir Kota Cirebon adalah (1) maksim kuantitas, (2) maksim kualitas, (3) maksim hubungan, dan (4) maksim cara. Selanjutnya, berkenaan dengan maslah kedua menunjukkan bentuk sopan santun berbahasa yang tercermin dalam komunikasi masyarakat kampung pesisir adalah (1) maksim kedermawanan, (2) maksim kearifan, (3) maksim pujian, (4) maksim kesetujuan, (5) maksim simpati, dan (6) maksim kerendahan hati. Terakhir, strategi yang digunakan dalam merealisasikan maksim kerja sama dan sopan santun adalah (1) menggunakan kalimat langsung, dan (2) menggunakan kalimat tidak langsung. Selanjutnya, penggunaan kalimat tidak langsung direalisasikan melalui (1) menyetujui dan (2) menyindir.Keyword : Gaya bahasa, Kesantunan, Kerja sama
PEMBELAJARAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DI MADRASAH IBTIDAIYAH Tati Nurhayati
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v3i1.580

Abstract

ABSTRAKPsikologi mempelajari tingkah laku dan pengalaman individu. Psikologi pendidikan bermaksud untuk menerapkan psikologi kedalam proses yang membawa pengubahan tingkah laku, dengan kata lain untuk mengajar. Sedangkan arti psikologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang belajar, pertumbuhan dan kematangan individu serta menerapkan prinsip-prinsip ilmiah terhadap reaksi individu yang nantinya mempengaruhi terhadap proses belajar mengajar. Psikologi pendidikan terutama berfokus pada proses, dimana informasi, keterampilan, nilai dan sikap diteruskan dari pendidik ke peserta didik di dalam kelas. Psikologi pendidikan juga mencoba untuk membantu peserta didik dengan menerapkan makna, metode psikologi untuk menyelesaikan masalah dalam situasi belajar mengajar.Keyword : Psikologi, Pendidikan, Belajar
PENDIDIKAN DASAR DALAM ERA REFORMASI DAN OTONOMI Aceng Jaelani
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v3i1.581

Abstract

ABSTRAKInovasi dalam dunia pendidikan tentunya akan selalu diperbarui terus-menerus baik dari segi administrasi hingga mutu peserta didik disekolah tersebut agar mampu bersaing dengan perkembangan yang terjadi di zaman teknologi. Perencanaan yang dilakukan terhadap sistem tentunya akan memberikan ekspektasi yang besar dan perubahan serta gejolak kebutuhan yang beragam, aspirasi dan kebutuhan itu sendiri yang nantinya dapat membentuk suatu gagasan dan ide baik secara otonomi dan reformasi yang akan dilakukan kaitannya dalam hal ini adalah sektor pendidikan yang nantinya membangun suatu citra dan karakter bangsa yang menjadikan warga masyarakatnya berkreatifitas dalam mengembangkan paradigma baru yang berlandaskan sistem otonomi yang disesuaikan oleh daerah itu sendiri dan tidak serta selalu bersifat adiktif terhadap keputuasan-keputusan atau kebijakan yang ditentukan oleh pusat (sentralisasi), kini kebijakan yang akan diambil dan dilaksanakan dapat dimiliki oleh setiap otonomi pendidikan yang menginginkan pembaruan yang sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan dan tidak melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan pula secara sentralisasi.Isu-isu pendidikan yang paparkan ini memiliki kata kunci otonomi dan reformasi pendidikan yang akan kita bahas tentang bagaimana pemahaman baik itu otonomi dan reformasi serta memberikan contoh isu yang akan kita angkat dalam kajian ini tentunya berhubungan dengan otonomi dan reformasi yang akan dijalankan di dunia pendidikan.Keyword : Otonomi, Reformasi pendidikan, Sentralisasi
PENDIDIK DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM Patimah Patimah
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v3i1.582

Abstract

ABSTRAKTantangan masa depan yang semakin berat, menuntut output pendidikan yang berkompeten, sehingga diperlukan perubahan dalam konsep belajar. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh bahwa ditengah perubahan zaman, sistem pendidikan di Indonesia juga harus selalu ikut menyesuaikan. Pengembangan kurikulum 2013 diharapkan dapat menjadi jawaban untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia untuk menghadapi perubahan dunia. Untuk menghasilkan output pendidikan yang baik diperlukan kesinambungan antara rancangan kurikulum dengan implementasinya. Salah satu sosok yang penting dalam implementasi kurikulum adalah guru. Guru merupakan faktor utama dalam pelaksanaan kurikulum, karena gurulah yang secara langsung berhadapan dengan siswa (subjek kurikulum 2013) dalam proses pembelajaran. Dalam Bahan Uji  Publik Kurikulum 2013 disebutkan bahwa kondisi saat ini pendidik dan tenaga kependidikan  hanya memenuhi kompetensi profesi dan hanya berfokus pada ukuran kinerja saja, padahal seharusnya seorang pendidik harus memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, sosial, dan personal serta memiliki motivasi mengajar. Sehingga kurikulum yang sudah dirancang dapat terlaksana dengan baik.Keyword : Kompetensi, Profesi, Kurikulum 2013
RESPON PIHAK SEKOLAH TERHADAP KOMPETENSI MAHASISWA PPL PRODI PGMI STAIN CURUP TA 2014/2015 Siti Zulaiha; Ummul Khair
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v3i1.583

Abstract

ABSTRAKPermasalahan yang dikaji adalah tentang bagaimana respon pihak–pihak sekolah  terhadap kemampuan mahasiswa PPL STAIN Curup, yang dilaksanakan  pada tanggal 19 Januari s.d. 19 Maret  pada tahun 2015.  Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan respon pihak sekolah terhadap kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional mahasiswa PPL dan respon guru pamong terhadap siswa dalam menerima mahasiswa PPL, STAIN Curup di sekolah-sekolah dalam wilayah kabupaten Rejang Lebong. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field Research) dengan pendekatan kualitatif dan mengambil lokasi penelitian di SD/MI se-Kota Curup dengan sumber data guru pamong/kepala sekolah. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis dimulai dengan reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Analisis data dilakukan sejak penulis di lapangan, sewaktu pengumpulan data, dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai penelitian di lapangan.Keyword: Respon, Kompetensi PPL
PENGARUH PENGGUNAAN VIDEO PEMBELAJARAN TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR MAPEL IPA DI MIN KROYA CIREBON Akhmad Busyaeri; Tamsik Udin; A Zaenudin
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v3i1.584

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Pengaruh Penggunaan Video Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA Di MI Negeri Kroya Kecamatan Panguragan Kabupaten Cirebon”. Serta untuk mengetahui respon siswa berkaitan dengan penggunaan video dalam proses belajar mengajar. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa teknik, yaitu observasi, wawancara, studi dokumentasi dan penyebaran angket, dengan populasi berjumlah 27 orang siswa sebagai responden. Kemudian data    yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan  pendekatan statistik  dengan perhitungan prosentase dan korelasi Product Moment.Penggunaan video pembelajaran IPA umumnya sangat diminati oleh semua siswa MIN Kroya, sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan terhadap 27 responden yang menjadi sampel penelitian ternyata didapat 79,634% yang mengatakan sangat setuju bila pembelajaran alat pencernaan manusia dilakukan dengan menggunakan video pembelajaran, Hasil belajar siswa dengan menggunakan video pembelajaran pada materi alat pencernaan manusia di kelas V A MIN Kroya Panguragan Cirebon terhadap 27 responden yang dijadikan sampel penelitian ternyata diperoleh rata-rata hasil belajarnya mencapai 80,63.Berdasarkan perhitungan data yang dihubungkan dengan angka indeks korelasi (r) product moment yakini berada diantara 0,800-1 yang berarti dalam kategori korelasi yang sangat tinggi, sedangkan hasil perhitungan korelasi antara penggunaan video dengan hasil belajar siswa adalah 1,03 yang berarti memiliki hubungan yang sangat tinggi.Keyword : Video Pembelajaran, Respon siswa, Hasil Belajar
PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU Moh Masnun
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v3i1.590

Abstract

ABSTRAKKurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik. Peserta didik adalah subjek yang memiliki kesempatan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Untuk itu pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik perlu didorong untuk bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berupaya keras mewujudkan ide-idenya.Guru memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan mengembangkan suasana belajar yang memberi kesempatan peserta didik untuk menemukan, menerapkan ide-ide mereka sendiri, menjadi dasar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru mengembangkan kesempatan belajar kepada peserta didik untuk meniti anak tangga yang membawa peserta didik kepemahaman yang lebih tinggi, yang semula ditentukan dengan bantuan guru tetapi semakin lama semakin mandiri. Bagi peserta didik pembelajaran harus bergeser dari “diberi tahu” menjadi aktif mencari tahu.Keyword : Kurikulum 2013, Mandiri, Aktif
MODEL PARTISIPATIF PENCEGAHAN DEMORALISASI PADA PESERTA DIDIK Heryanto Heryanto
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v3i2.789

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah menganalisis dan mengevaluasi pencegahan demoralisasi pada peserta didik, sehingga diperoleh gambaran proses, pola dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling, dan snowball sampling, sedangkan ukuran sampel ditentukan berdasarkan kelengkapan informasi yang diperlukan. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa: (1) keluarga adalah lembaga pendidikan pertama yang mengajarkan moralitas, semenjak anak dalam kandungan; (2) setiap anggota keluarga menghargai secara demokratis, untuk untuk membangun percaya diri anak; (3) kehidupan keluarga berlandaskan nilai moral agama dan adat istiadat; (4) membangun komunikasi yang produktif dengan sekolah; (5) mengawasi dan mengevaluasi pergaulannya di lingkungan masyarakat; (6) orang tua selalu memberikan bantuan kepada anaknya jika ia menghadapi kesulitanKata kunci: agamis, demokrasi, demoralisasi, keluarga. AbstractThe purpose of this study was to analyze and evaluate prevention demoralized students, in order to obtain an overview of the process, patterns and factors that influence it. This study used a qualitative approach. The sampling method using purposive sampling, and snowball sampling, while the sample size is determined based on the completeness of the information required. Data were collected through observation, interviews, questionnaires and documentation. The results showed that: (1) The family is the first educational institution that teaches morality, since the child in the womb; (2) every member of the family appreciated the democratic way, for children to build self-confidence; (3) the family life based on moral values of religion and customs; (4) building productive communication with the school; (5) monitor and evaluate the interaction in society; (6) parents always provide assistance to the their child if he is facing difficulties.Keywords: democratic, demoralization, families, religious.
PENGANTAR PRAKTIK MENDIDIK ANAK USIA SEKOLAH DASAR Rima Trianingsih
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v3i2.880

Abstract

Mendidik adalah sebuah proses mendorong anak-anak tumbuh dan berkembang sampai anak menjadi dewasa jasmani dan rohani. Orang tua memiliki peran utama sebagai pendidik dalam hidup anak, sementara guru sebagai pendidik yang dibatasi oleh waktu mengajar. Anak SD pada perkembangannya memiliki karakteristik yang unik. Teori kognitif oleh Piaget menyatakan bahwa anak usia SD pada umumnya pada tahap operasional konkret. Teori psikososial oleh Erikson mengelompokkan anak usia SD ke tahap industry versus inferiority. Teori moral Piaget menjelaskan bahwa anak usia SD (7 sampai 10 tahun) secara umum berada pada masa transisi antara moralitas heteronom menuju moralitas otonom. Perkembangan fisik anak usia SD dapat dilihat dari gambaran umum mengenai peningkatan proporsi tinggi dan berat badan serta karakteristik fisik lainnya yang muncul. Di usia SD, anak-anak mengembangkan banyak kemampuan motorik dasar yang digunakan untuk menyeimbangkan tubuh, berlari, melompat, dan melempar. Perkembangan metakognitif mendorong anak-anak menyadari kemampuan kognitif dirinya guna menentukan metode yang tepat untuk belajar dan memecahkan masalah. Peran utama orang tua dan guru dalam mendidik anak adalah memberikan teladan yang baik.
PARADIGMA INTEGRATIF DALAM PEMBELAJARAN IPA MI Irham Nugroho
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v3i2.893

Abstract

ABSTRACT Knowledge is intrinsically comes from Allah SWT which is revealed to Prophet Muhammad SAW and is embodied in Al Qur’an. Paradigm is a group of values which form one’s thought as his or her starting point of view so that it will form one’s subjective image – about a reality – which finally will determine how this one responds the reality. Human should not ever stop thinking about him/her self, his/her surrounding, and (the most important) The Creator. Islam taught its followers to always undertake studies on behavior or any rotation and changes happen, either on natural phenomenon or what happen amongst human beings.   Science teaching in Madrasah Ibtidaiyah (Islamic Elementary School) should instill moral values that educate students to become caracterized. It can be undertaken by science teaching using integrated bayani, burhani, and irfani approach. Keyword: science teaching, integrated bayani burhani irfani approach.

Page 5 of 29 | Total Record : 281