cover
Contact Name
Delfitriani
Contact Email
delfitriani@unida.ac.id
Phone
+6281290023413
Journal Mail Official
j.agroindustrihalal@unida.ac.id
Editorial Address
Lembaga Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Djuanda Jl. Tol Ciawi No. 1, Kotak Pos 35, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agroindustri Halal
ISSN : 24423548     EISSN : 25500163     DOI : https://doi.org/10.30997/jah.v12i1
Core Subject :
Jurnal Agroindustri Halal merupakan publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Djuanda Bogor sebagai media penyebarluasan dan pertukaran informasi hasil penelitian di bidang teknologi pertanian secara umum dan kehalalan secara khusus. Publikasi yang termasuk di dalamnya dapat berupa hasil penelitian dengan tema kimia pangan, biokimia pangan, pengolahan pangan halal, teknologi industri pertanian, manajemen dan pemodelan agroindustri, teknik dan sistem industri, teknik manajemen lingkungan agroindustri, rekayasa dan bioproses produk biomaterial halal.
Arjuna Subject : -
Articles 309 Documents
Identifikasi Formalin, Methanyl Yellow, dan Cemaran Mikroba pada Mie Glosor di Pasar Tradisional Kota Bogor: Identification of Formaldehyde, Methanyl Yellow, and Microbial Contamination on Mi Glosor in Bogor City Traditional Market Anik Zumaeroh; Lia Amalia; Muhammad Fakih Kurniawan
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Agroindustri Halal 8(2)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v8i2.5500

Abstract

Mi glosor merupakan mi basah yang banyak diminati dan dikenal sebagai mi khas Bogor. Mi glosor diproduksi oleh industri kecil rumah tangga, mi glosor banyak dijual di pasar tradisional dalam bentuk basah, dikemas sederhana, dan dijual secara terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya formalin, methanyl yellow, dan cemaran mikroba pada mi glosor di pasar tradisional Kota Bogor. Pengujian formalin dan methanyl yellow menggunakan Rapid Test Kit, dan uji cemaran mikroba dengan metode Total Plate Count (TPC). Sampel penelitian diambil menggunakan metode total sampling yang berjumlah 21 sampel mi glosor dari 7 pasar tradisional di Kota Bogor. Data formalin dan methanyl yellow yang diperoleh dianalisis secara kualitatif serta data cemaran mikroba dianalisis secara kuantitatif dan dibandingkan dengan SNI. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh sampel mi glosor tidak mengandung formalin dan menthanyl yellow. Pada cemaran mikroba (TPC) menunjukkan mi glosor mengandung mikroba dibawah batas maksimal 1x106 koloni/g dan memenuhi syarat mutu mi basah SNI 2987:2015.Kata kunci: mi glosor, Pasar Tradisional Kota Bogor, formalin, methanyl yellow, TPC
Pengaruh Konsentrasi Gula terhadap Sifat Fisikokimia dan Sensori Biskuit Labu Kuning (Cucurbita Moschata) Theresia Felita Agus; Stella Magdalena; Diana lestari
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Agroindustri Halal 9(2)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v9i2.5502

Abstract

Biscuit is a snack based on wheat flour. Excessive use of wheat flour makes an increasing import of wheat from other countries. as a solution is to use yellow pumpkin flour for substitution. Yellow pumpkin (Cucurbita moschata) contains high protein, fiber, and also β-carotene as a source of antioxidants. Yellow pumpkin flours were mixed with wheat flour in 3 ratios. The ratio of pumpkin flour and wheat flour are 2:3, 1:1, and 3:2 and also divided into 2 sugar contents, which are 120 g and 60 g. Water content analysis result was 2,57%, which has met SNI requirements with the maximum at 4%. The most preferred biscuit was 2:3 sample with 60 g sugar. Yellow pumpkin biscuits were acceptable in the organoleptic test. The higher yellow pumpkin flour concentration, the color was darker and the texture was easy to break. Proximate analysis for the best formulation was 57,11% carbohydrate, 6,93% protein, 28,68% for fat, water content 4,78% and ash content 2,50%. The total energy was 514 Calories/100 g value and the energy from fat was 258 Calories/100 g. Biskuit merupakan salah satu makanan ringan berbasis tepung terigu. Tingginya penggunaan tepung terigu meningkatkan impor gandum dari negara lain. Sebagai salah satu solusinya adalah penggunaan tepung labu kuning. Labu kuning (Cucurbita moschata) merupakan tanaman yang tinggi serat dan protein serta beta karoten sebagai antioksidan. Penelitian ini menggunakan 3 ratio tepung labu kuning : tepung terigu sebesar 2:3, 1:1, 3:2 dan dengan dua konsentrasi gula yaitu 120 g dan 60 g. Analisis kadar air menghasilkan nilai dengan rata-rata 2,57% dimana telah memenuhi SNI yaitu maksimum 4%. Hasil organoleptik menyatakan biskuit dengan perbandingan 2:3 dan gula 60 g paling disukai. Tepung labu kuning dalam formulasi biskuit dapat diterima secara organoleptik oleh masyarakat. Hasil analisis warna dan daya patah menunjukkan penggunaan tepung labu kuning tinggi menyebabkan warna gelap dan mudah patah. Analisis proksimat pada formulasi terbaik menunjukkan 57,11% karbohidrat, 6,93 % protein, dan 28,68% lemak. Kandungan kadar air 4,78%, dan kadar abu 2,50%. Energi total adalah 514 Kalori /100g dan energi dari lemak menunjukkan hasil 258 Kalori/100g.
Evaluasi Penerapan Sistem Jaminan Halal Berdasarkan Kriteria Standar HAS 23000 Di UMKM Sakura Mochi Amatullah Tsurayya Adilah; Ika Dyah Kumalasari
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Agroindustri Halal 9(1)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v9i1.5528

Abstract

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim telah mengatur jaminan kehalalan pangan dalam HAS 23000 sebagai persyaratan sertifikasi halal melalui LPPOM MUI. Sebagai salah satu produsen makanan, UMKM Sakura Mochi memerlukan sertifikasi terhadap produknya dan peninjauan terhadap penerapan sistem jaminan halalnya. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengetahui penerapan sistem jaminan halal berdasarkan kriteria standar HAS 23000 di UMKM Sakura Mochi. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, praktik kerja langsung, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Evaluasi dilakukan dengan analisis menggunakan metode checklist. Data yang didapat disesuaikan dengan 11 kriteria standar HAS 23000 LPPOM MUI. Hasil dari analisis adalah kriteria yang telah diterapkan dengan baik yaitu fasilitas produksi, produk, kemampuan telusur dan penanganan produk yang tidak memenuhi kriteria. Kriteria yang telah diterapkan namun masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya yaitu bahan dan prosedur tertulis aktivitas tertulis. Kriteria yang belum diterapkan yaitu kebijakan halal, tim manajemen halal, pelatihan, audit internal dan kaji ulang manajemen. Kesimpulan yang dapat diambil adalah sistem jaminan halal yang ada di UMKM Sakura Mochi 54,8 % telah diterapkan berdasarkan kriteria standar HAS 23000.
Penerapan Ekstraksi Cair Tekanan Uap Tinggi Menggunakan Bahan Halal untuk Optimasi Antioksidan Akhmad Endang Zainal Hasan; Ike Yulia Wiendarlina; Witdiastuti Witdiastuti
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 8 No. 1 (2022): Jurnal Agroindustri Halal 8(1)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v8i1.5556

Abstract

Soursop is a plant that is used as traditional medicine. Antioxidants are compounds that are able to delay, slow down, or inhibit oxidation reactions. This study aims to determine the effect of variations in extraction time and the comparison of variations in the amount of simplicia with aquadest solvent on the high pressure extraction method on antioxidant activity. The study made 13 treatments using the Response Surface Methodology (RSM) design with the fit of the Central Composite Design (CCD) model. The results showed that from the 13 treatments, the extraction time had an effect on the percent yield with the equation Y = -51.9692 + 24.2030 X1 + 1.2984 X2. The extraction time (X1) has a value greater than the ratio of simplicia powder to the volume of distilled water (X2) as well as the IC50 value as shown in the equation Y = 171,983 + 13,828 X1 – 4,110 X2. Extraction time (X1) has a greater value when compared to simplicia with aquadest solvent volume (X2). The results of the analysis of the percentage of extract yield and the optimal IC50 value using RSM analysis were thought to have an extraction time of 6.3 minutes and the ratio of simplicia powder to the volume of aquadest solvent was 1:61,2. The results of the antioxidant activity obtained that the optimal IC50 value was estimated at 4.3 minutes of extraction time and the ratio of simplicia powder to the volume of aquadest solvent was 1:78.2.
Uji Penghambatan α-Glukosidase dari Kombinasi Ekstrak Kunyit, Teh Hitam dan Jahe: The α-Glucosidase Inhibition Test from a Combination of Turmeric Extract, Black Tea, and Ginger Akhmad Endang Zainal Hasan; Dimas Andrianto; Rara Annisaur Rosyidah
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 8 No. 1 (2022): Jurnal Agroindustri Halal 8(1)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v8i1.5608

Abstract

Traditional medicines that can be used as α-glucosidase inhibitors are turmeric (Curcuma longa L.), black tea (Camellia sinensi L), and ginger (Zingiber officinale). It is necessary to research the use of a combination of tea, turmeric, and ginger in inhibiting the α -glucosidase enzyme. This study aims to determine the optimal combination of extracts of turmeric, black tea, and ginger in inhibiting the α-glucosidase enzyme. The research carried out was the measurement of IC50 values for the inhibition of α-glucosidase of each extract, and the inhibition of the enzyme α-glucosidase in combination. The results of the test of ethanol extract of turmeric, ginger and black tea water extract obtained the inhibition value of α-glucosidase with IC50 values of 9.48±0.05 g/mL, 66.64±0.44 g/mL and 9.52±0.25, respectively. F7 is a combination of turmeric, ginger and black tea which produces the highest α-glucosidase inhibition, which is 67.86±0.93%.
Analisis Tekno-Ekonomi Industri Tahu: Studi Kasus Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan Dhian Herdhiansyah; Elsa Saleh; La Ode Alwi; Asriani
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Agroindustri Halal 9(1)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v9i1.5696

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tekno ekonomi industrI tahu: studi kasus Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan. Kajian tekno-ekonomi memuat tentang pembuatan sebuah keputusan (decision making), Metode analisis tekno ekonomi yaitu:  Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP) dan Break Even Point (BEP). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) NPV 12%/tahun dalam 12%/tahun pada discount faktor 12% yaitu sebesar Rp. 808,039,153 sebesar 1,18 (>1); (b) perhitungan BCR menunjukkan bahwa jika pengeluaran sebesar Rp 2,417,921 akan menghasilkan penerimaan benefit sebesar Rp 808,039,153; (c) IRR sebesar 83% (>1%); dan (d) pengembalian investasi dengan perhitungan PP yaitu selama 1,42 tahun; serta (e) BEP unit/produksi sebasar dengan rata-rata kapasitas produksi Rp 864.000.000, dan BEP harga sebesar Rp kapasitas 4.320.000.000. Berdasarkan lima kriteria metode analisis tekno ekonomi yaitu NPV, BCR, IRR, PP, dan BEP yang menunjukkan usaha pengolahan tahu layak untuk dikembangkan.
Implementasi Pengendalian Kualitas (Quality Control) Pada Produksi Simping di Kabupaten Purwakarta: Implementation of Quality Control of Simping Production In Purwakarta Regency Sasiera Diva Permana; Sulistyodewi Nur Wiyono; Nur Syamsiyah; Eddy Renaldi
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Agroindustri Halal 8(2)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v8i2.5739

Abstract

Pengendalian kualitas sangat penting dilakukan pada setiap kegiatan produksi agar hasilnya dapat sesuai dengan standar. Semakin berkembangnya bisnis kuliner, menjadikan para produsen kuliner khas terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) simping di Kabupaten Purwakarta harus menjaga kualitas produknya agar dapat bersaing dengan usaha lain yang sejenis. Meskipun mayoritas UMKM Simping telah bertahan lebih dari 10 tahun, namun masih sering ditemukan produk rusak (defect) di setiap produksinya. Tujuan penelitian ini yaitu: 1) Mengetahui penerapan pengendalian kualitas; 2) Mengetahui faktor penyebab kerusakan produk simping. Riset ini memakai desain kualitatif dan metode studi kasus. Seluruh data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan Statistical Quality Control (SQC) melalui bantuan lembar periksa, diagram pareto, peta kendali, kemudian diagram tulang ikan. Hasil dari riset ini yaitu: 1) Penerapan pengendalian kualitas di UMKM Simping 97, UMKM Simping Bunda, dan UMKM Simping Mustika belum terkontrol; 2) Faktor yang paling berpengaruh terhadap kerusakan produk simping berupa ketidaksesuaian bentuk yaitu mesin dan peralatan.
Daya Terima Konsumen terhadap Pangan Fungsional Puding Berbahan Baku Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) dan Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) Siti Farida; Diena Widyastuti; Randhiki Gusti Perdana
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Agroindustri Halal 9(1)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v9i1.5772

Abstract

Pengembangan makanan fungsional berbahan baku lokal penting dilakukan sebagai upaya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, mengatasi krisis pangan, sekaligus sebagai salah satu alternatif mencegah timbulnya penyakit degeneratif tertentu. Ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) dan jamur tiram putih merupakan sumber pangan fungsional yang memiliki prospek menjanjikan untuk dikembangkan menjadi berbagai produk pangan karena kandungan senyawa bioaktif antosianin dalam ubi jalar ungu dan beta-glukan dalam jamur tiram yang bermanfaat untuk kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui daya terima konsumen terhadap pudding tepung ubi jalar ungu dan tepung jamur tiram sebagai pangan fungsional. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan skala hedonik melalui uji organoleptic terhadap rasa, warna, aroma dan tekstur pudding formula tepung ubi jalar ungu dan tepung jamur tiram. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Annova pada taraf kepercayaan 95% (α= 0,05). Apabila terdapat perbedaan yang nyata diuji lanjut menggunakan DMRT 5%. Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis ragam diperoleh bahwa formulasi penambahan tepung ubi jalar ungu dan tepung jamur tiram berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 95% terhadap warna, rasa dan aroma pudding dan tidak berpengaruh nyata terhadap tekstur pudding. Hasil uji lanjut menggunakan DMRT 5% diketahui bahwa formulasi penambahan tepung ubi jalar ungu 80% dengan penambahan tepung jamur tiram 20% (F6) dan formulasi penambahan tepung ubi jalar ungu 100% (F1) lebih disukai oleh konsumen dari warna, rasa dan aroma pudding dengan rata-rata skor 3,56 (suka).
Penggunaan Sari Kacang Tanah dan Pure Buah Kelubi dalam Pembuatan Es Krim Narulita Adistia Habsari; Shanti Fitriani; Evy Rossi
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Agroindustri Halal 9(2)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v9i2.6043

Abstract

Ice cream is a frozen food product containing a minimum of 5% fat and 2.5% milk protein, which is obtained by heat-treating and subsequently freezing an emulsion of fat, milk solids and sugar, with or without other substances. This study aimed to obtain the best ratio of peanut juice and kelubi puree in making ice cream that meet the quality of SNI 01‒3713‒1995. The study was conducted using a completely randomized design (CRD) with four treatments and four replications. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and then continued with Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at 5% level. The result showed that the ratio of peanut juice and kelubi puree significantly affected fat, protein, total solids, overrun, viscosity, melting time, and descriptive and hedonic sensory tests. The ratio of peanut juice and kelubi puree (92.5:7.5) was chosen as the best treatment, which had 5.62% fat, 5.83% protein, 144.03 ppm antioxidant activity, 35.44% total solids, 2950.85 cP viscosity, 43.16% overrun, and 13.26 minutes melting time with a description of ivory white color, peanut’s flavor, soft, and a little peanut taste. Panelists liked the hedonic assessment of color, aroma, softness, taste, and overall assessment. Keywords: ice cream, kelubi puree, peanut juice
Preferensi Masyarakat Terhadap Agroindustri Kerupuk Sagu Melalui Pendekatan Uji Organoleptik Asriani; Ahmad Hamundu; Dhian Herdhiansyah
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Agroindustri Halal 9(2)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v9i2.6065

Abstract

Sago crackers are a local food agroindustry product that is being developed into food made from sago to support food diversification programs. This study aims to describe sago crackers' processing and test consumer preferences for sago crackers to develop the sago agroindustry. Respondents used by student consumers and the general public were 20 consumers using the five senses in the form of taste, aroma, texture, color, and packaging. The consumer's preference level test was conducted through an organoleptic approach test. The analytical technique used is descriptive quantitative using a Likert scale. The test results showed that the assessment of sago cracker products with the highest taste attribute was 45% (like), the highest texture rating was 56% (like), the highest aroma rating was 46% (like), and the highest color rating was 45% (neutral). Meanwhile, the highest packaging attribute assessment was 60% (do not like). Thus, consumer preferences for the attributes of crackers are, on average good, except for the packaging attributes, which are not good, so the packaging attributes need to be improved.