cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
KAJIAN PEMETAAN TINGKAT KERAWANAN BANJIR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : DAS Beringin, Kota Semarang) Wicke Widyanti Santosa; Andri Suprayogi; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.639 KB)

Abstract

ABSTRAKBanjir merupakan permasalahan yang umum yang terjadi di sebagian wilayah Indonesia.Sungai Beringin merupakan salah satu sungai di Semarang yang menyumbang bencana banjir tiap tahunnya.Seiring dengan berkembangnya teknologi, maka untuk mengetahui tingkat kerawanan banjir dilakukan penelitian dengan menggunakan dua metode yaitu metode pembobotan dan metode rasional. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi kerawanan banjir DAS Beringin secara umum termasuk dalam kondisi cukup rawan dengan luas sebesar 1795,003 ha (59,89%). Tingkat rawan banjir dengan kategori rawan dengan luas sebesar 875,441 ha (29,21%) dari total luas DAS. Tingkat agak rawan dan tidak rawan dengan luas sebesar 299,691 ha (40,13%) dan 22,566 ha (0,75%). Tingkat sangat rawan mempunyai persentase dengan luas sebesar 4,441 ha (0,1%) dari total luas kawasan DAS. Air larian yang terjadi pada kelurahan-kelurahan pada Sub–DAS 1 yang menghasilkan debit yang paling tinggi sebesar 357,766 m3/det (68,048%), Sub–DAS 2 debit maksimum sebesar 124,964 m3/det (23,769%), dan pada Sub –DAS 3 menghasilkan debit yang paling rendah yaitu 43,0227 m3/det (8,183%). Pengaruh debit maksimum terhadap tingkat kerawanan banjir adalah pada faktor lanjutan dari hasil penggunaan lahan dan curah hujan. Pada kecepatan air yang tinggi, berlangsung cepat dan jumlah air sedikit, mengakibatkan tingginya debit air yang mengalir sehingga alirannya sangat deras dan berdampak destruktif.Kata Kunci : DAS Beringin, Banjir, Debit Maksimum, Tingkat Kerawanan ABSTRACT Flood is a common problem that occurs in some parts of Indonesia. Beringin River is one of the rivers in Semarang that contributed floods every year. Along as the development technology, then to determine level of flood conducted research by using 2 method, the weighting method and rational method. The research result were showed that condition of flood DAS Beringin commonly included in condition vulnerable with an area of 1795.003 hectares (59.89%). Level of risk flood with risk category an area of 875.441 hectares (29.21%) of the total DAS area. The level rather risk having percentace an area of 299.691 hectares (40.13%) and 22.566 hectares (0.75%). the higher level risk have percentage of the area of 4,441 hectares (0.1%) of total DAS area. Water runoff that occurs in village  Sub -DAS 1 that generate highest discharge of 357.766 m3/sec (68.048%), Sub -DAS 2 maximum discharge of 124.964 m3/sec (23.769%), and the Sub -DAS 3 produces the lowest discharge is 43.0227 m3/sec (8.183%). Effect of the maximum discharge is the advanced factor of the result of land use and rainfall. At speed of high water occur fast and a little amount of water, resulting a high flow of water is flowing, so that the flow is very heavy and destructive impact. Keywords : DAS Beringin, Flood, Maximum Debit, Vulnerability
SURVEI DEFORMASI DAERAH JEMBATAN PENGGARON DENGAN METODE GPS TAHUN 2018 Siti Fathimah; Bambang Sudarsono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.912 KB)

Abstract

Jembatan Penggaron merupakan salah satu jembatan terpanjang di ruas Jalan Tol Semarang-Solo Seksi I Km.20. Jembatan ini berada pada daerah dengan kondisi tanah yang kurang stabil. Berkaitan dengan kondisi geologi daerah ini maka daerah di sekitar jembatan rawan adanya deformasi. Pengamatan deformasi daerah Jembatan Penggaron perlu dilakukan sebagai bentuk peringatan dini bagi pengelola jembatan. Hasil pengamatan dapat dijadikan bahan evaluasi dalam pemeliharaan dan perawatan jembatan sehingga potensi kerusakan jembatan dapat dikurangi. Pengamatan deformasi pada penelitian tugas akhir ini menggunakan metode pengamatan GPS statik selama tiga periode pengukuran yaitu Maret, Mei dan Juni 2018. Penelitian ini juga menggunakan data hasil pengamatan pada tahun 2015 dan 2016. Semua data kemudian diolah dengan menggunakan software scientific GAMIT 10.7 dengan menggunakan titik ikat global (IGS). Hasil pengolahan data ini akan diketahui besarnya nilai pergerakan titik-titik pengamatan yang berada di sekitar Jembatan Penggaron. Nilai perubahan koordinat kartesian tiga dimensi terbesar pada bulan Juli 2015 sampai dengan Juni 2018 adalah sebagai berikut n: -0,02471 m, e: 0,10821 m dan u: 0,05623 m. Nilai perubahan koordinat terkecil pada bulan Juli 2015 sampai dengan Juni 2018 adalah sebagai berikut n: 0,00123 m, e: -0,00119 m dan u: -0,00088 m. Hasil uji statistik yang dilakukan setelah menghilangkan pengaruh Blok Sunda menyatakan bahwa titik-titik pengamatan di sekitar Jembatan Penggaron tidak mengalami deformasi.
PEMODELAN PERTUMBUHAN TATA RUANG KOTA SEMARANG BERDASARKAN ASPEK EKONOMI MENGGUNAKAN KONSEP ANALISIS SPASIAL CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI Muhammad Arizar Hidayat; Bambang Sudarsono; yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1305.974 KB)

Abstract

ABSTRAK Kota Semarang mempunyai luas wilayah 373,70 Km2. Secara administratif Kota Semarang terbagi Kota Semarang mempunyai luas wilayah 373,70 Km2. Secara administratif Kota Semarang terbagi menjadi 16 Kecamatan dan 177 Kelurahan, Kota Semarang memiliki posisi astronomi di antara garis 6o50’ – 7o10’ Lintang Selatan dan garis 109o35’ – 110o50’ Bujur Timur. Sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang adalah sebuah kota yang berkembang secara ekonomi. Secara tidak langsung, perkembangan perekonomian di Kota Semarang memberi pengaruh terhadap pertumbuhan tata ruang kota.Adapun tujuan penelitian ini adalah membuat peta model pertumbuhan tata ruang Kota Semarang dengan menggunakan metode konsep analisis spasial. Data yang digunakan adalah data raster. Yaitu, citra Landsat tahun 2002, 2007, 2013, dan 2015 beserta data atribut Kota Semarang berformat shapefile. Pengolahan data dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan metode klasifikasi supervised yang dikombinasikan dengan metode evaluasi multi kriteria.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tejadi pertumbuhan tata ruang ke arah selatan pada periode tahun 2002-2007, kemudian terjadi pertumbuhan tata ruang pada arah timur pada periode tahun 2007-2013, dan pertumbuhan ke segala arah pada periode 2013-2015. Kemudian dilihat dari pola persebaran pusat-pusat ekonomi, pada periode tahun 2002, 2013, dan 2015 pola persebaran pusat-pusat perekonomian di Kecamatan Semarang Tengah dan Semarang Selatan memperlihatkan pola persebaran mengelompok, pada periode tahun 2007 pola persebaran pusat-pusat perekonomian di Kecamatan Semarang Tengah memperlihatkan pola persebaran mengelompok dan Semarang Selatan memperlihatkan pola acak pada pusat ekonomi kelas atas, sedangkan kelas lainnya mempunyai pola mengelompok. Kata Kunci : Klasifikasi Supervised, Metode Evaluasi Multi Kriteria, Model Pertumbuhan Tata Ruang                       ABSTRACT Semarang city has a total area of 373,70 km2. Semarang is administratively divided into 16 districts and 177 village, Semarang have astronomical positions between lines 6o50 '- 7o10' south latitude and line 109o35 '- 110o50' east longitude. As the capital of Central Java province, Semarang is a city that is growing economically. Indirectly, the economic development in the city of Semarang influences the spatial growth of the city.The purpose of this research is to create a growth model spatial map of Semarang by using the concept of spatial analysis. Data used in the form of raster data.  Namely, Landsat 2002, 2007, 2013, and 2015 along with attribute data of Semarang City with shapefile format. The data in this study were processed using supervised classification method combined with multi-criteria evaluation methods.The results of this study showed that the spatial growth occurs towards the south in the period 2002-2007, and spatial growth occurred in the east in the period 2007-2013, and growth in all directions in the period 2013-2015. Then, seen from the pattern of distribution of economic centers, in the period 2002, 2013, and 2015, the distribution pattern economic centers in the District of Central Semarang and South Semarang shows the distribution pattern clustered, while in the period 2007 distribution pattern economic centers in the District Central Semarang showed clumped distribution pattern while South Semarang exhibit a random pattern on the economic center of the upper classes, while other classes have clumped pattern.s Keyword : Map Spatial Growth Model, Multi-Criteria Evaluation Methods, Supervised Classification  *)  Penulis, Penanggung Jawab
Evaluasi Kesesuaian Lahan Tanaman Pertanian Berbasis Sistem Informasi Geografis Dengan Menggunakan Metode Fuzzy Set (Studi Kasus : Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri) Bhekti Hapsari; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.923 KB)

Abstract

Secara umum, Sistem Informasi Geografis merupakan alat berbasis komputer yang mampu memfasilitasi pemetaan dan melakukan analisis keruangan objek-objek di permukaan bumi. Sehingga sistem ini dapat untuk menganalisis kesesuaian lahan pertanian dengan menggunakan analisis spasial dan pencocokan antara data karakteristik lahan dari suatu daerah. Kesesuaian lahan merupakan kecocokan suatu jenis lahan tertentu untuk macam penggunaan tertentu. Pada tingkat kelas kesesuaian lahan dikelompokkan pada 5 kelas kesesuaian, yaitu S1 (sangat sesuai), S2 (cukup sesuai), S3 (sesuai marginal), N1 (tidak sesuai pada saat ini), dan N2 (tidak sesuai permanen). Dalam penelitian ini untuk penentuan kelas kesesuaian lahan pada satuan lahan hasil overlay peta dilakukan dengan analisis matching dengan menggunakan metode Fuzzy Set. Sehingga pihak pengambil kebijakan dapat menjadikannya sebagai salah satu dasar dalam perencanaan tata guna lahan, khususnya di sektor pertanian sebagai perwujudan optimalisasi hasil pertanian.Pada hasil dari analisis matching dengan menggunakan metode Fuzzy Set didapat suatu nilai dengan rentang dari 0 sampai dengan 1. Nilai inilah yang menjadikan suatu satuan lahan tersebut berada pada kelas kesesuaian lahan tertentu. Berdasarkan hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan, untuk komoditas jagung, padi, cengkeh, cokelat, dan tebu di Kecamatan Eromoko berada pada kelas kesesuaian S1 (sangat sesuai) dan S2 (cukup sesuai). Sedangkan untuk komoditas kacang tanah, kedelai, bawang putih, dan kelapa di Kecamatan Eromoko berada pada kelas kesesuaian S1 (Sangat Sesuai). Kata Kunci : Kesesuaian Lahan, Evaluasi Lahan, Tanaman Pertanian, Hortikultura, Perkebunan, Sistem Informasi Geografis, Matching,  Fuzzy Set.
ANALISIS ESTIMASI ENERGI PANAS BUMI MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 (Studi Kasus: Kawasan Gunung Telomoyo) Naufal Farras; Abdi Sukmono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.236 KB)

Abstract

ABSTRAK Indonesia memiliki potensi energi panas bumi yang bersifat terbarukan dan ramah lingkungan, potensi energi panas bumi yang besar ini perlu ditingkatkan kontribusinya untuk mencukupi kebutuhan energi domestik karena energi panas bumi bersifat tidak dapat diekspor, maka sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Sebanyak 276 lokasi panas bumi di Indonesia tersebar mengikuti jalur pembentukan gunung api yang membentang dari Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi sampai Maluku. Sebagian besar dari jumlah area tersebut terletak di lingkungan vulkanik, sisanya berada di lingkungan batuan sedimen dan metamorf. Lokasi prospek panas bumi sebanyak 276 area, hanya 31% yang telah disurvei secara rinci dan didapatkan potensi cadangan. Oleh karena itu, perlu metode selain survei lapangan untuk estimasi energi, dengan menggunakan penginderaan jauh.Teknologi pengindraan jauh dapat digunakan untuk estimasi energi menggunakan metode radiative heat flux (RHF) dengan penentuan sebaran suhu permukaan (LST) dan indeks vegetasi metode NDVI dari band inframerah, hasil NDVI tersebut kemudian dilakukan klasifikasi untuk menentukan nilai Emissivity serta delineasi kelurusan berupa sesar ataupun patahan kemudian dilakukan analisis untuk mendapatkan sebaran area potensial panas bumi, luas area potensial dan estimasi energi menggunakan metode overlay pembobotan Analitycal Hierarchy Process (AHP) parameter LST, NDVI dan Kelurusan (Lineament).Hasil pengolahan citra landsat 8 didapatkan sebaran area potensial panas bumi berada di Desa Wirogomo, Kemambang dan Banyubiru dengan luas area 3,295 km2 dan di Desa Sepakung dengan luas area 0,672 km2. Hasil estimasi energi panas menggunakan algoritma radiative heat flux(RHF) dari area potensial panas bumi sebesar 76,172 MW.
ANALISIS PERBANDINGAN KEPADATAN PEMUKIMAN MENGGUNAKAN KLASIFIKASI SUPERVISED DAN SEGMENTASI (Studi Kasus: Kota Bandung) Nizma Humaidah; Bambang Sudarsono; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.637 KB)

Abstract

ABSTRAKPemukiman merupakan kawasan tempat tinggal yang terdiri lebih dari satu satuan perumahan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sekarang ini semakin lahan kosong dan lahan hijau semakin berkurang karena kawasan pemukiman yang semakin padat, terutama dikota-kota besar salah satunya di Kota Bandung.Teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis (SIG) dapat membantu untuk mendapatkan informasi pemukiman padat tersebut dengan melakukan analisis pada citra resolusi tinggi Quickbird. Pada penelitian ini metode yang digunakan untuk menganalisis adalah metode segmentasi dan klasifikasi supervised.Informasi luas pemukiman padat di Kota Bndung pada tahun 2012 dengan menggunakan metode segmentasi dan klasifikasi supervised kemudian membandingkan hasil keduanya. Hasil luasan pemukiman padat Kota Bandung pada tahun 2012 menggunakan metode segmentasi adalah 115.949.487,2 m² sedangkan berdasarkan hasil klasifikasi supervised adalah 117.233.067,02 m². berdasarkan uji ketelitian metode segmentasi sebesar 100% sedangkan klasifikasi supervised sebesar 98,418%. Apabila dilihat dari uji statistik keduanya memiliki korelasi yang sangat kuat dan searah dengan nilai 0,998, dengan hipotesis bahwa luas pemukiman padat yang didapat dari metode segmentasi berbeda dengan metode klasifikasi supervised secara signifikan. Kata Kunci : Klasifikasi Supervised, Penginderaan jauh, Pemukiman Padat dan Segmentasi,.                                                                                   ABSTRACTSettlements are residential area consisting of more than one housing unit which is very important in human life. Nowadays, vacant area and green area are decreasing because of the higher density of settlements, especially in big cities such as Bandung.Remote sensing technology and geographic information system (GIS) can help obtaining the dense settlement information by analyzing the image of high resolution Quickbird. In this study, the method used to analyze is segmentation and supervised classification.Information of the dense settlement wide area in Bandung in 2012 is obtained using segmentation method and supervised classification. The result of both methods is compared. The Result of dense settlement area of Bandung in 2012 using segmentation method is 115,949,487.2 m², while according to the result of supervised classification is 117,233,067.02 m². Based on the accuracy test of segmentation method, it is 100% whereas supervised classification is 98,418%. In statistical test point of view, both of the methods have a remarkably strong correlation and the same direction with the value of 0.998, with the hypothesis that the wide of dense settlements area obtained from segmentation method was different with supervised classification method was significantly different with. Keywords: Dense Settlements, Remote sensing, Segmentation and Supervised Classification.   *) Penulis, Penanggung Jawab
ANALISIS TINGGI TANAMAN PADI MENGGUNAKAN MODEL 3D HASIL PEMOTRETAN UAV DENGAN PENGUKURAN LAPANGAN Kurniawan Putra Widya Wardana; Sawitri Subiyanto; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.635 KB)

Abstract

Beras merupakan salah satu kebutuhan pokok untuk memenuhi kebutuhan pangan. Khususnya di Indonesia beras merupakan salah satu makanan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Akan tetapi produksi beras di Indonesia sendiri masih belum bisa mencukupi kebutuhan akan warga negara. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produksi beras di Indonesia salah satunya adalah peralihan lahan sawah menjadi sektor industri dan perumahan. Khususnya di semarang peralihan lahan sawah terjadi begitu cepat karena meningkatnya kebutuhan lahan untuk hidup dan industri. Monitoring dan pengkajian akan lahan sawah perlu dilakukan agar mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk meningkatkan produksi beras. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan melakukan kombinasi pengamatan Unmanned Aerial Vehicle (UAV), Global Positioning System (GPS) dan data ketinggian padi di lapangan menggunakan meteran. Hal ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan atau selisih tinggi tanaman padi dengan menggunakan Digital Elevation Model (DEM) yang memiliki tinggi reduksi dari ketinggian geodetik ke tinggi orthometrik. Pembentukan data DEM tersebut didapat dari data foto udara yang diolah menggunakan prinsip fotogrametri, yang kemudian dikonversi kedalam bentuk pointclouds dan kemudian menjadi data DEM yang memiliki tinggi berdasarkan EGM 2008. Hasil dari pengolahan data dilakukan validasi menggunakan metode meteran untuk mengetahui selisih tinggi tanaman yang sebenarnya.. Hasil dari penelitian ini menunjukan perbedaan tinggi rata-rata tanaman padi sebesar 0.099 m dengan tinggi kenyataan. Hasil DEM tersebut dapat dikategorikan pada Level of Detail (LOD) 3. Namun untuk visualisasi dapat dikategorikan pada Level of Detail (LOD) 2, karena bentuk 3D bangunan besar dan kecil sudah dapat dibedakan, serta vegetasi sudah padat dipetakan.
ANALISIS ASPEK MORFOLOGI JALAN (LAYOUT OF STREETS) KOTA SEMARANG TERHADAP PERTUMBUHAN TATA RUANG DAN WILAYAH MENGGUNAKAN METODE DIGITASI CITRA RESOLUSI TINGGI DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Imanuel Sitepu; Yudo Prasetyo; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1001.722 KB)

Abstract

ABSTRAK Suatu wilayah tentu akan mengalami dinamika dan pertumbuhan dari waktu ke waktu yang menyebabkan terjadinya perkembangan fisik. Perkembangan fisik inilah yang mempengaruhi morfologi dari sebuah kota dimana indikator terbesar yang mempengaruhi morfologi dari sebuah kota yaitu morfologi jalan. Jadi dengan memantau morfologi jalan akan ditemukan pengaruhnya terhadap perkembangan fisik dari suatu kota. Area penelitian dilakukan di Kecamatan Mijen yang merupakan bagian dari Kota Semarang.Analisis morfologi jalan ini dilakukan dengan metode digitasi citra satelit resolusi tinggi dan melakukan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Digitasi dilakukan di atas citra satelit Quickbird dengan resolusi 0,6 meter dengan multitemporal tahun 2005 dan tahun 2015. Jalan yang didigitasi adalah kelas jalan arteri sekunder, kolektor primer, kolektor sekunder dan jalan lokal. Hasil digitasi ini selanjutnya akan dilakukan perhitungan jumlah keseluruhan panjang jalan di tahun 2005 dan tahun 2015 sehingga diketahui besar pertumbuhan panjang jalan dari tahun 2005 hingga 2015. Selanjutnya akan dilakukan analisis spasial untuk mengidentifikasi morfologi jalan, korelasi pertumbuhan jalan dengan pertumbuhan tata ruang serta melalui analisis statistik spasial dengan cara Standard Deviational Ellipse diperoleh arah pertumbuhan jalan dari Kecamatan Mijen.Dari hasil digitasi jalan yang dilakukan diperoleh nilai pertumbuhan jalan Kecamatan Mijen dari tahun 2005 hingga 2015 sebesar 33.709,507 meter atau sebesar 33,709 kilometer dimana nilai ini merupakan total dari panjang jalan untuk semua kelas yang didigitasi. Morfologi jalan yang terdapat di Kecamatan Mijen adalah morfologi jalan tidak beraturan dan morfologi jalan grid. Pertumbuhan jalan di Kecamatan Mijen mengarah ke arah utara dimana dibagian utara terdapat kawasan perumahan Bukit Semarang Baru yang banyak melakukan pembangunan jalan.Kata Kunci: Analisis Spasial, Digitasi, Morfologi Jalan, Standard Deviational Ellipse. ABSTRACT A region will certainly has the dynamics and growth over time which affect the growth physically. This physical growth affected the city morphology where the biggest indicator which affect the morphology of a city is the layout of streets. So, by monitoring the layout of streets will be founded effects in physical development of a city. Research area conducted in the District Mijen which is part of Semarang city.The layout of the streets monitored by digitize high-resolution satellite imagery and perform spatial analysis based on Geographic Information System (GIS). Digitization had done over the Quickbird satellite imagery with a resolution of 0.6 meters with multitemporal 2005 and 2015. The road which in digitized is a class of secondary arterial roads, primary collector, secondary collectors and local roads. The result of this digitization will be calculating the amount of the entire length of the road in 2005 and 2015 so that the growth of the road from 2005 to 2015 will be found. Furthermore, spatial analysis will be conducted to identify the layout of the streets. The growth of the road correlation with the growth of spatial and through the statistical analysis, by using Standard Deviational Ellipse we will find the direction of the growth of the District Mijen.From the digitation, we find the growth rate from 2005 to 2015 amounted to 33.709.507 meter or a total of 33,709 kilometers where this value is the total ength for all classes in digitization. The layout of streets that founded in District Mijen are irregular morphology and grid morphology. The growth of the roads in District Mijen leading towards the north where in northern area there is a residential area of Bukit Baru Semarang which doing a lot of road construction.Keywords: Digitizing, Layout of Streets, Spatial Analysis, Standard Deviational Ellipse.
PEMBUATAN PETA FOTO DENGAN FOTO UDARA FORMAT KECIL DI KOMPLEKS CANDI PRAMBANAN DENGAN WAHANA PESAWAT QUADCOPTER Harmeydi Akbar; Bandi Sasmito; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1218.688 KB)

Abstract

ABSTRAKCandi prambanan termasuk salah satu dari situs warisan dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama yang memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil. Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia (Wikipedia.Org).Mengingat kelebihan dan pentingnya pengawasan candi Prambanan ini, maka perlu dilakukan pemetaan di wilayah candi Prambanan.Pengawasan yang perlu dilakukan sesering mungkin, dengan mempertimbangkan kemudahan dan biaya yang relatif murah, metode pemetaan foto udara format kecil menggunakan quadcopter dengan ketelitian tertentu menjadi salah satu pilihan utamanya. Pelaksanaan pemetaan candi Prambanan dalam penelitian ini menggunakan metode pemetaan foto udara format kecil dengan RC multirotor (quadcopter), sehingga lebih mudah untuk ditentukan tempat dimulainya terbang (take off) dan mendarat (landing). Dengan RC quadcopter, masalah landasan tidak menjadi kendala lagi.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui tingkat ketelitian gambar yang didapat dengan menggunakan wahana pesawat aeromodelling quadcopter dan kamera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixel dengan hasildilapangan. Dan menganalisis kelebihan dan kekurangan pemetaan dengan menggunakan wahana pesawat aeromodelling quadcopter dan kamera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixel.Penelitian ini dilakukan selama 3 kali penerbangan dan menghasilkan lebih dari 768 dan hanya 404 foto yang dapat dipergunakan.Berdasarkan hasil penelitian, diketahui tingkat ketelitian gambar memiliki kisaran 0-2 pixel.Berdasarkan hasil kisaran tersebut, diketahui bahwa pemodelan tidak mengandung kesalahan kasar dan sistematik. Berdasarkan pengukuran hasil model dengan hasil lapangan memiliki selisih jumlah rata-rata 1,727 cmdan masing-masing foto memiliki selisih antara 2 cm dan 4 cm. Sedangkan kelebihan dan kekurangan pemetaan dengan menggunakan wahana pesawat aeromodelling quadcopter dan kamera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixel adalah cepat, hemat dan efisien, penerbangan dilakukan dibawah awan sehingga menekan biaya sewa sehingga tidak perlu pesawat khusus dengan lubang kamera. Biaya yang dipergunakan lebih murah dibandingkan dengan pemotretan udara biasa dan dapat dilakukan oleh SDM Indonesia terutama didaerah-daerah untuk menunjang program otonomi daerah. Sedangkan kelemahannya adalah untuk suatu daerah yang luas diperlukan frame foto yang lebih banyak dibandingkan dengan foto udara biasa, tidak cocok untuk pembuatan peta kontur.Kata kunci : quadcopter, kamera Go Pro Hero 3, foto udara format kecil.ABSTRACTPrambanan temple is one of  the UNESCO world heritage site, the largest Hindu temple in Indonesia, and one of the most beautiful temples in Southeast Asia. The architecture of the building is tal l and slender shaped according to the Hindu architecture in general with the main temple of  Shiva temple which has a height reaching 47 meters in the center of the complex cluster of to wering temples smaller. As one of the grandest temples in South east Asia, Prambanan temple is the main attraction of tourists visit from all over the world (Wikipedia. Org). Given the advantages and importance of monitoring this Prambanan temple, then need to be mapped in the area of Prambanan temple.Supervision needs to be done as often as possible, taking into account the ease and relatively low cost,  method of mapping a small format aerial photographs using a quadcopter with a certain precision to be one of the main options. Implementation mapping Prambanan in this study using small  format aerial photography mapping with RC multirotor (quadcopter), making it easier to set the starting fly (take off) and landing (landing). With RC quadcopter, the problem of  foundation is not an obstacle anymore.The objectives of this study was to determine the level of accuracy obtained by using the image of aeromodelling quadcopter and the camera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixels with field results. And analyze the advantages and disadvantages mapping using quadcopter aeromodelling planer ides and a camera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixels.This observation was conducted for 3 times the cost and generates more than 768 and only 404 photos that can be used. Based on the research results, the image has a known level of accuracy range of 0-2 pixels. Based on the results of these ranges, it is known that the modeling does not contain harsh and systematic errors. Based on the measurement results of the model with field results have a difference about 1,727 cm and each photo has a difference of between 2cm and4cm. While the advantages and disadvantages mapping using quadcopter aeromodelling planer ides and a camera Go Pro Hero 3 Black 12 megapixels is fast, effective and efficient, so the flight was conducted under the clouds reduce the cost of the rental so do not need a special plane with a camera hole. The cost used is cheaper compared to regular aerial photography and can be done by Indonesian human resources, especially in areas to support the program of regional autonomy. The disadvantage is to a large area photo frame required more than the usual aerial photographs, is not suitable for the manufacture of a contour map.Keywords: quadcopter, camera Go ProHero3, small formataerial photographs
APLIKASI UAV (UNMANNED AERIAL VEHICLE) FOTOGRAMETRIUNTUK PERENCANAAN PENGEMBANGAN JALUR TRANSMISISUTET 500 kV (Studi Kasus : Kec. Ambarawa, Kab. Semarang) Agree Isnasatrianto; Yudo Prasetyo; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.202 KB)

Abstract

ABSTRAK Pertumbuhan konsumsi listrik nasional semakin tinggi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan kebutuhan listrik ini diperkirakan akan terus tumbuh dengan rata-rata pertumbuhan 6,5% per tahun hingga tahun 2020. Salah satu upaya PLN yang bergerak pada bidang ketenagalistrikan di Indonesia untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan listrik tersebut adalah dengan membangun SUTET untuk pendistribusian listrik dari sumber listrik ke gardu induk.Pada penelitian ini UAV akan dimasukkan pada proses perencanaan penentuan jalur SUTET sesuai dengan peraturan yang berlaku dan dikombinasikan dengan survei GPS untuk menghasilkan data koordinat yang teliti. Data yang dihasilkan dari UAV berupa foto udara yang kemudian akan diolah menjadi orthofoto, DSM (Digital Surface Model) dan DTM (Digital Terrain Model). Untuk penentuan jalur perencanaan SUTET memiliki kriteria ruang bebas dan jarak bebas minimum  horizontal dapat digunakan orthofoto karena memiliki tingkat kedetailan visual yang tinggi. Sedangkan untuk ruang bebas dan jarak minimum vertikal digunakan DSM yang memiliki nilai ketinggian dari pohon maupun bangunan pada area perencanaan sebagai acuan dan data DTM yang memiliki nilai ketinggian tanah saja dapat digunakan untuk acuan penentuan lokasi menara SUTET didirikan. Sehingga dapat menentukan lokasi perencanaan SUTET sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dilakukan validasi berupa koordinat X dan Y pada orthofoto dan koordinat Z pada DEM dengan menggunakan ICP (Independent Check Point) hasil pengukuran GPS metode statik.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, hasil orthofoto maupun DEM dapat digunakan untuk perencanaan penentuan lokasi titik SUTET sesuai dengan peraturan ruang bebas dan jarak minimum yang berlaku dengan nilai RMSE horizontal untuk orthofoto sebesar 0,158 meter dan RMSE vertikal dari DEM 0,201 meter.Kata Kunci          : DSM, DTM, Listrik, SUTET, UAVABSTRACT The growth of national electricity consumption is getting higher with the increase of population and national economic. This increase in electricity demand is expected to grow with an average growth of 6.5% per year until 2020. One of PLN's efforts as provider in the electricity sector in Indonesia to equal the electricity demand is to build SUTET for the distribution of electricity from a power source to the substation.In this case, UAV will be incorporated in the planning process of determining SUTET lines in accordance with prevailing regulations and combined with GPS survey to produce accurate coordinate data. The data generated from the UAV in the form of aerial photography which will be processed into orthophoto, DSM (Digital Surface Model) and DTM (Digital Terrain Model). For the determination of the SUTET planning path which has certain criteria such as free space of horizontal minimum distance can be used orthophoto because it has a high level of visual detail then, the free space and minimum distance vertically used DSM which has the height value of trees and buildings in the planning area as a reference and DTM data has a value height of bare earth can be used for reference determination of tower location. So it can determine the location of SUTET planning in accordance with the applicable regulations. Product of orthophoto which have coordinate X, Y data and DEM which have X, Y, Z coordinate data will be validated with higher accuracy data using ICP (Independent Check Point) from GPS survey static method.The results in this case indicate that orthophoto and DEM can be used for planning the determination of SUTET location accordance with the free space regulation and the minimum distance applicable with the horizontal RMSE value for orthophoto of 0.158 meters and the vertical RMSE of DEM 0.201 meters. Keywords              : DSM, DTM, Electricity, SUTET, UAV

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue