cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
STUDI PENURUNAN TANAH PERIODE 2016 - 2017 MENGGUNAKAN GAMIT 10.6 Mohammad Afif; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.837 KB)

Abstract

ABSTRAK Daerah pesisir Kecamatan Sayung, Demak merupakan daerah yang  rentan terhadap tekanan lingkungan, baik tekanan lingkungan secara alamiah seperti (tsunami, pasang surut, dan abrasi) maupun yang tekanan lingkungan  disebabkan oleh manusia (eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dan pembuangan limbah ke tepi pantai). Wilayah pesisir pantai Kecamatan Sayung  merupakan wilayah yang sering terkena banjir rob. Banjir rob tersebut menggenangi daerah yang lebih rendah dari muka air laut pada saat pasang tertinggi yang ada di Kecamatan Sayung.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya deformasi dalam rentang waktu ± 1 tahun (2016-2017), dengan melakukan survei menggunakan metode pengamatan GPS. Deformasi adalah perubahan bentuk, posisi dan dimensi dari suatu benda (Kuang,1996). Pada penelitian ini memanfaatkan patok patok pengamatan yang ada di area penelitian, nilai deformasi di peroleh dengan acuan data 2016. Dan pengolahan  pada penelitian ini menggunakan GAMIT 10.6.Nilai penurunan tanah di Kecamatan Sayung pada tahun 2016-2017 menggunakan metode ikat IGS dan CORS CSEM berkisar antara -0,057 pada titik GEMA sampai -15,052 pada titik BDN1 cm/tahun dengan Penurunan tebesar berada di barat pesisir sayung  hal ini sesuai dengan pengambilan air tanah ,kondisi geologi dan  persebaran sumur yang ada di daerah tersebut.Kata Kunci : Deformasi, GAMIT, GPS, Sayung  ABSTRACT The coastal area of Sayung Demak is an area vulnerable to environmental pressures,both natural environmental pressures (tsunami, tidal and abrasion) as well  environmental stresses caused by humans (excessive exploitation of natural resources and waste disposal to the coast). The coastal area of Sayung District is an area often affected by rob floods. The rob flood that inundated the lower regions of the sea level at the highest tide in Sayung District. This study aims to determine the amount of deformation in the time span ± 1 year (2016-2017), by conducting surveys using GPS observation method. Deformation is a change in shape, position and dimension of an object (Kuang, 1996). In this study using benchmark observations that exist in the research area, the value of deformation obtained with reference data 2016. And the processing in this study using GAMIT 10.6. The value of land subsidence in Sayung Sub-district in 2016-2017 using the IGS and CORS CSEM binding methods ranged from -0.057 at the GEMA point to -15.052 at the point of BDN1 cm / year with the largest decrease in the western coastal area of Sayungaccording to groundwater extraction, geological conditions and the distribution of existing wells in the area.   Keywords : Deformation, GAMIT, GPS, Sayung
KAJIAN TEKNIS PENERAPAN GENERALISASI PETA RUPABUMI INDONESIA (RBI) DARI SKALA 1: 50.000 MENJADI SKALA 1:250.000 Nisrina Niwar Hisanah; Sawitri Subiyanto; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPeta Rupabumi Indonesia adalah peta dasar yang memberikan informasi secara khusus untuk wilayah darat. Ketersediaan basis data rupabumi dalam berbagai level skala merupakan amanat yang dituangkan dalam UU No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial. Berdasarkan PP Nomor 8 Tahun 2013 menyebutkan peta dasar dengan segala karakteristik ketelitiannya menjadi dasar bagi pembuatan Peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).Salah satu metode yang dapat digunakan dalam penyediaan basis data rupabumi adalah generalisasi. Generalisasi peta adalah proses penyederhanaan peta dengan tetap mempertahankan ciri atau karakteristik utama dari peta tersebut. Area yang dikaji adalah 24 Nomor Lembar Peta (NLP) skala 1: 50.000 atau setara 1 NLP skala 1: 250.000 yang merepresentasikan dua topografi yang berbeda yaitu pegunungan dan pantai.Metode generalisasi yang digunakan adalah seleksi, simplifikasi, dan penggabungan, kecuali kontur yang dibentuk ulang dari Digital Surface Model. Pengecilan dari skala 1: 50.000 menjadi skala 1: 250.000 pada proses generalisasi berpengaruh pada kenampakan titik, garis dan area yang berakibat pada perubahan jumlah panjang dan luasan. Basis data rupabumi skala 1: 50.000 menjadi 1: 100.000 menghasilkan jumlah objek sebesar 70,71% kemudian skala 1: 100.000 menjadi 1: 250.000 sebesar 63,25% untuk persamaan Radical Law. Petunjuk teknis generalisasi skala menengah sudah sesuai untuk penerapan pada skala kecil, kecuali pada unsur transportasi utilitas yang tidak memenuhi persen Radical Law dan unsur tutupan lahan pada skala 1: 250.000 yang tidak bisa memenuhi bentuk geometri dari karakteristik unsur tutupan lahan di lapangan.Kata Kunci : Basis data rupabumi, Generalisasi, Peta Rupabumi Indonesia, Radical Law ABSTRACTTopographic Map of Indonesia is a base map that gives information for land area. Availability database of topographic features in various levels of scale is the mandate set forth in Law No. 4 Year 2011 about Geospatial Information. Based on Government Regulation No. 8 of 2013, basic map with all characteristic throughness became basis creation of a map spatial plan area (RTRW). One method that can be used in topographical database is a generalization. Generalization map is a map simplification process while maintaining the main characteristics of these maps. The area studied is 24 Map Sheet Number (NLP) scale of 1: 50.000 or 1 equivalent of NLP scale of 1: 250.000 which represents two distinct topography are mountainous and coastal.The method that used are selection of generalization, simplification, and merger, except contours that reshaped from Digital Surface Model. Diminution of the scale from 1: 50.000 to 1: 250.000 in the process of generalization effect appearance of a point, line and that changes in the length and area. Database of topographical scale of 1: 50.000 to 1: 100.000 produce sum of the objects about 70,71%, then the scale of 1: 100.000 to 1: 250.000 about 63,25% for equality Radical Law. Technical guide of generalization medium scale is suitable for application on a small scale, except the element of transport utilities that do not meet percent Radical Law and elements of land cover at a scale of 1: 250.000 that can not meet the geometric shape of the characteristic elements of cover in the field.Keywords: Database topographical, Generalization, Topographic Map Indonesia, Radical Law  *) Penulis, Pananggung Jawab
ANALISIS KETELITIAN DSM KOTA SEMARANG DENGAN METODE INSAR MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-1 Handaru Aryo Suni; Bambang Darmo Yuwono; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.516 KB)

Abstract

ABSTRAK Perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan semakin berkembang pula teknologi dalam bidang pemetaan. Terdapat banyak metode yang dapat dilakukan untuk mendapatkan data elevasi, seperti pengukuran terestris yang menghasilkan peta kontur, fotogrametri, atau menggunakan metode pengindraan jauh khususnya dengan menggunakan citra radar dengan metode pengolahan InSAR.  Metode InSAR selain dapat digunakan untuk pembuatan informasi ketinggian dapat juga digunakan untuk pembuatan peta deformasi (Pepe, A. dan Calo, F. 2017), identifikasi longsor (Kang, Y. dan Zhao, C, 2017), dan dapat dikombinasikan dengan metode lain seperti pengukuran GPS untuk pengamatan penurunan muka tanah (Yuwono, B, D, dkk. 2018). Informasi ketinggian (elevasi) dapat berupa tabel koordinat, peta kontur, ataupun model elevasi digital. Informasi ketinggian dapat diaplikasikan pada banyak hal, seperti : pembuatan peta jaringan sungai, analisis daerah rawan longsor, perencanaan jaringan jalan, pemetaan daerah rawan banjir, pembuatan peta deformasi, bahkan hingga keperluan militer. Kota Semarang sebagai salah satu kota pusat pemerintahan dan pusat industri di Pulau Jawa sangat membutuhkan data ketinggian untuk menunjang proses pengembangannya. Data ketinggian dapat digunakan untuk perencanaan tata guna lahan, manajemen drainase, jaringan air bersih, jaringan jalan, identifikasi daerah rawan bencana longsor di Kota Semarang. Hasil dari penelitian ini didapatkan DSM dengan selisih ketinggian 0,148 meter sampai 203,558 meter dengan ketelitian 52,381 meter dengan standar deviasi 35,386 meter.
PEMBUATAN PROGRAM PERATAAN JARING GPS Hutomo, Septiawan Setio; Awaluddin, Moehammad; Sabri, LM.
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.179 KB)

Abstract

In GPS surveying, GPS data processing is intended to calculate the coordinate of the points in a network based on observation data and get the coordinate of the observed points. In the measurement of control point network, to get the accurate coordinate, the first step is processing the baseline then followed by network adustment. Network adjusment is intended to make  the baseline that compose the network can be integrated correctly and consistently to get the coordinate of the observed points that is unique. Network adjusment generally use the least square adjustment method. Along with the progress in computers and programming, the calculation of the GPS network become more practical in its processing.   Gnet 1.0 applications using the windows programming language called Visual Basic 2008. This applications can automatically adjust the network using baseline data network.  The results of the Gnet 1.0 application compared with the results from Adjust and Sokkia Spectrum Survey show relatively similar results. It was concluded that the Gnet 1.0 application  can be used for GPS baselines network adjusment   Keywords : visual basic, GPS, baselines, least square adjustment.
ANALISIS KETELITIAN TITIK KONTROL HORIZONTAL PADA STUDI DEFORMASI JEMBATAN PENGGARON MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK GAMIT 10.6 Nur Rizal Adhi Nugroho; Bambang Sudarsono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.258 KB)

Abstract

ABSTRAKJembatan merupakan bangunan yang berfungsi sebagai penghubung kedua tepi yang berguna untuk menunjang berbagai kegiatan manusia. Suatu jembatan jika mendapatkan tekanan maka akan mengalami perubahan dimensi ataupun bentuk. Akibat gaya tekanan ini maka jembatan kemungkinan besar akan mengalami deformasi. Deformasi dapat diartikan sebaai perubahan kedudukan atau pergerakan suatu titik pada suatu benda atau bangunan secara absolut maupun relatif.Berkaitan dengan deformasi pada jembatan tersebut, maka pada penelitian tugas akhir ini dilakukan pengamatan pada jembatan dengan menggunakan GPS Geodetik dengan metode statik yang akan menganalisis pergeseran titik kontrol yang dipasang di sekitar jembatan menggunakan titik ikat IGS dan CORS, yang kemudian diolah menggunakan GAMIT 10.6.Pengamatan dengan metode ini memiliki tujuan untuk mengetahui seberapa besar pergeserannya dan menganalisis ketelitian titik ikat IGS dan CORS. Pada hasil pengolahannya dan telah dilakukan uji statistik titik kontrol mengalami pergeseran pada periode juli 2015-April, Mei, Juni 2016 terbesar N : 0.0450 m, E : 0.1433 m, U : 0.1243 m dan terkecil N : 0.0016 m, E : 0.0084 m, U : 0.0005 m. Serta pada periode April – Agustus 2016 terbesar N : 0.0927 m, E : 0.1290 m, U : 0.0621 m dan terkecil N : 0.0079 m, E : 0.0005 m, U : 0.0014 m. Dari simpangan baku menunjukan bahwa pengolahan menggunakan titik ikat IGS lebih teliti dalam menghasilkan koordinat apabila dibandingkan dengan CORS saat melakukan pengolahan. Kata Kunci :CORS, Deformasi, GAMIT 10.6, GPS, JembatanABSTRACTThe bridge is a building that serves as a liaison both edges which are useful to support various human activities. If the bridge got the pressures, it will experience changes in dimension or shape. As a result of this pressure force, the bridge is likely to be deformed. Deformation could be interpreted as a change of the position or movement of a point on an object or building in absolute and relative terms.In connection with that, then this thesis made to observe the deformation of the bridge by using geodetic GPS with static methods that will analyze the shift of control points which are installed around the bridge using the control point of IGS and CORS, and then processing with GAMIT 10.6.This observation method has the purpose to know how big the shift and analyze the accuracy of IGS and CORS control point. On the results of the processing and has been performed statistical tests of control points to experience a shift in the period July 2015-April, May, June 2016 The N: 0.0450 m, E: 0.1433 m, U: 0.1243 m and the smallest N: 0.0016 m, E: 0.0084 m, U: 0.0005 m. As well as the periods April - August 2016 The N: 0.0927 m, E: 0.1290 m, U: 0.0621 m and the smallest N: 0.0079 m, E: 0.0005 m, U: 0.0014 m.The results of the standard deviation indicates that processing using IGS control point is more thoroughly than processing with CORS control point to produce the coordinates. Keyword : Bridge,CORS, Deformation, GAMIT 10.6, GPS
EVALUASI PERUBAHAN NILAI TANAH DAN PENGGUNAAN TANAH PASCA PROGRAM KONSOLIDASI TANAH PERKOTAAN (KTP) Pakaya, Ihsan; Subiyanto, Sawitri; Wijaya, Arwan Putra
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.509 KB)

Abstract

ABSTRAKPemerintah sedang giat-giatnya melakukan pembangunan di segala bidang. Pembangunan yang di lakukan pemerintah terus meningkat, demikian juga dengan jumlah penduduk dan kualitas kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai konsekuensi logis dari pembangunan tersebut mengakibatkan kebutuhan akan tanah terus meningkat. Pemerintah Kota Palangkaraya yang menjadi pusat pemerintahan di Kalimantan Tengah telah melakukan berbagai upaya salah satunya dengan mengadakan program konsolidasi tanah perkotaan (KTP). Pemerintah telah melakukan program konsolidasi tanah dengan tujuan untuk penataan bidang-bidang tanah yang belum mempunyai akses jalan, fasilitas umum dan fasilitas sosial sesuai dengan rencana tata ruang daerah. Oleh sebab itu kondisi tersebut dapat menjadi pemicu perubahan nilai tanah dan perubahan penggunaan tanah yang diakibatkan kebutuhan akan tanah yang meningkat.Dalam penelitian ini digunakan metode penilaian tanah dengan cara mendata harga pasar yang wajar dan  penilaian dilakukan secara massal dengan menggunakan pemanfaatan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG). Sedangkan untuk metode penentuan penggunaan tanah dengan cara survei lokasi dilapangan dan dibandingkan menggunakan citra satelit.          Hasil penelitian ini menunjukan bahwa persentase selisih kenaikan nilai tanah antara bidang tanah yang masuk dalam program konsolidasi tanah dengan bidang tanah non program konsolidasi tanah yaitu sebesar 379%. Dengan persentase kenaikan rata-rata setelah program konsolidasi tanah sebesar 6689% dan non program konsolidasi sebesar 6310%. Penggunaan tanah pada objek yang dikonsolidasi pada tahun 2002 hingga tahun 2012 terjadi perubahan penggunaan tanah yaitu Tanah Industri (naik 9,5 Ha dengan persentase 8,4%), Tanah Pemukiman (naik 18,4 Ha dengan persentase 16,2%), Tanah Perumahan (naik 8,1 Ha dengan persentase 7,1%), Tanah Tidak Ada Bangunan (turun 36 Ha dengan persentase 31,7%), sedangkan untuk Fasilitas Kesehatan, Fasilitas Pendidikan, Tempat Peribadatan tidak mengalami perubahan.Kata Kunci : Konsolidasi Tanah, Nilai Tanah, Penggunaan  Tanah ABSTRACT          The government is really enterprising to do development in all fields. The government's development has continued to increase, as well the number of residents and the quality of life needs of society. As a logical consequence of such development has resulted in the need for land continues to increase. Palangkaraya government, which the central goverment in Central Kalimantan has made many efforts, that is to hold  the urban land consolidation program. The government has done a land consolidation program with the aim of structuring areas of land that does not yet have any access to roads, public facilities and social facilities in accordance with the regional spatial plans. Therefore, these conditions can lead to changes in the value of land and land use changes which resulting from increased demand for land.  The method used in this research was assessed of land method by recording the fair market value and the assessment done mass using technology utilizing Geographic Information Systems (GIS). While for the method of determining the use of land was by survey the field research and compared to using the satellite imagery.          These results have shown that the percentage difference increase in the value increase between  of land parcels included in the land consolidation program with no purchase of land consolidation program  is  379%. With the average percentage increase after land consolidation program is 6689% and non-program consolidated is 6310%. The change of land use on objects that consolidated from 2002 to 2012 is in the Industrial Land (up 9.5 ha with a percentage of 8.4%),  Land Settlements (up 18.4 ha with a percentage of 16.2%), Land for Housing (up 8.1 ha with a percentage of 7.1%), Land Not Existing Buildings (down 36 Ha with the percentage of 31.7%), whereas for Health facilities, Educational Facilities, Places of Worship has not changed.Keywords: Consolidation of Land, Land Value, Land Use
PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP FENOMENA URBAN HEAT ISLAND DAN KETERKAITANNYA DENGAN TINGKAT KENYAMANAN TERMAL (TEMPERATURE HUMIDITY INDEX) DI KOTA SEMARANG Nurfajrin Dhuha Andani; Bandi Sasmito; Hani’ah Hani’ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1347.592 KB)

Abstract

Perkembangan Kota Semarang di beberapa sektor merupakan upaya untuk menjadikan Kota Semarang yang lebih maju. Namun, di sisi lain terdapat masalah penting yang perlu diperhatikan, yaitu masalah perubahan lahan yang didominasi oleh lahan terbangun yang dapat merubah sifat fisik permukaan dan mempengaruhi iklim perkotaan. Salah satu unsur iklim yang mengalami perubahan dan dapat dirasakan secara langsung adalah suhu. Peningkatan suhu secara periodik dapat memicu terjadinya fenomena Urban Heat Island. Peningkatan suhu cenderung terjadi di pusat kota dibanding di pinggiran kota, karena pusat kota biasanya merupakan pusat kegiatan di berbagai sektor. Peningkatan suhu dari hari ke hari dapat berpengaruh terhadap kenyamanan manusia.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah perubahan tutupan lahan berhubungan dengan fenomena Urban Heat Island yang diindikasikan dengan suhu permukaan dan hubungan perubahan tutupan lahan dengan tingkat kenyamanan termal (THI). Analisis dilakukan dengan pendekatan data penginderaan jauh melalui beberapa ekstraksi data, yaitu penggunaan klasifikasi terbimbing, indeks NDVI, pengolahan suhu permukaan, suhu udara, kelembaban udara relatif serta tingkat kenyamanan termal. Pengolahan data dilakukan menggunakan citra satelit Landsat 5 Tahun 2009, Landsat 8 Tahun 2013 dan 2017. Korelasi dilakukan dengan menggunakan uji regresi linear sederhana.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan memiliki hubungan dengan suhu permukaan dan suhu udara. Dengan bertambahnya luasan lahan terbangun, berkurangnya luasan lahan vegetasi dan lahan terbuka dapat menyebabkan perubahan sifat fisik permukaan yang berimplikasi pada peningkatan suhu permukaan dan suhu udara. Peningkatan suhu permukaan yang terjadi akan menyebabkan meluasnya pembentukkan UHI. Meluasnya daerah dengan suhu permukaan yang tinggi menyebabkan daerah yang panas dan kering semakin meluas. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara perubahan tutupan lahan dan tingkat kenyamanan termal, semakin bertambahnya luasan lahan terbangun, berkurangnya luasan lahan vegetasi dan lahan terbuka maka nilai tingkat kenyamanan termal meningkat. Meningkatnya nilai THI, menunjukkan kondisi yang tidak nyaman bagi manusia.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR UMUM (SPBU) DI KOTA SEMARANG DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Rifky Satrio Utomo; Sawitri Subiyanto; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.577 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang dengan luas wilayah 373,70 Km2  merupakan kota berkembang yang padat dari segi penduduk dan sebaran kendaraan bermotor yang mengkonsumsi bahan bakar setiap harinya. Oleh karena itu SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) sebagai agen resmi penyalur BBM juga kian berkembang pesat. Banyaknya pendirian SPBU khususnya di wilayah Semarang tak lepas dari manfaat dan kerugiannya terutama masalah kesesuaian lahannya. Disamping memperhatikan kesesuaian lahannya juga harus ada surat izin tempat usaha yang dikeluarkan baik oleh Pemerintah Daerah/Kota. Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk menganalisis kesesuaian lahan SPBU menggunakan metode Analytical Hierarchy Processing (AHP).Dari analisis dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) menunjukkan besar bobot untuk masing-masing parameter sebesar 32,29 % untuk kemiringan lahan, 27,48 % untuk kelas jalan, 15,57% untuk jarak dengan SPBU terdekat, 10,21% untuk jumlah kendaraan per kecamatan, 6,79% untuk daerah potensi longsor, 4,67% untuk daerah potensi banjir, dan 3 % untuk jarak dengan permukiman.Dari hasil overlay peta hasil skoring didapatkan tiga klasifikasi kesesuaian lahan yaitu sangat sesuai, sesuai, dan tidak sesuai. Dari total SPBU di Kota Semarang sebanyak 60 SPBU, didapatkan analisis kesesuaian lahan sebanyak 25 SPBU masuk dalam kategori sangat sesuai, 31 SPBU masuk dalam kategori sesuai, dan 4 SPBU masuk dalam kategori tidak sesuai.Kata Kunci : SPBU, AHP, SIG  ABSTRACTSemarang city with an area of 373.70 km2 is a growing city that is dense in terms of population and distribution of motor vehicles consume fuel every day. Therefore the gas stationas an authorized agent distributor of fuel is also growing rapidly. Number of the establishment, especially in the area of Semarang gas stations could not be separated from the benefits and disadvantages especially issues of land suitability. Besides the suitability of the land must also be a location permit issued either by the local government / municipal. In this case the GIS has benefits that can be used to analyze the suitability of land filling stations using Analytical Hierarchy Processing (AHP).From the analysis using Analytical Hierarchy Process (AHP) showed large weights for each parameter by 32.29% for the slope of the land, 27.48% for the class of roads, 15.57% for the distance to the nearest gas station, 10.21% for the number of vehicles per sub-district, 6.79% for a potential landslide area, 4.67% for areas of potential flooding, and 3% for the distance to the settlements.From the resulting overlay maps scoring result obtained three classifications of land suitability is very suitable, appropriate and not appropriate. Of total stations in the city of Semarang as many as 60 gas stations, land suitability analysis found as many as 25 gas stations in the category very fit, 31 gas stations fit into the category, and 4 gas stations do not fit into the category.Keywords : SPBU, AHP, SIG *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS NILAI EKONOMI KAWASAN MENGGUNAKAN TRAVEL COST METHOD (TCM) & CONTINGENT VALUATION METHOD (CVM) UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN DENGAN SIG (Studi kasus : Kawasan Agrowisata Pagilaran, Kabupaten Batang) Jolangga Agung Budiman; Bambang Sudarsono; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.139 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Batang memiliki daerah wisata alam yang banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Salah satu wisata alam yang saat ini banyak dikunjungi adalah Kawasan Agrowisata Pagilaran. Secara umum tempat wisata ini menyuguhkan suasana segar khas pegunungan, hamparan kebun teh yang sangat luas, dan tempat rekreasi yang mengajak kita menyatu dengan alam. Hal inilah yang menarik perhatian wisatawan untuk datang mengunjungi Kawasan Agrowisata Pagilaran.Dengan adanya potensi kawasan wisata yang begitu besar, diharapkan kedepannya Kawasan Agrowisata Pagilaran menjadi obyek wisata unggulan di wilayah regional Pekalongan, maka dari itu pengelolaan obyek wisata tersebut haruslah lebih baik. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dibuat Peta ZNEK untuk mengetahui nilai ekonomi kawasan berdasarkan metode TCM (Travel Cost Method) dan CVM (Contingent Valuation Method) pada kawasan tersebut.Metode penarikan responden yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah Sampling non probability sampling dengan teknik sampling incidental, yaitu responden yang ditemui secara kebetulan datang berkunjung di Kawasan Agrowisata Pagilaran. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan menggunakan software Maple 17.Dalam penelitian tugas akhir ini, diperoleh berupa peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan dengan nilai WTP objek wisata Kawasan Agrowisata Pagilaran sebesar Rp38.191,- dengan surplus konsumen sebesar Rp 173.477,-  per individu per tahun, sehingga diperoleh nilai total ekonomi objek wisata Kawasan Agrowisata Pagilaran sebesar Rp 92.100.049.230,- (nilai surplus konsumen per individu dikalikan dengan jumlah pengunjung tahun 2015).Kata Kunci :Contingent Valuation Method,Maple 17, Travel Cost Method,Zona Nilai Ekonomi Kawasan. ABSTRACTBatang district has many natural tourism areas that are mostly visited by domestic or foreign tourists. One of these areas is Agrotourism Pagilaran Area. Generally this tourism area gives fresh atmosphere, the wide of tea plantation and some recreation places that make us enjoying the nature. This condition makes the tourists to come to Agrotourism Pagilaran Area. Hopefully Agrotourism Pagilaran Area will be the best tourism area in the future especially for the regional of Pekalongan with its big potential as tourism area, so that the management of this tourism area should be more better. Therefore, it should be made ZNEK map to know the value of area economic based on TCM (Travel Cost Method) and CVM (Contingent Valuation Method) in that area.This study used non probability sampling with incidental sampling technique that the respondents are met by accident in Agrotourism Pagilaran Area. The method of analysing data used double-linear regression analysis and Maple 17 software for the calculation.The result of this research is map of Area Economic Value Zone with the value of WTP of Pagilaran Tourism Area38.191 rupiahs with the consument surplus 173.477 rupiahs for each individual in a year. Therefore, the total economic value of Agrotourism Pagilaran Area is 92.100.049.230 rupiahs (the surplus value of each consumer times with the number of tourists in 2015).Keywords :Area Economic Value Zone,Contingent Valuation Method,Maple 17, Travel Cost Method.
ANALISIS GEOSPASIAL PERSEBARAN TPS DAN TPA DI KOTA SEMARANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus TPS : Kecamatan Pedurungan, Kecamatan Semarang Timur, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Semarang Barat) Tika Christy Novianty; Bambang Sudarsono; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1052.916 KB)

Abstract

ABSTRAKTempat Penampungan Sampah (TPS) di Kota Semarang hingga saat ini telah menjalankan fungsinya dengan baik. Akan tetapi, masih terdapat TPS eksisting yang terletak pada lokasi-lokasi yang dianggap kurang strategis untuk dijadikan sebagai lokasi TPS. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi kesesuaian lokasi TPS dan analisis terhadap kapasitas kontainer yang ada. Selain itu, umur TPA Jatibarang saat ini diperkirakan tidak akan muat lagi menampung sampah-sampah yang terkumpul dari seluruh Kota Semarang, untuk itu perlu dicari alternatif lahan untuk dijadikan lokasi TPA baru. Dengan memanfaatkan kemampuan Sistem Informasi Geografis maka dilakukan analisis terhadap persebaran TPS yang meliputi variabel seperti aksesbilitas, penempatan TPS, dan aktivitas dominan dari TPS tersebut, serta mencari lokasi yang strategis untuk TPA sampah yang baru berdasarkan acuan SNI 19-3241-1994. Dari hasil penelitian diketahui terdapat 60 TPS yang tersebar di Kecamatan Pedurungan, Kecamatan Semarang Timur, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Semarang Barat. Setelah dilakukan analisis maka diperoleh hasil bahwa TPS telah memenuhi kriteria layak dalam penilaian secara umum dengan beberapa saran perbaikan untuk lokasi TPS yang terletak di pinggir kali atau TPS yang memiliki akses jalan yang terlalu sempit dan jumlah kontainer yang masih belum mencukupi timbulan sampah di beberapa lokasi TPS. Sementara itu untuk lokasi TPA rekomendasi diperoleh tiga daerah yang layak untuk dijadikan lokasi TPA baru yang berada di Kelurahan Wonoplumbon, Kelurahan Gondoriyo, dan Kelurahan Bamban Kerep. Dari ketiga lokasi TPA rekomendasi di atas, Kelurahan yang paling layak untuk dijadikan lokasi TPA berada di Kelurahan Gondoriyo Kecamatan Ngaliyan. Kata Kunci : TPS, TPA, Standar Nasional Indonesia (SNI), Sistem Informasi Geografis (SIG) AbstractUntil now, Semarang’s Shelter Garbage (TPS) has run its function properly. However, there are still existing TPS located in locations that are considered less strategic to serve as TPS location. Therefore, it is necessary to evaluate for the suitability of the TPS location and run an analysis for the existing container capacity. In addition, the age of the TPA of Jatibarang currently are not expected to be fit to accommodate garbage that are collected from all over the city, it is necessary to find an alternative for a land to be used as a new location for the TPA. By leveraging the capabilities of Geographic Information System we analyze the distribution of the TPS that includes variables such as accessibility, TPA placement, and the dominant activity of the TPA garbage, as well as looking for a strategic location for a new TPA by reference SNI 19-3241-1994’s reference. The survey results revealed that there are 60 TPS spread in Pedurungan District, East Semarang District, Central Semarang District and Western District of Semarang. After analyzing, the results shows that TPS has met the criteria in the assessment of general feasible with some suggestions for improvements for the location of the TPS located at the edge of river or TPS that has narrow access road and the amount of container that is still not enough to meet the solid waste in some TPS location. Meanwhile for recommendation of TPA location, there are three decent area that suitable for the new TPA, located in the Wonoplumbon Village, Gondoriyo Village, and Bamban Kerep Village. From the three recommended TPA location above, the most eligible Village's for TPA location is in the Ngaliyan Subdistrict of Gondoriyo Village.Keywords : TPS, TPA, Geographic Information System (GIS)

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue