cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS NILAI EKONOMI KAWASAN MENGGUNAKAN TRAVEL COST METHOD (TCM) DAN CONTINGENT VALUATION METHOD (CVM) UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN DENGAN SIG (Studi Kasus : Taman Wisata Kopeng, Kabupaten Semarang) GETMA LAVEMIA; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (937.815 KB)

Abstract

Kabupaten Semarang mempunyaikeberagaman jenis wisata yang disuguhkan dalam kelestarian alam dan lingkungan. Di sana terdapat beberapa Obyek Wisata yang menarik untuk dikunjungi seperti Taman Wisata Kopeng sebagai tempat berpetualang yang di kelilingi oleh wahana-wahana menarik lainnya.Sektor pariwisata di Kabupaten Semarang memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan daerah. Potensinya dalam peningkatan pendapatan daerah dan pemberdayaan masyarakat sangatlah besar. Berdasarkanhal tersebut maka diperlukan  suatu peta Zona Nilai EkonomiKawasan (ZNEK) pada lokasi ini untuk mengetahui nilai ekonomi dan Willingness To Pay atau keinginan pengunjung untuk membayar dimana akan mempengaruhi nilai kemanfaatan lokasi wisata tersebut bagi  masyarakat dari adanya kawasan tersebut.Metode penarikan responden yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah non probabilitysampling dengan teknik sampling insidental, yaitu responden yang ditemui secara kebetulan datang berkunjung di Taman Wisata Kopeng. Metode pengolahan data yang digunakan adalah regresi linear berganda kemudian perhitungan dengan perangkat lunak Maple 17 dengan menggunakan data TCM sebanyak 100 sampeluntuk menentukan nilai penggunaan langsung dan data CVMsebanyak 100 sampel untuk menentukan nilai keberadaan sehingga dapat digunakan untuk pembuatan Peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan. Selanjutnya dilakukan survei toponimi untuk pembuatan Peta Utilitas. Dalam penelitian tugas akhir ini, uji asumsi klasik menunjukkan semua data berdistribusi normal, tidak terjadi heteroskedastisitas, terbebas dari autokorelasi dan tidak memiliki multikolineritas. Uji validitas dan reliabilitas menunjukan hasil valid dan reliabel pada model yang digunakan. Hasil perhitungan nilai total ekonomi didapatkan nilai DUV sebesar Rp. 379.774.061.600,-Nilai EV sebesar Rp. 41.370.407.830,- sehingga diperoleh nilai total ekonomi Taman Wisata Kopeng sebesar Rp421.144.469.400,-.
PENGOLAHAN DATA GPS MENGGUNAKAN SOFTWARE GAMIT 10.6 DAN TOPCON TOOLS V.8 PADA PENGUKURAN DEFORMASI BENDUNGAN JATIBARANG TAHUN 2015 Yogi Wahyu Aji; Bambang Sudarsono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.158 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Bendungan adalah suatu tembok penahan air yang dibentuk dari berbagai batuan dan tanah. Bendungan juga merupakan salah satu sarana multifungsi yang memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia. Suatu bangunan jika mendapat tekanan akan mengalami perubahan dimensi atau bentuk. Akibat gaya tekanan ini maka tubuh bendungan kemungkinan akan dapat mengalami deformasi. Maka diperlukan suatu bentuk pemeliharaan dan perawatan yang memadai guna menghindari kerusakan pada bendungan tersebut. Bentuk pemeliharaan dan perawatan tersebut salah satunya adalah dengan melakukan pemantauan deformasi pada tubuh bendungan. Pemantauan deformasi pada tubuh bendungan harus dilakukan secara berkala dan terus menerus.Penelitian ini adalah tentang pengolahan data GPS menggunakan software GAMIT 10.6 dan Topcon Tools V.8 pada pengukuran deformasi bendungan Jatibarang tahun 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan GPS dual frequency pada enam titik pengamatan bendung utama Bendungan Jatibarang. Pengolahan data pengamatan GPS menggunakan perangkat lunak GAMIT 10.6 dan Topcon Tools V.8. Pengamatan dilakukan selama tiga periode yaitu : Maret, April dan Mei 2015. Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil pengolahan data menggunakan perangkat lunak GAMIT 10.6 dan Topcon Tools V.8, serta untuk mengetahui ada tidaknya pergeseran yang signifikan pada tubuh Bendungan Jatibarang.Setelah dilakukan pengolahan data menggunakan scientific software GAMIT 10.6 didapatkan nilai perubahan koordinat dengan rata-rata nilai perubahan koordinat toposentrik 3 dimensi pada sumbu X = 1,369 ± 9,729 mm, sumbu Y = 5,642 ± 5,926 mm, dan sumbu Z= 6,417 ± 4,418 mm. Sedangkan pada Topcon Tools V.8 didapatkan nilai perubahan koordinat dengan rata-rata nilai perubahan koordinat toposentrik 3 dimensi pada sumbu X = 0,168 ± 0,467 m, sumbu Y = 0,253 ± 1,547 m, dan sumbu Z = 0,261 ± 1,108 m. Dalam penelitian ini hasil pengolahan data menggunakan scientific software GAMIT 10.6 yang dianggap benar sehingga disimpulkan bahwa tiap titik pengamatan mengalami deformasi secara numeris. Namun setelah dilakukan uji statistik dengan selang kepercayaan 95% dinyatakan bahwa keenam titik monitoring bendungan tidak memiliki pergeseran yang signifikan. Berdasarkan hasil uji statistik, dapat disimpulkan bahwa tiap titik pengamatan tidak mengalami deformasi. Kata Kunci : deformasi, GPS, GAMIT, Topcon Tools ABSTRACT                 Dam is a water-retaining wall formed from a variety of rock and soil. Dams also amultifunctional tool which has an important role in human life. A building if get the pressure will change the dimension or shape. As a result of this pressure, the body of dam may be deformed. It would require some form of maintenance and adequate care to avoid damage to the dam. Forms of maintenance and care of one of them is by monitoring the deformation in the dam body. Dam deformation monitoring should be done regularly and continuously.This research is about GPS data processing using GAMIT 10.6 and Topcon Tools V.8 software for Jatibarang dam deformation measurement on 2015. the research method is using GPS dual-frequency at six points of monitoring which located on main dam. Data processing of GPS observation using GAMIT 10.6 and Topcon Tools V.8. observation takes three period : March, April, and May 2015. The purpose of this research was to determine the result of data processing using GAMIT 10.6 and Topcon Tools V.8 and also  to determine whether there is a significant shift in the main dam of Jatibarang Dam.After data processing using GAMIT 10.6, earned value change of coordinates with the average value of three-dimensional toposentric coordinate changes on the X axis = 1.369 ± 9.729 mm, Y axis = 5.642 ±5.926 mm and Z axis = 6,417 ± 4,418 mm. While on Topcon Tools V.8, earned value change of coordinates with the average value of three-dimensional toposentric coordinate changes on the X axis = 0,168 ± 0,467 m, Y axis = 0,253 ± 1,547 m, and Z axis = 0,261 ± 1,108 m. In this research, the results of data processing using scientific software 10.6 is considered correct one. Thus concluded that each point of observation deformed numerically. However, after a statistical test with confidence interval 95% stated that the six monitoring stations, dams do not have a significant shift. Based on the results of statistical tests, it can be concluded that each point of observation is not deformed. Keyword : deformation, GPS, GAMIT, Topcon Tools *) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TAHUN 2013 DAN 2018 TERHADAP PENINGKATAN DEBIT PUNCAK SUNGAI KALIGARANG Febrina Mutiara Rosita Pane; Andri Suprayogi; LM Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.546 KB)

Abstract

ABSTRAKDAS Kaligarang adalah Daerah Aliran Sungai yang melintasi Kota Semarang, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal. DAS tersebut memiliki peran yang penting dalam pengairan ketiga wilayah tersebut. DAS ini adalah sistem pengairan utama yang akan mengontrol kondisi pengairan baik saat hujan maupun kemarau. Sistem pengairan utama harus memiliki sistem yang baik agar pengairan di daerah tersebut lancar. Kriteria sistem pengairan yang baik yaitu wilayah DAS yang memiliki daerah resapan air yang cukup untuk mengontrol air limpasan ketika hujan. DAS Kaligarang saat ini termasuk sebagai DAS kritis diakibatkan area tutupan lahan yang banyak beralih fungsi sehingga menyebabkan berkurangnya daerah resapan air dan sedimentasi semakin tahun semakin banyak, sehingga sering terjadi banjir. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap peningkatan debit maksimum Daerah Aliran Sungai Kaligarang. Klasifikasi tutupan lahan dilakukan mengacu dengan klasifikasi penutup lahan USGS dengan 8 kelas tutupan lahan. Perhitungan debit dilakukan dengan menggunakan Metode Rasionalitas yang menggunakan perbandingan antara laju masukan koefisien run off , luas dengan laju intensitas hujan. Perhitungan dilakukan per sub DAS yang dibuat dengan pendekatan digitasi trace dan mengacu dengan sistem penamaan dari BBWS Pemali Juana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tahun 2013 – 2018 pertambahan luas lahan terbesar terjadi pada kelas tutupan pemukiman sebesar 977,676 Ha dan kelas tutupan lahan yang mengalami penurunan luas terbesar adalah kelas semak sebesar 1177,439 Ha. Pada tahun 2013 – 2018 nilai koefisien run off 0,456. Perubahan nilai koefisien run off ini mengkibatkan naiknya debit puncak DAS Kaligarang sebesar 122,87 m3/detik.Kata Kunci :DAS, Debit Maksimum ,Koefisien run off, Tutupan Lahan ABSTRACTKaligarang watershed is a watershed that crosses Semarang City, Semarang Regency and Kendal Regency. The watershed has an important role in the irrigation of the three regions. This watershed is the main irrigation system that will control irrigation conditions both during rain and drought. The main irrigation system must have a good system so that irrigation in the area runs smoothly. Criteria for a good irrigation system is a watershed area that has enough water catchment areas to control runoff water when it rains. The Kaligarang watershed is currently classified as a critical watershed due to land cover areas that have changed functions a lot, causing more water catchment areas and sedimentation to decrease, so that floods often occur. This study was conducted to determine the effect of changes in land cover on increasing the maximum discharge of the Kaligarang Watershed. Land cover classification is carried out in accordance with the USGS land cover classification with 8 land cover classes. Discharge calculation is done by using the Rationality Method which uses a comparison between the run-off coefficient input rate, area and rainfall intensity rate. Calculations are performed in sub-watershed that made using the trace digitization approach and referring to the naming system of BBWS Pemali Juana. The results showed that from 2013 to 2018 the largest increase in land area occurred in the settlement cover class of 977,676 Ha and the land cover class that experienced the largest area decline was bush class of 1177,439 Ha. In 2013 - 2018 the run off coefficient was 0.456. This change in the run-off coefficient results in an increase in the peak discharge of the Kaligarang watershed by 122.87 m3 / sec.Keyword : Watershed, Maximum Discharge, Run off coefficient, Land Cover
ANALISIS PERSEBARAN BIDANG TANAH BERDASARKAN PEMANFAATAN TANAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : KECAMATAN KEDUNGKANDANG, KOTA MALANG, PROVINSI JAWA TIMUR) Rico Waskito Putro; Sawitri Subiyanto; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1676.57 KB)

Abstract

Soil is the main source of well-being and lives of the people, therefore the use of land and optimum utilization of land. Embodiments of use and optimum utilization of land can be done through the preparation of spatial plans that integrate the principles of sustainable development. Harmonizing with the land use plan should be organized in spatial planning so that every area of soil can provide optimal and sustainable benefits and cultivated in an efficient and balanced while respecting the rights of the people, it will be quickly prepared and organized when available land use maps and large-scale land use. In Article 40 of the National Land Agency Regulation No.. 4 of 2006 regulating the duties and Potential of Sub Soil Thematic Section in the Land Office is preparing a survey, mapping, maintenance and development of thematic mapping, soil potential surveys, maintenance of technical equipment and coaching officials computerized land appraiser. Thematic Mapping Section provides Thematic Maps, on the other hand measurements and surveys section provides the Land Registry Map. The second map illustrates the results so far have not shared in the ranks of the Land Office for each component in the making and has a map coordinate system and different scales, so that the information given as a result the data is still partially owned by the Land Office can not provide the information and results maximum, and mapping costs become very large.This study was conducted to obtain accurate results and a thorough map of the distribution of land parcels complete with the land use and land use especially in sub Kedungkandang complete, Malang. Land use in the District Kedungkandang mostly used for agricultural production, better utilization of land for fields registered or not registered or less have the total percentage of 55.87%. As for the land that has not been used has the smallest percentage than others, namely the extent of utilization of 0.10%Keywords: Land Use, Land Affairs, Thematic Maps, GIS.
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN SITUS RATU BOKO BERDASARKAN WILLINGNESS TO PAY MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Prambudhianto Putro Pamungkas; Abdi Sukmono; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.299 KB)

Abstract

ABSTRAK Bangunan purbakala yang tersebar di Indonesia memiliki nilai sejarah yang dapat dijadikan tujuan wisata. Salah satu bangunan purbakala dengan panorama pemandangan indah dan keunikan bentuk bangunan yang dapat dijadikan tujuan wisata adalah Situs Ratu Boko. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dibuat Peta ZNEK untuk mengetahui nilai ekonomi kawasan berdasarkan Willingness To Pay dengan  metode TCM (Travel Cost Method) dan CVM (Contingent Valuation Method) pada kawasan tersebut.Pengambilan jumlah sampel yang digunakan dalam tugas akhir ini menggunakan sampling non probability dengan teknik sampling aksidental, yaitu responden yang ditemui secara kebetulan datang berkunjung di Situs Ratu Boko. data yang digunakan berjumlah 70 responden untuk TCM dan untuk CVM berjumlah 90 responden, serta 10 responden tambahan untuk TCM dan CVM yang digunakan untuk validasi model TCM dan CVM. Metode pengolahan data menggunakan analisis regresi linear berganda meggunakan Microsoft Excel dan perhitungan menggunakan Maple 17. Pengujian uji asumsi klasik, validitas dan reliabilitas, uji asumsi  menggunakan SPSS 23 dan dilakukan validasi model dengan menggunakan  Microsoft Excel.Dalam penelitian tugas akhir ini menunjukan, hasil uji asumsi klasik yang dilakukan pada semua data berdistribusi normal, tidak terjadi heteroskedastisitas, terbebas dari autokorelasi dan tidak terdapat multikolineritas. Uji validitas dan reliabilitas menunjukan hasil valid dan reliabel pada model yang digunakan. Pada validasi model, hasil pengujian menunjukan nilai RMSE sebesar 0,087 pada TCM Domestik, pada TCM Mancanegara sebesar 0,073 dan 0,098 pada CVM. Hasil perhitungan nilai total ekonomi didapatkan nilai DUV Domestik sebesar Rp 454.200.000.100, nilai DUV Mancanegara sebesar Rp 3.889.560.053.000,-nilai EV sebesar Rp. 40.263.332.930, sehingga diperoleh nilai total ekonomi objek wisata Situs Ratu Boko untuk domestik sebesar Rp 494.463.333.030 dan mancanegara sebesar Rp 3.929.823.385.930.
KAJIAN PERUBAHAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TERHADAP PERTUMBUHAN INDUSTRI BERBASIS GEOSPASIAL (Studi Kasus : Kabupaten Gresik) Kemas Abdul Fatah; Arief Laila Nugraha; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.235 KB)

Abstract

Abstrak Pesatnya pembangunan menyebabkan tingginya perubahan pola penggunaan lahan. Lahan yang dulunya merupakan lahan kosong atau lahan tidak terbangun, banyak mengalami perubahan fungsi menjadi lahan terbangun. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji dampak perkembangan industri terhadap perubahan lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Analisis perubahan penggunaan lahan ini dilakukan dengan penggambaran peta lahan RTH menggunakan Citra Quickbird tahun 2010 dan Citra Google Earth tahun 2013 sebagai perbandingannya, kemudian untuk mendapatkan analisis perubahan lahan digunakan metode SIG.Berdasarkan analisis Citra Quickbird tahun 2010 dan Citra Google Earth tahun 2013 didapatkan luas lahan RTH Kabupaten Gresik sebesar 23.036,039 Ha atau sekitar 23 % pada tahun 2010, sedangkan pada tahun 2013 luas lahan RTH sebesar 22.863,420 Ha atau sekitar 22 % yang artinya RTH di Kabupaten Gresik mengalami perubahan sebesar 172,619 Ha atau sekitar -1% dalam kurun waktu 2010 sampai dengan 2013. Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau, industri, SIG, Quickbird, Google Earth. Abstract Rapid construction leads to high changes in land use. The function of land once used as vacant or undeveloped land turns into developed land. This research is aimed to observe the impact of industrial development toward the change of green open space land. The analysis upon the green open space usage is done through green space cartography using Quickbird imagery in 2010 and Google Earth imagery in 2013 as the comparison, GIS is then utilized to gain the analysis of the land change-over.Based on Quickbird imagery analysis in 2010 and Google Earth imagery in 2013, it was resulted that the amount of green open space of Gresik Regency was 23,036.039 Hectares or about 23% in 2010. Meanwhile, in 2013 the green open space was at the amount of 22,863.420 Hectares or about 22% of the total city region which meant that the area of green open space in Gresik Regency changed 172.619 Hectares or about -1% from 2010 to 2013. Keyword: Green Open Space Land, industry, SIG, Quickbird, Google Earth.             *) Penulis PenanggungJawab
PEMETAAN RISIKO TANAH LONGSOR KABUPATEN SEMARANG BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Sabda Lestari; Arief Laila Nugraha; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1213.388 KB)

Abstract

Kabupaten Semarang merupakan salah satu daerah di provinsi Jawa Tengah yang termasuk dalam ketegori rawan bencana longsor. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang bencana yang sering terjadi di Kabupaten Semarang yakni berupa tanah longsor, kekeringan, angin puting beliung, dan banjir. Pada tahun 2016 telah terjadi 199 kejadian bencana yang rinciannya yaitu bencana kebakaran  40 kejadian, 87 bencana tanah longsor, 26 bencana banjir, 27 bencana angin putting beliung, dan 19 bencana lainnya. Pada tahun 2017 telah terjadi 327 kejadian bencana diantaranya yaitu 43 bencana kebakaran, 30 bencana angin puting beliung, 158 bencana longsor, 19 bencana banjir, 42 bencana kekeringan serta 35 bencana lainnya. Berdasarkan data kejadian bencana tahun 2016 dan tahun 2017 dapat dilihat bahwa kejadian bencana meningkat secara drastis terutama bencana longsor yang meningkat dari 87 kejadian menjadi 158 kejadian. Oleh sebab itu, maka dibutuhkan pemetaan risiko bencana tanah longsor sebagai upaya mitigasi bencana di Kabupaten Semarang. Pemetaan risiko bencana tanah longsor berbasis Sistem Informasi Geografis mengunakan software GIS dengan metode pembobotan dan tumpang susun (overlay) antar parameter penyusunnya.  Metode pembobotan pada pemetaan ancaman tanah longsor berdasarkan Permen PU No. 22/PRT/M/2007, pemetaan kerentanan dan kapasitas tanah longsor berdasarkan pada telaah dokumen dan pembuatan peta risiko menggunakan perkalian matriks VCA (Vulnerability Capacity Analysis) sesuai dengan PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa wilayah dengan tingkat risiko tinggi terhadap bencana tanah longsor seluas 7.329,831 Ha atau sebesar 7,20 % dari wilayah Kabupaten Semarang, kemudian seluas 21.785,920 Ha menunjukan tingkat risiko sedang atau sebesar 21,40 % dari wilayah Kabupaten Semarang dan seluas 64.561,798 Ha atau 63,43 % dari wilayah Kabupaten Semarang menunjukan risiko rendah, sedangkan sisanya yaitu seluas 8102,6 Ha atau 7,96 % wilayah Kabupaten Semarang tidak terkelaskan.
ANALISIS KETELITIAN PLANIMETRIK ORTHOFOTO PADA TOPOGRAFI PERBUKITAN DAN DATAR BERDASARKAN KUANTITAS TITIK KONTROL TANAH Hanif Arafah Mustofa; Yudo Prasetyo; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.602 KB)

Abstract

ABSTRAK Data dasar yang digunakan untuk pekerjaan pemetaan skala besar pada umumnya adalah citra satelit dengan resolusi spasial yang tinggi. Salah satu alternatif untuk pengadaan data dasar dalam pemetaan skala besar adalah metode fotogrametri, di mana dalam beberapa tahun ini metode fotogrametri sedang berkembang pesat dengan adanya teknologi pesawat tanpa awak. Salah satu produk yang dihasilkan dari metode ini adalah orthofoto. Orthofoto merupakan data dasar yang bisa digunakan untuk pemetaan skala besar karena memberikan gambaran permukaan bumi. Elemen terpenting yang perlu diperhatikan dalam pembuatan orthofoto ini adalah ketelitian planimetrik. Berdasarkan penelitian terdahulu, faktor yang paling berpengaruh terhadap ketelitian planimetrik orthofoto adalah Titik Kontrol Tanah (TKT).Penelitian ini akan dianalisis ketelitian planimetrik orthofoto berdasarkan kuantitas TKT. Kuantitas yang dimaksud di sini meliputi banyaknya TKT dan pola persebaran antar TKT tersebut. Banyaknya TKT yang digunakan pada penelitian ini adalah 5 TKT dan 10 TKT. Pola persebaran antar TKT tersebut meliputi pola merapat dan pola menyebar di mana jarak antar TKT pada pola merapat merupakan setengah dari pola menyebar. Kemudian, penelitian ini dilakukan pada topografi perbukitan dan datar. Sehingga didapatkan desain dengan 8 model berdasarkan jumlah TKT, pola persebaran TKT, dan variasi topografi.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh secara signifikan terhadap ketelitian planimetrik orthofoto adalah pola persebaran TKT. Pola persebaran TKT dengan pola menyebar, di mana persebaran antar TKT yang terletak dekat dengan batas area penelitian merupakan orthofoto yang memiliki ketelitian yang tinggi ditunjukkan dengan nilai RMSE yang kecil.Kata Kunci : Ketelitian Planimetrik, Orthofoto, Titik Kontrol Tanah  ABSTRACT The data base used for large scale mapping generally is satellite imagery with high spatial resolution. One of the alternatives for large scale mapping is photogrammetry method, when in recent years of photogrammetry method is growing rapidly with Unmanned Arerial Vehicle (UAV) technology. One of the products to result from this method is orthophoto. Orthophoto is the basic data that can be used for large scale mapping for their representation of the earth’s surface. The most important element to consider in making this orthophoto is planimetric accuracy. Based on earlier research, the factor that most influence the planimetric accuracy of orthophoto is Ground Control Point (GCP).This research will be analyzed planimetric accuracy of orthophoto based on the quantity of GCP. The quantity referred to number of GCP and distribution pattern of GCP. Number of GCP used in this research are 5 GCPs and 10 GCPs. Distribution pattern GCP include close GCP and spread GCP which the distance between of close GCP is a half from spread GCP. Then, this research will be held on hill and flat topography. So we get 8 models based on quantity of GCP, distribution of GCP and variation on topography.The result in this research indicated that the factors that most significantly affect the planimetric accuracy of orthophoto is distribution of GCP. The distribution of GCP that spread pattern of GCP which of each GCP is close to boundary of the research area that orthophoto is high accuracy demonstrated with a small of RMSE values.Keywords : Ground Control Point, Orthophoto, Planimetric Accuracy*) Penulis, PenanggungJawab
APLIKASI PERSEBARAN OBJEK WISATA DI KOTA SEMARANG BERBASIS MOBILE GIS MEMANFAATKAN SMARTPHONE ANDROID Muhammad Rifqi Andikasani; Moehammad Awaluddin; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.667 KB)

Abstract

Abstrak Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah. Dengan luas sekitar 373,70 Km2, Kota Semarang dapat digolongkan sebagai kota metropolitan di Provinsi Jawa Tengah. Sebagai ibukota provinsi tentu Kota Semarang menjadi parameter kemajuan bagi kota-kota lain di Provinsi Jawa Tengah.Dengan status sebagai kota metropolitan yang di penuhi oleh berbagai fasilitas dan objek wisata menarik, Kota Semarang menjadi salah satu tujuan wisata bagi para wisatawan. Dalam hal pariwisata, Kota Semarang sedang melakukan pengembangan dan promosi wisata dengan dicanangkannya program “Ayo Wisata ke Semarang” yang dimulai sejak akhir tahun 2011 lalu. Tentunya Pemerintah Kota Semarang telah menyiapkan beberapa objek wisata unggulan yang tersebar di sekitar Kota Semarang.Informasi mengenai objek wisata menuntut akan adanya ketersediaan sistem informasi yang tepat, salah satunya melalui  sistem informasi geografis berbasis mobile GIS dengan memanfaatkan smartphone Android. Dengan semakin meningkatnya penggunaan smartphone Android oleh masyarakat, maka dibuat sebuah aplikasi yang mengkombinasikan teknologi GPS (Global Positioning System) dan LBS (Location Based Service). Pembuatan aplikasi ini menggunakan App Inventor dengan bahasa pemrograman visual block, serta memanfaatkan Google Maps.Aplikasi mobile GIS persebaran objek wisata di Kota Semarang ini dapat dijadikan panduan wisata karena dilengkapi dengan fitur-fitur seperti posisi objek wisata, arah kemudi, dan informasi seputar objek wisata di Kota Semarang. Selain itu aplikasi ini dilengkapi dengan berbagai informasi pendukung pariwisata seperti sarana transportasi, rumah sakit, hotel, dan beberapa informasi lainnya. Kata Kunci : Kota Semarang, wisata, Aplikasi, GIS, Mobile GIS, GPS, LBS, Android Abstract Semarang City is the capital of Central Java Province. With an area of 373.70 Km2 Semarang City can be classified as a metropolitan city in Central Java. As the provincial capital Semarang City would be progress parameters for other cities in Central Java .Information about attractions will claim the availability of more precise information, one of them through based mobile - geographic information system GIS use Android smartphone . With the increasing use of Android smartphones by society , then made an application that combines GPS (Global Positioning System) technology and LBS (Location Based Service). Manufacturing applications using App Inventor to the programming language visual block , and using Google Maps.With status as a metropolitan city that is filled by a variety of amenities and exciting attractions, Semarang City be one destination for tourists . In the case of tourism , Semarang are doing development and tourism promotion the called program "Ayo Wisata ke Semarang" which started since the end of 2011. Of course, Semarang Municipality has completed some excellent attractions spread around the city of Semarang .Mobile GIS applications of attractions in Semarang City can use as tour guide equipped with features such as the position of Attraction , directions, and information about attractions around Semarang City. The application comes with a wide range of tourism supporting information such as a means of transport , hospitals, hotels , and other information .Keywords: Semarang City , attraction, application , GIS , Mobile GIS , GPS , LBS, Android*)Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS IDENTIFIKASI DAMPAK BENCANA TANAH LONGSOR DENGAN MENGGUNAKAN UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) (Studi Kasus : Kelurahan Ngesrep, Kecamatan Banyumanik) Reyhan Azeriansyah; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.878 KB)

Abstract

ABSTRAK Tanah longsor merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di Indonesia terutama di wilayah Semarang yang secara geologi memiliki bentuk topografi berbukit. BPBD Kota Semarang tahun 2016 mencatat bahwa ada 22 kelurahan yang tergolong wilayah siaga bencana longsor yang salah satunya adalah Kelurahan Ngesrep. Dikutip dari Tribun Jateng, 2016, di wilayah Bukitsari, Kelurahan Ngesrep telah terjadi bencana tanah longsor pada tanggal 4 Oktober 2016 yang menimbulkan korban jiwa dan juga kerugian material. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi dampak bencana tanah longsor untuk membantu dalam pengambilan keputusan dan meminimalkan terjadinya bencana. Salah satu proses identifikasi dampak tanah longsor adalah dengan memanfaatkan teknologi pesawat tanpa awak (UAV) yang mana dalam proses pengidentifikasian dapat mencakup wilayah yang luas, murah dari segi biaya dan tidak membahayakan jiwa manusia.Proses identifikasi dilakukan memanfaatkan teknologi UAV untuk mengidentifikasi terhadap wilayah terdampak melalui hasil orthofoto UAV. Proses identifikasi dilakukan untuk mengetahui luas wilayah dan penggunaan lahan yang terdampak. Selain itu dilakukan analisis risiko bencana tanah longsor terhadap wilayah terdampak melalui proses kajian risiko bencana tanah longsor BNBP No.2 Tahun 2012 dan analisis penurunan dan kenaikan muka tanah terhadap wilayah terdampak menggunakan metode penginderaan jauh yakni menggunakan metode DInSAR dengan citra Sentinel 1-A.Dari hasil pengamatan UAV menghasilkan orthofoto memenuhi ketelitian peta dasar kelas 1 pada skala 1:1000 baik secara horizontal maupun vertikal berdasarkan Peraturan Kepala BIG No.15 Tahun 2014 yang digunakan untuk proses identifikasi dampak. Berdasarkan hasil klasifikasi wilayah terdampak bencana tanah longsor dapat diidentifikasi luas wilayah pertama yang terdampak bencana tanah longsor sebesar 1026,339  m² dan luas wilayah kedua yang terdampak bencana tanah longsor sebesar 521 m². Dari klasifikasi wilayah terdampak ini dapat diketahui pula zonasi risiko bencana tanah longsor, penurunan kenaikan muka tanah yang terjadi di wilayah terdampak yang selanjutnya dilakukan validasi untuk diketahui validitas dari hasil yang didapatkan melalui survei lapangan, telaah dokumen dan diskusi dengan pihak Kelurahan Ngesrep.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue