cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS PERUBAHAN NILAI TANAH AKIBAT AKTIVITAS PENAMBANGAN BATU KAPUR DI KECAMATAN GUNEM KABUPATEN REMBANG Fanny Rachmawati; Bambang Sudarsono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.458 KB)

Abstract

Kecamatan Gunem adalah sebuah Kecamatan yang terdapat di Kabupaten Rembang. Kecamatan ini merupakan kecamatan yang paling kaya akan bahan tambangnya, hal ini dibuktikan dengan adanya aktivitas penambangan batu kapur dan adanya wacana akan dibangunnya pabrik semen di wilayah tersebut. Kondisi tersebut dapat menjadi pemicu perubahan penggunaaan lahan sehingga berdampak pada perubahan nilai tanah, hal ini akan berlangsung secara terus menerus sejalan dengan semakin meningkatnya kegiatan penambangan di daerah tersebut. Penelitian ini awalnya dilakukan pembuatan peta zona nilai tanah Kecamatan Gunem dengan software Aplikasi Pengolahan Data ArcView 3.3 versi BPN untuk tahun 2006, 2010 dan 2012. Langkah selanjutnya peta di overlay dengan software ArcGis 9.3 antara peta ZNT tahun 2006 dengan 2010 yang menghasilkan peta perubahan harga tanah sebelum adanya penambangan dan overlay antara peta ZNT 2010 dengan 2012 yang menghasilkan peta perubahan harga tanah sesudah adanya penambangan. Setelah itu dilakukan analisis dengan menggunakan software SPSS versi 13 untuk mengetahui perbedaan nilai tanah dan pola sebar harga tanah. Hasil Penelitian menunjukan dalam rentang waktu tahun 2006 sampai 2010 dan 2010 sampai 2012 perubahan harga tanah terbesar terjadi pada zona pemukiman, sedangkan perubahan harga tanah terkecil terjadi zona pertanian, sedangkan dari uji perbedaan rata-rata kenaikan nilai tanah oleh pasar sebelum dan sesudah adanya aktivitas penambangan didapat nilai signifikansi sebesar 0.000 maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan rata-rata kenaikan nilai tanah oleh pasar sebelum dan sesudah adanya aktivitas penambangan. Untuk pola sebar harga tanah setelah adanya penambangan batu kapur berdasarkan uji ANOVA dapat disimpulkan harga pasar pada zona pemukiman lebih tinggi dibanding dengan zona sawah baik pada lokasi yang dekat dengan tambang maupun yang jauh dari tambang. Kata Kunci : Perubahan, harga tanah, penambangan, analisis statistik.
DESAIN APLIKASI MOBILE INFORMASI PEMETAAN JALUR BATIK SOLO TRANS BERBASIS ANDROID MENGGUNAKAN LOCATION BASED SERVICE Rachmawati, Anisa; Nugraha, Arief Laila; Awaluddin, Moehammad
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1356.712 KB)

Abstract

ABSTRAK                Kota Surakarta merupakan salah satu kota yang menjadi tujuan para wisatawan untuk berwisata, hal itu dikarenakan banyaknya acara adat dari Keraton Surakarta yang menarik perhatian para wisatawan. Akibat banyaknya wisatawan yang datang dan masyarakat yang menetap disana, Pemerintahan Kota Surakarta berinisiatif menggunakan Bus Rapid Trans berlabel Batik Solo Trans (BST) sebagai komoditi dalam mengurangi padatnya arus lalu lintas di beberapa titik di Kota Surakarta karena angkot dan minibus yang tidak memenuhi standar keselamatan dari kendaraan yang digunakan untuk mengangkut penumpang belum bisa menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan.Penelitian ini dilakukan untuk membuat pemetaan jalur BST yang ditampilkan di aplikasi mobile berbasis android menggunakan software Android Studio yang terintegrasi dengan Google Maps API dan Database SQLite untuk pembuatan data halte dan koridor serta rute tiap koridor yang dilalui BST. Fungsi yang dimanfaatkan pada aplikasi ini adalah fungsi Location Based Service sehingga pengguna  aplikasi dapat dengan mudah menemukan halte terdekat dari lokasi pengguna untuk menuju lokasi halte tujuan.Hasil dari penelitian ini adalah aplikasi  BSTrans yang dapat digunakan pada smartphone berbasis Android. Pada aplikasi ini berisi informasi   mengenai BST dan  peta BST yang dapat menunjukan rute dari halte terdekat ke lokasi halte tujuan. Dengan aplikasi ini diharapkan dapat  memudahkan pengguna BST dan menarik minat para wisatawan dan   masyarakat  untuk beralih menggunakan transportasi umum BST sehingga dapat mengurangi tingkat kemacetan di Kota Surakarta. Kata Kunci:  Android, BST, BSTrans, Surakarta, Android Studio   ABSTRACT Surakarta City is one of the cities that becomes tourist destination for a trip, it is because many traditional events of the Keraton Surakarta which attract tourists. Due to the many tourists who come and the people who live there, the City Government of Surakarta initiative using Bus Rapid Trans labeled Batik Solo Trans (BST) as a commodity in reducing the density of traffic at some point in Surakarta for public transportation and minibuses that do not full fill the safety standards of vehicles used for transporting passengers can not be a solution to overcome bottlenecks.This study was conducted to map the path BST shown in android basically mobile applications using Android Studio software that integrated with Google Maps API and the SQLite database for data generation stop and corridors and routes each corridor that traversed BST. Function which used in this application is a Location Based Service functions, so that users can be easily find the application stops closest to the user's location to the destination bus stop locations.The results of this study are BSTrans application that can be used on an Android-based smartphone. This application contains information about BST and BST map to show the route from the nearest bus stop to the destination bus stop locations. This application is expected to allow users BST and attracts tourists and the public to switch  using public transport BST so as to reduce the level of congestion in Surakarta. Keywords:  Android, BST, BSTrans, Surakarta, Android Studio
IDENTIFIKASI POTENSI AIR TANAH BERBASIS PENGINDRAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : KABUPATEN KENDAL) IFAN ADI PRATAMA; Abdi Sukmono; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1371.096 KB)

Abstract

Air tanah merupakan bagian air di alam yang terdapat di bawah permukaan tanah. Jumlah air tanah yang tersimpan di bumi memiliki jumlah yangtidak lebih dari 1%. Pemanfaatan air tanah oleh masyarakat semakin berkembang di berbagai sektor. Kabupaten Kendal merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terkena dampak kekurangan air tanah. Pemetaan air tanah perlu dilakukan untuk mengetahui potensi air tanah di suatu daerah sebagai tindakan awal dalam upaya identifikasi dan pencarian sumber air demi memenuhi kebutuhan masyarakat.Identifikasi potensi air tanah di Kabupaten Kendal dalam penelitian ini menggunakan data Pengindraan Jauh dan Sistem Informasi Geografis. Aplikasi Pengindraan Jauh digunakan untuk mengidentifikasi indeks vegetasi  menggunakan algoritma Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Aplikasi Sistem Informasi Geografis dilakukan untuk mengidentifikasi potensi air tanah melalui tumpang tindih dengan metode kuantitatif berjenjang terhadap parameter indeks vegetasi, kelerengan, jenis tanah, jenis batuan, curah hujan dan penggunaan lahan sehingga didapat sebaran potensi akuifer serta tumpang tindih sebaran potensi akuifer terhadap parameter cekungan air tanah.Hasil dalam penelitian ini, didapatkan bahwa potensi air tanah di Kabupaten Kendal terdiri dari beberapa kelas potensi air tanah yaitu tidak berpotensi, rendah, sedang, dan tinggi. Potensi air tanah di Kabupaten Kendal didominasi oleh potensi air tanah sedang seluas 48.506,330 Ha, tidak berpotensi seluas 35.635,907 Ha, potensi air tanah tinggi seluas 15.443,343 Ha, dan potensi air tanah rendah seluas 1.152,785 Ha. Berdasarkan validasi menggunakan 41 data lapangan diperoleh 34 data sesuai dan 7 data tidak sesuai sehingga diperoleh tingkat akurasi sebesar 82,93%.
ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN LUASAN MANGROVE AKIBAT PENGARUH LIMPASAN SEDIMENTASI TERSUSPENSI DENGAN METODE PENGINDERAAN JAUH (Studi Kasus : Segara Anakan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah) Fatimah Putri Utami; Yudo Prasetyo; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.559 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia sebagai negara maritim memiliki garis pantai sepanjang 99.093 kilometer dan 70% dari luasan total wilayah nusantara terdiri atas lautan dengan daerah-daerah sekitar pesisir tergenang air yang dipengaruhi oleh adanya pasang surut air laut. Kawasan pesisir tersebut sangat berpotensial untuk menunjang kemakmuran kehidupan manusia, salah satunya pengembangan vegetasi pesisir dan area konservasi ekosistem hutan mangrove yang dapat berkontribusi besar sebagai paru-paru dunia. Konsentrasi hutan mangrove terbesar Kabupaten Cilacap terletak di kawasan estuari Segara Anakan. Adanya limpasan sedimentasi dari daerah hulu ke Segara Anakan tersebut menimbulkan dampak positif bagi keberadaan mangrove dikarena munculnya tanah timbul yang berlumpur sehingga bepotensi menjadi habitat mangrove. Perkembangan teknologi penginderaan jauh yang sangat pesat dapat dimanfaatkan sebagai monitoring kualitas lingkungan seperti kontrol degradasi hutan mangrove, selain itu dapat me-monitoring perubahan kualitas perairan akibat limpasan sedimentasi tersuspensi dari bagian hulu sungai. Pada penelitian ini, dilakukan identifikasi hutan mangrove dan ekstrasi nilai konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) menggunakan citra satelit Landsat multitemporal yaitu citra satelit Landsat 5 TM tahun 1994,  Landsat 7 ETM+ tahun 2003, Landsat 8 OLI TIRS tahun 2015. Metode klasifikasi citra untuk mengidentifikasi hutan mangrove menggunakan klasifikasi terbimbing dengan lima kelas, yaitu vegetasi mangrove, non mangrove, lahan, pemukiman dan hidrografi. Sedangkan pemisahan perairan dan daratan untuk mendapatkan morfologi laguna Segara Anakan menggunakan klasifikasi terbimbing dengan kombinasi band serta untuk mengekstrasi konsentrasi TSS digunakan algoritma Syarif budiman (2004) dan Parwati (2006)Hasil analisis menunjukkan luas hutan mangrove di Kawasan Segara Anakan Kabupaten Cilacap pada tahun 1994 sebesar 7955 Ha, tahun 2003 seluas 6333 Ha serta pada tahun 2015 seluas 5796 Ha, Selama kurun waktu tahun 1994-2003 abrasi hutan mangrove sebesar 2756 Ha, akresi hutan mangrove 1134 Ha, sedangkan pada rentang tahun 2003-2015 terjadi abrasi hutan mangrove sebesar 2163 Ha, akresi hutan mangrove 1626 Ha. Selain itu hasil penelitian membuktikan bahwa besaran konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) dari ekstrasi data citra satelit yang diolah menggunakan Algoritma Parwati dan Syarif Budiman berpengaruh secara signifikan positif terhadap data hasil pengukuran Total Suspended Solid (TSS) di lapangan dengan tingkat signifikansi 5%.Kata Kunci : Mangrove, Landsat, Supervised Classification, Total Suspended Solid (TSS), Segara AnakanABSTRACT Indonesia as maritime country has a coastline along the 99.093 kilometer and 70% of the total area of the archipelago is made up of the ocean with surrounding coastal areas flooded that are affected by the tide. The coastal area is very potential to support the prosperity of the human life, one being the development of coastal vegetation and mangrove forest ecosystem conservation areas that can contribute as the lungs of the world. The density of Mangrove forests is located in estuary area Segara Anakan of Cilacap. Runoff sedimentation in the upper Segara Anakan gave positive impact for the existence of mangrove vegetation because arise of delta muddy its potentialy become mangrove habitat. The development of remote sensing technologies very rapidly that can be utilized as monitoring environmental quality control such as degradation of the mangrove forests, besides able to monitoring changes in the quality of waters due to runoff and sedimentation are suspended from the upper reaches of the river.In this study, the mangrove forests identification and the extraction of concentration Total Suspended Solid (TSS) value using satellite imagery Landsat multitemporal such as Landsat 5 TM 1994, Landsat 7 ETM + in 2003, Landsat 8 OLI TIRS 2015. Image classification methods for identifying mangrove forests using the supervised classification with five classes. There are non mangrove vegetation, mangroves, land, residential and hydrographic. As for the separation of the waters and the mainland to get the lagoon morphology of Segara Anakan also uses the supervised classification with band combinations as well as to extract TSS concentrations using algorithms Syarif Budiman (2004) and Parwati (2006).The results of this research showed that the extensive mangrove forests in Segara Anakan, Cilacap in 1994 is around 7955 Ha, in 2003 is around 6333 Ha and in 2015 is around 5796 Ha, during the years 1994-2003 abrasion mangrove forests of 2756 Ha, accretion of mangrove forests 1134 Ha, whereas in the 2003-2015 ranges occur abrasion of 2163 Ha of mangrove forests, mangrove forest accretion 1626 Ha. Moreover, the research results proved that the massive concentration of Total Suspended Solid (TSS) from the extraction of satellite image data is processed using algorithms Parwati and Sharif Budiman have significant influence and positively to measurement data Total Suspended Solid (TSS) in the field with a significance level of 5%.Keywords:  Mangrove, Landsat, Supervised Classification, Total Suspended Solid (TSS), Segara Anakan*) Penulis, PenanggungJawab
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT DAERAH PROVINSI DKI JAKARTA Aisyah Arifin; Moehammad Awaluddin; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.534 KB)

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan UU No.23 Tahun 2014, penentuan dan penegasan batas pengelolaan wilayah laut merupakan hal yang penting untuk dilakukan suatu daerah, karena berkaitan dengan kewenangan dalam mengelola sumber daya dan ruang laut yang berada di wilayahnya. Ketentuan tentang penegasan batas pengelolaan wilayah laut daerah telah diatur dalam Permendagri No.141 Tahun 2017. Berdasarkan peraturan ini, garis pantai memegang peranan penting dalam melakukan penetapan dan penegasan batas di laut, tetapi garis pantai suatu wilayah dapat mengalami perubahan karena berbagai faktor, misalnya abrasi, sedimentasi, penambangan pasir, dan reklamasi. Oleh karena itu, penelitian tentang pengaruh perubahan garis pantai terhadap batas pengelolaan wilayah laut suatu daerah perlu dilakukan. Penelitian tugas akhir ini mengkaji tentang pengaruh perubahan garis pantai terhadap batas pengelolaan wilayah laut Provinsi DKI Jakarta. Data yang digunakan pada penelitian ini, yaitu data pengamatan pasang surut air laut untuk menentukan citra satelit yang akan digunakan, data citra satelit Landsat untuk mengamati perubahan garis pantai, dan peta RBI sebagai peta dasar. Penentuan batas pengelolaan wilayah laut dilakukan secara kartometrik. Penarikan garis batas dilakukan dengan menerapkan prinsip samajarak untuk wilayah laut Jakarta utara yang berdampingan dengan Provinsi Banten dan Jawa Barat dan prinsip garis tengah untuk wilayah laut Kepulauan Seribu yang berhadapan dengan Provinsi Banten dan Jawa Barat. Hasil pengamatan citra satelit Landsat antara tahun 2009 dan 2019 menunjukkan bahwa terjadi perubahan garis pantai di wilayah pantai Provinsi DKI Jakarta yang diakibatkan oleh proses akresi dan abrasi. Perubahan garis pantai ini menyebabkan pergeseran pada garis batas pengelolaan wilayah laut, sehingga luas pengelolaan wilayah lautnya pun mengalami perubahan. Dalam kurun waktu 10 tahun, luas batas pengelolaan wilayah laut Provinsi DKI Jakarta megalami penambahan sebesar 3.119,017 hektar atau 0,531%. Kata Kunci : batas laut, citra satelit, garis pantai, Landsat, kartometrik, metode garis tengah, metode samajarak ABSTRACTBased on Law of the Republic Indonesia number 23 of 2014, delimitation and demarcation of the marine managed area boundary is an important thing to be done by every region in Indonesia, because it is related to the authority in managing the resources and the space in its marine territory. The guidelines about demarcation of the marine managed area boundary have been regulated in Regulation of Ministry of Home Affairs number 141 of 2017. Based on this regulation, the coastline has an important role in realizing delimitation and demarcation of the marine managed area boundary, but it may change due to various factors, such as abrasion, sedimentation, sand mining, and reclamation. Therefore, the study about the impact of coastline changes on the marine managed area boundary is needed. This study examines the impact of coastline changes on the marine managed area boundary of DKI Jakarta Province. This study used tidal observation data to determine the satellite images that will be used in the study, Landsat images data to observe the coastline changes, and RBI map as base map. The delimitation of the marine managed area boundary was carried out by using cartometrics technique. Equidistance principle was applied for the sea area of North Jakarta which adjacent to Banten and West Java Provinces and median line principle was applied for the sea area of the southern part of Seribu Island which have overlapping marine managed area boundary with Banten and West Java Provinces. The result of Landsat images observation in 2009 and 2019 show that the coastline changes occur in the coastal area of DKI Jakarta Province due to accretion and abration. It causes a shift on the boundary line of the sea, so that the total area of the marine managed area boundary has changed. Within 10 years, the total area of the marine managed area boundary of DKI Jakarta Province has increased by 3.119,017 hectares or 0,531%. Keywords: coastline, cartometrics, equidistance method, Landsat, marine boundary, median line method, satellite imagery
PEMBUATAN PETA JALUR PENDAKIAN GUNUNG MERBABU Andriyana Lailissaum; Sutomo Kahar; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.14 KB)

Abstract

Mendaki gunung adalah kegiatan yang cukup berbahaya. Tidak sedikit orang yang telah meninggal di gunung. Sebelum mendaki gunung kita harus mempersiapkan perlengkapan, fisik, mental dan informasi tentang gunung kita akan kita daki. Kegiatan pembuatan peta jalur pendakian gunung merbabu ini dilakukan untuk menyajikan informasi yang lengkap, akurat dan sistematis tentang pendakian gunung merbabu. Informasi ini akan ditampilkan dalam sebuah buku saku kecil yang mudah dibawa kemana-mana, termasuk mendaki gunung. Peta jalur pendakian gunung merbabu ini akan disumbangkan pada basecamp pendakian gunung setempat agar bisa digunakan sebaik mungkin untuk kegiatan pendakian gunungKata kunci : Mendaki Gunung, Gunung Merbabu, Peta jalur pendakian gunung merbabu, Buku saku pandukan mendaki gunung
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PERSEBARAN TENAGA KESEHATAN DI KOTA SEMARANG BERBASIS WEB Lutfia Pangestika; Sawitri Subiyanto; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.075 KB)

Abstract

ABSTRAK Kebutuhan akses informasi akan pelayanan kesehatan merupakan hak bagi setiap masyarakat sekaligus kewajiban bagi Negara untuk menyediakannya sesuai amanat UU kesehatan tahun 2009. Hal inilah yang menuntut informasi fasilitas kesehatan juga harus bisa diakses dengan mudah. RIFASKES (Riset Fasilitas Kesehatan) merupakan salah satu program Kementrian Kesehatan RI melalui Balitbang Kemenkes untuk memantau fasilitas kesehatan milik pemerintah diantaranya puskesmas dan rumah sakit. Pemantauan meliputi kondisi bangunan puskesmas, jenis dan kategori tingkat pelayanan, jumlah tenaga kesehatan serta kelengkapan alat kesehatan. Pemantauan ini dilakukan untuk mengoptimalkan peran dan fungsi fasilitas kesehatan pemerintah untuk kesehatan masyarakat, namun terkendala dalam mendapatkan data yang selama ini dilakukan secara konvensional.Pada penelitian ini dibuat sistem informasi geografis berbasiskan web untuk mengetahui persebaran tenaga kesehatan di puskesmas dan rumah sakit agar mampu menyediakan informasi bagi masyarakat. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data spasial (koordinat x y) menggunakan GPS handheld dan data non spasial. Penelitian ini dikembangkan menggunakan basis data MySQL dan peta menggunakan Google Maps API.Hasil dari penelitian ini berupa aplikasi SIG berbasis web yang menampilkan lokasi layanan kesehatan beserta tenaga kesehatan dan fasilitas dari layanan kesehatan. Web tersebut dapat diakses pada situs www.gistenagakesehatankotasemarang.com.  
ANALISIS KORELASI PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP LUASAN MANGROVE DI WILAYAH PESISIR PANTAI SEMARANG Rendi Aulia; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.901 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan negara yang mempunyai hutan mangrove (hutan bakau) paling luas di dunia. Berdasarkan FAO (2007) bahwa Indonesia mempunyai hutan mangrove  seluas 3,062,300 juta hektar pada tahun 2005 yang merupakan 19% dari total luas hutan mangrove di seluruh dunia. Hutan mangrove seiring berjalannya waktu mengalami perubahan luasan, perubahan luasan hutan mangrove terjadi secara alami oleh mangrove dan lingkungan, maupun buatan hasil campur tangan manusia. Penyebab lain yang mungkin terjadi adalah dengan berubahnya garis pantai yang menyebabkan luas hutan mangrove semakin berkurang. Oleh karena itu, pemantauan terhadap perubahan garis pantai dan perubahan luas hutan mangrove dengan metode penginderaan jauh diperlukan untuk usaha pengendalian terhadap degradasi ekosistem sekitarnya.Pada penelitian mengenai korelasi perubahan garis pantai terhadap luasan mangrove menggunakan 2 metode, yaitu untuk perubahan garis pantai menggunakan metode BILKO yang dapat membedakan permukaan darat dan air sedangkan untuk perubahan area mangrove menggunakan metode komposit band dan klasifikasi supervised. Dari kedua metode tersebut nantinya dilakukan korelasi untuk mendapatkan hasil. Hasilnya secara kuantitatif, visual dan hitungan statistik.Hasil analisis data spasial pada daerah kota Semarang bahwa telah terjadi perubahan garis pantai pada tahun 2012-2013, abrasi 60,66 Ha dan akresi 21,99 Ha, dan tahun 2013-2014, abrasi 36,21 Ha dan akresi 23,93 Ha. Perubahan luasan mangrove mengalami pengurangan luasan pada tahun 2012-2013 sebesar 145,75 Ha dan tahun 2013-2014 sebesar 198,17 Ha.Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai korelasi sebesar 0,766 > 0.05, artinya hubungan perubahan garis pantai terhadap perubahan luas mangrove memiliki hubungan yang kuat dan nilai signifikansinya sebesar 0,445 > 0,05, artinya perubahan garis pantai terhadap luas mangrove tidak berpengaruh signifikan. Kata kunci : BILKO, Garis Pantai, Komposit Band, Mangrove, Penginderaan Jauh, Supervised. ABSTRACTIndonesia is a country with the largest mangrove area in the world. According to the FAO (2007) Indonesia had a mangrove area of 3,062,300 million hectares in 2005, which represented 19% of the total area of mangrove forest in the whole world. As time passes, mangrove forests experience changes in the area. The changes occur naturally by mangrove and the environment, as well as a result of human intervention. Other cases that may occur is caused by the changing coast line, decreasing the area of the mangrove forests. Therefore, the monitoring of shore line and mangrove area changes with remote sensing method is needed to control the surrounding ecosystem degradation.In this study, the data is studied with two methods. The shore line changes are studied using BILKO method that can separate between land and water surface while the mangrove area changes are studied using composite band and supervised classification method. Both methods will be correlated to obtain results. The result is a quantitative, visual and statistical count.Spatial data analysis results obtained in the period 2012-2013 in the area of Semarang reported that there have been changes in the coast line with abrasion area of 60,66 hectares and accretion area of 21,99 hectares, in 2013-2014, the abrasion covered an area of 36,21 hectares and accretion 23,91 hectares. The mangrove area experienced a reduction in 2012-2013, reaching 145,75 hectares and in year 2013-2014 the degradation reached 198,17 hectares.Statistical analysis result showed that the correlation value is 0,766 > 0,05, meaning that the correlation between the shoreline changes to the mangrove area changes have a strong connection and the significance value is of 0,445 > 0,05, meaning that the changes to the shore line aren’t significant to the changes of the mangrove area.  Keywords:  BILKO, Coast Line, Composite Band, Mangrove, Remote Sensing, Supervised.
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP PERUBAHAN ZONA NILAI TANAH PADA DAERAH GENANGAN BANJIR ROB DI KECAMATAN PEKALONGAN UTARA TAHUN 2014-2018 Ade Naufalita; Sawitri Subiyanto; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.325 KB)

Abstract

Kecamatan Pekalongan Utara terletak di bagian utara Kota Pekalongan yang berbatasan langsung dengan laut jawa. Kecamatan Pekalongan Utara memiliki luas wilayah 691,721 Ha, yang terbagi ke dalam 7 Kelurahan. Kecamatan Pekalongan Utara termasuk wilayah dengan area permukiman cukup padat dan memiliki permasalahan banjir rob sudah mulai parah. Akibat adanya genangan banjir rob mengakibatkan penurunan fungsi lahan yang berada pada daerah genangan maupun di sekitar genangan. Penurunan fungsi lahan selanjutnya dapat mengakibatkan perubahan nilai tanah akibat perubahan penggunaan lahan pada lokasi tersebut, baik naik hingga nilai tanah turun. Penelitian membahas mengenai perubahan nilai tanah akibat perubahan penggunaan lahan pada daerah genangan banjir rob. Analisis dilakukan dengan pembuatan zona nilai tanah tahun 2018 yang kemudian di overlay dengan peta ZNT tahun 2014 sehingga didapat perubahan ZNT tahun 2014-2018. Peta perubahan ZNT ini kemudian di overlay dengan peta perubahan penggunaan lahan dan peta genangan banjir rob, sehingga dapat di analisis kaitan perubahan nilai tanah akibat perubahan penggunaan lahan pada daerah genangan banjir rob. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 klasifikasi perubahan penggunaan lahan pada daerah genangan banjir rob yaitu, perubahan penggunaan lahan tambak ke rawa, lahan kosong ke rawa dan lahan kosong ke permukiman dengan total luas 843.153 m2. Perubahan penggunaan lahan terbesar adalah perubahan tambak ke rawa dengan luas 544.342 m2. Kenaikan terbesar nilai tanah yang diakibatkan perubahan penggunaan lahan pada daerah genangan banjir rob dengan besar peningkatan 145,81% yang terletak pada daerah di selatan Jalan Raya Jeruk Sari dan berada pada perbatasan antara Kota Pekalongan dengan Kabupaten Pekalongan, yang mengalami perubahan penggunaan lahan tambak ke rawa, sedangkan penurunan zona nilai tanah terbesar adalah -42,22% yang terletak pada daerah berada pada Jalan Kunti Utara seberang SDN Kandang Panjang 10,  yang mengalami perubahan penggunaan lahan kosong ke rawa. Perubahan ZNT pada daerah genangan banjir rob hasil penelitian ini kurang di pengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan dan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti aksesibilitas hingga adanya fasilitas umum disekitar.
ANALISIS POTENSI LOKASI BUDIDAYA RUMPUT LAUT EUCHEUMA CHOTTONII MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 DI PERAIRAN LAUT DEMAK Avi Yudhanto; Arwan Putra Wijaya; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1196.597 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dimana terdapat 17.508 pulau yang dipisahkan oleh laut. Setiap pulau yang berbatasan dengan laut memiliki pantai. Garis pantai keseluruhan pulau di Indonesia mencapai 99.093 Km. Pantai-pantai di Indonesia memiliki potensi alam yang melimpah pada hasil laut dan budidaya terhadap sumber daya alamnya. Salah satu budidaya alam yang dikembangkan di Indonesia adalah rumput laut.Penentuan  lokasi  budidaya  rumput  laut  tidak  jarang  mengalami  kendala  yang  membutuhkan  banyak  waktu, biaya serta tenaga. Teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) menjadi solusi yang baik dalam penentuan lokasi yang sesuai untuk pengembangan budidaya rumput laut. Lokasi budidaya rumput laut dapat diprediksi menggunakan citra Landsat 8 yang direkam bulan 1 Oktober 2014 dan 26 Maret 2015 untuk menentukan parameter suhu permukaan laut, oksigen terlarut, muatan padatan tersuspensi dan salinitas.  Daerah penelitian ini berada pada perairan pantai Kabupaten Demak Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penentuan suhu permukaan laut dan oksigen terlarut adalah algoritma Ali El Battay, algoritma Indah Budi Lesatari untuk penentuan muatan padatan tersuspensi (TSS), dan algoritma Sam Wouthuyzen dalam penentuan salinitas.Berdasarkan pengolahan data, didapatkan hasil  suhu permukaan laut daerah pengamatan tergolong memiliki suhu yang hangat yang berada pada kisaran 26°C - 32°C, kandungan oksigen terlarut dominan berada pada kisaran 3-8 mg/l, kandungan muatan padatan tersuspensi (TSS) dominan berada pada kisaran 20-80 mg/l, dan kandungan salinitas dominan berada kisaran 28-32 mg/l. Penentuan lokasi menggunakan metode matching menghasilkan kelas sesuai untuk budidaya rumput laut seluas 3829,20  ha dan berjarak 3 Km dari tepi perairan pantai Kabupaten Demak. Untuk uji RMSe SPL = 2.06°C, uji RMSe DO = 2.05 mg/l, uji RMSe TSS = 7.27 mg/l, sedangkan uji RMSe salinitas = 5.14‰Kata Kunci    : rumput laut, suhu permukaan laut, oksigen terlarut, muatan padatan tersuspensi, salinitas. ABSTRACTIndonesia is the largest archipelago in the world which there are 17,508 islands separated by the sea. Each island is bordered by the sea has  beach. The coastline of  all Indonesia islands reached 99 093 Km. The Indonesian’s beach has much natural resources on the sea and the cultivation resources. One of the natural cultivation developed in Indonesia is seaweed.Site selection for seaweed cultivation sometimes got some problems that need more time, cost and energy. The technology  such  as  remote  sensing  and  Geographic  Information  Systems  (GIS)  were  a  great  solution  for  site selection  of  seaweed  production  development. Seaweed cultivation location can be predicted with Landsat 8 image which scaned on 1st October 2014 and 26th March 2015 for the parameters of sea surface temperature, dissolved oxygen, total suspended solids and salinity. The study areas in Demak coastal waters, Central Java. The method used for determinating sea surface temperature and dissolved oxygen are algorithms Ali El Battay, Indah Budi Lesatari’s algorithm for determining total suspended solids (TSS), and Sam Wouthuyzen’s algorithm for determinating of salinity.Based on data processing, the result of relatively sea surface temperature area is warm temperatures in the range 26 ° C - 32 ° C, the dominant dissolved oxygen content in the range of 3-8 mg / l, the dominant total suspended solids (TSS)  range of 20-80 mg / l, and the dominant area content range of salinity 28-32 mg / l. The determination using matching methods produce conformity class covering 3829.20 ha and located 3 Km from the edge of the coastal waters of Demak. To test the SPL RMS error = 2.06 ° C, test RMS errors DO = 2:05 mg / l, TSS test RMS error = 7:27 mg / l, while the RMS error test salinity = 5.14 ‰Key words      : seaweed, sea surface temperature, dissolved oxygen, total suspended solids, salinity. *) Penulis Penanggung Jawab

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue