cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
Analisis Pengaruh Panjang Baseline Terhadap Ketelitian Pengukuran Situasi Dengan Menggunakan GNSS Metode RTK-NTRIP (Studi Kasus: Semarang, Kab. Kendal dan Boyolali) Ega Gumilar Hafiz; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.795 KB)

Abstract

Developments and requirement about mapping survei in Indonesia are getting faster and the lack of availability of basic point technique used as a point of the belt as well as the least amount of human resources who understand the job of mapping surveis, is one of the factors restricting to produce a map of the situation quickly (real time) and can also provide data quality and a good position. Then it needs a system of measurement that can give results that can satisfy the needs of mapping in Indonesia.Associated with these problems, in this final task has been carried research measurements using GPS CORS (Continuosly Operating Reference Stations) system. By analyzing the influence of the length of the baseline against the accuracy of the measurement situation using GNSS RTK-NTRIP method and using Total Station measurement data as definitive data.The purpose of this measurement is to know the horizontal, vertikal accuracy and scale for plotting the map. The results of analysis and statistical tests will be found horizontal accuration  and vertical accuration )it is  : the measurement with the long baseline 1 km has a value of  =  ±0,092 m and  = ±0,047 m, with long baseline 15,6 km has a value of  = ±0,181 m and  = ±0,179 m, and with long baseline 57,6 km has a value of σHZ = ±0,765 m and  = ±0,258 m. Refers to the accuration scale map, for long baseline 1 km include of 1: 500 scale map, while the long baseline 15,6 km include of 1: 1.000 scale map, and long baseline 57,6 km include of 1: 1.000 scale map.Keywords: Topographic Mapping, Measurements of GPS, GNSS, RTK (Real Time Kinematic), NTRIP (RTCM Transport Networked via Internet Protocol)
ANALISIS PERUBAHAN LAHAN DAN ZONA NILAI TANAH DI KECAMATAN UNGARAN TIMUR AKIBAT PEMBANGUNAN JALAN TOL SEMARANG - SOLO (TAHUN 2008 – 2017) Nathania, Jessica; Subiyanto, Sawitri; Suprayogi, Andri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.229 KB)

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Ungaran Timur memiliki luas wilayah seluas 61,715 km² dan terdiri dari 10 desa yang berada di Kabupaten Semarang. Kecamatan Ungaran Timur memiliki berbagai bentuk pemanfaatan lahan, dari banyaknya penggunaan lahan penting mulai dari permukiman, industri, jalan dan fasilitas umum lainya. Seiring berjalannya waktu, penggunaan lahan akan mengalami perubahan seiring dengan pembangunan yang ada. Pembangunan jalan tol Semarang – Solo pada tahun 2009 yang dilakukan oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Ungaran Timur. Seiring dengan bertambahnya waktu, Ungaran Timur menjadi kecamatan yang cukup padat. Semakin tingginya aktivitas manusia menyebabkan perubahan penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap perubahan nilai tanah di wilayah tersebut.Penelitian ini menggunakan citra resolusi tinggi tahun 2008 dan 2016, dan peta penggunaan lahan tahun 2008 dan 2017. Data tersebut digunakan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan. Sedangkan, analisis perubahan nilai tanah menggunakan peta zona nilai tanah tahun 2008 dan peta zona nilai tanah tahun 2017 yang didapatkan dari hasil survei lapangan. Dari hasil tersebut, dilakukan analisis pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan nilai tanah di Kecamatan Ungaran Timur sebagai akibat dari pembangunan jalan tol Semarang – Solo.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan penggunaan lahan pada tahun 2008 – 2017. Kenaikan penggunaan lahan tertinggi terdapat pada permukiman sebesar 2,93% dan kenaikan terendah terdapat pada rest area tol sebesar 0,14%. Sedangkan penurunan penggunaan lahan tertinggi terdapat pada semak belukar yaitu sebesar 1,20% dan penurunan terendah terdapat pada lahan kosong sebesar 0,03%. Kenaikan dan penurunan tersebut mengacu terhadap luas Kecamatan Ungaran Timur. Perubahan zona nilai tanah akibat adanya pembangunan jalan tol dilihat dari radius 1 km dari pintu exit tol menunjukkan bahwa kenaikan harga rata-rata tanah tertinggi adalah sebesar Rp 5.039.000  terjadi karena adanya perubahan penggunaan lahan dari Tegalan menjadi Permukiman dan Perkebunan menjadi Permukiman. Sedangkan, kenaikan harga rata-rata terendah yaitu sebesar Rp 530.000 yang terjadi karena adanya perubahan penggunaan lahan dari Tegalan menjadi Permukiman dan Perkebunan menjadi Permukiman. 
PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP PERUBAHAN ZONA NILAI TANAH DI KECAMATAN GAYAMSARI KOTA SEMARANG TAHUN 2004 DAN 2014 Ahadi, Muhammad Ardhi; Subiyanto, Sawitri; Haniah, Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.236 KB)

Abstract

ABSTRAK Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi JawaTengah yang memiliki 16 kecamatan, salah satunya adalah kecamatan Gayamsari. Berkembangnya kecamatan Gayamsari dari tahun ke tahun yang salah satunya disebabkan oleh peningkatan pertumbuhan penduduk mengakibatkan adanya pengendalian pemanfaatan/ penggunaan lahan yang mana diharapkan mampu untuk menampung aktivitas penduduk yang selalu  berkembang. Perubahan penggunaan lahan dan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi mengakibatkan nilai tanah di Kecamatan Gayamsari mengalami perubahan. Sehingga diperlukan penelitian untuk melakukan analisis perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan nilai tanah.                Pada awalnya penelitian ini dilakukan dengan pembuatan zona awal dengan menggunakan peta administrasi Kecamatan Gayamsari dan citra Quickbird. Selanjutnya dilakukan pembuatan peta zona nilai tanah tahun 2004 dan tahun 2014. Pada peta penggunaan lahan tahun 2004 dan tahun 2014 dilakukan overlay, sehingga diperoleh peta perubahan penggunaan lahan. Pada tahap akhir dilakukan analisis perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan nilai tanah di Kecamatan Gayamsari.                Hasil penelitian menunjukkan total luas perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Gayamsari dalam kurun waktu tahun 2004 ke tahun 2014 adalah 106 ha. Perubahan penggunaan lahan terbesar terjadi pada penggunaan lahan tegalan menjadi pemukiman dengan luas sebesar 24 ha. Sementara perubahan penggunaan lahan terkecil terjadi pada penggunaan lahan kosong menjadi perdagangan dan jasa dengan luas sebesar 0,16 ha. Kenaikan nilai tanah tertinggi terjadi pada perubahan lahan kosong menjadi perdagangan dan jasa yaitu sebesar Rp. 1.678.000 per m2. Sedangkan kenaikan nilai tanah terendah terjadi pada perubahan lahan tambak menjadi lahan kosong yaitu sebesar Rp. 44.000 per m2. Kata Kunci : Kecamatan Gayamsari, perubahan penggunaan lahan, perubahan nilai tanah ABSTRACTSemarang city is the capital of Central Java Province which has 16 districts, one of the districts is Gayamsari. Gayamsari district was growing from year to year, one of caused by increased population growth resulted in the control of utilization or land use which is expected to be able to accommodate the ever growing population activities. Changes in land use and community activities are quite high resulting the value of land in the Gayamsari district is changes. So that research is needed to perform the analysis of land use change on changes in the value of land.This research was originally done by making an initial zone using administrative map of Gayamsari district and Quickbird imagery. Furthermore, the making of maps of land value zone in 2004 and 2014. In the land use maps of 2004 and 2014 have been overlaid, in order to obtain a map of land use changes. At the final stage of the analysis of land use changes to changes in the value of land in Gayamsari district.The results showed the total area of land use change in Gayamsari district in the period 2004 to 2014 was 106 ha. The land-use change occurs on dry land into residential use with an area of 24 ha. While the smallest land-use change occurs in the use of unused land into a trade and services with an area of 0,16 ha. The highest increase in value of land occur on changes of  the unused land into a trade and services in the amount of Rp. 1.678.000 per m2. While the lowest increase in value of land occur on changes of the fishpond into unused land is Rp. 44.000 per m2. Keywords : Gayamsari District, changes in land use, changes in the value of land    *) Penulis, PenanggungJawab
ANALISIS DISTRIBUSI TOTAL SUSPENDED SOLID DAN KANDUNGAN KLOROFIL-A PERAIRAN BANJIR KANAL BARAT SEMARANG MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 dan SENTINEL-2A Humaira Qanita; Sawitri Subiyanto; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.104 KB)

Abstract

Data penginderaan jauh dapat memudahkan dalam penelitian terkait perairan serta pengambilan keputusan maupun pemantauan kondisi perairan dari waktu ke waktu secara efektif. Teknik penginderaan jauh telah digunakan secara luas untuk mengukur parameter kualitatif perairan. Konsentrasi dari klorofil-a dan kandungan total suspended solids merupakan beberapa indikator dalam parameter kualitas air yang dapat diperoleh menggunakan data penginderaan jauh. Pada penelitian ini data citra satelit Landsat 8 OLI dan Sentinel-2A MSI digunakan untuk menentukan konsentrasi klorofil-a dan kandungan total suspended solids di Perairan Banjir Kanal Barat Semarang. Data citra satelit Landsat 8 dan Sentinel-2A kemudian diproses menggunakan beberapa algoritma penentu konsentrasi klorofil-a dan kandungan total suspended solids yang selanjutnya dibandingkan dengan data in-situ perairan. Pengambilan sampel air secara langsung di Banjir Kanal Barat Semarang dilakukan pada tanggal 10 September 2018 yang bertepatan dengan akuisisi data citra Landsat 8 dan selisih kurang dari 48 jam dengan data Sentinel-2A. Sampel yang telah diambil kemudian melalui proses uji laboratorium untuk selanjutnya menjadi parameter penentu algoritma terbaik untuk proses pemetaan distribusi total suspended solids dan kandungan klorofil-a Perairan Banjir Kanal Semarang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dalam rentang enam bulan distribusi total suspended solids di Perairan Banjir Kanal Barat didominasi kelas memenuhi baku mutu/kondisi baik (0-1 mg/L) sebesar 42,78 % dan kelas terendah yaitu tercemar sedang (5-10 mg/L) sebesar 12,5%. Sedangkan untuk konsentrasi klorofil-a didominasi status hipereutrof (15-200 mg/m3) 30,7% dan status terendah adalah mesotrof (2-5 mg/m3) 17,1%.
ANALISIS AKSESIBILITAS SHELTER EVAKUASI TSUNAMI DI KOTA PADANG BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Nia Rahmadhani; Andri Suprayogi; LM. Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1685.716 KB)

Abstract

Tsunami adalah gelombang laut yang terjadi karena adanya gangguan impulsif pada laut, akibat dari perubahan bentuk dasar laut secara tiba-tiba dalam arah vertikal (Pond and Pickard, 1983) atau horizontal (Tanioka and Satake, 1995), yang disebabkan oleh tiga sumber utama, yaitu gempa tektonik, letusan gunung api, atau longsoran yang terjadi di dasar laut (Ward, 1982).   Perairan barat Sumatera memiliki ciri kegempaan aktif, gempa-gempa yang sering menimbulkan tsunami tersebut perlu diwaspadai, terutama di kawasan pantai yang padat penduduk. Hal ini merupakan potensi bencana besar bagi Kota Padang, untuk itu dibutuhkan upaya penanggulangan bencana yang lebih terpadu. Teknologi Sistem Informasi Geografis merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk menyusun model informasi yang nantinya dapat digunakan sebagai langkah dalam melaksanakan program mitigasi bencana. Pentingnya data jalur jaringan jalan Kota Padang yaitu untuk menentukan rute/jalur evakuasi tsunami, sementara data shelter evakuasi tsunami dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang pada bulan Mei – 2012 digunakan sebagai bahan analisa dan acuan pada penelitian ini, serta mengidentifikasi apakah shelter evakuasi tersebut dapat terjangkau secara efektif dan efisien  oleh korban tsunami pada saat proses evakuasi terjadi. Penelitian ini menganalisis jaringan jalan dan shelter evakuasi tsunami mana yang pas untuk dituju oleh tiap warga Kota Padang yang berada pada zona rawan tsunami, serta menganalisis apakah shelter yang direkomendasikan tersebut dapat mencakup secara keseluruhan daerah rawan bencana tsunami di Kota Padang. Terdapat satu metodologi pelaksanaan yang terdiri dari 4 tahap yaitu  tahap pengumpulan data, tahap persiapan , tahap pengolahan lanjutan yaitu proses network analisys di software ArcGIS dan terakhir yaitu tahap analisis. Hasil yang diperoleh bahwa shelter tersebut ternyata belum dapat mencakup semua daerah yang berada pada zona rawan tsunami. Untuk mengatasinya dilakukan penambahan minimal 2 buah shelter pada blank area agar dapat melingkupi daerah zona rawan tsunami. Peta jalur evakuasi bencana tsunami hasil  network analysis ini memiliki karakter yaitu mengikuti alur atau pola jaringan jalan yang telah ada, sehingga pada tiap shelter untuk luas area servisnya rata-rata 37.988 % lebih kecil dibandingkan dengan luas area buffering-nya.
ANALISIS IDENTIFIKASI KAWASAN KARST MENGGUNAKAN METODE POLARIMETRIK SAR (SYNTHETIC APERTURE RADAR) DAN KLASIFIKASI SUPERVISED Shiska, Pran; Prasetyo, Yudo; Suprayogi, Andri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1473.849 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia mempunyai bentang alam yang sangat beragam, salah satunya adalah bentang alam karst.Di Kecamatan Cipatat terdapat bentang alam karst yang berada pada batu gamping formasi Rajamandala. Topografi kawasan karst Cipatat berbentuk bukit dantelah mengalami perubahan akibat penambangan karst. Dengan memanfaatkan pengindraan jauh aktif atau sistem RADAR dilakukan identifikasi kawasan karst. Saat ini masih sedikit yang mengembangkan metode klasifikasi citra berbasis RADAR untuk identifikasi geologi, khususnya di negara Indonesia yang beriklim tropis.Penelitian ini menggunakan citra ALOS PALSAR 1.1 dual polarisasi (HH, HV) tahun 2007-2008. Identifikasi karst menggunakan tiga parameter (Anisotropy, Entropy dan Alpha) dari metode dekomposisi polarimetrik H/α/A dimana masing-masing parameter merepresentasikan sifat fisik objek. Karst biasanya berada di bawah penutup lahan maka dilakukan klasifikasi dengan algoritma supervised wishart untuk klasifikasi tutupan lahan (non karst). Tutupan lahan ini digunakan untuk melihat keterkaitan hasil identifikasi kawasan karst dengan penutup lahan.  Validasi dilakukan dengan membandingkan koordinat geografis citra hasil identifikasi karst dengan koordinat citra pada Google Earth dan dibantu data geologi karst.Kawasan karst teridentifikasi seluas 533 Ha (2007) dan 1165 Ha (2008) dengan perubahan luas 632 Ha.  Diketahui karst termasuk tipe surface scattering, keacakan hamburan sedang dan kekasaran permukaan sedang. Kemudian kawasan karst paling banyak teridentifikasi pada tutupan lahan vegetasi jarang. Untuk kawasan non karst (tutupan lahan) diperoleh  nilai overall accuracy 53,83% dan kappa 46,13% (2007). Kemudian overlay accuracy 53,41% dan kappa 45,65%(2008). Hal ini mengindikasikan nilai akurasi kelas tutupan lahan tidak sesuai dengan kondisi lapangan yang sebenarnya. Namun hasil klasifikasi tersebut sudah bisa membedakan dengan baik antara lahan terbangun, perairan, dan vegetasi.Validasi spasial hasil identifikasi karst tidak menunjukan hasil yang baik. Hal ini dikarenakan banyak objek lain yang memiliki tipe scatter yang sama dengan karst.Kata Kunci : ALOS PALSAR, Dekomposisi H/α/A, Karst, Polarimetrik SAR, Wishart Supervised.ABSTRACTIndonesia has a very diverse landscape, one of them is karst landscape. In sub Cipatat karst landscapes are located on limestone formations Rajamandala. Cipatat shaped karst topography of the region and the hill has undergone changes due to mining karst. By utilizing remote sensing active or RADAR system to identify karst region. Currently there are still a few who develop RADAR based image classification method for the identification of geology, particularly in countries tropical Indonesia.This study uses ALOS PALSAR 1.1 dual polarization (HH, HV) in 2007-2008. for the identification of the karst region. Identification of karst uses three parameters (Anisotropy, Entropy and Alpha) of the decomposition method polarimetric H/α A which each parameters represents the physical properties of the object. Karst usually exist below land cover so classification is carried out by wishart supervised algorithm for land cover classification (non karst). Land cover is used to see how the results of the identification of karst area related with land cover. Validation is done by comparing the geographical coordinates of the image of the karst identification with the imagery in Google Earth coordinates and assisted karst geological data.Karst areas identified an area of 533 Ha (2007) and 1165 Ha (2008) with 632 ha area changes. Known karst include the type of surface scattering, the randomness of the medium scattering and moderate surface roughness. Then most of karst areas identified in land cover sparse vegetation. For non-karst area (land cover) values obtained overall accuracy 53.83% and kappa 46.13% (2007). Then overlay accuracy 53.41% and kappa 45.65% for 2008. This indicates the value of the accuracy of land cover classes do not correspond to actual field conditions. But the results of these classifications have been able to distinguish well between developed and undeveloped land, water, and vegetation. Validation karst spatial identification results did not show good results. This is because many other objects that have the same type of scatter with karst. Keywords: ALOS PALSAR, Karst, H/α/A Decomposition, SAR Polarimetric, Wishart SupervisedABSTRAKIndonesia mempunyai bentang alam yang sangat beragam, salah satunya adalah bentang alam karst.Di Kecamatan Cipatat terdapat bentang alam karst yang berada pada batu gamping formasi Rajamandala. Topografi kawasan karst Cipatat berbentuk bukit dantelah mengalami perubahan akibat penambangan karst. Dengan memanfaatkan pengindraan jauh aktif atau sistem RADAR dilakukan identifikasi kawasan karst. Saat ini masih sedikit yang mengembangkan metode klasifikasi citra berbasis RADAR untuk identifikasi geologi, khususnya di negara Indonesia yang beriklim tropis.Penelitian ini menggunakan citra ALOS PALSAR 1.1 dual polarisasi (HH, HV) tahun 2007-2008. Identifikasi karst menggunakan tiga parameter (Anisotropy, Entropy dan Alpha) dari metode dekomposisi polarimetrik H/α/A dimana masing-masing parameter merepresentasikan sifat fisik objek. Karst biasanya berada di bawah penutup lahan maka dilakukan klasifikasi dengan algoritma supervised wishart untuk klasifikasi tutupan lahan (non karst). Tutupan lahan ini digunakan untuk melihat keterkaitan hasil identifikasi kawasan karst dengan penutup lahan.  Validasi dilakukan dengan membandingkan koordinat geografis citra hasil identifikasi karst dengan koordinat citra pada Google Earth dan dibantu data geologi karst.Kawasan karst teridentifikasi seluas 533 Ha (2007) dan 1165 Ha (2008) dengan perubahan luas 632 Ha.  Diketahui karst termasuk tipe surface scattering, keacakan hamburan sedang dan kekasaran permukaan sedang. Kemudian kawasan karst paling banyak teridentifikasi pada tutupan lahan vegetasi jarang. Untuk kawasan non karst (tutupan lahan) diperoleh  nilai overall accuracy 53,83% dan kappa 46,13% (2007). Kemudian overlay accuracy 53,41% dan kappa 45,65%(2008). Hal ini mengindikasikan nilai akurasi kelas tutupan lahan tidak sesuai dengan kondisi lapangan yang sebenarnya. Namun hasil klasifikasi tersebut sudah bisa membedakan dengan baik antara lahan terbangun, perairan, dan vegetasi.Validasi spasial hasil identifikasi karst tidak menunjukan hasil yang baik. Hal ini dikarenakan banyak objek lain yang memiliki tipe scatter yang sama dengan karst.Kata Kunci : ALOS PALSAR, Dekomposisi H/α/A, Karst, Polarimetrik SAR, Wishart Supervised.ABSTRACTIndonesia has a very diverse landscape, one of them is karst landscape. In sub Cipatat karst landscapes are located on limestone formations Rajamandala. Cipatat shaped karst topography of the region and the hill has undergone changes due to mining karst. By utilizing remote sensing active or RADAR system to identify karst region. Currently there are still a few who develop RADAR based image classification method for the identification of geology, particularly in countries tropical Indonesia.This study uses ALOS PALSAR 1.1 dual polarization (HH, HV) in 2007-2008. for the identification of the karst region. Identification of karst uses three parameters (Anisotropy, Entropy and Alpha) of the decomposition method polarimetric H/α A which each parameters represents the physical properties of the object. Karst usually exist below land cover so classification is carried out by wishart supervised algorithm for land cover classification (non karst). Land cover is used to see how the results of the identification of karst area related with land cover. Validation is done by comparing the geographical coordinates of the image of the karst identification with the imagery in Google Earth coordinates and assisted karst geological data.Karst areas identified an area of 533 Ha (2007) and 1165 Ha (2008) with 632 ha area changes. Known karst include the type of surface scattering, the randomness of the medium scattering and moderate surface roughness. Then most of karst areas identified in land cover sparse vegetation. For non-karst area (land cover) values obtained overall accuracy 53.83% and kappa 46.13% (2007). Then overlay accuracy 53.41% and kappa 45.65% for 2008. This indicates the value of the accuracy of land cover classes do not correspond to actual field conditions. But the results of these classifications have been able to distinguish well between developed and undeveloped land, water, and vegetation. Validation karst spatial identification results did not show good results. This is because many other objects that have the same type of scatter with karst. *)  Penulis, Penanggung Jawab Keywords: ALOS PALSAR, Karst, H/α/A Decomposition, SAR Polarimetric, Wishart Supervised I.      PendahuluanI.1.          Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang mempunyai potensi sumber daya alam yang melimpah baik di darat maupun di laut. Tidak hanya hasil dari alam dan kandungan didalamnya, namun negara Indonesia juga mempunyai bentang alam yang sangat beragam, salah satunyaadalah bentang alam karst. Karst adalah suatu daerah yang mempunyai karakteristik relief dan drainase yang khas, terutama disebabkan oleh derajat pelarutan batu-batuannya yang intensif (Ford dan Williams, 1996).Salah satu daerah di Indonesia yang mempunyai bentang alam karst adalah kawasan karst Cipatat yang berada pada batu gamping formasi Rajamandala. Berdasarkan cacatan Badan Pengelolaah Lingkungan Hidup (BPLHD) Jawa Barat (2004), kawasan karst Cipatat merupakan kawasan dengan laju kerusakan signifikan. Topografi kawasan karst Cipatat berupa sebaran bukit karst dan sudah banyak mengalami perubahan. Sehingga kawasan ini cocok dijadikan sebagai bahan kajian, yaitu dengan memanfaatkan penginderaan jauh aktif atau Synthetic Aperture RADAR (SAR) untuk identifikasi kawasan karst.Data RADAR yang digunakan adalah ALOS PALSAR frekuensi L-band dengan panjang gelombang 15-30 cm sehingga dapat menembus atau penetrasi objek lebih dalam. Pada penelitian sebelumnya, data ini efektif untuk mengklasifikasi tutupan lahan dan terrain (Lee, J. dkk., 2004).  Data pada frekuensi L-band dengan metode OPCE lebih kuat dalam pemetaan daerah tertutup salju dari pada data dengan frekuensi C-band (Martini, A. dkk., 2004). Kemudian data dengan frekuensi L-band polarisasi penuh bisa mengidentifikasi sebaran mineral besi di dataran tinggi wilayah Amazon Brazil (Arnaldo, dkk., 2013). Penelitian-penelitian terebut menjadi landasan untuk melakukan penelitian terkait identifikasi kawasan karst menggunakan data ALOS PALSAR.Data ALOS PALSAR tidak hanya mempunyai frekuensi L-band tetapi juga berbagai polarisasi. Polarisasi tersebut berkaitan dengan intensitas backscatter objek. Penelitian ini menggunakan citra ALOS PALSAR 1.1 dual polarisasi (HH, HV) tahun 2007 dan 2008. Data diolah dengan metode polarimetrik H/α/A sehingga menghasilkan tiga parameter Entropy (H), Alpha (α), Anisotropy (A). Parameter tersebut merepresentasikan sifat fisik objek berdasarkan nilai eigen value dan vector matrik covariance. Sehingga parameter tersebut dijadikan sebagai parameter untuk identifikasi kawasan karst. Karst bukanlah penutup lahan maka dilakukan klasifikasi dengan algoritma supervised wishart untuk klasifikasi tutupan lahan (non karst). Tutupan lahan tersebut digunakan untuk mengetahui keterkaitan sebaran karst yang teridentifikasi dengan penutupan lahan.Oleh karena itu digunakan juga data ALOS PALSAR yang sama untuk mengahasi
ANALISIS CURAH HUJAN BERDASARKAN KURVA INTENSITAS DURASI FREKUENSI (IDF) DI DAERAH POTENSI BANJIR MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : DAS Bogowonto Kabupaten Purworejo) Dwi Uzteyqah Exacty; Arwan Putra Wijaya; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.848 KB)

Abstract

ABSTRAKBencana banjir termasuk bencana alam yang sering terjadi ketika datangnya musim penghujan. Seperti yang terjadi di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, banjir terjadi akibat limpasan air Sungai Bogowonto yang menggenangi tambak udang sehingga mengakibatkan kerugian hingga ratusan juta rupiah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat Kurva Intensitas Durasi Frekuensi (IDF) dan mengetahui perubahan penggunaan lahan di Daerah Aliran sungai Bogowonto Kabupaten Purworejo tahun 2002, 2008 dan 2013, serta menganalisis pengaruh perubahan penggunaan lahan dan tingkat banjir berdasarkan data curah hujan tahun 2002-2013, sehingga dapat diketahui daerah yang berpotensi banjir.Metode  yang digunakan untuk membuat Kurva Intensitas Durasi Frekuensi (IDF) adalah metode Mononebe dan untuk perhitungan Debit Air menggunakan metode Rasional. Penelitian ini membutuhkan Peta RBI kabupaten Purworejo dengan skala 1:25.000, data curah hujan tahun 2002-2013, data Jenis Tanah Kabupaten Purworejo, peta tata guna Lahan Kabupaten Purworejo, peta daerah Aliran Sungai (DAS) dan citra Landsat 8 tahun 2013.Intensitas Curah Hujan tertinggi terdapat pada periode ulang terlama yaitu pada periode ulang 100 tahun. Sedangkan intensitas curah hujan terendah terdapat pada periode ulang tercepat yaitu 2 tahun. Dalam hal penggunaan lahan, terjadi pengurangan luas sawah dan tegalan, sedangkan pemukiman, hutan dan perkebunan, lahan kosong, serta tambak dan danau mengalami peningkatan luas. Nilai debit dari tahun 2002 hingga 2013 mengalami peningkatan. Oleh karena itu, pengaruh dari banyaknya curah hujan dan perubahan penggunaan lahan hutan dan perkebunan memiliki persamaan regresi Y = 22720,14 + (0,52416 X) + e.Kata Kunci: DAS Bogowonto, Intensitas curah hujan, debit air, pengaruh perubahan lahan ABSTRACTFlood was a natural disaster that often occured in every rainy season. As occured in Purwodadi district, regency of Purworejo, flood caused by run off water of Bogowonto river that inundating the shrimp ponds so that gave bad impact up to hundred milion rupiahs.The purpose of this Research, Firstly is to make Intensity Duration Frequency curve and know the changes of landuse at Bogowonto watersheds, regency of Purworejo, in 2002, 2008 and 2013. Secondly is to analyze an effect of landuse changes and flood levels based on rainfall data from 2002 untul 2013, so it can be determined the potential flood area. The method is used to make curve of Intensity Duration Frequency is using Mononobe method then Rational method is using to calculate water discharge. This research is using data RBI map of Purworejo regency with scale 1:25.000, rainfall data from 2002 until 2013, land types map, landuses map, watersheds map and landsat 8 data acquired in 2013.The highest rainfall intensity occured in the longest return peroid which is occuring hundred years period. The lowest rainfall intensity occured in the shortest return perioid which is occuring 2 years  peroid, based on landuse changes, there are decreasing landuse with ricefield and more area, in regency area, forest and plantation area, available, pondsand, lake were occured of discharge value it was occured from 2002 until 2013. Therefore, result of effect of rainfall level and landuse changes for forest and plantations are determined of regresion equation Y = 22720,14 + (0,52416 X) + e.Keyword: Bogowonto Watershed, Rainfall Intensity, Water Discharge, Effect of Land Change
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN DAN ANALISIS NILAI EKONOMI KAWASAN MELALUI TEKNIK VALUASI TRAVEL COST METHOD DAN CONTINGENT VALUATION METHOD (Studi kasus : Kawasan Wisata Pantai Alam Indah, Kota Tegal) Akhmad Tsalist Nailuz Tsabiq; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.223 KB)

Abstract

ABSTRAKSebagai salah satu sektor pembangunan, pariwisata memang cukup menjanjikan dalam membantu menaikkan cadangan devisa dan juga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain itu, sektor industri pariwisata nasional memberikan kontribusi nasional bagi program pembangunan. Salah satu contoh bentuk pariwisata tersebut adalah jenis wisata bahari. Adapun di Kota Tegal, terdapat tempat wisata bahari yang sudah cukup terkenal bernama Pantai Alam Indah (PAI). Dengan kondisi pantai yang relatif stabil dan kemiringan yang landai, telah membuat tempat ini memiliki daya tarik wisata yang cukup potensial untuk dikembangkan sebagai aset wisata dimasa mendatang. Dengan melihat keadaan ini, maka dilakukan penelitian mengenai Nilai Ekonomi Kawasan pada tempat wisata tersebut. Metode pengambilan responden pada penelitian ini menggunakan teknik Non Probability Sample dengan metode sampel aksidential. Metode ini mengambil responden sebagai sampel secara kebetulan, jika memang dipandang cocok sebagai sampel saat berada di tempat wisata maupun di sekitarnya. Setelah itu dilakukan pengolahan data menggunakan analisis regresi linier berganda dan penghitungan nilai ekonomi kawasan menggunakan Maple 17. Adapun hasil yang didapatkan dari penelitian ini, yaitu beberapa peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan dan hasil perhitungan nilai ekonomi dari wisata Pantai Alam Indah. Hasil perhitungan didapatkan nilai WTP (Willingness to Pay) sebesar Rp 140.344,795 , surplus produsen sebesar Rp 80.415,718 , Nilai Kegunaan sebesar Rp 40.728.952.980 , dan Nilai Bukan Kegunaan sebesar Rp 34.694.917.390 . Sehingga Nilai Ekonomi Total dari kawasan wisata Pantai Alam Indah adalah Rp 75.423.870.370
PEMANTAUAN PERUBAHAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN APLIKASI DIGITAL SHORELINE ANAYSIS SYSTEM (DSAS) STUDI KASUS : PESISIR KABUPATEN DEMAK Istiqomah, Farrah -; Sasmito, Bandi; Amarrohman, Fauzi Janu
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.108 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Perubahan garis pantai di Kabupaten Demak terjadi disebabkan oleh proses abrasi dan akresi yang terpicu karena aktivitas manusia yang intensif di wilayah pesisir. Hal ini disebabkan juga oleh banjir rob yang sering terjadi di wilayah ini dan pengaruh sifat fisik laut. Abrasi dan akresi terjadi hampir di seluruh wilayah pesisir Kabupaten Demak sehingga garis pantainya mengalami perubahan yang cukup drastis.Penelitian ini menggunakan metode penginderaan jauh sebagai kajian yang cepat untuk mendeteksi perubahan garis pantai Kabupaten Demak dengan menggunakan citra Landsat 7 tahun 2011-2012 dan citra Landsat 8 tahun 2013-2015 sebagai data primer. Informasi garis pantai diperoleh menggunakan metode rationing untuk memisahkan batas air dan darat. Informasi garis pantai tahun 2011 digunakan sebagai titik awal pengamatan perubahan garis pantai atau Baseline dan informasi garis pantai tahun 2012-2015 dihitung laju perubahannya. Perhitungan laju perubahan garis pantai menggunakan perangkat lunak Digital Shoreline Analysis System (DSAS).Hasil penelitian menunjukan terjadi perubahan garis pantai yang signifikan di Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak dengan nilai akresi maksimum sebesar 233,994 meter dan abrasi maksimum sebesar 141,037 meter. Prediksi perubahan garis pantai tahun 2016-2020 yang terbesar perubahannya terlihat pada transek A dengan akresi sebesar +280,92 meter dan terkecil pada transek H dengan abrasi sebesar -0,004. Abrasi dan akresi disebabkan oleh kurang terjaganya ekosistem mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Demak yang fungsinya berubah menjadi areal tambak atau pemukiman. Kata Kunci : garis pantai, DSAS, Kabupaten Demak, abrasi, akresi  ABSTRACT                 Shoreline changes in Demak which is caused by abrasion and accretion processes and triggered due to intensive human activities in coastal areas. It is also caused by the tidal flood that often occur in this area and the influence of physical characteristic of the ocean. Abration and accrestion occurs in almost all coastal areas and it happen quite drastic.This research use remote sensing method as a quick study to detect the shoreline changes in Demak with Landsat 7 images in 2011-2012 and Landsat 8 images in 2013-2015 as the primary data. Shorelines information obtained by using rationing method to delineated the water and the land. The 2011 shoreline used as a starting point to calculate the changes between 2012-2015 shorelines. This research use Digital Shoreline Analysis System (DSAS) to calculate the rate-of-changes between the shorelines.The results showing the most significant changes occur in Wedung, Demak with maximum accretions 233.9941 meter and maximum abrations 141.037 meter. The biggest changes at predicton of shoreline changes between 2016-2020 is transect A with accretion +280.92 meter and the lowest is transek H with abration -0.004 meter. Abration and accretion happen because of the lack to maintain the mangrove ecosystem in coastal areas of Demak whose function turned into area of ponds or settlement. Key words: shorelines, DSAS, demak, abration, accretion *)Penulis, Penanggungjawab
KAJIAN PEMETAAN RISIKO BENCANA BANJIR KOTA SEMARANG DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Arco Triady Ujung; Arief Laila Nugraha; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.142 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang adalah Ibukota Provinsi Jawa Tengah yang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal tersebut tidak hanya memberikan dampak positif, tapi juga memberikan dampak negatif. Salah satu dampak negatifrnya adalah banjir. Selain faktor alam, manusia juga memegang peranan besar sebagai faktor meningkatnya potensi terjadinya banjir. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat mempengaruhi sumberdaya air dan tanah, sehingga membuat suatu kawasan menjadi semakin rawan akan banjir. Berdasarkan data BPBD Kota Semarang, terjadi peningkatan kasus banjir dari tahun 2016 ke tahun 2017, dan dari 16 kecamatan di Kota Semarang, sebanyak 10 kecamatan termasuk daerah yang rawan banjir. Tercatat 2.085 korban yang terkena dampak banjir dan mengungsi, serta 529 unit rumah terendam dimana dua diantaranya rusak terkena dampak banjir sepanjang tahun 2018. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak negatif tersebut adalah dengan melakukan pengkajian tingkat risiko banjir Kota Semarang menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).Metode yang digunakan dalam menyusun peta risiko bencana banjir adalah dengan overlay peta ancaman banjir, peta kerentanan banjir, dan peta kapasitas banjir yang berpedoman pada SNI dan PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012 menggunakan matriks VCA (Vulnerability Capacity Analysis). Kajian risiko bencana dijadikan sebagai dasar untuk menjamin harmonisasi arah dan efektivitas penyelenggaraan penanggulangan bencana pada suatu daerah.Hasil dari pemodelan diperoleh wilayah dengan tingkat risiko rendah seluas 19.535,781 ha atau sebesar 49,98% dari total luas Kota Semarang, tingkat risiko sedang dengan luas 14.358,708 ha atau sebesar 36,74% dari total luas Kota Semarang, dan tingkat risiko tinggi seluas 5.191,383 ha atau 13,28% dari total luas Kota Semarang. Kata kunci: Ancaman, Kapasitas, Kerentanan, Risiko, VCA   ABSTRACTSemarang City is the capital city of Central Java Province which have rapid development not only gave positive impact, but also gave negative impact, like flood. Besides natural factors, humans also play a big role as the factor of floods increases. Increasing population growth affects water and soil resources, thus making an area more prone to flooding. According to BPBD of Semarang City data, there has an increase of flodd cases from 2016 to 2017, and from 16 sub-districts in Semarang City, there are 10 sub-district  including flood-prone areas. There were 2,085 victims affected by flooding and displaced, and 529 houses were submerged, two of which were damaged by the flood throughout 2018. Efforts that made to reduce these negative impacts are assessment of  the level of flood risk in Semarang City using Geographic Information System (GIS). The method used in compiling a flood risk map is by overlaying a flood hazard map, a flood vulnerability map, and a flood capacity map based on SNI and PERKA BNPB No. 2 of 2012 using VCA matrix. Disaster risk assessment is the basis for ensuring the alignment and effectiveness of disaster management in the following area.The results of the model obtained areas with a low risk area is 19,535.781 ha or 49.98% of the total area of Semarang City, a medium level of risk with an area of 14,358.708 ha or 36.74% of the total area of Semarang City, and a high level of risk area is 5,191.383 ha or 13.28% of the total area of Semarang City. Keywords : Capacity, Hazard, Risk, VCA, Vulnerability

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue