cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS AKURASI DTM TERHADAP PENGGUNAAN DATA POINT CLOUDS DARI FOTO UDARA DAN LAS LIDAR BERBASIS METODE PENAPISAN SLOPE BASED FILTERING DAN ALGORITMA MACRO TERRASOLID Dani Nur Martiana; Yudo Prasetyo; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.969 KB)

Abstract

ABSTRAKKebutuhan data spasial detail dengan skala besar semakin meningkat, namun ketersediaan peta dasar belum dapat mengimbangi kebutuhan. Peta dasar skala besar diperlukan untuk percepatan pembangunan. Peta topografi sebagai peta dasar dibutuhkan untuk analisis spasial. Salah satu unsur dari peta topografi yaitu kontur dapat dibentuk dari Digital Terrain Model (DTM). Diperlukan metode pembentukan DTM yang efektif dan efisien untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan akan peta dasar. Teknologi LiDAR dan Foto udara diterapkan dalam pembentukan DTM yang detail dan akurat serta dalam waktu yang relatif cepat.DTM dari data LiDAR dan Foto udara dihasilkan dengan melakukan klasifikasi dan filtering terhdap data point clouds LAS LiDAR serta point clouds DSM yang dihasilkan dari image matching foto udara. Metode yang digunakan untuk klasifikasi dan filtering adalah algoritma macro Terrasolid dan metode Slope Based Filtering (SBF). Hasil DTM dari kedua data dibandingkan terhadap DTM Stereoplotting yang digunakan sebagai benchmark. Perbandingan tersebut berupa perbandingan geomorfologi secara visual, serta ketelitian geometri dari kedua DTM yang dihasilkan.Secara visual, DTM LiDAR menghasilkan geomorfologi yang halus sedangkan DTM Foto menghasilkan geomorfologi yang masih kasar. Kemudian berdasarkan hasil analisis transect, diperoleh hasil bahwa ketinggian DTM LiDAR sudah mendekati DTM Stereoplotting, sedangkan DTM Foto masih menghasilkan selisih ketinggian yang cukup besar terhadap DTM Stereoplotting. DTM LiDAR yang dihasilkan dari pengolahan dengan algoritma macro Terrasolid pada sampel area di NLP 1209-1432C dan NLP 1209-1415C masuk ke dalam kelas 2 skala 1:5.000 dan kelas 3 skala 1:5.000. Sedangkan DTM LiDAR dengan metode SBF pada sampel area di NLP 1209-1432C dan NLP 1209-1415C masuk ke dalam kelas 3 skala 1:5.000. DTM Foto hasil pengolahan dengan macro Terrasolid pada sampel area di NLP 1209-1432C dan NLP 1209-1415C masuk dalam kelas 3 skala 1:10.000. Sedangkan DTM Foto dengan metode SBF pada NLP 1209-1432C dan NLP 1209-1415C masuk dalam kelas 3 skala 1:5.000 dan kelas 2 skala 1:10.000.Kata Kunci : DTM, filtering, foto udara, ketelitian geometri, LiDAR. ABSTRACTThe need for detailed spatial data with large amount of scale is increasing, but the availability of base map cannot comprehend the needs. Base map with large scales is needed for faster development. Topographic maps as a base map is needed for spatial analysis. One element of topographic maps is contour can shaped from Digital Terrain Model (DTM). An effective and effecient DTM method is hastened the fullfilment needs of topographic base map. LiDAR technology and aerial photos is implemented for creating a detailed and accurate DTM in a relatively efficient time.DTM from LIDAR data and aerial photos are produced by doing classification and filtering on LARS LIDAR point clouds data and DSM point clouds that is created from aerial image matching. The method used for classification and filtering is macro terrasolid algorithm dan slope based filtering method. DTM results from both data are compared to DTM Steroplotting to see the geomorphology that is produced and also the geometry accuracy of them both.Visually, DTM LIDAR produces smoother geomorphology and DTM photos produce rough geomorphology. Based on the transect analysis result, it is given that DTM LIDAR height has already neared DTM Steroplotting. DTM LiDAR the is produced with macro terrasolid algorthm on sample area in NLP (map sheet) 1209-1432C and NLP 1209-1415C is categoried in second class scale 1:5.000 and third class scale 1:5.000. Whereas DTM LiDAR with SBF method on sample area from NLP 1209-1432C and NLP 1209-1415C is categoried into third class scale 1:5000. DTM image result from Macro Terrasolid processing on sample area from NLP 1209-1432C and NLP 1209-1415C is categoried into third class scale 1:10.000. While DTM image with SBF method from NLP 1209-1432C and NLP 1209-1415C is categoried into third class scale 1:5.000 and second class scale 1:10.000.Keywords : DTM, filtering, aerial photo, geometry accuracy, and  LiDAR
PENENTUAN TINGKAT LAHAN KRITIS MENGGUNAKAN METODE PEMBOBOTAN DAN ALGORITMA NDVI (Studi Kasus: Sub DAS Garang Hulu) Mazazatu Rosyada; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.925 KB)

Abstract

ABSTRAKPemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan syarat konservasi tanah dan air berpotensi menyebabkan terjadinya degradasi lahan yang pada akhirnya akan menimbulkan lahan kritis. Dampak adanya lahan kritis ini adalah penurunan tingkat kesuburan tanah, berkurangnya ketersediaan sumber air pada musim kemarau serta mengakibatkan banjir pada musim hujan. Pemetaaan lahan kritis pada Sub DAS Garang Hulu diperlukan untuk memberikan tingkat pengelolaan yang tepat sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran tingkat kekritisan lahan Sub DAS Garang Hulu dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengacu Departemen Kehutanan No. P.4/V-SET/2013 yaitu metode tumpang tindih, pemberian skor serta pembobotan tiap parameter. Parameter yang digunakan yaitu peta kelas vegetasi, peta kelas produktivitas, peta kelas lereng, peta kelas erosi dan peta kelas manajemen. Peta kelas vegetasi dibuat dari interpretasi citra landsat 8 menggunakan transformasi NDVI. Penentuan lahan kritis di lakukan dengan tumpang tindih data raster dengan pembagian 3 kawasan yaitu kawasan budidaya pertanian, kawasan hutan lindung dan kawasan lindung di luar kawasan hutan.Berdasarkan hasil pengolahan data, kriteria kelas sangat kritis pada kawasan budidaya pertanian dengan luas 339,03 Ha (4,34%), pada kawasan hutan lindung seluas 0,63 Ha (0,008%) dan pada kawasan lindung di luar kawasan hutan seluas 1,17 Ha (0,018%). Analisis tiap kecamatan menunjukkan bahwa kriteria kelas sangat kritis terluas berada di kecamatan Banyumanik dengan luas 102,51 Ha (1,32%), kriteria kelas kritis terluas berada di kecamatan Gunungpati dengan luas 231,57 Ha (2,97%), kriteria kelas agak kritis dengan luas 249,39 Ha (3,20%), kelas potensial kritis dengan luas 1.243,53 Ha (15,96%), dan kelas tidak kritis dengan luas 1.842,48 Ha (23,65%) berada di kecamatan Ungaran Barat.Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meminimalkan peningkatan kekritisan lahan yang terjadi yaitu dengan memberdayakan lahan- lahan tidur (tegalan, tanah kosong) sesuai aturan konservasi tanah. Pemberdayaan lahan tidur ini nantinya mampu meningkatkan nilai lahan itu sendiri baik terutama dari segi produktivitas.Kata kunci :Lahankritis, NDVI, PenginderaanJauh, SistemInformasiGeografis(SIG), TumpangTindih. ABSTRACTLand use does not attention to the rules of soil and water conservation potentially lead to land causes of degradation that will eventually lead to critical land. The impact ofthe existence ofcritical landis thedecreaseof soilfertility, lack ofwater resourcesin dryseasonandin rain season. Critical land mapping is necessary to determine the right efforts in the management of upper course of Garang Hulu Sub Watershed until not disturb ecosystem balanced.  This researchaims to determinethe distribution ofthe critical level ofGarangHulu sub watershedtoutilizeremote sensing technologyandgeographicinformationsystems. The method based on Forestry Department P.4/V-SET/2013 by overlap method, scoring and weighting of each parameter. The parameters used are  map of vegetation class, productivity class map, class map slope, erosion class map, and class map management. Vegetation class map created from Landsat 8 imagery interpretation using NDVI transformation. Determination ofcritical landdowithraster dataoverlapwiththe distribution ofthreeregionsnamelyfarm area, protected forest areas, andprotected areasoutside theforest area.Based on the results of data processing, the class is very critical criteria in the farm area with immensityof 339.03 Ha (4.34%), the area of protected forest area with immensity of 0.63 Ha (0.008% and in protected areas outside the forest area with immensity of 1.17 H (0.018%). Analysis shows that every district is very critical criteria widest class are in Banyumanik subdistricts with immensity of 102.51 Ha (1.32%), the largest class criteria are critical in Gunungpati subdistrict with immensity of 231.57 Ha (2.97%), criteria rather critical class with immensity of 249.39 Ha (3.20%), with a critical potential class area with  immensity of 1.243.53 Ha (15.96%) and are not critical class area with immensity of 1,842.48 Ha (23.65%) located in West Ungaran subdistrict. There is one of way that can be done to minimize the increase in the occurring of critical land which is to empower idle land (wasteland) in accordance with the rules of conservation land. Empowering these idle lands will be able to increase the value of the land itself, well especially in terms of productivity.Keywords : Critical land, NDVI,Remote sensing,Geographic Information Systems (GIS),Overlay.
EVALUASI KESESUAIAN RUANG TERBUKA HIJAU BERDASARKAN PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 7 TAHUN 2010 DI KECAMATAN SEMARANG SELATAN Kiky Extiana; Moehammad Awaluddin; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.172 KB)

Abstract

ABSTRAKSemarang Selatan merupakan salah satu kecamatan di Kota Semarang yang menjadi kawasan pusat aktivitas dan pusat perekonomian kota. Berbagai infrastruktur dibangun dan dikembangkan di kecamatan ini untuk mendukung berjalannya aktivitas dan perekonomian di pusat kota. Selain itu, Kecamatan Semarang Selatan merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk bruto klasifikasi tinggi. Perkembangan infrastruktur serta kepadatan penduduk yang tinggi dapat memicu penurunan kualitas lingkungan. Oleh sebab itu, Pemerintah Kota Semarang menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2010 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai upaya menjaga kualitas lingkungan kota serta keterpaduan kegiatan pembangunan. Hampir sepuluh tahun berjalannya perda ini, belum terdapat publikasi penelitian tentang evaluasi kesesuaian RTH berdasarkan perda berbasis spasial, terlebih dengan adanya pembagian area RTH yang detail di kawasan permukiman. Sebagai salah satu kecamatan dengan persentase rencana luasan RTH kawasan permukiman terbesar, maka perlu dilakukan penelitian tentang evaluasi kesesuaian RTH berdasarkan Perda Kota Semarang Nomor 7 Tahun 2010 di Kecamatan Semarang Selatan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan intepretasi citra WorldView-2 untuk didapatkan persebaran dan luasan RTH. Karena luas RTH direncanakan secara mendetail, diperlukan kontrol kualitas data seperti uji akurasi posisi dan tematik. Hasil uji akurasi posisi horizontal dan akurasi tematik menunjukkan pergeseran posisi menggunakan citra WorldView-2 untuk Peta Ruang Terbuka Hijau skala 1:2.500 tidak melebihi 1,5 meter serta akurasi tematik klasifikasi sebesar 96,65%. Secara umum, Kecamatan Semarang Selatan telah memenuhi peraturan 113,940 Ha dari 175,829 Ha atau 65% dari yang telah direncanakan. Terdapat enam klasifikasi ruang terbuka hijau yang belum memenuhi perencanaan yaitu pada kawasan sempadan sungai, areal taman lingkungan permukiman, area ruang hijau jalan permukiman, pertamanan dan lapangan, khusus militer, serta jalur Saluran Udara Tegangan Tinggi dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi. Kata Kunci: RTH, Semarang Selatan, SIG ABSTRACTSouth Semarang is one of district in the Semarang City which is a center of activities and economy of the city. Various infrastructures are constructed and developed in this district to support the running of activity and economy in the center of the city. In addition, South Semarang District has a high gross population density classification. Development of infrastructure and high population density can trigger a decrease in environmental quality. Therefore, Semarang City Government issued Regional Regulation Number 7 of 2010 concerning Green Open Space Arrangement as an effort to maintain the quality of the city environment and the integration of development activities. Almost ten years of the operation of this regulation, there has been no research publication on the evaluation of green open space suitability based on regional regulation with spatial based, especially with the detail division of green open space in residential areas. As one of the sub-districts with the largest percentage of planned green open space area of residential, it is necessary to do research on evaluation of green open space suitability based on Regional Regulation of Semarang City Number 7 of 2010 in South Semarang District. This research was conducted using a spatial analysis method with WorldView-2 image interpretation to obtain the distribution and extent of green open space. Because detail of green open space plan, data quality controls such as position and thematic accuracy testing are required. Horizontal position and thematic accuracy test results show position shift using WorldView-2 imagery for a 1: 2,500 scale Green Open Space Map not to exceed 1.5 meters and a thematic accuracy classification of 96.65%. In general, South Semarang district has complied with 113,940 Ha out of 175,829 Ha or 65% of what was planned. There are six classifications of green open space which is not sufficient with the planning regulation consists of river border, settlement park area, settlement road area, park and field, military, and electric voltage line.
PENENTUAN AREA LUAPAN KALI BABON AKIBAT KENAIKAN DEBIT AIR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Arnita Ikke Sari; Bambang Sudarsono; Bandi Sasmito; Harianto Harianto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4614.861 KB)

Abstract

Semarang city is one of the regions in Indonesia are vulnerable to flooding. This condition is getting worse by the land subsidence during the year to reach 0,7 – 11,2 cm / year. Water flooding which inundate along the Kali Babon Watershed have flooded the area around the river. Starting from Bendung Pucang Gading, Kali Babon Watershed experiencing siltation due to the slope of a gentle stream them more prone to sedimentation, thereby reducing the drainage capacity.This research uses open source software Hec RAS version 4.1.0. to analyze the profile of the river water level and produce flood inundation area with a certain depth of flood discharge plans with 5, 10 and 25 years.Results obtained from the distribution of the data processing occurs on the widest flood area Sriwulan village, district. Sayung, Kab. Demak approximately 247,965 hectares and a depth ranging from 0,00154448 to 4,5808 meters at discharge of 5-years plan; 249,598 hectares and a depth ranging from 0,00154781 to 10,1064 meters at discharge of 10-years plan , 482,180 hectares with depths ranging from 0,000581622 to 12,6956 meters at discharge of 25-years plan.Keywords : Flood, Kali Babon, Watershed and Hec RAS
ANALISIS KORELASI SPASIAL DAMPAK PENURUNAN MUKA TANAH TERHADAP BANJIR DI JAKARTA UTARA Zainab Ramadhanis; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.439 KB)

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya jumlah penduduk di Jakarta Utara memaksa pemerintah untuk menambah lahan melalui reklamasi. Reklamasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan lahan permukiman dan dapat meningkatkan pendapatan ekonomi Pemerintah Daerah. Banyaknya gedung-gedung pencakar langit, pengambilan air tanah secara terus menerus dan jenis tanah Jakarta yang sebagian besar adalah alluvial menjadi beberapa faktor penyebab penurunan muka tanah, dikutip dari Kompas (2016) laju penurunan muka tanah di Jakarta meningkat dari 5-6 cm menjadi 10-11 cm per tahun. Penurunan muka tanah yang terjadi di Jakarta menyebabkan berbagai macam masalah yang serius, salah satunya adalah banjirDalam penelitian ini menggunakan Citra Sentinel-1A pada tahun 2015 dan 2016 untuk mengetahui penurunan muka tanah yang terjadi di Jakarta Utara dengan menggunakan metode DInSAR. Kemudian, untuk mengetahui zona ancaman banjir di Jakarta Utara, menggunakan metode pembobotan yang mengacu pada pada Katalog Metodologi Penyusunan Peta Geo Hazard Berbasis GIS karya Endro Santoso dari Badan Meterologi dan Geofisika dengan parameter berupa curah hujan, ketinggian, zona banjir dan tata guna lahan.Hasil dari metode DInSAR, penurunan muka tanah terjadi di empat dari enam kecamatan dengan besar -0,18 cm/tahun sampai dengan -2,45 cm/tahun dimana 61% penurunan muka tanah terjadi pada kawasan terbangun, 25% terjadi di kawasan tidak terbangun dan 14% terjadi kawasan sekitar perairan. Kemudian, hasil dari metode pembobotan adalah 82% dari wilayah Jakarta Utara merupakan zona banjir ancaman tinggi, 15% merupakan zona banjir ancaman sedang dan 3% merupakan zona banjir ancaman rendah. 81% zona ancaman banjir terdiri dari kawasan terbangun, 12% terdiri dari kawasan tidak terbangun dan 7% terdiri dari kawasan perairan. Selanjutnya, korelasi penurunan muka tanah terhadap banjir dibagi menjadi tiga tingkat kesesuaian, yaitu tinggi sebesar 74%, sedang sebesar 22% dan rendah sebesar 4%.  77% wilayah yang terdeteksi adanya korelasi penurunan muka tanah terhadap banjir merupakan kawasan terbangun, 17% merupakan kawasan tidak terbangun dan 6% merupakan kawasan perairan.Harapannya, penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai penurunan muka tanah dan zona ancaman banjir di Jakarta Utara. Hal ini, dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk perencanaan tata kota yang lebih baik.Kata Kunci : Banjir, DInSAR, Korelasi, Pembobotan, Penurunan Muka Tanah ABSTRACTThe population growth in North Jakarta forces the Government to enhance the land by reclamation. Reclamation was done to fulfill the settlement needs and to increase the economic revenues of Local Government, so that a lot of skyscrapers were built. A lot of skyscrapers, taking groundwater continuously and geological structure of Jakarta which most of it is alluvial become the factors cause land subsidence. Quoted from Kompas (2016), land subsidence rate in Jakarta is increasing from 5-6 cm to 10-11 cm a year. Land subsidence causes some serious problems, one of them is flood.This research used Sentinel-1A image in 2015 and 2016 to know the land subsidence rate in North Jakarta by using DInSAR method. Then, in order to know the flood threat zone in North Jakarta, used scoring method which referred to the Catalogue of Geo Hazard Map Methodology Based on GIS by Endro Santoso from Indonesian Agency for Meteorological, Climatological and Geophysics with parameters of rainfall, topographic height, flood zone and land use.The result of DInSAR method, prove that land subsidence occurred in four of out six sub-districts with the rate of to -0,18 cm/year to -2,5 cm/year which 61% of the land subsidence occurred in a well-built area, 25% occurred in a non-built area and 14% occurred at around the waters area.  The result of scoring method is 82% of North Jakarta area is high the flood threat zone, 15% is medium the flood threat zone and 3% is low the flood threat zone. 81% of the flood threat zone consist of the built area, 12% consist of non the built area and 7% consist of the waters area. Then, the correlation land subsidence to flood is divided into three levels, 74% for high correlation, 22% for medium correlation and 4% for low correlation. 77% of area which detected to have the correlation land subsidence to flood is well-built area, 17% is non-built area and 6% is waters area. Hopefully, this research can provide information about land subsidence and flood threat zone in North Jakarta. So that, it can be used for better urban planning.Keywords: Correlation, DInSAR, Flood, Land Subsidence, Scoring
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PARIWISATA BERBASIS WEB DI KABUPATEN PEMALANG Ridwan Ageng Ashari; Andri Suprayogi; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (996.578 KB)

Abstract

Abstrak Sektor pariwisata sebagai kegiatan perekonomian telah menjadi andalan potensial dan prioritas pengembangan bagi sejumlah Negara.Terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki potensi wilayah yang luas dengan daya tarik wisata yang cukup besar. Salah satu problematika yang harus dipecahkan adalah masalah infrastruktur Information and Communication Technology (ICT) dan strategi promosi wisata yang masih konvensional. Penelitian ini berupa aplikasi Sistem InformasiGeografis (SIG) tentang pariwisata berbasis web dengan wilayah penelitian di Kabupaten Pemalang. Webgis  adalah  aplikasi  SIG  yang  terdistribusi  dalam suatu  jaringan komputer untuk mengintegrasikan dan menyebarluaskan informasi geografis secara visual pada World Wide Web. Dalam penelitian ini menggunakan data spasial koordinat posisi hasil survei dengan GPS Handheld dan data atribut yang berupa informasi yang didapat dari instransi terkait. Untuk merancang dan membangun webgis pariwisata yaitu sistem awal menggunakan bahasa php, styling css dan html dengan mysql sebagai basis data, kemudian integrasi dengan google map API.Hasil akhir penelitian ini berupa aplikasi SIG pariwisata berbasis web di Kabupaten Pemalang menggunakan Google map API sebagai  penyedia peta  gratis  yang diintegrasikan  ke  dalam website. Selain itu tentunya menyajikan informasi mengenai objek wisata yang dilengkapi dengan restoran dan hotel. Kata Kunci:Google Map API; Pariwisata; Webgis Abstract Tourism sector as the economic activity has become a mainstay of potential and priorities for the development for a number of countries. Especially Indonesia as a developing country that has the large potential area with high tourist attraction. One of the problems that must to be solved is the problem of infrastructure of Information and Communication Technology (ICT) and tourism promotion strategy that is still conventional. This study uses the application of Geographic Information Systems (GIS) of the web-based tourism in Pemalang. This research uses the application of Geographic Information Systems (GIS) of the web-based tourism in Pemalang. WebGIS is a distributed GIS application in a computer network to integrate and disseminate geographic information visually on the World Wide Web. This study uses position coordinate spatial data of the survey with GPS Handheld and attributes data in the form of information obtained from instransi related. To design and build the tourism WebGIS, it uses the initial system that uses language php, css and html styling. Mysql is the database, then integration with Google Map API. The final result of this research is a web-based tourism GIS application in Pemalang using Google map API as the free provider map that is integrated into website. In addition, it provides information about tourist attractions that equipped with restaurants and hotels. Keywords:Google Map API; Tourism; Webgis 
STUDI PENGARUH KERAMBA JARING APUNG (KJA) TERHADAP KUALITAS AIR DI WADUK KEDUNG OMBO DENGAN CITRA LANDSAT-8 MULTITEMPORAL SILALAHI, ERTHA; Suprayogi, Andri; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi Undip Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.675 KB)

Abstract

Waduk Kedung Ombo merupakan sebuah bendungan raksasa terletak di Provinsi Jawa Tengah dimana dikelilingi oleh tiga kabupaten yaitu Kapupaten Grobogan, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Boyolali tepatnya di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan. Keberadaan Waduk Kedung Ombo dengan area yang begitu luas menjadikannya memiliki peranan yang sangat penting bagi masyarakat sekitar yaitu sebagai penyedia sumber air utama. Selain sebagai sumber air utama, Waduk Kedung Ombo juga memiliki peranan penting dalam sektor perikanan yaitu kegiatan budidaya ikan dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) yang dimana jika berkembang pesat akan menimbulkan dampak negatif yaitu penurunkan kualitas perairan waduk. Pada penelitian ini pengambilan titik sampel dilakukan pada bulan April 2018 yang diambil secara acak pada perairan Waduk Kedung Ombo. Hasil sampling akan diuji di laboratorium dimana hasilnya akan digunakan dalam pengolahan algoritma masing-masing pada citra Landsat-8 dan pada KJA diperoleh perubahan jumlah untuk setiap tahunnya. Konsentrasi TSS dan kandungan klorofil-a yang diperoleh digunakan untuk mengetahui distribusi pencemaran dan kesuburan air yang nantinya dikaitkan dengan perubahan jumlah KJA. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan luas KJA dari tahun 2013, 2014, 2016 dan 2018 mengalami kenaikan setiap tahunnya. Kualitas air waduk untuk tahun 2013, 2014, 2016 dan 2018, berada dalam keadaan memenuhi baku mutu dan berstatus trofik oligotrof. Berdasarkan rentang nilai klasifikasi pencemaran air, konsentrasi TSS tertinggi tahun 2013 berada pada rentang 0 – 100 mg/l, untuk tahun 2014 dengan rentang 100 – 500 mg/l, untuk tahun 2016 dan 2018 memiliki rentang sebesar  >1000 mg/l . Sedangkan berdasarkan rentang nilai klasifikasi kesuburan air, kandungan klorofil-a tertinggi dari tahun 2013, 2014, 2016 tetap berada pada rentang 2,6 – 7,3 mg/l dan pada tahun 2018 naik hingga berada pada rentang 7,3 – 56 mg/l. Dengan demikian konsentrasi TSS lebih menunjukkan kenaikan lebih signifikan dari pada kandungan klorofil-a yang artinya KJA lebih mempengaruhi secara signifikan terhadap konsentrasi TSS.
ANALISIS PERUBAHAN ZONA NILAI TANAH BERDASARKAN HARGA PASAR UNTUK MENENTUKAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK (NJOP) DAN PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) (Studi Kasus : Kec. Semarang Timur, Kota Semarang) Saul Ambarita; Sawitri Subiyanto; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.484 KB)

Abstract

ABSTRAK NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) selama ini digunakan sebagai dasar pengenaan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan). Penentuan NJOP haruslah sesuai dengan ketentuan nilai pasar wajar (NPW). Tetapi kenyataannya NJOP seringkali tidak sesuai dengan NPW. Hal ini mendasari semakin berkembangnya sistem penilaian harga pasar menggunakan peta Zona Nilai Tanah (ZNT). Peta ZNT dapat dimanfaatkan untuk penentuan tarif dalam pelayanan pertanahan, referensi masyarakat dalam transaksi, penentuan ganti rugi, inventaris nilai aset publik maupun aset masyarakat, monitoring nilai tanah dan pasar tanah, dan referensi penetapan NJOP untuk PBB.Penelitian ini dilakukan dengan cara penilaian massal tanpa memperhatikan properti khusus dengan menggunakan pendekatan perbandingan penjualan (Sales Comparative). Penelitian ini dilakukan dengan pembuatan zona untuk menentukan titik sampel yang akan dicari. Kemudian membuat peta zona nilai tanah berdasarkan Harga Pasar dan NJOP Kecamatan Semarang Timur. Pembuatan Peta Zona Nilai Tanah Kecamatan Semarang Timur Tahun 2015 menggunakan teknologi analisis SIG (Sistem Informasi Geografis).Hasil penelitian diketahui peningkatan NJOP berdasarkan harga pasar yang tertinggi mencapai 1229,3% dengan data NJOP sebesar  Rp. 1.086.000 dan data harga pasar sebesar Rp. 14.436.000. Sedangkan peningkatan harga pasar yang terendah 40,85% dengan data NJOP sebesar Rp. 2.444.000 dan data harga pasar  sebesar Rp. 3.442.000. Kata Kunci :    Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), Nilai Pasar Wajar (NPW), Pajak Bumi Bangunan (PBB), Sistem Infomasi Geografis (SIG), Zona Nilai Tanah (ZNT)   ABSTRACT Tax Object Sales Value (NJOP) has been used as a basis for the imposition of Tax on Land and Building(PBB). NJOP determination process must be suitable with the provisions of the fair market value (NPW). But the fact is NJOP often incompatible with NPW. It underlies the development of a scoring system using the market value of the Land Value Zone (ZNT) Map. ZNT map can be utilized for the cost determination in land service, reference for the community in  transaction, the determination of indemnify, inventory for public assets or community assets value, monitoring the value and market of land, and as reference for the NJOP's determination for PBB.This research done by massive appraisal without concerning about specific property. Mapped by land’s value in massive assessment using the sales comparative approach. This research was conducted to create a zone which determine sample points for analysis. Then create a zone map of land values based on the market value and NJOP District of Semarang Timur. Making a zone map of land value by the district of Semarang Timur in 2015 using GIS (Geographical Information Systems)  analysis technology.From this research shown that NJOP increased based on the highest market value reached 1229,3% with the value of land based on NJOP data is Rp. 1.086.000 and the land based on the market value is Rp. 14.436.00. While the lowest value increas is 40,85%. The land value based on NJOP data is Rp. 2.444.000 and the land based on the market value is Rp. 3.442.000. Keywords: Geographical Information Systems (GIS), Land Value Zone (ZNT), Tax Object Sale Values (NJOP), Tax on Land and Building(PBB), The Fair Market Value (NPW)  *) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS PERUBAHAN LAHAN UNTUK MELIHAT ARAH PERKEMBANGAN WILAYAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : KOTA MEDAN) Michel Christiansen Sipayung; Bambang Sudarsono; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.832 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Medan adalah sebuah ibukota dari Provinsi Sumatera Utara. Sebagai kota terbesar ke tiga di Indonesia, Kota Medan merupakan kota dengan pertumbuhan dan perkembangan wilayah yang cukup pesat. Hal ini disebabkan karena cepat nya pertumbuhan penduduk di Kota Medan. Dampak dari pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk di Kota Medan adalah terjadinya perubahan fisik khususnya penggunaan lahan sebagai daerah pemukiman. Selain itu, pemerintah setempat juga mengembangkan infrastruktur pendukung yang menyebabkan peningkatan penggunaan lahan kosong. Pada penelitian ini menggunakan data antara lain batas administrasi Kota Medan tahun 2017, citra landsat 7 tahun 2007, 2012 dan citra landsat 8 tahun 2018, citra SPOT 6 tahun 2018 dan data kependudukan Kota Medan tahun 2018. Analisis pola perkembangan wilayah Kota Medan dilakukan menggunakan metode Global Moran’s I. Metode yang dilakukan untuk mengetahui arah perkembangan fisik wilayah adalah overlay intersect menggunakan data penggunaan lahan tahun 2007-2012 dan 2012-2018. Perubahan penggunaan lahan di Kota Medan pada tahun 2007 dan 2012 sebesar 1.665,07 hektar dan perubahan penggunaan lahan di Kota Medan pada tahun 2012 dan 2018 sebesar 1.115,62  hektar. Wilayah kecamatan di Kota Medan yang mengalami perkembangan adalah Kecamatan Medan Belawan, Kecamatan Medan Labuhan dan Kecamatan Medan Marelan. Arah perkembangan fisik wilayah Kota Medan tahun 2007 hingga 2012 dan 2012 hingga 2018 adalah mengarah ke sebelah selatan Kota Medan. Hasil validasi menunjukkan bahwa terdapat delapan titik sampel yang tidak sesuai antara hasil digitasi dengan keadaan di lapangan. Delapan titik tersebut adalah klasifikasi Perdagangan Jasa sebanyak dua penggunaan lahan, Kawasan Industri sebanyak satu penggunaan lahan, Permukiman sebanyak empat penggunaan lahan dan Penggunaan Lain sebanyak satu penggunaan lahan.Kunci : Arah perkembangan, Citra Landsat, Global Moran’s I, Kota Medan, Penggunaan Lahan  ABSTRACT Medan is the capital city of the Indonesian province of North Sumatra. As the third largest city in Indonesia, Medan City has a rapid regional growth and development. This is due to rapid population growth in the city of Medan. It causes physical changes in the region, especially on its land use as a residential area. In addition, the local government is also developing supporting infrastructure that causes an increase of land use.The data used in this study are based on The Administrative Boundaries of Medan City in 2017, Landsat 7 in 2007, 2012, and Landsat 8 in 2018, SPOT 6 in 2018, and Medan City Population Data in 2018. Analysis of the development pattern of the Medan City area was carried out using The Global Moran's I method. The method used to determine the direction of the region's physical development was an intersect overlay using land use data for 2007-2012 and 2012-2018. Changes in land use in Medan City in 2007 and 2012 amounted to 1,665.07 hectares and Medan City land use change in 2012 and 2018 amounted to 1,115.62 hectares. The developing districts in Medan City are Medan Belawan District, Medan Labuhan District, and Medan Marelan District. The direction of the physical development of Medan City in 2007 to 2012 and 2012 to 2018 is lead to the south of Medan City. The validation results shows that there are eight sample points that do not match the digitization results with the conditions in the field. The eight points are commercial  for two land uses, Industrial Estate for one land use, Settlement for four land uses and Other Use for one land use.Keyword: Development Direction, Global Moran's I, Landsat, Land Use, Medan City
Kajian Area Tercemar Pada Jaringan Pembuangan Limbah Batik Kota Pekalongan Menggunakan Sistem Informasi Geografis Yanies Meiyanti; Arief Laila Nugraha; Sutomo Kahar
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.438 KB)

Abstract

Pembuangan limbah batik yang belum dikelola dengan baik di Kota Pekalongan Pembuangan limbah batik yang belum dikelola dengan baik di Kota Pekalongan khususnya di Kecamatan Buaran mengakibatkan pencemaran sungai yang berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat. Pembuatan jaringan pembuangan limbah batik dan permodelan secara spasial berfungsi sebagai basis data distribusi pembuangan limbah pabrik batik serta untuk mengetahui luasan area yang terkena pencemaran limbah cair yang berasal dari pabrik batik tersebut. Untuk mengetahui klasifikasi pencemaran yang terjadi di Sungai Pekalongan, digunakan Metode Indeks Pencemaran berdasarkan Kep-MENLH N0.115 tahun 2003. Selanjutnya untuk menganalisis area yang tercemar digunakan software ArcGIS sehingga mendapatkan area yang mengalami pencemaran. Data yang digunakan antara lain nilai BOD (Biochemical Oksigen Demand), dan COD (Chemical Oksigen Demand) insitu tahun 2010, 2011, 2012, 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui klasifikasi tingkat pencemaran yang terjadi dan memetakan sebaran spasial daerah yang mengalami pencemaran pada tahun 2010, 2011, 2012, dan 2013.Berdasarkan hasil perhitungan yang diperoleh dengan menggunakan Metode Indeks Pencemaran pada tahun 2010 hingga tahun 2013, Sungai Pekalongan berada pada tingkat cemar ringan, dengan hasil sebaran tahun 2010 hingga 2013 nilai tertinggi untuk BOD berkisar antara 10-20 mg/L sedangkan untuk COD berkisar antara 60-98 mg/L dan daerah yang mengalami cemar ringan secara empat tahun berturut-turut adalah wilayah Kuripan Lor, Sapuro, dan Kaputran. Hasil klasifikasi tersebut akan disajikan sebagai model spasial dalam SIG (Sistem Informasi Geografis). Kata kunci: Jaringan Pembuangan Limbah Batik, Nilai Indeks Pencemaran, SIG

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue