cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT PROVINSI JAWA BARAT DAN JAWA TENGAH BAGIAN SELATAN Dina Wahyuningsih; Moehammad Awaluddin; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMemasuki era otonomi daerah, pasal 27 UU No. 23 Tahun 2014 yang merupakan pengganti pasal 18 UU No. 32 Tahun 2004, menyatakan bahwa daerah provinsi diberi kewenangan untuk mengelola sumber daya alam di laut yang ada di wilayahnya. Ketentuan penetapan dan penegasan batas pengelolaan wilayah laut daerah telah diatur dalam Permendagri No. 76 Tahun 2012. Garis batas pengelolaan wilayah laut ditentukan dari titik-titik dasar yang sudah ditetapkan di darat yaitu pada garis pantainya, padahal posisi garis pantai rentan sekali mengalami perubahan, baik karena abrasi, akresi, maupun karena pengaruh dinamika air laut. Oleh karena itu, diperlukan adanya penelitian mengenai pengaruh perubahan garis pantai terhadap batas pengelolaan wilayah laut daerah.Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan batas pengelolaan wilayah laut Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian selatan dengan menggunakan metode kartometrik di atas peta LLN dan citra satelit Landsat yang diamati secara time series. Penarikan batas pengelolaan wilayah laut dilakukan dengan prinsip garis tengah (median line) untuk pantai berhadapan, dan prinsip sama jarak (equidistance) untuk pantai berdampingan.Dari hasil pengamatan citra Landsat tahun 2001 dan 2015, terjadi perubahan garis pantai di wilayah perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian selatan karena adanya proses abrasi dan akresi. Perubahan garis pantai ini mempengaruhi pergeseran batas yang terjadi, dilihat dari perubahan letak garis batas klaim 12 mil laut, garis batas yang terbentuk dari equidistance line, dan luasan wilayahnya. Dalam kurun waktu kurang lebih 14 tahun, sampel luas area pengelolaan wilayah laut Provinsi Jawa Barat bertambah seluas 267,047 Ha sedangkan Provinsi Jawa Tengah mengalami penyusutan sebesar 287,738 Ha.Kata Kunci :  Garis Pantai, Citra Satelit Landsat, Batas Pengelolaan Wilayah Laut, Kartometrik, Garis Ekuidistan, Garis Tengah ABSTRACTApplicating regional autonomy, article 27 of Law No. 23, 2014 which is a replacement of article 18 of Law No. 32, 2004, states that the provinces are given the authority to manage natural resources of the sea which is in its territory. Provisions establishing and affirmation of boundary sea area has been set in Regulation No. 76, 2012. The boundary sea area is determined from the salient points defined on the coastline, whereas the position of the coastline is susceptible to change, either because of abrasion, acresion, as well as the influence of sea water dynamics. Therefore, it is necessary to study the effects of coastline changes to the boundary sea areas.This study aims to establish the boundary sea area of southern West Java and Central Java using cartometric method on LLN maps and Landsat satellite images observed time series. Boundary sea area drawing use the median line principle for the opposite coast, and the principle of equidistance line for adjacent coast.Based on 2001 and 2015 Landsat observations, coastline changes at the southern border region of West Java and Central Java due to erosion and accretion. Coastline change affects the boundary alteration, judging from the change of the boundary line of claim 12 nautical miles position, the boundary line formed by the equidistance line, and its territory area. Within about 14 years, the sample of boundary sea area at West Java has increased of 267,047 hectares, while Central Java has decreased of  287,738 Ha.Keywords : Coastline, Landsat Satellite Image, Boundary Sea Area, Cartometric, Equidistance Line, Median Line *) Penulis, Penanggungjawab
PENENTUAN LOKASI POTENSIAL UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN BOYOLALI Wahyu Satya Nugraha; Sawitri Subiyanto; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (780.242 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Boyolali memiliki kelebihan yang dapat dijadikan sebagai modal pembangunan daerah karena berada pada segitiga wilayah Yogyakarta – Solo – Semarang (Joglosemar) dan termasuk wilayah yang sangat strategis untuk mendirikan sebuah kawasan industri. Untuk mendorong pertumbuhan sektor industri agar lebih terarah, terpadu dan memberikan hasil guna yang lebih optimal maka di butuhkan pengembangan kawasan industri. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat potensi lahan pengembangan kawasan industri di Kabupaten Boyolali. Penelitian ini mempertimbangkan enam parameter yang menunjang dalam pengembangan kawasan industri, yaitu kemiringan lereng, penggunaan lahan, jenis tanah, jarak terhadap jalan, jarak terhadap sungai, dan jarak pusat perdagangan dan infrastruktur.Dari analisis dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) menunjukkan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter sebesar 35,26% untuk kemiringan lereng, 8,21% penggunaan  lahan, 5,04% jenis tanah, 35,26% jarak terhadap jalan utama, 3,56% jarak terhadap sungai, dan 12,66% untuk jarak terhadap pusat perdagangan dan infrastruktur. Dari hasil intersect peta prioritas lahan dengan RTRW Kabupaten Boyolali, dan kemudian hasil tersebut  dilakukan pengurangan berdasarkan luas lahan RTRW maka hasil yang didapat adalah hasil potensi lahan sebesar 17389,633 Ha.Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan dengan skoring, tingkat potensi lahan di Kabupaten Boyolali untuk pengembangan kawasan industri dibagi menjadi 5 kelas, yaitu kelas sangat sesuai (S1) dengan luas 18438,34 Ha, kelas sesuai (S2) dengan luas 21175,51 Ha, kelas cukup sesuai (S3) dengan luas 35670,16 Ha, kelas kurang sesuai (N1) dengan luas 24953,14 Ha, kelas tidak sesuai (N2) dengan luas 9701,42 Ha.Kata Kunci : AHP, Potensi Lahan Industri, SIG ABSTRACTBoyolali Regency has geographical advantage which can be used as region development due to its position on the golden triangle of Yogyakarta – Solo – Semarang (Joglosemar) and it also categorized as strategic regionfor developing the industry area. In order toenhance the development of industrial sector to be aimed, integrated, and give more optimum usage, it needs the developing of industrial area. In this study, Geographical Information System (GIS) brings specific benefit which can be used to find out the terrain potency level of industrial area development in Boyolali. This study takes consideration on six aspects which can enhance the development of industrial area, they are terrain slope, the use of the terrain, the soil type, distance to the road, distance to the river, and also distance of trading center and infrastructure.By the analysis using AHP method (Analytical Hierarchy Process) shows that the weighted score which affected each of parameter is 35.26% for terrain slope, 8.21% for the use of terrain, 5.04% for soil type, 35.26% for the distance to the main road, 3.56% for the distance to the river, and also 12.66% for the distance of trading center and infrastructure. From the intersect result terrain priority map and RTRW of Boyolali Regency, and then that result deducted based on the RTRW wide and resulting the terrain potency level is 17,389.633 Hectares.Whereas, according to the calculation result by scoring concludes that terrain potency level in Boyolali for industrial area development classified into 5 classes that are: 1) very appropriate (S1) with 18,438.34 hectares of wide, 2) appropriate (S2) with 21,175.51 hectares of wide, 3) fairly appropriate (S3) with 35,670.16 hectares of wide, 4) poorly appropriate (N1) with 24,953.14 of wide, and 5) unappropriate (N2) with 9,701.42 hectares of wide.Keywords: AHP, industrial terrain potency, GIS 
PEMANFAATAN NILAI WILLINGNESS TO PAY UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN UMBUL DI KLATEN DAN PETA UTILITAS DENGAN METODE SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Umbul Ponggok dan Obyek Mata Air Cokro) MEIGA NUGRAHANI; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu A
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1391.454 KB)

Abstract

Kabupaten Klaten terkenal dengan obyek wisata mata air (umbul) seperti Umbul Ponggok dan Obyek Mata Air Cokro. Umbul Ponggok Kabupaten Klaten memiliki prestasi berupa tempat wisata dengan daya tarik wisata Jawa Tengah terpopuler tahun 2017 dan masuk nominasi obyek wisata baru terpopuler Anugerah Pesona Indonesia 2018. Tingginya daya tarik terhadap tempat wisata tersebut diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) untuk mengetahui nilai ekonomi dan manfaat berdasarkan keinginan untuk membayar (Willingness to pay) wisatawan dan masyarakat yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut. Penarikan sampel nilai ekonomi suatu kawasan dengan berdasakan Travel Cost Method (TCM) untuk memperoleh nilai kegunaan langsung dan metode Contingent Valuation Method  (CVM) digunakan untuk mendapatkan nilai bukan kegunaan. Non probability sampling dengan teknik accidential sampling merupakan metode penarikan responden yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini yaitu mengambil responden yang secara kebetulan ditemui dilokasi wawancara. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungannya menggunakan perangkat lunak Maple 17. Pada penelitian ini juga dilakukan uji statistik (uji validitas dan uji reliabilitas) dan uji asumsi klasik (uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinieritas dan uji heteroskesdastisitas). Perhitungan penelitian ini menghasilkan nilai total kegunaan dan nilai total bukan kgunaan. Kawasan Umbul Ponggok memiliki nilai kegunaan sebesar Rp 576.613.426.000,-, nilai bukan kegunaan sebesar Rp 486.094.982.700,- dan nilai total ekonomi kawasan sebesar Rp 1.062.708.408.700,-. Sedangkan kawasan Obyek Mata Air Cokro memiliki nilai kegunaan sebesar Rp 70.106.421.350,-, nilai bukan kegunaan sebesar Rp 50.456.381.090,- dan nilai total ekonomi kawasan sebesar Rp 120.562.802.400,-.
ANALISIS NILAI EKONOMI KAWASAN CAGAR ALAM KEBUN RAYA PURWODADI PASURUAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERDASARKAN WILLINGNESS TO PAY Wicaksono, Dwi Setyo; Subiyanto, Sawitri; Wijaya, Arwan Putra
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.462 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi, perlu dilestarikan melalui kegiatan konservasi. Selain untuk menjaga kelestarian, kegiatan ini dilakukan untuk  mengembangkan potensi dan manfaat sumber daya alam didalamnya serta lingkungan. Salah satu bentuk pelestariannya yaitu dibentuknya taman nasional dan kebun raya, salah satunya Kebun Raya Purwodadi. Kebun Raya Purwodadi (KRP) sebagai kawasan konversi (cagar alam) memiliki potensi sebagai obyek wisata. Lokasi yang strategis  terletak di jalan utama Surabaya-Malang dan manfaat edukasi yang dimiliki, membuat KRP  menjadi salah satu daerah tujuan wisata. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) terhadap kawasan KRP untuk menduga manfaat dan nilai ekonomi berdasarkan keinginan untuk membayar (Willingness To Pay : WTP) wisatawan dan masyarakat yang memperoleh manfaat dari kawasan tersebut.Metode penarikan sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah non probability sampling dengan teknik accidental sampling dimana responden merupakan siapa saja yang secara kebetulan/insidental ditemui di lokasi penelitian dan dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan WTP menggunakan perangkat lunak Maple 14.                Dalam penelitian tugas akhir ini, diperoleh hasil berupa peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan. KRP memiliki surplus konsumen sebesar Rp 1.312.505,- dan nilai WTP sebesar Rp 46.180,-. Sehingga diperoleh nilai ekonomi total Kebun Raya Purwodadi sebesar Rp340.777.882.360,- (nilai surplus konsumen per individu dikalikan dengan jumlah pengunjung tahun 2014).Kata kunci : Kebun Raya, Maple 14, Regresi Linear Berganda, Willingness To Pay, Zona Nilai Ekonomi Kawasan  ABSTRACTIndonesia as archipelago has high biodiversity, need preserved through the activities  of conservation. In addition to keep conservation,  the activity done to develop the potential and benefits of natural resources and environment. One of the conservation is  national park and botanical garden, such as Purwodadi Botanical Garden (KRP).Purwodadi Botanical Garden as conservation area has potential as tourist. In the main road of Surabaya and Malang, the benefits of education owned, make Kebun Raya Purwodadi became one of tourist destinations. Accordingly, thenneeded the economic values map of the KRP region  based on the Willingness To Pay (WTP)tourist and communities to obtain the financial benefit of the region.Methods were used in the drawing of a sample  of writing the task are non probability sampling with insidental sampling technic,where respondent is anyone who’s found fit as a source of the data. The processing data use analysis of double linear regression and WTP calculation by Maple 14 software.                In this task, obtained result in the form  of economic value zone map. Kebun Raya Purwodadi has consumer surplus Rp 1.312.505,- and WTP value Rp 46.180,-. So it acquired total economic value og Purwodadi Botanical Garden Rp 340.777.882.360,- (consumer surplus value per individu multiplied the number of visitors 2014).Keyword : Botanical Garden, double linear regression, Economic Value  Zone, Maple 14, Willingness To Pay. *) Penulis Penanggung Jawab
PEMBUATAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) KERETA BANDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA BERBASIS ANDROID Gigih Pradana; Andri Suprayogi; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.97 KB)

Abstract

ABSTRAKKereta Bandara Soekarno-Hatta resmi beroperasi setelah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, kereta ini dioperasikan oleh PT. Railink yang menghubungkan Bandara Soekarno-Hatta dengan pusat Kota Jakarta. Namun informasi mengenai Kereta Bandara hanya dapat diakses melalui website resmi PT. Railink dan tidak mempunyai aplikasi yang menghadirkan informasi geografis pada smartphone Android. Tujuan dari penilitian ini adalah Masyarakat Jabodetabek yang ingin menggunakan kereta bandara dapat mengetahui lokasi stasiun terdekat, jadwal keberangkatan dan kedatangan, rekomendasi rute menuju stasiun terbaik berdasarkan posisi pengguna agar jarak tempuh terpendek dan sesuai dengan jadwal keberangkatan pesawat sehingga calon penumpang tidak akan tertinggal pesawat dengan menggunakan aplikasi berbasis Android. Pembuatan aplikasi ini berada dalam sistem operasi Linux Ubuntu 18.04 LTS untuk mempermudah pemrograman aplikasi karena sistem Android yang masih berasal dari turunan Linux. Metode yang dipakai untuk pembuatan aplikasi ini adalah mobile GIS dan Location Based Service (LBS) menggunakan software Android Studio dan basis data MySQL. Pengujian aplikasi dilakukan setelah aplikasi final selesai dibuat untuk mengukur keberhasilan aplikasi tersebut dengan melakukan uji sistem dan uji usablity. Hasil penelitian ini adalah aplikasi yang memuat informasi geografis dan informasi lainnya tentang Kereta Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Data-data yang dibutuhkan aplikasi tersimpan disebuah basis data yang berada di server online agar dapat diakses melalui aplikasi kapan saja dan dimana saja. Aplikasi ini memiliki empat menu utama yaitu Bawa Saya Ke Soetta, Peta KA Bandara, Rute KA Bandara, dan Stasiun KA Bandara. Pengujian aplikasi dengan uji sistem berhasil dilakukan dan uji usability mendapatkan tanggapan sangat memuaskan dari user saat menggunakan aplikasi ini. Kata Kunci:        Android Studio, Google Maps API, Kereta Bandara, LBS, MySQL. ABSTRACTThe Soekarno-Hatta Airport train officially operates after it was inaugurated by the President of the Republic of Indonesia, this train is operated by PT. Railink that connects Soekarno-Hatta Airport with the center of Jakarta. However information about the Airport Train can only be accessed through the official website of PT. Railink and does not have applications that present geographic information on Android smartphones. The purpose of this research is Jabodetabek community who want to use the airport train can find out the location of the closest station, departure and arrival schedules, recommended routes to the best station based on user position so that the shortest mileage and in accordance with the flight departure schedule so passengers will not missed the flight by using an Android based application. Making this application is in the Linux Ubuntu 18.04 LTS operating system to facilitate application programming because the Android system is still derived from Linux. The method used for making this application is a mobile GIS and Location Based Service (LBS) using Android Studio software and MySQL database. Application testing is done after the final application is completed to measure the success of the application by conducting a system test and usablity test. The results of this study are applications that contain geographical information and other information about the Soekarno-Hatta International Airport Train. The data needed by the application is stored in a database located on an online server so that it can be accessed through the application anytime and anywhere. This application has four main menus namely Bawa Saya Ke Soetta, Peta KA Bandara, Rute KA Bandara and Stasiun KA Bandara. Testing the application with a system test was successfully carried out and the usability test received a very satisfying response from the user when using this application. Key Word:           Android Studio, Airport Train, Google Maps API, LBS, MySQL.
IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI AREA PERUMAHAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Gilang Andhika Surya J.; Bambang Sudarsono; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.354 KB)

Abstract

Kota Semarang merupakan Ibu Kota Jawa Tengah yang terletak di  6°58′0″ LU 110°25′0″ BT dengan luas wilayah 373.67  km2 dan  pertumbuhan penduduk rata rata 1,4% per tahun. Seiring dengan peningkatan pembangunan serta pertumbuhan penduduk, maka kebutuhan terhadap lahan juga meningkat. Hal ini dibatasi oleh ketersediaan lahan yang menyebabkan ketidakseimbangan antara sarana dan prasarana dengan pelayanan terhadap penduduk. Sehingga diperlukan informasi mengenai perubahan penggunaan lahan dan pola permukiman dalam perencanaan tata kota.Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang pemetaan dan informasi spasial, konsumen lebih mudah untuk mencari informasi rumah yang akan mereka beli. Teknologi Sistem Informasi Geografis merupakan teknologi survey dan pemetaan yang dapat digunakan untuk mengambil, menyimpan, memperbaharui, manipulasi, analisis dan menampilkan seluruh bentuk informasi yang memiliki referensi geografis.Dalam tugas akhir ini dilakukan pembuatan peta klasifikasi perumahan berdasarkan rencana pola ruang kota Semarang. Dimana dalam visualisasi posisi perumahan yang dilengkapi database menggunakan aplikasi Google Earth. Database tersebut berisi deskripsi dari perumahan yang ada dalam wilayah penelitian.Kata Kunci : Perumahan, Google Earth, Sistem Informasi Geografis, kecamatan Semarang Barat, kecamatan Ngaliyan.
ANALISIS PERUBAHAN NILAI TANAH AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH MENGGUNAKAN SIG DI PULAU KARIMUNJAWA DAN PULAU KEMOJAN TAHUN 2010 DAN 2016 Anugrah, Riandhi; Subiyanto, Sawitri; hani'ah, Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.878 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan dan penggunaan tanah berjalan seiring dengan kebutuhan manusia dan pertumbuhan penduduk serta kegiatan usaha yang terjadi. Sehingga menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan tanah dan meningkatnya nilai tanah. Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemojan kini dikembangkan menjadi pesona wisata Taman Laut yang mulai banyak digemari wisatawan lokal maupun mancanegara dengan banyaknya minat untuk investor untuk menanmkan modalnya terutama tanah. Sementara  tanah  merupakan  sebuah  sumber  daya  yang  dibutuhkan  oleh  manusia dan tanah merupakan sumber daya yang terbatas dan tidak dapat bertambah, sehingga diperlukan penelitian untuk melakukan analisis perubahan nilai tanah terhadaap penggunaan tanah tersebut.Penelitian ini memakai peta digital penggunaan tanah tahun 2010 dan 2016, untuk melakukan analisis overlay dan mengetahui perubahan penggunaan tanah. Untuk peta zona nilai tanah diperoleh dengan melakukan survei lapangan serta perhitungan harga tanah untuk mengetahui perubahan harga yang terjadi dalam rentang waktu tahun 2010-2016 serta perubahan harga yang terjadi akibat perubahan penggunaan tanah. Tahap terakhir dalam pengujian nilai tanah melakukan analisis regresi linier berganda guna mengetahui variabel atau faktor mana saja yang mempengaruhi nilai tanah dengan melakukan pengolahan menggunakan Software SPSS.Dari hasil penelitian ini di peroleh 107 zona dengan nilai nilai indeks rata-rata tertinggi pada tahun 2010 berada pada zona 37 dan zona 2 untuk tahun 2016. Total perubahan tanah yang terjadi sebesar 96,72 Ha. Dengan perubahan penggunaan tanah terbesar terjadi pada perkebunan yang menjadi sawah dengan luas perubahan 50,74 Ha (1,44%). Dari hasil pengujian statistik variabel bebas yang berpengaruh adalah jarak terhadap pusat kecamatan, tempat pariwisata, bandara dan fisik jalan berpengaruh terhadap kenaikan harga tanah dengan nilai 75,1% dengan nilai COV sebesar 30,79% dan PRD sebesar 1,11.
PETA SEBARAN GEDUNG-GEDUNG TINGGI UNTUK MENENTUKAN ZONA KAWASAN KOTA SEMARANG (Studi Kasus : Semarang Tengah, Semarang Selatan Dan Candisari) M. Andu Agjy Putra; Sutomo Kahar; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.18 KB)

Abstract

AbstrakBerbagai kemajuan pada ilmu pengetahuan dan teknologi berpengaruh pada seluruh sektor keilmuan, tak terkecuali pada bidang keilmuan Teknik Geodesi. Disiplin ilmu yang mengkhususkan pada bidang survei dan pemetaan itu kini memiliki banyak alternatif, dimana salah satunya adalah teknik pemetaan dengan visualisasi 3D. Banyaknya Gedung-Gedung Tinggi di Kota Metropolitan membuat proses pemetaan berkembang sesuai dengan fungsinya, dimana dapat menjadi replika keadaan yang sesungguhnya. Gedung tinggi inilah yang menjadi bagian penting dalam proses visualisasi 3D. Kota Semarang sebagai salah satu dari beberapa kota metropolitan yang ada di Indonesia memiliki banyak sekali persebaran gedung tinggi. Dengan fungsi yang berbeda-beda, gedung tinggi dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan kesesuaian persebaran zona kawasan yang terjadi di Kota Semarang dengan RDTR Kota Semarang. Tinggi Gedung juga dapat digunakan sebagai penelitian terhadap obstacle Kota Semarang terhadap KKOP Bandara Ahmad Yani Semarang. Pembuatan peta 3D ini menggunakan software ArcGIS. Serta penentuan zona kawasan pada persebaran gedung tinggi menggunakan metode density. Metode ini yang membagi kawasan setiap daerah yang ada di Kota Semarang. Tinggi gedung yang nantinya akan dilakukan validasi digunakan sebagai bagian KKOP Bandara Ahmad Yani. Hasil peta persebaran gedung tinggi diharapkan dapat memudahkan pemerintah maupun masyarakat dalam menenetukan kawasan di setiap daerahnya. Peta KKOP juga diharapkan dapat menjadi pertimbangan pemerintah dalam memberikan ijin terhadap pembangunan gedung-gedung tinggi yang ada di Kota Semarang. Kata kunci :ArcGIS; Density; Gedung Tinggi; Visualisasi 3D; Zona Kawasan  AbstractDistribution maps of tall buildings to determine zone area in Semarang City. The development  of science  and  technological advances have  impact to all sector of scholarly,  without exceptions engineering geodesy. It specifically discuss  about  survey and distributions that has various alternative, such as 3D visualization. There are lots of tall buildings or sky scraper in metropolitan city impact process of distributions that developed based on its function. It can represent the real replica of tall buildings. This is the most important process of  3D visualization. Semarang is one of metropolitan city in Indonesia that has lots   distributions of tall buildings. With the various function, tall buildings can be a reference to determine suitability distributions of zone area in Semarang by  Semarang’s RDTR. Tall buildings can be used as research of obstacle Semarang to KKOP Ahmad Yani airport Semarang. This creation of 3D maps used software ArcGIS. The determination of zone area of tall building distributions uses density method. This method divides each area that located in Semarang. Validated tall buildings will be used as a part of KKOP Ahmad Yani airport. The distribution map of tall buildings is expected as a tools to ease government and society to determine region of their area. KKOP’s map is expected as consideration for government to give permission of development tall buildings in Semarang city.Key word :ArcGIS; Density method; Tall building; 3D Visualization; Zone are.
KAJIAN EFEKTIVITAS PENGUKURAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN RTK DAN TOTAL STATION Wahyu Gangga; Bambang Darmo Yuwono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.066 KB)

Abstract

Garis pantai adalah garis batas pertemuan antaran daratan dan air laut, di mana posisinya tidak tetap dan dapat berpindah sesuai dengan pasang surut air laut dan erosi pantai yang terjadi (Triatmodjo, 1999) .Garis pantai merupakan bagian penting dari suatu negara kepulauan seperti Indonesia. Karena garis pantai dapat digunakan sebagai acuan penetapan batas wilayah bahkan batas negara dan untuk penetapan batas pengelolaan sumberdaya alam. Selain it ugaris pantai juga digunakan untuk mementukan batas wilayah laut propinsi dan kabupaten atau kota yang terdiri dari wilayah darat dan laut. Pengukuran garis pantai sejauh ini terdapat beberapa metode salah satunya dengan pengukuran metode terestris, pada penelitian ini akan mengkaji antara data hasil pengukuran garis pantai menggunakan metode RTK Radio yang akan dibandingkan dengan metode terestris dengan Total Station yang diasumsikan sebagai pengukuran paling benar atau definitif. Perbandingan tersebut mecari metode mana yang lebih efektif , dengan mempertimbangkan ketelitian, waktu, dan biaya serta hasil akhir dari garis pantai yang terbentuk. Pengukuran garis pantai dengan GNSS metode RTK Radio dan metode terestris dengan Total Station direferensikan terhadap datum vertikal lokal masing – masing garis pantai yang diperoleh akan mengacu pada chart datum yaitu: Higher Hig Water Level (HHWL), Mean Sea Level (MSL) dan Lower Low Water Level (LLWL). Dilihat dari hasil uji statistik sampel, ketelitian horizontal dan vertikal dari dua metode ini tidak menunjukkan perbedaan hasil yang signifikan. Perbandingan posisi horizontal (X,Y) antara RTK Radio dengan Total Station diperoleh rata – rata pergeseran nilai sebesar 0.468 m dengan nilai standar deviasi (  sebesar 0.684 m. Dari hasil tersebut maka pengukuran GNSS metode RTK Radio memenuhi Circular Error 90 % atau CE90 kelas 3 untuk skala 1:2500 dan Liniear Error 90% atau LE90 kelas 3 untuk skala 1:1000. Sehingga pengukuran RTK dapat digunakan untuk pengukuran pemetaan skala besar sampai dengan 1:2500. Perbandingan waktu yang digunakan untuk pengukuran garis pantai dengan GNSS metode RTK Radio rata – rata memerlukan waktu sebesar 7 menit 47.9 detik untuk setiap sesi atau patok. Pengukuran terestris metode Total Station memerlukan waktu rata – rata sebesar 17 menit 26.2 detik untuk menyelesaikan sesi yang sama dengan metode RTK Radio. Biaya pengukuran RTK Radio lebih murah dibandingkan dengan pengukuran terestris dengan Total Station. Hasil dari penggambaran garis pantai dua metode pada peta tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
PEMETAAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN (LP2B) BERBASIS SIG SEBAGAI SALAH SATU SARANA UNTUK MEMPERTAHANKAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN BOYOLALI Dewi, Amalia Permata; Nugraha, Arief Laila; Sudarsono, Bambang
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan UU No 41 tahun 2009, untuk keperluan Kemandirian, Keamanan dan Ketahanan Pangan maka diperlukan Penyelamatan Lahan Pertanian Pangan. Penyelamatan harus segera dilakukan karena laju konversi lahan sawah atau pertanian pangan lainnya sangat cepat. Untuk menghambat laju konversi maka UU ini memerlukan penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Tujuan dilaksanakannya Kegiatan Identifikasi Dan Pemetaan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Kecamatan Ngemplak, Kecamatan Nogosari, Kecamatan Sambi dan Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali adalah untuk melakukan identifikasi dan pemetaan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) guna memberikan masukan/saran kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Boyolali dalam rangka mempertahankan ketahanan pangannya.Pemetaan LP2B menggunakan metode skoring dan pembobotan dengan parameter produktivitas, jenis irigasi, ketersediaan air dan pola tanam berbasis SIG. Sedangkan Analisis ketahanan pangan dilakukan dengan menghitung ketersediaan pangan, kebutuhan pangan, dan surplus. Ketersediaan pangan didapat dengan melakukan perkalian luas lahan sawah per kecamatan dengan hasil sawah di kecamatan tersebut. Sedangkan untuk kebutuhan pangan didapat dengan perkalian antara jumlah penduduk per kecamatan dengan ketetapan BPS yaitu pertahunnya 139 kg, setelah keduanya didapat barulah surplus/minus dapat dicari yaitu demgan cara melakukan pengurangan antara ketersediaan pangan dengan kebutuhan pangan.LP2B di wilayah perencanaan memiliki luas sebesar 6.908,18 Ha, sementara sisa lahan sawah sebesar 2.692,95 Ha merupakan lahan yang bukan berupa Lahan pertanian pangan berkelanjutan atau Non LP2B. Kemudian hasil hitungan analisis ketahanan pangan pada lahan sawah LP2B di Kabupaten Boyolali mengalami surplus Untuk Kecamatan Ngemplak mengalami surplus sebesar 99.007,43 kw Kecamatan Nogosari sebesar 108.251,30 kw, Kecamatan Sambi sebesar 127.960,16 kw dan Kecamatan Simo sebesar 25.498,11 kw.Kata Kunci : Kabupaten Boyolali, SIG, LP2B. ABSTRACT                Under law No. 41 in 2009, for the purposes of the independence, security and food security then needed Farm Rescue Programs. Farm Rescue should be immediately done because the conversion rate of paddy fields or other farming food change very quickly. To inhibit the rate of conversion of this ACT then requires the determination of agricultural land sustainable food (LP2B). The purpose of performance of the activities of the identification and mapping of agricultural land sustainable food (LP2B) Sub Ngemplak, Nogosari Subdistrict, district and Sub-district Sambi Simo Boyolali Regency is to perform the identification and mapping of Lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) to provide input/advice to local governments and Boyolali district in order to maintain the durability of the food.                 LP2B mapping method using skoring and weighting with the parameters of productivity, types of water availability and irrigation, cropping patterns based SIG. While the analysis of food security is done by calculating the availability of food, food needs, and surplus. Food availability is obtained by conducting extensive wetland multiplication per subdistrict with the results of the rice fields in the subdistrict. As for the food needs to come by with the multiplication between the number of inhabitants per sub with an annual provision BPS IE 139 kg, after both obtained then surplus/minus can be searched for example with how to perform subtraction between the availability of the food with the food needs.                 LP2B planning in the region has an area of 6.908,18 Ha, while the rest of the paddy fields of 2.692,95 Ha is a land that is not in the form of agricultural land sustainable food or Non LP2B. Then the food security analysis result on wetland planning in the region experiencing a LP2B surplus of 99,007.43 kw Sub-district of Nogosari 108,251.30 kw, Sambi of 127,960.16 kw and Sub Simo of 25,498.11 kwKeywords: Boyolali Regency, GIS, LP2B *)  Penulis, PenanggungJawab

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue