cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS DEFORMASI DAN PEMETAAN POTENSI DAMPAK ALIRAN LAVA PADA KAWASAN GUNUNG AGUNG ARDI SETYO PRATOMO; Yudo Prasetyo; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.3 KB)

Abstract

Gunung Agung adalah salah satu gunung aktif di Indonesia yang berada di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali. Gunung Agung telah mengalami erupsi sebanyak lima kali mulai tahun 1808 hingga tahun 2017 dan berlanjut hingga tahun 2018. Mitigasi bencana diperlukan bagi masyarakat yang berada di wilayah Gunung Agung untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas vulkanik. Penelitian ini membahas mitigasi bencana Gunung Agung yang didasarkan pada konsep pengindraan jauh. Data yang digunakan adalah citra satelit radar, digital elevation model (DEM) dan citra optis untuk membuat peta mitigasi bencana. Karakteristik deformasi yang dikaji meliputi posisi, besar pergeseran dan sifat deformasi vertikal yang terjadi. Hasil penelitian didapatkan nilai deformasi di tubuh gunung sebelum erupsi adalah 0,047 ± 0,035 m dalam rentang 27 Oktober 2017 hingga 20 November 2018 atau 0,715 ± 0,035 m/tahun dan setelah erupsi sebesar -0,172 ± 0,053 m dalam rentang 2 Desember 2017 hingga 7 Januari 2018 atau -1,744 ± 0,053 m/tahun. Aliran lava Gunung Agung yang dilakukan buffering pada lebar cakupan 25 meter dapat berdampak seluas 1.536,602 hektare, pada lebar cakupan 50 meter dapat berdampak 3.008,468 hektare dan pada lebar cakupan 75 meter dapat berdampak 4.425,017 hektare. Kelas tutupan lahan yang terkena dampak aliran lava paling banyak adalah pasir dengan lebar cakupan 25 meter seluas 570,042 hektare (37,342%), pada lebar cakupan 50 meter seluas 1043,676 hektare (34,940 %) dan pada lebar cakupan 75 meter seluas 1.461,583 hektare (33,285 %). Prediksi wilayah yang terdampak aliran aliran lava paling besar adalah Kecamatan Kubu seluas 772,071 hektare pada lebar cakupan 25 meter, 1.516,748 hektare pada lebar cakupan 50 meter dan 2.234,101 hektare pada lebar cakupan 75 meter. Prediksi wilayah terdampak paling kecil adalah Kecamatan Sidemen seluas 5,465 hektare pada lebar cakupan 25 meter, 11,256 hektare pada lebar cakupan 50 meter dan 17,366 hektare pada lebar cakupan 75 meter.
ESTIMASI NILAI DAN KORELASI BIOMASSA TERHADAP NILAI NDVI BERBASIS METODE POLARIMETRIK SAR PADA CITRA QUAD-POL ALOS PALSAR TAHUN 2007 Narendra Sava Hanung; Yudo Prasetyo; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.7 KB)

Abstract

ABSTRAKSalah satu cara menahan kenaikan suhu permukaan bumi adalah mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Melalui fotosintesis, CO2 diserap dan diubah oleh tumbuhan menjadi karbon organik dalam bentuk biomassa. Kandungan karbon absolut dalam biomassa pada waktu tertentu dikenal dengan istilah stok karbon (carbon stock). Adanya program REDD+ memungkinkan negara berkembang untuk mendapat insentif dari penyerapan karbon. Oleh karena itu perlu adanya perhitungan biomassa yang efisien dan akurat sehingga dapat mengetahui stok karbon dalam suatu area yang luas.Salah satu cara untuk mengestimasi nilai biomassa adalah dengan metode penginderaan jauh. Dengan metode penginderaan jauh estimasi nilai biomassa dapat dilakukan tanpa harus ke lapangan langsung sehingga lebih menghemat biaya, tenaga, dan waktu.  Metode penginderaan jauh yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan metode polarimetrik SAR dengan memanfaatkan citra ALOS PALSAR Kabupaten Subang tahun 2007.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah biomassa dengan metode polarimetrik SAR, menganalisis perbandingan nilai biomassa di Kabupaten Subang dengan penelitian sebelumnya, menganalisis hubungan antara nilai biomassa dengan nilai NDVI, dan untuk menganalisis peta estimasi nilai biomassa dan tutupan lahan di Kabupaten Subang tahun 2007.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai biomassa masing-masing tutupan lahan sebagai berikut. Untuk tutupan lahan hutan adalah 466,061 ton/ha. Untuk tutupan lahan hutan jarang adalah 244,122 ton/ha. Untuk tutupan lahan perkebunan adalah 183,587 ton/ha. Untuk tutupan lahan pemukiman adalah 108,949 ton/ha. Untuk tutupan lahan perairan adalah 7,137 ton/ha. Hasil regresi linear antara nilai NDVI dengan nilai biomassa yaitu y=240,99x + 26,668 dan nilai R2=0,7181. Hasil klasifikasi tutupan lahan citra ALOS PALSAR dengan metode Scattering Model-Based Unsupervised Classification memberikan nilai overall accuracy dari matriks konfusi yaitu 49% nilai koefisien kappa bernilai 40%.Kata Kunci : Biomassa, Polarimetrik SAR, NDVI, ALOS PALSAR. ABSTRACTOne way to hold the temperature rise of the earth's surface is to reduce greenhouse effect emissions. Through photosynthesis, the CO2 is absorbed and converted by plants into organic carbon in the form of biomass. Absolute carbon content in the biomass at a certain time is known as the carbon stock. The existence of the REDD+ program enables develop countries to have the incentive of carbon absorption. Therefore it is necessary for calculating the biomass which is efficient and effective so it is able to determine the carbon stock in a large area.One way to estimate the value of the biomass is by remote sensing method. The remote sensing method can estimate the value of the biomass without having to pitch directly to savings, energy and time. The Remote sensing method which was used in this study is the polarimetric SAR method using ALOS PALSAR at Subang in 2007.The aim of this study was to determine the amount of biomass with the polarimetric SAR method, analyzing the comparative the biomass value in Subang with previous studies, analyzing the relationship between the biomass value with the NDVI value and  analyzing the distribution maps the biomass value and land cover in Subang in 2007.The results from this study showed the value of the biomass of each land cover like these. They are forest cover is 466.061 tons/ha, sparse woods cover is 244.122 tons/ha, plantation cover is 183.587 tons/ha, residential cover is 108.949 tons/ha and waters cover is 7.137 tons/ha. The result of linear regression between NDVI values with biomass value is y = 240.99x + 26.668 and the value of R2 = 0.7181. The Result of land cover classification ALOS PALSAR by using Scattering Model-Based Unsupervised Classification method have given overall accuracy value from confusion matrix is 49% and kappa coefficient value is 40%.Key words: Biomass, Polarimetric SAR, NDVI, ALOS PALSAR *) Penulis, PenanggungJawab
ANALISIS 3D MODELLING UNTUK DETEKSI OBSTACLE ZONA KKOP BANDARA ADI SOEMARMO Olivia Sinaga; Andri Suprayogi; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.914 KB)

Abstract

ABSTRAKTransportasi udara menjadi pilihan bagi banyak masyarakat Indonesia untuk melakukan perjalanan karena efisiensi waktu perjalanan dan beberapa maskapai yang saat ini sudah menyediakan harga yang terjangkau. Bandar udara atau bandara adalah salah satu dari beberapa faktor yang mempengaruhi keselamatan dalam aktivitas transportasi udara. Bandara Adi Soemarmo adalah satu dari banyak bandara yang mengalami pembangunan yang sangat pesat, selain itu wilayah Bandara Adi Soemarmo yang berada ditengah pemukiman menjadi alasan pentingnya memperhatikan peraturan tentang Kawasan Keselamatan Operasional Pernerbangan (KKOP). Kementrian Perhubungan mengatur peraturan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan dengan tujuan menjamin keselamatan penumpang dan juga masyarakat yang bermukim pada daerah sekitar bandara yang memiliki tingkat bahaya yang tinggi. Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan Bandara Adi Soemarmo dibuat dalam bentuk 3 dimensi sesuai dengan Keputusan Mentri Perhubungan No. 408 tahun 2017. Model 3D dibangun dengan menggunakan perangkat SketchUp. Obstacle atau halangan adalah bangunan yang memiliki ketinggian diatas ketinggian maksimal bangunan pada peraturan KKOP. Nilai ketinggian maksimal didapatkan dengan proses raster math antara model 3 dimensi zona KKOP dan model 3 dimensi DEM. Bangunan yang memiliki ketinggian diatas ambang batas maksimal dimodelkan menjadi 3 dimensi dengan menggunakan perangkat lunak SketchUp. Penelitian ini menghasilkan peta model 3 dimensi zona KKOP Bandara Adi Soemarmo dan obstacle. Zona dibangun dengan ketinggian yang didasarkan pada titik landasan 26. Zona KKOP mencakup 6 Kabupaten dan 1 Kota diantaranya Kabupaten Boyolali, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Klaten, Kabupaten Semarang, Kabupaten Sragen, Kabupaten Sukoharjo dan Kota Surakarta. Jumlah obstacle yang masuk dalam zona KKOP Bandara Adi Soemarmo berjumlah 51 obstacle.51 obstacle tersebut diantaranya SUTET, tower telekomunikasi dan cerobong. Kata Kunci : Bandara Adi Soemarmo, KKOP, Model 3D, Obstacle ABSTRACTAir transportation has become the choice for many Indonesians to travel because of the efficiency of travel time and several airlines that currently provide affordable prices. Airport is one of several factors that influence safety in air transportation activities. Adi Soemarmo Airport is one of the many airports that have experienced very rapid development, besides that the Adi Soemarmo Airport area, which is in the middle of settlements, is the reason for the importance of paying attention to regulations on the Aviation Operational Safety Area (KKOP). The Ministry of Transportation regulates Aviation Operational Safety Area regulations with the aim of ensuring the safety of passengers and also the people who live in areas around airports that have a high level of danger. The Adi Soemarmo Aviation Airport Operational Safety Area is made in 3 dimensions in accordance with Minister of Transportation Decree No. 408 in 2017. The 3D model was built using the SketchUp tool. Obstacle is a building that has a height above the maximum height of the building in KKOP regulations. The maximum height value is obtained by the raster math process between the 3 dimensional model of the KKOP zone and the 3 dimensional model of DEM. Buildings that have a height above the maximum threshold are modeled into 3 dimensions using SketchUp software. This study produced a 3-dimensional model map of the KKOP zone at Adi Soemarmo Airport and the obstacle. The zone was built with a height based on the runway 26. The KKOP Zone covers 6 Regencies and 1 City including Boyolali Regency, Karanganyar Regency, Klaten Regency, Semarang Regency, Sragen Regency, Sukoharjo Regency and Surakarta City. The number of obstacles included in the KKOP zone at Adi Soemarmo Airport is 51 obstacles. 51 of them are SUTET, telecommunication towers and chimneys.
ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP BATAS WILAYAH LAUT PROVINSI JAWA BARAT DAN JAWA TENGAH Indira Septiandini; Bambang Sudarsono; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.062 KB)

Abstract

Berkaitan dengan pasal 18 Undang-undang No. 32 Tahun 2004 mengenai kewenangan daerah yang memiliki wilayah laut untuk mengelola sumberdaya di wilayah lautnya, maka tingginya nilai suatu wilayah laut bagi suatu pemerintah daerah dan nilai tata batas wilayah laut menjadi suatu hal yang sangat penting. Oleh sebab itu penegasan batas wilayah laut yang merupakan garis khayal yang menjadi pemisah antara dua daerah menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.            Penegasan batas daerah laut sudah diatur ketentuannya pada Permendagri No. 76 Tahun 2012. Namun, dalam hal ini tidak dijelaskan pengaruh perubahan garis pantai terhadap penegasan batas wilayah laut tersebut. Melihat dari peraturan yang ada bahwa penarikan garis batas laut ditentukan dari titik dasar yang sudah ditetapkan di darat tepatnya pada garis pantai, sedangkan garis pantai ada yang mengalami pergeseran dari waktu ke waktu baik itu meliputi abrasi maupun akresi, maka diperlukan adanya kajian batas wilayah laut antar daerah.            Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan penggunaan citra satelit untuk menentukan batas wilayah laut dan memastikan apakah pergeseran garis pantai yang terjadi memiliki relasi secara langsung dan signifikan terhadap pergeseran batas wilayah laut antar dua daerah.Kata Kunci : Garis Pantai, Batas Wilayah Laut, Citra Satelit
ANALISIS PENENTUAN LOKASI DAN RUTE TPA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN DEMAK Ahmad Daniyal; Arwan Putra Wijaya; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.296 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Sampah merupakan salah satu permasalahan yang dialami hampir semua kota di Indonesia tidak terkecuali Kabupaten Demak. Pengelolaan Sampah yang belum maksimal menyebabkan menumpuknya volume sampah dan menimbulkan masalah-masalah baru. Kabupaten Demak sendiri memiliki dua Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yaitu TPA candisari dan TPA kalikondang. Dimana TPA kalikondang sudah mendapat penolakan dari warga sekitar karena adanya dampak negatif yang dirasakan oleh warga baik dampak kesehatan maupun pencemaran lingkungan. Oleh karena itu dibutuhkan lokasi TPA yang baru dan sesuai dengan SNI 03-3241-1994 untuk menampung sampah yang dihasilkan warga demak.                Penentuan lokasi dan rute TPA ini menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), dimana metode yang digunakan untuk penentuan lokasi TPA yaitu menggunakan metode bobot dan skoring serta overlay peta. Parameter-parameter yang digunakan berdasarkan SNI 03-3241-1994 yang diperoleh dari instansi terkait.sementara untuk penentuan rute TPA dari TPS memanfaatkanNetwork Analyts pada perangkat lunak ArcGIS.                Dari penelitian ini dihasilkan bahwa berdasarkan SNI 03-3241-1994 zona layak TPA terpilih berada di Desa Mangunjiwan Kecamatan Demak dengan luas 70 Ha dan total nilai 474. Sementara TPA kalikondang masuk dalam kategori tidak layak berdasarkan SNI 03-3241-1994 karena letaknya yang kurang dari 300 meter dari pemukiman. Rute yang diperoleh kondisi jalannya baik dan dapat dilalui oleh truk sampah.
PENENTUAN TINGKAT KEMISKINAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus: Kecamatan Tugu, Tembalang dan Banyumanik) Arga Fondra Oksaping; Bambang Sudarsono; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.359 KB)

Abstract

Abstrak Kemiskinan merupakan masalah yang sering kali dihadapi oleh suatu negara, bahkan oleh negara maju sekalipun. Peningkatan angka kemiskinan dari tahun ke tahun merupakan masalah yang harus dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah. Keadaan perekonomian negara yang tidak kunjung membaik dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan masalah kemiskinan menjadi semakin serius. Pada aspek inilah Sistem Informasi Geografis (SIG) mempunyai peranan yang cukup strategis, karena SIG mampu menyajikan aspek spasial (keruangan) yang dapat dikaji sebagai untuk menganalisa keadaan penduduk suatu daerah yang berguna bagi kesejahteraan masyarakat yang akan datang. Penelitian ini memepertimbangkan 3 parameter yaitu kepadatan penduduk, jumlah penduduk bependidikan rendah dan jumlah penduduk berpenghasilan rendah. Dari hasil analisis dan perhitungan bobot dengan metode AHP (Analytic Hierarchy Process) diperoleh besar pengaruh untuk setiap parameter sebesar 62,065% untuk parameter jumlah penduduk berpenghasilan rendah, 26,630% untuk  parameter jumlah penduduk berpendidikan rendah dan 11,305% untuk parameter kepadatan penduduk. Untuk kecamatan yang memiliki tingkat kemiskinan paling tinggi di Kecamatan Tugu, Tembalang dan Banyumanik dan sesuai dengan data dari BAPPEDA adalah Mangkang Wetan Kecamatan Tugu sedangkan kelurahan dengan tingkat kemiskinan paling rendah adalah Kelurahan Tembalang Kecamatan Tembalang. Kata Kunci :Kemiskinan, SIG, AHP Abstract Poverty is a problem which occurs across the world, even developed countries. From year to year, increase number of poverty is a problem that must be faced by the citizen and the government. Nowadays poverty problem become increasing seriously because of state economy condition that not improved in recent years. Based on this phenomenon, Geographic Information Systems (GIS) have a strategic role. This is due to GIS ability to present the spatial aspects both to assess and analyze population condition that would be useful for civil welfare in the future. This study focuses on three parameters, there are population density, number of low-educated population and number of low-income population. From the analysis and weighting calculation with AHP (Analytic Hierarchy Process) obtained great influence for each parameter. The percentage are 62.065% for the low-income population, 26.630% for low-educated population and 11.305% for population density parameter. The study result showed poverty level in this study scope (Tugu, Tembalang and Banyumanik Sub-district) well-suited with data from BAPPEDA. From this study also known the highest level of poverty is Mangkang Wetan in Tugu Sub-district while the the lowest level of poverty is Tembalang Village in Tembalang Sub-district. Keyword: Poverty, GIS, AHP
ANALISIS KERAWANAN BANJIR PADA KAWASAN TERBANGUN BERDASARKAN KLASIFIKASI INDEKS EBBI (ENHANCED BUILT-UP AND BARENESS INDEX) MENGGUNAKAN SIG (Studi Kasus di Kabupaten Demak) David Beta Putra; Andri Suprayogi; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.11 KB)

Abstract

Kabupaten Demak merupakan salah satu daerah yang sering mengalami banjir. Hal ini terjadi karena topografi Demak yang lebih rendah dari daerah di sekitarnya sehingga sering mendapatkan banjir kiriman akibat luapan sungai ataupun karena intensitas hujan yang tinggi. Data BPBD Kabupaten Demak tahun 2017-2018 mencatat terdapat 30 kejadian banjir terjadi di wilayah Demak dalam waktu 1,5 tahun. Salah satu dampak kerugian dari banjir tersebut adalah kawasan terbangun yang dapat terendam banjir sehingga perlu dilakukan identifikasi untuk mengetahui luasan kawasan terbangun yang rawan banjir. Metode yang digunakan yaitu metode EBBI dan SIG. Metode Enhanced Built-Up and Bareness Index (EBBI) digunakan untuk mendapatkan hasil kawasan terbangun sedangkan metode SIG digunakan untuk mendapatkan hasil kerawanan banjir. Adapun parameter penentuan kerawanan banjir terdiri dari enam parameter yaitu kelerengan, jenis tanah, curah hujan, tata guna lahan, kerapatan sungai, dan jarak dari sungai. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peta kawasan terbangun rawan banjir di Kabupaten Demak. Tingkat kerawanan banjir di Kabupaten Demak dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kerawanan banjir rendah sebesar 5,10%, kerawanan banjir sedang sebesar 32,37%, dan kerawanan banjir tinggi sebesar 62,64%. Adapun jumlah luasan kawasan terbangun yang masuk kedalam kelas kerawanan rendah sebesar 628,113 ha, masuk kedalam kelas kerawann sedang sebesar 5.108,351 ha dan masuk kedalam kelas kerawanan tinggi sebesar 9.158,762 ha. Validasi dilakukan dengan cara melihat kesesuaian pengolahan kerawanan banjir dengan data banjir BPBD serta dengan validasi lapangan. Kesesuaian pengolahan kerawanan banjir dengan data banjir BPBD sebesar 71,42%. Adapun kesesuaian hasil validasi kawasan terbangun dengan hasil pengolahan sebesar 85,71% sedangkan kesesuaian hasil validasi kawasan terbangun rawan banjir dengan hasil pengolahan sebesar 72,86%.
ANALISIS KETELITIAN SPASIAL MENGGUNAKAN SATELIT BEIDOU UNTUK PENGUKURAN BIDANG DENGAN METODE RTK Fathan Aulia; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.836 KB)

Abstract

ABSTRAKPada saat ini metode penentuan posisi dengan menggunakan sinyal satelit semakin berkembang pesat dengan hadirnya satelit Beidou. Penentuan posisi dapat digunakan untuk pengukuran bidang tanah yang nantinya berfungsi dalam pendaftaran tanah. Tujuan dari pendaftaran tanah adalah untuk menjamin kepastian hukum dan perlindungan hukum terhadap pemegang hak atas suatu bidang tanah, serta menyediakan informasi kepada pihak-pihak berkepentingan mengenai bidang-bidang tanah.Terkait dengan permasalahan tersebut, maka pada penelitian tugas akhir ini dilakukanlah pengukuran bidang tanah dengan menggunakan GNSS metode RTK akan menganalisis perbandingan jarak dan luas bidang tanah dari 3 satelit GNSS yang berbeda, antara lain GPS, GLONASS, dan BEIDOU dan menggunakan data pengukuran Total Station sebagai data definitif.Pengukuran dengan metode ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar peningkatan ketelitian apabila menambahkan satelit Beidou dalam pengukuran. Pada hasil analisis dan uji statistik yang dilakukan, didapat peningkatan ketelitian apabila menambahkan satelit Beidou di dalam pengukuran untuk daerah terbuka sebesar ±0,138 meter, dimana tingkat ketelitian pengukuran Luas menggunakan satelit GPS sebesar 0,062 meter, sedangkan ketelitian pengukuran Luas menggunakan satelit GPS+Beidou sebesar 0,524 meter. Untuk daerah perumahan mengalami peningkatan ketelitian pengukuran Luas sebesar ±6,398 meter, dengan tingkat ketelitian pengukuran Luas menggunakan satelit GPS sebesar 7,770 meter, sedangkan ketelitian pengukuran Luas menggunakan satelit GPS+Beidou sebesar 1,372 meter.Kata Kunci : Beidou, GLONASS, GPS, Penentuan Posisi, Pengukuran Bidang Tanah, RTK (Real Time Kinematic) ABSTRACTAt the moment a method of the determination of position by using signals satellite growing rapidly with the arrival of satellite Beidou .The determination of position can be used to measurement of the field of land will use in land registration. The purpose of land registration is to guarantee legal certainty and protection laws against the holder the right over an area of land , and prepared information to parties concerned about land areas.Relating to these problems, so to research duty end of this did measurement of the field of ground by using GNSS method RTK analyzed comparison distance and area of land parcels of 3 satellite GNSS different, among others GPS, GLONASS, and Beidou and using data the measurement of total station as data definitive.Measurement by a method of aims to understand how much greater precision in if added satellite beidou in the measurement of .On the outcome of the analysis and statistical tests conducted , obtained greater precision in if added satellite beidou inside of measurement for open area as much as ±0,138 meters, whereby the degree of precision the measurement of broad use satellite GPS 0,062 meters as much as, while carefulness the measurement of broad use satellite GPS + Beidou 0,524 meters as much as. To a residential area experienced greater precision in as much as the measurement of broad ±6,398 meters , with the level of thoroughness the measurement of broad use satellite GPS 7,770 meters as much as , while carefulness the measurement of broad use satellite GPS+Beidou 1,372 meters as much as.Keyword : Beidou, GLONASS, GPS, Measurement of the field of land, RTK (Real Time Kinematic), The determination of position.  *) Penulis, PenanggungJawab
Rancang Bangun Sistem Informasi Geografis Pelayanan Kesehatan Masyarakat Berbasis Web (Studi Kasus: Kota Semarang) Sindhu P., Gita Amalia; Sudarsono, Bambang; Wijaya, Arwan Putra
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1105.959 KB)

Abstract

Gambaran geografis mengenai letak dan informasi keberadaan infrastruktur fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang tersebar cukup merata di Kota Semarang belum memenuhi kriteria yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pembangunan Sistem Informasi Geografis (SIG) persebaran pelayanan kesehatan masyarakat merupakan pilihan yang diharapkan mampu memberikan solusi atas masalah yang dihadapi tersebut dengan penyajian informasi secara terintegrasi dari data spasial dan data non spasial, serta penyajian yang dinamis untuk proses editing data.Untuk dapat menghasilkan aplikasi Sistem Informasi Geografis berbasis web ini dibutuhkan data spasial masing-masing lokasi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas untuk wilayah Kota Semarang, serta diambil contoh apotek dan klinik untuk wilayah Kecamatan Banyumanik beserta data atributnya. Sistem Informasi Geografis berbasis web ini dimulai dengan pengumpulan data, kemudian penganalisisisan data yang telah diperoleh, dilanjutkan dengan pembangunan program menggunakan software XAMPP untuk server lokal dan basis data MySQL dengan fitur phpMyAdmin di dalamnya, Notepad ++ untuk proses pembuatan kode program, integrasi basis data dengan Google Maps API untuk menampilkan peta, serta browser sebagai pengecekan tampilan yang dihasilkan oleh kode program melalui server lokal.Hasil dari pemrograman diperoleh aplikasi pelayanan kesehatan masyarakat berbasis web yang dapat diakses pada situs http://semarang-gohealthy.com dengan menampilkan lokasi dan informasi yang cukup kompleks yang disajikan melalui peta Google Maps API dengan fitur fungsi edit bagi pengguna pihak kedua yaitu rumah sakit, puskesmas, apotek, dan klinik, serta dinas kesehatan.Kata kunci: Pelayanan Kesehatan Masyarakat, SIG Berbasis Web
ANALISIS PENGARUH FENOMENA EL NINO DAN LA NINA TERHADAP CURAH HUJAN TAHUN 1998 - 2016 MENGGUNAKAN INDIKATOR ONI (OCEANIC NINO INDEX) (Studi Kasus : Provinsi Jawa Barat) Farras Nabilah; Yudo Prasetyo; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.615 KB)

Abstract

ABSTRAKPerubahan iklim dalam rentang 10 tahun terakhir membawa perubahan yang sangat drastis di permukaan bumi. Beberapa pengaruh iklim ini salah satunya anomali suhu udara yang mencolok seperti fenomena El Nino dan La Nina atau yang lebih dikenal dengan fenomena ENSO (El Nino Southern Oscillation). Fenomena ENSO merupakan suatu kondisi permukaan laut di wilayah Samudera Pasifik mengalami kenaikan atau penurunan suhu permukaan laut sehingga menyebabkan adanya pergeseran musim di wilayah Indonesia. Pergeseran musim yang terjadi karena fenomena ENSO juga berpengaruh besar terhadap produksi pangan dan komoditas pertanian yang lain.Pada penelitian ini, metode pengolahan data penelitian menggunakan bahasa pemograman untuk mengolah data SST dan data curah hujan dari tahun 1998 sampai tahun 2016. Data yang digunakan berupa data suhu permukaan laut yang berasal dari satelit NOAA yaitu SST Reynolds (Sea Surface Temperature) serta data curah hujan harian yang berasal dari satelit TRMM. Pembuatan indeks ONI pada penelitian ini menggunakan data SST bulanan yang telah dikonversikan kemudian dikelompokkan kedalam masing-masing kelas. Masing-masing kelas mempunyai nilai kurang dari -0,5 yaitu keadaan La Nina, lebih dari 0,5 yaitu keadaan El Nino dan nilai diantara -0,5 sampai 0,5 yaitu keadaan normal. Pengujian data menggunakan analisis pola spasial curah hujan dan suhu permukaan laut yang dipengaruhi oleh fenomena El Nino dan La Nina.Hasil penelitian berupa peta sebaran SST dan curah hujan secara musiman untuk mengetahui pengaruh dari fenomena El Nino dan La Nina di wilayah Jawa Barat. Fenomena El Nino dan La Nina di Laut Jawa terjadi pada bulan Agustus sampai bulan Februari. Pada saat El Nino, nilai suhu permukaan laut (SST) 27ᵒC -28ᵒC dengan rata-rata 27,71ᵒC sedangkan untuk intensitas curah hujannya yaitu 1,0mm/hr-2,0mm/hr dengan rata-rata 1,63mm/hr. Pada saat La Nina, nilai suhu permukaan laut (SST) 29ᵒC-30ᵒC dengan rata-rata 29,06ᵒC sedangkan intensitas curah hujannya yaitu 9,0mm/hr-10mm/hr dengan rata-rata 9,74mm/hr. Korelasi antara curah hujan dan SST sebesar 0,413 yang menyatakan hubungan yang cukup kuat antar parameter. Sehingga dapat disimpulkan, kenaikan SST saat La Nina mempengaruhi kenaikan intensitas curah hujan sedangkan untuk penurunan SST saat El Nino mempengaruhi penurunan intensitas curah hujan.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue