cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
PEMBUATAN APLIKASI PETA RUTE BUS RAPID TRANSIT (BRT) KOTA SEMARANG BERBASIS MOBILE GIS MENGGUNAKAN SMARTPHONE ANDROID Wildan Ryan Irfana; Arief Laila Nugraha; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.15 KB)

Abstract

Kota-kota besar di Indonesia saat ini mengalami pertumbuhan kendaraan pribadi yang sangat tinggi. Hal ini mengakibatkan padatnya arus lalu lintas di dalam kota maupun di luar kota. Pemerintah dalam hal ini Dinas Perhubungan yang merupakan dinas terkait dalam bidang transportasi berupaya untuk mengurangi tingkat kepadatan lalu lintas dengan memberikan fasilitas umum berupa Bus Trans, dengan harapan masyarakat dapat mengurangi penggunaan dari kendaraan pribadi dan beralih kepada kendaraan umum ini. Penelitian ini dilakukan untuk membuat sebuah aplikasi Peta Rute BRT Trans Semarang yang berbasis smartphone android yang dibangun menggunakan software Android Studio yang terintegrasi dengan Google Maps untuk memudahkan dalam penyajian petanya. Basis data yang digunakan pada penelitian ini dibuat menggunakan MySQL PhpMyAdmin pada localhost yang dapat diakses menggunakan software XAMPP, kemudian basis data tersebut dapat disimpan pada hosting/server online. Fungsi yang dimanfaatkan pada aplikasi ini adalah fungsi Location Based Service sehingga pengguna dapat mengetahui shelter terdekat dari lokasi pengguna. Hasil dari penelitian ini berupa aplikasi Peta Rute BRT Trans Semarang yang dapat digunakan pada smartphone android. Aplikasi ini berisi informasi mengenai lokasi shelter dan rute yang dilalui oleh BRT Trans Semarang. Fitur atau menu yang ada pada aplikasi ini dapat memberikan petunjuk dimana lokasi shelter terdekat dan rute yang harus dilalui ketika ingin menuju shelter tujuan tertentu. Aplikasi ini telah dilakukan pengujian kepada pengguna jasa BRT Trans Semarang dan mendapatkan beberapa penilaian, diantaranya penilaian tingkat efektivitas didapatkan nilai rata-rata sebesar 4,458, tingkat kemudahan penggunaan aplikasi diperoleh nilai rata-rata sebesar 4,611, serta pada tingkat kepuasan pengguna diperoleh nilai rata-rata sebesar 4,583, dengan nilai maksimal adalah 5. Berdasarkan penilaian tersebut, aplikasi Peta Rute BRT Trans Semarang dapat berjalan dengan baik dan cukup efektif untuk digunakan dalam mencari informasi mengenai jalur BRT Trans Semarang.
STUDI OPTIMALISASI PEMANFAATAN LAHAN DI KAMPUS UNIVERSITAS DIPONEGORO TEMBALANG BERDASARKAN ANALISIS CITRA MULTI TEMPORAL Ulifatus Sa'diyah; Yudo Prasetyo; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1242.107 KB)

Abstract

ABSTRAK Universitas Diponegoro (UNDIP) adalah salah satu universitas terbesar di Provinsi Jawa Tengah dengan luas kampus Tembalang sekitar 1.352.054 m2. Sejak menempati kampus Tembalang tahun 1996 sampai tahun 2015, penggunaan lahan di kawasan kampus dan daerah di sekitarnya banyak mengalami perubahan terutama lahan kosong menjadi lahan terbangun untuk kegiatan pendidikan. Jika dilihat saat ini masih terdapat lahan kosong yang tersebar di dalam kampus UNDIP dan belum difungsikan. Untuk itu perlu penelitian yang mengkaji perubahan pemanfaatan lahan secara multitemporal dan studi optimalisasi lahan kampus UNDIP.Penelitian ini menggunakan data Citra Quickbird tahun 2006 dan 2011, serta foto udara UAV Fx79 tahun 2015. Data-data tersebut diinterpretasi dan dijitasi sehingga dapat dianalisis pemanfaatan lahan UNDIP secara multitemporal. Penggunaan lahan kampus UNDIP diklasifikasikan menjadi lima kelas, yaitu: administrasi, fasilitas umum, kegiatan belajar mengajar, lahan kosong dan pusat kegiatan mahasiswa.Dari penggunaan lahan tiap tahun, dilakukan analisis perubahan penggunaan lahan dari segi luas, fungsi dan pola distribusi spasialnya. Dari tahun 2006-2011, 90,93% tidak terjadi perubahan fungsi lahan. lahan kosong berkurang 21,94%. Pertambahan pembangunan paling besar pada kelas administrasi, yakni sebesar 52,77%. Pola distribusi spasial penggunaan lahan tahun 2006-2011 adalah mengelompok. Sedangkan dari tahun 2011 ke tahun 2015, terjadi perubahan fungsi lahan 24,18%. Perubahan paling besar adalah dari lahan kosong menjadi fasilitas umum dengan pola distribusi spasial mengelompok.Studi optimalisasi lahan dengan data penggunaaan lahan tahun 2015 menggunakan parameter kesesuaian terhadap masterplan, kelayakan terhadap kebutuhan penggunaan lahan dan kapabilitas sebagai lahan kampus. Hasilnya 71,76% lahan di UNDIP dikategorikan sangat optimal, 11,66% optimal, 0,56 % kurang optimal dan hanya 16,02% luas lahan yang tidak optimal. Kata Kunci : Citra Resolusi Tinggi, Optimalisasi, Perubahan Tata Guna Lahan, Universitas Diponegoro ABSTRACT UNDIP is one of the biggest  university in Central Java Province. UNDIP has 1.352.054 m2  area located in Tembalang. Since 1996 Tembalang campus has been used, until 2015 land use in Tembalang campus and the surrounding area has many changes especially wasteland that become educational activities building. If we see today, Tembalang campus still has many wasteland spreaded inside the campus area and not yet functioned. Because of that, a research that studying land use changes multitemporally and studying optimalization of campus land is needed.This research use 2006 and 2011 Quickbird imagery data and 2015 UAV aerial photo. These data are interpreted and digitalized so land use in Tembalang campus multitemporally can be analized. Land use in Tembalang campus is classified into five classes: administration building, public facility, learning facility, wasteland and student activity center.From land use each year, its change from area, function and spatial distribution pattern is analized. On period 2006 – 2011, there is no change of land use as much as 90.93% and wasteland decreased 21.94%. The biggest development is in administration building class as much as 52.77%. Spatial distribution pattern on 2006 – 2011 period is clustered. While on 2011 – 2015, land use change is about 24.18%. The biggest change is from wasteland that become public facility with spatial distribution pattern is clustered.Land optimalization studies with 2015 land use data using masterplan compatibility parameter, appropriateness of land use need and capability as campus land. The result is 71.76% of Tembalang campus is categorized very optimal, 11.66% is optimal, 0.56 is less optimal, and 16.02% is not optimal. Keywords: Diponegoro University, High-Resolution Imagery, Land Use Change, Optimizing.*) Penulis , Penanggung jawab
IDENTIFIKASI BEKAS KEBAKARAN LAHAN MENGGUNAKAN DATA CITRA MODIS DI PROVINSI RIAU Muhammad Hakqi; Andri Suprayogi; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1713.497 KB)

Abstract

ABSTRAK            Pemantauan bekas kebakaran lahan dengan metode penginderaan jauh dapat menyingkat waktu pelaksanaan dan mencakup luas wilayah yang lebih luas dibandingkan dengan cara konvensional. Pemantauan kemampuan resolusi temporal cukup tinggi dan diharapkan dapat memberikan informasi bekas kebakaran lahan dalam waktu singkat.            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luas daerah bekas kebakaran di wilayah studi penelitian berdasarkan nilai reflektansinya dari Citra Modis. Data satelit penginderaan jauh yang dapat untuk pemantauan bekas kebakaran lahan adalah Citra Modis . Penelitian ini menggunakan data Citra Modis level 1 B dan bad yang digunakan band 1 sampai 7 dengan resolusi spasial 250 m dan 500 m. Citra Modis yang digunakan pada tahun 2011 yaitu tanggal 4 April, 8 Mei, 17 Juni.            Identifikasi bekas kebakaran lahan yang digunakan pada penelitian ini menurut metode Roy et al (2002). Hasil identifikasi burn scar berupa citra dengan jumlah band 14, yaitu 7 band dari citra tanggal 4 April 2011 dan 7 band lagi dari citra 17 Juni 2011. Didapatkan hasil luasan sebesar 2700,875 Km2. Kata Kunci : Penginderaan Jauh, bekas Kebakaran, Citra Modis, Metode Roy et al ABSTRACTLand-burn monitoring with remote sensing methods can reduce time consuming and covers a larger area than the conventional way. Monitoring temporal resolution capability is quite high and expected to provide information of land-burn in small amount of time.This study aims to determine the extent of land-burn area in the Riau Province based on the reflectance of Citra Modis. Remote sensing data that able to monitor land-burn area is Citra Modis. This study was using Citra Modis data on level 1B and using band 1 until 7 with spatial resolutions 250 m and 500 m. The Citra Modis data that was used is on 4 April, 8 Mei, and 17 June 2011. Land-burn identification that was used in this study was reference to Roy et al methods (2002). The result is an image with total band fourteen, seven band from date 4 April 2011 image and the other seven come from date 17 June 2011 image. The final calculation of the extent of land-burn is 10.803.500 meters square. Key Word : Remote sensing, land-burn, Modis, Roy et al method
ANALISIS DISTRIBUSI SPASIAL KAWASAN INDUSTRI TERHADAP PERTUMBUHAN UMKM Dwi Nanda Nur S; Hani’ah Hani’ah; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.685 KB)

Abstract

ABSTRAK Berkembangnya industri di sekitar pemukiman membuat kondisi sosial ekonomi masyarakat mengalami peningkatan, masyarakat di sekitar industri akan menangkap adanya peluang dengan memanfaatkan sebagian rumahnya sebagai tempat usaha mulai dari tempat tinggal atau kos-kosan, usaha warung makan, toko hingga jasa-jasa penunjang kebutuhan pekerja, sehingga dengan adanya hal tersebut peneliti ingin  mengetahui persebaran tempat usaha-usaha (UMKM) di tiga kawasan industri yaitu PT. Tyfontex Indonesia, PT. Sri Rejeki Isman Tbk, dan PT. Delta Merlin Dunia Tekstil dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis. Industri tersebut merupakan industri besar yang ada di Kabupaten Sukoharjo dan merupakan industri yang keberadaanya berpengaruh terhadap lingkungan masyarakat disekitarnya. Pola persebaran UMKM di sekitar kawasan industri dianalisis dengan menggunakkan metode nearest neighbourhood dan metode Spatial Autocorrelation (Global Moran’s I). Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini didasarkan dari centroid di setiap kawasan industri terhadap sebaran UMKM di tiap kawasan dalam radius 2 km. Klasifikasi UMKM dalam penelitian ini berdasarkan referensi dari Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM dengan jumlah UMKM keseluruhan 1488 di ketiga kawasan industri. Jumlah UMKM terbanyak terdapat di industri PT. Tyfontex Indonesia dengan jumlah 1.043. Pola persebaran UMKM di tiga kawasan industri menunjukkan pola yang sama yaitu pola mengelompok dengan arah persebaran yang berbeda Berdasarkan RDTRK Kabupaten Sukoharjo, sebaran UMKM di tiga kawasan industri tidak seluruhnya terletak di dalam Zona Perdagangan dan Jasa. Keberadaan industri dapat mempengaruhi pertumbuhan UMKM di sekitarnya. Hal ini dapat dilihat dari hasil kuisioner yang menunjukkan 86,2% UMKM yang tersebar di PT. Tyfontex Indonesia dipengaruhi oleh keberadaan indutri tersebut. Sedangkan prosentase keberadaan UMKM yang dipengaruhi oleh PT. Delta Merlin Dunia Tekstil sebesar 91,4 %  dan 79,7% di PT. Sri Rejeki Isman Tbk. Kata kunci: Industri, Nearest neighbourhood, Spatial Autocorrelation (Global Moran’s I), UMKM.  ABSTRACT The development of industry around the settlement to make socio-economic conditions of communities has increased, the community around the industry will catch the existence of opportunities by utilizing a portion of her home as a place of business ranging from places to stay, food stalls, shops until the merits of supporting the needs of workers, so that the existence of the things researchers want to know the place of distribution businesses (UMKM) in three industrial zones namely PT. Tyfontex Indonesia, PT Sri Rejeki ISman Tbk, and PT Delta Merlin Dunia Textiles by using geographic information systems. The industry is a big industry that exists in Sukoharjo Regency and is the industry's influence on occurrence environment surrounding society. Distribution pattern of UMKM around the industrial area analyzed by the method of use their nearest neighbourhood and methods of Spatial Autocorrelation (Global Moran's I). The analysis undertaken in this study is based on the centroid of each industrial area against the spread of UMKM in each region within a radius of 2 km. The classification of UMKM in this research based on a reference from the Department of Commerce, cooperatives and SMEs with a number of UMKM in 1488 third overall industrial area. The largest number of UMKM there is in the industry PT. Tyfontex Indonesia with a population of 1,043. Distribution pattern of UMKM in three industrial zones showed the same pattern that is clumped distribution patterns of different directions. RDTRK implementation of the Sukoharjo Regency with the condition of the spread of UMKM of the year 2017 yet goes according to existing design, there is still the UMKM not located in a zone of trade and services. The existence of industry can affect the growth of UMKM in the surroundings. It can be seen from the results of a detailed questionnaire which showed 86.2% of UMKM in pt. Tyfontex Indonesia is affected by the existence of these are. While the percentage of UMKM affected by the existence of PT Delta Merlin Dunia Textiles amounted to 91.4% and 79.7% in PT Sri Rejeki Isman Tbk. Keyword: Industry, Nearest neighbourhood, Spatial Autocorrelation (Global Moran’s I), UMKM.
PERHITUNGAN VELOCITY RATE CORS GNSS DI WILAYAH PANTAI UTARA JAWA TENGAH Rizky Saputra; Moehammad Awaluddin; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.878 KB)

Abstract

ABSTRAK CORS (Continuously Operating Reference Station) adalah suatu teknologi berbasis GNSS yang berwujud sebagai suatu jaring kerangka geodetik yang pada setiap titiknya dilengkapi dengan receiver yang mampu menangkap sinyal dari satelit-satelit GNSS yang beroperasi secara penuh dan kontinu selama 24 jam. Pengukuran koordinat dengan menggunakan CORS lebih efisien dengan ketelitian yang mencapai fraksi centimeter dan waktu pengukuran juga relatif cepat. Selain itu, dalam hal geodinamika bisa juga dijadikan sebagai monitoring untuk mengetahui arah pergerakan suatu titik dari tahun ke tahun beserta kecepatan pergeserannya.Penelitian ini berfokus pada penentuan kecepatan pergeseran (velocity) dan regangan (strain) dari stasiun CORS GNSS di daerah pantai utara Jawa Tengah pada tahun 2011 sampai dengan 2015. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah CORS Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, dan Purwodadi. Titik IGS yang digunakan adalah COCO, PIMO, NTUS, dan DARW. Pengolahan data menggunakan perangkat ilmiah GAMIT.Penelitian ini menghasilkan arah pergeseran menuju ke arah tenggara. Kecepatan pergeseran pada CORS Cirebon adalah 0,022 ± 0,003 m/tahun untuk komponen timur, -0,0117 ± 0,003 m/tahun untuk komponen utara, dan 0,0075 ± 0,013 m/tahun untuk komponen vertikal. CORS Tegal memiliki kecepatan 0,0194 ± 0,004 m/tahun untuk komponen timur, -0,0129 ± 0,003 m/tahun untuk komponen utara, dan 0,0094 ± 0,014 m/tahun untuk komponen vertikal. CORS Pekalongan memiliki kecepatan 0,0216 ± 0,002  m/tahun untuk komponen timur, -0,0102 ± 0,003 m/tahun untuk komponen utara, dan 0,0287 ± 0,012 m/tahun untuk komponen vertikal. CORS Semarang memiliki kecepatan 0,0229 ± 0,004 m/tahun untuk komponen timur, -0,0106 ± 0,003 m/tahun untuk komponen utara, dan 0,0092 ± 0,014 m/tahun untuk komponen vertikal. CORS Jepara memiliki kecepatan 0,0208 ± 0,006 m/tahun untuk komponen timur, -0,0107 ± 0,004 m/tahun untuk komponen utara, dan 0,0078 ± 0,021 m/tahun untuk komponen vertikal. CORS Purwodadi memiliki kecepatan 0,0219 ± 0,005 m/tahun untuk komponen timur, -0,0111 ± 0,003 m/tahun untuk komponen utara, dan 0,0103 ± 0,017 m/tahun untuk komponen vertikal. Regangan yang terjadi pada titik pengamatan berkisar -3,3498798 x 10-8 strain/year sampai dengan 3,608678 x 10-8 strain/year. Kata kunci: GAMIT, Kecepatan pergesaran, Stasiun CORS ABSTRACT CORS (Continuously Operating Reference Station) is a technology GNSS based old as a net geodetic framework which at every points is equipped with receiver that capable to capture signals from GNSS’s satellites operating in full and continuous for 24 hours. The measurement of coordinate with use CORS more efficient with precision at faction centimeter and time measurement also relatively fast. In addition, in terms of geodinamic can was also used for monitoring to know the direction of the movement of a point from year to year and velocity.This research focus on the determination of velocity and strain from the station CORS GNSS in coastal areas north Central Java in 2011 up to 2015. The data used in this research was CORS Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, and Purwodadi. The point of IGS used is COCO, PIMO, NTUS and DARW. Data processing using scientific software GAMIT.This research produce the shift towards southeast. The velocities in CORS Cirebon are 0,022 ± 0,003 m /year for the component east, -0,0117 ± 0,003 m/year for the component north and 0,0075 ± 0,013 m/year for the component vertical. The velocities in CORS Tegal are 0,0194 ± 0,004 m/year for the component east, -0,0129 ± 0,003 m/year for the component north and 0,0094 ± 0,003 m/year for the component vertical. The velocities in CORS Pekalongan are 0,0216 ± 0,002 m/year for the component east, -0,0102 ± 0,003 m/year for the component north and 0,0287 ± 0,012 m/year for the component vertical. The velocities in CORS Semarang are 0,0229 ± 0,004 m/year for the component east, -0,0106 ± 0,003 m/year for the component north and 0,0092 ± 0,014 m/year for the component vertical . The velocities in CORS Jepara are 0,0208 ± 0,006 m/year for the component east, -0,0107 ± 0,004 m/year for the component north and 0,0078 ± 0,0021 m/year for the component vertical. The velocities in CORS Purwodadi are 0,0219 ± 0,005 m/year for the component east, -0,0111 ± 0,003 m/year for the component north and 0,0103 ± 0,017 m/year for the component vertical. Strain occurring in the point of observation range -3,3498798 x 10-8 up to 3,608678 x 10-8 strain/year.Keywords: CORS station, GAMIT, Velocity *) Penulis, Penanggung Jawab
ANALISIS SEBARAN MAHASISWA DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI UNIVERSITAS DIPONEGORO MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Irfan Tri Anggoro; Arief Laila Nugraha; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.959 KB)

Abstract

ABSTRAKMenjamin ketersediaan dan akses terhadap Informasi Geospasial yang dapat dipertanggung jawabkan. Undang-undang tentang Informasi Geospasial ini menjadi aturan yang mengikat bagi seluruh pemangku kepentingan, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai pendukung pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya di negeri ini bagi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia, di masa kini dan masa yang akan datang. Dengan disebarluaskannya Informasi Geospasial akhirnya pengetahuan kalangan umum akan berbagai sumber daya yang ada di Indonesia meningkat. Berdasarkan rangkuman UU geospasial itu untuk mendukungnya secara menyeluruh, dibutuhkan banyak tenaga geomatika di seluruh wilayah Indonesia.Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan biodata mahasiswa Geodesi Universitas Diponegoro (UNDIP) periode 2014 sampai dengan 2018 yang kemudian akan dipetakan berdasarkan lokasi alamat tempat tinggal masing-masing mahasiswa pada lingkup Pulau, Provinsi, dan Kabupaten/KotaBerdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa mahasiswa-mahasiswa Geodesi UNDIP periode tahun 2014 sampai dengan 2018 masih sangat terpusat di pulau Jawa dengan persentase sebesar 76%, kamudian untuk tingkat Provinsi juga di dominasi oleh Provinsi Jawa Tengah dengan persentase sebesar 57%, selanjutnya untuk tingkat Kabupaten/Kota , Kota Semarang mendominasi jumlah mahasiswa dengan presentase sebesar 18%, diikuti oleh Kabupaten Demak, Kabupaten Pati dan Kabupaten Semarang dengan persentase sebesar 3%. Dari trend persebaran mahasiswa periode tahun 2014 sampai 2018, yang mengalami trend positif atau penambahan jumlah mahasiswa dari tahun 2016 ke tahun 2018 adalah Provinsi Sumatera Barat, sedangkan yang mengalami trend negatif atau jumlah penurunan mahasiswa dari tahun ke tahun adalah Provinsi Sumatera Utara, sedangkan Provinsi yang stabil jumlah mahasiswanya adalah Provinsi DKI Jakarta dengan rata-rata jumlah mahasiswa sebanyak 4 orang dari tahun ke tahun.
IDENTIFIKASI NILAI AMPLITUDO SEDIMEN DASAR LAUT PADA PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN MULTIBEAM ECHOSOUNDER Lufti Rangga Saputra; Moehammad Awaluddin; LM. Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1015.598 KB)

Abstract

Multibeam echosounder memiliki kemampuan dalam merekam amplitudo dari gelombang suara yang kembali. Amplitudo yang kembali tersebut telah berkurang karena interaksi dengan medium air laut dan sedimen dasar laut. Analisis terhadap amplitudo dari gelombang suara yang kembali (backscatter) memungkinkan untuk mengekstrak informasi mengenai struktur dan kekerasan dari dasar laut, yang digunakan untuk identifikasi jenis sedimen dasar laut. Sinyal kuat yang kembali menunjukan permukaan yang keras (rock, gravel) dan sinyal yang lemah menunjukan permukaan yang lebih halus (silt, mud). Hal tersebut karena semakin besar impedansi suatu medium semakin besar pula koefisien pantulannya. Gelombang akustik dalam perambatannya memiliki energi dan mengalami atenuasi (pengurangan energi) karena interaksinya dengan medium. Penelitian menggunakan data hasil survey batimetri multibeam echosounder ELAC SEBEAM 1050D di laut jawa daerah Balongan Indramayu. Pengolahan dilakukan dengan software CARIS HIPS and SIPS dalam pengolahan kedalaman dan software  MbSystem untuk pengolahan nilai amplitudo. Nilai amplitudo yang didapat dibandingkan dengan hasil coring sedimen sehingga dapat diketahui nilai amplitudo dari suatu sedimen. Hasilnya terdapat 3 sedimen dengan nilai amplitudo: 300-350 sedimen Silt (Lanau), 350 – 400 sedimen Silty Clay (Lempung Lanaunan) dan 400 – 450 Clayey Silt (Lanau Lempungan). Perbedaan nilai amplitudo tersebut karena adanya perbedaan impedansi tiap sedimen dalam mengurangi energi gelombang akustik.
ANALISIS PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DAN PERUBAHAN NILAI TANAH (Studi Kasus: Kec. Banyumanik Kota Semarang Jawa Tengah) Dedigun Bintang Fajeri; Sawitri Subiyanto; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.586 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah yang mengalami fenomena peningkatan nilai tanah yang pesat seiring dengan pertumbuhan penduduk. Kecamatan Banyumanik merupakan salah satu kecamatan di Kota Semarang yang mengalami perkembangan permukiman dari tahun ke tahun. Kecamatan Banyumanik termasuk dalam pembagian wilayah yang memiliki fungsi sebagai perencanaan permukiman. Hal ini mengakibatkan perubahan nilai tanah di Kecamatan Banyumanik. Sehingga diperlukan penelitian untuk melakukan analisis perkembangan permukiman dan perubahan nilai tanah di Kecamatan Banyumanik.Penelitian ini dilakukan dengan interpretasi penggunaan lahan permukiman dan non permukiman dari citra resolusi tinggi terkoreksi tahun 2011, 2013 dan 2015 untuk mengetahui perkembangan permukiman. Selanjutnya dilakukan pembuatan peta zona nilai tanah tahun 2011, 2013 dan 2016 dengan menggunakan data transaksi hasil survei lapangan. Pembuatan peta perubahan nilai tanah yang diperoleh dari hasil overlay peta ZNT. Pada tahap terakhir dilakukan analisis perkembangan permukiman dan perubahan nilai tanah di Kecamatan Banyumanik.Hasil penelitian menunjukan pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 perubahan penggunaan lahan menjadi permukiman meningkat sebesar 46,721 ha. Sedangkan pada kurun waktu tahun 2013 sampai tahun 2016 perubahan lahan menjadi permukiman meningkat sebesar 69,944 ha. Perkembangan permukiman tertinggi terjadi di Kelurahan Pudakpayung, dan hal tersebut diikuti dengan perubahan nilai tanah tertinggi selama rentang waktu tahun 2011 sampai dengan tahun 2016. Pada tahun 2011 ke tahun 2013 perubahan nilai tanah tertinggi yaitu zona 78 di Kelurahan Pudakpayung sebesar Rp 4.259.000,00. Dan pada tahun 2013 ke tahun 2016 perubahan harga tanah tertinggi terdapat pada zona 55 yang terletak di Kelurahan Pudakpayung sebesar Rp 3.448.000,00.Kata kunci : Kecamatan Banyumanik, perkembangan permukiman, perubahan nilai tanahABSTRACT                Semarang City is the capital of Central Java province who experienced the phenomenon of rapid increase in land values along with population growth. Banyumanik district is one of the districts in the city of Semarang experiencing settlement developed from year to year. Banyumanik districts included in the division of territory that has a function as settlement planning. This resulted in changes in the value of land in Banyumanik District. So that the necessary research to analyze the development of settlements and changes in the value of land in Banyumanik District.This research was conducted with the interpretation of land use residential and non-settlement of high-resolution imagery was corrected in 2011, 2013 and 2015 to determine the development of settlements. Furthermore, the land value zone map creation in 2011, 2013 and 2016 using data transaction field survey. Map making changes in the value of land obtained from the overlay ZNT maps. In the last stage conducted analysis on the development of settlements and changes in the value of land in Banyumanik District.The results showed in 2011 to 2013 changes in land use into settlements increased by 46.721 ha. Meanwhile, during the period 2013 to 2016 the change of land into settlements increased by 69.944 ha. The highest settlement developed in the Pudakpayung Village, and it is followed by the highest land value changes over a span of years 2011 to 2016. In 2011 to 2013 the highest land value changes in a zone 78 in the Pudakpayung Village Rp 4,259,000.00 , And in 2013 to 2016 the highest land price changes contained in the zone 55 located in the Pudakpayung Village Rp 3,448,000.00. Keyword : Banyumanik District, changes in the value of land, development of settlements
SURVEI PENDAHULUAN DEFORMASI SESAR KALIGARANG DENGAN PENGAMATAN GPS Ramdhan Thoriq Setyabudi; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.021 KB)

Abstract

ABSTRAKSesar Kaligarang adalah sesar geser aktif yang berada di lembah sungai Kaligarang. Sungai Kaligarang membelah wilayah Semarang pada arah hampir utara – selatan. Pada zaman Tersier, Sesar Kaligarang merupakan sesar jurus mendatar menga­nan sedangkan pada zaman kuarter sesar ini teraktifkan kembali sebagai sesar jurus mendatar mengiri. Menurut penelitian geologi Sesar Kaligarang berarah utara - selatan yang memanjang di sebelah timur Semarang memotong endapan Kuarter hasil Gunung Api Merbabu dan Merapi hingga dasar Laut Jawa di sebelah utara Semarang. Untuk keperluan informasi aktivitas sesar tersebut maka dilakukan perencanaan pemasangan titik-titik pengamatan dan pengukuran GPS dengan metode statik geodetik. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan GPS dual frequency pada 14 titik pengamatan yang terpasang melintang arah dari Sesar Kaligarang dengan menggunakan Scientefic Software GAMIT 10.5 untuk pengolahan datanya. Tujuan dari penelitian ini antara lain merencanakan desain jaringan titik kontrol untuk monitoring deformasi Sesar Kaligarang dengan pengamatan GPS dan melakukan pengukuran pertama titik kontrol pengamatan deformasi Sesar Kaligarang secara teliti menggunakan alat ukur GPS dual frequency dengan perangkat ilmiah GAMIT 10.5. Tinjauan pustaka yang digunakan dalam penelitian ini antara lain dinamika struktur bumi, sesar, Sesar Kaligarang, deformasi, GPS, data rinex, ITRF dan GAMIT. Pelaksanaan yang dilakukan meliputi perencanaan titik dan metode pengamatan, pengumpulan data, serta pengolahan data GPS. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pada strategi ketiga dengan cara titik-titik pengamatan diikatkan pada stasiun BAKO, COCO, DARW, dan PIMO mempunyai rata-rata simpangan baku X = 0,02741 m; Y = 0,01185 m; Z = 0,06000 m. Sehingga kesimpulan akhir dari penelitian ini adalah pengukuran dengan menggunakan GPS dual frequency supaya didapatkan hasil yang lebih teliti maka harus diikatkan pada stasiun-stasiun yang dikategorikan sebagai IGS yang lebih banyak lagi.Kata kunci : sesar, Sesar Kaligarang, GPS, GAMIT ABSTRACTKaligarang Fault is an active fault shear which located in a river valley of Kaligarang. Kaligarang River divides the area of Semarang on the direction nearly north - south. In the Tertiary, Kaligarang Fault is a fault moves horizontally quarter turn to the right while at the time the fault is activated again as the fault moves horizontally left. According to geological research Kaligarang Fault directed north – south that extends to the east of Semarang cut the Quaternary sediments results of Merapi and Merbabu Volcano to the base of Java Sea in the north of Semarang. For the purposes of fault activity information then made a planning of the installation monitoring points of GPS measurements by using geodetic static methods. The research method that used is using a dual frequency GPS observations on 14 points mounted transverse direction of Fault Kaligarang by using Gamit 10.5 Scientific Software for data processing. The purpose of this research is made a planning of network point design to monitoring the fault deformation of Kaligarang by using GPS monitoring and take the first control point of Kaligarang fault deformation measurements carefully by using GPS dual frequency tools with scientific devices Gamit 10.5.  Scientefic Software for data processing. The purpose of this research such as the design of network control point plan for monitoring deformation Fault Kaligarang with GPS observations and take the first control point observations carefully on Kaligarang Fault deformation using GPS dual frequency measurement tools with scientific devices Gamit 10.5. Literature review which used in this research include the dynamics of the earth's structure, fault, Fault Kaligarang, deformation, GPS, Data RINEX, ITRF of Gamit. The implementation conducted on the point of planning of monitoring methods, collection of data, and analysis of GPS data. The results of this study showed on the second strategies by means of monitoring points tied BAKO station, COCO, DARW, of PIMO have an average standard deviation of X = 0.02741 m; Y = 0.01185 m; Z = 0.06000 m. So the final conclusion of this research is the measurement by using dual frequency GPS in order to obtain more precise results it must be tied to stations which categorized as IGS more.Keywords: fault, Fault Kaligarang, GPS, GAMIT
FAKTOR KETERSEDIAAN LAHAN KOSONG DAN HARGA TANAH PASAR WAJAR UNTUK MENENTUKAN ARAH PERKEMBANGAN PERUMAHAN DI KECAMATAN TEMBALANG TAHUN 2010-2017 Rismauly Yunita Tampubolon; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1565.719 KB)

Abstract

Kota Semarang merupakan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Tengah. Kondisi tersebut menjadikan Kota Semarang over bounded yang mengindikasikan pembangunan kota ke arah pinggiran atau pedesaan. Kecamatan Tembalang merupakan salah satu kecamatan yang terletak di pinggiran Kota Semarang dengan pembangunan yang sangat pesat.Salah satu implikasinya yaitu dengan banyaknya perubahan penggunaan lahan yang terjadi, diantaranya pembangunan pemukiman dan bangunan fisik lainnya. Pembangunan tersebut memerlukan lahan kosong,sehingga informasi mengenai ketersediaan lahan kosong dan harga tanahnya sangat diperlukan. Data yang digunakan adalah Citra resolusi tinggi pada tahun 2010, 2013, dan 2017 serta informasi mengenai harga tanah pasar wajar pada tahun 2010, 2013, dan 2017. Pengolahan data dilakukan menggunakan metode Penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis.Selain itu juga diperlukan survei lapangan untuk mendapatkan informasi mengenai harga tanah pasar wajar dan untuk validasi terhadap identifikasi lahan kosong yang telah dilakukan sehingga didapatkan hasil identifikasi yang sesuai dengan kondisi real di lapangan. Setelah proses identifikasi dan validasi, maka dilakukan analisis seberapa besar luas ketersediaan lahan kosong dan luas lahan terbangun pada setiap desa/kelurahan di Kecamatan Tembalang serta bagaimana perubahan selama kurun waktu 2010 sampai dengan 2017. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan peningkatan luas penggunaan yang tertinggi pada Kecamatan Tembalang tahun 2010-2017, yaitu tahun 2013-2017 pemukiman naik sebesar 7,13%, sedangkan penurunan luas lahan kosong non pekarangan tahun 2010-2013 yaitu sebanyak 8,77% pada penggunaan lahan pekarangan tahun 2013-2017 berkurang 3,41%. Perubahan zona nilai tanah pada Kecamatan Tembalang tahun 2010 - 2017 dengan nilai tanah yang tertinggi berada di zona 29 sebesar Rp 3.284.800. Ketersediaan lahan kosong pada Kecamatan Tembalang terluas berada pada zona 60 dengan luas lahan 26.940 m² dan memiliki harga Rp.438.100,-/m². Sedangkan luas lahan kosong tersempit berada pada zona 29 dengan luas lahan 80 m² dan memiliki harga Rp.968.900,-/m². Untuk harga terendah berada pada zona 63 dengan harga Rp.274.400,-/m²dan memiliki luas 4.810 m². Dan bila ditinjau dari RTRW Kota Semarang, pengembangan perumahan sesuai untuk zona tersebut.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue