cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
PEMBUATAN PETA ZNEK DENGAN TRAVEL COST METHOD DAN CONTINGEN VALUATION METHOD MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Candi Borobudur) Annisa Usolikhah; Sawitri Subiyanto; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1058.967 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Magelang adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas kawasan 1.085,73 km2, dengan populasi 1.221.681 jiwa pada tahun 2013 dan terdiri dari 21 kecamatan. Salah satu tempat wisata di Kabupaten Magelang dan paling banyak diminati wisatawan domestik maupun mancanegara adalah Candi Borobudur. Candi Borobudur adalah candi Buddha yang terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan. Mengingat Candi Borobudur merupakan kawasan yang penting, maka perlu dilakukan penelitian tentang nilai ekonomi kawasan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini, untuk penentuan sample adalah Probability Sampling, di mana peluang setiap responden yang  terpilih adalah sama, dengan teknik Accidental Sampling yaitu responden yang diambil adalah siapa saja yang secara kebetulan yang datang berkunjung di objek wisata Candi Borobudur. Kuesioner yang digunakan bersumber dari BPN dengan format formulir SPT 212 untuk pendekatan TCM (Travel Cost Method) dan formulir SPT 211a untuk pendekatan CVM (Contingent Valuation Method).Hasil yang diperoleh dari penelitian Tugas Akhir ini adalah peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan dengan nilai Surplus Konsumen wisatawan lokal sebesar Rp 6.623.462,- dan Surplus Konsumen wisatawan mancanegara sebesar Rp 95.466.091,- per individu per tahun, dengan nilai WTP sebesar Rp 49.506,- sehingga diperoleh nilai total ekonomi objek wisata Candi Borobudur  sebesar Rp 37.288.351.278.790,- (nilai surplus konsumen per individu per tahun dikalikan dengan jumlah pengunjung tahun 2014). Dengan rata-rata jumlah kunjungan pertahun sebesar 4 kali kunjungan dan jumlah pengunjung sebesar 2.835.571 pada tahun 2014.Kata Kunci : Candi Borobudur, Contingent Valuation Method, Travel Cost Method, Willingness to Pay, Zona Nilai Ekonomi Kawasan. ABSTRACT                 Magelang town is a regency located in Central Java province which has an area of 1085.73 km2, with a population of 1.221.681 inhabitants in 2013 and consists of 21 districts. One of the tourist attractions and the most demanding for domestic and foreign tourists in Magelang is  Borobudur Temple. Borobudur is a Buddhist temple located in the village of Borobudur, District Borobudur, Magelang, Central Java. Borobudur is still used as a place of religious pilgrimage. Given the Borobudur Temple is an important area , it is necessary to research on the economic value of the region.                The method used in this study, for the determination of the sample was Probability Sampling, where the opportunities of each respondents selected are equal, with the Accidental Sampling technique i.e. respondents taken are  anyone by chance who came for a visit in the site of the Borobudur Temple. The questionnaire that is used sourced from BPN format 212 tax return form for the TCM approach (Travel Cost Method) and 211a form for the CVM (Contingent Valuation Method) approach.                Results obtained  from the study of this final project is the Economic Value Area Zone maps with local tourists Consumer Surplus value of Rp 6.623.462, - and foreign tourists Consumer Surplus of Rp 95.466.091, - per individual per year, with a value of WTP Rp 49.506, - in order to obtain the total value of economic attraction Borobudur Temple Rp 37.288.351.278.790, - (the value of the consumer surplus per individual per year multiplied by the number of visitors in 2014). With the average number of 4 visits per year  and number of visitors amounted to 2.835.571 in 2014. Keywords : Borobudur Temple, Contingent Valuation Method, Economic Value Zone Of Region, Travel Cost Method , Willingness to Pay. *) Penulis, penanggungjawab
ANALISIS HUBUNGAN CURAH HUJAN DAN PARAMETER SISTEM PERINGKAT BAHAYA KEBAKARAN (SPBK) DENGAN KEJADIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN UNTUK MENENTUKAN NILAI AMBANG BATAS KEBAKARAN Nur Itsnaini; Bandi Sasmito; Abdi Sukmono; Indah Prasasti
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.693 KB)

Abstract

ABSTRAKKebakaran adalah salah satu penyebab terjadinya degradasi hutan dan lahan di Indonesia. Dampak dan kerugian dari kebakaran tersebut menunjukkan perlunya suatu upaya pencegahan. Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) atau Fire Danger Rating System(FDRS) adalah suatu sistem informasi peringatan dini kebakaran hutan dan lahan.SPBK memberikan masukan terhadap keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan kebakaran hutan dan lahan menggunakan indeks cuaca kebakaran atau Fire Weather Index(FWI) sebagai parameternya. Parameter tersebut berupa data iklim antara lain data suhu, kelembaban relatif, kecepatan angin dan curah hujan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan curah hujan dan parameter SPBKyaitu FFMC, DC dan FWI terhadap kejadian kebakaran dan untuk mendapatkan nilai ambang batas curah hujan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan ekstraksi dan perhitungan akumulasi nilai curah hujan dan rerata parameter SPBK dengan titik kejadian kebakaran sebagai pusat grid. Penetapan nilai ambang batas curah hujan terbagi menjadi 4 periode waktu yaitu nilai ambang batas curah hujan 7 hari, 30 hari, 60 hari dan 90 hari sebelum kebakaran. Nilai ambang batas tersebut diuji dengan melakukan pembuatan wilayah potensi terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumatera Selatan.Hasil penelitian didapatkan bahwa parameter curah hujan dan parameter SPBK memiliki korelasi dengan kejadian kebakaran. Kemudian penetapan nilai ambang batas curah hujan terhadap kejadian kebakaran dengan mengambil tingkat kepercayaan minimal 80% didapatkan rentang sebagai berikut: nilai curah hujan 7 hari sebelum kejadian kebakaran sebesar 0,000 mm -47,501 mm; 30 hari sebelum kejadian kebakaran sebesar 0,000 mm -63,335 mm; 60 hari sebelum kejadian kebakaran sebesar 0,022 mm -409,001 mm dan 90 hari sebelum kejadian kebakaran sebesar 0,0822 mm -538,381 mm.Berdasarkan nilai ambang tersebut didapatkan sebaran wilayah potensi kebakaran hutan dan lahan Provinsi Sumatera Selatan tiap periode waktu.Kata Kunci: Curah Hujan, Kebakaran, Nilai Ambang Batas, Parameter SPBK  ABSTRACTFire is one of the causesof land and forest degradation in Indonesia. The impacts and the losses caused by the fire need for a prevention actions. Fire Danger Rating System (FDRS) is an early warning system for forest and land fire. Fire Danger Rating System give aninput to determine the decision for the management of forest and land fire using Fire Weather Index (FWI) as the parameter. That contains climate data such as temperature, relative humidity, wind speed, andprecipitation.The aim of this research to find out the relation between precipitation and FDRS parameters which are FFMC, DC and FWI towards the forest fires and to get the precipitation threshold value towards the forest fires and land incident. The method used in this research to perform the extraction and calculation of accumulated precipitation, and mean value SPBK parameters with fire spot as the center of point grid. Determination of the precipitation threshold values were divided into four periods which are the precipitationthreshold value7 days, 30 days, 60 days and 90 days before the fire. The threshold values were tested by implementing them on forest and land fire potential areas in South Sumatra province.The research resultshows that precipitation parameters and FDRS parameters have a correlation with the incident of fire. Then, the result of the determination of threshold of precipitation values towards the fire incident by taking the least confidence level of 80% are: values of precipitation 7 days prior to the occurrence of the fire is 0,000 mm - 47,501 mm; 30 days prior to the occurrence of the fire is 0,000 mm -63,335 mm; 60 days prior to the occurrence of the fire is 0,022 mm -409,001 mm and 90 days prior to the occurrence of the fire is 0,822 mm -538,381 mm. The threshold values are then used to determine areas forest and land fire potential in South Sumatra Province each period of time.Keywords: Precipitation, Fire, Threshold, FDRS Parameters
ANALISIS NILAI WTP (WILLINGNESS TO PAY) UNTUK MENENTUKAN NILAI EKONOMI KAWASAN WISATA ALAM DI KABUPATEN SEMARANG BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) (Studi Kasus, Kecamatan Bandungan , Kecamatan Sumowono, Kecamatan Ungaran Barat) Mega Dwijayanti; Bambang Sudarsono; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.949 KB)

Abstract

ABSTRACTSemarang districtis geographically located inYogyakarta-Semarang-Solo tourism traffic lane,consists of 19 subdistricts and 235 villages, its location are strategic, it’son the economic growth path across the industrial, agriculture and tourism construction, and it has42 tourism object. The tourist area that are made for the object of research is Umbul Sidomukti, Semirang waterfall, and Seven Angels waterfall, the three of them make the wealth of natural resources as a visited tourism object.This study used aquestionnaire that are derived from BPN with 212 SPT form format for TCM (Travel Cost Method) approach  and the 211a form for CVM (Contingent Valuation Method) approach, the information obtained from this form are calculated with a double regression methods that were subsequently used in the calculation of consumer  surplus and the willingness to pay on the existence of the regionin order to obtain the total economy value of an area. By using 2010 Quickbird data image and the GPS’s data field coordinates, so the total economic value obtained can be visualized into an Economic Value Zone Map (ZNEK Map), Direct Use Value  Map and the Existence Value MaP From the research result, the consumer’s surplus value of Umbul Sidomukti is Rp. 660.501,- million, the value of willingness to pay is Rp. 200.634,- For the Semirang waterfall, the consumer’s surplus value is Rp. 164.350,- the willingness to pay is Rp. 75.801,- and for the Seven Angels waterfall, the consumer’s surplus value is Rp. 780.892,- the willingnessto pay is Rp. 99.150,-. The total economic value obtained over the benefits value from the existence of the regional and the regional economic value based on the travel provider function for the Umbul Sidomukti region is Rp. 29.814.200.280,- Semirang waterfall, Rp. 2.385.280.957,- and the Seven Angels waterfall is Rp. 5.214.848.904,-Kata Kunci : Total economic value, Willingness To Pay, Direct Use Value, Exixtence Value
IDENTIFIKASI DAERAH RAWAN LONGSOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE SMORPH DAN SIG (Studi Kasus : Kecamatan Semarang Barat) INNEKE ASTRID PITALOKA; Andri Suprayogi; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (995.311 KB)

Abstract

Kota Semarang adalah salah satu kota yang sering terjadi longsor di beberapa kecamatan. Puluhan rumah ambruk dan rusak parah akibat terkena dampak tanah longsor. Salah satunya adalah kecamatan Semarang Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), mencatat November 2016 sudah 38 kali bencana alam tanah longsor melanda di wilayah Semarang. Seiring dengan perkembangan teknologi untuk mengidentifikasi daerah rawan longsor dapat menggunakan data Light  Detection  and  Ranging (LIDAR). Metode yang digunakan yaitu metode slope morphology (SMORPH) merupakan perhitungan sudut kemiringan lereng yang dibentuk antara bidang permukaan tanah dengan bidang normal. Perhitungan sudut kemiringan lereng pada penelitian ini digunakan dalam satuan persen. Metode yang digunakan dengan memberikan score dan bobot pada parameter penentuan adanya longsor. Penentuan score dan bobot mengacu pada katalog metodologi pembuatan peta geohazard.Dari pengamatan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Light  Detection  and  Ranging (LIDAR) menggunakan metode pembobotan dan overlay beberapa parameter seperti penggunaan lahan, kemiringan lereng, curah hujan dan struktur geologi masing-masing memiliki skor dan bobot. Peta ancaman longsor dibagi menjadi 3 kelas dan wilayahnya rendah (1629,611 ha), sedang (346,684 ha) dan tinggi (13,751 ha). Kesesuaian daerah rawan longsor dilihat dari 2 jenis validasi dengan menggunakan data lapangan dan data kejadian longsor dan kerentanan berdasarkan matriks slope morphology (SMORPH). Kecocokan hasil sampel lapangan pada peta ancaman longsor adalah 97,05% dan tidak sesuai 2,95% sedangkan kesesuaian metode slope morphology (SMORPH) terhadap peta ancaman longsor dari sampling setiap kelurahan adalah 81,25% dan tidak sesuai 18,75%. Berdasarkan validasi yang dilakukan, maka hasil validasi lapangan terhadap peta ancaman lebih baik dibandingkan dengan validasi menggunakan metode SMORPH.
ANALISIS PENGOLAHAN DATA GPS MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK RTKLIB Desvandri Gunawan; Bambang Darmo Yuwono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.676 KB)

Abstract

ABSTRAK GPS (Global Positioning System) merupakan sistem satelit navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit. Salah satu faktor ketelitian penentuan posisi dengan GPS adalah strategi pemrosesan data. Mengikuti perkembangan kebutuhan GPS dalam kehidupan manusia, data hasil pengamatan GPS dapat diolah menggunakan berbagai macam perangkat lunak. RTKLIB merupakan salah satu perangkat lunak yang digunakan untuk pengolahan data pengamatan GPS.Pada penelitian tugas akhir ini dilakukan pengamatan titik-titik menggunakan GPS Dual Frequency dengan metode statik untuk mengetahui karakteristik dan hasil pengolahan perangkat lunak tersebut. Hasil pengamatan titik GPS tersebut kemudian diolah menggunakan perangkat lunak RTKLIB dan Topcon Tools. Hasil pengolahan kedua perangkat lunak tersebut dibandingkan dengan hasil pengolahan perangkat lunak ilmiah Bernesse.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat nilai perbedaan antara nilai standar deviasi dari hasil pengolahan perangkat lunak RTKLIB dengan standar deviasi hasil pengolahan perangkat lunak Topcon Tools dengan nilai rata- rata σN dan σE sebesar -0,0011 m dan -0,0026 m dimana RTKLIB memiliki ketelitian standar deviasi yang lebih baik dan lebih mendekati hasil dari data sekunder, yaitu hasil pengolahan Bernesse. Berdasarkan hasil uji statistik dengan selang kepercayaan 95%, disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil Pengolahan RTKLIB dan Topcon Tools. Kata Kunci : GPS, RTKLIB, Standar Deviasi, Topcon Tools ABSTRACTGPS (Global Positioning System) is a navigation and positioning system using satellites. One of accuration factors using GPS is data processing strategy. By following the GPS demands in human life, GPS observation data can be processed using a variety of the softwares. RTKLIB is one of the softwares using for GPS observations data processing.This research observation uses points observations using GPS Dual Frequency by static method so that it is known a characteristics and the result of software processing. This result is then analyzed using RTKLIB and Topcon Tools software. The result of those softwares then compares to the result of processing Bernesse scientific software.The results of this research show that there is a difference between the deviation standard value of RTKLIB software and the deviation standard value of Topcon Tools software, with the mean value of σN and σE amounting -0.0011 and -0.0026 m respectively. RTKLIB has a better deviation standard accuracy and closer to the value of secondary data, that is the result of Bernesse. According to statistical test with 95% confidence interval, it is concluded that there is no significant differences between the result of RTKLIB and Topcon Tools software.Keywords: GPS, RTKLIB, Standard Deviation, Topcon Tools                                                                                                      *) Penulis Penanggung Jawab
PEMBUATAN SISTEM INFORMASI RINCI DESA MENGGUNAKAN DATA PEMOTRETAN UDARA UAV BERBASIS SIG Studi Kasus ( Desa Katonsari, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak) Yovi Adyuta Isdiantoro; Bambang Sudarsono; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.378 KB)

Abstract

ABSTRAKUU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menjelaskan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengembangkan sistem informasi Desa untuk keperluan perencanaan pembangunan di wilayah perdesaan. Desa berhak mendapatkan akses informasi melalui sistem informasi Desa yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah. Desa Katonsari merupakan Desa yang terletak di Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Desa ini memiliki wilayah yang strategis karena berada di dekat Jalan Raya yang menghubungkan Kota Semarang dan Kota Surabaya. Akan tetapi desa ini belum memiliki Sistem Informasi Desa. Pembuatan Sistem Informasi desa diharapkan dapat memudahkan pemerintah desa dan juga masyarakat lebih mudah dalam mendapatkan informasi geospasial. Sistem Informasi Desa dibuat dengan cara pengolahan data foto udara menjadi orthophoto. Hasil orthophoto dilakukan rektifikasi dengan citra Quickbird maka didapatkan foto udara terkoreksi. Lalu dilakukan proses digitasi yang mengacu pada PERKA BIG Nomor 3 Tahun 2016 dan dijadikan geodatabase lalu dilakukan topologi. Kemudian hasilnya di upload ke ArcGIS online sebagai hosted feature layer dan membuat aplikasi peta berbasis web dari shapefile yang dijadikan layer. Peta online dibuat dengan web map builder pada ArcGIS online. Hasil peta online kemudian disematkan di website Desa Katonsari dengan situs https://desakatonsari.wixsite.com/mysite yang didalam nya berisi Peta Desa Katonsari berbasis WebGIS. Hasil dari penelitian ini adalah Sistem Informasi Desa yang diakses melalui website. Setelah dilakukan uji usability pada website tersebut didapatkan nilai rata-rata 83,79 yang masuk kategori “Baik”. Kata Kunci : Orthophoto, Peta Online, Sistem Informasi Desa, UAV ABSTRACTLaw No. 6 of 2014 concerning Villages explains that the government and regional governments are obliged to develop Village information systems for the purposes of development planning in rural areas. Villages are entitled to access information through the Village information system developed by the Regional Government. Katonsari Village is a village located in Demak District, Demak Regency. This village has a strategic area because it is near the highway that connects the city of Semarang and the city of Surabaya. However, this village does not yet have a Village Information System. The creation of a village Information System is expected to make it easier for the village government and also the community to obtain geospatial information more easily. Village Information System is made by processing aerial photographic data into orthophoto. The orthophoto results were rectified with Quickbird imagery and corrected aerial photographs were obtained. Then the digitization process is carried out that refers to PERKA BIG Number 3 of 2016 and made into a geodatabase then carried out topology. Then the results are uploaded to ArcGIS online as the hosted feature layer and create a web-based map application from the shapefile that is used as a layer. Online maps are created with the web map builder on ArcGIS online. The results of the online map are then embedded on the Katonsari Village website with the site https://desakatonsari.wixsite.com/mysite which contains WebGIS-based Katonsari Village Map. The results of this study are the Village Information System which is accessed through the website. After the usability test was carried out on the website, it was found that the average value was 83.79 which was categorized as "Good". Keywords Orthophoto, Online Map, UAV, Village Information Systems
UJI COBA GNSS CORS DALAM PEMETAAN BATAS BIDANG TANAH MENGGUNAKAN SPIDERWEB ( STUDI KASUS : KABUPATEN SEMARANG ) Kukuh Ibnu Zaman; Sawitri Subiyanto; L. M. Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.737 KB)

Abstract

SpiderWeb merupakan suatu integrasi software dan hardware untuk mengontrol dan mengoprasikan satu receiver GPS ataupun beberapa receiver dalam satu network. CORS BPN sering mendapat kendala pada Communication Link (GPRS) dan Virtual Private Network (VPN) sehingga pengukuran CORS menggunakan NTRIP (Networked Transport of RTCM via Internet Protocol) cenderung lama untuk mendapatkan solusi pengukuran “fix”, untuk itu BPN RI bekerjasama dengan Leica mencoba memberikan alternatif baru untuk membuat software SpiderWeb.Pada penelitian tugas akhir ini analisis yang digunakan adalah selisih luasan bidang tanah hasil Post Processing menggunakan Spiderweb dengan hasil Post Processing menggunakan GNSS Solutions yang mengikat pada stasiun referensi Kantor Pertanahan Kabupaten Semarang. Metode pengukuran GPS yang digunakan adalah statik singkat (rapid static), dengan waktu pengamatan selama 5 menit. Data luasan bidang tanah definitif yang digunakan adalah luasan hasil Post Processing menggunakan GNSS Solutions.Selisih luasan yang dihasilkan dari hasi pengolahan data adalah sebagai berikut: pengukuran bidang tanah metode statik singkat menggunakan SpiderWeb dengan waktu pengamatan 5 menit dan jarak dari base stasion 2 km mendapatkan selisih luasan yang cukup besar, dengan selisih terkecil luasan bidang tanah terdapat pada bidang 7 yaitu sebesar 0,603 m2 (0,13%), dan selisih terbesar adalah pada bidang 17 yaitu sebesar 147,508 m2  (18,42%).Kata Kunci : SpiderWeb, GNSS CORS, Statik singkat, Pengukuran bidang tanah.
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN PANTAI PARANGTRITIS BERDASARKAN WILLINGNESS TO PAY MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Ahadea Kautzarea Yuwono; Bambang Darmo Yuwono; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.495 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Bantul memiliki daerah wisata alam yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Salah satu wisata alam yang saat ini banyak dikunjungi adalah Pantai Parangtritis. Pantai Parangtritis merupakan salah satu ikon pariwisata Kabupaten Bantul yang memberi pendapatan terbesar dari sektor pariwisata  bagi Kabupaten Bantul. Suasana hangat dari pantai, panorama matahari tenggelam, beserta segala hal mistis yang ada di Pantai Parangtritis inilah yang menarik perhatian wisatawan untuk datang mengunjunginya. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dibuat Peta ZNEK untuk mengetahui nilai ekonomi kawasan berdasarkan metode TCM (Travel Cost Method) dan CVM (Contingent Valuation Method) pada kawasan tersebut.Metode penarikan responden yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah sampling non probability sampling dengan teknik sampling insidental, yaitu responden yang ditemui secara kebetulan datang berkunjung di Pantai Parangtritis. Data yang digunakan adalah 60 responden untuk TCM dan CVM, serta 10 responden tambahan masing-masing untuk validasi model TCM dan CVM. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan menggunakan software Maple 17. Serta dilakukan juga uji asumsi klasik (normalitas, heteroskedastisitas, autokorelasi, dan multikolinearitas), validitas dan reliabilitas menggunakan SPSS 23.Dalam penelitian tugas akhir ini, uji asumsi klasik menunjukkan semua data berdistribusi normal, tidak terjadi heteroskedastisitas, terbebas dari autokorelasi dan tidak memiliki multikolineritas. Uji validitas dan reliabilitas menunjukan hasil valid dan reliabel pada model yang digunakan. Pada validasi model, hasil pengujian menunjukan nilai RMSE sebesar 0,091061337 pada TCM dan 0,066100981 pada CVM. Hasil perhitungan nilai total ekonomi didapatkan nilai DUV sebesar Rp. 24.768.055.550.000, nilai EV sebesar Rp. 32.875.953.030 sehingga diperoleh nilai total ekonomi objek wisata Pantai Parangtritis sebesar Rp 24.800.931.503.030.
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Semarang Bagian Selatan) Purwi Fitroh Hidayati; Sutomo Kahar; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.566 KB)

Abstract

AbstrakDalam perkembangan permukiman yang terjadi di wilayah Semarang Bagian Selatan yaitu kecamatan Gunung Pati, Tembalang dan Banyumanik secara langsung dipengaruhi oleh adanya perguruan tinggi dan para pedagang atau pekerja yang kemudian mendatangi kawasan tersebut. Selaian itu luasan lahan yang masih luas serta fasilitas yang akhirnya kecamatan-kecamatan tersebut dijadikan salah satu tempat untuk beraktifitas. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk menganalisis dalam proses evaluasi kesesuaian lahan yang sesuai dengan parameter yang telah ditentukan, yaitu tata guna lahan, kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, jarak terhadap jalan utama dan gerakan tanah.Dari analisis menggunakan metode AHP (Analitycal Hierarchy Process) menunjukan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter sebesar 35,78 % untuk kemiringan lereng dan gerakan tanah, 10,80 % untuk jenis tanah, 8,33% untuk penggunaan lahan, 5,42 % untuk jarak terhadap jalan utama dan 3,89 % untuk curah hujan. Dari hasil overlay peta hasil skoring tersebut maka didapat lahan dengan luas 5101,10 (ha) atau sekitar 31,87 % sangat sesuai untuk permukiman, lahan dengan luas 3764,69 (ha) atau sekitar 23,52 % sesuai untuk permukiman, lahan dengan luas 2914,16 (ha) atau sekitar 18,21 % cukup sesuai untuk permukiman, lahan dengan luas 1287,36 (ha) atau sekitar 8,04% lahan kurang sesuai untuk permukiman dan lahan dengan luas 3012,56 (ha) atau sekitar 18,82 % tidak sesuai untuk permukiman. Kata kunci: Permukiman, Analytic Hierarchy Process, Sistem Informasi Geografis, Kemiringan, Jenis Tanah. AbstractIn residential developments that occurred in the area of Southren Semarang namely Gunung Pati, Tembalang and Banyumanik is directly influenced by the presence of colleges and traders or workers who later came to the region. Beside the land area that is still widespread, and the facilities are sub-districts eventually be one of the places to activities. Geographic Information System (GIS) is a right step in presenting the spatial aspects (spatial). In this case the GIS has the benefit that can be used to analyze the process of land suitability evaluation in accordance with predetermined parameters, namely land use, slope, soil type, rainfall, distance to the main road and ground movement. From the analysis using AHP (Analytical Hierarchy Process) showed much weight affect for each parameter of 35.78% for the slope and soil movement, 10.80% for the type of soil, 8.33% for the landuse, 5, 42% of the distance to the main road and 3.89% for outpour of rainfall. From the results of the scoring overlay the map results obtained land with an area of 5101.10 (ha), or approximately 31.87% is very suitable for settlement, land with an area of 3764.69 (ha), or approximately 23.52% according to settlements, land with wide 2914.16 (ha), or approximately 18.21% is quite suitable for settlement, land with an area of 1287.36 (ha), or approximately 8.04% less land suitable for settlement and land with an area of 3012.56 (ha) or around 18.82% are not suitable. Keywords: Settlement, Analytic Hierarchy Process, Geographic Information System, Slope, Soil Type.
ANALISIS KOMPARASI MODEL 3 DIMENSI FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT TERHADAP CETAKAN 3 DIMENSI DENGAN ALAT CETAK RAISE3D N2 PLUS Billy Silaen; Yudo Prasetyo; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.525 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi model 3 dimensi berkembang pesat beberapa tahun belakangan ini, salah satunya adalah 3D Printing. Salah satu manfaat dari 3D printing adalah replikasi yang berguna untuk menduplikasi suatu objek. Pengolahan 3D printing memerlukan model 3D digital untuk di cetak menjadi replika objek tersebut, sehingga dibutuhkan suatu metode pembuatan model 3D digital yang baik yang siap cetak menjadi replika. Pada penelitian ini, menggunakan kamera non metrik seperti kamera DSLR untuk mengambil foto objek. Hasil foto dilakukan pengolahan dengan metode fotogrametri rentang dekat menggunakan software open source VisualSfM dalam pembuatan point cloud. Pembuatan model 3D siap cetak diolah dengan Meshlab dalam dan menggunakan Raise3D N2 Plus untuk mesin cetak 3D-nya. Hasil akhir penelitian menunjukkan perbandingan objek penelitian, model digital dan model cetak.  Kesesuaian bentuk antara objek, model digital dan cetak memperlihatkan hasil yang baik secara detil seperti lipatan lemak pada objek, namun pada model digital masih ada bagian kasar yang juga tercetak pada model cetak. Detil kecil pada lipatan diatas mata pada model cetak tidak terlihat. Kesesuaian warna model digital cukup baik dengan beberapa warna pada daerah kasar kurang sesuai serta warna model cetak hanya bisa satu warna. Akurasi jarak objek, model digital serta model cetak berada dalam satuan milimeter dimana jarak objek dengan model digital rata-rata 3,524 mm; objek dengan model cetak rata-rata 4,167mm; dan model digital dengan model cetak rata rata 3,226 mm.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue