cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS PERBANDINGAN METODE NORMALIZED DIFFERENCE DROUGHT INDEX (NDDI) DAN THERMAL VEGETATION INDEX (TVX) DALAM MENENTUKAN KEKERINGAN LAHAN SAWAH (STUDI KASUS : KABUPATEN KENDAL) Veri Pramesto; Abdi Sukmono; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1102.841 KB)

Abstract

Kabupaten Kendal merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Pada bulan Agustus 2018, di Kabupaten Kendal telah terjadi kekeringan yang menyebabkan lahan pertanian di Kabupaten Kendal terancam gagal panen dan mengakibatkan kerugian materi bagi kalangan petani. Ancaman kekeringan akibat pengaruh iklim memang tidak dapat dihindari, tetapi hal tersebut dapat diminimalkan dampaknya jika pola kekeringan di suatu daerah dapat diketahui. Adapun cara yang dapat digunakan adalah dengan menerapkan aplikasi penginderaan jauh yaitu melalui pengolahan dan analisis menggunakan algoritma Normalized Difference Drought Index (NDDI) dan Thermal Vegetation Index (TVX) dari citra Landsat 8 tahun 2018. Berdasarkan hasil pengolahan metode NDDI, kekeringan lahan sawah di Kabupaten Kendal pada bulan Agustus tahun 2018 terparah terjadi di Kecamatan Kaliwungu Selatan. Luas kekeringan lahan sawah kelas ringan terparah terjadi di Kecamatan Kaliwungu Selatan 2158,098 ha, kekeringan kelas sedang di Kecamatan Kaliwungu Selatan 573,692 ha, kekeringan kelas berat di Kecamatan Singorojo 465,187 ha dan kekeringan kelas sangat berat di Kecamatan Singorojo sebesar 13,745 ha. Dan berdasarkan hasil pengolahan metode TVX, kekeringan lahan sawah yang terjadi di Kabupaten Kendal pada 25 Agustus tahun 2018 terparah terjadi di Kecamatan Patean. Luas kekeringan lahan sawah kelas ringan terparah terjadi di Kecamatan Kaliwungu Selatan 1202,26 ha, kekeringan kelas sedang di Kecamatan Kaliwungu Selatan 498,92 ha, kekeringan kelas berat di Kecamatan Gemuh 322,42 ha dan kekeringan kelas sangat berat di Kecamatan Patean sebesar 988,60 ha. Berdasarkan hasil verifikasi diperoleh tingkat akurasi metode NDDI sebesar 37,14% dan TVX sebesar 71,43%. Jadi, dapat disimpulkan bahwa metode TVX lebih akurat daripada NDDI dalam mengidentifikasi kekeringan lahan sawah di Kabupaten Kendal tahun 2018.
ANALISIS FLUKTUASI PRODUKSI PADI AKIBAT PENGARUH KEKERINGAN DI KABUPATEN DEMAK Adhelina Rinta Iswari; Hani’ah Hani’ah; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.403 KB)

Abstract

ABSTRAKSetiap tahun, musim kemarau menyebabkan kekeringan melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satu lahan yang selalu mendapat ancaman serius adalah lahan persawahan. Kekeringan di area persawahan ini menyebabkan penurunan produksi padi di beberapa wilayah karena kurangnya pasokan air untuk mengairi area persawahan. Kabupaten Demak merupakan salah satu kabupaten yang menjadi penyangga pangan nasional karena sebagian besar wilayahnya merupakan lahan persawahan. Namun, lahan persawahan di Kabupaten Demak ini juga tak luput dari ancaman bencana kekeringan. Setiap tahun di musim kemarau, persawahan Kabupaten Demak mengalami kekeringan karena sebagian besar sawahnya menggunakan pengairan tadah hujan dan hanya sebagian kecil berpengairan teknis. Dengan adanya ancaman kekeringan, mengakibatkan naik atau turunnya produksi padi di Kabupaten Demak setiap tahun.Analisis fluktuasi produksi padi pada penelitian ini dilakukan dengan cara pemetaan area persawahan musim panen kemudian digabungkan (overlay) dengan peta ancaman kekeringan. Pemetaan area persawahan diolah menggunakan data penginderaan jauh, dan pemetaan ancaman kekeringan merujuk pada Katalog Metodologi Penyusunan Peta Geo Hazard dengan SIG. Analisis fluktuasi produksi padi yang didapat kemudian dianalisis pengaruhnya terhadap ketahanan pangan di Kabupaten Demak.Penelitian ini menghasilkan peta sawah terdampak kekeringan yang diklasifikasikan kedalam tiga kelas yaitu rendah, sedang dan tinggi, dimana sawah yang terdampak kekeringan kelas tinggi diasumsikan sebagai lahan sawah gagal panen. Pada musim panen 2 dan 3 tahun 2013 sebanyak 0,629% lahan sawah mengalami gagal panen, pada tahun 2014 sebanyak 8,121% dan 9,173% pada tahun 2015. Namun ancaman kekeringan yang ada tidak berimbas pada ketahanan pangan di Kabupaten Demak, hal ini dibuktikan dengan adanya surplus beras sebanyak 2.681.392,681 kuintal pada tahun 2014 dan sebanyak 3.124.096,305 kuintal pada tahun 2015. Kata Kunci : Area Persawahan, Fluktuasi Produksi Padi, Kabupaten Demak, Kekeringan, Ketahanan Pangan  ABSTRACTEvery years, dry season caused drought in several regions of Indonesia. Rice fields always get serious threat of it. Drought in rice fields causing reduction of paddy production due to lack of water supply to irrigate their rice fields. Demak Regency is one of national food support bacause it has amount of rice fields there. However, rice fields in Demak Regency also threat by drought. In dry season it experiencing drought because most of them depend on rain for irrigate their rice fields, so fluctuative paddy production caused by drought in Demak Regency every year.Analysis of fluctuative paddy production on this research is done by mapping the harvest season of rice fields then combined it with drought map. Paddy fields map processed using remote sensing data, and drought map refers to methodology geo hazard catalog based GIS. The fluctuative of paddy production and then analyzed toward food security in Demak Regency.This research results rice fields map affected by drought which classed into three level, low, medium and high. Rice fields that affected by high level of drought assumed as crop failure. On 2nd and 3rd harvest season of 2013, 0.629% harvest area was failed, on 2014 8.121% and 9.173% on 2015. However, drought in Demak Regency has no impact for their food security, they have rice surplus about 2,681,392.681 quintals on 2014 and 3,124,096.305 quintals on 2015.      Keywords : Rice Fields, Fluctuative paddy production, Demak Regency, Drought, Food Security  *)  Penulis, Penanggung Jawab
PEMODELAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA GEREJA BLENDUK UNTUK KONSERVASI DENGAN METODE TERRESTRIAL LASER SCANNER Nasrul Arfianto; Bandi Sasmito; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1200.504 KB)

Abstract

ABSTRAKBangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding dan beratap. Sebagai tempat tujuan wisata favorit di provinsi Jawa Tengah-Semarang mempunyai banyak pilihan yang tepat untuk dikunjungi, salah satunya adalah kawasan kota lama. Ada sebuah bangunan yang  wajib dikunjungi ketika berada di kota lama yaitu gereja Blenduk yang dibangun pada tahun 1753. Usia bangunan yang lebih dari 250 tahun menjadikan gereja Blenduk sangat layak dan pantas untuk dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya. Maka dari itu harus dilakukan konservasi maupun pelestarian agar tetap terjaga secara utuh keaslian bangunan tersebut.Perkembangan dunia survei dan pemetaan sangatlah pesat. Di era modern saat ini, pemanfaatan teknologi terrestrial laser scanner (TLS) dapat memberikan solusi dalam pendokumentasian suatu bangunan maupun pengukuran topografi. Laser scanner digunakan untuk keperluan pengukuran objek-objek yang rumit dan memerlukan tingkat ketelitian tinggi. Pengambilan data dilaksanakan dengan teknologi FARO Laser Scanner Focus 3D menggunakan metode target to target registration. Hasil proses scanning (penyiaman) data berupa points clouds (titik-titik awan) dalam bentuk tiga dimensi. Pengolahan data dalam pengukuran ini dengan perangkat lunak Scene 5.1.Dalam penelitian tugas akhir ini, hasil yang dicapai adalah model 3D bangunan cagar budaya gereja Blenduk. Proses pengolahan data juga menggunakan perangkat lunak Autodesk Revit 2014 untuk membuat model 3D solid. Hasil registasi data diperoleh total nilai RMS 0.032 m dengan nilai rata-rata RMS di setiap scanworld (titik berdiri alat) adalah 0.004 m. Hasil pengukuran TLS dan pengukuran electronic total station (ETS) dilakukan uji perbandingan panjang antar sisi untuk mengetahui data kualitas hasil ukuran, diperoleh nilai RMS sebesar 0.00446318 m. Kata Kunci: Electronic Total Station, Gereja Blenduk, Model 3D, Terrestrial Laser ScannerABSTRACTHeritage building has built from natural or human made objects full fill the space of walls and or no walls and roof. As a favorite tourist destination in the province of Central Java-Semarang has many options right to visit, one of them is the old town area. A building that must be visited in the old town area namely Blenduk Church was built in 1753. The building more than 250 years old was made Blenduk church very reasonable to be a heritage building. Therefore, it needs  conservation and preservation to keep the authenticity of the building.The development of surveying and mapping are very rapid. In this modern era, the using of terrestrial laser scanner technology can gives the solution to document of a building and topography measurements. Laser scanner is use to measurement the difficult objects which need a high degree of precision. Data collection was carried out with the FARO Laser Scanner Focus 3D technology that is using target to target registration method. Result of data scanning process is point clouds data in three dimension state. The data processing use software Scene 5.1 in this measurement.In this final task research, the result achieved was 3D model of Blenduk church heritage building. The data processing use software Autodesk Revit 2014 to create a 3D solid model. The result of registration data is reach the total number RMS value 0.032 m, with an average of RMS value 0.004 m in each scanworld. The measurement result of  TLS and ETS was tested the size of the length between sides to knew the quality of measurement result data with the final result of RMS around 0.00446318 m. Keywords: Blenduk Church, Electronic Total Station, Model 3D, Terrestrial Laser Scanner
PENGAMATAN PENURUNAN MUKA TANAH KOTA SEMARANG TAHUN 2017 Roy Kasfari; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.504 KB)

Abstract

ABSTRAKPenurunan muka tanah merupakan fenomena yang merugikan bagi wilayah yang mengalaminya. Banyak faktor penyebab yang mendukung terjadinya fenomena ini diantaranya jenis tanah, tata guna lahan, penggunaan air tanah, dan sebagainya. Akibat yang ditimbulkan juga bermacam-macam seperti banjir rob serta kerusakan infrastruktur dan fasilitas di wilayah yang mengalami. Kota Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia sudah mengalami fenomena ini. Dari penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2008 hingga tahun 2016, Kota Semarang telah mengalami laju penurunan muka tanah. Nilai Laju penurunan tanah juga berbeda pada setiap wilayah Kecamatannya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Kota Semarang mengalami penurunan muka tanah setiap tahun. Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya mitigasi. Setelah diketahui bahwa dari tahun 2008-2016 Kota Semarang mengalami penurunan muka tanah, maka pada tahun 2017 tetap dilakukan pengamatan untuk membuktikan apakah pada tahun 2017 Kota Semarang masih mengalami penurunan muka tanah. Mengetahui laju penurunan muka tanah Kota Semarang pada tahun 2017 dilakukan dengan menggunakan teknologi GPS. GPS melakukan pengamatan dan perekaman data pada 7 titik tersebar dan telah ditentukan letaknya di Kota Semarang. Titik tersebut antara lain N259, SP05, SMK3, CTRM, K371, dan KOP8 serta titik T447 sebagai base. Selanjutnya data yang diperoleh, diproses pada software GAMIT 10,6 (2016) untuk mengetahui nilai laju penurunan muka tanah. Dari penelitian ini, diperoleh nilai laju penurunan muka tanah tertinggi berada pada titik KOP8 yaitu berkisar ± 21,33 cm. Sementara itu, nilai laju penurunan terendah berada pada titik SMK3 yaitu berkisar ± 2,18 cm. Nilai laju penurunan muka tanah yang diperoleh merupakan laju penurunan yang dialami Kota Semarang selama kurun waktu empat tahun terakhir (2013-2017). Dan selanjutnya hasil laju penurunan dihubungkan dengan data sekunder seperti tata guna lahan, jumlah penduduk, penggunaan air tanah, dan jenis tanah.Kata Kunci : GPS, Kota Semarang, Laju Penurunan Muka Tanah ABSTRACTLand subsidence is a phenomenon that giving so many disadvantages to the exposed area. There are so many factors that cause this phenomenon such as land types, landuse, groundwater using, and many others. The various impact would happen, for instance, tidal flood and infrastructure and facility damage in the exposed area above. Semarang city as one of the big city in Indonesia has been experiencing this phenomenon. A research result that has conducted since 2008 until 2016 shows that Semarang city experienced a rate of land subsidence. The rate itself has a differentiation between each of sub-district. Based on those research that shown Semarang city has a rate land subsidence for every year. Therefore it requires a mitigation. After it is known that Semarang city has the rate of land subsidence from the year of 2008 until 2016, then an observing activity on 2017 is still required to know whether Semarang city has a rate of land subsidence or not. To find out the rate of land subsidence in 2017, it would be done by using a GPS. GPS is observing and data recording on seven spread points and the location has been determined in the Semarang city itself. Those seven points are N259, SP05, SMK3, CTRM, K371, KOP8, and the T447 as the base. Furthermore, after all of the data has been gathered, it is proceed by using GAMIT 10,6 (2016) software to finding out the rate of land subsidence. Based on this research it is known that the highest rate of land subsidence is located on point KOP8 which is around ±21,33 cm. Meanwhile, the lowest rate of land subsidence is located on SMK3 which is around ± 2,18 cm. Semarang city has been experiencing rate of land subsidence for the last four years (2013-2017). Furthermore, the rate of land subsidence is connected to secondary data such as landuse, the amount of population, groundwater using, and land types.Keywords : GPS, Rate of Land Subsidence, Semarang City
IDENTIFIKASI LAHAN SAWAH MENGGUNAKAN NDVI DAN PCA PADA CITRA LANDSAT 8 (Studi Kasus: Kabupaten Demak, Jawa Tengah) Ardiansyah Ardiansyah; Sawitri Subiyanto; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.279 KB)

Abstract

ABSTRAK Padi (Oryza sativa, sp) merupakan salah satu tanaman pertanian yang paling penting di Indonesia, karena beras merupakan makanan pokok lebih dari 90% penduduk Indonesia. Berdasarkan data Susenas-BPS, konsumsi beras di Indonesia per-kapita pada tahun 2013 sebesar 97,4045 kg/kapita/tahun. Berdasarkan Data Statistik Pertanian tahun 2014 Kementrian Pertanian, luas lahan sawah Indonesia pada tahun 2013 sebesar 8.112.103 ha. Pada tahun 2017, Pemerintah mempunyai misi mewujudkan Indonesia menjadi Swasembada Pangan. Oleh karena itu, Pemerintah harus dapat mengupayakan stabilitas pemenuhan kebutuhan pokok akan pangan, seperti pemetaan lahan sawah. Pemetaan lahan sawah yang akurat dapat menggunakan metode yang cepat dan mudah seperti Penginderaan Jauh.Pada penelitian ini, dilakukan identifikasi lahan sawah menggunakan citra Landsat 8 multitemporal berdasarkan Masa Tanam Padi 1 di Kabupaten Demak yang berkisar antara akhir bulan Oktober 2013 hingga awal bulan Maret 2014. Metode yang digunakan yaitu Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Principal Component Analysis (PCA) dan kombinasi kanal. Klasifikasi citra dilakukan dengan menggunakan sembilan kelas, yaitu air, pemukiman, mangrove, kebun, tegalan, sawah 1, sawah 2, sawah 3 dan sawah 4.Hasil analisis menunjukkan luas lahan sawah yang diperoleh dari metode PCA sebesar 50.009 ha, kombinasi kanal sebesar 51.016 ha dan metode NDVI sebesar 45.893 ha. Tingkat ketelitian pada metode PCA 84,848%, kombinasi kanal mempunyai ketelitian 81,818% dan NDVI mempunyai ketelitian 75,758%. Kata Kunci : sawah, Landsat 8, NDVI, PCA, kombinasi kanal  ABSTRACT Paddy (Oryza sativa, sp) is one of the most important agricultural sector in Indonesia, because rice is the main food for more than 90% of Indonesia's population. Based on BPS-Susenas data, consumption of rice per capita in 2013 amounted to 97.4045 kg/capita/year. Based on Statistical Data of Agriculture Ministry of Agriculture by 2014, Indonesia rice field area in 2013 amounted to 8,112,103 ha. In 2017, the Government has the mission of realizing Indonesia became self-sufficient in food. Therefore, the Government should be able to seek the stability of the fulfillment of basic needs for food, such as wetlands mapping. It’s accurate mapping can use a quick and easy method such as Remote Sensing.In this study, carried out the identification of rice fields using multitemporal Landsat 8 based on Rice Planting Time 1st in Demak that range between the end of October 2013 to early  March 2014. The methods which was used Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Principal Component Analysis (PCA) and combination bands. Image classification is processed by using nine classes, those are water, settlements, mangrove, gardens, fields, rice fields 1st, rice fields 2nd, rice fields 3rd and rice fields 4th. The results showed the rice fields area obtained from the PCA method was 50,009 ha, combination bands was 51,016 ha and NDVI method was 45,893 ha. The accuracy level was obtained PCA method (84.848%), combination bands (81.818%), and NDVI method (75.758%). Keywords : rice fields, Landsat 8, NDVI, PCA, combination bands *) Penulis, Penanggungjawab
PEMBUATAN PETA NILAI EKONOMI KAWASAN WISATA BERBASIS WEBGIS Dinda Anisa Anggraini; Sawitri Subiyanto; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.593 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Semarang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang perekonomiannya memiliki perkembangan yang sangat pesat ditandai dengan berkembangnya kawasan industri di beberapa wilayah di Kabupaten Semarang serta semakin berkembangnya kawasan wisata. Kabupaten Semarang memiliki beragam jenis objek wisata diantaranya Taman Wisata Kopeng, Eling Bening, Kampoeng Rawa dan Candi Gedong Songo. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan peta Nilai Ekonomi Kawasan berbasis WebGIS terhadap objek wisata untuk menentukan nilai guna langsung, nilai keberadaan dan nilai total ekonomi. Penarikan sampel menggunakan non probability sampling dengan teknik sampling incidental. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda, perhitungan dilakukan dengan perangkat lunak Maple 17. Survei toponimi dilakukan dengan survei lapangan menggunakan Mobile Topographer. Perancangan Web menggunakan ArcGIS Online. Hasil dari penelitian ini yaitu nilai total ekonomi (TEV) pada keempat objek kawasan wisata yang setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan, tetapi pada Taman Wisata Kopeng tahun 2016 mengalami penurunan dikarenakan pada tahun 2016 wisata ini sempat ditutup sementara waktu sampai akhirnya pada bulan mei tahun 2016 dibuka kembali dan Eling Bening tahun 2018 juga mengalami penurunan dikarenakan pada tahun 2018 wisata ini sedang direnovasi sehingga mempengaruhi kunjungan wisatawan. Pada wisata Kampoeng Rawa dan Candi Gedong Songo tidak mengalami penurunan tetapi selalu meningkat setiap tahunnya cukup pesat. Hasil kuisioner didapatkan skor terendah berada pada parameter learnability dan memorability serta skor tertinggi berada pada parameter error. Hasil uji usability pada website sebesar 85% artinya tampilan website ini sangat berhasil. Kata Kunci : Contingent Valuation Method, Nilai Ekonomi Kawasan, Travel Cost Method, WebGABSTRACT   Semarang Region is one of region in central Java Province, the economy increase very repidly. It marked by many industrial zones in Semarang region and the tourist area. Semarang region has some of tourist area such as Taman Wisata Kopeng, Eling Bening, Kampoeng Rawa and Candi Gedong Songo. Based on this, a WebGIS based regional economy value map is needed to determine the direct use value, the existence value and the total economy value. Sampling using non-probability and incidental technique. The method used in this research is multiple linear regression, calculation using Maple 17 software . The Topographic survey is conducted by field survey using a Topographer Mobile. Web design using ArcGIS online. The result of this research is total economy value (TEV) in the tourist area which every significant increase in the budget, except in Taman Wisata Kopeng in 2016 increased in 2016 reopened and Eling Bening in 2018 also decreased due to in 2018. In tourism Kampoeng Rawa and Candi Gedong Songo do not increase but always increase every year. The result of the Questionnaire obtained that the lowest score is in the learnability and memorability parameter then the highest score is in the error parameter. Usability test results on the website by 85% means that the appearance of this website is very successful.
ANALISIS PERBANDINGAN FLUKTUASI PERUBAHAN VOLUME WADUK PENJALIN DENGAN METODE PEMERUMAN DAN PENGUKURAN ELEVASI MUKA AIR Endang Purwati; Andri Suprayogi; Hani'ah .
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.806 KB)

Abstract

Waduk Penjalin terletak di wilayah Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah, dibangun sekitar tahun 1930 –  1934. Waduk  Penjalin hanya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi seluas 29.000 Ha. Sumber airnya selain dari Kali Pemali juga berasal dari air hujan yang jatuh di Daerah Aliran Sungai (DAS) Waduk Penjalin dan yang jatuh langsung ke waduk. Curah hujan tahunan rata-rata di daerah ini berkisar antara 2.750 mm. Pemeliharaan Waduk Penjalin belum dilaksanakan secara serius oleh pengelola. Sejak dibangun tahun 1934 hingga sekarang, baru dilakukan dua kali pemeruman untuk mengontrol perubahan Waduk Penjalin, sehingga perubahan secara perodik tidak bisa dideteksi. Dengan kata lain, apabila terjadi perubahan tidak bisa dilakukan tindak lanjut secara berkala. Volume efektif waduk pada awal mula beroperasi sebesar 9,5 juta. Setelah beroperasi selama 76 tahun diperkirakan volume Waduk Penjalin kurang dari 50%, terbukti dari volumenya sudah tidak dapat lagi mengairi irigasi seluas 29.000Ha. Kata kunci : Waduk, Volume, Daerah Aliran Sungai
EFEKTIVITAS PENENTUAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN CITRA RESOLUSI TINGGI DAN RESOLUSI MENENGAH (Studi Kasus : Kabupaten Pacitan) Putri Auliya; Bandi Sasmito; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1352.817 KB)

Abstract

ABSTRAK   Garis pantai merupakan garis imajiner tempat air dan daratan bertemu. Garis pantai pada suatu negara bukan lagi menjadi perkara yang dapat diabaikan. Semakin berkembangnya teknologi penginderaan jauh dan berbagai kelebihan yang dimilikinya, mendorong berpaling ke teknik ini untuk berbagai studi, termasuk salah satunya untuk mendeteksi garis pantai. Metodologi inderaja dapat dilakukan dengan cepat dan dapat menjangkau daerah yang tidak dapat terjangkau oleh pengukuran secara terestris untuk mendeteksi garis pantai. Pada penelitian ini dilakukan penentuan garis pantai pada data citra satelit Landsat dan UAV kemudian dibandingkan efektivitas dari keduanya dilihat dari ketelitian horisontal dalam penyajian skala di peta.Penentuan garis pantai menggunakandata UAV dengan menggunakan software Agisoft PhotoScan sampai mendapatkan hasil orthophoto sedangkan untukdata citra satelit Landsat dilakukan dengan mengaplikasikan rumus BILKO untuk membedakan daratan dan lautan.  Penentuan garis pantai pada dua datayang sudah diolah tersebut dilakukan dengan cara mendigitasi pada batas daratan dengan lautan saat perekaman atau pemotretan data dilakukan. Garis pantai yang didapatkan dari hasil digitasi tersebut merupakan garis pantai muka laut sesaat.Hasil dari penelitian ini menunjukan langkah – langkah dalampenentuan garis pantai pada UAV menggunakan software Agisoft PhotoScan sampai mendapatkan hasil orthophotodan langkah – langkah dalam penentuan garis pantai pada citra Landsat dengan mengaplikasikan rumus BILKO. Hasil garis pantai yang sudah didapat dilakukan uji akurasi sesuai dengan PERKA BIG No 15 Tahun 2014  dengan hasil ketelitian horisontal padaUAV sebesar 0,032 meter yang memenuhi skala 1: 1.000 kelas satu dan untuk hasil ketelitian horisontal pada citra satelit Landsat sebesar 9,300 meter yang memenuhi skala 1 : 50.000 kelas satu untuk penyajian pada peta KataKunci:Algoritma BILKO, CitraLandsat, Garis Pantai, dan UAV. ABSTRACTCoastline is an imaginer line where the sea water and the land meet. Country’s coastline now is not a problem that could be ignored. Nowdays, remote sensing technology have been developing and got many benefits. One of them is determine the coastline. Remote sensing could be used quickly and easily to reach areas that not be able to be reached by terestris measure. In this research, coastline is determined by the Landsat imagery  and UAV then compare both efectivity from horizontal accuracy of scale presenment on map.Coastline determining with UAV uses Agisoft PhotoScan Sofware to get the orthophoto. Whereas, coastline determining with  Landsat imagery use the BILKO formula to show the difference of the land and the sea. The coastline determining using these datas is done by digitizating the boundary between the land and the sea while during the recorder and photography of the data. The result is temporary coastline.The goal of this research is showing the steps to determine the coastline by using UAV with Agisoft PhotoScan to get orthophoto and using Landsat imagery  with BILKO formula. After it, this researh do the accuracy test based on PERKA BIG No 15 Tahun 2014 and it generate the horizontal accuracy 0.032 meters with first class map scale 1:1,000  for UAV and horizontal accuracy 9.300 meters with first class map scale 1:50,000 for Landsat imagery  presentment on the map. Key Word :Bilko Algorithm, Coastline, Landsat Imagery, and UAV.
PEMBUATAN PETA NAVIGASI SARANA UMUM KOTA SEMARANG SEBAGAI DATA PETA PADA GPS GARMIN MAP Miftakhul ‘Ulya Rimadhani; Bambang - Sudarsono; Bandi - Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.001 KB)

Abstract

ABSTRAKSemarang merupakan kota dengan wilayah yang padat dan telah berkembang pesat. Kinerja pembangunan pemerintah Kota Semarang pada aspek pelayanan umum dengan menyediakan sarana umum seperti obyek wisata, perumahan, SPBU, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan. Padatnya Kota Semarang menimbulkan kemacetan sehingga mengganggu aktivitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan. Perkembangan ilmu pengetahuan mendorong pola pikir manusia untuk menciptakan suatu alat yang dapat digunakan untuk memudahkan manusia bekerja, sehingga terciptanya GPS (Global Positioning System) untuk memudahkan mengetahui tempat dimana mereka berada maupun mencari suatu tempat yang akan dituju. Oleh karena itu, agar GPS berfungsi dengan baik maka dilakukan pembuatan data peta GPS sebaik mungkin.Dalam penelitian ini, diperlukan data koordinat posisi hasil survei obyek sarana umum dengan GPS Handheld Garmin, data atribut obyek, dan peta jalan. Langkah yang dilakukan yaitu proses routing, pembentukan dan penggabungan menjadi file img dengan aplikasi maproute dan cgpsmapper. Kemudian dilakukan pemindahan file img ke dalam device Garmin dengan aplikasi sendmap atau mapsource.Hasil akhir penelitian ini berupa peta GPS dengan format file IMG (Image) Kota Semarang yang berisi informasi letak obyek sarana umum seperti obyek wisata, perumahan, SPBU, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan. Peta GPS ini dapat dipakai pada device Garmin dapat diupload pada website navigasi.net.Dengan demikian peta GPS dapat mempermudah  masyarakat untuk mencapai suatu tujuan yang ingin dikehendakinya dan pembuatan peta pada GPS dapat dilakukan sendiri.Kata Kunci : Peta GPS, GPS Garmin, sarana umum ABSTRACTSemarang is a city with a dense region and has been growing rapidly. Performance of Semarang city government building on aspects of public service by providing public facilities such as tourism, housing, gas stations, hospitals, and shopping malls. Dense Semarang cause congestion that disrupts the activity of the community in meeting the needs. Developments in science push the human mindset to create a tool that can be used to enable people to work, so the creation of GPS (Global Positioning System) to make it easier to know where they are and look for a place that will be addressed. Therefore, in order that the GPS works fine then do a GPS map data generation as possible.            In this study, the data required object position coordinates survey of public facilities with Garmin Handheld GPS, attribute data objects, and a road map. The step are taken that the routing process, the information an incorporation into the img file with maproute and cgpsmapper aplications. Then displacement img file into the Garmin devices with sendmap or mapsource applicationThe result of this research is a GPS map with IMG file format (Image) Semarang which contains information such as the location of the object of public facilities tourism, housing, gas stations, hospitals, and shopping malls. GPS maps can be used on a Garmin device can be uploaded on the website navigasi.net.            The GPS maps can be ease the public to achieve a goal that would like wills and creating maps on GPS can be done alone . Keywords:GPS Map, GPS Garmin, public facilities
VISUALISASI PETA SEBARAN KOS DI KELURAHAN TEMBALANG MENGGUNAKAN APLIKASI CARRYMAP (Studi Kasus: Kelurahan Tembalang, Kota Semarang) HARDIAN ASTIANINGRUM; Bambang Sudarsono; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.056 KB)

Abstract

Pendidikan tinggi adalah jejang pendidikan formal tingkat akhir. Universitas dan politeknik merupakan bentuk perguruan tinggi diantara berbagai jenis pedidikan tinggi. Di Kota Semarang terdapat Universitas Diponegoro dan Politeknik Negeri Semarang yang terletak di wilayah Kelurahan Tembalang, Kecamatan Tembalang. Banyaknya jumlah mahasiswa baru tiap tahunnya harus disertai dengan sarana yang mencukupi kebutuhan keseharian mahasiswa. Karena tidak sedikit dari mahasiswa ini yang merupakan warga pendatang, maka tempat tinggal hunian merupakan salah satu sarana yang penting. Kelurahan Tembalang yang merupakan wilayah lokasi kampus tersebut menjadikannya sebagai wilayah hunian kos yang strategis.Terdapat kendala tersendiri dalam mencari tempat kos yang aman dan sesuai dengan ketentuan yang diinginkan. Hunian kos selama ini dicari oleh mahasiswa dengan cara manual yaitu bertanya kepada beberapa orang di sekitar. Informasi yang kredibel mengenai gambaran lokasi hunian kos sangat dibutuhkan oleh para mahasiswa untuk merencanakan hunian kos yang akan ditinggali selama masa perkuliahan. Oleh karena akan dilakukan pembuatan peta sebaran kos menggunakan teknologi SIG yang menggunakan informasi dari pengolahan sejumlah data, yaitu data geografis atau data geospasial akan memudahkan para mahasiswa. Pada penelitian ini bertujuan untuk membuat sebuah aplikasi peta persebaran lokasi kos di Kelurahan Tembalang. Hasil aplikasi yang dibuat pada penelitian ini dapat dijalankan pada platform desktop pc dan smartphone. Terdapat 87 lokasi kos yang terbagi menjadi kelompok kos putra sebanyak 17 kos dan kos putri sebanyak 70 kos di 8 wilayah RW berbeda. Ketelitian posisi dari aplikasi adalah 3,5507 meter. Kriteria efisiensi dengan nilai 85,3 dan kriteria kepuasan dengan nilai 87,5 yang diperoleh dari hasil uji usability. Peta persebaran kos yang dapat diakses dengan smartphone ini diharapkan dapat mempermudah mahasiswa dalam memperoleh berbagai informasi hunian kos serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar wilayah Universitas Diponegoro dan Politeknik Negeri Semarang yang berada di Kelurahan Tembalang.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue