cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS PENGARUH KOREKSI ATMOSFER TERHADAP ESTIMASI KANDUNGAN KLOROFIL-A MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 Lilik Kristianingsih; Arwan Putra Wijaya; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.747 KB)

Abstract

ABSTRAK Atmosfer mampu mempengaruhi perjalanan gelombang elektromagnetik dari matahari ke objek dan dari objek ke sensor yang menyebabkan adanya perbedaan pada nilai reflektan citra. Reflektan terdapat dua macam, yaitu reflektan ToA (Top of Atmosphere) dan reflektan BoA (Bottom of Atmosphere). Reflektan ToA adalah reflektan yang tertangkap oleh sensor sedangkan reflektan BoA adalah reflektan pada objek yang telah terkoreksi atmosfer. Reflektan ToA dihasilkan dari proses kalibrasi radiometrik dan reflektan BoA dihasilkan dari proses koreksi atmosfer. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kedua reflektan tersebut guna mengetahui pengaruh penggunaan koreksi atmosfer dalam studi kasus klorofil-a. Perairan Kecamatan Wedung dipilih sebagai wilayah penelitian karena merupakan salah satu kecamatan terluas di Kabupaten Demak.Penelitian ini, menggunakan metode koreksi atmosfer DOS (Dark Object Substraction), FLAASH (Fast Line of sight Atmospheric Analysis of Spectral Hypercubes) dan 6SV (Second Simulation of a Satellite Signal in the Solar Spectrum). Membandingkan antara reflektan ToA dan BoA dalam perhitungan klorofil-a menggunakan algoritma Wouthuyzen, Wibowo, Pentury serta Much Jisin dan Lestari Laksmi.Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penggunaan citra reflektan BoA (terkoreksi atmosfer) memiliki hasil model yang lebih baik dari citra reflektan ToA. Hal ini diketahui dari nilai koefisien determinasi berturut-turut untuk reflektan ToA yaitu 0,2292; 0,4562; 0, 2292 dan 0,2252, reflektan BoA metode koreksi atmosfer DOS berturut-turut yaitu 0,5251; 0,5575; 0,5251 dan 0,6939, reflektan BoA metode koreksi atmosfer FLAASH berturut-turut yaitu 0,6168; 0,5041; 0,6168 dan 0,614 serta reflektan BoA metode koreksi atmosfer 6SV berturut-turut yaitu 0,6436; 0,4033; 0,6436 dan 0,6365. Hasil uji hipotesis dan validasi menunjukkan bahwa koreksi atmosfer berpengaruh signifikan terhadap perhitungan klorofil-a di perairan Kecamatan Wedung kecuali pada algoritma Wibowo. Kata Kunci : Algoritma Klorofil-a, Koefisien Determinasi, Koreksi Atmosfer, Reflektan ABSTRACTAtmosphere can influence the passage of the electromagnetical wave from the sun to the object and from the object to the sensor that makes the difference on the image reflectance. There are two kinds of reflectance; which are ToA (Top of Atmosphere) reflectance and BoA (Bottom of Atmosphere) reflectance. ToA reflectance is the reflectance captured by the sensor. BoA reflectance is the reflectance of the object corrected by the atmosphere. ToA reflectance is produced by radiometrical calibration while BoA reflectance is made of atmospheric correction process. This research studies aims to compare those to reflectances to investigate the impact of atmospheric correction usage on chlorophyll-a case study. The waters of Wedung district is chosen as the research field because it is the largest area in Demak regency.This study used DOS (Dark Object Substraction), FLAASH (Fast Line of sight Atmospheric Analysis of Spectral Hypercubes), and 6SV (Second Simullation of a Satellite Signal in the Solar Spectrum) correction method. To compare between ToA and BoA reflectance in the calculation of chlorophyll-a, the writer used the algorithms of Wouthuyzen, Wibowo, Pentury, Much Jisin and also Lestari Laksmi.The result shown is that the usage of BoA image reflectance (atmospherically corrected) had a better model result than ToA image reflectance. This is indicated from the consecutive determination coefficient values of ToA reflectance which are 0,2292; 0,4562; 0,2292; 0,2252. Meanwhile the consecutive coefficient values of BoA reflectance by DOS correction method are 0,5251; 0,5575; 0,5251 and 0,6939; FLAASH correction method are 0,6168, 0,5041, 0,6168 and 0,614; 6SV method are 0,6436; 0,4033; 0,6436 and 0,6365. The result of hypothesis and validation test is that atmospheric correction significantly influences on the calculation of chlorophyll-a in Wedung district except using Wibowo algorithm.Keywords: Atmospheric Correction, Chlorophyll-a Algorithm, Determination Coefficient, Reflectance *) Penuli, PenanggungJawab   
ANALISIS DEFORESTASI HUTAN DI PROVINSI JAMBI MENGGUNAKAN METODE PENGINDERAAN JAUH ( Studi Kasus Kabupaten Muaro Jambi ) Cindy Puspita Sari; Sawitri Subiyanto; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.896 KB)

Abstract

AbstrakProvinsi Jambi merupakan salah satu provinsi di pulau Sumatera yang memiliki wilayah hutan yang cukup luas dan dijadikan sebagai penyumbang oksigen di permukaan bumi. Namun banyaknya penebangan liar, kebakaran hutan, dan perluasan wilayah perkebunan maupun pemukiman menyebabkan terjadinya penurunan luas kawasan hutan atau yang disebut dengan deforestasi.Deforestasi yang ada di Provinsi Jambi  paling parah terjadi di Kabupaten Muaro Jambi. Di Kabupaten ini terdapat kawasan hutan Produksi dan kawasanj hutan lindung yang juga mengalami deforestasi bertahap setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan wilayah hutan dan membuat pemerintah daerah mengeluarkan moratorium untuk melindungi kawasan hutan yang masih utuh. Oleh sebab itu dibutuhkan informasi penurunan hutan pada setiap tahunnya.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perubahan lahan dan penurunan kawasan hutan yang ada di Kabupaten Muaro Jambi. Metode yang digunakan adalah interpretasi citra menggunakan Software Arcgis 9.3 dan untuk mengetahui vegetasi yang ada digunakan metode NDVI dengan menggunakan software Er-Mapper 7.0.Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah deforestasi yang terjadi di kabupaten Muaro Jambi dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2013 adalah sebesar 9.6% atau sebesar 14.218,615 Ha dan terjadi di kecamatan Jambi Luar Kota, Bahar Selatan, Kumpeh, Kumpeh Ulu, Muaro Sebo, Taman Barjo, dan Sekernan. Kata kunci: Deforestasi, Wilayah Hutan, Ndvi, dan Interpretasi Citra AbstractJambi province is a province on Sumatra island that has a fairly extensive forest area and contributory as oxygen in the Earth's surface. But the number of illegal logging, forest fires and the expansion of plantation areas and settlements led to the decline of forest area or called with deforestationDeforestation in Jambi province's most severe case in Muaro Jambi Regency. In the County there are Production forest area and the kawasanj protected forest which also experienced a gradual deforestation every year. This led to the occurrence of change of forest area and make local governments issued a moratorium to protect forested areas that are still intact. Therefore, it needs information on forest loss every yearThe results obtained from the research is the deforestation that occurs in Muaro Jambi Regency from 2005 to 2013 is equal to 9.6% or  14.218,615 Ha and happened  in district outside the city of Jambi, South Bahar, Kumpeh, Kumpeh Ulu, Muaro Sebo, Taman Barjo and Sekernan.This research was conducted to find out the changes of land use and a decrease in forest area in Muaro Jambi Regency. The method used is the interpretation of the image using the Arcgis 9.3 Software and to know there are used methods of vegetation NDVI using Er-Mapper software 7.0.*) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS PERUBAHAN ZONA NILAI TANAH TAHUN 2012 – 2017 AKIBAT BENCANA BANJIR ROB DI KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK Ajeng Dyah Setyowati Sri Utomo; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.676 KB)

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Sayung memiliki luas wilayah seluas 78,80 km², terbagi menjadi 20 desa. Kecamatan Sayung memiliki berbagai bentuk penggunaan lahan, dari banyaknya penggunaan lahan penting mulai dari pemukiman, industri, jalan dan fasilitas umum lainya (BAPPEDA Kabupaten Demak, 2007). Letak Kecamatan Sayung berada di pesisir Pulau Jawa yang memungkinkan terjadinya bencana banjir pasang atau banjir rob yang diakibatkan karena turunnya permukaan tanah yang berada di pesisir laut serta naiknya air laut atau pasang yang terjadi. Banjir pasang atau banjir rob menyebabkan menurunnya fungsi penggunaan lahan lahan akibat tergenangnya tanah dan menimbulkan berbagai masalah di wilayah tersebut. Menurunnya fungsi penggunaan lahan tidak akan lepas dari perubahan nilai tanah yang terjadi di Kecamatan Sayung.Penelitian dilakukan untuk mengetahui perubahan nilai tanah yang terjadi dari tahun 2012 - 2017 serta pengaruh banjir pasang atau banjir rob terhadap perubahan nilai tanah. Analisis dilakukan dengan melakukan pembuatan zona nilai tanah tahun 2017 dengan menggunakan zonasi awal dari BPN Kabupaten Demak dan melakukan overlay dengan peta zona nilai tanah tahun 2012 untuk dilakukan analisis perubahan nilai tanah. Selanjutnya peta perubahan nilai tanah di overlay dengan peta banjir rob untuk mengetahui pengaruh rob terhadap perubahan nilai tanah.Hasil penelitian menunjukkan terdapat 67 zona nilai tanah berdasarkan survei transaksi harga tanah dan 9 zona nilai tanah yang terdampak banjir rob di Kecamatan Sayung tahun 2017. Pada tahun 2012 terdapat 20 zona nilai tanah di Kecamatan Sayung. Dari analisis perubahan nilai tanah tahun 2017 dan tahun 2012, perubahan nilai tanah tertinggi terletak pada zona 48 sebesar 2468% terletak di Desa Sayung, Desa Loireng dan Desa Tambakroto ,perubahan nilai tanah terendah terjadi pada zona 10 sebesar 85% terletak di Desa Gemulak. Sedangkan perubahan zona nilai tanah kaitannya dengan banjir rob, perubahan nilai tanah tertinggi terdapat pada zona 34 dengan mengalami penurunan sebesar 80 % yang terletak di Desa Sriwulan, Desa Purwosari dan Desa Bedono.
ANALISIS PENGARUH BUDIDAYA KERAMBA JARING APUNG (KJA) DAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DI PERAIRAN WADUK JATILUHUR MENGGUNAKAN METODE PENGINDERAAN JAUH Nugra Putra Pembayun; Sawitri Subiyanto; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKWaduk Jatiluhur sebagai sumber baku air minum untuk daerah Jawa Barat dan DKI Jakarta dikhawatirkan telah mengalami penurunan kualitas air. Perubahan tutupan lahan sekitar area waduk Jatiluhur serta peningkatan jumlah budidaya keramba jaring apung di indikasi menjadi penyebab penurunan kualitas air di waduk Jatiluhur Kabupaten Purwakarta. Salah satu parameter fisik kualitas air adalah Total Suspended Solid, sementara itu peningkatan TSS mengindikasikan penurunan kualitas air. Banyak metode untuk melakukan studi mengenai kualitas fisik air, salah satunya dengan menggunakan kombinasi metode perhitungan algoritma TSS pada citra satelit.Pada penelitian ini analisis menggunakan citra satelit Landsat 5 dan 8 secara multitemporal pada tahun 2000, 2004, 2007, 2013 dan 2015. Untuk melakukan pendugaan TSS di waduk Jatiluhur menggunakan algoritma TSS dari Syarif Budhiman, Parwati serta Woerd dan Pasterkamp yang kemudian dibandingkan dengan uji regresi sederhana dengan kadar TSS di lapangan. Untuk analisis klasifikasi tutupan lahan dan identifikasi Keramba Jaring Apung (KJA) menggunakan metode klasifikasi terbimbing secara multitemporal. Klasifikasi tutupan lahan terbagi menjadi 6 kelas yaitu perairan, pemukiman, vegetasi, hutan, sawah dan lahan kosong.Hasil uji algoritma menghasilkan algoritma TSS dari Syarif Budhiman menghasilkan TSS penduga dengan nilai error yang paling kecil dengan nilai koefisien regresi sebesar 81% dan RMSe sebesar 3.31 mg/l dari data validasi lapangan. Pemodelan TSS pada citra landsat secara multitemporal menghasilkan kadar TSS pada kurun waktu tahun 2000-2015 meningkat. Hasil analisis pengaruh perubahan tutupan lahan dan kegiatan keramba jaring apung terhadap kadar TSS dengan regresi linier berganda menunjukan indikasi kuat pengaruh perubahan tutupan lahan dan KJA terhadap kenaikan TSS dengan koefisien determinasi 98% dan persentase faktor pengaruh perubahan pemukiman sebesar 70%, KJA 14%, vegetasi 11%, dan sawah 3% terhadap kadar TSS waduk.Kata kunci: KJA, Klasifikasi Terbimbing, Total Suspended Solid, Tutupan Lahan, WadukABSTRACTJatiluhur reservoir as the main source of drinking water for West Java and Jakarta region is feared to have a water quality degradation. The changes of land cover area around, as well as the increasing number of fish cages are indicated as the causes of water quality degradation in Jatiluhur Reservoir. One of the physical parameters of water quality is Total Suspended Solid (TSS), while the increasing number of TSS indicates the water quality degradation. There  are some methods to analyse the physical quality of water, one of them is using TSS algorithms calculation.Analysis in this study used Landsat 5 and 8 satellite imagery multitemporal in 2000,2004,2007,2013 and 2015. The determination of TSS in Jatiluhur used TSS algorithms of Syarif Budiman, Parwati, Woerd and Parterkamp which were then compared by simple regression test with TSS levels insitu. Analysis for the land cover classification and fish cages identification used supervised classification method multitemporal. The land cover  classification was divided into six classes, namely water, settlement, vegetation, forest, rice field, and bare land.The algorithm test of Syarif Budiman resulted TSS estimator with smallest error value  which contained 81% regression coeficient and 3,31 mg/l RMSe from the field validation data. The TSS modelling of landsat image multitemporal showed the increasing of TSS level in 2000 to 2015. Analysis result of the effect of land cover area and floating fish cages activities change on TSS level with multiple linear regression showed a strong indication on the increasing number of TSS level with 98% determitation coeficient and presentation of the effect of changing in settlement area was 70%, KJA was 14%, vegetation area was 11% and rice field was 3% to TSS level in Jatiluhur Reservoir.Keywords: Land use, Net Fish Cages, Reservoir, Supervised Classification, Total Suspended Solid *) Penulis, penanggungjawab
PENENTUAN POSISI DAN PERGESERAN STASIUN CORS UNDIP BERDASARKAN PENGAMATAN CORS TERIKAT IGS PADA TAHUN 2015, 2016 DAN 2017 Mohamad Rizki Ramadhan; Bambang Darmo Yuwono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.982 KB)

Abstract

Penentuan posisi dengan menggunakan CORS (Continuously Operating Reference Station) mulai banyak dimanfaatkan khususnya di Indonesia. Stasiun CORS merupakan stasiun GNSS yang aktif secara kontinu dan pada realisasinya dapat dimanfaatkan secara skala global maupun regional untuk kegiatan survei dan pemetaan, studi geodinamika serta deformasi, dll. Karena sifatnya yang kontinu, diperlukan perhitungan koordinat absolut secara berkala untuk stasiun CORS. Hal ini tidak lepas dari adanya fenomena geodinamika seperti pergerakan lempeng kerak bumi, deformasi, dll. Pada penelitian ini, dilakukan perhitungan koordinat definitif CORS UNDIP pada tahun 2015 hingga 2017 dengan menggunakan 12 titik ikat IGS (ALIC, BAKO, CNMR, COCO, GUAM, HYDE, LHAZ, PIMO, STR1, VACS, XMIS, dan YARR), penentuan kecepatan posisi, serta mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan terhadap variasi jumlah DOY (Day of Year) pengamatan yang digunakan terhadap koordinat hasil perhitungan. Hasil dari penelitian ini adalah koordinat stasiun CORS UNDIP dengan ketelitian terbaik dengan nilai koordinat kartesian komponen X = -2210748.6604 m ± 0.96 mm, Y = 5931893.1964 ± 2.15 mm, dan Z = -777746.1083 ± 0.59 mm. Kemudian kecepatan posisi stasiun CORS UNDIP dengan nilai pergeseran tahun 2015 ke 2016 dengan nilai Vn -0.00115 m/tahun ± 2.45 mm, Ve 0.02975 m/tahun ± 3.21 mm, dan Vu -0.0063 m/tahun ± 12.03 mm; tahun 2016 ke 2017 dengan nilai Vn 0.01121 m/tahun ± 2.65 mm, Ve 0.04084 m/tahun ± 3.27 mm, dan Vu -0.01219 m/tahun ± 12.56 mm; tahun 2015 ke 2017 dengan nilai Vn 0.00248 m/tahun ± 0.56 mm, Ve 0.03407 m/tahun ± 0.75 mm, dan Vu 0.00072 m/tahun ± 2.71 mm, serta hasil Uji Fisher bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap variasi DOY yang digunakan dengan hasil perhitungan koordinat.
ANALISA SPASIAL DINAMIKA MORFOMETRI WADUK MENGGUNAKAN DATA SATELIT MULTI TEMPORAL DI WADUK RAWA PENING PROVINSI JAWA TENGAH Adiasti Rizqi Hardini; Muhammad Helmi; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.478 KB)

Abstract

Waduk Rawa Pening berada di antara jalan negara Semarang – Salatiga - Surakarta dan jalan Kabupaten antara Salatiga – Ambarawa yang terletak diantara jalan negara Semarang – Magelang – Yogyakarta, 32 km ke arah selatan dari kota Semarang dan 10 km ke arah utara dari kota Salatiga. Waduk Rawa Pening mempunyai peranan yang cukup penting sebagai pembangkit listrik tenaga air, bertani eceng gondok dan beternak ikan. Pertumbuhan eceng gondok yang semakin meningkat dari tahun ke tahun mengakibatkan perubahan morfometri waduk dan perubahan tutupan lahan disekitar Waduk Rawa Pening. Penelitian ini menggunakan Peta Topografi skala 1:50.000 lembar Ambarawa no helai 47/XL-D, data citra satelit landsat TM 5 tahun 1990, landsat 7 ETM+ tahun 2000, ALOS AVNIR-2 tahun 2009 dan dilakukan dengan metode penginderaan jauh yaitu interpretasi manual untuk memperoleh peta tutupan lahan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji dinamika morfometri Waduk Rawa Pening Provinsi Jawa Tengah dalam periode ±10 tahun dimulai dari tahun 1982 sampai dengan tahun 2009 dan mengkaji dinamika perubahan pola tutupan lahan di area sekitar Waduk Rawa Pening Provinsi Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukan bahwa tahun 1982-1990 perubahan luas waduk sebesar 1051,85 Ha dan pola perubahn tutupan lahan yang terjadi yaitu perubahan sawah irigasi menjadi sawah dan permukiman menjadi air, pada tahun 1990-2000 perubahan luas waduk sebesar 305,24 Ha dan pola perubahan tutupan lahan yang terjadi yaitu perubahan air waduk menjadi sawah irigasi.serta tahun 2000-2009 perubahan luas waduk sebesar 392,97 Ha dan pola perubahan tutupan lahan yang terjadi yaitu perubahan air waduk menjadi sawah irigasi.
PEMBUATAN PETA WISATA DIGITAL 3 DIMENSI OBYEK WISATA BROWN CANYON SECARA INTERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN WAHANA UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) Kemala Medika Putri; Sawitri Subiyanto; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.01 KB)

Abstract

ABSTRAK Peta merupakan sesuatu yang penting bagi perkembangan pariwisata. Dengan adanya peta, para wisatawan akan mudah untuk mengunjungi objek wisata. Proyek bekas galian tambang pasir yang yang terletak di Desa Rowosari, Tembalang menjadi terkenal karena kesamaan penampakannya dengan Grand Canyon Arizona, United States. Kehadiran peta wisata digital 3 dimensi yang dilengkapi dengan informasi spasial dari objek sangat penting untuk membantu wisatawan ke tempat tersebut dengan mudah. Salah satu metode pemetaan yang dapat digunakan yaitu fotogrametri menggunakan UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Penulis menggunakan DJI Phantom 3 Professional dalam penggambilan foto udara dan menggolah data foto udara menggunakan Agisoft Photoscan dan Drone Deploy. GPS handheld juga digunakan untuk mengambil informasi data spasial yang berupa point of interest di lapangan. Metode ini sangat efektif dalam akuisisi data dan juga efisien dari segi waktu dan biaya operasional. Pada akhir penelitian ini, hasil pengukuran dan pembuatan peta digital 3 dimensi akan diinputkan pada web GIS Brown Canyon dan beberapa atribut informasi tentang lokasi tersebut. Kata Kunci : Aerial photography, Geographic Information System, Photogrammetry, UAV  ABSTRACT Maps are essential in supporting tourism. It facilitates tourists to get to the tourist objects without difficulty. One of the arising tourist objects in Semarang that attracts many people is Brown Canyon. The old abandoned sand mine project located in Worosari, Tembalang got its popular name for its similar landscape as the Arizona Grand Canyon in the United States. Therefore, it is necessary to make an interactive three-dimensional map complete with the spatial information of the object to help people getting there effortlessly. One of the mapping methods that can be used is Photogrammetry with UAV (Unmanned Aerial Vehicle). This method is effective in data acquisition as well as efficient in terms of time and operational cost. Subsequently, a handheld GPS is utilized to include the necessary spatial information at several points of interest on site. Certainly, effectiveness and efficiency of the Photogrammetry method are not the only two concerns. Output quality must also be taken into consideration. In the end of the research, measuring results will be put into a GIS web (Geographic Information System) on the map area of Brown Canyon and some feature information about the location. Keywords: Aerial photography, Geographic Information System, Photogrammetry, UAV
ANALISIS PENGARUH POLA PERUBAHAN LAHAN AKIBAT PERPINDAHAN PUSAT PEMERINTAHAN TERHADAP ZONA NILAI TANAH DI KECAMATAN MOJOSONGO KABUPATEN BOYOLALI (Studi Kasus : Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali) Rudi Cahyono Putro; Bambang Sudarsono; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1029.132 KB)

Abstract

ABSTRAKBoyolali merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki pusat pemerintahan yang terletak di Kecamatan Boyolali. Namun, pada tahun 2010 sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Bupati Boyolali, Pusat Pemerintahan yang semula berada di Kecamatan Boyolali, dipindahkan ke Kecamatan Mojosongo. Pengaruh dari perpindahan tersebut adalah meningkatnya aktifitas masyarakat sehingga terjadi perubahan penggunaan lahan. Dan akibat perubahan penggunaan lahan tersebut adalah perubahan nilai/harga tanah di Kecamatan Mojosongo, sehingga diperlukan penelitian mengenai perubahan penggunaan lahan untuk melakukan analisis perubahan nilai tanah.Penelitian ini menggunakan Peta Tata Guna Lahan Kabupaten Boyolali tahun 2010 dan Peta Zona Nilai Tanah tahun 2008 dan 2013. Sebelumnya terlebih dahulu dilakukan pembuatan Peta Zona Nilai Tanah dengan menggunakan Peta Zona Awal data hasil transaksi dan penawaran survei lapangan. Langkah selanjutnya peta diolah dengan software ArcGIS versi BPN sehingga diperoleh Peta ZNT tahun 2008 dan 2013. Peta tersebut Kemudian dioverlay sehingga diperoleh perubahan nilai tanah untuk tahun 2007 dan 2013 . Pada tahap akhir dilakukan analisis perubahan lahan yang terjadi antara tahun  2008 dan 2013.Dalam penelitian ini, hasil yang diperoleh adalah terdapat 81 zona di Kecamatan Mojosongo, dimana perubahan lahan paling signifikan terjadi pada Zona 41 dari tegalan/pertanian menjadi bangunan .  Zona 41 adalah lokasi pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Boyolali yang baru. Kenaikan nilai terbesar pada Zona 41 sebesar Rp. 981.000,- yaitu perubahan tanah pertanian/tegalan menjadi Komplek Perkantoran di Kelurahan Kemiri. Sedangkan kenaikan terkecil pada zona 73, zona 76 dan zona 81 yang merupakan kawasan pemukiman yang terletak di Kelurahan Dlingo.Kata Kunci : Zona Nilai Tanah, Perubahan Lahan ABSTRACTBoyolali is one district in Central Java province which has a central government located in Boyolali. However, in 2010 according to the Medium Term Development Plan (RPJM) of Boyolali, Central Government which was originally located in Boyolali, was relocated to the Mojosongo sub district. The influence of the displacement is increasing activity of the society resulting in a change of land use. And impact of land use changes is changing the value / price of the land in the Mojosongo sub district, so that the necessary research on land use change to analyze changes in the value of land.This study uses the Land Use Maps of Boyolali in 2010 and the Land Value Zone Map in 2008 and first performed 2013. The next step map was processed by the ArcGIS software, BPN version, to obtain a ZNT Map of 2008 and 2013 that then be overlaid Map ZNT 2008 and 2013 in order to obtain changes in the value of land acquired for 2007 and 2013. At the final stage, analysis of land use change that occurred between 2008 and 2013.In this study, the results obtained that there are 81 zone in the district of Mojosongo, where the most significant land use changes occurred in Zone 41 of the moor / agriculture into buildings. Zone 41 is the removal of the central location of the new government of Boyolali. The increase of the largest value in Zone 41 is Rp. 981 000, - which is the change of agricultural land / moor into the Office Complex in Kemiri village. While the smallest increase is in zone 73, zone 76 and zone 81 which is a residential area located in the Dlingo village.Keywords : change of lands , land value
PEMANFAATAN TERRESTRIAL LASER SCANNER METODE CLOUD TO CLOUD UNTUK EARTHMOVING TAMBANG (Studi Kasus : PT. Pamapersada Nusantara Distrik PT. Trubaindo Coal Mining) Aulia Rizky; Bambang Sudarsono; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1028.262 KB)

Abstract

ABSTRAKPerhitungan earthmoving tambang merupakan suatu kegiatan survei yang dilakukan di area penambangan untuk menghitung volume pemindahan tanah. Perhitungan earthmoving tambang harus dilakukan dengan cepat, akurat dan detail. Kebutuhan akan hal tersebut bisa diperoleh dengan menggunakan teknologi laser scanner. Kegiatan aplikatif ini untuk menghitung volume earthmoving tambang dan melakukan kajian pada tahapan akuisisi data, pengolahan dan hasil volumetriknya.Akuisisi data lapangan dilakukan pada April 2017 dan Mei 2017 menggunakan metode cloud to cloud. Perangkat lunak yang digunakan dalam registrasi data dan pengolahan point clouds ialah RiScan Pro yang merupakan perangkat lunak operasional alat TLS Riegl VZ 1000. Objek dari kegiatan aplikatif ini adalah area penambangan PT Pamapersada Nusantara distrik PT Trubaindo Coal Mining. Titik kontrol didapatkan dari pengukuran menggunakan GPS geodetik yang akan digunakan sebagai referensi titik berdiri alat TLS. Untuk perhitungan volume dilakukan dengan metode cut and fill terhadap DTM dari point clouds yang terbentuk. Hasil hitungan volume earthmoving dari software RiScan Pro dan AutoCad Civil 2015 dilakukan uji perbandingan dengan membandingkan volume earthmoving hasil hitungan ritasi alat angkut (truck count). Data truck count diasumsikan sebagai data yang benar.Rata-rata selisih perhitungan dengan RiScan Pro yaitu sebesar ± 2,25% dan dengan Autocad Civil yaitu sebesar ± 2,17%. Toleransi selisih yang disyaratkan untuk pengukuran berdasarkan dokumen ASTM adalah 2,78%, sehingga pengukuran TLS yang dilakukan masuk toleransi yang telah ditetapkan.
ANALISIS PERUBAHAN LUAS LAHAN SAWAH DI KABUPATEN KENDAL MENGGUNAKAN CITRA RESOLUSI TINGGI ( Studi Kasus: Kec. Kaliwungu, Kec. Brangsong, dan Kec. Kota Kendal ) Rista Omega Septiofani; Sawitri Subiyanto; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.516 KB)

Abstract

ABSTRAKMenipisnya tanah pertanian akibat konversi (alih fungsi) lahan merupakan salah satu faktor penyebab keterpurukan sektor pertanian di Indonesia. Penyempitan lahan persawahan tidak hanya berdampak pada penurunan produksi padi tapi juga pada penghasilan masyarakat Indonesia yang bermata pencaharian sebagai petani. Kabupaten Kendal merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang menjadi sentra penghasil padi dan memiliki luas lahan sawah yang cukup luas, namun adanya konversi perubahan lahan sawah yang terjadi di Kabupaten ini sangat tinggi. Akibatnya, lahan sawah yang terdapat dikawasan tersebut contohnya Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Brangsong, dan Kecamatan Kota Kendal mengalami konversi atau perubahan penggunaan lahan.Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis dengan cara digitasi on screen. Citra yang digunakan adalah Citra Quickbird tahun 2010 dan Citra WorldView-2 tahun 2014. Setelah melakukan proses digitasi kemudian didapatkan luasan daerah yang terkonversi, lalu dianalisis menggunakan metode analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola persebaran lahan sawah dan pola daerah klasifikasi penggunaan lahan lainnya. Analisis sosial ekonomi digunakan untuk mengetahui dampak konversi lahan terhadap para petani.Berdasarkan pengolahan data dan hasil analisis didapatkan perubahan luas lahan sawah di Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Brangsong dan Kecamatan Kota Kendal pada tahun 2010 sampai tahun 2014 sebesar 54,753 Ha. Pola persebaran luasan sawah tiap kecamatan pada tahun 2010 dan tahun 2014 adalah acak, sedangkan pola perubahan luas pada tiap kecamatan adalah mengelompok. Dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan dengan adanya konversi lahan sawah adalah semakin berkurangnya lahan sawah berpengaruh negatif terhadap nilai pendapatan petani, dimana usaha berproduksi padi di sawah tidak memberikan masukan yang mencukupi bagi kehidupan sehari hari petani, sehingga hal tersebut mendorong petani unuk menjual lahan sawahnya untuk beralih ke usaha lain.Kata Kunci : Sawah, Perubahan Lahan, Citra Quickbird, Citra WorldView-2ABSTRACTThe depletion of landagriculture due to the land conversion is one of the factors causing the deterioration of agricultural sector in Indonesia.The constriction of paddy fields is not only affected onthe decrease of rice production but also the income of Indonesian people who are farmers.Kendal is one of regencies in Central Java being rice production centers and has a quite spacious paddy field, but the conversion of paddy field in this county is really high. It might caused by several factors, including the increase of population and construction activities.As a result, for instance the paddy field which located in the area of the District Kaliwungu, District Brangsong and District Kendal get conversion or change of land use.The method that used in this research is the technique of remote sensing and geographic information system by digitize on screen. The image used is QuickBird Satellite Images 2010 and the WorldView-2 Satellite Images in 2014.After doing digitization process then obtained the extents of converted area, afterward analyzed using the nearest neighbor analysis method to determine the distribution pattern of paddy field and other patternof land use classification area. Socio-economic analysis is used to find out the impact of land conversion against the farmers.Based on the result of analyzing and data processing, it has been found a change of paddy field area in District Kaliwungu, District Brangsong and District Kendal in 2010 untill 2014 amounted 54,753 Ha.The pattern distribution of paddy field each district in 2010 and 2014 are random, while the the pattern of changing area in each district is clustered. Social economic impacts posed by the existence of conversion of paddy fields was reduced the negative effect wetland of farmer income, where rice production in rice's efforts do not provide sufficient input for life day farmers, so it encourages farmers to sell land it to move on to other business.  Keywords: Field, Change of Land, QuickBird Satellite Images, WorldView-2 Satellite Images *) Penulis, PenanggungjawabABSTRAKMenipisnya tanah pertanian akibat konversi (alih fungsi) lahan merupakan salah satu faktor penyebab keterpurukan sektor pertanian di Indonesia. Penyempitan lahan persawahan tidak hanya berdampak pada penurunan produksi padi tapi juga pada penghasilan masyarakat Indonesia yang bermata pencaharian sebagai petani. Kabupaten Kendal merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang menjadi sentra penghasil padi dan memiliki luas lahan sawah yang cukup luas, namun adanya konversi perubahan lahan sawah yang terjadi di Kabupaten ini sangat tinggi. Akibatnya, lahan sawah yang terdapat dikawasan tersebut contohnya Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Brangsong, dan Kecamatan Kota Kendal mengalami konversi atau perubahan penggunaan lahan.Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis dengan cara digitasi on screen. Citra yang digunakan adalah Citra Quickbird tahun 2010 dan Citra WorldView-2 tahun 2014. Setelah melakukan proses digitasi kemudian didapatkan luasan daerah yang terkonversi, lalu dianalisis menggunakan metode analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola persebaran lahan sawah dan pola daerah klasifikasi penggunaan lahan lainnya. Analisis sosial ekonomi digunakan untuk mengetahui dampak konversi lahan terhadap para petani.Berdasarkan pengolahan data dan hasil analisis didapatkan perubahan luas lahan sawah di Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Brangsong dan Kecamatan Kota Kendal pada tahun 2010 sampai tahun 2014 sebesar 54,753 Ha. Pola persebaran luasan sawah tiap kecamatan pada tahun 2010 dan tahun 2014 adalah acak, sedangkan pola perubahan luas pada tiap kecamatan adalah mengelompok. Dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan dengan adanya konversi lahan sawah adalah semakin berkurangnya lahan sawah berpengaruh negatif terhadap nilai pendapatan petani, dimana usaha berproduksi padi di sawah tidak memberikan masukan yang mencukupi bagi kehidupan sehari hari petani, sehingga hal tersebut mendorong petani unuk menjual lahan sawahnya untuk beralih ke usaha lain.Kata Kunci : Sawah, Perubahan Lahan, Citra Quickbird, Citra WorldView-2ABSTRACTThe depletion of landagriculture due to the land conversion is one of the factors causing the deterioration of agricultural sector in Indonesia.The constriction of paddy fields is not only affected onthe decrease of rice production but also the income of Indonesian people who are farmers.Kendal is one of regencies in Central Java being rice production centers and has a quite spacious paddy field, but the conversion of paddy field in this county is really high. It might caused by several factors, including the increase of population and construction activities.As a result, for instance the paddy field which located in the area of the District Kaliwungu, District Brangsong and District Kendal get conversion or change of land use.The method that used in this research is the technique of remote sensing and geographic information system by digitize on screen. The image used is QuickBird Satellite Images 2010 and the WorldView-2 Satellite Images in 2014.After doing digitization process then obtained the extents of converted area, afterward analyzed using the nearest neighbor analysis method to determine the distribution pattern of paddy field and other patternof land use classification area. Socio-economic analysis is used to find out the impact of land conversion against the farmers.Based on the result of analyzing and data processing, it has been found a change of paddy field area in District Kaliwungu, District Brangsong and District Kendal in 2010 untill 2014 amounted 54,753 Ha.The pattern distribution of paddy field each district in 2010 and 2014 are random, while the the pattern of changing area in each district is clustered. Social economic impacts posed by the existence of conversion of paddy fields was reduced the negative effect wetland of farmer income, where rice production in rice's efforts do not provide sufficient input for life day farmers, so it encourages farmers to sell land it to move on to other business.*) Penulis, Penanggungjawab Keywords: Field, Change of 

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue