cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS SPASIAL ALIRAN LAHAR MENGGUNAKAN HEC-HMS DAN HEC-RAS PADA KALI GENDOL-OPAK KAWASAN GUNUNG MERAPI Ulinnuha, Ilham; Prasetyo, Yudo; Sabri, LM
Jurnal Geodesi Undip Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.961 KB)

Abstract

ABSTRAKGunung Merapi merupakan salah satu gunung api yang masih aktif sampai saat ini. Erupsi Gunung Merapi dapat mengeluarkan sejumlah material vulkanik yang dapat mengendap di hulu sungai sebagai lahar. Pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berhulu di Gunung Merapi apabila terjadi turun hujan dengan intensitas tinggi dan dalam durasi waktu yang lama, lahar tersebut akan mengalir mengikuti kelerengan permukaan dan dapat mengakibatkan suatu bencana. Salah satu sungai yang memiliki endapan  material vulkanik yang tinggi adalah Kali Gendol-Opak, kemudian disebut sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS) Gendol-Opak. Software HEC-HMS dalam penelitian ini digunakan untuk menghitung debit banjir rencana. Parameter untuk menentukan debit banjir rencana antara lain data curah hujan, nilai CN (Curve Number) dan Impervious dihitung dari jenis tanah, penggunaan lahan dan luas sub-DAS. Penggunaan lahan dibuat dari klasifikasi tutupan lahan menggunakan metode klasifikasi supervised. Luasan sub-DAS dideliniasi pada ArcMap menggunakan analisis watershed. Debit aliran lahar dihitung dari penambahan koefisien C* pada debit banjir rencana. Pada pemodelan aliran lahar menggunakan software HEC-RAS, parameter yang digunakan antara lain koefisien Manning, geometri data, debit aliran lahar dan terrain. Data untuk Terrain menggunakan data elevasi dari DEMNAS. Setelah pemodelan berhasil didapatkan, aliran lahar diidentifikasi luapannya dari buffer sempadan sungai. Penelitian ini memperoleh simulasi aliran lahar yang memiliki luas dampak sebesar 724,553 ha (8,97%) pada 10 desa di Kabupaten Sleman antara lain Desa Argomulyo, Bimomartani, Glagaharjo, Hargobinangun, Kepuharjo, Selomartani, Sindumartani, Tamanmartani, Umbulharjo dan Wukirsari. Desa Argomulyo menjadi desa yang terdampak aliran lahar paling luas dengan luas 206,335 ha (28,48%). Sebanyak 593,117 ha (81,86%) aliran lahar masuk pada zona sempadan sungai. Berdasarkan hal tersebut, untuk mengurangi kerugian bencana maka pemerintah dapat mengedukasi warga agar tidak melakukan aktivitas di zona tersebut.Kata Kunci: DAS, HEC-HMS, HEC-RAS, Lahar ABSTRACTMerapi Volcano is one of the active volcanoes. Eruption of the Merapi Volcano can release a number of volcanic material which can settle upriver as lahar. In watersheds that are tipped at Merapi Volcano, if there is rain with high intensity and for a long duration, the lahar will flow based on the slope of the surface and can result in a disaster. One river that has high volcanic material deposits is Kali Gendol-Opak, then referred to as the Gendol-Opak River Basin. HEC-HMS software in this research is used to calculate the planned flood discharge. The parameters to determine the planned flood discharge include rainfall data, CN (Curve Number) and Impervious values calculated from soil type, land use and subbasin. Land use is made from land cover classification using the supervised classification method. Area of sub-basin delineated in ArcMap using watershed analysis. Lahar flow discharge is calculated from the addition of the C* coefficient to the planned flood discharge. In lahar flow modeling using HEC-RAS software, parameters used include Manning coefficient, data geometry, lahar flow discharge and terrain. Data for terrain uses elevation data from DEMNAS. After modeling has been successfully obtained, overflow of lahar flow is identified by buffer of demarcation of river. This research obtained a lahar flow simulation which has an impact area of 724.553 ha (8.97%) in 10 villages in Sleman Regency including Argomulyo, Bimomartani, Glagaharjo, Hargobinangun, Kepuharjo, Selomartani, Sindumartani, Tamanmartani, Umbulharjo and Wukirsari villages. Argomulyo village is the most impacted village with an area of 206.335 ha (28.48%). As much as 593.117 ha (81.86%) of the lahar flow into zone of river border. Based on these, to reduce disaster losses the government can educate residents not to carry out activities in the zone.Keywords:  HEC-HMS, HEC-RAS, Lahar, Watershed
PENINJAUAN SECARA KARTOGRAFIS DALAM PEMBUATAN PETA KAMPUS UNIVERSITAS DIPONEGORO Uman Kertanegara; Arief Laila Nugraha; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.995 KB)

Abstract

Fungsi dari peta pada saat ini mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini dibuktikan dengan adanya permintaan yang banyak dan meluas pada berbagai macam profesi untuk berbagai macam kebutuhan. Namun dalam perkembangannya, peta mengalami banyak kerancuan, ketidak-efisienan dan terjadi miss-communication terhadap pengguna peta, sehingga tujuan pembuatan peta tidak tercapai.            Kampus Universitas Diponegoro wilayah Tembalang pada saat ini ada beberapa objek bangunan yang masih dalam proses pembangunan. Dengan adanya bangunan-bangunan baru di kampus Undip, maka perlu dilakukan pembaharuan data-data yang berhubungan dengan letak bangunan, terutama pada pemetaan kampus. Pembuatan peta ini lebih difokuskan pada penggunaan variabel grafis yang ada dalam kaidah kartografis, demi kemudahan dalam pembacaan peta.Hasil peta kampus Undip dalam penelitian ini, bahwasannya penggunaan variabel grafis seperti simbol warna, simbol label, pola dan tekstur lebih banyak mendominasi aspek kartografis untuk simbologi objek-objek kampus dan hasil evaluasi kartografis pada hasil pemetaan ini, untuk kertas A3 dengan skala 1:6.000 didapat nilai persentase dari keefesienan peta kampus Undip pada penelitian ini secara keseluruhan sebesar 80% dengan efesiensi warna sebesar 75% maka peta memiliki kualitas yang memadai sebagai fungsi peta. Dari hasil pemetaan ini, diharapkan peta akan bertambah efektif, efisien dan akrab (user-friendly) untuk masyarakat luas pada pengkajian selanjutnya.Kata Kunci : Kartografi, Variabel Grafis, Peta Kampus Undip.
ANALISIS NILAI WILLINGNESS TO PAY DAN TRAVEL COST UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN PANTAI MARINA DAN PURI MAEROKOCO SEMARANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Desita Khrisna Putri,; Sawitri Subiyanto; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1222.127 KB)

Abstract

ABSTRAK Kota Semarang memiliki banyak destinasi wisata yang menarik, diantaranya adalah kawasan Pantai Marina dan Puri Maerokoco yang mana merupakan beberapa destinasi wisata yang sangat diminati di Kota Semarang yang terkenal akan keindahannya. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) untuk kawasan Pantai Marina dan Puri Maerokoco tersebut,  guna mengetahui seberapa besar nilai Willingness To Pay (nilai ekonomi serta nilai manfaat, berdasarkan keinginan untuk membayar wisatawan dan masyarakat yang memperoleh manfaat) dan Travel Cost dari kawasan tersebut (nilai yang yang dikeluarkan oleh seseorang untuk mengunjungi kawasan tersebut).Dalam pengambilan data primer yang berupa survei di lapangan akan diambil 70 data sampel TCM (Travel Cost Method) serta 70 data sampel CVM (Contingent Valuation Method). Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan nilai Willingness To Pay menggunakan perangkat lunak Maple 17.Hasil yang diperoleh berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan dengan nilai ekonomi total (TEV) Pantai Marina sebesar Rp 2.143.172.090.530,- yang mana didapat dari penjumlahan antara nilai DUV (Rp 2.093.904.286.000,-) dan EV (Rp  49.267.804.530,-). Nilai DUV berdasarkan dari nilai TC (Rp 6.001.239,-), dan EV berdasarkan nilai WTP (Rp 30.062,-).  Nilai ekonomi total (TEV) yang diperoleh Puri Maerokoco adalah sebesar Rp 1.284.305.562.530,-. yang mana didapat dari penjumlahan antara nilai DUV (Rp1.226.242.708.000,-) dan EV (Rp  58.062.854.530,-). Nilai DUV berdasarkan dari nilai TC (Rp 9.351.565,-), dan EV berdasarkan nilai WTP (Rp 35.428,-).             Kata Kunci : Contingent Valuation Method, Nilai Ekonomi Total, Pantai Marina, Puri Marokoco, Willingness To Pay,  Travel Cost Method. ABSTRACT Semarang has many interesting tourist destinations. Among them, Marina Beach and Puri Maerokoco, the most popular tourist destinations. Famous for its beauty. Based on this, a Zone of Regional Economic Value (ZNEK) maps for Marina Beach and Puri Maerokoco is required. In order to know the economic value and the benefit value, based on the desire to pay tourists and people who benefit (Willingness to Pay), also Travel Cost from the region (the value that a person spends to visit the area).Primary data collection is a field survey. There will be 70 TCM sample data (Travel Cost Method) and 70 CVM (Contingent Valuation Method) data tooken. Multiple linear regression analysis and calculation of Willingness To Pay value is the data processing method, using Maple 17 software.The results, based on the research, is a Zone of Regional Economic Value Maps, with total economic value (TEV) of the Marina Beach is Rp 2.143.172.090.530,- which can be from the sum of the DUV value (Rp 2.093.904.286.000), - and EV value (Rp 49,267,804,530)-. The DUV is based on TC (Rp 6.001.239,-), and EV is based on WTP Value (Rp 30.062,-). Total economic value (TEV) obtained by Puri Maerokoco is Rp 1,284,305,562,530,- which can be obtained from the sum of the DUV value (Rp1.226.242.708.000,) - and EV (Rp 58.062.854.530). The DUV is based on TC (Rp 9.351.565,-), and EV is based on WTP Value (Rp 35.428,-).Keywords: Contingent Valuation Method, Marina Beach, Puri Marokoco, Total Econimic Value, Travel Cost Method, Willingness To Pay
ANALISIS PENGUKURAN PENAMPANG MEMANJANG DAN PENAMPANG MELINTANG DENGAN GNSS METODE RTK-NTRIP Dimas Bagus; Moehammad Awaluddin; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.655 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengukuran penampang memanjang dan penampang melintang sangat dibutuhkan dalam setiap pekerjaan survey rekayasa. Pengukuran penampang memanjang dan melintang dapat dilaksanakan dengan berbagai macam alat ukur seperti Waterpass , Total station. Dalam penelitian ini dilakukanlah pengukuran dengan menggunakan sistem GNSS, dengan menganalisis pengukuran penampang memanjang dan melintang menggunakan metode RTK-NTRIP.Pengukuran ini kemudian dibandingkan dengan Total station dan Waterpass yang dianggap benar. Perbandingan hasil digunakan 2 metode, metode pertama menganggap bahwa nilai undulasi (N) pada wilayah pengukuran dianggap sama. Metode yang kedua dilakukan konversi tinggi terhadap model geoid global EGM2008 dengan grid 1’ (menit) . Pengukuran ini dilakukan pada daerah kampus UNDIP.Hasil pengukuran GNSS RTK NTRIP dengan mengasumsikan nilai N pada wilayah pengukuran dianggap sama didapatkan akurasi 0.146 m sehingga memenuhi  produksi peta skala 1 : 500Kata kunci : GNSS, RTK-NTRIP, Penampang Memanjang, Penampang Melintang ABSTRACT Measurements of longsection and cross sections are needed in every engineering survey work. It  can be implemented with a variety of measuring tools such as Waterpass, Total station.In this research was perform measurements using GNSS system, by analyzing the long section and crosss ection measurement using RTK-NTRIP method.These measurements are then compared with Total station and Waterpas measurement. By using two methods, the first method assumes that the value of Undulation (N) in the measurement area are considered equal. A second method use heigh conversion of the geoid model EGM2008-1'. These measurements take place on the campus area UNDIPThe results obtained from GNSS RTK NTRIP measurement  where the value of  undulation (N) in the measurement area is considered equal so the accuracy  value is 0.146 m so can produce map with the scale of 1: 500 Keywords: GNSS, RTK-NTRIP, Long Section, Cross Section
ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU BERDASARKAN PENDEKATAN KEBUTUHAN OKSIGEN DI KOTA PEKALONGAN DENGAN MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DANI PURBA; Sawitri Subiyanto; Hani'ah Hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.424 KB)

Abstract

RTH adalah area memanjang/jalur dan mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Fungsi hijau dalam ruang terbuka hijau (RTH) kota sebagai ‘paru-paru’ kota, merupakan salah satu aspek berlangsungnya fungsi daur ulang, antara gas karbondioksida (CO2) dan oksigen (O2). Selain itu, masih banyak fungsi RTH termasuk fungsi estetika seperti rekreasi publik, secara aktif maupun pasif. Pada penelitian ini menggunakan Citra Resolusi Tinggi dari Citra Quickbird tahun 2015, Citra Sentinel-2A tahun 2018,  Peta Tata Guna Lahan Kota Pekalongan, Peta Jaringan Jalan, dan Peta Jaringan Sungai Kota Pekalongan. Selain itu, data yang digunakan berupa data non spasial seperti data jumlah penduduk, jumlah ternak, dan kendaraan bermotor Kota Pekalongan. Metode yang digunakan adalah digitasi on screen pada citra quickbird tahun 2015 dan untuk updating dilakukan dengan Citra Sentinel-2A. Jenis RTH yang diteliti dalam penelitian ini adalah hutan kota, jalur hijau, lapangan,  pemakaman, sempadan pantai, sempadan rel kereta api, sempadan sungai, taman dan RTH Privat. Informasi yang ditampilkan dalam  Peta RTH ini yaitu 1:5000.  Kota Pekalongan memiliki 622,08 Ha (13,75%)  Ruang Terbuka Hijau yang terdiri atas 220,85 Ha (4,88%) RTH Publik dan 401,24 Ha (8,87%) RTH Privat. Selain itu, dalam penelitian ini juga melakukan kesesuaian dengan luasan dari peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan dan didapatkan luasan RTH existing tidak memenuhi luasannya dengan peraturan tersebut. Bila dilihat dari kebutuhan oksigen, Kota Pekalongan memerlukan 690,95 Ha (15,3%) RTH dan RTH existing 622,08 (13,75%) Ha, perlu penambahan luasan RTH sebesar 68,87 Ha (1,52%) lagi agar terpenuhi RTH di Kota Pekalongan.
STUDI PENENTUAN KAWASAN RESAPAN AIR PADA WILAYAH DAS BANJIR KANAL TIMUR Setyo Ardy Gunawan; Yudo Prasetyo; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.218 KB)

Abstract

ABSTRAKDAS Banjir Kanal Timur merupakan DAS yang terletak di tengah-tengah Kota Semarang yang merupakan kota terbesar di Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah pembangunan infrastruktur dan pemukiman kota yang tinggi tiap tahunnya. Bencana kekurangan air tiap musim kemarau sering dialami di sejumlah daerah DAS Banjir Kanal Timur karena jumlah air tanah dalam daerah tersebut kecil dan sulit diperbarui. Pembaharuan air tanah ini erat hubunganya dengan resapan air, kondisi resapan air yang baik mampu mengalirkan air dari permukaan ke dalam tanah untuk menjadi air tanah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi, sebaran dan pola resapan air di kawasan DAS Banjir Kanal Timur. Dalam penentuan kondisi resapan air terdapat lima parameter yaitu jenis tanah, penggunaan lahan, kelerengan, potensi air tanah dan curah hujan. Terdapat tiga metode dalam penelitian ini yaitu metode pengolahan citra optis (klasifikasi terawasi), citra radar (InSAR) dan sistem informasi geografis (SIG). Data citra terdiri dari dua jenis citra optis dan satu citra radar, diantaranya citra ALOS PRISM tahun 2010, SPOT-6 tahun 2014 dan ALOS PALSAR tahun 2008. Kriteria resapan air dibedakan menjadi enam kriteria, yaitu baik, normal alami, mulai kritis, agak kritis, kritis dan sangat kritis.Pada penelitian ini diperoleh hasil kondisi resapan air di DAS Banjir Kanal Timur dalam kondisi mulai kritis dengan luas mencapai 2607,523 Ha (33,17 %), kondisi normal alami seluas 1507,674 Ha (19,18 %), agak kritis dengan luas 1452,931 Ha (18,48 %) dan berturut-turut dengan kondisi baik, kritis dan sangat kritis dengan luas  1157,04 Ha (14,72 %), 1058,639 Ha (13,47 %),  dan 75,0387 Ha (0,95 %). Sebaran dan pola resapan air tidak merata yang tersebar di kawasan tengah dan utara DAS untuk kondisi resapan air  mulai kritis, normal alami  dan baik. Sementara kawasan selatan DAS dengan kondisi resapan air agak kritis, kritis  dan sangat kritis.Kata Kunci          : Klasifikasi Terawasi, InSAR, SIG, Resapan Air, Air Tanah    ABSTRACTBanjir Kanal Timur Watershed located in the center of Semarang. Semarang is the biggest city in central Java which infrastructure development and construction is high nowadays. The lack of fresh water become problem in dry season in watershed area because ground water is not rechargeable well. Rechargeable groundwater depends on water recharge area whether it is good or not.The objective of the study is to determine condition and dissemination of water recharge in watershed area. Recharge area conditions determined by five parameters, soil type, land use, slope, ground water potential and rainfall. In this study use three methods, supervised classification to acquire land use from optic imagery, InSAR to derive DTM from SAR Imagery and GIS. There is two types optical image, ALOS PRISM 2010 and SPOT-6 2014. While SAR image is ALOS PALSAR 2008 only. The criteria of water recharge divided into six criteria, it is good, naturally normal, begin to critical, a little bit critical, critical and very critical.The result shows that water recharge condition of Banjir Kanal Timur Watershed is in begin to critical condition with 2607,523 Ha (33,17 %), naturally normal with 1507,674 Ha (19,18 %), a little bit critical with 1452,931 Ha (18,48 %), good with 1157,04 Ha (14,72 %), critical with 1058,639 Ha (13,47 %) and very critical with 75,0387 Ha (0,95 %). The distribution of water recharge area in Banjir Kanal Timur Watershed has irreguler pattern. In northern area of watershed consists of begin to critical, naturally normal, and good condition. Meanwhile in southern area of watershed consists of a little bit critical, critical and very critical condition.Key words             : Supervised classification, InSAR, GIS, Recharge Area, Ground Water  *) Penulis Penanggung jawab
ANALISIS AKURASI MODEL 3 DIMENSI BANGUNAN DARI FOTO SECARA TEGAK DAN MIRING (Studi Kasus : Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro) Christovel Natar Pardo; L.M Sabri; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.639 KB)

Abstract

Pemodelan tiga dimensi merupakan salah satu metode yang sangat dikembangkan beberapa tahun belakangan ini dalam menggambarkan secara kesuluruhan suatu objek. Salah satu manfaat dari metode merupakan merekonstruksi bangunan yang mengalami kerusakan akibat suatu kecelakaan atau bencana alam. Untuk membentuk pemodelan tiga dimensi diperlukan beberapa data foto udara yang overlap minimal 60% dan sidelap minimal 30%. penelitian ini menggunakan DJI Phantom 4 dan menggunakan dua metode pengambilan foto udara, yaitu secara vertikal (orto) dan miring (oblique). Kemiringan foto udara akan sebesar 45º dalam akuisisi foto oblique. Kedua metode tersebut akan diolah menggunakan software Pix4Dmapper dan menggunakan data GCP yang disebar secara merata. Kemudian akan diuji dengan uji akurasi ketinggian dan uji planimetrik guna mencari metode yang lebih baik. Akuisisi orthofoto menghasilkan kualitas data pemodelan yang lebih baik dibandingkan dengan hasil akuisisi oblique foto. Hasil perhitungan uji planimetrik, orthofoto memiliki nilai RMSE (root mean square error) sebesar 1,127 m dengan nilai rata-rata sebesar 1,271 m. Hasil perhitungan RMSE foto oblique sebesar 1,363 m dengan nilai rata-rata sebesar 3,175 m. Hasil uji akurasi tinggi, orthofoto memiliki RMSE sebesar 1,997 m dan oblique foto memiliki RMSE sebesar 4,247 m.Kata Kunci: Fotogrametri,  Pemodelan tiga dimensi, Pix4Dmapper, UAV   ABSTRACTThree-dimensional modeling is method that has been grown in recent years in describing the entire object. The benefits of this method is to reconstruct buildings that have been damaged due to an accident or natural disaster. To form a three-dimensional modeling requires some aerial photo data that overlaps at least 60% and sidelap at least 30%. In this study, researchers used DJI Phantom 4 and used two methods of capturing aerial photographs, vertical (ortho) and oblique. The slope of the aerial photograph will use 45º. Both methods will be processed using Pix4Dmapper software using GCP and ICP data. Then it will be tested with altitude accuracy test and planimetric test to find a better method. In results, orthophoto acquisition results in better data modeling quality compared to the results of the oblique photo acquisition. In the planimetric test calculation, orthophoto has a RMSE of 1.127 m with an average value of 1.277 m. For oblique photos, the RMSE calculation result is 1.363 with an average value of 3.175 m. In the high accuracy test, orthophoto has a RMSE of 1.997 m and oblique photos have a RMSE of 4.247 m.Keywords: Photogrammetry, Pix4Dmapper, Three-dimensional modeling, UAV
Identifikasi Zona Rawan Banjir Menggunakan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus: Sub DAS Dengkeng) Muhammad Dimas Aji N.; Bambang Sudarsono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.249 KB)

Abstract

Dengkeng Sub Watershed is part of the Upper Solo River Basin which includes the area of the River Solo. Degradation of land and buildings open to residential areas but not done a good arrangement is the cause of the destruction of the Bengawan Solo River basin mainly upstream, resulting in the reduction of water resources in the area.This study aims to determine the extent and whichever area including flood prone areas and to determine the factors that cause flooding in DengkengSub Watershed. The methods that use in scoring and to overlay (overlapping stacking) method between the type of soil maps, land use maps, maps of slope, drainage network map and rainfall maps. Watershed maps obtained from the four overlay map. Identification of water recharge areas is done using a Geographic Information System (GIS) that can be used as a material consideration to conservation and rehabilitation the land and the forest.Remote sensing data used are Landsat images of 2012 were used for the manufacture of sub-watershed land use map Dengkeng in 2012 using ENVI 4.4. Rainfall map created using rainfall data 2001-2011 period and slope maps using data sub-watershed high point Dengkeng processed using ArcGIS 9.3.The results show the extent of each flood-prone zones in Sub watershed Dengkeng. From the results of extensive analysis of sub-watershed Dengkeng is 822,153 km². The area included in the zone not prone area of 3,349 km² (0,41%) and somewhat prone zones of 45,865 km² (5,58%). The area included in the zone quite prone area of 268,744 km ² (32,69%). For a very broad zone of cartilage and cartilage is 469,63 km ² (57,12%) and 34,567 km ² (4,20%).Keywords: Watershed, Geographic information system, Water recharge areas, Skoring, Overlay
VISUALISASI PETA FASILITAS PENUNJANG WISATA RELIGI KABUPATEN DEMAK MENGGUNAKAN APLIKASI CARRYMAP (Studi Kasus Masjid Agung Demak Dan Makam Kadilangu) Mohammad Faiz Ilhami; Arief Laila Nugraha; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.194 KB)

Abstract

ABSTRAK Salah satu bidang kehidupan manusia yang sangat membutuhkan informasi adalah bidang pariwisata. Berbagai informasi mengenai perkembangan pariwisata, sarana pendukung, objek wisata, pengunjung hingga informasi mengenai penduduk setempat merupakan informasi yang penting untuk diketahui. Informasi yang kredibel mengenai gambaran lokasi wisata sangat dibutuhkan oleh wisatawan untuk merencanakan perjalanan dari tempat tinggal hingga ke tempat tujuan, selama berada di lokasi wisata hingga pulang kembali ke tempat tinggal.Kabupaten Demak merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang dikenal dengan pariwisata keagamaan. Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor pariwisata merupakan salah satu pendapatan utama Kabupaten Demak disamping pertanian. Objek wisata yang paling dikenal di Kabupaten Demak adalah Masjid Agung Demak dan Makam Kadilangu. Salah satu pelayanan pariwisata yang perlu ditingkatkan adalah pelayanan informasi. Sampai saat ini pelayanan informasi yang berkaitan dengan pariwisata di Kabupaten Demak masih bersifat konvensional.Pada penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk membuat sebuah aplikasi peta persebaran fasilitas penunjang wisata religi di Kabupaten Demak. Hasil aplikasi yang dibuat pada penelitian ini dapat dijalankan pada platform desktop pc dan smartphone. Ketelitian posisi dari aplikasi adalah 7,824 meter. Kriteria efisiensi dengan nilai 79,333 dan kriteria kepuasan dengan nilai 79 yang diperoleh dari hasil uji usability. Dengan adanya peta pelayanan informasi wisata yang dapat diakses dengan smartphone ini diharapkan dapat mempermudah wisatawan dalam memperoleh berbagai informasi pariwisata serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar objek wisata.
PEMETAAN ZONA NILAI TANAH UNTUK MENENTUKAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK (NJOP) MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Heranda Ibnu Adhi; Sawitri Subiyanto; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.804 KB)

Abstract

ABSTRAKZNT dimaknai sebagai area yang menggambarkan nilai tanah yang relatif sama, yang batasanya bersifat imajiner atau pun nyata sesuai penggunaan tanah. Tanah tersebut mempunyai perbedaan nilai antara yang satu dengan yang lainnya berdasarkan analisis perbandingan harga pasar dan biaya. Mengingat ZNT berbasis nilai pasar, ZNT dapat dimanfaatkan untuk penentuan tarif dalam pelayanan pertanahan, referensi masyarakat dalam transaksi, penentuan ganti rugi, inventori nilai aset publik maupun aset masyarakat, monitoring nilai tanah dan pasar tanah, dan referensi penetapan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) untuk PBB, agar lebih adil dan transparan. Dalam  penelitian  dibentuk  peta  ZNT  berdasarkan  nilai  tanah  dengan  penilaian  massal menggunakan pendekatan perbandingan penjualan (sales comparative) yang di overlay dengan peta administrasi kecamatan Candisari, kota Semarang dan peta blok PBB tahun 2012 dan dibandingkan dengan nilai tanah berdasarkan NJOP. Data harga tanah yang dihitung adalah data harga tanah murni dengan nilai bangunan yang sudah dikeluarkan dan penyesuaian sesuai karakteristik kondisi sosial ekonomi daerah.Hasil penelitian didapatkan 60 Zona Nilai Tanah dari data NJOP dan data berdasarkan Survey Transaksi Harga Tanah. Kata Kunci :Zona Nilai Tanah (ZNT), Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). ABSTRACTLand value zone is defined as an area that describes the relative same value of land, The limit is either imaginary or real according to the land use. It also has a different value between one and another based on the comparison analysis of the market price and the cost.Considering land value zone based on the market value, land value zone can be utilized for the tariff determination in service land , reference for the community in  transactions, compensation, inventory for public assets or community assets value, monitoring the value and market of land, and as reference for the NJOP's determination for PBB , to make it more fair and transparent.On the research land value zone is mapped by land's value in mass assessment using salescomperative approach which is overlaid with administration map of Candisari subdistric, Semarangand map of field in 2013 which is being compared with the land's value based on tax object salesvalue (NJOP). Land price data calculated is the original land price data to the value of building that have been issued and it is also beingadjusted with the characteristic of the household economy in theresearch area.The result on the research shows that there are 60 land value zone from tax object salesvalue (NJOP) and also from the land value transaction survey. Keyword : Land Value Zone, Tax Object Sales Value, Tax on Aquistion of Land and Building     *) Penulis PenanggungJawab

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue