cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Perilaku Komunikasi Antara Mahasiswa Rantau dengan Orangtua Vinny Avilla Barus; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 7, No 1: Januari 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.855 KB)

Abstract

Komunikasi antara mahasiswa dengan orangtua mengalami perubahan setelah mahasiswa tidak tinggal bersama dengan orangtua. Perubahan tersebut terjadi pada pola komunikasi mahasiswa dengan orangtua yang tidak lagi sama seperti saat mahasiswa masih tinggal bersama orangtua. Selain mengalami perubahan dalam pola komunikasi, mahasiswa juga sering mengalami hambatan atau gangguan dalam berkomunikasi dengan orangtua, seperti gangguan sinyal dan juga kesibukan mahasiswa. Sehingga hal tersebut membuat hubungan antara mahasiswa dengan orangtua menjadi tidak harmonis dan sering mengalami konflik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perilaku komunikasi antara mahasiswa rantau dengan orangtua. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma interpretif. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan pendeketan studi kasus. Analisis data yang digunakan adalah analisis data penjodohan pola. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa rantau yang berasal dari Sumatera Utara yang berjumlah enam orang. Teori yang digunakan adalah Pola Interkasi Hubungan, Teori Dialektika Relasional dan Teori Skema Hubungan Keluarga. Hasil penelitian ini menemukan bahwa setelah merantau mahasiswa mengalami perubahan perilaku komunikasi dengan orangtua. Perubahan tersebut dikarenakan mahasiswa yang semakin sibuk dengan kegiatan dikampus dan organisasi. Sehingga mahasiswa semakin memiliki sedikit waktu untuk berkomunikasi dengan orangtua. Dalam penelitian ini semua subjek mengalami perubahan pola komunikasi dengan orangtua seperti perubahan pada intensitas komunikasi, cara berkomunikasi dan juga topik komunikasi. Perubahan tersebut berdampak pada hubungan mahasiswa yang mengalami konflik dengan orangtua. Konflik yang terjadi menyebabkan beberapa mahasiswa menjadi tertutup dengan orangtua. Mahasiswa yang pernah mengalami konflik dengan orangtua, melakukan pengelolaan konflik dengan cara melakukan dialog dengan dan meminta maaf kepada orangtua. Dalam melakukan komunikasi, hambatan-hambatan yang dialami oleh mahasiswa ketika melakukan komunikasi dengan orangtua adalah sinyal yang tidak stabil, jarak antara mahasiswa dengan orangtua, kesibukan mahasiswa dan cara pandang yang berbeda.
Analisis Bingkai: Objektifikasi Perempuan dalam Buku Sarinah Nugraha, Yudha Setya; Lestari, Sri Budi; Nugroho, Adi; Sunarto, Dr
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.579 KB)

Abstract

Munculnya berbagai kasus – kasus seperti pemerkosaan diangkot, kekerasan dalam rumah tangga, hingga larangan menggunakan rok mini di DPR menuding perempuan sebagai penyebabnya. Dalam kasus tersebut, banyak dari pejabat publik memandang perempuan secara diskriminatif. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Soekarno diawal kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1947, diterbitkan buku Sarinah yang ditulis oleh presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno. Sebagai pejabat negara, tujuan Soekarno menulis dan menerbitkan buku Sarinah ini untuk memberikan dukungan terhadap perjuangan pergerakan perempuan Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun terdapat temuan – temuan yang bersifat objektifikasi perempuan berupa penggunaan metafora dewi – tolol sebagai perumpamaan untuk perempuan yang dipundi  - pundikan layaknya seorang dewi, tetapi dianggap tidak penuh layaknya seorang tolol. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan objektifikasi isi penulisan terhadap perempuan oleh Soekarno dalam buku Sarinah beserta ideologi yang dominan di belakangnya.Penelitian ini menggunakan teori kelompok dibungkam sebagai salah satu penerapan dalam pendekatan teori objektifikasi dan feminisme radikal dalam paradigma kritis melalui metode analisis bingkai model William A. Gamson. Subjek penelitian ini adalah tulisan atau teks dalam buku Sarinah ini yang merupakan hasil dari pemikiran atau pandangan dari Soekarno sebagai penulisnya.Berdasarakan temuan penelitian, objektifikasi terkait isi penulisan buku Sarinah berupa dehumanisasi dan stereotipe terhadap perempuan. Dehumanisasi dalam buku Sarinah dimunculkan melalui metafora, leksikon, dan ilustrasi seperti menganggap perempuan sebagai blesteran dewi – tolol, sebagai benda yang harus dimiliki, barang yang harus ada dalam rumah, benda perhiasan rumah tangga, perempuan tidak lebih dari "benda zaliman suaminya", dan "seorang pengurus rumah yang tidak bergaji serta alat pelahirkan anak". Sedangkan stereotipe perempuan yang dimunculkan dalam buku Sarinah berupa penggambaran sosok perempuan sebagai kaum lemah, kaum bodoh, kaum nrimo, perempuan diperintah laki – laki, bunga rumah tangga, sebagai budak, dan "kodrat" perempuan hidup di bawah telapak laki-laki. Ideologi yang melatarbelakangi terjadinya objektifikasi perempuan ini dikarenakan adanya patriarkisme yang mengakar kuat di masyarakat. Terbukti dengan adanya dominasi kaum laki – laki terhadap perempuan berupa dehumanisasi dan stereotipe dalam isi penulisan buku Sarinah. Kata Kunci: Objektifikasi, Dehumanisasi, Stereotipe, Patriakisme
Production of Talk Show Program “Breakout” and “Kimchi” at PRO 2 RRI Semarang (Creative Director) Margaret, Liza; Ratri Rahmiaji, M.Si, Dr. Lintang
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.635 KB)

Abstract

The Radio of Republic Indonesia (Radio Republik Indonesia - RRI) is the oldest and the only government’s radio which has visions to embody Indonesia public broadcasting as the extensive network radio, character development of nation, and as the world class radio. RRI has a very extensive network, from Aceh to Papua, but not many young people are interested listening to the RRI. The basic reasons of that case are the RRI image as radio news and radio for the older. Solution to overcome the matter is creating talk show programs like “Breakout” and “Kimchi” in PRO 2 RRI Semarang. Those programs are addressed to young people as the listener target. Thus, the paramount expectation by creating those programs is to increase the listener of RRI PRO 2 Semarang, in particular the young people. During the execution of those programs, the author acts as creative director who has the responsibility to make the programs more interesting by making earcatcher, voxpop, quiz and poster in supporting the process of buzzing in media social. Result of the post-production questionnaire shows that through the production of "Breakout" and "Kimchi" talk show, we succeed to increase the number of PRO 2 RRI listeners. At first the program "Kimchi" was only 8% of the initial data we collect but then increased to 67%. While the program "Breakout" which was initially 28%, then increased to 65%. Another finding is the program "Kimchi" increased more than in the "Breakout". In addition, culinary theme is the theme that most interests the listener. It is proven from the success of both talk show program that resulted from the combination of right buzzing, interesting material such as voxpop and earcatcher, good cooperation between broadcasters and sources, and a quiz with prizes.
Pemanfataan Popularitas Musik Korea pada Program Radio Bernadetta Dwi Kemala
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.624 KB)

Abstract

Musik merupakan sesuatu hal yang tak akan pernah bisa lepas darikehidupan kita, tanpa musik dunia ini tak akan berwarna. Oleh sebab itu, saat inimasyarakat sangat mengikuti perkembangan musik di Indonesia. Sebagai contoh, musikKorea. Kpop atau Korean Pop merupakan salah satu fenomena yang sekarang ini sedangterjadi di masyarakat. Radio memiliki beberapa fungsi, dimana salah satu fungsinyaadalah menghibur. Melalui program acaranya, radio akan berusaha menghiburpendengarnya. Berbagai acara disajikannya sesuai dengan keinginan masyarakat,sehingga radio memiliki pangsa pasarnya sendiri. Pangsa pasar inilah yang biasanyadilirik pengiklan memasarkan produknya, yang bersifat timbal balik dengan stasiunradionya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan popularitas musikKorea dalam program acara sebuah radio. Metode penelitian yang digunakan dalampenelitian ini “diskriptif kualitatif” dengan menggunakan nara sumber beberapa orangyang berkaitan dengan tujuan penelitian, dalam hal ini adalah bagian program danmarketing radio Gaya dan Sonora Semarang.Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa program acara yangmenggunakan popularitas musik Korea di Radio Sonora adalah SOS (Sonora OrientalSong) dan AMKM (Anda Meminta Kami Memutar), serta di Radio Gaya adalah GayaOriental. Program acara tersebut merupakan program unggulan dari masing-masingradio, hal ini dapat dilihat dengan jam siar yang masuk dalam jam prime time. Artinya,pada jam tersebut pendengar radio sangat banyak dan harga iklanpun termasuk mahal.Jadi, radio tidak hanya meningkatkan pendapatannya tetapi juga menghasilkan jumlahpendengar yang semakin banyak.Kata Kunci : Popularitas Musik Korea, Program Acara, Manfaat
PT. ERUDEYE INDONESIA’S PAZCAL CLOUD LAUNCHING ACTIVITY REPORT (PROGRAM MANAGER) Koesfarmasiana, Ardini; Setyabudi, Djoko; Pradekso, Tandiyo; Ulfa, Nurrist Surayya
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.912 KB)

Abstract

Cloud Computing is a technology that utilizes internet and central remote servers to govern or to manage the data and applications. The potential of cloud computing growth in Indonesia is widely open, however cloud computing market in Indonesia is still dominated by giant companies such as Microsoft and Telkom. Aware of its potential, PT. erudeye Indonesia develops cloud computing service called Pazcal Cloud, must undertake precise action as part of the major activities of marketing communication for Pazcal Cloud product, so that Pazcal Cloud gets attention and product position in the mind of market target.Based on situation analysis, SWOT and theories consideration, several promotional actions are chosen as the way to introduce Pazcal Cloud to the target audience. The actions are Search Engine Optimization (SEO), IT-based article writing, Pazcal trial version testimony video, “PaaS for Quick Development, Collaboration & Deployment” webinar and “Rainbow Rendezvous: Boost Your Experience With Pazcal” seminar. The main target comes from IT enterprises that are located in DKI Jakarta. The whole activities are divided into three stages, namely: 1) Positioning Stage, 2) Educating Stage, and 3) Strengthening Position Stage.These promotional activities are an attempt to increase the awareness of the target audience of Pazcal Cloud and place it as an efficient and reliable cloud computing product. Therefore, Program Manager position is one of the most important components in the managerial team for this activity. This position is meant to manage the program plan as well as to execute the program. With the coordination, adequate creativity, as well as concise decision making ability, the tasks on this position can be done successfully.
Representasi Androgini Jovi Adhiguna di Video Blog YouTube Chela Merchela Funay; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.148 KB)

Abstract

Jovi Adhiguna’s vlog is one of the social media accounts on YouTube featuring the personal life of a Jovi Adhiguna with his uniqueness as an androgyny. Androgyny is an individual who has two gender roles with masculine and feminine social values that are equally strong and emerge at the same time. This study aims to find out how the androgynous representation through semiotic analysis and also to see the effect of androgyny on the dominant ideology of heteronativity. In analyzing the three vlogs of Jovi, the author uses the theory of semiotics from Roland Barthes, which in theory is expressed in the meaning system of denotation, connotation, and myth. Based on the results of three vlogs Jovi's research, shows the representation that androgyny is not a gender identity that has a sexual orientation but the development of gender roles, in which the masculine self is integrated into the feminine traits. Nevertheless, Jovi also represents androgyny as “the other”, the realization that he is the “self” outside the normal conception prevailing in society, discriminated against because of the differences he believes in, while continuing to refuse to be called a “banci”, “waria”, “bencong”, and transgender. Other findings suggest that androgynous tend to engage in creative activities that are not limited by gender or unisex, but tend to feminine headlines such as fashion and beauty. Through the representation that appears on Jovi's vlogs, it shows that the androgyny concept that is presented is not fully against heteronativity and even tends to strengthen the ideology of heteronativity by recognizing the concept of androgyny as liyan.
Penerimaan Suku Anak Dalam Terhadap Pendidikan Muhammad Syamsul Hidayat; Turnomo Rahardjo; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.212 KB)

Abstract

ABSTRACTIONTITLE :NAMA :NIM :ACCEPTANCE OF EDUCATION AMONG ANAKDALAM TRIBEM. SYAMSUL HIDAYATD2C606031Trough the nine-years compulsory education program, EducationDepartment of Soralangun, Jambi held socialization the importance of educationfor Anak Dalam Tribe. The local government was purpose to prevalent educationfor all Sarolangun citizen, included Anak Dalam Tribe. However, the fact is AnakDalam Tribe have some response about the education ratification by government,some of Anak Dalam Tribe accepting the education, but most of them resist thesocialization by government because they have not been taught by their parents,temenggung, and their ancestor, so they don’t have to accept it and attend school.This Research aims to find out the acceptance of education among AnakDalam Tribe, why most of them who have faith that education never been taughtby their ancestor instead accept it and finally attend school. This research wasconducted by using phenomenological approach by relating the governmentexperience of socialization who with theory of persuasion to encourage andchange the thought and assumption of Anak Dalam Tribe so they accept educationand attend school. Also acceptance and experience of Anak Dalam Tribe afterthey accept and attend school, this research attempts to explain the Anak DalamTribe’s efforts in order to be accepted by people outside agains the stereotypeabout them in the people’s sight and otherwise. The subject of this researchconsists of three people from government dan three Anak Dalam Tribe’s peoplewho attend school and settle outside the forest. The data was obtainedbyinterview, observation, and literature.Results of this study indicate that government was done persuasioncommunication by interacting directly with Anak Dalam Tribe, trying to convinceand changing the thought and behavior of Anak Dalam Tribe. In effort to changethe behavior, the governments formerly try to establish the cognitive and affectivecomponent from Anak Dalam Tribe, the expectation is by changing thecomponent, could change their behavior. To establish the cognitive component,government conveying the importance of education and then the teachers andexperts in their field indirectly has set an example for Anak Dalam Tribe. Thegovernment also gives all equipment and school supplies. Moreover, Anak DalamTribe is free of charge for school. It is done in order to establish the affectivecomponent of Anak Dalam Tribe. After cognitive and affective has been establish,it will be directly followed by changes of behavior, that is Anak Dalam Tribe whowant to attend school.Key words: acceptance, persuasion, Anak Dalam Tribe, educationABSTRAKSIJUDUL :NAMA :NIM :Penerimaan Suku Anak Dalam Terhadap PendidikanM. SYAMSUL HIDAYATD2C606031Dengan adanya program wajib belajar sembilan tahun, Dinas PendidikanKabupaten Sarolangun, Jambi, mengadakan sosialisasi pentingnya pendidikanterhadap Suku Anak Dalam (SAD). Tujuan dari pemerintah daerah adalahmeratanya pendidikan bagi semua warga masyarakat yang ada di KabupatenSarolangun, termasuk Suku Anak Dalam. Namun, pada kenyataannya adalah,Suku Anak Dalam memiliki beberapa tanggapan tentang disosialisasikannyapendidikan oleh pemerintah, sebagian Suku Anak Dalam menerima adanyapendidikan, namun sebagian besar menolak sosialisasi yang dilakukan olehpemerintah dengan alasan tidak sesuai dengan tradisi yang diajarkan dalamingroup oleh temenggung, hingga nenek moyang mereka, sehingga Suku AnakDalam tidak harus menerima dan bersekolah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan Suku Anak Dalamterhadap pendidikan, mengapa Suku Anak Dalam yang mayoritas memilikikepercayaan bahwa pendidikan tidak pernah diajarkan oleh nenek moyang merekajustru ada yang menerima hingga akhirnya bersekolah. Penelitian ini dilakukandengan menggunakan pendekatan fenomenologi yang mengaitkan pengalamanpengalamanpemerintah dalam melakukan sosialisasi melalui teori persuasi untukmengajak serta merubah pemikiran serta anggapan Suku Anak Dalam sehinggaSuku Anak Dalam menerima pendidikan dan sekolah. Serta penerimaan danpengalaman Suku Anak Dalam setelah Suku Anak Dalam menerima danbersekolah, penelitian ini juga mencoba menggunakan co-cultural theory untukmenjelaskan usaha-usaha Suku Anak Dalam agar dapat diterima oleh masyarakatluar setelah adanya strereotip negatif tentang Suku Anak Dalam. Subyekpenelitian terdiri dari tiga orang pemerintah dan tiga orang Suku Anak Dalamyang bersekolah dan menetap di luar hutan, dimana pengumpulan data diperolehdari hasil wawancara, observasi, dan studi pustaka.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemaknaan individu Suku AnakDalam yang telah bersekolah terhadap pendidikan telah berubah. Pendidikan danbersekolah dimaknai sebagai salah satu hal yang menyenangkan sertamenguntungkan untuk masa depan individu Suku Anak Dalam. Pengetahuan barusetelah bersekolah membuat cara pandang individu Suku Anak Dalam tentangmasa depan mengalami perubahan, tentang cita-cita dan lapangan pekerjaan yanglebih layak. Pengalaman-pengalaman baru juga dirasakan individu Suku AnakDalam setelah bersekolah, sepertiKey words: penerimaan, persuasi, Suku Anak Dalam, pendidikanPENERIMAAN SUKU ANAK DALAM (SAD)TERHADAP PENDIDIKANSummary SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusun :Nama : M Syamsul HidayatNIM : D2C606031JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANPendidikan, merupakan salah satu bagian dari hak asasi manusia yang harusterpenuhi, selain menjadi bagian dari hak asasi manusia, pendidikan jugamerupakan salah satu elemen penting dimana suatu kesuksesan dan kemajuanNegara di ukur oleh seperti apa pendidikan di Negara tersebut. Oleh karena itusetiap warga negara Indonesia berhak untuk memperoleh kesempatan belajarsebaik-baiknya dengan ditunjang oleh sarana dan prasarana yang layak. Sehinggadimanapun mereka berada harus dapat dijangkau oleh fasilitas pendidikan yanglayak sebagai hak-hak asasi bagi mereka.Adanya program wajib belajar Sembilan tahun yang digalakkan olehpemerintah sejak beberapa tahun yang lalu mendapat respon yang positiv bagimasyarakat Indonesia. Tentunya, hampir semua pemerintah daerah juga berperanserta dalam mensosialisasikan program tersebut. Tidak ketinggalan yangdilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten Sarolangun, Jambi. Pemerintahdaerah sarolangun pun tidak pandang bulu, semua elemen masyarakat, baik yangdi kota, pedesaan hingga daerah yang susah dijangkaupun menjadi targetpemerintah guna sosialisasi pentingnya pendidiakn. Salah satunya Suku anakdalam, tentunya menjadi sesuatu yang sangat baru bagi suku anak dalam. Banyakdari mereka yang hingga sekarang masih kurang bisa menerima sosialisasi yangdilakukan oleh pemerintah.Program pendidikan bagi Suku Anak Dalam yang dicanangkan olehpemerintah cenderung memunculkan fenomena perubahan perilaku bagi SukuAnak Dalam. Pasalnya, Suku Anak Dalam atau Suku Kubu yang pada awalnyabelum pernah sama sekali mengenal pendidikan justru mau menerima adanyapendidikan. Meskipun belum semua Suku Anak Dalam (SAD) yang ada maubersekolah, setidaknya, lebih dari 50 anak telah melaksanakan kegiatan belajarmengajar.Namun, Suku Anak Dalam, yang pada hakekatnya lebih suka berburu danmelangun, cenderung kurang bisa menerima adanya perubahan dan serta adanyasesuatu yang baru, yang menutup diri dengan perkembangan serta kemajuan.Suku Anak Dalam lebih susah diatur, dalam arti susah jika diberi penjelasantentang sesuatu yang baru, semisal tentang pendidikan, mereka lebih memilihmelangun daripada harus duduk dikursi sekolah mendengarkan danmemperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh pengajar.Bahkan, beberapa individu Suku Anak Dalam cenderung beranggapanbahwa sekolah adalah sesuatu yang menyesatkan dan sekolah merupakan sesuatuyang belum dan tidak pernah diajarkan oleh nenek moyang mereka, terlebihsekolah tidak membuat mereka kenyang. Padahal, Surjadi dalam bukunyaPembangunan Masyarakat Desa mengatakan bahwa, Bila kesempatan akanlapangan pekerjaan berkembang diluar masayarakatnya, maka sekolah dianggapoleh orang - orang sebagai pintu gerbang bagi anak - anaknya untuk memperolehpekerjaan yang baik diluar masyarakat (Surjadi, 1989: 101). Apa yangdisampaikan oleh Surjadi jelas bahwa pendidikan merupakan elemen serta saranautama untuk membuka masa depan dan cita-cita.Adanya sesuatu yang baru dalam kelompok atau tatanan masyarakattentunya menjadikan pengalaman yang baru juga bagi manusia atau masyarakattersebut. Masyarakat yang pada awalnya belum mengenal serta mengetahuitentang pendidikan, belajar mengajar dan bersekolah, masyarakat yang padadasarnya masih memegang teguh ajaran-ajaran adat istiadat, sebagian dari merekakini telah mengenal serta melakukan kegiatan belajar mengajar. Namun tidakdemikian bagi sebagian kecil Suku Anak Dalam yang ada di Desa Air HitamKecamatan Pauh Kabupaten Sarolangun atau yang berada di Taman NasionalBukit Duabelas, sebagian kecil dari Suku Anak Dalam yang ada disana telahmengenal serta melakukan pendidikan atau kegiatan belajar mengajar. Hal inimenjadi pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah dirasakan sertadiperoleh oleh mereka Suku Anak Dalam. Pendidikan menjadi fenomena barubagi mereka, pengalaman serta kahidupan baru tentunya.Disinilah yang menarik. Suku Anak Dalam yang pada dasarnya taat sertamasih menjunjung ttinggi ajaran-ajaran yang diajarkan oleh nenek moyangmereka justru mau serta bisa menerima adanya pendidikan serta kegiatan belajarmengajar. Bagaimana penerimaan Suku Anak Dalam terhadap fenomena baruyang sebelumnya belum pernah mereka rasakan, yaitu pendidikan. Fenomenaserta pengalaman seperti apa yang membuat dan menjadikan mereka maubersekolah. Pengalaman seperti apa yang mereka dapatkan setelah melaksanakankegiatan belajar mengajar selama ini.PEMBAHASANPada awalnya, para individu Suku Anak Dalam cenderung memiliki pandanganatau persepsi negatif terhadap pendidikan formal. Fenomena tersebut terkaitdengan ajaran dari orang tua, temenggung (kepala suku), dan bahkan nenekmoyang mereka yang mengasumsikan bahwa pendidikan yang diterima darisekolah bukanlah sebuah kegiatan yang wajib untuk dilakukan. Alasannya,dengan mengikuti kegiatan belajar di sekolah, maka waktu mereka untukmelakukan kegiatan seperti berhutan menjadi tersisihkan, sehingga label yangkemudian muncul adalah mereka akan meninggal karena tidak dapat memenuhikebutuhan hidup mereka dari berhutan.Pendidikan formal atau bersekolah adalah salah satu fenomena yang relatifbaru bagi individu Suku Anak Dalam. Sebelumnya, mereka tidak pernahdiperkenalkan adanya istilah pendidikan maupun istilah bersekolah. Seperti yangdisampaikan oleh Edmund Husserl, bahwa fenomenologi berfokus padabagaimana orang mengalami fenomena tertentu, menyelidiki bagaimana individumengkonstruksikan makna dari sebuah pengalaman yang mereka alami danbagaimana makna yang ditangkap oleh individu tersebut bisa memicuterbentuknya makna kelompok atau bahkan membentuk pemahaman baru padakebudayaan tertentu (Vandersteop dan Johnston, 2009: 206). Terkait dalam hal iniadalah kemunculan pengetahuan baru dari pengalaman individu Suku AnakDalam mengenai pendidikan yang diperolehnya, serta menghasilkan beberapapandangan yang berhasil dimaknai oleh individu Suku Anak Dalam.Persepsi awal dari Suku Anak Dalam terhaap pendidikan yang terbentukcenderung negatif. Namun, seiring dengan terus dilakukannya sosialisasi olehpemerintah tentang pentingnya pendidikan serta adanya faktor pendorong internal(cita-cita hidup) dalam diri individu Suku Anak Dalam, sebagian individu SukuAnak Dalam cenderung menjadi lebih aktif untuk mengikuti kegiatan belajar disekolah. Bahkan, pemerintah membangun Sekolah Dasar khusus bagi Suku AnakDalam. Persepsi individu Suku Anak Dalam terhadap pendidikan formal yangpada awalnya menganggap bahwa pendidikan adalah ajaran yang tidak benar,dalam perkembangannya cenderung mulai mengalami perubahan, dan bahkanSuku Anak Dalam telah bersekolah dan menempati rumah yang disediakan olehpemerintah.Sehingga, individu Suku Anak Dalam cenderung memaknai pendidikandan bersekolah sebagai salah satu hal yang menyenangkan sekaligusmenguntungkan. Hal ini disampaikan oleh salah satu individu Suku Anak Dalambahwa dengan bersekolah maka akan mendapatkan makanan ataupun jajanan,bahkan program rekreasi atau berwisata yang diselenggarakan oleh sekolahmenjadi salah satu faktor pendorong bagi Suku Anak Dalam untuk bersekolah.Fenomena paling menonjol terkait dengan konstruksi makna pendidikan bagiindividu Suku Anak Dalam adalah bahwa dengan mengikuti pelajaran di sekolah,mereka memiliki gambaran tentang cita-cita hidup seperti ingin menjadi seoranganggota kepolisian. Cita-cita tersebut terungkap melalui pengalaman masa laluyang kurang menyenangkan, karena mereka merasa sering menjadi korbanpenipuan dari toke atau pengepul. Hal tersebut mengindikasikan adanyaperubahan dalam memahami makna pendidikan formal yang diterima olehindividu Suku Anak Dalam. Pernyataan tersebut bukan menjadi satu-satunyaalasan informan Suku Anak Dalam memaknai pendidikan dan bersekolah, merekamenganggap bahwa bersekolah adalah salah satu cara untuk mencari temanbermain yang banyak, dan bukan hanya dari kalangan Suku Anak Dalam saja,namun teman dari orang luar (bukan Suku Anak Dalam).Dalam pengalaman sadar yang dialami individu Suku Anak Dalam,terdapat beberapa faktor yang mendorong individu Suku Anak Dalam untukbersekolah, yaitu adanya rayuan serta pemberian sesuatu yang menarik (imingiming)oleh pemerintah dan pihak sekolah, membuat individu Suku Anak Dalamakhirnya bersekolah. Para informan mengungkapkan bahwa dengan adanyapemberian baju baru (seragam sekolah) menjadi salah satu alasan individu SukuAnak Dalam untuk bersekolah. Selain itu, pemberian perlengkapan dan kebutuhansekolah oleh pemerintah daerah, juga menjadi faktor penarik tersendiri bagiindividu Suku Anak Dalam untuk bersekolah.Pada awalnya, keinginan bersekolah terbentuk bukan karena adanyadorongan pribadi (faktor internal) dari individu Suku Anak Dalam. Para informanmengatakan bahwa alasan pertama mereka bersekolah lebih kepada faktoreksternal, yaitu dorongan dari orang tua mereka. Alasan orang tua Suku AnakDalam meminta anaknya untuk bersekolahpun bukan tanpa alasan, para orang tuamengatakan, dengan bersekolah maka akan diberikan makanan serta pakaian barutanpa dipungut biaya. Asumsi orang tua Suku Anak Dalam tersebut didasari dariadanya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah yang menyampaikan suatuinformasi mengenai adanya reward jika anak-anak aktif bersekolah.Fenomena yang paling menonjol terkait dengan minat individu Suku AnakDalam untuk menimba ilmu di sekolah formal adalah adanya pembagian makananyang dilakukan oleh pihak sekolah. Bagi para informan, adanya pembagianmakanan yang dilakukan oleh pihak sekolah secara rutin, membuat merekamenjadi bersemangat untuk tetap bersekolah. Pembagian makanan yang diberikanatau dilakukan oleh pihak sekolah membuat Suku Anak Dalam ahirnyabersekolah, ketertarikan individu Suku Anak Dalam terhadap makanan orang luar(bukan Suku Anak Dalam) menjadi salah satu daya tarik bagi mereka untukberangkat ke sekolah. Hal ini terjadi karena Induvidu Suku Anak Dalam merasatidak memiliki kemampuan untuk membuat makanan selayaknya yang dimakanoleh orang luar, makanan seperti nasi goreng, bubur, dan lauk pauk seperti ikanlaut tidak pernah dirasakan oleh individu Suku Anak Dalam.Suku Anak Dalam beranggapan bahwa sekolah dan belajar telahmemberikan sebuah pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah merekadapatkan. Sekarang, Suku Anak Dalam yang telah bersekolah mengaku menjadisemakin mengenal nama-nama pahlawan perjuangan. Jika dibandingkan dengansebelum Suku Anak Dalam bersekolah, mereka tidak mengenal nama-namamenteri bahkan nama presiden Indonesia. Kemampuan mengoperasikan bendaelektronik juga menjadi salah satu pengalaman berbeda yang sebelumnya tidakmereka dapatkan. Dengan kemampuan membaca yang mereka miliki, kini SukuAnak Dalam yang telah bersekolah mampu mengganti channel televisi yang adadi rumah mereka, serta mengganti dan mencari channel parabola yang telahterpasang di rumah. Kemampuan mengoperasikan benda elektronik lainnyaseperti handphone juga menjadi salah satu pengalaman baru bagi Suku AnakDalam. Ketika Suku Anak Dalam sebelum bersekolah, mereka hanyamenggunakan handphone sekedar untuk menonton televisi dan memutar lagu, kinimereka mampu memaksimalkan kegunaan handphone tersebut, selain untukberkomunikasi, mereka telah mampu meng akses facebook dari handphonemereka.dengan bersekolah dan belajar menjadikan mereka memiliki kemampuanuntuk membaca serta menulis, memiliki kemampuan bersosialisasi danbernegosiasi. Dibandingkan dengan ketika Suku Anak Dalam belum bersekolah,Suku Anak Dalam tidak pernah berhubungan, bersosialisasi, dan berinteraksidengan orang luar, meskipun pernah, interaksi hanya terjadi beberapa kali dantidak se sering sekarang. Hal ini terjadi dikarenakan kehidupan Suku Anak Dalamyang lebih banyak berada di hutan. Sebelum sekolah, Suku Anak Dalam keluardari hutan hanya ketika hendak menjual hasil hutan mereka. Berbeda denganketika Suku Anak Dalam telah bersekolah seperti sekarang, bagi Suku AnakDalam yang telah bersekolah, bersosialisasi dengan orang luar kini lebih seringterjadi. Hal ini terjadi karena selain di sekolah mereka harus bersosialisasi denganorang luar, kehidupan sehari-hari juga menuntut Suku Anak Dalan untuk lebihsering bersosialisasi dengan orang luar, karena perumahan yang Suku AnakDalam tempati berada di lingkungan dan di sekitar rumah warga atau hampirsemua tetangga mereka adalah orang luar.Dengan berpindah serta bertempat tinggal Suku Anak Dalam di sekitaratau bertetangga dengan orang luar telah merubah anggapan serta stereotypeSuku Anak Dalam terhadap orang luar. Dengan berteman dengan orang luar,komunikasi serta interaksi mereka menjadi semakin intens dan semakin sering.Fenomena tersebut membuat mereka saling membuka diri satu sama lain, MenurutIrwin Altman dan Dalmas Taylor (Littlejohn, 2005 : 194) dalam teori penetrasisosial (Social Penetration Theory) bahwa seseorang melakukan komunikasi yangbergerak dari unintimate kemudian mencapai puncak pada titik intimate. Prosestersebut adalah penetrasi yang mana syarat mutlaknya yaitu self disclosure atauketerbukaan. Terjadinya keterbukaan diri diantara Suku Anak Dalam denganorang luar lebih dilatar belakangi adanya keinginan untuk saling mengenal satusama lain, memperoleh pengetahuan dari apa yang sebelumnya belum pernahdidapat oleh mereka.Suku Anak Dalam yang telah mampu dan melangsungkan komunikasiatau sosialisasi dengan orang luar merupakan salah satu contoh adanya upaya dariSuku Anak Dalam (kelompok minoritas) agar diterima oleh orang luar (kelompokmayoritas). Orbe menjelaskan dalam co-cultural theory, yang mengkajibagaimana anggota kelompok minoritas berkomunikasi dengan anggota kelompokdominan (Littlejohn, 2009: 264). Usaha yang dilakukan oleh individu Suku AnakDalam cenderung mengarah pada tujuan asimilasi. Fenomena yang terjadi antaraSuku Anak Dalam dengan orang luar, selain telah melakukan komunikasi danbersosialisasi dengan orang luar, Suku Anak Dalam juga mengganti nama mereka.Seperti informan yang penulis temui, dua dari tiga informan Suku Anak Dalamtelah merubah namanya, yang pertama adalah Abdul Rahman, yang memilikinama asli Nyembah, yang ke dua adalah Farida yang memiliki nama asliGemensek.PENUTUPPada awalnya, individu Suku Anak Dalam cenderung memiliki persepsi negatifterhadap pendidikan yang disosialisasikan oleh pemerintah. Hal itu terjadi karenabertentangan dengan ajaran leluhur, sehingga individu Suku Anak Dalam merasatidak perlu bersekolah. Namun seiring dengan perkembangan waktu, persepsimereka mulai berubah. Individu Suku Anak Dalam merasa senang denganbersekolah, karena ketika bersekolah, mereka akan mendapatkan makanan sertajajan yang dibagikan oleh pihak sekolah.Ada beberapa faktor yang akhirnya mampu membuat para individu SukuAnak Dalam menerima pendidikan. Penerimaan individu Suku Anak Dalamdipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar, seperti adanya imbalan atau sesuatu yangmenarik yang diberikan dan disampaikan oleh pemerintah. Serta adanya doronganatau ‘perintah’ dari orang tua mereka untuk bersekolah. Meskipun dorongan dariorang tua mereka dilatar belakangi dengan adanya imbalan berupa akandibagikannya pakaian baru (seragam sekolah) dan makanan oleh pihak sekolah.Dengan bersekolahnya individu Suku Anak Dalam, pengalamanpengalamanbaru dialami oleh mereka. Memiliki teman serta bersosialisasi denganorang luar (bukan Suku Anak Dalam) menjadi pengalaman baru yang didapatketika bersekolah. Kemampuan menggunakan dan mengoptimalkan peralatanelektronik, memiliki kemampuan membuat serta log in sosial media sepertifacebook di handphone juga dimiliki oleh individu Suku Anak Dalam setelahbersekolah. Hal ini didasari pada kemampuan menulis, membaca, dan berbahasaInggris yang diajarkan ketika mereka bersekolah.DAFTAR PUSTAKALittlejohn. Stephen W, and Foss. A Karen. 2009. Teori Komunikasi: Theories ofHuman Communication. Jakarta: Salemba Humanika.Surjadi A. 1989. Pembangunan masyarakat Desa. Bandung: PT. Mandar MajuVanderstoep, Scott W. and Deirdre D. Johnston. 2009. Research Methods forEveryday Life “Blending Qualitative and Quantitative Approaches”. SanFransisco, CA: Jossey-Bass.http://www.kpde.batangharikab.go.id/?p=166 (diunduh pada tangal 7 November2012)http://www.tarungnews.com/fullpost/budaya/1318475559/kehidupan-primitifsuku-kubu-anak-dalam-di-jambi.html (diunduh pada tanggal 10 November2012)
Pembuatan Website Magazine “Pranala” bekerjasama dengan Ekspresi Suara Remaja Zendy Nutriawan Agasy
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.115 KB)

Abstract

Website magazine menjadi salah satu sumber informasi di dunia yang dewasa ini serba digital. Musik menjadi komoditas pertukaran sosial di kalangan anak muda, Semarang khususnya. Anak muda lantas mencari informasi musik di website magazine untuk kebutuhan pertukaran sosial mereka. Karya bidang ini bertujuan melahirkan website magazine yang menyajikan informasi tentang musik lokal kota Semarang. Karya bidang ini merupakan produk jurnalistik yang dibuat berdasarkan teori jurnalistik online dari buku karangan Asep Syamsul M. Romli (2012) yang berjudul Jurnalistik Online. “Pranala” juga menjadi salah satu bentuk local movement yang mendukung local wisdom. Dari hasil karya bidang, diketahui bahwa tingkat kunjungan ke website magazine “Pranala” mencapai target. Pengunjung website selalu ada yang baru tiap harinya dan followers media sosial “Pranala” turut menyebarkan artikel. Membuktikan bahwa website magazine yang menyajikan informasi musik kota Semarang dibutuhkan oleh anak muda kota Semarang. Dari hasil karya bidang diketahui bahwa website magazine yang mengangkat tema musik memiliki pengaruh terhadap pertukaran sosial anak muda. Website magazine musik juga dapat menjadi sarana promosi bagi musisi agar karya mereka lebih dikenal.
Hubungan Terpaan Buzz Marketing Bocah Tembalang Terhadap Keputusan Follower Untuk Datang Ke Event Media Partner Bocah Tembalang Dengan Status Sosial Ekonomi Follower Sebagai Variabel Moderating Elisabet .; Sunarto .
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.266 KB)

Abstract

Bocah Tembalang is a media buzzing that moves on the Instagram platform with a majority of followers who are students. Bocah Tembalang has done buzzing to attract consumers. But in reality there are several events that work together and entrust marketing to Bocah Tembalang and do not reach the desired visitor target. Therefore, this study wants to find out whether the exposure of Bocah Tembalang's marketing buzz has a relationship with the follower's decision to come to the media event for the partner of Bocah Tembalang. This study will also examine the relationship between the exposure of the Bocah Tembalang buzz marketing with the follower's decision to come to the Bocahg Tembalang media partner event with follower socio-economic status as a moderating variable. The theory used in this study is Elaboration Likelihood Theory. The type of research used is explanatory with a quantitative research method approach. The sampling technique in this study is by using non-probability sampling techniques with means of purposive sampling. Samples from this study were active followers of the Bocah Tembalang for the past year. The number of respondents is 100 peoples. Data analysis used in this research are the Kendall Tau-B correlation test and Kendall W. concordance. In this study it was shown that the exposure of the Bocah Tembalang marketing buzz about the media event of the Bocalang Tembalang partner was high due to the high followers of the Tembalang Boy who had access to information through the Tembalang Boy account. This can be seen from the number of visit followers in accessing the Tembalang Boy at a certain time The results of the first hypothesis test showed that the exposure of Buzz Marketing of the Bocah Tembalang (X) with the decision of the follower to come to the Bocah Tembalang media partner event (Y), obtained a correlation coefficient value of 0.70. with a strong level of correlation. The result of Z significance is 10.376, where Z count is greater than Z table 1%, which is 2.36 The results of the second hypothesis test showed the exposure of Buzz Marketing of the Bocah Tembalang (X) to the decision of the follower to come to the media event of the partner of Bocah Tembalang (Y) and the Follower Social Economic Status (Z), the correlation coefficient value was 0.39. These results indicate there is a positive relationship that is not significant with a very weak degree of closeness. In this study, it was also found that Bocah Tembalang a reliable level of information dissemination to followers so that Bocah Tembalang can be a good media partner in the company's media partner event.
Hubungan antara Minat Memasak dan Kebiasaan Memasak terhadap Intensitas Menonton Tayangan Junior MasterChef Indonesia Putri, Meta Detiana; Suprihatini, Taufik; Pradekso, Tandiyo; Herieningsih, Sri Widowati
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.24 KB)

Abstract

Intensitas menonton adalah tingkat keseringan seseorang menonton setiap penyampaian pesan atau informasi tentang barang ataupun gagasan yang menggunakan media massa. Adanya terpaan-terpaan pesan atau informasi yang mengenai diri khalayak akan membuat mereka cenderung memberikan respon terhadap program yang disajikan dalam media massa. Memasak adalah menghantarkan panas ke dalam makanan atau proses pemanasan bahan makanan. Dengan demikian proses memasak hanya terjadi selama panas atau terapan pada suatu bahan makanan sedang berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara minat memasak dan kebiasaan memasak terhadap intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia. Teori penggunaan dan kepuasan (uses and gratification) digunakan untuk menguatkan penelitian ini. Minat memasak diukur dengan indikator keinginan. Kebiasaan memasak diukur dengan indikator frekuensi. Sedangkan intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia diukur dengan indikator frekuensi, durasi, dan perhatian. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak usia 8-13 tahun. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah non random accidental sampling yang berjumlah 50 orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis koefisien korelasi rank Kendall menggunakan perhitungan program SPSS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara minat memasak dengan intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,01 dengan koefisien korelasi sebesar 0,533. Oleh karena sig sebesar 0,00 < 0,01; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). sedangkan untuk kebiasaan memasak dengan intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia terdapat hubungan karena uji hipotesis menunjukkan bahwa diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,241. Oleh karena sig sebesar 0,045 < 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). Key words : Minat Memasak, Kebiasaan Memasak, Intensitas Menonton Tayangan Junior MasterChef Indonesia

Page 46 of 157 | Total Record : 1563