cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
PENGARUH TERPAAN IKLAN TOKOPEDIA DI TELEVISI DAN BRAND EQUITY TOKOPEDIA TERHADAP MINAT KONSUMEN UNTUK MENGGUNAKAN TOKOPEDIA SEBAGAI SARANA JUAL-BELI ONLINE Anisa Wikantyas P; Djoko Setyabudi, S.Sos, MM
Interaksi Online Vol 5, No 1: Januari 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.244 KB)

Abstract

Laju perkembangan E-commerce saat ini sudah semakin cepat. Salah satu bentuk e-commerce yang ada di Indonesia adalah Tokopedia. Untuk menarik perhatian konsumen, Tokopedia menggunakan iklan sebagai alat pemasaran mereka. Bahkan, Tokopedia merupakan e-commerce dengan belanja iklan televisi tertinggi di Indonesia pada tahun 2015 hingga 2016. Namun, Tokopedia belum berhasil meraih posisi teratas sebagai situa jual-beli online yang dipilih oleh masyarakat. Hal tersebut merupakan latar belakang serta permasalahan dari penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh Terpaan Iklan Tokopedia di Televisi dan Brand Equity Tokopedia Terhadap Minat Konsumen Untuk Menggunakan Tokopedia Sebagai Sarana Jual-Beli Online. Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Elaboration Likelihood Theory sedangkan teori pendukung lainnya adalah Advertising Exposure Process, Brand Resonance Model, dan Teori Efek Media Massa. Penelitian eksplanatori ini menggunakan sebanyak 60 sampel yang ditentukan berdasarkan teknik purposive sampling dan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisi dengan menggunakan metode regresi linier sederhana. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Terpaan Iklan Tokopedia di Televisi dan Brand Equity Tokopedia berpengaruh positif terhadap Minat Konsumen Untuk Menggunakan Tokopedia Sebagai Sarana Jual-Beli Online.
KOMUNIKASI SENIOR DAN JUNIOR PADA KELOMPOK PELAJAR DALAM UPAYA MEMPERTAHANKAN BUDAYA TAWURAN Rizka Amalia; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.128 KB)

Abstract

Latar BelakangDi sekolah yang kerap terlibat aksi tawuran terdapat kelompok pelajar informal yang anggotanya terdiri dari senior dan juga junior. Senior memiliki peranan penting dalam mempertahankan keberadaan aksi tawuran pelajar. Senior melakukan komunikasi dengan juniornya untuk menyampaikan berbagai pesan yang umumnya dilaksanakan pada kegiatan- kegiatan tertentu yang telah menjadi tradisi di sekolah tersebut. Budaya tawuran pelajar seakan sengaja dibentuk dan diturunkan kakak- kakak kelas kepada siswa yang baru masuk sekolah, agar tradisi tersebut tetap terjaga. Biasanya, siswa yang baru masuk diajarkan melakukan tawuran di hari terakhir seusai Masa Orientasi Sekolah (MOS).Senior pada kelompok pelajar di setiap sekolah memiliki tradisi yang berbeda dalam melakukan komunikasi kepada juniornya. Namun cara senior dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pesan cenderung bersifat koersif. Komunikasi koersif merupakan proses penyampaian pesan (pikiran dan perasaan) oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang atau kelompok lain untuk mengubah sikap, opini, perilaku, dengan gaya yang mengandung paksaan (Effendy,1992: 83-84). Senior cenderung melakukannya disertai dengan ancaman bahkan juga menggunakan kekerasan agar pesan- pesan tersebut diterima. Banyak pesan yang disampaikan selain rasa cinta terhadap sekolah seperti diantaranya adalah penanaman identitas sosial, norma- norma yang berlaku di dalam pergaulan yang mengatur hubungan dan perilaku mereka dalam kelompok, juga stereotip terhadap sekolah- sekolah tertentu yang dianggap „rival‟ dan harus dimusuhi.Komunikasi antara senior dan junior dalam kelompok dapat dilihat seperti sebuah pertukaran antara manfaat yang diperoleh dan pengorbanan yang dikeluarkan. Hubungan antara dua pihak tersebut mirip dengan pertukaran ekonomis dimana orang merasa puas ketika mereka menerima kembalian yang sesuai dengan pengeluaran mereka (West and Turner, 2008: 217). Senior dapat tampil sebagai pihak yang memiliki kekuasaan dan kekuatan atas juniornya, menerapkan senioritas, dan dapat menurunkan nilai- nilai yang berlaku dalam kelompoknya. Namun mereka juga mengeluarkan pengorbanan yakni memperoleh perlakuan yang sama dariseniornya ketika mereka masih menjadi junior. Sedangkan junior mengeluarkan pengorbanan atau biaya berupa bersedia melakukan tawuran dan diposisikan di garis depan, mengikuti kegiatan- kegiatan yang ditetapkan oleh senior, serta mematuhi norma- norma yang berlaku. Junior juga memperoleh keuntungan atau ganjaran berupa diterima dan diakui sebagai bagian dari kelompok. Menjadi bagian dari kelompok memberikan kebanggaan bagi mereka, karena memperoleh prestige dari keanggotaannya terebut. Pelajar yang menjadi bagian kelompok tersebut umumnya menjadi populer dan lebih eksis dibandingkan dengan yang tidak bergabung dengan kelompok tersebut.Terkadang tawuran pelajar terjadi secara spontan ketika dua kelompok pelajar secara sengaja maupun tidak sengaja bertemu atau berpapasan di sebuah tempat. Namun terkadang tawuran terjadi karena dipicu oleh alasan sederhana seperti balas dendam karena ada pelajar yang diganggu oleh pelajar dari sekolah lain, keributan setelah pertandingan, atau hanya karena saling ejek. Bahkan seringkali tawuran terjadi karena sudah menjadi sebuah kebiasaan atau tradisi pada hari- hari tertentu di tempat yang menjadi titik rawan tawuran.Hampir setiap minggu terjadi tawuran di berbagai tempat, sehingga menggelisahkan masyarakat. Sarana umum seperti gedung, bus, dan sebagainya rusak berat akibat ulah oknum-oknum pelajar itu. Korban pun berjatuhan dari luka ringan, berat hingga tewas. (Yayasan penerus nilai-nilai perjuangan 1945,1998: 67). Dapat terlihat dengan jelas bahwa dampak tawuran merugikan banyak pihak, baik dari pelajar itu sendiri, sekolah, dan masyarakat pada umumnya. Tawuran menjadi sebuah permasalahan sosial yang tidak kunjung usai hingga saat ini.II. Perumusan MasalahAnggota dalam kelompok pelajar senantiasa selalu berganti setiap tahunnya, namun aksi tawuran pelajar tetap terjadi, bahkan jumlah kasus yang terjadi cenderung besar dan korban yang berjatuhan meningkat. Hal tersebut terjadi karena adanya komunikasi yang dilakukan oleh senior ke juniornya dalam mentransmisikan budaya kelompoknya termasuk tawuran dari generasi ke generasi. Senior sebagai pihak yang terlebih dahulu menjadi bagian dalam kelompok berperan dalam menyampaikan budaya kelompoknya tersebut kepada junior. Maka permasalahan dalampenelitian ini adalah bagaimana pengalaman komunikasi antara senior dan junior pada kelompok pelajar dalam upaya mempertahankan budaya tawuran?III. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman komunikasi antara senior dan junior pada kelompok pelajar, khususnya dalam upaya mempertahankan budaya tawuran.IV. Signifikansi penelitian1. Signifikansi teoritisSecara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi penelitian ilmu komunikasi khususnya dalam pengembangan pemikiran teoritis menggunakan teori komunikasi koersif dan pertukaran sosial (social exchange theory).2. Signifikansi praktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan menjadi rujukan dalam memahami pengalaman komunikasi yang terjadi antara senior dan junior pada kelompok pelajar dalam mempertahankan budaya tawuran.3. Signifikansi SosialPenelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kehidupan sosial. Tawuran sendiri merupakan fenomena konflik antar kelompok pelajar yang tidak kunjung usai hingga saat ini. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk membantu mencari alternatif solusi dalam permasalahan tersebut.V. Metoda PenelitianTipe penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Data primer dikumpulkan menggunakan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) kepada 8 informan yang terdiri atas 4 senior dan 4 junior dari 2 sekolah yang berbeda di Jakarta Selatan, sedangkan data sekunder diperoleh dari media massa dan data kepolisian. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis data pada pendekatan fenomenologi Moustakas (dalam Creswell, 2007:159).VI. Kesimpulan Berdasarkan temuan penelitian di lapangan dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi yang dilakukan oleh senior dan junior dalam kelompok pelajar memiliki tujuan tertentu yakni sebagai upaya untuk mempertahankan budaya kelompok termasuk tawuran. Budaya dipertahankan dengan cara diturunkan dari generasi ke generasi, seniorlah yang bertugas mentransmisikan budaya tersebut kepada junior. Senior menggunakan teknik komunikasi koersif yaitu dengan ancaman, paksaan hingga kekerasan fisik saat menyampaikan pesan kepada junior.Selain itu, senior melakukan beberapa teknik komunikasi persuasif yaitu pay off idea dan fear arousing. Pay off dilakukan dengan memberikan harapan kepada junior bahwa mereka akan diterima sebagai bagian kelompok serta dapat menggantikan posisi seniornya kelak. Sedangkan fear arousing dilakukan dengan memanfaatkan ketakutan junior atas konsekuensi yang akan diterima jika tidak mematuhi hal yang disampaikan senior yaitu berupa hukuman mulai bentakan hingga kekerasan fisik.Junior tidak secara instan menerima budaya yang ditransmisikan oleh senior, melainkan diawali dengan keterpaksaan serta rasa takut terhadap senior. Namun, lambat laun junior dapat menerima budaya kelompok dan menerapkannya bukan karena tuntutan senior, namun karena telah terinternalisasi ke dalam dirinya.Dalam hubungan antara senior dan junior dalam kelompok, terdapat pertukaran sosial meliputi pengorbanan yang dikeluarkan dan imbalan yang diterima. Penerapan senioritas merupakan imbalan bagi senior dan merupakan pengorbanan dari junior. Dari hal tersebut, junior memperoleh imbalan dengan diakui sebagai bagian dari kelompok. Tidak semua junior memperoleh perlakuan yang sama dari seniornya, hanya mereka yang ditunjuk atau memang menginginkan keanggotaan dalam kelompok saja. Bagi junior yang merasa memperoleh keadilan dalam hubungannya dengan senior akan terus bertahan dalam kelompok, dan juga sebaliknya.Tawuran pelajar merupakan budaya yang diturunkan oleh senior sebagai upaya untuk melindungi sekolah luar dan dalam. Senior mengenalkan bahkan memberikan didikan kepadajuniornya mengenai tawuran. Solidaritas sesama teman, stereotip, dan ‘sense of belonging’ yang sangat kuat terhadap kelompok serta sekolahnya merupakan faktor pendorong bagi pelajar untuk tawuran. Namun, meskipun menanamkan budaya tawuran pada junior, senior menganggap bahwa saat ini tawuran tidak lagi perlu untuk dilakukan karena telah banyak menimbulkan korban. Tawuran hanya berguna untuk melindungi diri dan kesenangan masa remaja saja.VII. Bagan TeoritikVIII.IX.X.XI.Pertukaran Sosial Senior dan Junior dalam Kelompok Pelajar Cost RewardSeniorMemperoleh perlakuan yang sama saat juniorPenerapan senioritas Junior Penerapan Senioritas Diterima sebagai anggota kelompokKomunikasi Koersif (senior menggunakan paksaan dan ancaman dan kekerasan fisik)Komunikasi persuasif (Teknik pay off dan fear arousing)•kesediaan junior untuk diberikan pengaruh oleh seniorComplience•junior mulai melakukan hal-hal yang disampaikan oleh senior.Identification•pengaruh yang diberikan senior terinternalisasi pada diri juniorInternalizationTawuran sebagai Budaya Kelompok stereotipsolidaritaskonformitas normaDAFTAR PUSTAKAAdler, Ronald B dan Rodman, George. 2006. Understanding Human Communication, 9th Edition. New York: Oxford University PressAlwasilah, A Chaedar. 2000. Pokoknya Kualitatif. Jakarta: Pustaka JayaAw,Suranto. 2010. Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: Graha IlmuAzwar, Saifuddin. 1995. Sikap manusia Teori dan Pengukurannya. Edisi ke 2. Yogyakarta: pustaka pelajarBaxter, Leslie A dan Babbie, Earl. 2004. The Basics of Communication Research. The University of OtawaBeebe, Steven A dan Masterson, John T. 2003. Communicating in Small Groups: Principles dan Practices, 7th Edition. USA: Pearson Education, IncCreswell, John W. 2007. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. Thousand Oaks, California: SAGE PublicationsDenzim, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. 2000. Qualitative Research, 3rd Edition. Thousand Oaks, California: Sage Publication, IncDeVito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia Edisi 5. Jakarta: Professional BooksEffendi, Onong Uchana. 1988. Hubungan Insani. Bandung: Remaja RosdakaryaEffendi, Onong Uchjana. 1992. Kepemimpinan dan Komunikasi. Bandung: Mandar MajuEffendi, Onong Uchana. 1992. Ilmu Komunikasi, teori, dan praktek. Bandung: Remadja KaryaEffendi, Onong Uchana. 1992. Hubungan Masyarakat. Bandung: Remadja KaryaHuraerah, Abu & Purwanto. 2006. Dinamika Kelompok: Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT Refika AditamaHurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta: ErlanggaKriyantono, Rachmat. 2010. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaKuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjadjaran Liaw, Ponijan. 2005. Understanding Your Communication Style. Jakarta: PT Elex Media KomputindoLiliweri, Alo. 2002. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LkiSLittlejohn, Stephen W. 1999. Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, 6th Edition. USA: Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W. 2009. Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, 9th Edition. Jakarta: Salemba HumanikaMoleong, Lexy J. 2009. Metode Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja RosdakaryaPratikto, Riyono. 1987. Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi. Bandung: Remadja KaryaRahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural: kompetesi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunikasi Antaretnis. Yogyakarta: Pustaka PelajarRakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja RosdakaryaSobirin, Achmad. 2007. Budaya Organisasi. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan sekolah tinggi ilmu manajemen YKPNSusetyo, Budi D. P. 2010. Stereotip dan Relasi Antar Kelompok. Yogyakarta: Graha IlmuSunarjo dan Sunarjo, Djoenaesih S. 1983. Komunikasi, Persuasi, dan Retorika. Yogyakarta: LibertyTubbs, Steward L & Sylvia Moss. 2005. Human Communication: Konteks-konteks komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetWest, Richard & Turner, Lynn H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi Buku 1. Jakarta: Salemba HumanikaWiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: GrasindoYayasan Penerus Nilai- Nilai Perjuangan 1945. 1998. Reformasi Pendidikan Mencegah Kenakalan Remaja antar Pelajar. Jakarta: Yayasan Penerus Nilai- Nilai Perjuangan 1945.Yusuf, Yusman. 1989. Dinamika Kelompok. Bandung: Armiko.Skripsi:Iffah Irsyadina. 2007. ”Komunikasi Persuasif Pendamping dalam Program Pendampingan Anak Jalanan”. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Diponegoro. SemarangRini, Yohana Susetyo. 2011. “Komunikasi Orangtua- Anak dalam Pengambilan Keputusan Pendidikan”. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Diponegoro. SemarangReferensi dari Media:1. CetakKompas, 25 September 2012. “Tawuran SMA 1 tewas 2 luka”, hal 1.Kompas, 27 September 2012. “Keberingasan Pelajar Kian Meresahkan”, hal 1.Kompas, 19 Oktober 2012. “Sekolah Ramah Anak Atasi Tawuran”, hal 34.Kompas, 19 Oktober 2012. “Dari Juara Menjadi Tersangka”, hal 34.2. TelevisiRCTI, 27 September 2012. Seputar Indonesia Pagi.RCTI, 30 September 2012. Seputar Indonesia Petang.3. InternetAfriyanti, Desi dan Ruqoyah, Siti. (2011). Jejak Bentrok SMA 6 dan SMA 70. Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/248472-jejak-bentrok-sma-6-dan-sma-70 diakses pada 11 Januari 2013Amelia, Mei. (2012). 5 Pelajar Tewas dalam Tawuran Sepanjang Januari-September 2012. Dalam http://news.detik.com/read/2012/09/27/160351/2040707/10/5-pelajar-tewas-dalam-tawuran-sepanjang-januari-september-2012 diakses pada 11 Januari 2013Berindra, Susie. (2011) Tawuran: Tradisi Buruk Tak Berkesudahan. Dalam http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/23/10210953/Tawuran.Tradisi.Buruk.Tak.Berkesudahan diakses pada 8 Mei 2012Cara Menanggulangi/ Mengatasi Tawuran Antar Siswa Pelajar SD, SMP, SMK, SMK, dll. (2011). Dalam http://organisasi.org/cara-menanggulangi-mengatasi-tawuran-antar-siswa-pelajar-sekolah-sd-smp-sma-smk-dll diakses pada 30 April 2012Daniel, Wahyu. 2011. Pelajar SMA 70 dan SMA 6 Tawuran di GOR Bulungan, Tiga Luka. Dalam http://news.detik.com/read/2011/07/15/232328/1682402/10/pelajar-sma-70-sma-6-tawuran-di-gor-bulungan-tiga-luka diakses pada 11 Januari 2013Edwin, Nala. (2012). Di Tengah Ujian Nasional, 4 Tawuran Terjadi di Jakarta. dalam http://news.detik.com/read/2012/04/18/175757/1895640/10/di-tengah-ujian-nasional-4-ta wuran-terjadi-di-jakarta diakses pada 11 Januari 2013More, Immanuel. (2011). tawuran Pelajar di Tengah Kemacetan. Dalam http://megapolitan. kompas.com/read/2012/07/18/2245554/Tawuran.Pelajar.di.Tengah.Kemacetan diakses pada 11 Januari 2013Muhaimin, Ramdhan. (2012). Awas! Tawuran Pecah antara SMA 70 vs SMA 6 di Bulungan. Dalam http://news.detik.com/read/2012/03/09/195404/1863198/10/awas-tawuran-pecah-antara-sma-70-vs-sma-6-di-bulungan diakses pada 11 Januari 2013Penyebab Terjadinya Tawuran Antar Sekolah. (2011). Dalam http://wartawarga.gunadarma. ac.id/2011/09/penyebab-terjadinya-tawuran-antar-sekolah/ diakses pada 3 Mei 2012Santosa, Bagus. (2012). Usai MOS, dua Tawuran Terjadi di Jakarta Selatan. Dalam http://jakarta. okezone.com/read/2012/07/18/500/665338/usai-mos-dua-tawuran-terjadi-jakarta-selatan diakses pada 30 April 2012Setiawan, Aris dan Ruqoyah, Siti. (2011). Tawuran SMA 70 dan SMA 6 Warisan Puluhan Tahun. Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/248410-tawuran-sma-70-dan-sma-6-warisan diakses pada 11 Januari 2013Setiawan, Bambang Budi. (2011). Tawuran Antar Pelajar di Jakarta. Dalam http://www.indosiar.com/ragam/salah-satu-potret-bangsa-kita-21384.html diakses pada 3 Mei 2012SMA 70 dan SMA 87 Jakarta Terlibat Tawuran. (2012). Dalam http://www.metrotvnews. com/read/newsvideo/2012/04/25/149827/SMA-70-dan-SMA-87-Jakarta-TerlibatTawuran diakses pada 8 Mei 2012Supandi, Arofah. (2011). Ratusan Pelajar ditangkap di Blok M. Dalam http://berita.liputan6.com/read/366562/ratusan-pelajar-ditangkap-di-blok-m diakses pada 10 Mei 2012Surjaya, Abdullah M. (2012). Tawuran Pelajar, Satu Tewas Dua Kritis. Dalam http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/492125/ diakses pada 8 Mei 2012 Triyuda, Pandu. (2012). Berkas 6 Tersangka Tawuran Pancoran dilimpahkan ke Kejaksaan. Dalam http://news.detik.com/read/2012/11/09/163954/2087490/10/berkas-6-tersangka-tawuran-pancoran-dilimpahkan-ke-kejaksaan diakses pada 11 Januari 2013Wahono, Tri . (2011). Kehidupan Pelajar di Jakarta Meresahkan. Dalam http://nasional. Kompas. com/read/2011/12/21/06110685/Kehidupan.Pelajar.di.Jakarta.Meresahkan diakses pada 30 April 2012Wirakusuma, K. Yudha. (2011). 105 siswa SMKN 29 Jakarta ditangkap, 4 Bom Molotov Disita. Dalam http://news.okezone.com/read/2011/12/08/338/539868/105-siswa-smkn-29-jakart- ditangkap-4-bom-molotov-disita diakses pada 11 januari 2013
PERBEDAAN JENIS KELAMIN, STATUS EKONOMI SOSIAL, WILAYAH TINGGAL, DAN MOTIVASI BERMAIN GAME PADA PEMILIHAN JENIS GAME REMAJA Sudaryningtyas, Nanik; Pradekso, Tandiyo; Setyabudi, Djoko; Ulfa, Nurrist Surayya
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.954 KB)

Abstract

Pemilihan game pada remaja akan menentukan pesan-pesan yang akan diterima pada saat bermain game. Game sebagai media massa baru memenuhi fungsi media massa sebagai hiburan dan juga media pembelajaran. Sehingga pemilihan game pada remaja akan memberikan pembelajaran tertentu bagi remaja. Namun, sekarang ini didapati banyaknya remaja yang memainkan game yang tidak aman bagi usianya yakni game dengan konten kekerasan dan seksualitas yang belum pantas untuk dikonsumsi remaja.Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan perbedaan jenis kelamin, status ekonomi sosial, wilayah tinggal, dan motivasi bermain game pada pemilihan game yang dimainkan. Kategori yang mana yang memilih game yang tidak aman.Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori komposisi audiens dan teori penggunaan dan gratifikasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan tipe penelitian eksplanatori yaitu untuk mendiskripsikan perbedaan jenis kelamin, status ekonomi sosial, wilayah tinggal, dan motivasi bermain game dalam memilih game yang dimainkan. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja usia 13-15 tahun di Semarang.Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan pemilihan game (Y) pada perbedaan jenis kelamin (X1). Hal ini menunjukan bahwa remaja laki-laki memiliki perbedaan dalam pemilihan game tidak aman dibanding kelompok yang lain. Sedangkan, tidak terdapat perbedaan pemilihan jenis game (Y) pada perbedaan status ekonomi sosial (X2), wilayah tinggal (X3), dan motivasi bermain game (X4). Hal ini berarti remaja yang bertempat tinggal di kota maupun di desa, remaja dengan tingkat status ekonomi sosial rendah, sedang, dan tinggi, dan remaja dengan motivasi bermain game yang rendah, sedang dan tinggi tidak menimbulkan perbedaan pada pemilihan game tidak aman.
REPRESENTASI MASKULINITAS DAN FEMINITAS PADA KARAKTER PEREMPUAN KUAT DALAM SERIAL DRAMA KOREA Eko Rizal Saputra; Hapsari Dwiningtyas Sulityani
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.367 KB)

Abstract

The female characters in Korean dramas are often displayed with emphasis on femininity. The femininity on the text only represents a message of a particular ideology, did not a representation of human being. It could lead to restrictions on women's roles and affirmation of how women should be. Supposedly, women could put themselves on the masculine and feminine side and mass media should be able to bring diversity to the female character. This study aims to see how the representation of masculinity and femininity displayed on a strong female character in the Korean television drama—Strong Woman Do Bong Soon—as an ideal concept for women. The theory that is used in this research was the performance theory of Judith Butler. This study used an approach of discourse analysis on the text of Sara Mills. With this approach, the analytical tools were divided into four structures, including character, fragmentation, focalization, and schemata. The results showed that the character of women brings masculine and feminine values on her. The character displayed with the attribute of femininity through her physical appearance. While in her role, the character displayed two sides, namely masculinity and femininity. Masculinity was in the ability of herself who takes over the role of hero and protector of men. Meanwhile, masculinity and femininity were also seen in the realm of women's work and romance. Fragmentation of a strong female character represented as a body that carries power through her face, chest, waist, hand, leg, and back. Masculinity and femininity were also seen through the position of women in the narrative. Masculinity arised when women act as a subject or Self and femininity exists when women are narrated by other characters or The Other. However, there were also results that show masculinity when the position of women in The Other and femininity on the Self. And in the schemata, masculinity and femininity were shown to shape women's position as a subject. In the social context, the male and female audience tend to interpret the character according to what is displayed. The different meanings influenced by some factors, such as the knowledge and experience of the audience. The presence of masculinity and femininity in a female character here was a form of gender performativity that shows the character was able to escape from dominant performance.
Video Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa” Yuniawan Eko Widyantoko; Djoko Setiabudi; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.45 KB)

Abstract

Video Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa”ABSTRAKVideo dokumenter merupakan salah satu produk jurnalistik dalam bentuk audio visual.Terdapat tim yang bekerja dari pra hingga pasca produksi untuk pembuatannya, dokumentaris dalamhal ini menjabat posisi sebagai cameraperson dan merangkap sebagai editor. Pemilihan posisi tersebutmerupakan kemauan dan kemampuan jurnalis dalam menjalankan proyek dokumenter ini.Dokumentaris berkerja sesuai dengan naskah sekenario yang di buat oleh sutradara. DokumenterKomunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy) yang berjudul “Koboy Melukis Pusaka Jawa”menampilkan sekumpulan anak muda yang gemar mengikuti kegiatan pewayangan di Sobokartti.Anak-anak muda ini bersepakat untuk menggelorakan semangat cinta wayang pada masyarakatSemarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan. Namun sayangnyatidak banyak generasi muda yang tertarik kepada wayang kulit. Wayang kulit selama ini identikdengan generasi lama atau orang tua, kuno, serta kolot untuk anak muda saat ini, karena bahasapengantarnya bahasa Jawa yang tidak populer lagi di kalangan generasi muda. Untuk menarik minatgenerasi muda pada wayang sebagai kesenian tradisional, akhirnya mereka berdua berusahamemberikan inovasi terhadap pewayangan dengan sentuhan kreatif yaitu dengan membuat sebuahwayang kreasi baru, yaitu dengan menggunakan fiber, tekson, kardus, serta e-wayang yang bisadiaplikasikan menjadi komik, poster, video animasi, dan yang bersentuhan dengan bidang digitalteknologi agar bisa lebih mendekatkan dan menarik minat anak muda sekarang.Mereka sangat totalitas dalam menggelorakan semangat cinta wayang pada masyarakatsemarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan, tergambar padakegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Koboy. Dari sekolah ke sekolah mereka bawa tongkat estafetbudaya wayang yang diwariskan oleh nenek moyang untuk mengenalkan kembali ke anak-anak mudasaat ini, Koboy menjembatani dengan ketulusan mereka, ketekunan serta semangat dan upaya-upayaagar anak muda semakin mengenal dan bangga serta dapat ikut menjaga kelestarian seni tradisionalwayang dalam wadah komunitas Komplotan Bocah Wayang atau Koboy. Melalui Koboy, diharapkanwayang bisa lebih dekat dengan masyarakat khususnya anak mudaSutradara sebagai seorang jurnalis harus memiliki ide dan konsep yang jelas mengenaiapa yang disampaikan dalam video news features dan bagaimana menyampaikannya secara logisberdasarkan fakta yang terjadi. Untuk memberikan sentuhan estetika dalam penyampaian pesan dalamnews features ada empat topic utama yang menjadi konsentrasi sutradara, yakni:pendekatan, gaya,bentuk, dan struktur. Setelah menentukan kemasan dari news features. Sutradara melakukan risetimengenai pendalaman tema, objek lokasi, dan pemilihan subjek- subjek yang akan menjadi tokohdalam news features Kegiatan riset dilakukan untuk menganalisis visi visual yaitu gambaran untukmengembangkan ide.Sutradara sebagai seorang penulis naskah menuangkan ide dan konsep dalamtreatment kemudian menulis naskah scenario beserta shooting list. Di dalam naskah scenario, sutradaramenentukan audio dan visual. Setelah masa produksi selesai, Sutradara menyeleksi gambar yanglayak dan sesuai naskah scenario kemudian membuat naskah editing. Sutradara memberikan naskahediting kepada editor, kemudian selama proses editing sutradara mendampingi editor sebagai tempatbertanya untuk kelancaran proses editingKata kunci: jurnalis, sutradara, penulis naskah, Wayang, KoboyiABSTRACTVideo documentary is one of audio-visual journalism product . There is a team working frompre to post-production to production, documentary in this case serves as a cameraperson and aconcurrent position as editor . The selection of these positions is the willingness and ability ofjournalists to carry out this documentary project . Documentary work in accordance with the scenarioscript made by the director . Komunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy) entitled “Koboy DrawsJava’s Heritage” featuring a bunch of young people who love to take part in Sobokartti puppet . Theyare agreed to foster a spirit of love puppets in Semarang and gather people who are interested in thepuppet world . But unfortunately not many young people are attracted to the shadow play . Wayangkulit is synonymous with the old generation or the old , ancient , and old-fashioned for today's youth ,because language introduction to the Java language is no longer popular among the youngergeneration . To attract young people to the puppet as traditional art , finally they both tried to deliverinnovation to the puppet with a creative touch to create a new puppet creations , using fiber , tekson ,cardboard , as well as e - puppets that can be applied into comics , posters , video animation , and is incontact with the field of digital technology in order to get closer and attract young people today .They are very total in spreading spirit of love puppets in Semarang and raise public who areinterested in the puppet world , reflected in the activities undertaken by Koboy . From school to schoolthey carry the baton puppet culture inherited by the ancestors to introduce back to young kids today,Koboy bridge with their sincerity , passion and perseverance as well as efforts to bring more youngpeople to know and be proud of and care for preservation of traditional art puppets Komplotan BocahWayang or Koboy gang. Through Koboy , puppet is expected to be closer to the public, especiallyyoung people .Film Director is a journalist who has clear idea and concept about what he will say on NewsFeatures video and how to delivering facts that occurred logically. To give aesthetic touch in givingmessage on News Features, there are four main topics that can be a concentration of the director, theyare : approaching, style, place and choosing players, research is doing by visual vision to make animage that decided an idea.Film Director as a screenwriter needs to pour some ideas and concepts in his treatment then he writesscenario script with shooting list. In scenario script, Film Director selecting the best appropriatepictures then he makes editing script to give to the editor. In editing process, Film Director has to sitnext the editor as a place to asking while film is being edited.Keywords : journalist, film director, script writer, Wayang and CowboyKeywords : Journalist , film director, script writer, wayang and Koboy .iBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangKegiatan Jurnalistik sangat berkaitan erat dengan media massa cetak maupunelektronik, karena publikasi di media massa adalah salah satu syarat utama agar sebuah produktersebut dapat dikatakan sebagai produk jurnalistik. Media massa elektronik salah satunyatelevisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasi secara cepatdan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan. Televisi denganberbagai acara yang ditampilkan telah mampu menarik minat pemirsanya , dan mampumembius pemirsanya untuk selalu menyaksikan berbagai tayangan yang disiarkan televisi.Terlebih lagi TV merupakan media yang menyuguhkan tampilan melalui bentuk audio visual(suara dan gambar) sehingga tentunya membuat masyarakat lebih tertarik kepada televisidaripada media massa lainnya. Banyaknya audien televisi mejadikannya sebagai mediumdengan efek yang besar terhadap orang, kultur dan juga terhadap media lain. Sekarang televisiadalah media massa dominan (Vivian, 2008:225).Beberapa jenis dan bentuk pengembangan documenter televisi meliputi expositorydocumenter (penutur tunggal narrator), documenter drama, news feature, reality show daninvestigasi. Kami sebagai jurnalis ingin mebuat sebuah produk jurnalistik dalam bentuk newsfeature dengan format documenter yang nantinya akan di publikasikan melalui media televise.Alasan menggunakan format documenter karena konten didalamnya lebih lengkap, yaituseperti unsur informasi, ilmu pengetahuan, dan yang dominan unsure hiburan yang kreatif(fachrudin,2012:314).Kami ingin mengangkat salah satu kesenian tradisional yang mulaiterpinggirkan bahkan mulai ditinggalkan oleh anak muda khususnya adalah kesenianiwayang.Wayang selama ini kita kenal sebagai kekayaan budaya jawa.Wayang telah menjadietos dan pandangan hidup masyarakat jawa.Bahkan wayang menjadi esensi budaya jawa.Bagimasyarakat Jawa, wayang tidaklah hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan.Wayang bukanhanya sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, mediapenyuluhan dan media pendidikan.Wayang telah menjadi asset kebudayaan nasional, makakewajiban itu berarti terletak di pundak masyarakat Indonesia seluruhnya.Tetapi tentulahmasyarakat Jawa khususnya yang harus merasa lebih terpanggil untuk nguri-uri kekayaanbudayanya yang indah dan sarat nilai-nilai budaya yang adiluhung ini.Berbicara mengenai upaya pelestarian wayang masih terhitung sedikit terutamagenerasi muda. Salah satunya komunitas koboy (komplotan bocah wayang) yang berpusat diSobokartti yang melakukan kegiatan pelestarian dan pengenalan wayang dengan pelatihandalang bagi anak maupun remaja dan proses pembuatan wayang dengan berbagai medium.Meskipun mereka bukan pelaku seni atau orang yang terlibat dalam kegiatan pewayangannamun kegiatan yang mereka lakukan dengan mengenalkan wayang melalui workshop kesekolah-sekolah atau tempat-tempat umum, sudah menjadi salah satu cara pelestarian terhadapwayang. Meski hanya workshop, setidaknya kegiatan itu mampu memberi pesan untukmengenalkan tentang wayang terlebih dahulu kepada anak-anak dan orang tua, apabilakedepannya wayang tetap tidak diminatipun itu bukan merupakan kegagalan para koboy, yangterpenting adalah masyarakat yang terutama anak-anak mengetahui bahwa kita mempunyaipeninggalan kebudayaan yang sangat bernilai yaitu wayang. Koboy sangat berperan dalammelestarikan wayang meski tidak mampu meneruskan kebudayaan sebagai pelaku, setidaknyakoboy dapat meneruskan tongkat estafet kepada generasi muda, yang seharusnya tongkatestafet tersebut dibawa oleh orangtua untuk anak-anaknya namun terbentur orang tua jamansekarang banyak yang tidak peduli atau malah tidak mengenal tentang pewayangan, maka paraiorang tua sendiri tidak mampu berperan untuk mengenalkan wayang kepada anak-anaknyadidalam sistem pelestarian kebudayaan wayang saat ini.1.2 Kerangka Pemikiran1. Jurnalistik dalam DokumenterJurnalistik didefinisikan sebagai seni dan ketrampilan mencari, mengumpulkan,mengolah, menyusun dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secaraindah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadiperubahan sikap, sifat pendapat, dan perilaku khalayak sesuai dengan kehendak parajurnalisnya. (Suhandang, 2004:21).Video dokumenter merupakan sebuah produk jurnalistik berbentuk soft news yangbertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan secara menarik (Morrison,2008:211). Sehingga dokumenter pun menjadi salah satu dari sekian media yang dapatdigunakan untuk menyampaikan informasi, pendidikan, pengaruh dan sekaligus hiburan untukkahalayak atau cakupan massa. Video dokumenter dapat diputar dan dipertunjukan kepadakhalayak dan target audience melalui ruang-ruang komunitas maupun secara massive yaitutelevisi. Televisi sendiri telah menjadi media komunikasi massa yang tidak terpisahkan denganmasyarakat. Masyarakat dari segala usia termasuk di dalamnya adalah remaja yang sangatakrab dengan televisi. Menurut Vivian (2008:16) televisi merupakan salah satu media yangtidak menuntut audiensnya untuk terlalu aktif , bahkan cukup pasif saja (cool media). Mediaseperti televisi, radio dan film yang diputar pada televisi merupakan jenis-jenis media yangmasuk kedalam kategori itu.i2. Gaya Bertutur dan Strukur DokumenterDalam pembuatan dokumenter ini, kamipara jurnalis memilih menggunakan gayarekonstruksi pada umunya bentuk ini dapat ditemui pada documenter investigasai dan sejarah,termasuk pula pada film etnografi dan antropologi visual. Dalam tipe ini, pecahan-pecahanatau bagian –bagian peristiwa masalampau maupun masa kini disusun atau direkonstruksiberdasarkan fakta sejarah.Pada saat merekonstruksi suatu peristiwa, latarbelakang sejarah,periode, serta lingkungan alam dan masyarakatnya menjadi bagian dari konstruksi peristiwatersebut.Konsep penuturan rekonstruksi terkadang tidak mementingkan unsur dramatic tetapilebih terkonsentrasi pada pemaparan isi sesuai kronologi peristiwa (Ayawaila, 2008: 40-43).Diharapkan pembuatan documenter dengan gaya rekonstruksi dapat membangunkan kembalipemahaman tentang wayang sebagai seni tradsisi yang menjadi pusat tatanan nilai dengannilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.Seperti halnya video documenter koboy ini yangmembandingkan kondisi kesenian wayang jaman dahulu yang banyak diminati,sertamerupakan sebagai pusat referensi tatanan nilai dan tatanan hidup, namunberbeda padasaat sekarang ini, padahal wayang dahulu lebih rumit dibanding dengan wayang jamansekarang yang sudah berinovasi dari segi cerita dan bahasa agar dapat diterima. Perkembanganjaman dengan munculnya media-media baru, peran wayang sebagaipusat tatanan nilai tergeseroleh media-media baru tersebut.1.3. Konstribusi KaryaNews feature ini dibuat sebagai tugas akhir untuk persyaratan kelulusan dalam Program StudiS-1 jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk :1. Media dalam mengenalkan kesenian wayang kepada generasi muda sehingga tumbuh rasacinta dan bangga generasi muda terhadap kesenian wayang.i2. Sarana untuk menumbuhkan kesadaran banyak pihak untuk terlibat dalam upaya menjagaeksistensi kesenian wayang.1.4 Konsep filmBentuk Dokumenter Tematis`Struktur penuturan ini biasanya digunakan apabila fokus cerita adalah sebuah objek lokasiyang merupakan tempat sejumlah orang melakukan aktivitasnya. Seperti halnya PerkumpulanKoboy dimana merupakan sebagai tempat berkumpulnya para para pencinta atau penggiatkesenian wayang dikalangan anak muda dalam melakukan kegiatan-kegiatannya, yang berpusat diSobokartti.Dalam “Koboy Melukis Pusaka Jawa” penceritaan diawali dengan pernyataan-pernyataan dariketiga narasumber mengenai permasalahan semakin terasingnya dan antusiasme yang kuranggenerasi muda terhadap kesenian wayang, kemudian upaya yang dilakukan oleh koboy untukmenumbuhkan rasa cinta dan bangga di generasi muda terhadap kesenian wayang dan diakhiridengan pernyataan-pernyataan narasumber mengenai eksistensi kesenian wayang dan upayaupayayang dilakukan untuk menarik minat generasi muda terhadap kesenian wayang.1.7. Personel dan Job DescriptionKarya bidang ini dibuat oleh tim yang terdiri dari 3 mahasiswa dalam sebuah sistem kerja yangdirancang sedemikian rupa untuk penilaian yang independen dalam laporan yang disusun.Personil dan Job description tersebut sebagai berikut :1. Rizka Putra Dinanti (D2C607042) Producer : Penanggung jawab dalam suatu produksi acara Lobi dengan pihak stasiun televisi untuk penayangani Lobi Narasumber Penanggung jawab anggaran untuk produksi2. Wisnuadi Trianggoro (D2C009129) Juru Kamera (cameraman) : melakukan riset lokasi riset narasumber, riset stockshoot kotasemarang, melakukan pengambilan gambar wawancara, melakukan pengambilan gambarsaat kegiatan objek dokumenter, memindahkan file untuk editor. Editor : bertugas memilih dan menyambung gambar atau siaran audio.3. Yuniawan Eko (D2C009136) Program Director/Sutradara : Orang yang bertanggung jawab dalam mengarahkan suatuproses produksi acara radio atau televisi. Penulis Naskah/Reporter : Orang yang berprofesi sebagai peliput atau pencari berita,menulis naskah atau melaporkan (to report) suatu event atau peristiwa atau kejadian padamedia radio tau televisi. Pra Produksi- Sutradara menentukan ide dan merumuskan konsep mengenai apa yang akan disampaikan- Sutradara menentukan bagaimana kemasan produk news features yang di dalamnyaditentukan pendekatan, bentuk penuturan dan struktur.- Sutradara melakukan riset mengenai pendalaman tema, objek lokasi, dan pemilihan subjeksubjekyang akan menjadi tokoh dalam news features.- Sutradara menuangkan ide dalam treatment.- Sutradara menulis naskah skenario- Sutradara menentukan audio dan visual dalam scenario Produksi- Sutradara menentukan format dan pemilihan shot saat melakukan produksii- Sutradara menentukan lokasi, latar belakang, dan posisi narasumber saat wawancara,sutradara mempertimbangkan siapa narasumber yang diwawancara termasuk kelengkapanmengenai usia dan profesi narasumber. Paska Produksi- Sutradara menyeleksi gambar yang layak dan sesuai naskah scenario kemudian membuatnaskah editing dengan tujuan menentukan visualisasi struktur cerita.Sutradara memberikan naskah editing kepada editor, kemudian selama proses editingsutradara mendampingi editor sebagai tempat bertanya.PENUTUPMembuat sebuah film baik itu fiksi ataupun non fiksi diperlukan riset yang matang. Dengancara mengumpulkan data atau informasi melalui observasi mendalam mengenai subjek, peristiwa, danlokasi sesuai tema yang akan diangkat. Riset secara mendalam sangat dibutuhkan karena news faeturetidak disajikan dalam sisi estetika saja tetapi juga kelengkapan informasi seusai dengan peristiwanyata. Secara umum dalam sebuah news features terdapat fakta-fakta yang ingin disampaikan dalambentuk informasi kepada masyarakat. Dalam pembuatan video news faeture ini mengalami tiga tahap,pra produksi, produksi, dan paska produksi. Berikut beberapa kesimpulan yang dokumentaris dapatkanselama proses pembuatan news faeture “Koboy Melukis Pusaka Jawa”Kesimpulan1) Pemilihan KOBOY ( Komplotan Bocah Wayang) sebagai subjek utama dalam videoini disesuaikan dengan tema yang diangkat yaitu pengenalan wayang sebagai kesenian yangmulai jauh di kalangan generasi muda. KOBOY yang beranggotakan anak- anak muda yangmemiliki minat dan kepedulian besar terhadap eksistensi wayang di tengah-tengah generasimuda .Mereka mempunyai komitmen kuat untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga padaigenerasi muda terhadap kesenian wayang. Pemilihan KOBOY didasarkan pada kesamaan visiyang sama dengan tujuan dibuatnya video News Features ini yaitu berupaya mengenalkanwayang kepada generasi muda sehingga tumbuh rasa cinta dan bangga terhadap wayang.2) Pemilihan Cakra Semarang TV sebagai media yang akan mempublikasikan videoNews Features kami dikarenakan salah satu program di Cakra Semarang TV yaitu ProgramSluman-Slumun yang mempunyai kesamaan dengan konten yang kami angkat yaitu upayapengenalan keberagaman budaya salah satunya wayang. Program Sluman-Slumun sendirimerupakan tayangan yang bercerita mengenai tempat-tempat yang memiliki history atausejarah di Semarang dan menceritakan keberagaman budaya yang ada di Semarang. SepertiKoboy yang merupakan salah satu komunitas wayang yang berpusat di Sobokartti.3) Pemilihan narasumber dan tokoh utama dalam video News Features mempunyaiperanan penting. Keberadaan narasumber dapat mempermudah sutradara dalammengembangkan ide cerita dan menjadi daya tarik dalam cerita. Pihak-pihak yang menjadinarasumber dalam News Features ini merupakan sosok-sosok yang mempunyai kepedulianyang besar terhadap perkembangan kesenian wayng dan memiliki pemahaman yang baikberkaitan dengan upaya-upaya untuk menjaga eksistensi kesenian wayang. Dalam penentuannarasumber diperlukan riset pendahuluan terlebih dahulu untuk mengetahui kapasitas dankompetensi para narasumber dalam menjawab permasalahan yang kami angkat.4) News Features “Koboy Melukis Pusaka Jawa” ini dibuat dengan menyasar targetaudience dengan kisaran umur 18-35 baik laki-laki maupun perempuan tanpa membedabedakankelas ekonomi maupun social. Dalam pembuatan News Features ini bahasa yangdigunakan bersifat formal dan informatif yang disesuaikan dengan karakteristik audience.Pemilihan bahasa tersebut diharapkan audience bisa memahami makna yang disampaikandalam News Features iniiDAFTAR PUSTAKABukuAyawaila, Gerzon R. (2008). Dokumenter dari Ide sampai Produksi. Jakarta : FFTV -IKJPRESSMuhammad, Djawahir. (2009). Semarang Sepanjang jalan kenangan, Semarang : PustakaSemarang 16Muhammad, Djawahir. (2011). Gambang Semarang Sebagai seni pernakan Cina, (belumditerbitkan)Morisson. (2008). Manajemen Media Penyiaran : Strategi Mengelola Radio dan Televisi.Jakarta : Kencana.Wibowo, Fred. 1997. Dasar-Dasar Produksi Program Televisi. Jakarta : PT GramediaWidiasarana IndonesiaWidagdo, Bayu dan Gora Winastwan (2007). Bikin Film Indie itu Mudah. Yogyakarta : C.VAndi OffsetJurnalDhanang Respati Puguh, dkk, 1999. Penataan Kesenian Gambang Smearang sebagai Identitas BudayaSemarang. laporan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi. Tahun I Anggaran 1998/1999.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Diponegoro.InternetBudiman, Amen. 1974. “Gambang Semarang”, dalam Suara Merdeka 9 Pebruari 1974Er Maya Nugroho, 2010. “Gambang Semarang Tak Lagi Gamang”, dalam Suara Merdeka.comhttp://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2010/12/08/723/Gambang-Semarang-Tak-Lagi-GamangJodhi Yudono, 2010. “Gambang Semarang yang Gamang” dalam Kompas.com.http://nasional.kompas.com/read/2010/09/18/06273414/iTimur Arif Riyadi, 3013. “Regenerasi Tak Boleh Mati”, dalam Jurnal Nasional, Sabtu, 5 Jan 2013, diunduh pada 27 april 2013, http://www.jurnas.com/halaman/12/2013-01-05/231037Timur Arif Riyadi, 3013. “Klangenan bersama Gambang Semarang”, dalam Jurnal Nasional, Sabtu, 5Jan 2013, di unduh pada 27 april 2013, http://www.jurnas.com/halaman/12/2013-01-05/231036http://www.tempo.co/read/news/2012/12/13/112447876/Kesenian-Gambang-Semarang-Kembali-Dimunculkan
Correlation between Media Exposure, Communication Intensity with Health Experts, Perceived Susceptibilty, and Behavioral Intention of Pregnant Women to Perform HIV Testing in Semarang Intan Amanda; Dra. Sri Widowati Herieningsih, MS
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.23 KB)

Abstract

Many of HIV cases has happened in Semarang and it becomes the background of this research. The problem that appears is the low intention of pregnant women to perform HIV testing. The purpose of this study is to determine the correlation between media exposure, communication intensity with health experts, perceived susceptibilty, and behavioral intention of pregnant women in Semarang to perform HIV testing. The concept of selective exposure, a reference group theory and the theory of health belief model are used to explain the relationship/correlations between media exposure, the communication intensity with the health experts, perceived susceptibilty, and behavioral intention of pregnant women to perform HIV testing in Semarang. This study uses the non-probability sampling with incidental sampling technique. The population in this study is the pregnant women in Semarang, who have gotten the media exposure regarding information about HIV, with 60 respondents become the sample. Pearson correlation test analysis is used to test the hypothesis.The variable of media exposure does not significantly correlate with the behavioral intention of pregnant women in Semarang to perform HIV testing, because the significance value shows p=0.147 (p>0.05). The communication intensity with the health experts variable positively corelates with the behavioral intention of pregnant women in Semarang to perform HIV testing, because the significance value shows p=0.025 (<0.05). The correlation value of 0.290 indicates a weak correlation between the two variables. The variable of perceived susceptibilty positively correlates with a variable interest test for HIV in pregnant women in the city, because the significance value shows p=0.002 (<0.05). The correlation value of 0.391 indicates a weak correlation between the two variables.Advice given in accordance to results of research suggests health experts to take the initiative to increase the communication intensity with pregnant women, as well as to provide information and give more intensive persuasion to pregnant women on the importance of HIV testing.
HUBUNGAN INTENSITAS SOSIALISASI PENCEGAHAN HIV/AIDS DAN PERSEPSI TENTANG KREDIBILITAS KONSELOR TERHADAP SIKAP MENDUKUNG IBU RUMAH TANGGA MENGENAI PENCEGAHAN HIV/AIDS DI KABUPATEN BANJARNEGARA Ainani Shifa Izazi; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.786 KB)

Abstract

HIV / AIDS is one of the infectious diseases whose sufferers continue to increase year by year, including in Banjarnegara Regency. The increase in Banjarnegara Regency alone reached 85% until 2018 and housewives were the second highest number of cases. Therefore, prevention measure is necessary so that the infection is not widespread. This study aimed to examine whether the intensity of socialization and the perception of counselor credibility could influence the attitude of housewives in supporting the prevention of HIV / AIDS. Some of the theories used for reference in this study include information-integration theory, communication competency theory, and Source of credibility theory. The type of research was explanatory, which is the type of research that explains the causal relationship between variables studied by conducting hypothesis testing using the coefficient formula and Kendall Tau-B. It was obtained that there was no relationship between the intensity of socialization and the attitude of housewives to HIV / AIDS prevention. This result indicated that the socialization performed only provided little knowledge or only made little impact on cognition and did not arrive at a decision or attitude. However, perception of the counselor credibility and the attitude of housewives had a very significant and strong relationship. This result implied that respondents trusted HIV counselors strongly as people who were truly credible in handling, preventing HIV/AIDS in in Banjarnegara District.
CLICKTIVISM SEBAGAI DRAMATURGI DI MEDIA SOSIAL Zakiyyah, Kuni; Santosa, Hedi Pudjo; Yulianto, Much; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.169 KB)

Abstract

Media sosial adalah salah satu medium online yang paling banyak digunakan saat ini dengan angka pengguna yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Media sosial dipercaya telah membawa bentuk baru dalam dunia komunikasi, termasuk sosiologi komunikasi. Di Indonesia dan beberapa negara lainnya, penggunaan media sosial dalam sebuah aktivisme telah menjadi hal yang lumrah. Aktivisme suatu gerakan sosial menggunakan fitur-fitur yang terdapat dalam media sosial untuk mencari anggota/relawan dan mendukung penyebaran awareness dari gerakan agar menyebar luas (viral). Dengan tujuan tersebut, aktivisme dalam suatu gerakan sosial rentan berubah menjadi clicktivism, yaitu kemauan untuk menunjukkan kepedulian dari suatu gerakan sosial melalui aktivitas di dunia maya (click), tetapi tidak diimbangi dengan pengorbanan yang berarti (action) dalam membuat suatu perubahan sosial di dunia nyata. Banyaknya clicktivism yang terjadi di media sosial seakan memberi peluang bagi pelaku (clicktivist) untuk memanfaatkan aktivitas tersebut sebagai upaya unjuk diri, seperti yang dijelaskan dalam konsep dramaturgi oleh Erving Goffman (1959). Penelitian bertujuan untuk mengetahui makna dan gagasan-gagasan clicktivist yang menjadikan clicktivism sebagai dramaturgi di media sosial. Penelitian ini menggunakan model penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode analisis semiotika oleh Roland Barthes (1957). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan beberapa post di media sosial tentang gerakan Ice Bucket Challenge pada Agustus 2014. Data kemudian diinterpretasi menggunakan konsep analisis mitos dalam studi semiotika Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa clicktivist menggunakan aksi dalam gerakan Ice Bucket Challenge sebagai upaya untuk menampilkan diri, seperti yang dijelaskan Goffman dalam konsep dramaturgi. Clicktivist menggunakan front stage untuk mempercantik tampilan dirinya melalui aksi yang dilakukan, atau pakaian dan atribut yang dikenakan. Clicktivist juga menggunakan impression management agar dipersepsikan secara positif oleh penonton sesuai dengan gambaran/image ideal dirinya. Impression management ditunjukkan melalui pakaian/atribut yang dikenakan, juga dari dialog dan gesture yang ditampilkan clicktivist. Sedangkan back stage merupakan fakta-fakta yang terdapat dalam aksi Ice Bucket Challenge yang dilakukan clicktivist. Fakta ini seringkali tidak sesuai dengan apa yang diungkapkan clicktivist pada front stage-nya Kata kunci: media sosial, clicktivism, Ice Bucket Challenge, dramaturgi
KEKERASAN SIMBOLIK MEDIA ONLINE (Analisis Framig Berita Fenomena LGBT dalam Portal Berita Republika Online) Eunike Cahya Utaminingtyas
Interaksi Online Vol 5, No 3: Agustus 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.428 KB)

Abstract

Online media is the latest form of mass media which have the ability to dominate a value and form public perception. Media’s ability to form this public perception is also done by highlighting Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender (LGBT) community in Indonesia. Media did not only construct reality on LGBT phenomenon, but also create symbolic violence with order of words in its news texts. Normatively, media has responbility to report LGBT news that cover both sides and does not discriminative. The purpose of this research is to describe the frame carried by Republika Online on LGBT phenomenon news as form of symbolic violence in media. This research uses Queer Theory and some concepts of symbolic violence in the media. Critical constructivism paradigm and text analysis method of framing model of Zhondang Pan and Gerald M. Kosciki were used to analyze the data. The result shows that Republika Online constructed LGBT phenomenon reality with sociology frame that described LGBT as a social disease and provide the description as suspect in their news. Form of symbolic violence are found on all four framing structures: 1) Syntactic Structure by framing information which found in quotation and news source 2) Script Structure by telling LGBT phenomenon in one perspective which found on how and why 3) Thematic Structure by writing information detail on counter perspective 4) Rhetoric Structure by emphasizing negative tone on LGBT phenomenon information which found on choice of words and methaphor. Other findings was Republika Online did domination of value as form of symbolic violence by monopoly of information by doing euphimization and censorship that gives no room for pro-LGBT views. Element of sexuality was empashized in news on LGBT phenomenon that is only made for media commodities.
KECEMASAN KOMUNIKASI (COMMUNICATION APPREHENSION) FANS DALAM INTERAKSI LANGSUNG DENGAN IDOLA Rika Kurniawati; Hedi Pudjo Santosa; Triono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.482 KB)

Abstract

KECEMASAN KOMUNIKASI (COMMUNICATION APPREHENSION)FANS DALAM INTERAKSI LANGSUNG DENGAN IDOLA(Studi Terhadap Fans Korean Pop di Indonesia)Rika Kurniawati1Abstrak:Kpop berasal dari musik pop Korea yang telah dimodernisasi dengan sedikit gaya Western sepertihiphop atau rock. Permasalahan yang ingin diselidiki dalam penelitian ini adalah mengapa kecemasankomunikasi muncul di dalam interaksi fans dengan idolanya, faktor-faktor apa yang mempengaruhidan tipe-tipe kecemasan yang terjadi sehubungan dengan perubahan media interaksi yangdilakukan.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menjelaskan mengenai kecemasankomuniaksi yang terjadi, faktor-faktor yang berpengaruh di dalamnya serta tipe-tipe kecemasankomunikasi yang terjadi sehubungan dengan adanya perubahan media interaksi. Denganmenggunakan metoda fenomenologi, penulis berusaha menjawab permasalahan tersebut denganmenggunakan teori kecemasan komunikasi sebagai salah satu penghambat dalam prosesberkomunikasi dan kajian fans dan fandom. Sementara obyek penelitian adalah lima orang fans yangbersedia menjadi informan dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kecemasan yang terjadi sangat bervariasi pada semua informan. Kecemasankomunikasi yang terjadi dalam interaksi fans cenderung disebabkan oleh adanya ketidakpastian yangterjadi terkait dengan komunikasi yang sedang berlangsung atau yang sedang diantisipasi. Perbedaanmedia interaksi yang digunakan, dari computer mediated communication menjadi interaksi langsungtatap muka, bisa memicu timbulnya kecemasan namun tidak berpengaruh terhadap tipe-tipekecemasan komunikasi yang terjadi.Key Words: Kecemasan Komunikasi; fans, fandom, dan kajian fans; pengurangan ketidakpastianAbstract:Kpop is the Korean pop music which has been modernized with a Western style such as hip-hop orrock.. The problems investigated in this study is why communication anxiety appears in theinteraction with the fans of his idol, the factors that affect and the types of anxiety that occurs inconnection with the changes made of media interaction.The objectives of this research is to explainthe communication anxiety happens, the factors that influence in it as well as the types ofcommunication anxiety that occurs in connection with a change of media interaction.By using aphenomenological method, the authors sought to answer these problems by using the theory ofcommunication anxiety as one of the obstacles in the process of communicating and study fans andfandom. While the object of the study is five fans who are willing to become informants with differenteducational backgrounds.The results showed that the anxiety occurs with varies greatly in allinformants. Communication anxiety that occurs in the interaction of fans likely to be caused by theuncertainties that occur related to the ongoing communications or are anticipated. Differences in theinteraction of media used, from computer mediated communication to face-to-face direct interaction,can lead to anxiety, but had no effect on the types of communication that occur anxiety.Key words: Communications apprehension; anxiety; fans, fandom and fans studies; uncertainty.1 Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro angkatan tahun 2008 PendahuluanCommunication Apprehension sendiri seringkali diartikan sebagai perasaan takut,gugup dan cemas ketika hendak berkomunikasi dan atau berinteraksi dengan orang lain.Selama ini fans Kpop yang ada di Indonesia hanya berinteraksi dengan idola mereka melaluimedia online/SNS (social networking system) seperti Twitter, Cyworld, Me2day, Weibo dll.Kesempatan untuk bertemu langsung dengan idola tentu saja tidak sebanyak fans lain yangada di Korea secara langsung.Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut,mengapa CA terjadi dan muncul pada fans Kpop dengan idolanya dalam interaksikomunikasi mereka? Kemudian faktor apa saja yang menyebabkan seorang fans mengalamikecemasan berkomunikasi? Lalu dengan adanya perubahan media interaksi dan pola interaksiyang dilakukan, pengaruh apa yang muncul di dalam tipe kecemasan berkomunikasi yangdialami oleh individu?Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena kecemasan komunikasi antarafans terhadap idolanya, mendeskripsikan penyebab munculnya kecemasan berkomunikasiseorang fans serta mendeskripsikan mengenai perbedaan media interaksi yang digunakansebelumnya dan pola interaksi langsung yang terjadi dengan tipe-tipe kecemasanberkomunikasi yang dialami.Dalam berkomunikasi tatap muka, seringkali ditemui adanya kecemasan komunikasiseorang individu terhadap individu lainnya.Ada 4 (empat) jenis kecemasan komunikasi yang dapat diidentifikasi, yaitu:1. Traitlike CA, merupakan kecenderungan kecemasan komunikasi yang relatifstabil dan panjang waktunya ketika seseorang dihadapkan pada berbagai kontekskomunikasi.2. Context-based CA, yaitu kecemasan komunikasi yang muncul ketika individuindividuharus berbicara di depan umum (public speaking), tetapi dia tidakmengalami kecemasan pada tipe-tipe komunikasi yang lain. Atau dalam istilahlain, kecemasan komunikasi yang dialami oleh tipe ini akan berubah konteksnya.3. Audience-based CA, merupakan kecemasan komunikasi yang dialami olehseseorang ketika ia berkomunikasi dengan tipe-tipe orang tertentu tanpamemandang waktu atau konteks.4. Situational CA, merupakan kecemasan komunikasi yang berhubungan dengansituasi ketika seseorang mendapatkan perhatian yang tidak biasa (unusual) dariorang lain.Fans adalah seseorang yang memiliki ketertarikan yang loyal pada suatu hal(Jenkins, 2002). Mat Hills (Fans Cultures, 2002) mendefinisikan fans sebagai seseorang yangterobsesi dengan bintang, selebriti, film, acara TV atau band; seseorang yang bisamenghasilkan penyebaran informasi di dalam fandom mereka, dan mampu menyitir kalimatatau lirik, bab dan sajak favorit. MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untukmenjelaskan fenomena melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Subjek penelitian adalah para fansKpop di Indonesia tanpa terkait batasan tempat. Pemilihan informan akan dilakukan denganmemperhatikan kualifikasi bahwa calon informan tersebut sudah menjadi fans Kpop minimalselama satu tahun dan sudah pernah bertemu dengan idolanya secara langsung baik melaluikonser maupun acara-acara lainnya.Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan informan. Sementara proses analisis dan interpretasi datamenggunakan metode yang dikemukakan oleh Von Eckartsberg (1986)(dalam Moustakas,1994) yang melibatkan tahapan sebagai berikut:1. Permasalahan dan Perumusan Pertanyaan Penelitian (The Problem and QuestioningFormulation: The Phenomenon).2. Data yang menghasilkan situasi: Teks Pengalaman Kehidupan (The data generatingSituation:The Protocol Life Text).3. Analisis data: Eksplikasi dan Interpretasi (The Data Analysis: Explication andInterpretating) Hasil PenelitianPemilihan informan berdasarkan 5 orang informan dengan pembagian 2 informanmelalui wawancara langsung sementara 3 informan lainnya dengan wawancara melaluichatting.Informan I dan IV menempatkan idola sebagai sosok teman dan atau saudara yangharus didukung dan sesekali dikritik dengan candaan, namun Informan III dan V masihmenempatkan sosok idola sebagai orang asing yang memiliki jarak dengan mereka meskipunsebagai fans. Informan II mengaku malah kadang dirinya menganggap jika sosok-sosok yangdia lihat di layar kaca atau laptop itu hanyalah tokoh rekaan atau khayalan yang tak mungkinbisa dia temui secara nyata di hidupnya.Bentuk outcomes dari CA yang dialami oleh informan adalah communicativedisruption yang berupa terbata-bata atau stuttering, stuck for words atau hanya bengong danmembeku di tempat sementara fans-fans lain di sekitarnya berusaha menarik perhatian idola,serta talking too much atau bisa dikategorikan dalam kata histeris.Informan I, II, IV dan V mengalami CA berdasarkan pada trait-trait situationalkarena mereka mengantisipasi interaksi dengan orang lain sementara Informan III mengalamiCA berdasarkan trait personal yaitu anxiety muncul dari adanya strong negative expectationterhadap idola yang nantinya hendak berinteraksi langsung dengan dirinya.Informan I dan IV seolah membentuk sebuat self protector dengan mengungkapkanjika mereka tidak berharap muluk-muluk akan idola yang mengenal mereka secara personaldan bahkan menjadi pasangan mereka. Informan II masih merasakan jarak antara dirinya danidola sehingga saat dirinya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan idola dirinya justrumembeku dan cenderung menghindari kontak atau interaksi yang mungkin timbul. InformanIII merasakan hal yang sama dengan Informan II, namun dirinya mampu mengatasi perasaantersebut pada saat Informan III berada di depan idolanya tepat dan melakukan interaksi yanglebih intens seperti percakapan singkat, kontak mata dan high-five serta jabatan tangan.Informan V mengaku dirinya sudah merasa biasa saat menghadiri konser karenasudah terhitung berkali-kali dia mengikuti konser idola Kpop kesukaannya. Informan Vmengatakan jika dirinya merasa deg-degan dan makin histeris justru ketika teriakannyaditanggapi oleh idolanya dan mereka melihat ke arah posisi Informan V dalam arena konsertersebut. PembahasanBerdasarkan temuan hasil penelitian, kecemasan komunikasi terjadi dalam faseperubahan interaksi antara fans terhadap idola yang berawal dari interaksi tak langsung danlangsung melalui media online ke interaksi langsung yang berupa komunikasi tatap mukadengan berbagai variasi.Informan I dan Informan IV menyaring segala informasi dan pengetahuan tentangidola yang diterimanya setiap hari dengan cara yang berbeda. Informan I menempatkanstandar humanis bagi idolanya, dalam artian dia menganggap idolanya sebagai seorangsaudara dan sahabat, bahwa seorang idola juga membutuhkan sosok pendamping hidupnantinya, dan bahwa dia hanya sebagai fans dan bukan kekasih mereka. Dengan pikiranpikirantersebut Informan I berusaha melindungi dirinya sendiri dari rasa kecewa dan jugamenunjukkan batas penerimaan penuh atas idolanya sebagai seorang manusia, bukan hanyaperformer di atas panggung. Leon Festinger (dalam West & Turner, 2009) menamakanperasaan yang tidak seimbang ini sebagai disonansi kognitif atau cognitive dissonance. Halini merupakan perasaan yang dimiliki oleh orang ketika mereka ‘menemukan diri merekasendiri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui, ataumempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang mereka pegang’.Kecemasan komunikasi terjadi dalam interaksi Informan I terhadap idola dengan parameteryang dialami bahwa secara physiological aspect dirinya mengalami perasaan deg-degan,keringat dingin serta tiba-tiba menangis karena luapan emosi, sementara untuk behavioralmanifestation dan cognitive dimension tidak ditemukan. Informan I juga mengalamicommunicative disruption yang berupa stuttering atau berbicara dengan intonasi tidak jelas.Informan IV mengaku dirinya mengalami kecemasan komunikasi pada awalpertemuan pertama dengan idola. Communicative disruption berupa stuck for words sertatiba-tiba menangis dan mengulang kalimat yang sama ‘apakah ini mimpi?’ saat pertemuanpertama. Beberapa parameter kecemasan komunikasi yang mampu ditemukan dalampengalamannya adalah secara physiological aspect dirinya merasa deg-degan, dan histeris,tidak ditemukan adanya cognitive dimension namun dalam behavioral manifestation dirinyamembentuk sebuah self protector yang mendoktrin bahwa dia hanya akan menerima segalainformasi dan pengetahuan yang menurut dia baik dan menolak menerima pengetahuan yangmengancam dan membuatnya merasa tidak nyaman serta kecewa. Hal ini juga sesuai denganteori cognitive dissonance yang terdapat dalam diri Informan I, namun bedanya Informan IVmenggunakan cognitive dissonance justru sebagai penangkal kecemasan komunikasi. Denganadanya self protector Informan IV mengaku dirinya merasa lebih nyaman dalam beraktivitassebagai fans karena dia tahu semua idola itu memiliki sisi baik dan sisi buruk, sehingga yangdia butuhkan hanya menerima sisi baik dan membiarkan sisi buruk mereka tanpa merasatakut akan kecewa.Informan III juga mengalami kecemasan komunikasi dalam interaksi langsungnyadengan idola. Berdasarkan trait personal dari informan, anxiety muncul dari adanya strongnegative expectation yaitu pada saat fanmeet berlangsung dia histeris dan deg-degan karenaakan berhadapan langsung dengan idola dan sentuhan tangan, tapi saat berhadapan langsungjustru deg-degan hilang dan terasa biasa seperti menghadapi teman lama. Informan III tidakmengalami outcomes berupa communicative disruption yang jelas namun dia mengalamibeberapa parameter dari CA seperti physiological aspect berupa deg-degan, keringat dingin,panik dan cognitive dimension yang berupa merasa minder karena bentuk badannya yanglebih kecil dari fans lain, merasa idola tak akan memberi perhatian kepada dirinya. Sementarabehavioral manifestation tidak ada.Informan III merasa minder dengan fans lain yang memiliki penampilan lebih tinggidan dinilai lebih menarik dari dirinya, sehingga dia takut idolanya tidak akan menanggapiatau memberinya perhatian. Pertemuan pertama yang akan Informan III hadapi dengan idolajuga sarat dengan ketidakpastian, Informan III masih menduga-duga seperti apakahtanggapan dari idola yang akan dia terima nanti ketika sesi high-five dan jabat tanganberlangsung. Karena ketidakpastian tersebut kemudian timbul suatu kecemasan komunikasi,apakah nantinya idola yang dia hadapi ramah? Apakah dia bisa menerima perhatian dansegala perasaaan cintanya yang disampaikan melalui bingkisan serta ucapan dalam bahasainggris? Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat Informan III gugup dan berkeringatdingin.Namun kecemasan komunikasi tersebut mampu diatasi seiring dengan hilangnyaketidakpastian yang ditakutkan. Tanggapan bagus yang Informan III terima saat berkontakmata membuatnya merasa sedikit tenang sehingga segala kegugupan dan perasaan kacauyang dia alami sesaat sebelum sesi high-five pun sirna.Bentuk outcomes dari CA yang Informan II alami adalah communicative disruptionyang berupa stuck for words atau hanya bengong dan membeku di tempat sementara fansfanslain di sekitarnya berusaha menarik perhatian idola. CA muncul pada Informan II ketikadia berhadapan dengan seseorang yang dia anggap lebih tinggi posisinya dari dirinya, dalamhal ini Informan II selalu berpikir jika idolanya tersebut seolah adalah tokoh dunia khayalanyang hidup di dunia yang berbeda dengan dunia tempat dia hidup. Beberapa parameter CAyang dialami bisa dilihat dari physiological aspect berupa perasaan deg-degan, badanmembeku serta terasa kaku, dan tangan gemetar. Sementara parameter lain yang berupabehavioral manifestation bisa dilihat dari caranya menghindari interaksi dengan idola dengantidak menarik perhatian si idola tersebut (avoiding communication) dan parameter cognitivedimension tidak ditemukan.Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, menurut McCroskey (1977b) (dalamHoneycutt, Choi dan DeBerry, 2009), kecemasan komunikasi dapat didefinisikan sebagaisebuah level ketakutan atau kecemasan individu dengan komunikasi, yang terjadi serta yangsedang diantisipasi, dengan orang lain atau orang banyak. Kunci penting dalam pernyatantersebut adalah ‘komunikasi yang diantisipasi’, sehingga bisa diambil kesimpulan bahwakecemasan yang disebabkan oleh komunikasi yang akan terjadi bisa sekuat interaksisebenarnya. Kalimat pengandaian, perasaan mengantisipasi, kesan pertama, merupakankualitas-kualitas dari Imagined interaction (IIs). Honeycutt (2003) mendefinisikan ImagineInteraction sebagai proses kognisi sosial di mana seseorang membayangkan dan oleh karenaitu secara tidak langsung telah memiliki pengalaman dalam mengantisipasi ataupun interaksikomunikasi dengan orang lain. Dalam definisi tersebut, dapat dilihat bahwa kecemasankomunikasi dapat memiliki hubungan dengan Imagined Interaction, karena seseorang mamputerpengaruh secara langsung oleh pengalamannya sendiri dalam mengantisipasi sebuahinteraksi melalui imajinasinya atau imajinasi orang lain. Jika Honeycutt mengungkapkanbahwa interaksi yang dibayangkan mampu mengurangi tingkat kecemasan yang terjadisehubungan dengan interaksi nyata yang akan terjadi, maka dalam pengalaman Informan IIsemua itu justru berbanding terbalik. Semua proses-proses Imagined Interactions yangInforman II alami tak mampu mengurangi kecemasannya ketika hendak bertemu denganidolanya. Nyatanya kecemasan komunikasi yang Informan II alami justru terlihat paling kuatsehingga dirinya hanya bisa membeku dan cenderung menghindari kontak mata atauperhatian si idola.Informan V telah berulang kali bertemu dengan idolanya dalam suatu konser.Bahakan Informan V juga mengikuti konser artis lain yang bukan idolanya karena ajakanteman atau promosi harga yang murah. Kecemasan komunikasi terjadi pada saat awalpertemuan pertama dengan parameter kecemasan komunikasi yang dialami Informan V untukphysiological aspect berupa histeris. Untuk behavioral manifestation dan cognitive dimensiontidak ditemukan. Communicative disruption terjadi saat teriakannya ditanggapi oleh idoladengan tatapan mata atau senyuman ke arahnya, biasanya berupa gagap dan menjadi semakinberteriak histeris. Informan V telah berkali-kali mengikuti konser sehingga perasaan degdegankarena cemas berganti dengan perasaan deg-degan karena antusias dan terbawakehebohan suasana konser. Dari sini dapat ditarik kesimpulan jika ternyata kecemasankomunikasi tidak hanya terjadi pada interaksi yang sedang terjadi atau yang diantisipasi,melainkan terjadi variasi kecemasan komunikasi dalam penerimaan feedback.Dari hasil penelitian ditemukan bahwa beberapa penyebab munculnya kecemasankomunikasi dalam interaksi langsung antara fans terhadap idola adalah sebagai berikut:a) Perubahan media interaksi yang dilakukan dari computer mediated communicationmenjadi interaksi tatap muka menyebabkan adanya perasaan yang awalnya dekatnamun tiba-tiba merasa seolah menjadi sosok anonim yang asing.b) Meskipun Honeycutt (2003) telah mengemukakan hasil riset bahwa imaginedinteraction mampu mengurangi adanya kecemasan komunikasi yang timbul, namunternyata justru imagined interaction yang berlebihan pun juga mampu menjadipenyebab seseorang mengalami kecemasan komunikasi.c) Adanya perasaan ketidakpastian yang timbul terhadap sosok idola yang akan ditemuiatau ketidakpastian akan komunikasi yang sedang diantisipasi oleh fans.d) Adanya kasus istimewa, bahwa sosok idola memberi feedback terhadap umpanumpanyang dilontarkan juga memicu adanya kecemasan komunikasi.Dari semua kecemasan komunikasi yang terjadi, dapat dikelompokkan menjadi duatipe kecemasan komunikasi. Informan I, II, III, dan IV mengalami kecemasan komunikasikarena siapa yang mereka hadapi sementara Informan V mengalami kecemasan komunikasikarena apa yang dia dapatkan dari idola, yaitu adanya perhatian yang tidak biasa dari oranglain. Jadi bisa dikatakan Informan I, II, III, dan IV mengalami audience-based CA, bahwakecemasan komunikasi yang dialami terjadi karena dia berkomunikasi dengan tipe-tipe orangtertentu (idola) tanpa memandang waktu atau konteks. Sementara Informan V mengalamisituational CA, karena kecemasan komunikasi yang dia alami berhubungan dengan situasiketika dirinya mendapatkan perhatian yang tidak biasa (unusual) dari orang lain (idola). Darisemua deskripsi tersebut, mampu dirangkum pernyataan jika ternyata tipe media interaksi danperbedaan pola interaksi langsung yang dilakukan tidak berpengaruh pada adanya tipe-tipekecemasan komunikasi yang terjadi.PenutupPembahasan tentang temuan studi ini menghasilkan beberapa hal yang dapatdisimpulkan, yaitu:1) Communication apprehension atau kecemasan komunikasi, yangdidefinisikan sebagai ketakutan atau kecemasan terkait dengan komunikasilangsung atau komunikasi yang akan dan sedang dilakukan dengan oranglain, pada kenyataannya dialami oleh siapa saja tak terkecuali oleh fans.Perubahan media interaksi yang dilakukan dari computer mediatedcommunication menjadi interaksi tatap muka menyebabkan adanya perasaanyang awalnya dekat namun tiba-tiba merasa seolah menjadi sosok anonimyang asing.2) Kecemasan komunikasi yang terjadi dalam interaksi fans cenderungdisebabkan oleh adanya ketidakpastian yang terjadi terkait dengankomunikasi yang sedang berlangsung atau yang sedang diantisipasi. Ketikaketidakpastian di antara fans dan idola tersebut mampu diatasi makakecemasan komunikasi yang dialami juga mampu teratasi dengan lancar.3) Beberapa poin khusus yang terjadi mampu menggeser titik penyebabkecemasan komunikasi tak lagi karena ketidakpastian, namun justru karenadisonansi kognitif dan imagine interaction yang mereka ciptakan dalambenak individu itu sendiri. Hal menarik lainnya adalah, dalam beberapapenelitian terdahulu, imagine interaction justru dimunculkan sebagai salahsatu cara untuk mengatasi kecemasan komunikasi yang terjadi sementaradalam studi ini ditemukan bahwa imagined interaction merupakan salah satupenyebab munculnya kecemasan yang terjadi. Dalam studi ini jugaditemukan jika disonansi kognitif, selain menjadi salah satu penyebab adanyakecemasan komuniaksi yang terjadi, juga mampu digunakan sebagai solusiuntuk mengurangi kecemasan yang dialami.4) Kecemasan komunikasi tak hanya terjadi pada komunikasi yang diantisipasiatau sedang berlangsung, namun juga pada saat timbul feedback dari umpanumpanyang diberikan oleh fans.5) Perbedaan media interaksi yang digunakan, dari computer mediatedcommunication menjadi interaksi langsung tatap muka, bisa memicutimbulnya kecemasan namun tidak berpengaruh terhadap tipe-tipekecemasan komunikasi yang terjadi.Daftar RujukanBuku dan E-BookGriffin, EM. (2012). A First Look at Communication Theory, Eighth Edition. New York: Mc GrawHill.Hills, Matt. (2002). Fan Cultures. New york: Routledge.Honeycutt, J. M. (2003). Imagined Interactions: Daydreaming About Communication. Cresskill, NewJersey: Hampton.Husserl, Edmund. (1970). Logical Investigations (J.N. Findlay. Trans.) (vol. 1). New York:Humanities press.Jenkins, Henry. (1992). Textual Poachers: Television Fans and Participatory Culture. New York:Routledge, Chapman and Hall.Lewis, Glen and Christina Slade. (1994). Critical Communication. Australia: Prentice Hall Australia.Littlejohn, Stephen W and Karen A. Foss. (2008). Theories of Human Communication: InternationalStudent Edition. USA: Thomson Wadsworth.Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Morreale, Sherwyn P. Brian H. Spitzberg, J. Kevin Barge. Julia T. Wood, Sarah J. Tracy. (2004).Introduction to Human Communication: the Hugh Down School of Human Communication. Arizona,USA: Wadsworth Group.Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Method. Beverly Hills, CA: SAGEPublications.Artikel atau Bab dalam BukuHoneycutt, James M, Charles W. Choi, and John R. DeBerry (2009). Communication Apprehensionand Imagined Interactions. Dalam Communication Research Reports vol.26, No. 3 (228-236). NewYork: Routledge.McCroskey, J.C. (1982a). Oral Communication Apprehension: A Reconceptualization. Dalam M.Burgoon (Ed.), Communication Yearbook 6 (136-170). Beverly Hills, CA: Sage Publishers.McCroskey, James C. (1984). The communication apprehension perspective. dalam J. A. Daly, andJ. C. McCroskey (Eds.), Avoiding communication: Shyness, reticence, and communication, (pp. 13-38). Beverly Hills, CA: SAGE Publications.McCroskey, J. C. And Beatty, M. J. (1986). Oral Communication Apprehension. Dalam W. H. Jones,J. M. Cheek, & S. R. Briggs (Eds.), Shyness: Perspectives on Research and Treatment (279-293).New York : Plenum Press.Jurnal dan Artikel Media MassaMcCroskey,J.C. (1977). Oral Communication Apprehension: A summary of Recent Theory andResearch. Human Communication Research, 4,(78-96).McCroskey J.C. (2009). Communication Apprehension: What We Have Learned in the Last FourDecades. Human Communication Research 12(2), (179-187).

Page 47 of 157 | Total Record : 1563