cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
HUBUNGAN TERPAAN IKLAN PROVIDER DI TELEVISI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU IMITASI BAHASA IKLAN OLEH REMAJA Miftakhul Noor Alfiana; Sri Widowati Herieningsih; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.105 KB)

Abstract

Latar BelakangIklan dibuat agar konsumen kenal, ingat, dan percaya terhadap suatu produk sehinggamemiliki perasaan ingin seperti yang ditampilkan dalam iklan. Kemampuan persuasif iklanuntuk mempengaruhi persepsi khalayak, tercapai bila iklan tersebut mampu membangkitkanrasa suka terhadap produk yang ditawarkan. Walaupun demikian, daya tarik iklan di televisibelum tentu ditandai terjadinya transaksi pembelian produk yang ditawarkan, karena masihbanyak faktor yang diduga mempengaruhi persepsi akibat menonton iklan tersebut, diantaranyafaktor interaksi dengan teman sebaya. Dalam iklan terdapat bahasa-bahasa yang terkadangdianggap lucu, unik, ataupun khas sehingga kerap dibicarakan oleh remaja yang terkenaterpaan iklan. Oleh karena itu, jika remaja berinteraksi dengan teman sebayanya, dan dalaminteraksi tersebut membicarakan tentang iklan provider tertentu dan juga bahasa yangterkandung di dalam iklan, maka muncullah keinginan untuk meniru apa yang ada di iklan danapa yang diucapkan temannya yang menirukan bahasa iklan.Banyak pengiklan memandang televisi sebagai media yang paling efektif untukmenyampaikan pesan-pesan komersialnya. Salah satu keunggulannya adalah mampumenjangkau khalayak secara luas. Perkembangan kreativitas dalam iklan yang sangat pesatmenyebabkan munculnya banyak persaingan untuk membuat iklan yang lebih kreatif danefektif yang bisa diterima dan dipahami oleh khalayak, termasuk iklan provider. Iklan providerdalam perkembangannya senantiasa berisi kalimat-kalimat kreatif atau jargon tertentu namuntak jarang jargon atau kalimat iklan sebuah produk menjadi tren dan kerap dipakai dalampercakapan sehari-hari. Kata-kata dalam iklan akhirnya berdampak mempengaruhi targetaudiencenya. Kata-kata tersebut awalnya tidak komersil, namun akhirnya menjadi satu bagiandari komunikasi anak muda setelah beberapa oknum masyarakat mulai terpengaruh, lalumereka pun menggunakan kata-kata tersebut untuk berinteraksi dengan sesamanya.Pilihan bahasa sebagai peristiwa sosial tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktorlinguistik, tetapi juga oleh faktor-faktor di luarnya. Pilihan bahasa erat terkait dengan situasisosial masyarakat pemakainya. Perbedaan usia, tingkat pendidikan, dan status sosial seseorangdapat mempengaruhi pilihan bahasanya ketika berbicara dengan orang lain. Demikian pulasituasi yang melatarbelakangi sebuah pembicaraan dapat mempengaruhi bagaimana sebuahbahasa akan dipergunakan. Pengaruh faktor-faktor sosial maupun situasional terhadap pilihanbahasa ini menimbulkan adanya variasi-variasi pilihan bahasa.Penggunaan bahasa dalam komunikasi bersifat berubah-ubah, tidak tetap, dan manasuka.Maraknya penggunaan bahasa iklan sebagai bahasa sehari-hari dalam konteks komunikasipopuler bisa dipahami sebagai ekspresi kaum remaja yang bersifat pragmatis untukmenciptakan situasi pergaulan yang lebih cair dan akrab. Banyak sekali kalimat iklan yangmenjadi populer dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya saja kata-kata„Galau‟ pada iklan IM3 versi anti galau, „Lo-Gue-End‟ pada iklan IM3 versi lo gue end, „LikeThis Yoo‟ pada iklan XL versi like this, “Aku Tak Punya Pulsa” pada iklan Kartu As versidrama gak punya pulsa, “Kim Aku Galau Tanpamu” pada iklan IM3 versi anti galau , “Janganditawar” pada iklan Axis versi kanjeng mami, “Hemat beb” pada iklan Axis versi pacarkelewat hemat (pelit), yang menjadi sangat populer semenjak kemunculannya di iklan. Katakatatersebut ditirukan oleh remaja dan terbawa dalam kehidupan sehari-hari yang akhirnyamenjadi suatu alat untuk berinteraksi dengn sesamanya. Bahkan sebagian dari remaja tersebutmengaku menggunakan kata-kata dalam iklan itu untuk menghibur teman karena kata-katatersebut dianggap lucu, juga agar mereka dianggap keren oleh teman–temannya(Sumber:http://galih-seonega.blogspot.com/2012/04/komentar-mereka-remaja menirukaniklan.html diakses pada 20 Mei 2012).Terpaan media televisi dalam hal ini iklan provider di televisi secara tidak langsungmempengaruhi remaja untuk menirukan konten dalam iklan, termasuk bahasa,kalimat,ataupunjingle iklan. Di sisi lain, teman sebaya mereka juga menggunakan bahasa iklan dalampergaulannya sehari-hari. Disinilah penulis melihat permasalahan adanya hubungan antaraterpaan iklan provider di televisi dan interaksi teman sebaya dengan perilaku remaja menirubahasa iklan.II. Perumusan MasalahIklan bertujuan untuk memperkenalkan suatu produk, atau membangkitkan kesadaran akanmerek (brand awareness), membujuk khalayak untuk membeli produk yang ditawarkan danmemberikan informasi (Sudiana, 1986:6). Iklan berfungsi untuk menyampaikan informasitentang suatu produk kepada masyarakat, namun yang terjadi bukan hanya iklan tersebut yangdapat mempengaruhi masyarakat untuk melakukan pembelian, tetapi bahasa dalam iklan jugaikut merasuk ke dalam benak masyarakat terutama kaum remaja yang menggunakannya untukberkomunikasi dengan sesamanya. Remaja merupakan suatu kelompok yang sedang mencari jatidiri, dan berada di dalam masa transisi dimana sangat mudah terpengaruh dengan lingkungansekitarnya. Salah satu yang mempengaruhi pola perilaku dari remaja ini adalah teman-temansebayanya. Melalui interaksi dengan teman sebayanya, mereka dengan mudah meniru bahasayang dimunculkan lewat sebuah iklan. Remaja sering melakukan kegiatan bersama-sama dalamkelompok teman sebaya, menghabiskan waktu bersama-sama sehingga kecenderungan untukmeniru apa yang dilakukan teman-temannya lebih besar, dalam hal ini adalah kecenderunganuntuk meniru bahasa iklan. Disinilah menarik untuk dikaji, bagaimanakah hubungan terpaaniklan provider dan interaksi teman sebaya dengan perilaku remaja mengimitasi bahasa iklandalam pergaulannya sehari-hari.III. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan dan interaksi temansebaya dengan perilaku imitasi bahasa iklan oleh remaja.IV. Signifikansi Penelitian1. Signifikansi TeoritisSecara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangsih bagi disiplinilmu komunikasi yaitu mengenai perilaku imitasi remaja yang dipengaruhi oleh terpaan iklandi televisi dan interaksi dengan teman sebaya. Teori Efek Media Massa dan Teori Imitasidapat digunakan untuk menunjukkan adanya keterkaitan terpaan iklan di televisi denganperilaku menirukan bahasa iklan yang dilakukan oleh remaja. Teori Kelompok Rujukan(Peer Group) digunakan untuk menunjukan bahwa perilaku individu didasarkan pada sikapdan persepsi kelompok untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang bersangkutan.Dalam hal ini kelompok rujukan tersebut adalah teman sebaya. Penelitian ini diharapkandapat membuka jalan dan memberikan konstribusi bagi penelitian – penelitian lanjutandengan bidang kajian yang sejenis.2. Signifikansi PraktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan bahwa perilaku imitasibahasa iklan berhubungan dengan terpaan iklan dan interaksi teman sebaya.3. Signifikansi SosialSecara sosial, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi masyarakatterutama para remaja agar bisa memahami dan menyaring bahwa tidak semua yang munculdi televisi patut ditiru.V. Hipotesis1. Ada hubungan antara terpaan iklan provider di televisi dengan perilaku imitasi bahasaiklan yang dilakukan oleh remaja. Artinya, semakin tinggi intensitas terpaan iklan makasemakin tinggi pula perilaku imitasi bahasa iklan yang dilakukan oleh remaja.2. Ada hubungan antara interaksi teman sebaya dengan perilaku imitasi bahasa iklan yangdilakukan oleh remaja. Artinya,semakin sering remaja berinteraksi dengan temansebayanya maka semakin tinggi perilaku imitasi bahasa iklan yang dilakukan olehremaja.3. Ada hubungan antara terpaan iklan provider dan interaksi teman sebaya dengan perilakuimitasi bahasa iklan. Artinya semakin tinggi terpaan iklan dan semakin tinggi interaksidengan teman sebaya maka semakin tinggi pula perilaku imitasi bahasa iklan yangdilakukan oleh remaja.Terpaan Iklan Providerdi TelevisiInteraksi Teman SebayaPerilaku ImitasiBahasa IklanVI. Tipe PenelitianTipe penelitian yang digunakan adalah eksplanatori yang bertujuan untuk mengetahui adanyahubungan antara terpaan iklan provider di televisi dan interaksi teman sebaya dengan perilakuimitasi bahasa iklan oleh remaja.VII. PopulasiPopulasi pada penelitian ini adalah remaja berusia 13-18 tahun yang bertempat tinggal di KotaSemarang yang berjumlah 101.495 (Sumber: Data Bappeda Kota Semarang tahun 2010). Berikutrincian data tersebut:Tabel 1.1 Banyaknya Penduduk Menurut Kelompok Usia 13-18 tahundi Kota Semarang Tahun 2010Kecamatan JumlahPenduduk Usia13-18 tahunMijen 5.988Gunungpati 5.676Banyumanik 8.046Gajah Mungkur 6.341Smg. Selatan 5.754Candisari 5.399Tembalang 7.293Pedurungan 7.161Genuk 5.900Gayamsari 4.562Smg. Timur 7.299Smg. Utara 6.203Smg. Tengah 7.175Smg. Barat 6.975Tugu 5.536Ngaliyan 6.890Total 102.248(Sumber: Bappeda Kota Semarang tahun 2010)VIII. SampelSampel dalam penelitian ini adalah remaja yang tinggal di Kecamatan Banyumanikdan terkena terpaan iklan provider di televisi. Diambil Kecamatan Banyumanik karena diwilayah tersebut terdapat paling banyak remaja berusia 13-18 tahun dibandingkankecamatan lainnya.IX. Teknik Pengambilan SampelTeknik pengambilan sampel yang digunakan adalah probability sampling dengan multistagerandom sampling, yakni teknik yang menarik kluster tempat individu berada. Pengambilansampel pada kluster yang lebih kecil yaitu Kecamatan Banyumanik. Kecamatan Banyumanikmerupakan populasi pertama, terdapat beberapa kelurahan yaitu Pudakpayung, Gedawang,Jabungan, Padangsari, Banyumanik, Srondol Wetan, Pedalangan, Sumurboto, Srondol Kulon,Tinjomoyo, Ngesrep. Lalu diambil satu kelurahan secara acak yaitu Kelurahan Sumurboto.Kelurahan Sumurboto memiliki 774 remaja (367 remaja putri dan 407 remaja putra) berusia13-18 tahun. Sehingga total sampel dihitung dengan rumus berikut:n = __ N___1+N.e²= ____774____1+774(0.1)²= 88,5  dibulatkan 89 orangKeterangan:n = Ukuran sampelN = Ukuran populasiE = Kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan sampel yang dapat ditolerir,ditentukan sebesar 10%.Kelurahan Sumurboto memiliki 5 RW, kemudian diacak lagi diambil RW IV dimanadi dalam RW IV terdapat 11 RT. Lalu masing-masing akan diambil 8 sampel dari 10 RT dan9 sampel dari 1 RT sehingga berjumlah 89 sampel.X. Kesimpulan1. Terpaan iklan provider di televisi ternyata berhubungan terhadap perilaku imitasi bahasaiklan oleh remaja. Hal ini dibuktikan dengan perhitungan melalui uji statistik dimanadiperoleh hasil koefisien korelasi sebesar 0,313 dan probabilitas kesalahan (sig) sebesar0,000. Hal ini menunjukkan bahwa terpaan iklan provider yang tinggi menjadikanperilaku imitasi bahasa iklan juga tinggi.2. Interaksi dengan teman sebaya berhubungan dengan perilaku imitasi bahasa iklan olehremaja. Hal ini dibuktikan dengan perhitungan melalui uji statistik dimana diperolehhasil koefisien korelasi sebesar 0,319 dan probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000.Hal ini menunjukkan bahwa tingginya interaksi teman sebaya menjadikan perilakuimitasi bahasa iklan tinggi, begitu pula sebaliknya.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara terpaan iklan provider ditelevisi (X1) dan interaksi teman sebaya (X2) dengan perilaku imitasi bahasa iklan (Y)yang dibuktikan dengan hasil koefisien konkordansi sebesar sebesar 0,77 dan nilaisignifikansi penelitian sebesar 0,000. Hasil ini menunjukkan ada hubungan yangsignifikan antara terpaan iklan dan interaksi dengan teman sebaya dengan perilakuimitasi bahasa iklan oleh remaja.DAFTAR PUSTAKAAl-Ghifari, Abu. 2003. Remaja Korban Mode. Bandung:Mujahid Pers.Deddy, Mulyana. 2001. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar.Bandung:Remaja Rosdakarya.Gerungan,Dr.W.A. 1996. Psikologi Sosial.Bandung:PT.Eresco.Hidayati, Arini. 1998. Televisi dan Perkembangan Sosial Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Ibrahim, Idi Subandy . 2007.Budaya Populer Sebagai Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Liliweri, Alo .1992. Dasar–Dasar Komunikasi Periklanan. Bandung: Citra Aditya Bakti.Liliweri, Alo. 2002. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta: LKiS PelangiAksara.McQuail.1996. Teori Komunikasi Massa:Suatu pengantar. Jakarta:Erlangga.Nurudin.2007.Pengantar Komunikasi Massa.Jakarta:PT.Grafindo Persada.Onong,Uchyana Effendi.1993.Ilmu,Teori,dan Filsafat Komunikasi.Bandung:Citra Aditya Bakti.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi . Bandung:Remaja Rosdakarya.Rohim, Syaiful. 2009. Teori Komunikasi: Ragam dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.Santoso, Singgih. 2005. Buku Latihan SPSS Statistik Non-Parametrik. Jakarta: Elex MediaKomputindo.Sudiana, Dendi.1986.Komunikasi Periklanan Cetak. Bandung : Remadja Karya.Susanti H., Esthi.1993. Anak Saya Jenius : Kumpulan Masalah Orang Tua dan Anak. Jakarta :Rasindo.WA.,Gerungan. 2004. Psikologi Sosial. Bandung:Rofika Aditama.Wirawan, Sarlito. 1992. Psikologi Lingkungan. Jakarta : Rasindo.Skripsi :Ade Azwida. (2007). Pemakaian Bahasa Gaul Pada Iklan Produk Komersial Televisi. Skripsi.Universitas Sumatera Utara.Nurul Fatimah. (2010). Hubungan Terpaan Iklan Produk Rokok di Televisi dan TingkatKonformitas Kelompok Sebaya terhadap Kecenderungan Perilaku Merokok. Skripsi. UniversitasDiponegoro.Sumber Internet :http://galih-seonega.blogspot.com/2012/04/komentar-mereka-remaja-menirukan-iklan.htmlartikel oleh Galik Laksono. Diakses pada 20 Mei 2012.http://synersid.blogspot.com/2012/04/tren-remaja-menirukan-iklan.html artikel oleh SMPN 3Tulungagung. Diakses pada 20 April 2012.http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=903&res=jpz diakses pada 20 April 2012.Sumber Koran atau Majalah :Cakram edisi September 2005. Bahasa Iklan dan Pengaruhnya, artikel oleh Sjahrial Djalil.Kompas edisi Kamis 20 Agustus 2009. Diperlukan Strategi Agar Dapat Merebut Hati KonsumenMelalui Iklan , artikel oleh Rosdianah Dewi.
Hubungan Intensitas Menonton Program Berita Investigasi Criminal Case Dan Tingkat Kecemasan Dengan Persepsi Masyarakat Mengenai Women Self Defense Rakanita Oktaviani Hadi Saputri; Sri Widowati Herieningsih; Lintang Ratri Rahmiaji; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.433 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh semakin banyaknya kasus kriminalitas yang menimpa perempuan, seperti pembunuhan, kekerasan dalam rumah tangga, penjambretan, kekerasan seksual, dan pemerkosaan. Kasus-kasus ini sering kita lihat di televisi. Tidak hanya berita kriminal dengan durasi 3 menit saja, tapi juga dibuat berita investigasinya. Hal ini membuat masyarakat menjadi cemas. Banyaknya pemberitaan seperti ini seharusnya membuat masyarakat berpikir tentang pentingnya self defense, atau biasa disebut dengan women self defense bagi perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menonton program berita investigasi criminal case dan tingkat kecemasan dengan persepsi masyarakat mengenai women self defense. Penelitian ini merupakan tipe penelitian ekspalanatori, yang menjelaskan hubungan antar variabel. Jumlah populasi penelitian ini sebanyak 371, dengan jumlah sampel sebanyak 77 orang dengan menggunakan rumus Frank Lynch. Pemilihan sampel menggunakan teknik random sampling dan data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Metode analisis yang digunakan adalah Rank Kendall.Peneliti menggunakan teori kultivasi untuk mengetahui hubungan intensitas menonton program berita investigasi criminal case (X1) dengan tingkat kecemasan (X2) dan hubungan intensitas menonton program berita investigasi criminal case dengan persepsi masyarakat mengenai women self defense. Sedangkan teori efek tidak terbatas untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan (X2) dengan persepsi masyarakat mengenai women self defense (Y). Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) tidak terdapat hubungan antara intensitas menonton program berita investigasi criminal case dengan tingkat kecemasan, dibuktikan dengan nilai r hitung (0.060) < r tabel (0.224). (2) Terdapat hubungan positif antara tingkat kecemasan dengan persepsi masyarakat mengenai women self defense, dibuktikan dengan nilai r hitung (0.361) > r tabel (0.224) dan taraf signifikansi berada pada angka 0,000 < 0,01. (3) Tidak terdapat hubungan antara intensitas menonton program berita investigasi criminal case dengan persepsi masyarakat mengenai women self defense, dimana nilai r hitung (0,072) < r tabel (0,224).
Program Feature Perempuan Bercerita di iNews Semarang M. Bima Norta Ellyanda; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.132 KB)

Abstract

Televisi tetap menjadi media massa dengan penetrasi tertinggi di masyarakat Indonesia hingga saat ini. Perkembangan industri televisi tidak hanya di isi oleh industri televisi nasional namun juga oleh industri televisi lokal yang semakin banyak bermunculan, salah satunya pada daerah Jawa Tengah khususnya semarang. iNews Semarang merupakan salah satu televisi lokal yang masih eksis hingga saat ini di jawa tengah. iNews Semarang menjadi stasiun televisi yang mengunggulkan program-program berita dan informasi yang cepat, akurat, informatif, mendidik serta menginspirasi. Beberapa program produksi iNews semarang antara lain, iNews Jateng , Special Report, Lintas Jateng, Seputar Jateng, Rono Rene, Jejak Jelajah Wisata, Kopi Tarik, Dialog Khusus,dan Lestari Budaya. Program perempuan bercerita dibuat bermula dari belum banyak televisi lokal khususnya di daerah semarang yang mengangkat peran perempuan di daerah semarang secara dalam. dibuat untuk menunjukan bahwa perempuan dapat melakukan hal yang tidak hanya tentang rumah tangga. Perempuan dapat menunjukkan eksistensi diri di setiap sektor kehidupan. Bagaimana perempuan dapat andil dalam berperan di masyarakat dengan mengangkat kisah-kisah inspiratif di setiap episode perempuan bercerita Dalam produksi program perempuan bercerita, setiap anggota tim memiliki tanggung jawab masing-masing dan berbeda di setiap episode. Dengan dilakukan pembagian tugas dari pra-produksi, produksi hingga paska produksi, terdiri dari tugas sebagai produser, program director, reporter, penulis naskah, juru kamera, editor serta pengisi suara. program perempuan bercerita tayang setiap hari senin pukul 10.00 WIB di iNews Semarang sebanyak 13 episode dengan panjang durasi 21-24 menit dan tayang dari tanggal 5 maret – 4 juni 2018. Melalui program perempuan bercerita diharapkan mampu memberikan suguhan tayangan yang lebih variatif, sehingga dapat meningkatkan ketertarikan penonton serta popularitas iNews Semarang di masyarakat semarang. Selain itu, diharapkan penonton mendapatkan edukasi, informasi serta semangat dan inspirasi dalam terus berkarya dan ikut berperan aktif di masyarakat
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAK DALAM EXTENDED FAMILY MERCYANA MAJESTY YULION; Sri Budi Lestari; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.802 KB)

Abstract

JURNALMEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAKDALAM EXTENDED FAMILYMERCYANA MAJESTY YULIOND2C009132JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAKDALAM EXTENDED FAMILYABSTRAKSIKeluarga merupakan lembaga sosial inti di dalam masyarakat, sebab di dalamkeluargalah seorang anak memperoleh berbagai bekal dalam menghadapikehidupannya kelak di masyarakat. Konsep keluarga meluas (extended family)atau keluarga besar yang tidak hanya terdiri dari orang tua dan anak (keluarga inti)tetapi juga anggota keluarga besar yang lain seperti kakek-nenek, paman, bibi, dansaudara sepupu. Di dalam keluarga besar yang memiliki anak sebagai salah satuanggotanya menimbulkan adanya intervensi atau campur tangan juga dominasipengasuhan anak oleh anggota keluarga besar selain orang tua kandung anak itusendiri.Penelitian ini menggunakan genre interpretif dan tradisi fenomenologiyang berusaha untuk menyelami dunia pengalaman perceiver dalam kasus ini,yaitu orang tua dan anggota keluarga besar yang lain ketika melakukan kegiatanpengasuhan anak sehari-hari di dalam keluarga besar. Dengan menggunakan teorirelational dialectics theory (RDT) atau teori dialektika hubungan yang berfokuspada dialog multivocal dalam komunikasi keluarga, penelitian ini berupaya untukmenjelaskan pemaknaan partisipan terhadap pengasuhan anak dalam keluargabesar.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa figur orang tua di dalam keluargabesar memiliki pemaknaan bahwa pengasuhan anak, selain dari segi fisik seperimemberikan suplai kebutuhan pokok, juga berkaitan dengan segi psikis dan sosialyang diwujudkan dalam bentuk kasih sayang, perhatian, komunikasi,pembelajaran, serta kontrol orang tua kepada anak-anak. Keberadaan pihak ketigadalam pengasuhan anak dipandang dapat memicu konflik akibat perbedaan carapandang dan cara pengasuhan anak. Hal ini terlihat pada pengalaman informan, dimana keberadaan anggota keluarga lain sebagai pihak ketiga yang lebih banyakberinteraksi dengan anak pada pengasuhan anak dalam keluarga besar, kerapmenimbulkan konflik antara orang tua dan anggota keluarga besar. Penyelesaianmasalah dalam keluarga besar dilakukan dengan gaya collaboration dimanapihak-pihak yang terlibat dalam konflik berdiskusi mengenai suatu masalah untukdiselesaikan bersama.Kata kunci: intervensi, pengasuhan anak, keluarga besarUNDERSTANDING THE COMMUNICATION EXPERIENCE OFPARENTING IN EXTENDED FAMILYABSTRACTThe family is a core social institution in society, as in the family a child obtainsvarious provisions to face their future life in the community. The concept of anextended family or a big family does not only consist of parents andchildren (nuclear family), but also other major family members, such asgrandparents, uncles, aunts, and cousins. In an extended families who havechildren as their members raises any intervention or interference, and also thedominance of parenting by a family member other than the child's biologicalparents itself.This research uses interpretive genre and phenomenology approach todeeply understanding the perceiver's world, which is parents and other familymembers when performing activities of daily child care within the family. Byaccomodating the theory of relational dialectics (RDT) focusing on familycommunication in multivocal dialog, this study seeks to explain participants’sdefinition of parenting in an extended family.The results of this research shows that the figure of the elderly within thefamily have the meaning of parenting, aside from the physical aspects such asdelivering supplies of basic necessities, also related to psychic and social aspectwhich is manifested in the form of affection, attention, communication, learning,as well as parent’s control to children. The presence of a third party in parenting isseen could trigger the conflict due to differences in viewpoints and ways ofparenting. It can be seen at the informants’s experience, in which the existence ofother family members as third parties that dominate the parenting in an extendedfamily, often gives rise the conflicts between parents and other family members.To solve a problem in an extended family is using collaboration style where theparties involved in the conflict discuss about an issue to be resolved together.Keywords: intervention, parenting, extended familyPendahuluanPengasuhan anak di dalam sebuah keluarga meluas (extended family) tidak hanyamenjadi dominasi orang tua si anak, tetapi turut menimbulkan adanya intervensibahkan dominasi dari keluarga besar. Mengasuh dan merawat anak menjadi perandan tanggung jawab orang tua di dalam keluarga. Namun di saat sebuah keluargainti tinggal bersama dengan orang tua maupun saudara-saudara mereka, makaperan mengasuh dan merawat tidak hanya menjadi milik orang tua. Akibatnyamuncul suatu campur tangan atau intervensi dari keluarga besar di dalampengasuhan anak tersebut.Keluarga merupakan lembaga sosial dasar di dalam masyarakat. Dalampraktiknya masyarakat memiliki berbagai definisi mengenai keluarga. Keluargainti (nuclear family) merupakan keluarga yang didasarkan pada pertalianperkawinan atau kehidupan suami-istri dengan anak-anak mereka. Selain keluargainti, juga ada keluarga hubungan sedarah yang dewasa ini lebih dikenal denganistilah keluarga meluas (extended family), yaitu keluarga inti berikut kerabat laindengan siapa hubungan baik dipelihara dan dipertahankan. Bentuk keluarga initidak didasarkan pada perkawinan, melainkan pada pertalian darah dari sejumlahkerabat dekat. (Horton, 2006: 268).Bentuk keluarga tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakatsekitar tempat tinggal. Bagi masyarakat kebudayaan barat keluarga bisa terbentukbaik dengan atau tanpa ikatan perkawinan yang sah, sedangkan di budaya timuryang disebut keluarga adalah mereka yang terikat dalam ikatan perkawinan yangsah. Jumlah anggota keluarga di masyarakat barat biasanya hanya terdiri darianggota keluarga inti yaitu ayah, ibu, dan anak. Sedangkan di masyarakat timurkonsep anggota keluarga bukan hanya terdiri dari keluarga inti namun termasukanggota keluarga yang lainnya seperti nenek, kakek, adik, keponakan, dansebagainya yang tinggal dalam satu rumah. (Sumarwan, dalam Wardyaningrum,2010: 289-298).Perubahan bentuk keluarga inti akan menimbulkan kesulitan dalamkomunikasi keluarga dan peran yang disandang. Hal ini juga berlaku ketikabentuk keluarga inti berubah ke bentuk keluarga meluas. Anak yang dibesarkanoleh kakek-neneknya mungkin merasa bahwa bentuk keluarganya tidak lazim danmenolak untuk membicarakan tentang keluarganya ketika berada di sekolah. (LePoire, 2006: 17-19).Salah satu peran utama dalam keluarga inti adalah pengasuhan anak.Namun di dalam sebuah keluarga meluas (extended family) peran ini tidak hanyamenjadi dominasi orang tua, tetapi turut menimbulkan adanya intervensi darikeluarga besar. Peran yang disandang oleh ayah dan ibu di dalam keluarga intisebenarnya memiliki porsi yang sama terutama dalam hal mendidik anak mereka.Pendidikan non formal dalam lingkungan keluarga sadar atau tidak, akan turutmembentuk karakter dan kepribadian anak. (Le Poire, 2006: 16-22).Sosialisasi juga menjadi salah satu fungsi keluarga. Keluarga menjadiujung tombak bagi masyarakat untuk melakukan sosialisasi kepada anak-anakmengenai alam dewasa sehingga nantinya mereka dapat berfungsi dengan baik didalam masyarakat itu. (Horton, 2006: 275-276).Fungsi sosialisasi tersebut diterapkan perlahan-lahan dalam prosespengasuhan anak. Pengasuhan yang dilakukan keluarga ini memiliki pola.Menurut pedoman yang dikeluarkan oleh Tim Penggerak PKK Pusat (1995) yangdimaksud sebagai pola asuh anak dalam keluarga, adalah usaha orang tua dalammembina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahirsampai dewasa (18 tahun), serta kegiatan kompleks yang memiliki dampak padaanak dengan tujuan menciptakan kontrol pada anak. (Puspa, 2013).Keberadaan beberapa orang dewasa ini memicu adanya intervensi atauikut campur tangan bahkan dominasi dari orang-orang sekitar dalam mendidikanak. Keberadaan keluarga besar yang terlibat dalam mengasuh anak terkadangmenimbulkan kontra terhadap peraturan yang sudah disepakati sebelumnya yangdapat menimbulkan kebingungan bagi anak. Bahkan dominasi pengasuhan olehpihak ketiga membuatnya menjadi lebih dekat dengan anak, sehingga memicuadanya kecemburuan orang tua terhadap pihak ketiga. Hal-hal tersebut dapatmemicu konflik di antara orang tua si anak dengan anggota keluarga besar yanglain.Teori dan Metoda PenelitianTeori dialektika hubungan (RDT) digunakan untuk memahami bahwa orangorangyang telah memiliki hubungan menggunakan komunikasi untuk mengatasikekuatan yang bertentangan secara alami yang menimpa hubungan mereka setiapsaat. RDT menjelaskan bagaimana di dalam setiap hubungan mengalamikontradiksi dialektika, yaitu suara-suara yang bersatu tetapi bertentangan. Dalamteori ini disebutkan 3 pandangan mengenai dialog yaitu dialog sebagai proseskonstitutif, dialog sebagai percakapan, dan dialog sebagai estetika. (Littlejohn danFoss, 2009: 298-300).Pengasuhan anak dalam keluarga besar melibatkan beberapa pihak selainorang tua kandung si anak. Hubungan antar partisipan (orang tua, kakek-nenek,paman, bibi, anak) berkembang melalui proses komunikasi yang kontradiktifterutama dalam konteks pengasuhan anak. Pemaknaan masing-masing individuterhadap pengasuhan anak mungkin berbeda dan bahkan bertentangan. Dalamperbedaan ini justru makna dapat terbentuk. Tidak menutup kemungkinan masingmasingindividu dapat saling mengerti dan hubungan keluarga semakin dekat.Dalam keluarga besar yang terdiri dari beberapa individu menggunakan dialogsebagai proses komunikasi yang tidak terlepas dari kontradiksi dialektika. Meskiterdapat kontradiksi, dalam dialog tersebut muncul suatu pemahaman yang estetistentang hubungan keluarga besar yang dimiliki oleh partisipan (Littlejohn danFoss, 2009: 306).Sedangkan untuk menyelesaikan konflik yang muncul di dalam keluarga,terdapat lima macam gaya penyelesaian konflik menurut K.W.Thomas dan R.H.Killmann (dalam Bebee, 2005: 231-236): (1) avoidance atau menghindar darimasalah yang ada, (2) accomodation atau mengalah kepada partner, (3)competition atau menyelesaikan masalah dengan beradu pendapat hingga salahsatu pihak menang, (4) compromise atau menentukan jalan tengah, (5)collaboration atau menampilkan konflik sebagai sebuah masalah untukdiselesaikan bersama-sama.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif yang merujuk padaparadigma intepretif. Penelitian tipe kualitatif merupakan penelitian yangmenggunakan pendekatan alamiah untuk mencari dan menemukan pengertian ataupemahaman tentang fenomena dalam suatu latar yang berkonteks khusus dantidak mengadakan perhitungan. (Moleong, 2007: 3-5).Pendekatan yang digunakan dalam mengkaji fenomena tersebut adalahtradisi fenomenologi. Fenomenologi berusaha memahami arti suatu peristiwa dankaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu, dimana yangditekankan adalah aspek subjektif dari perilaku orang tersebut. Fenomenologimenganggap bahwa manusia secara aktif merepresentasikan pengalaman merekadan memahami dunia berdasarkan pengalaman mereka. (Littlejohn, 2002: 38).Komunikasi dalam pengasuhan anak merupakan fenomena yang dialamisecara sadar yang diseleksi untuk menjadi pengalaman masing-masing individu.Tujuan penelitian ini sejalan dengan tujuan fenomenologi, yaitu untukmempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran, dan tindakan,seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis.(Kuswarno, 2009: 2).Memahami Pengalaman Komunikasi Pengasuhan Anak Dalam ExtendedFamilyCara pengasuhan anak yang diterapkan seseorang tidak terlepas dari pemaknaanmasing-masing individu terhadap pengasuhan itu sendiri. Pengasuhan anak dimata para informan bukan saja merupakan perkara fisik atau sesuatu hal yangdapat dilihat mata. Lebih dari itu seluruh informan mengungkapkan bahwapengasuhan anak juga berkaitan dengan memberikan pendidikan baik secarapsikis dan sosial dalam bentuk kasih sayang, perhatian, komunikasi, pembelajaran,dan kontrol. Le Poire (2006: 134) mencatat bahwa figur orang tua di dalamkeluarga amat memperhatikan keperluan anak-anak agar mereka tumbuh dengansehat. Orang tua berkomunikasi dalam cara-cara yang dibentuk untuk membantuanak berkembang secara intelektual, fisik, emosional, dan sosial, yang mengarahpada kesehatan dan kesejahteraan terbaik bagi mereka.Kegiatan pengasuhan anak yang dilakukan para informan sehari-haridilakukan bergantian dengan anggota keluarga besar yang lain, biasanyaberdasarkan waktu luang di luar jam kerja mereka. Aktifitas keseharian tersebutterkadang digunakan informan untuk berbincang-bincang dengan anak, mengajakmereka bercerita kegiatan selama di sekolah, atau menjelaskan kepada anak halhalyang baru mereka temukan. Akan tetapi kemajuan teknologi yang berkembangsampai ke dunia permainan lebih menarik bagi anak-anak dari pada harusmenuruti perintah orang tua untuk belajar, tidur siang, bahkan makan. Dalammenghadapi dan menyelesaikan hal ini hampir seluruh informan mengambillangkah serupa yaitu memarahi anak dan menjelaskan. Langkah ini selaludilakukan agar perilaku anak dapat terkontrol dengan baik.Meskipun berpartisipasi dalam kegiatan pengasuhan anak yangmelibatkan orang ketiga, mayoritas informan justru menyatakan ketidaksetujuanbahkan ketidaksukaan terhadap keberadaan pihak ketiga dalam proses pengasuhananak. Menurut mereka campur tangan pihak ketiga justru berpotensi menimbulkanperbedaan pandangan yang berdampak pada perbedaan cara pengasuhan anak.Berdasarkan temuan penelitian kedua ibu yang menjadi informan memilikipandangan bahwa sebagai ibu, mereka lah yang mengemban tanggung jawabdalam mengasuh anak, sementara anggota keluarga besar hanya membantu,selama yang bersangkutan tidak bisa melakukan kewajibannya.Strategi komunikasi pengasuhan anak meliputi aspek perawatan dankontrol. (Baumrind, dalam Le Poire 2006: 134-139). Kedua hal ini memerlukanproses interaksi orang tua dan anak. Dalam penelitian ini ditemukan suatu realitadimana anggota keluarga besar memiliki intensitas interaksi dengan anak yanglebih tinggi, jika dibandingkan dengan ibu sebagai orang tua, sehingga seolaholahmereka mendominasi pengasuhan anak. Tingginya intensitas interaksi pihakketiga dengan anak dalam keluarga besar membuat anak-anak lebih merasa dekatdan terbuka kepada nenek dan paman.Upaya Menangani Konflik tentang Pengasuhan Anak dalam ExtendedFamilySaat berhubungan dengan pengasuhan anak di dalam keluarga, terutama dalamkeluarga besar, dimungkinkan terjadi adanya perbedaan pendapat, cara pandang,cara pengasuhan, yang seringkali menimbulkan pertengakaran di antara anggotakeluarga. Dalam menyelesaikan masalah tentang pengasuhan anak dalam keluargabesar, masing-masing informan mengesampingkan gaya penyelesaian konfliknya,dan cenderung mengambil gaya collaboration dimana mereka mengambil jalanberdiskusi dengan anggota keluarga yang bermasalah untuk mencari jalankeluarnya bersama-sama. Semua proses komunikasi secara tatap mata tersebutdilakukan tanpa adanya pihak ketiga dari anggota keluarga besar yang menjadipenengah.Berdasarkan pengalaman menghadapi konflik di dalam keluarga, semuainforman sepakat bahwa mereka tetap memiliki hubungan baik dengan anggotakeluarga, bahkan menjadi semakin dekat dan mengenal kepribadian masingmasing.Kesimpulan1. Kegiatan pengasuhan anak dianggap lebih tepat jika dilakukan oleh orang tuakandung anak dari pada oleh figur orang tua yang lain, sebab merekalah yanglebih mengerti apa saja kebutuhan pokok anak. Anggota keluarga besar hanyabersifat mendukung dalam proses kegiatan pengasuhan dalam bentukmemberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan anak di saat orang tuakandung mereka tidak berada di rumah karena berbagai alasan, misalnyakarena harus bekerja.2. Proses pengasuhan anak yang terjadi di dalam keluarga besar tetapmelibatkan dimensi responsif dan tuntutan guna mengarahkan perilaku anak.Gaya authoritative di mana tingkat responsif dan kontrol tinggi menjadipilihan anggota keluarga dengan pertimbangan anak-anak akan menjadi lebihsegan terhadap figur orang tua memegang kuasa penuh atas diri mereka,namun di saat lain tetap memberikan perhatian, kehangatan, dan kasihsayang.3. Perbedaan cara pengasuhan dan intensitas komunikasi tatap muka dengananak di antara orang tua dan anggota keluarga besar berdampak padakedekatan dan keterbukaan anak dengan pihak ketiga lebih besar dari padadengan orang tuanya sendiri.4. Penyelesaian konflik yang muncul di dalam keluarga besar cenderungmenggunakan gaya collaboration di mana anggota keluarga besar berdiskusimengenai suatu masalah untuk diselesaikan bersama. Gaya penyelesaiankonflik individu tidak selalu diterapkan. Mereka akan menyesuaikan diridengan anggota keluarga yang lain, terutama demi kepentingan anak-anak.DAFTAR PUSTAKABeebe, Steven. A. (2005). Interpersonal Communication Relating to Others(4thed). USA : Pearsons Education.Braithwaite, Dawn O and Leslie A. Baxter. (2006). Engaging Theories in FamilyCommunication Multiple Perspectives. California: Sage Publications,Inc.Horton, Paul dan Chester L. Hunt. (2006). Sosiologi Jilid I (Edisi 6). Jakarta:ErlanggaKuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi:Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. Bandung: WidyaPadjadjaranLe Poire, Beth. A. (2006). Family Communication Nurturing and Control in aChanging World. California: Sage PublicationLittlejohn, Stephen W. (2002). Theories of Human Communication (7thed).USA:Wadsworth.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi(Edisi 9).Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosda KaryaWadyaningrum, Damayanti. (2010). Pola Komunikasi Keluarga dalamMenentukan Konsumsi Nutrisi bagi Anggota Keluarga. Jurnal IlmuKomunikasiFISIP UPN Yogyakarta 8 (3): 289-298.Puspa, Dian. (2013). Pola Asuh Anak dalam Keluarga (Makalah). http://blogdianpuspa.blogspot.com/2013/04/pola-asuh-anak-dalam-keluargamakalah.html. Diunduh 1 Juli 2013, pukul 10.20 WIB
The Effect of Self Concept and Interaction Between Users to Creativity Dubsmash Video Production BAHARANI, IVON; Naryoso, S.Sos, M.Si, Agus
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.795 KB)

Abstract

As social media, Instagram was a place to share ideas through photos and videos whose represent the self concept of the users. One of them is Dubsmash video which made the creators have to dubbing and acting even most of them are willing to look ugly. Even so, this video was viral rapidly because of the inherent uniqueness through creativity which different with another upload content type. This study aimed to describe the effect of self-concept and the interaction between users to creativity Dubsmash video production by Instagram users. This research is a quantitative study with explanatory research type. The population in this study is Instagram users whose ever create and upload videos Dubsmash. Sampling technic that used in this study is purposive sampling which determined based on the minimum number of study subjects is 30 respondents (Fraenkel and Wallen, 1993: 92) with a number of 50 respondents to get the varied results. Hypothesis testing in this study using multiple linear regression analysis. The self-concept directly affects creativity video Dubsmash production by Instagram users. The effects shown positive direction, based on the results of the regression test that the significance of self-concept 0.00 < 0.05, it means that the more positive self-concept the higher the creativity in producing video Dubsmash on Instagram. It concluded that Carl Rogers Theory of Creativity is consistent with the results of the research. User interaction also directly affects creativity video Dubsmash production by Instagram users. The effects shown positive direction, based on the results of the regression test that the significance of interaction between users 0.042> 0.05, this means that the higher the user interaction is someone higher the creativity in producing video dubsmash on Instagram, so it can be concluded that the Interaction Theory of Symbolic consistent with results research. The results also showed that the respondents have a self-concept of the appearance, creativity, talents and interests that stand in the form has a characteristic in appearance, the idea and the idea of thinking itself, is proud to show the talent to others and are interested in sharing things they like and follow the trend in Instagram. Interaction likes and comment in the form of comments of praise among Instagram users are also quite high based on the uploaded content including Dubsmash video creation. Respondents also tend to like Dubsmash video which has a unique concept and makes it different from the others with ideas derived from the reference in the aneighborhood. This is consistent with the theory used is the theory of Carl Rogers Creativity and theory of Symbolic Interaction.
ESENSI PENGALAMAN PARA PELAKU DUNIA FOTOGRAFI Putri Wulandari; Nuriyatul Lailiyah
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.643 KB)

Abstract

Photography appears to reach the goal of objectivity, because it is believed to be able to expose visual reality. One type of commercial photography that has a fairly high appeal is fashion photography or model photography. The experience gained from the world of photography is quite diverse, a lot of people are starting to take interest in becoming photographers and models because of their fondness of taking and to be taken picture of. However, being a model and photographer is also not always going well, there are many problems regarding bad experience and media coverage that vilify the model profession and photographer. This problem arises because there is no openness and closeness between the model and the photographer. The method used in this study is qualitative research with phenomenological approaches. The purpose of this study is to describe the essence of the party's experience in photography. The theory used in this study is Phenomenology and Self Disclosure. The finding in this study indicates that the main reason for the models in choosing their job is money. While the photographer’s reasons are pleasure or hobby and passion that is within the photographer. Then, the bad experience felt by the model was produced through the unpleasant treatment obtained from the photographer. And when the model got the unpleasant treatment, the thing that the model did was trying to be professional. This unpleasant treatment received from the photographer resulted in a traumatic experience to the model. Meanwhile, the unpleasant experiences felt by the photographer were when the model was often late to come to the location of the photo session and when faced with a model which had a bad attitude. Furthermore, when doing a model selection, the criteria that usually used by photographers are their physical appearance, models that have ideal posture and are pleasing to the eye. The closeness experienced by the model and photographer will form an impressive experience felt by the model. And the closeness that exists between the two will also determine the good and bad results of the photos. The conclusion in this study is that bad relationships will occur if there is no communication between the photographer and the model, because there is no openness generated from communication, then closeness will not occur and there will be no good experience created between the two, even the results of the photos will also be bad if there is no chemistry between the model and the photographer.
Ultra Violence Dalam Film Django Unchained Dini Tiara I; Turnomo Rahardjo; Taufik Suprihartini; Hapsari Dwiningtyas
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.624 KB)

Abstract

Kekerasan merupakan aspek yang tidak pernah lepas ditampilkan dalam media. Film merupakan media massa yang menampilkan kekerasan dengan vulgar. Kekerasan yang berlebihan ini disebut dengan ultra violence dimana kekerasan divisualisasikan dengan sekeji mungkin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana teks, dalam hal ini film mendesain kekerasan menjadi suatu hiburan yang kemudian layak dipertontonkan. Penelitian ini menggunakan analisis semiotika The Codes of Television John Fiske, yang meneliti film dengan tiga tahap penelitian. Secara teknis film dilihat melalui level realitas dan representasi, kemudian pada level terakhir dilihat ideologi yang terdapat dalam film.Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kekerasan yang ditampilkan dalam film merupakan bentuk hiperrealitas. Kekerasan yang ditampilkan bukan murni hasil representasi realitas namun merupakan buatan pembuat film yang sama sekali tidak dapat dihubungkan dengan kekerasan pada realitas. Selain itu, pada film ini menunjukkan naturalisasi atas tindakan kekerasan. Kekerasan dianggap sebagai bentuk balas dendam terhadap kaum yang menindas. Pihak yang tertindas berhak “menghukum” pihak yang menindas dengan kekerasan. Secara keseluruhan, kekerasan yang terdapat dalam film ini dibentuk menjadi industri budaya yang sengaja dibuat menjadi objek hiburan. Kata kunci : Kekerasan, Hiperrealitas, Industri Budaya
Information Seeking Pattern Relating to Football (A Case Study of Information Seeking of Football News As a Result of Unpublished Soccer Tabloid) Mabchut Nahdi, Faris; Noor Rakhmad, M.I.Kom, Drs. Wiwid
Interaksi Online Vol 5, No 3: Agustus 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.094 KB)

Abstract

Soccer Tabloid is a football media that stopped its publishing in October, 2014. Based on the data of Kominfo and APJII, the unpublished Soccer Tabloid was concured with the increasing consumption of online media in Indonesia. Soccer Tabloid stopped its production due to the declining of selling circulation per year. As a result of the failed production of Soccer Tabloid, the readers are forced to seek the information from other media The purpose of this study is to describe the orientation of information seeking pattern perpetrated by the Soccer Tabloid readers after failing in production since 2014. This research uses Descriptive Case Study Approach along with Post-Positivist Paradigm. It also applies Information Seeking Theory and Uses and Gratification Theory. The technique of data analysis in this study requires the analytic technique of pattern-matching by Robert K. Yin. This study acknowledges the result that matches with the predicted pattern in which the information seeking pattern alteration is solely addressed to certain age categories. It can be seen from the research subjects with age category of 18 to 25 and age category of 26 to 35, they switch to use online media in fulfilling their information needs, contrasting with age category of 36 to 45 who still uses mass media In conclusion, information understanding recognized by each informant relating to football news from the media they consume results in activity, namely media preference in fulfilling information needs about football. The motives of each informant are various as well in consuming Socccer Tabloid due to their own needs. After Soccer Tabloid bankruptcy, informants apply the broad and narrow strategy selections in media preference to fulfill the needs of football information.
Pengaruh Terpaan Pemberitaan Teror di Surakarta dan Faktor Demografi (Usia, Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan) Terhadap Citra Polisi Ira Astri Rasika; Taufik Suprihatini; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.445 KB)

Abstract

Pengaruh Terpaan Pemberitaan Teror di Surakarta dan Faktor Demografi (Usia, JenisKelamin, Tingkat Pendidikan) Terhadap Citra PolisiAbstrakPemberitaan mengenai teror terhadap anggota kepolisian yang terjadi di kota Surakartapada Agustus 2012 lalu menjadi topik utama di media massa. Hal ini dapat memengaruhipersepsi masyarakat mengenai citra polisi itu sendiri karena instansi kepolisian langsung menjadisorotan utama berkaitan dengan aksi teror yang menyerang anggotanya. Akan tetapi, tidak semuaorang memiliki persepsi yang sama, hal ini dikarenakan masyarakat terdiri dari berbagai macamkomposisi demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh terpaan media tentang pemberitaan teror solo dan faktor demografi(usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan) terhadap citra polisi di mata masyarakat. Penelitimenggunakan teori efek komunikasi kognitif yang dapat menjelaskan bagaimana pembentukancitra dapat terjadi karena terpaan media massa yang diterima oleh khalayak (Ardianto, 2004),teori kategori sosial dan teori perbedaan individual dari Melvin DeFleur dan Ball Rokeachmampu menjelaskan bagaimana faktor demografi penduduk dapat berpengaruh terhadappembentukan citra (Rakhmat, 2011). Populasi dari penelitian ini adalah warga kota Surakartayang berusia 15-64 tahun. Penarikan sampel dilakukan secara aksidental sebanyak 70 orang.Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis Structural Equation Model (SEM)untuk melihat besarnya pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel terpaanpemberitaan (X) terhadap variabel citra polisi (Y) melalui variabel usia, jenis kelamin, tingkatpendidikan (intervening variable). Hasil pengujian hipotesis adalah terpaan pemberitaan terorSolo berpengaruh terhadap citra tidak melalui usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan,dengan nilai pengaruh langsung terpaan terhadap citra (standardized direct effect) sebesar 0,278lebih besar dari nilai pengaruh tidak langsung terpaan terhadap citra melalui usia, jenis kelamin,tingkat pendidikan (standardized indirect effect) sebesar – 0,048. Jadi, hipotesis yang diajukandalam penelitian ini ditolak. Dari pengujian Regression Weights diperoleh hasil parameterestimasi pengaruh antara terpaan terhadap citra sebesar 0,778, pengujian hubungan keduavariabel tersebut menunjukkan nilai C.R (critical ratio) sebesar 2,637 lebih besar dari 1,96 danprobabilitas = 0,008 (p < 0,05), ini berarti terpaan berpengaruh positif terhadap citra. PengujianSquared Multiple Correlation untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalammenerangkan variasi variabel dependen, hasilnya adalah citra dipengaruhi oleh terpaan,pendidikan, usia, dan jenis kelamin sebesar 24,8%, sedangkan sisanya sebesar 75,2% (100%-24,8%) dijelaskan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.Keywords: terpaan, citra polisi, faktor demografi, SEMThe Effect Of Exposure To News Coverage Of Terror In Surakarta and DemographicFactors (Age, Gender, Level of Education) To The Image Of The PoliceAbstractNews coverage of terror against members of the police force in the Surakarta on August 2012and became the main topic in the mass media. It can affect people's perception about the imageof the police because the police agency directly became highlights related to the terror actionagainst its members. However, not everyone has the same perception, this is because thecommunity is made up of a wide variety of demographic composition, such as age, gender, andlevel of education. This study aims to determine the effect of exposure to the news media aboutthe terror solo and demographic factors (age, gender, education level) on the image of the policein the eyes of society. Researchers using cognitive communication effects theory that can explainhow the image formation can occur because of mass media exposure received by audiences(Ardianto, 2004), social categories theory and the theory of individual differences and BallRokeach Melvin DeFleur able to explain how demographic factors can affect the imageformation (Rakhmat, 2011). The population of this research are the citizen of Surakarta aged 15-64 years. Accidental sampling conducted as many as 70 people.Hypothesis testing is done using analysis of Structural Equation Modelling (SEM) to seethe magnitude of the direct and indirect effect between news exposure variable (X) to the policeimage variable (Y) through the variables of age, gender, level of education (interveningvariable). Results of hypothesis testing is preaching terror Solo exposure influence the image notthrough age, gender, and education level, with the direct effect value of exposure to the image(standardized direct effect) of 0.278, is greater than the indirect effect value of exposure to theimage through the ages, gender, level of education (standardized indirect effect) of - 0.048. Thus,the hypothesis presented in this research was rejected. Regression Weights of test resultsobtained parameter estimates the effect of exposure to images of 0,778, the relationship testbetween the two variables indicate the value of C.R (critical ratio) of 2,637 greater than 1.96and probability = 0.008 (p < 0,05), it means the exposure has a positive effect to the image.Squared Multiple Correlation test to measure how far the model’s ability in explaining variationof the dependent variable, the result image is affected by exposure, education, age, and sex of24,8%, while the remaining 75.2% is explained by other factors not examined in this study.Keywords: exposure, image of the police, demographic factors, SEMPENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN TEROR DI KOTA SURAKARTA DAN FAKTORDEMOGRAFI (USIA, JENIS KELAMIN, TINGKAT PENDIDIKAN) TERHADAP CITRAPOLISI DI MATA MASYARAKATPENDAHULUAN: Media memang mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadapmasyarakat, disadari atau tidak, media massa mampu membuat masyarakat mempunyai penilaiantersendiri terhadap suatu informasi, terutama dalam hal mengubah persepsi atau sikapmasyarakat atas suatu realita. Dampak ini diperkuat dengan keseragaman para wartawan dalammenyajikan berita yang cenderung sama. Khalayak akhirnya tidak mempunyai alternatif yanglain sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya darimedia massa (Rakhmat, 2011:199). Meskipun media memiliki kekuatan untuk membentuk ataumengubah persepsi, namun hal tersebut tetap tidak bisa memaksa semua masyarakat untukmemiliki respon yang sama dalam menerima setiap terpaan informasi yang diberikan oleh media.Hal ini dikarenakan, masyarakat terdiri dari berbagai macam komposisi demografi seperti usia,jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Komposisi demografi itulah yang akan mempengaruhicara dan pola pikir masyarakat dalam memberikan stimulus terhadap setiap informasi yangditerimanya. Pemberitaan tentang aksi teror Solo yang terjadi di Kota Surakarta beberapa waktulalu, menyedot perhatian media massa karena modus baru yang dilakukan oleh para teroris.Selama bulan Agustus, tercatat terdapat empat aksi teror yang dilakukan oleh teroris bersenjatayang melakukan penyerangan terhadap anggota kepolisian yang sedang bertugas jaga di pos- pospolisi, mulai dari melempar granat sampai penembakan yang menewaskan satu anggota polisi.Oleh sebab itu, seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya masyarakat Solo saja, serta parapejabat pemerintahan terus mengawasi dan memonitor kinerja instansi Kepolisian RepublikIndonesia dalam menyelesaikan dan mengusut kasus ini sampai tuntas, karena pemberitaan yangnegatif di media massa tersebut dapat membuat citra masyarakat terhadap polisi menjadi negatif.Sementara itu, menurut Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel, seperti yang dikutip dari salahsatu situs online, isu terorisme yang belakangan marak muncul di media massa dinilai semakinmemperburuk citra Polri. Kondisi tersebut dinilai kian menguatkan anggapan bahwa Polrisemakin lemah, dan masyarakat terguncang akibat berita- berita terorisme di media massa. Iamengatakan,”akibatnya, masyarakat semakin bersikap negatif terhadap Korps Tribata. Publikmenafsirkan, sudah korup, gagal pula menangkal beranak pinaknya teroris” (sumber:http://berita.plasa.msn.com/nasional/republika/isu-terorisme-dinilai-justru-perburuk-citra-polisi).Dalam hal ini, media telah menunjukkan kekuatannya sebagai pembentuk persepsi masyarakat,karena melalui pemberitaan- pemberitaan yang terus menerus mengenai aksi teror ini dapatmembentuk atau mengubah persepsi masyarakat tentang bagaimana citra kepolisian Indonesia dimata mereka. Berdasarkan hal tersebut, lantas sejauh mana pengaruh terpaan pemberitaan terordi Kota Surakarta dan faktor demografi (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan) terhadap citrapolisi di mata masyarakat?PEMBAHASAN: Terpaan (exposure) merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membacapesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesantersebut yang terjadi pada individu dan kelompok (Kriyantono, 2006 : 205). Masyarakat yangmengkonsumsi media massa dan mendapatkan informasi mengenai aksi teror Solo, baik itudengan melihat, mendengar, dan membaca, serta mempunyai perhatian dan pengalaman pribadisecara langsung terhadap aksi teror Solo dapat dikatakan sudah mendapatkan terpaanpemberitaan aksi teror Solo dari media massa. Proses bagaimana masyarakat mendapatkanterpaan pemberitaan aksi teror Solo tidak lepas dari faktor- faktor yang juga menjadi kekuatanbagi media massa dalam mempengaruhi masyarakat. Noelle- Neumann mencetuskan faktorfaktoryang saling bekerjasama dalam membentuk perspektif yang selektif (Rakhmat, 2011:198):ubiquity (serba ada), keseragaman wartawan, dan kumulasi pesan. Dalam pemberitaan aksi terorSolo hampir semua media massa, baik itu elektronik, media cetak, bahkan media online,memberitakan hal yang sama tentang kasus teror setiap harinya (keseragaman wartawan). Entahitu melaporkan langsung dari tempat kejadian perkara, wawancara dengan anggota instansikepolisian, hingga mengundang narasumber yang berbeda- beda dalam acara talk show danmembahas aksi teror. Hal yang dibahas pun semakin lama semakin merembet kemana- mana,dari aksi teror yang dilakukan, menyudutkan instansi kepolisian karena kelalaian kerjanya, motifdan tersangka aksi teror, hingga kontroversi seputar penangkapan teoris. Semua pesan- pesanmengenai aksi teror itu berakumulasi dan dapat mempengaruhi masyarakat. Namun menurutDeFleur dan Ball Rokeach tidak semua orang mempunyai respon yang sama terhadap terpaanpemberitaan di media massa. Hal tersebut dicetuskan dalam teori kategori sosial (social categorytheory) dan teori perbedaan individual (individual differences theory) (Rakhmat, 2011: 201-202).Menurut teori kategori sosial, respon setiap orang dalam menerima terpaan media tergantungdari faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Secara garis besar usiaadalah lamanya hidup individu yang terhitung sejak dia dilahirkan sampai berulang tahun. Usiadikelompokkan menjadi 3 yaitu usia belum produktif (0-14 tahun), usia produktif (15-64 tahun),dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas). Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakatyang didasarkan pada perbedaan ciri fisik (organ reproduksi, bentuk tubuh) dan perbedaan sosial(perbedaan peranan), dan dikelompokkan menjadi laki- laki dan perempuan. Sedangkan tingkatpendidikan merupakan proses pembelajaran yang berstruktur yang mempunyai jenjang atautingkatan pada periode waktu tertentu, berlangsung dari sekolah dasar sampai perguruan tinggidan tercakup di dalamnya studi akademis umum. Asumsi dari teori kategori sosial adalah orangdengan usia dan jenis kelamin yang sama cenderung sama pula dalam merespon pesan yangdisampaikan oleh media massa. Orang dengan usia dewasa cenderung akan memiliki perhatianyang sama terhadap berita aksi teror Solo yang didapat melalui berbagai macam media,sedangkan orang dengan usia remaja yang lebih sering mengakses informasi melalui mediatelevisi dan online, cenderung merespon dengan biasa saja karena kejadian tersebut sedangmenjadi headline, tidak sampai terlalu mengikuti, karena orang dengan usia remaja cenderunglebih menyukai hal- hal yang bersifat hiburan. Tingkat pendidikan seseorang jika dilihat dariperspektif perbedaan individual (teori perbedaan individu), mempengaruhi respon atau stimulusyang diterima oleh setiap individu terhadap pesan yang disampaikan media massa. Perbedaanpengalaman belajar, yang ditentukan dari sekolah baik formal maupun informal yang berjenjangdari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, mampu mempengaruhi pola pikir dan prasangkaseseorang yang lebih baik, serta lebih mampu menerima informasi. Orang dengan pendidikanyang rendah cenderung lebih mudah terkena terpaan karena pengetahuannya yang terbatas.Sedangkan orang dengan pendidikan yang lebih tinggi, seperti eksekutif atau mahasiswa,cenderung lebih sulit terkena terpaan karena pengetahuannya lebih luas, lebih bisa berfikir, lebihmencari berbagai referensi sebelum membuat keputusan. Dominick (2000) menyebutkan tentangdampak komunikasi massa pada pengetahuan, persepsi dan sikap seseorang. Media massaterutama televisi yang menjadi agen sosialisasi memainkan peran penting dalam transmisi sikappersepsi dan kepercayaan (Ardianto, 2004 : 58). Efek kognitif sangat memengaruhi pembentukancitra oleh khalayak terhadap sesuatu karena efek kognitif terjadi apabila ada perubahan pada apayang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisipengetahuan, ketrampilan, kepercayaan, dan keyakinan. Media massa bekerja untukmenyampaikan informasi, sedangkan untuk khalayak, informasi tersebut dapat membentuk,mempertahankan, atau mendefinisikan citra berdasarkan persepsi seseorang. Jadi, citra terbentukberdasarkan informasi yang kita terima. Tipe penelitian ini adalah eksplanatif yaitu untukmenemukan penjelasan tentang mengapa suatu kejadian atau gejala terjadi. Populasi daripenelitian adalah warga kota Surakarta yang berusia 15-64 tahun, tetapi karena peneliti tidakmemiliki kerangka sampel yang cukup, maka pengambilan sampel dilakukan dengan teknik nonprobability sampling dan ditetapkan besarnya sampel adalah 70 orang. Teknik penarikan sampeldilakukan dengan teknik accidental sampling, di mana sampel dapat terpilih karena berada padawaktu, situasi, dan tempat yang tepat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah denganmenggunakan kuesioner yang berupa daftar pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti untukdisampaikan kepada responden yang jawabannya diisi oleh responden sendiri. Sedangkan teknikpengumpul data adalah dengan teknik wawancara, di mana selain memberikan kuesioner,peneliti juga memberikan kesempatan kepada responden untuk menanyakan yang tidakdimengerti responden dalam menjawab kuesioner sehingga mendapatkan jawaban yang lebihmemuaskan dan mendalam. Selain itu, teknik wawancara digunakan untuk memastikan bahwaresponden menjawab semua pertanyaan dalam kuesioner secara lengkap, tidak sembarangan, dantidak diisikan orang lain. Karena dalam penelitian ini terdapat variabel antara (intervening),maka jenis analisis ini adalah analisis multivariat. Analisis multivariate yang digunakan adalahdengan menggunakan pendekatan Model Persamaan Struktural (Structural Equation Model/SEM). Model ini digunakan karena penelitian ini ingin menguji pengaruh terpaan (X) terhadapcitra polisi (Y) melalui usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan (intervening variabel). Sebelummelakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan evaluasi atas asumsi- asumsi SEMyang dapat menentukan criteria layak uji SEM. Dalam penelitian ini, semua asumsi- asumsiSEM diterima sehingga variabel- variabel tersebut layak diuji menggunakan SEM. Uji hipotesisdilakukan dengan melihat pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel eksogenterhadap variabel endogen. Analisis ini diperlukan untuk membuktikan variabel intervening.Variabel intervening dalam penelitian adalah pendidikan, usia, dan jenis kelamin. Variabelpendidikan, usia, dan jenis kelamin terbukti sebagai variabel intervening yang dapat dilaluiterpaan terhadap citra apabila koefisien pengaruh tidak langsungnya lebih besar daripadapengaruh langsung. Dari pengujian Regression Weights diperoleh hasil parameter estimasipengaruh antara terpaan terhadap citra sebesar 0,778, pengujian hubungan kedua variabeltersebut menunjukkan nilai C.R (critical ratio) sebesar 2,637 lebih besar dari 1,96 danprobabilitas = 0,008 (p < 0,05), ini berarti terpaan berpengaruh positif terhadap citra. PengujianSquared Multiple Correlation untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalammenerangkan variasi variabel dependen, hasilnya adalah citra dipengaruhi oleh terpaan,pendidikan, usia, dan jenis kelamin sebesar 24,8%, sedangkan sisanya sebesar 75,2% (100%-24,8%) dijelaskan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil uji hipotesismenyatakan bahwa pengaruh langsung terpaan terhadap citra sebesar 0,278 lebih besar daripadapengaruh tidak langsungnya sebesar - 0,048. Jadi dapat disimpulkan bahwa terpaan berpengaruhterhadap citra tidak melalui pendidikan, usia, dan jenis kelamin, sehingga hipotesis yangdiajukan ditolak. Hasil hipotesis ini juga menunjukkan keperkasaan media (Noelle-Neumman,dalam Rakhmat, 2011:198). yang dapat memengaruhi hampir setiap orang dengan cara yangsama tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.PENUTUP: Polisi merupakan satu institusi pemerintahan yang mempunyai tugas berhubunganlangsung dengan masyarakat sebagai pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat. Oleh sebabitu, citra polisi di mata masyarakat pun harus dijaga agar hubungan antara masyarakat daninstansi kepolisian berlangsung dengan baik. Salah satu cara yang digunakan oleh kepolisianuntuk memperbaiki atau mempertahankan citranya di mata masyarakat adalah melalui mediamassa. Berkembangnya media massa sekarang ini, membuat media massa mempunyai perananpenting dalam membentuk persepsi dan keyakinan masyarakat tentang sesuatu. Kesimpulan daripenelitian ini adalah: 1. Hasil pengujian hipotesis adalah terpaan pemberitaan teror Soloberpengaruh terhadap citra tidak melalui usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan (hipotesisyang diajukan ditolak). Hasil ini diperoleh melalui berdasarkan pengolahan uji hipotesis yangdilakukan dengan menggunakan metode analisis Structural Equation Model (SEM), didapat hasilpengaruh langsung terpaan terhadap citra (standardized direct effect) sebesar 0,278 lebih besardari pengaruh tidak langsung terpaan terhadap citra melalui usia, jenis kelamin, tingkatpendidikan (standardized indirect effect) sebesar – 0,048; 2. Landasan teori yang diajukan untukmendukung hipotesis awal, yaitu teori kategori sosial dan teori perbedaan individual tidaksignifikan karena hasil uji hipotesis menyatakan bahwa terpaan berpengaruh terhadap citrasecara langsung tanpa melalui faktor- faktor demografi, seperti usia, jenis kelamin, dan tingkatpendidikan. Namun teori efek komunikasi dapat mendukung hasil uji hipotesis bahwa terpaanmempunyai pengaruh dalam pembentukan citra; 3. Berdasarkan temuan penelitian di lapanganyang didapatkan dengan membagikan kuesioner kepada 70 orang responden, sebanyak 44.3%menilai citra polisi cukup baik, disusul kemudian 27.1% menilai citra polisi kurang baik, 15.7%menilai citra polisi buruk, dan hanya 12. 9% yang menilai citra polisi baik. Berdasarkankesimpulan tersebut, maka sebaiknya media harus lebih berhati- hati dalam memberikaninformasi mengenai instansi kepolisian, misalnya dengan menyaring informasi mengenai instansikepolisian yang akan ditampilkan di media massa, tidak sembarangan mencari danmewawancarai narasumber, karena media memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhipersepsi masyarakat tentang citra kepolisian. Instansi kepolisian sebaiknya juga mempunyai jurubicara atau Humas yang bertugas memberikan informasi kepada masyarakat melalui mediasecara resmi melalui konferensi pers, tidak hanya di kantor pusat saja tetapi juga di daerahdaerah.Hal ini diperlukan agar informasi yang muncul di media massa dapat terkendali danterkontrol.DAFTAR PUSTAKA: Ardianto, Elvaro. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. SimbiosaRekatama Media: Bandung ; Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi.Kencana: Jakarta ; Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya:Bandung ; Ferdinand, Augusty. 2006. Structural Equation Modeling dalam PenelitianManajemen, Edisi Keempat. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang ; Firdaus, M danFarid. 2008. Aplikasi Metode Kuantitatif Terpilih Untuk Manajemen dan Bisnis, Seri metodekuantitatif. IPB Press: Bogor ; Ghozali, Imam. 2008. Model Persamaan Structural: Konsep danAplikasi dengan Program Amos 16.0. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang ;Koentjaraningrat. 1977. Metode- metode Penelitian Masyarakat. PT Gramedia: Jakarta ;Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kencana: Jakarta ; Muhidin,Sambas Ali dan Maman Abdurahman. 2007. Analisis Korelasi, Regresi, Dan Jalur DalamPenelitian (Dilengkapi Aplikasi Program SPSS). CV Pustaka Setia: Bandung ; Prasetyo,Bambang dan Lina Miftahul Jannah. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi.Rajawali Pers: Jakarta ; Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. PT RemajaRosdakarya: Bandung ; Rakhmat, Djalaluddin. 1984. Psikologi Komunikasi. PT RemajaRosdakarya: Bandung ; Santoso, Singgih. 2007. Structural Equation Modelling, Konsep danAplikasi dengan Amos, Membuat dan Menganalisis Model SEM Menggunakan Program SPSS.PT Elex Media Komputindo: Jakarta ; Syah Putra, Dedi Kurnia. 2012. Media dan Politik:Menemukan Relasi Antara Dimensi Simbiosis- Mutualisme Media dan Politik. Graha Ilmu:Yogyakarta ; Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Kencana: Jakarta ;http://berita.plasa.msn.com/nasional/republika/isu-terorisme-dinilai-justru-perburuk-citra-polisidiakses pada 20 Desember pukul 10.00 ;www.m.okezone.com/read/2012/09/01/337/683777/kapolri-aksi-di-solo-tidak-terkait-pilkada-DKI diakses pada 19 September pukul 13.00 ; http://suarapembaruan.com/home/teror-beruntundi-solo-polisi-ditembak-mati/24062 diakses pada 5 Maret 2013 pukul 18.00 ;http://m.tempo.co/read/news/2012/09/03/063427135/mabes-polri-motif-teror-solo-balas-dendamdiakses pada 5 Maret 2013 pukul 19.00 ; Laporan Harian Monitoring Isu Publik Depkominfodalam www.depkominfo.go.id di akses dan didownload pada 19 September 2012 pukul12.00.
Memahami Adaptasi dalam Komunikasi Antarbudaya (Kasus Pernikahan Antaretnis Batak – Cina) Paskah M Pakpahan; Taufik Suprihatini; Wiwid Noor Rakhmad; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.799 KB)

Abstract

Proses adaptasi merupakan hal mutlak yang harus dilakukan oleh individu yang ingin melanjutkan hubungan sampai pada jenjang pernikahan, terlebih lagi pada pernikahan. Pernikahan antaretnis sering menimbulkan konflik yang terkadang berakibat pada perceraian. Realitas itu, menjelaskan bahwa interaksi budaya berbeda etnis mengakibatkan persinggungan budaya yang berlanjut kepada keterbukaan atau ketertutupan diri. Adaptasi akan tercipta setelah adanya interaksi. Sedangkan interaksi antara individu berbeda budaya, yang terikat dalam satu hubungan perkawinan, membutuhkan keterbukaan (self dislosure) agar tercipta pengetahuan dan pemahaman terhadap budaya masing-masing. Fenomena tersebut menggugah keingintahuan penulis mengenai proses adaptasi pasangan antaretnis. Karenanya, penelitian ini kemudian dilakukan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya proses adaptasi pasangan pernikahan antaretnis.Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi agar peneliti mampu memahami makna pengalaman pasangan pada pernikahan antaretnis saat beradaptasi, dari sudut pandang informan sebagai pelaku. Penelitian ini mengambil pasangan yang istrinya dari etnis Batak – suaminya etnis Cina, dan psangan yang istrinya Cina – suaminya etnis Batak sebagai informan penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data fenomenologi.Melalui penelitian ini ditemukan beberapa usaha dari masing-masing individu untuk beradaptasi dengan psangan dan tetap mempertahankan perkawinan. Untuk menyelesaikan setiap konflik yang timbul dalam rumah tangga pasangan antaretnis pada penelitian ini, memiliki usaha-usaha yang dikelompokan menjadi beberapa sintesa diantaranya : pertama, pengalaman informan dalam beradaptasi dengan pasangan. Dari pengalaman beradaptasi dengan masing-masing informan mengaku mampu belajar dan mengetahui karakter pasangannya. Kedua, pola komunikasi dengan pasangan. Dalam berkomunikasi hendaknya menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh pasangan, menjaga intensitas komunikasi, kualitas komunikasi dan pemhaman karakter masing-masing. Ketiga, keterbukaan saat berkomunikasi dengan pasangan untuk menyelesaikan setiap masalah dari konflik yang muncul. Keterbukaan saat berkomunikasi ini kemudian menjadi kunci keberhasilan rumah tangga pasangan antaretnis. Dan saling bertoleransi serta menghargai pasangan adalah salah satu cara yang ditempuh pasangan pernikahan antaretnis untuk mencegah timbulnya konflik dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dari beberapa hasil penelitian di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa keberhasilan dalam proses adaptasi akan mempengaruhi keberhasilan hubungan pasangan suami-istri pada pernikahan antaretnis.

Page 59 of 157 | Total Record : 1563