cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Normalisasi Relasi Homoseksual dalam Film Arisan! 2 Stella Natalia; Dr Sunarto; Lintang Ratri Ramiaji; Hapsari Dwiningtyas
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.943 KB)

Abstract

Film merupakan salah satu media massa yang digunakan untuk menyampaikanpesan dan ideologi ke masyarakat. Film merepresentasikan beberapa kejadian didunia nyata. Film Arisan! 2 adalah film yang menggambarkan normalisasi relasihomoseksual. Kehidupan homoseksual sama seperti kehidupan masyarakatdominan, tidak ada yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah merepresentasikannormalisasi relasi homoseksual dalam film Arisan! 2 dan merepresentasikanheteronormativity yang ada dalam film Arisan! 2.Penelitian ini juga menunjukkan bahwa homoseksual dapat diterima dikalangan menengah ke atas. Komunikasi ditandai dengan kamera, dialog, danideologi di film. Penelitian ini digunakan teori Queer dan metode penelitian dariRoland Barthes dengan lima kode pembacaan untuk mengetahui ideologi dalamfilm ini. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa homoseksual belum bisa terlepasdari heteronormativity yang ada. Heteronormativity hanya menerimaheteroseksual sebagai orientasi seksual yang ada, walau film ini sudah berusahamerepresentasikan secara nyata normalisasi relasi homoseksual.Kata kunci : Semiotika, Barthes, Film, Homoseksual, Heteronormativitas
NEGOSIASI IDENTITAS HOMOSEKSUAL DALAM KELOMPOK KEAGAMAAN KRISTEN Syifa Salsabila, Astrid; Dwiningtyas Sulistyani, Hapsari
Interaksi Online Vol 8, No 1: Januari 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.644 KB)

Abstract

Christian gay individuals still has difficulties to fulfil their religious rights, one of them is affiliating themselves in a Christian-based group. It happens because heteronormativity is still dominant in Christian values, both in Protestant and Catholic teachings. Therefore, this study seeks to illustrate how homosexuals negotiate their sexual identities in Christian-based groups. Adopting critical phenomenology paradigm with interpretative method, this research does not only describe the negotiations, but also seeks to see whether there is a power relation to homosexuals in the sexuality discourse. Stella Ting-Toomeys’s Negotiation Identity Theory combined with Queer’s Theory was used to analyse the phenomenon. This research was not only conducted in-depth interviews with Christian homosexuals but also other members in the religious groups that are followed in order to overview the identity negotiations in the groups. Interviews with some religious leaders were also conducted in order to see how homosexuality is understood in Christianity views. The results of this study form the essence of homosexuals’ experience in negotiating their sexual identities in their Christian-based group that are followed. The formation of homosexual identity of the individuals is influenced by heteronormative teachings of Christianity so it created an identity struggle for the individuals. However, these individuals were still able to integrate their identities as homosexuals and Christians and eventually decided to become members of the Christian groups. Before negotiating identity in the religious groups, cognitive negotiations in homosexual individuals also have an ongoing role in determining the strategies that individuals will use to negotiate their identities. They use several strategies to negotiate their identities, from asserting, describing, modifying, and obscuring the identities so the identities can be accepted by themselves and other group members. Nevertheless, the process of negotiating the identity of individuals with each member of the religious groups will be different because it is also based on the closeness of the individual with each group member. The individuals did not fully neglected their homosexual identities despite some rejection in the groups. This study also still found power relations that rule how informants manage their homosexual identity based on heteronormativity values. However, these individuals try to change the power relations through the process of negotiating their homosexual identities in the groups.
Evaluasi Brand Ambassador dan Community Based Tourism Wisata Temanggung sebagai Amazing of Central Java Bagas Satria Pamungkas; Joyo NS Gono; Hedi Pudjo Santosa; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.297 KB)

Abstract

Sektor pariwisata adalah faktor penunjang sumber pendapatan negara atau pun daerah. Setiap daerah berlomba – lomba membenahi kegiatan branding, promosi dan mengatur strategi dengan penggunaan beberapa konsep pariwisata untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Kabupaten Temanggung sudah melakukan semua hal tersebut akan tetapi jumlah kunjungan wisatawannya semakin menurun tiap tahunnya. Dapat dikatakan penelitian ini menggunakan pendekatan mix methods karena menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Penggabungan data menggunakan Sequential Exploratory Designs Strategic. Penelitian yang mendeskripsikan data secara kualitatif dan juga data kuantitaif akan tetapi data kuantitatif hanya mendukung data kualitatif. Bobot utama penelitian ini adalah pada data kualitatif. Penelitian kualitatif digunakan untuk menjawab tujuan mengetahui proses evaluasi Brand Ambassador dan Community Based Tourism Wisata Temanggung sebagai Amazing of Central Java. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan minat masyarakat tentang wisata Temanggung. Dasar pemikiran yang digunakan adalah teori Integrated Marketing Communications dan teori Hierarchy of Effects. Penelitian kualititatif dilakukan dengan indepth interview dan penelitian kuantitatif dengan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah Deskriptif Kualitatif dan Kuantitatif. Hasil penelitian mengatakan bahwa penggunaan teori sudah tepat digunakan Dinas Pariwisata dan Duta Wisata untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, karena minat masyarakat berwisata masih rendah. Seluruh kegiatan promosi, kegiatan branding, penggunaan Duta Wisata, Penerapan konsep Community Based Tourism, Strategi komunikasi dari Dinas Pariwisata belum dapat membantu meningkatkan kunjungan wisata. Belum dapat merubah Temanggung menjadi daerah tujuan wisata (DTW) sesuai dengan tagline Amazing of Central Java. Berdasarkan hasil penelitian perlunya Dinas Pariwisata lebih dapat membangun strategi untuk meningkatkan minat, sikap dan pengetahuan masyarakat mengenai wisata Temanggung. Memaksimalkan seluruh kegiatan branding, promosi dan penerapan konsep Community Based Tourism untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisata di Temanggung.
Pola Komunikasi Keluarga dalam Menjaga Keharmonisan Pada Pasangan Suami Istri yang Menjalani Long Distance Relationship. Agustina, Auriga; Budi Lestari, Sri
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.947 KB)

Abstract

Keluarga yang tinggal secara berjauhan sebagai konsekuensi pekerjaan, studi atau alasan-alasan lain, disisi lain mereka tetap berharap adanya proses komunikasi dengan keluarga yang dapat berlangsung secara harmonis. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana pola komunikasi keluarga yang diterapkan pasangan suami istri tetap terhubung dengan keterpisahan jarak agar tetap harmonis.. Menggunakan pendekatan studi kasus dengan penjodohan pola. Penelitian ini mengambil tiga pasang suami istri sebagai informan dan menggunakan Teori pola Interaksi Hubungan. Hasil penelitian menemukan bahwa pola komunikasi yang telah diprediksi sebelumnya, yaitu pola komunikasi persamaan yang diterapkan oleh pasangan 3 ditandai dengan adanya komunikasi secara jujur, terbuka dan sering melakukan diskusi, biasanya diskusi dilakukan ketika membuat dan mengambil keputusuan. Sedangkan pola komunikasi seimbang tak terpisah yang diterapkan oleh pasangan 1 dan 2 ditandai dengan, pasangan yang mampu mengambil peranan dan kewenangan di bidang mereka masing-masing, suami memiliki kewenangan dibidang pekerjaan dan istri memiliki kewenangan di bidang rumah tangga. Pola komunikasi persamaan dan pola komunikasi seimbang tak terpisah yang diterapkan, dapat menjaga keharmonisan pada saat menjalani Long Distance Relationship, hal tersebut ditandai dengan cara mereka berkomunikasi dapat memenuhi unsur-unsur keharmonisan keluarga, yang meliputi : Menjalani kehidupan agama, mempunyai waktu bersama, memiliki komunikasi yang baik, saling menghargai satu sama lain, dan memiliki ikatan yang erat.
Kajian Ekonomi Politik Sinetron Religi Rika Futri Adelia; Hedi Pudjo Santosa; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.725 KB)

Abstract

Kajian Ekonomi Politik Sinetron ReligiRika Futri Adelia (D2C009076)AbstrakPenduduk Indonesia yang beragama Islam merupakan pangsa pasar baru bagi produk budaya sinetron religi yang saat ini sedang digemari oleh berbagai rumah produksi. Dari segi produksi, keberadaan para pekerja media menjadi unsur penting terciptanya sinetron religi. Selain itu, ada juga data rating milik Nielsen Indonesia yang digunakan sebagai acuan produksi sinetron religi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih jauh bagaimana proses produksi sinetron religi. Selain itu juga untuk mengetahui bagaimana para industrialis memperlakukan para pekerja media yang terlibat dalam proses produksi sinetron religi. Penelitian ini menggunakan landasan culture industry (Adorno, 1991), commodifications (Vincent Mosco, 2009),dan konsep nilai-lebih (karya Karl Marx dalam Magnis-Suseno, 2003). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang dikaitkan dengan analisis ekonomi politik media. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepada lima informan yang memiliki jabatan yang berbeda, yakni produser pelaksana, penulis naskah, sutradara, pemain,dan editor final.Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kepentingan bisnis yang ingin dicapai oleh rumah produksi ketika memproduksi sebuah sinetron religi yaitu berupa hasrat untuk terus bersaing dengan perusahaan hiburan lain dan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Meskipun ada pesan dan nilai-nilai agama yang ingin disampaikan kepada masyarakat namun hal tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan kepentingan komersil yang ingin dicapai. Selain itu sinetron religi yang dipadu padan dengan unsur tema lain, seperti drama, komedi dan yang lainnya, akan menjadi sebuah bisnis yang cukup menjanjikan. Terjadi pula eksploitasi terhadap para pekerja media yang terlibat langsung dalam rangkaian proses produksi sinetron religi pada tahap creation. Penilaian terhadap proses kerja para pekerja media maupun kesuksesan sinetron religi sendiri bergantung pada data rating yang dikeluarkan Nielsen Indonesia. Keberadaan rating sebagai bentuk komodifikasi imanen yang mempengaruhi keputusan para pemasang iklan untuk menempatkan iklannya dalam slot jeda iklan yang ada.Kata kunci: ekonomi politik media, komodifikasi tenaga kerja, sinetron religi indonesia.Political Economy Studies of Religious Soap OperaRika Futri Adelia (D2C009076)AbstractIndonesian Muslim population is a new market for cultural products religious soap opera that is currently favored by many production houses. In terms of production, the existence of media workers become an important element of religious soap opera creation. In addition, there is also a Nielsen ratings data belonging Indonesia allegedly used as a reference for religious soap opera production. The purpose of this study was to find out more about how the religious sinetron production process. In addition, to find out how the media industrialists treat workers involved in the production process of religious soap opera. This study uses basis culture industry (Adorno, 1991), commodifications (Vincent Mosco, 2009),and the concept of surplus value (by Karl Marx in Magnis-Suseno, 2003). This type of research is associated with a qualitative descriptive analysis of the political economy of media. Data was collected using in-depth interview to five informants who have a different position, the executive producer, script writer, director, artist/actor and final editor.These results indicate the existence of business interests to be achieved by the production when producing a soap opera in the form of religious desire to continue to compete with other entertainment companies and make a profit as much as possible. Although there is a message and religious values has to say to the public, but it is smaller when compared with commercial interests to be achieved. Beside it, religious soap opera elements combined match with other themes, such as drama, comedy and others, will become a promising business. There is also the exploitation of media workers who are directly involved in the production process at the stage of creation of religious soap opera. Assessment of the labor process and the success of media workers themselves religious soap operas rely on Nielsen ratings data owned by Indonesia. Rating as the existence of a form immanent commodification decisions affecting the advertisers to place ads in a commercial break existing slot.Keywords: political economy of media, commodification of labor, religious indonesian soap opera.Kajian Ekonomi Politik Sinetron ReligiRika Futri Adelia, Dr. Hedi Pudjo Santosa, M. Si. (dosen pembimbing I), Triyono Lukmantoro, S. Sos, M.Si. (dosen pembimbing II)PENDAHULUAN: Latar belakang dalam penelitian ini menjelaskan tentang deskripsi singkat keberadaan dan kondisi para pekerja media dalam sinetron religi. Awalnya, para pekerja media ini adalah para sineas yang memiliki kebebasan berkreasi di bidang sinematografi dan seni peran dalam rangka menciptakan sebuah karya sinema yang berkualitas. Namun, campur tangan para industrialis telah mengubah kebebasan berkreasi yang dimiliki menjadi sesuatu hal yang dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan finansial. Sedangkan sinetron religi merupakan salah satu produk baru industri budaya yang sedang digemari oleh masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya data rating dan share beberapa sinetron religi dari tahun 2011 hingga tahun 2013. Oleh karena itu, sinetron religi bukan lagi merupakan program acara spesial yang hanya tayang saat bulan Ramadhan tiba akan tetapi mampu dinikmati tiap hari pada jam-jam prime time.Adanya perubahan pola penayangan sinetron religi ikut serta mengubah pola produksi sinetron religi itu sendiri. Proses produksi (dari pra produksi hingga pasca produksi) dilakukan secepat mungkin menyesuaikan tenggat waktu yang diberikan pemilik modal sebelum sinetron religi dapat ditayangkan, yaitu kira-kira 24 jam. Hal ini menempatkan sinetron religi sebagai salah satu komoditas industri budaya yang cukup menjanjikan dan mampu menghasilkan keuntungan yang melimpah. Menurut Theodor W. Adorno, industri budaya merupakan satu bentuk kebudayaan massa dan produksinya berdasarkan pada mekanisme kekuasaan sang produser dalam penentuan bentuk, gaya, dan maknanya (Adorno, 1991:99). Oleh karena itu, para sineas dan orang-orang yang terlibat dalam proses produksi dijadikan sebagai salah satu sasaran komodifikasi sinetron religi hingga akhirnya mampu menciptakan sebuah tayangan yang sesuai dengan keinginan pasar. Melihat fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan ingin mengetahui prosesproduksi sinetron religi pada tahap creation dan ingin mengetahui cara pandang industrialis terhadap keberadaan pekerja media yang terlibat dalam proses produksi sinetron religi.PEMBAHASAN: Sesuai yang dikatakan Picard (1989) bahwa media massa adalah lembaga perekonomian karena terlibat dalam sebuah produksi dan penyebaran konten yang ditargetkan untuk para konsumen (Albarran, 1996:3). Oleh karena itu, banyak perusahaan hiburan berusaha menyajikan konten-konten media dalam kemasan program acara yang menarik dan disukai para penontonnya. Salah satu program acara yang menjadi primadona dalam mengumpulkan banyak laba bagi sebuah perusahaan hiburan adalah sinetron religi.Tema atau genre adalah suatu formula produksi yang memiliki karakteristik dan jenis yang berbeda-beda terkait dengan penggunaan dan kesenangan tertentu (Pearson dan Simpson, 2001:273). Beberapa genre ada yang populer dan memiliki daya tarik tertentu pada masanya sehingga seringkali hal tersebut diproduksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu pula. Demikian juga dengan sinetron Pesantren & Rock n Roll 3 (PRR 3) yang mengusung tema drama religi komedi atau lebih sering disebut dengan religi komedi romantis. Unsur komedi dalam sinetron religi PRR 3 terlihat pada adegan-adegan yang dimainkan oleh Ramzi, Rizky Alatas, Cecep Reza, Andi Peppo dan Kukuh Riyadi. Unsur drama sendiri diperankan oleh Aulia Sarah, Rizky Nazar, Dinda Kirana, Rizky Alatas dan Indri Giana. Visualisasi simbolik Islam yang dilakukan oleh Karsono Hadi melalui pakaian muslim yang dikenakan oleh para pemain dan setting background yang dipilih. Kolaborasi antara ketiganya menjadi formula ampuh garapan Screenplay Productions hingga mampu menyedot perhatian banyak penonton.Dengan adanya penambahan unsur komedi dan drama percintaan dalam PRR 3, menjadikan sinetron religi sebagai sebuah produk industri budaya. Menurut Theodor W. Adorno, industri budaya adalah sebuah komodifikasi dan industrialisasi budaya yang mengatur produksi mulai dari hal-hal penting untuk membuat kepentingan (Taylor dan Harris, 2008:62-63). Dalam industri sinetronreligi terdapat komodifikasi terhadap tenaga kerja. Komodifikasi yaitu proses mengubah nilai guna menjadi nilai tukar. Hal ini terkait dengan bagaimana tindakan komunikasi manusia menjadi produk yang mampu mendatangkan keuntungan (Mosco, 2009:130). Jadi, komodifikasi tenaga kerja artinya industri sinetron religi menciptakan tenaga kerja dengan sistem upah.Tenaga kerja yang dimaksud adalah para pekerja media yang terlibat langsung dalam proses produksi budaya yang mana berada pada tahap creation dalam analisis Bill Ryan (1992) mengenai sirkulasi produksi budaya (Hesmondhalgh, 2007:68). Hal ini dikarenakan tahap creation adalah awal dan inti dari gterciptanya sebuah produk budaya itu sendiri. Tahap creation tersebut meliputi conception atau preproduction, execution atau production dan transcription atau postproduction. Keberadaan para pekerja media yaitu seperti penulis naskah, sutradara, pemain/aktor, editor, kameraman, tim artistik dll menjadi aset berharga yang dimiliki perusahaan karena mereka lah yang bertindak sebagai symbol creators. Symbol creators adalah para pekerja utama dalam pembuatan sebuah produk media yang melibatkan kemampuan kreatifitas yang dimiliki (Hesmondhalgh, 2007:5). Hasil kerja symbol creators inilah yang nantinya mampu memberikan masukan keuntungan bagi perusahaan.Dengan adanya komodifikasi tenaga kerja maka muncul pula proses eksploitasi karena eksploitasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses kerja kapitalis. Menurut kalangan Marxis, eksploitasi terbagi menjadi dua yaitu eksploitasi absolut dan eksploitasi relatif yang nantinya akan mampu meningkatkan perolehan laba bagi perusahaan tempatnya bekerja. Eksploitasi absolut merupakan suatu proses pemanfaatan para pekerja media semaksimal mungkin dengan cara memperpanjang hari kerja yang dimiliki untuk upah yang sama (Mosco, 2009:131). Perpanjangan hari kerja terjadi karena perusahaan merasa memiliki seluruh kemampuan yang ada pada diri tenaga kerja yang dibayarkan melalui sistem upah atau gaji sehingga perusahaan berhak memanfaatkannya selama yang diinginkan. Adanya waktu kerja yang tidak terbatas adalah salah satu caraperusahan mendapatkan laba dari para pekerja media. Sistem kerja pun bergerak mengikuti kemauan sang pemilik perusahaan.Sistem kerja yang terjadi pada Screenplay Productions ketika memproduksi sebuah sinetron religi PRR 3 adalah proses produksi sinetron religi hanya dilakukan selama satu hari per episodenya. Hal ini menjadikan alur proses produksi berlangsung secara beriringan mulai dari penulisan naskah, pengambilan gambar, pemahaman naskah hingga proses editing untuk kemudian diserahkan kepada pihak broadcast. Selain itu, para pekerja media juga tidak memiliki jam kerja karena penentu jam kerja bergantung pada seberapa cepat menyelesaikan beban tugas yang diberikan oleh produser pelaksana PRR 3. Tidak adanya istilah kerja lembur ikut serta meniadakan biaya overtime bagi pekerja media.Adanya penerapan pola produksi kejar tayang dan tidak adanya biaya overtime dalam proses pembuatan PRR 3 yang menjadikan para pekerja media tidak memiliki waktu libur atau cuti sehari pun. Penggabungan antara keduanya merupakan sebuah nilai-lebih yang dimiliki oleh perusahaan untuk dapat memperoleh keuntungan secara maksimal dari proses eksploitasi absolut terhadap para pekerja media. Nilai-lebih sendiri berarti diferensiasi antara nilai yang diproduksikan selama satu hari oleh seorang pekerja dan pemulihan tenaga kerjanya (Magnis-Suseno, 2003:185-186).Sedangkan eksploitasi relatif adalah upaya intensifikasi proses kerja melalui kontrol yang lebih besar atas penggunaan waktu kerja, termasuk pengukuran dan sistem pemantauan untuk mendapatkan lebih banyak tenaga kerja keluar dari unit waktu kerja yang berlaku (Mosco, 2009:131). Oleh karena itu, ketika salah seorang pekerja media berhasil menyelesaikan pekerjaannya itu bukan berarti dirinya benar-benar selesai. Para pekerja media dituntut untuk terus produktif dengan berbagai cara, seperti misalnya pembenahan terhadap kendala internal dan eksternal maupun upaya pemenuhan permintaan dari rumah produksi. Hal-hal semacam itu terjadi ketika para pekerja media sedang mengerjakan proses kreatifnya, baik pada saat preproduction, production maupun postproduction.Dalam teori laba yang dikemukakan oleh Marx menyebutkan bahwa tenaga kerja termasuk sebagai baku baku variabel yang istimewa karena dalam proses pemakaiannya akan menghasilkan produk baru yang memiliki nilai lebih (Magnis-Suseno, 2003:190-191). Oleh karena itu, Screenplay Productions memanfaatkan pertukaran antara gaji dengan sumber daya yang dimiliki para pekerja media semaksimal mungkin untuk menghindari terjadinya kerugian dan mendapatkan perolehan laba yang lebih besar lagi. Besarnya gaji tersebut berbeda untuk tiap pekerja media, yaitu penulis naskah memperoleh gaji sekitar 2-5 juta/episode, sutradara 5-7,5 juta/episode, co-sutradara kurang lebih 2 juta/episode, pemain senior yaitu Ramzi kira-kira 2 milyar/bulan dan editor final 7-10 juta/bulan.Perpaduan antara waktu kerja yang tidak terbatas dengan rangkaian proses dan beban kerja yang dialami oleh Novia Rini Faizal, Karsono Hadi, Ramzi, Zurvi B.K. dan yang lainnya merupakan cara yang dipakai oleh Screenplay Productions agar perusahaan tidak mengalami kerugian karena telah membeli kemampuan mereka dengan sejumlah uang yang telah disepakati sebelumnya. Atas dasar itu maka rumah produksi merasa memiliki keseluruhan potensi diri masing-masing pekerja media yang mengakibatkan terjadinya eksploitasi absolut dan eksploitasi relatif sebagai suatu hal yang normal dan bisa dimaklumi. Hal ini dikarenakan apa yang dikerjakan masih menjadi beban kerja yang harus diselesaikan dan masih berada dalam waktu kerja yang disepakati. Terjadinya perlakuan eksploitasi terhadap pekerja media tanpa batas ini menjadikan konsep eksploitasi absolut dan eksploitasi relatif yang diungkapkan oleh kalangan Marxis sedikit kabur.Selain itu, Screenplay Productions tidak hanya menggunakan komodifikasi tenaga kerja melalui proses eksploitasi absolut dan eksploitasi relatif tetapi juga memanfaatkan keberadaan rating yang dimiliki oleh Nielsen Indonesia. Rating digunakan sebagai alat pengukur kesuksesan sinetron religi PRR 3 dan parameter keberhasilan proses kerja yang dilakoni oleh masing-masing pekerja media. Hampir setiap hari Screenplay Productions membeli data rating PRR 3 yang dikeluarkan oleh Nielsen Indonesia yang mana data tersebut digunakan sebagaiacuan pembuatan naskah untuk episode berikutnya. Jadi, ketika ratingnya bagus maka konflik cerita akan terus dipertahankan namun jika tidak baik maka konflik cerita akan diubah dan dicari permasalahan yang lebih menarik lagi. Terjadinya ‘ketaatan’ terhadap hasil rating menjadikan keberadaan rating sebagai sebuah komoditas baru dalam industri sinetron religi. Rating terbentuk melalui proses komodifikasi imanen yang tercipta sebagai akibat langsung dari adanya komodifikasi lain (Mosco, 2009:141).Posisi PRR 3 yang selalu masuk 5 besar rating tertinggi menjadikannya sebagai salah satu program acara terlaris saat jam prime time sehingga banyak pemasang iklan yang mengisi slot jeda iklan yang disediakan oleh Screenplay Productions. Banyaknya pemasang iklan yang berebut slot jeda iklan tersebut ikut serta menambah keuntungan yang didapat dari segi penjualan sinetron religi PRR 3. Hal ini dikarenakan data rating mempengaruhi keputusan para pemasang iklan untuk menempatkan iklannya dengan cara membayarkan sejumlah uang tertentu kepada pemilik program acara (Pearson dan Simpson, 2001:39). Oleh karena itu, kualitas program acara bukan lagi menjadi prioritas utama melainkan tergantung pada apa yang disukai dan tidak disukai oleh masyarakat yang tergambar melalui hasil rating hingga nantinya mampu menghasilkan banyak keuntungan bagi perusahaan.PENUTUP: Sinetron religi yang dipadu padan dengan unsur tema lain, seperti drama, komedi dan yang lainnya, akan menjadi sebuah bisnis yang cukup menjanjikan. Sinetron tersebut muncul karena adanya tren yang sedang berkembang, pangsa pasar masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, menyukai hal-hal yang lucu dan berbau drama. Selama proses produksi berlangsung (preproduction, production, postproduction) terjadi eksploitasi terhadap para pekerja media, baik penulis naskah, sutradara, pemain/aktor, editor maupun kru lainnya. Ada juga data rating dan share sebagai bentuk komoditas baru yang dijadikan acuan untuk mengukur kesuksesan sinetron religi yang telah diproduksi dan penilaian terhadap proses kerja yang dilakukan oleh para pekerja media dari mulai pembuatan naskah hingga proses editing selesai dan ditayangkandi stasiun televisi tertentu. Selain itu, posisi rating dan share juga mempengaruhi keputusan para pemasang iklan untuk menempatkan iklannya dalam slot jeda iklan yang disediakan oleh pihak program acara. Semakin baik posisi rating dan share sinetron religi maka semakin banyak pula perolehan keuntungan bagi rumah produksi.DAFTAR PUSTAKA: Adorno, Theodor W. (1991). The Culture Industry: Selected Essays on Mass Culture. New York: Routledge.; Albarran, Alan B. (1996). Media Economics: Understanding Markets, Industries and Concepts. USA: Iowa State University Press/Ames.; Hesmondhalgh, David. (2007). The Cultural Industries: 2nd Edition. London: Sage Publications.; Magnis-Suseno, Franz. (2003). Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.; Mosco, Vincent. (2009). The Political Economy of Communication. 2nd Edition. London: Sage Publications.; Pearson, Roberta E. dan Philip Simpson. (2005). Critical Dictionary of Film and Television Theory. New York: Routledge.; Taylor, Paul A. dan Jan LI. Harris. (2008). Critical Theories of Mass Media: Then and Now. England: Open Universitu Press.
Fenomena Selfie Kalangan Remaja Perempuan di Instagram Puji Purwati; Hedi Pudjo Santosa; Lintang Ratri Rahmiaji; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.953 KB)

Abstract

Fenomena selfie merupakan fenomena yang lahir dari perkembangan teknologi yang semakin pesat. Selfie adalah seni foto diri yang biasanya dilakukan sendirian atau bersama orang lain dengan menggunakan kamera yang ada pada handphone dan gadget canggih lainnya, kemudian diupload ke situs – situs jejaring sosial. studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi untuk memberikan penjelasan tentang pengalaman remaja perempuan dalam aktivitas selfie di Instagram serta untuk mengetahui konsep diri mengenai penampilan fisik yang terbentuk dalam diri masing – masing remaja perempuan, karena penelitian ini juga melibatkan isu – isu kecantikan perempuan dengan konsep cantik putih, tinggi, dan langsing yang selama ini media massa ciptakan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Interaksi Simbolik karya dari George Herbert Mead dan Herbert Blumer dengan didukung oleh Teori Media Baru dan Teori Mitos Kecantikan Perempuan karya Naomi Wolf.Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja perempuan berlomba – lomba untuk terlihat cantik melalui sebuah foto selfie yang mereka upload di media sosial Instagram, dan mereka juga memiliki pose – pose selfie favorit yang sering digunakan saat selfie, yang mana pose – pose tersebut adalah pose – pose selfie yang dipercaya mampu mendongkrak kecantikan fisik yang mereka miliki. Remaja perempuan pelaku selfie memiliki alasan yang beragam mengapa mereka menyukai selfie, tetapi alasan dan motivasi yang paling krusial adalah karena mereka ingin menunjukkan penampilan fisik yang dimilikinya. Selfie menjadi kebutuhan dalam diri remaja perempuan, sehingga mereka cenderung menghiraukan penilaian orang lain terhadap foto selfie yang dihasilkan, dalam arti penilaian orang lain akan foto selfie-nya tidak memberikan pengaruh yang besar bagi remaja perempuan dalam menilai dirinya sendiri, karena remaja perempuan menilai diri mereka berdasarkan dengan pemahaman mereka atas diri mereka sendiri bukan hanya karena penilaian dari orang lain.Adapun hal menarik yang membuktikan bahwa remaja perempuan yang tidak dinilai cantik secara sosial, justru mereka lebih percaya diri mengenai kecantikan atau penampilan fisik mereka, sehingga konsep diri mereka cenderung positif. Dari fenomena selfie, konsep diri positif dapat terlihat pada aktivitas mereka saat sebelum upload selfie, yaitu mereka tidak memanipulasi foto selfie-nya secara berlebihan, karena mereka dapat menerima diri apa adanya, sedangkan untuk remaja perempuan yang sering dinilai cantik secara sosial, justru dia memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah, dan konsep diri yang negatif. Dari fenomena selfie, konsep diri negatif pada diri remaja perempuan ditunjukkan dari aktivitasnya dalam melakukan selfie, yang mana dia selalu berusaha untuk memanipulasi foto selfie-nya secara berlebihan dengan cara merubah bentuk – bentuk wajah dan tubuhnya pada foto selfie-nya tersebut.
Representasi Hubungan Percintaan pada Lirik Lagu JKT48 Putri Ariyani, Destria; Dwiningtyas Sulistyani, Hapsari
Interaksi Online Vol 7, No 2: April 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.712 KB)

Abstract

JKT48 often tells about love stories from the perspective of women, and it shows that love is a main theme which considered as important for women. Romantic relationship stories then become a theme which often found in women singers’ song lyrics, and it shows its importance for women. Thus, this research aims to find out how romantic relationship itself is represented in JKT48’s song lyrics. This research used constructivism paradigm with qualitative approach and semiotic as its analysis method. The data collection techniques use the study of documents and the study of bibliography. The data analysis technique used Barthes’s narration codes or Barthes lexia codes which consisted of hermeneutics code, semic code, symbolic code, proairectic code, and cultural code. The result of this research showed that: there is a liking toward the other person in the form of physical and non-physical attraction, physical beauty was perceived as beneficial for women to achieve the ideal romantic relationship, keeping the virginity is perceived as a principle, men prefer a physical beauty as a criterion for their romantic relationship partner, women can reject romantic relationship if they haven’t fulfill their own idealism on the relationship itself, and there was an integration of meaning and hope in the events.
PENERIMAAN KHALAYAK TERHADAP ACARA MEWUJUDKAN MIMPI INDONESIA Beta Fiftina Aryani; Triyono Lukmantoro; M Bayu Widagdo; Much. Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.952 KB)

Abstract

Menuju Pemilu 2014 banyak tokoh politik di Indonesia yang menampilkan diri melalui media massa khususnya televisi. Berbagai progam acara di televisi dimanfaatkan sebagai alat untuk menarik simpati dan menciptakan citra positif dari khalayak, salah satunya adalah progam acara reality show. Reality show Mewujudkan Mimpi Indonesia menampilkan sosok Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo dengan aksi dan peran-peran yang berbeda dan tidak biasa mereka lakukan, demi mewujudkan impian masyarakat Indonesia, sehingga membuat acara tersebut menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan khalayak tentang acara Mewujudkan Mimpi Indonesia. Penelitian ini menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall yang digunakan untuk menjelaskan proses pemaknaan khalayak terhadap tayangan Mewujudkan Mimpi Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian dengan tipe deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Analisis resepsi memandang khalayak sebagi penghasil makna ( producers of meaning) yang aktif dalam mempersepsi pesan dan memproduksi makna, tidak hanya sekedar menjadi individu pasif yang menerima begitu saja makna yang diproduksi oleh media massa.Penelitian dilakukan menggunakan wawancara mendalam (depth nterview) kepada lima orang informan yang merupakan pemirsa dari acara reality show Mewujudkan Mimpi Indonesia. Informan yang dipilih memiliki latar belakang yang berbeda, baik usia, jender, pendidikan maupun status sosial. Hasil penelitian akan membagi khalayak ke dalam tiga tipe dan posisi pemaknaan. Yaitu kelompok dominat reading, khalayak memaknai tayangan Mewujudkan Mimpi Indonesia sesuai dengan preferred reading (makna dominan). Kelompok negotiated reading, memaknai tayangan ini dari dua sisi, yaitu menganggap bahwa tayangan ini tidak etis jika digunakan sebagai alat propaganda politik dan menganggap tayangan ini sebagai tayangan yang memotivasi serta memberikan inspirasi kepada penontonnya. Sedangkan kelompok oppositional reading, adalah khalayak yang memiliki pemaknaan yang berbeda sama sekali dengan makna dominan. Khalayak oppositional memaknai bahwa tayangan Mewjudkan Mimpi Indonesia adalah tayangan yang membodohi publik, karena dimanfaatkan sebagai alat propaganda politik oleh elit politik tertentu.Kata kunci : analisis resepsi, reality show, propaganda politik
PENGARUH PLAYFULNESS ADVERGAME TERHADAP LEVELS OF COMPREHENSION (TINGKAT PEMAHAMAN) DARI BRAND MESSAGE (PESAN MEREK) Hario Trigoseno; Djoko Setyabudi, S.Sos, MM
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.476 KB)

Abstract

Advergame merupakan salah satu marketing tools yang mulai digunakan di Indonesia. Game memiliki sifat yang interaktif dimana terdapat sebuah pesan yang ingin disampaikan pemasar melalui media yang dinilai menyenangkan ini, melalui rules yang ada pada game ini tanpa sadar para pemain mengikuti peraturan permainan dan berpatisipasi aktif mengolah pesan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Tingkat Playfulness dalam advergame terhadap levels of comprehension (tingkat pemahaman) dari brand message (pesan merek) dengan menggunakan pendekatan positivistic yang menguji relasi 2 variabel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan teknik one shot case study dengan total sampel 30 orang yang terbagi dalam dua kelompok yaitu kelompok dengan tingkat Playfulness tinggi (P1) dan kelompok dengan tingkat Playfulness rendah (P2). Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner diberikan pada partisipan setelah bermain advergame. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis komparatif dua kelompok beda Independent Sample T-Test dengan memenuhi uji Kolomogrov Smirnov dan uji homogenitas variansi. serta menggunakan uji Mann Whitney U bila uji normalitas tidak memenuhi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat playfulness dalam advergame sangat berpengaruh terhadap levels of comprehension (tingkat pemahaman) dari brand message (pesan merek). Hal ini disebabkan nilai probabilitas signifikansi pada Uji Independent Sample Test menunjukkan nilai >0,01. Selain itu nilai rata-rata kedua kelompok menunjukkan perbedaan yang signifikan. Sehingga dapat dinyatakan bahwa Tingkat Playfulness adalah aspek yang perlu diperhatikan dalam pemahaman pesan game.
Hubungan Terpaan Pemberitaan Korupsi di Televisi dan Pernyataan Presiden SBY di Televisi dengan Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada Pemerintah LISTIANTO HINDRA PRAMONO; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.938 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Dewasa ini pers Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa dalam mengekspresikan kebebasan. Fenomena itu ditandai dengan munculnya media baru baik cetak maupun elektronik dengan berbagai kemasan dan segmen. Keberanian pers dalam mengkritik penguasa juga menjadi ciri baru pers Indonesia. Hal ini juga terlihat akhir-akhir ini ketika pers berani mengungkapkan kasus-kasus korupsi maupun skandal-skandal yang diduga melibatkan beberapa pejabat publik, menteri, anggota dewan sampai ketua partai, baik yang dilakukan sendiri maupun secara “berjamaah”, dari tingkat paling atas sampai ke tingkat paling bawah.Melalui peran media, kini kasus-kasus tersebut dapat diketahui oleh masyarakat luas. Media sekarang berani membongkar kompleksitas kasus korupsi dengan mencoba mengungkap keganjilan-keganjilan yang terjadi melalui liputan, tayangan, dan investigasi sendiri secara mendalam, sehingga pemberitaan yang disajikan terkadang kritis terhadap pemerintah. Dengan gencarnya pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi di televisi yang semakin hari semakin marak, kredibilitas pemerintahan SBY benar-benar diuji. Hal tersebut sebenarnya bisa mengindikasikan seberapa seriuskah pemerintahan SBY jilid II ini dalam memberantas kasus-kasus korupsi. Selain itu, yang menarik dari kebebasan pers yang selama ini dinikmati, adalah tak luputnya sang kepala negara menjadi isu dan pemberitaan yang panas, seperti pernyataan-pernyataan SBY yang dimuat di media. Melalui media, pernyataan-pernyataan SBY ketika menyampaikan pidato di depan umum, terkadang di tanggapi beragam oleh media (dalam hal ini media televisi yang paling gencar).Menurut data yang dikutip dari detiknews.com (27/6/2011), riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 2011, kepuasan publik atas kinerja Presiden SBY terus merosot. Menurut lembaga survey tersebut salah satu penyebabnya adalah sikap reaktif SBY jika sedang diserang isu di mana SBY menyampaikan kegelisahannya dengan curhat di depan publik. Selama ini, suka atau tidak suka, media televisi sebagai “opinion leader” telah membentuk interpretasi berdasarkan pandangannya bahwa pernyataan-pernyataan SBY tersebut merupakan “cuhat/curahan hati sang presiden”. Media menjustifikasi SBY sebagai “tukang curhat”, “lamban”, “kurang gesit”, “terlalu reaktif”, dan berbagai sebutan yang dapat melemahkan citra SBY.Namun, di Istana Negara pada Senin (8/10) malam, melalui pidatonya Presiden SBY menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam bersikap. SBY yang kerap dianggap absen ketika terjadi konflik, kali ini hadir di saat kekisruhan antara KPK dan Polri semakin memanas. Pangkal persoalannya adalah ketika pemberitaan kasus korupsi simulator SIM ditubuh POLRI mulai melebar dan menjadi isu panas serta memunculkan istilah “Cicak vs Buaya Jilid II” dalam berbagai pemberitaan hingga menyulut pertikaian antara KPK dan POLRI.Sontak peristiwa tersebut juga diliput berbagai media termasuk televisi, bahkan berbagai stasiun televisi seperti Metro TV, TV One, TVRI menayangkan pidato tersebut secara penuh dan langsung. Pernyataan Presiden SBY tersebut memang ditunggu-tunggu. Banyak kalangan yang meminta agar konflik yang melanda dua institusi penegak hukum tersebut harus segera diakhiri dan presiden menepati janjinya untuk buka suara dalam menyelesaikan konflik ini. Dalam pidatonya tersebut Presiden SBY menyampaikan Lima Keputusan (solusi) Presiden soal konflik Polri dan KPK. Setelah pidato tersebut banyak kalangan dan masyarakat yang mengapresiasi/memuji substansi pidato tersebut, mereka menilai pidato tersebut cukup tegas. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi dan menimbulkan opini publik serta persepsi yang berbeda-beda dari para audiensnya.Penelitian ini hanya untuk menguji hipotesis di mana diasumsikan sementara bahwa terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Namun tidak untuk mengetahui efektivitas atau pengaruh dari ketiga variabel di atas. Pembatasan penelitian kali ini hanya dilakukan terhadap masyarakat yang pernah terterpa pemberitaan korupsi di televisi, serta pernah menerima terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi (dalam hal ini tentang pernyataan presiden SBY dalam menengahi konflik KPK-POLRI pada tanggal 8 Oktober 2012), serta yang telah berusia 18 tahun ke atas. Diharapkan pada pembahasan kita dapat mengetahui hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.PEMBAHASANTerdapat beberapa teori yang mendasari dari terbentuknya hipotesis di atas, yaitu:McQuail (1987: 263) menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan oleh berita sendiri adalah kebanyakan efek yang ditimbulkannya berupa tambahan pengetahuan tentang informasi faktual berjangka waktu pendek; barangkali juga pembentukan cara pandang terhadap gambarandunia dan masyarakat yang berjangka waktu panjang, serta kerangka berfikir untuk menafsirkan makna pelbagai peristiwa. Berita memiliki kecenderungan yang normatif dan dirancang atau didayagunakan untuk membentuk dan menunjang nilai-nilai dan pandangan tertentuMenurut teori hierarki efek (Liliweri, 1991:39) secara umum terdapat tiga efek dari komunikasi massa, yaitu: (a) efek kognitif, pesan komunikasi massa mengakibatkan khalayak berubah dalam hal pengetahuan, pandangan, dan pendapat terhadap sesuatu yang diperolehnya; (b) efek afektif, di mana pesan komunikasi massa mengakibatkan berubahnya perasaan tertentu dari khalayak. Orang dapat menjadi lebih marah dan berkurang rasa tidak senangnya terhadap sesuatu akibat membaca surat kabar, mendengarkan radio, atau menonton televisi; (c) efek konatif, akibat pesan komunikasi massa mengakibatkan orang mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.Sedangkan terpaan sendiri, menurut pendapat Shore (Kriyantono, 2006: 204-205), lebih dari sekedar mengakses media. terpaan tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisik cukup dekat dengan kehadiran media massa, akan tetapi apakah seseorang itu benar-benar terbuka terhadap pesan-pesan media massa tersebut. Terpaan merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut yang dapat terjadi pada tingkat individu maupun kelompok.Menurut Baldoni (Kaban, 2009:51) keberhasilan seorang pemimpin, termasuk presiden, sesungguhnya sangat ditentukan oleh kepiawaiannya berkomunikasi, karena melalui komunikasi, pemimpin membangun trust (kepercayaan) kepada rakyat atau pengikutnya. Pernyataan-pernyataan Presiden SBY yang dikutip oleh media tersebut adalah bagian dari naskah/teks pidatonya sebagai kepala negara, di mana pidato sendiri dapat digolongkan sebagai sebuah retorika politik. Heryanto dan Zarkasy dalam bukunya Public Relations Politik (2012:118) mendefinisikan retorika politik sebagai seni berbicara pada khalayak politik dalam upaya mempengaruhi khalayak tersebut agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh komunikator politik.Secara konseptual, ketiga variabel pada penelitan ini memiliki definisi sebagai berikut:1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisiKemampuan seseorang untuk menceritakan/menjelaskan kembali pemberitaan tentang korupsi di televisi tersebut setelah mereka melakukan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan pemberitaan tentang korupsi di televisi.2. Terpaan pernyataan Presiden SBY di televisiKhalayak, dalam hal ini masyarakat, menonton televisi kemudian terkena terpaan pernyataan Presiden SBY sehingga mereka mampu untuk menceritakan/menjelaskan kembali pesan-pesan yang terkandung dalam terpaan pernyataan tersebut.3. Tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintahAdalah penilaian masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY dalam menerapkan dan menjalankan sejumlah program aksi prioritas yang merupakan rumusan dan penjabaran yang lebih operasional dari Visi dan Misi pemerintah 2009-2014.Dalam penelitian ini, terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk mencari tahu varibel terpaan pemberitaan korupsi di televisi, pernyataan Presiden SBY di televisi, dan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisiMerupakan kemampuan khalayak menjelaskan kembali pemberitaan tentang korupsi di televisi. Variabel ini diukur dengan melihat seberapa jauh pemahaman/pengetahuan responden/khalayak terhadap kasus-kasus korupsi yang diberitakan di televisi.Tolok ukur:a. pemahaman/pengetahuan responden/khalayak terhadap pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi :- Korupsi Al Qur’an- Korupsi Sport Centre Hambalang- Korupsi Simulator SIM- Korupsi Suap Bupati Buol- Korupsi Wisma Atlet di Palembangb. siapa pelaku dan siapa saja yang terlibat2. Terpaan pernyataan Presiden SBY di televisiTerpaan pernyataan Presiden SBY di televisi diukur dengan indikator:Pengetahuan responden/khalayak mengenai pemberitaan tentang pernyataan pernyataan SBY. Tolok ukurnya adalah khalayak/masyarakat mengetahui dan bisa menerangkan kembali isi pesan pernyataan Presiden SBY di televisi, pada pernyataan SBY tentang konflik KPK-POLRI.3. Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada PemeritahVariabel ini diukur dengan indikator:Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam menerapkan dan menjalankan :a. Program Aksi Perbaikan dan Pelaksanaan Tata Kelola Pemerintahan yang BaikTolok ukurnya:1) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam melakukan pengawasan kinerja dan dampak reformasi, termasuk pemberantasan korupsi dan penerapan disiplin dan hukuman yang tegas bagi pelanggaran sumpah jabatan, aturan, disiplin, dan etika kerja birokrasi. (Misalnya: Pemerintah dalam hal ini Presiden SBY berani menegur bahkan mencopot pejabat yang melanggar sumpah jabatan /termasuk terlibat korupsi).2) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas layanan pemerintahan dengan perumusan standar pelayanan minimum yang diketahui masyarakat beserta pemantauan pelaksanaannya oleh masyarakat (misalnya: perekrutan pegawai/tender sampai pengangkatan pejabat struktural dalam sebuah lembaga/ departemen/pemerintah daerah dilaksanakan secara transparan dan akuntabel sehingga dapat dipantau masyrakat luas).b. Program aksi Penegakan HukumTolok ukurnya:1) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam memperbaiki law enforcement (misal: memperbaiki mutu dan integritas aparat penegak hukum baik di Kepolisian, Kejaksaan maupun Pengadilan)2) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam meninjau ulang dan memperbaiki peraturan yang menyangkut penegakan hukum termasuk pengaturan hak-hak polisi, peraturan-peraturan pelaporan, dan aturan pelayanan dari aparat penegak hukum. (misal: membuat aturan main/peraturan perundang-undangan yang tegas termasuk terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh oknum penegak hukum serta memberi jaminan kepastian hukum dan keadilan bagi semua)3) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam melakukan pencegahan dan penindakan korupsi secara konsisten dan tanpa tebang pilih.Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatori, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji hipotesis mengenai hubungan kausal antar variabel yang diteliti, yaitu hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi (X1) dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (X2) dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang pernah melihat pemberitaan korupsi di televisi, serta pernah menerima terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 40 orang, dengan teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling (metode tak acak) dengan proses sampling purposif. Sampling purposif adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti. Teknik ini mencakup orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian.Digunakan analisis yang bersifat kuantitatif untuk menguji hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (variable X) dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah (variabel Y). Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan uji statistik yang menggunakan analisis koefisien korelasi dan konkordansi Rank Kendall dengan menggunakan perhitungan dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).Hasil dari penelitian ini, menyatakan bahwa terpaan pemberitaan korupsi di televisi ternyata tidak berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik di mana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,805 dan koefisien korelasi sebesar -0,037. Oleh karena sig sebesar 0,805 > 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menolak hipotesis alternatif (Ha) dan menerima hipotesis nol (Ho). Pernyataan presiden SBY di televisi ternyata berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hal ini berdasarkan data uji hipotesis, diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,050 dan koefisien korelasi sebesar -0,294. Oleh karena sig sebesar 0,050 = 0,05 (tidak lebih besar dari 0,05); maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima hipotesis alternatif (Ha) dan menolak hipotesis nol (Ho). Sedangkan apabila ketiganya dikaitkan dengan uji Konkordansi Kendall ternyata hasil penelitianmenunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah,Jadi artinya bahwa ketika terpaan pemberitaan korupsi di televisi tinggi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (dalam hal ini pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya tentang konflik KPK-POLRI) tinggi maka tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah cenderung rendah.Berdasarkan uji statistik didapati bahwa ternyata tidak terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, hal ini bisa dijelaskan dengan menggunakan teori perbedaan-perbedaan individu mengenai pengaruh komunikasi massa (the individual differences theory of mass communication effect), di mana menurut teori ini bahwa tiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaannya maupun nilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasi massa juga berbeda (Liliweri, 1991:106). Bahkan menurut De Fleur (Liliweri, 1991:105) menambahkan bahwa setiap individu memilki kepribadian masing-masing yang akan mempengaruhi juga perilaku mereka dalam menanggapi sesuatu.Setelah dilakukan pencarian dan pengolahan data, diperoleh hasil bahwa terdapat kecenderungan hubungan negatif antara terpaan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hasil tersebut cukup beralasan karena meskipun dalam kenyataannya banyak kalangan yang menilai pidato SBY kali ini cukup baik (karena dari poin-poin yang disampaikan SBY yang berpihak pada keinginan publik dan media), namun timing/waktu SBY yang tidak cepat (terkesan terlambat) dalam memberikan pernyataan dalam menengahi konflik KPK-POLRI, membuat persepsi masyarakat terhadap kinerja pemerintah menjadi negatif. Seperti yang dingkapkan Priyatno Harsasto, Pengajar Universitas Diponegoro, Semarang dalam tanggapannya mengenai konflik KPK-Polri terkait kasus simulator SIM ini, bahwa menurutnya keterlambatan dalam mengambil keputusan, hanya akan menimbulkan kesan bahwa Presiden kurang berpihak pada upaya pemberantasan korupsi. (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/09/mbluo0-pernyataan-presiden-dinilai-terlambat).Artinya ada penanganan manajemen krisis yang lamban oleh pemerintah. Kekisruhan hukum dan politik dalam kasus KPK-POLRI “jilid II” dengan mempertontonkan dramaturgi sosok penguasa dan penegak hukum yang saling antagonistik di ruang publik melalui media inijustru semakin memberikan banyak pengetahuan masyarakat akan apa yang sebenarnya terjadi pada kasus tersebut. Pemberitan tersebut menjadi isu panas, dan selalu menempati menu pemberitaan utama media dalam waktu yang cukup lama (frekuensi penayangan/pembahasan yang sering). Dengan berlarut-larutnya konflik pada akhirnya justru semakin meneguhkan kesan kekurangseriusan pemerintah dalam menangani kasus korupsi.Hal tersebut sesungguhnya juga tak bisa dilepaskan dari citra/image negatif SBY yang selama ini melekat pada dirinya. Melalui media, SBY memang sering digambarkan sebagai seorang presiden yang “peragu”, “tukang curhat”, “lamban”, “kurang gesit”, “terlalu reaktif”, “mementingkan pencitraan” dan berbagai sebutan minor lainnya. Hal ini sebenarnya menyiratkan bahwa komunikasi politik yang dilakukan SBY melalui pidato/pernyataannya di media mengalami apa yang disebut oleh Liliweri (1991:27) sebagai hambatan prasangka. Menurut Rose (Liliweri, 1991:27) prasangka merupakan suatu sikap dari seseorang yang mencurigai orang lain dengan membanding-bandingkannya dengan diri sendiri atau orang lain yang lain yang mengarah kepada suatu perasaan yang negatif. Kalau saja hal ini terjadi maka setiap pesan yang disampaikan oleh seseorang, ataupun komunikator dalam komunikasi tidak dipercayai karena penerima telah mempunyai sikap apriori terlebih dahulu.Melalui hasil pencarian dan pengolahan data dalam penelitian ini ternyata membuktikan bahwa terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, namun begitu arah hubungan pada variabel terpaaan pernyataan presiden SBY dan tingkat kepercayaan memiliki arah kecenderungan hubungan negatif. Kedua variabel tersebut merupakan faktor yang mendorong rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan SBY kali ini, yaitu dalam menjalankan visi misi seperti yang diusungnya dalam memenangkan Pemilu 2009, di antaranya mewujudkan good governance melalui perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik serta penegakan hukum. Rakhmat (2001:130) menyatakan bahwa ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya, yaitu: menerima, empati dan kejujuran.Masyarakat menilai bahwa pemerintahan SBY tidak memiliki ketiga hal tersebut, melalui gencarnya pemberitaan tentang korupsi menandakan bahwa tidak adanya kejujuran dalam penyelenggaraan pemerintahan, serta keseriusan dalam memberantas praktek-praktek korupsi. Selain itu pidato/pernyataan-pernyataan SBY selama ini (yaitu pernyataan SBY tentang konflikKPK-POLRI) yang merupakan bentuk empati terhadap keinginan masyarakat di mana pernyataan SBY dalam pidato ini sesungguhnya merupakan bentuk komitmen pemerintahan SBY Jilid II ini dalam upaya pemberantasan korupsi, karena poin-poin dalam pidato tersebut sesungguhnya mencerminkan keberpihakan SBY pada keinginan masyarakat, namun ternyata juga tak diterima dengan baik oleh masyarakat.PENUTUP1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisi ternyata tidak berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.2. Terdapat hubungan negatif antara pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata terdapat hubungan negatif antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, Jadi artinya bahwa ketika terpaan pemberitaan korupsi di televisi tinggi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (dalam hal ini pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya tentang konflik KPK-POLRI) tinggi maka tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah cenderung rendah.SARAN1. Media massa dapat berperan penting dalam membongkar korupsi, dalam keadaan seperti ini media diharapkan dapat menjadi fasilitas penyampaian informasi serta menegakkan transparansi. Karena jika kurang adanya transparansi, hal ini akan menyebabkan buruknya kinerja aparat pemerintah dan penyebab maraknya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Untuk itu media massa dalam hal ini televisi diharapkan mampu memberikan informasi yang objektif, faktual dan tanpa bertendensi, maka check and rechek, akurasi, keberimbangan dan independensi harus selalu dilakukan semua perusahaan media massa (televisi) di Indonesia dalam sebuah produksi pemberitaan termasuk menyangkut sebuah opini dan perspektif atas suatu kasus. Selain itu dengan semakin banyak publikasi dan pemberitaan tersebut nantinya diharapkan akan memberikan beban bagi pemerintah untuk membuktikan itikadnya.2. Bagi presiden SBY disarankan untuk perlu memperbaiki citra/kredibilitasnya, yaitu dengan lebih membuktikan keseriusanya pada masyarakat dalam melaksanakan visi misi pemerintahannya yang dulu diusungnya dalam memenangkan Pemilu 2009, di antaranyamewujudkan good governance melalui perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik serta penegakan hukum. Perlu juga dicatat bahwa bebagai strategi komunikasi politik dalam rangka untuk meningkatkan citra akan sia-sia jika tidak disertai dengan kinerja nyata dari pemerintah. Dalam kaitannya dengan kegiatan komunikasi politik terutama berkaitan dengan pidato di depan umum/media, yang perlu diperhatikan adalah bahwa tindakan retorika tidak hanya cukup berbekal argumen yang meyakinkan belaka melainkan juga harus mampu menampilkan sosok komunikator sebagai komunikator yang kredibel dan terpercaya.3. Pemerintah dalam hal ini presiden SBY harus cepat dalam mengambil keputusan, termasuk dalam memberikan pernyataan melalui pidato dengan tujuan memberikan penjelasan kepada publik sekaligus sebagai instruksi bagi penanganan kasus tersebut. Hal ini didasarkan pada kasus korupsi Simulator SIM yang berujung pada konflik KPK-POLRI serta kaitannya dengan pidato/pernyataan SBY terkait konflik tersebut, ini membuktikan bahwa krisis yang berlarut-larut justru akan menjadi bahan konsumsi/sorotan publik melalui media massa, sehingga akan berpengaruh terhadap kredibilitas pemerintah di mata masyarakat, untuk itu perlu adanya manajemen krisis yang tepat dan cepat dari pemerintah dalam hal ini presiden selaku pimpinan.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik: Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi dan Komunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha IlmuFahmi, A. Alatas. 1997. Bersama Televisi Merenda Wajah Bangsa. Jakarta: YPKMDHamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta: GranitHeryanto, Gun Gun dan Irwa Zarkasy. 2012. Public Relations Politik. Bogor: Ghalia IndonesiaKartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar MajuKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLiliweri, Alo.1991. Memahami Peran Komunikasi dalam Masyarakat. Bandung: Citra Aditya BaktiLuwarso,Lukas dkk. 2004. Media dan Pemilu 2004. Jakarta: SEAPAMcQuail, Denis.1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : ErlanggaMuhtadi, Asep Saeful. 2008. Komunikasi Politik Indonesia: Dinamika Islam Politik Pasca-Orde Baru. Bandung: Remaja RosdakaryaMulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa : Kontroversi, Teori dan Aplikasi. Bandung : Widya PadjajaranNugroho D, Riant. 2004. Komunikasi Pemerintahan. Jakarta: Elex Media KomputindoNurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : CespurRakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja RosdakaryaSamsuri. 2004. Media dan Transparansi. Jakarta: SEAPASeverin, Werner J. dan James W. Tankard Jr. 2005. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode dan Terapan di dalam Media Massa. Jakarta: KencanaSingarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3SSudibyo, Agus. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta : LKISSuparmo, Ludwig. 2011. Crisis Management dan Public Relations. Jakarta: IndeksSuwardi, Harsono dan Sasa Djuarsa Sandjaja dan Setio Budi (eds). 2002. Politik, Demokrasi dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Galang PressWest, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi Edisi 3 Buku 2. Jakarta : Salemba HumanikaWinarni. 2003. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Malang: UMM PressWiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : GrasindoLain-LainKaban, Ramon, “Komunikasi Politik Presiden RI: Dari Soekarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono (Perspektif Karakteristik Tokoh)”. Observasi, vol. 7, No.2, tahun 2009, hal. 60Kompas, Minggu 24 Januari 2010. Berita Menggeser Sinetron.http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/kpk-vs-polri-pidato-sby-banjir-pujian-maupun-sindiranhttp://jambi.tribunnews.com/m/index.php/2012/10/04/koruptor-makan-uang-negara-rp-122-triliun-satu-semesterhttp://m.antaranews.comberita-fokushttp://mediacenter.kpu.go.id/images/mediacenter/VISI_/VISI_MISI_SBY-Boediono__ FINAL__ke_KPU_25_Mei_2009__A4_.pdfhttp://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/07/22/132616/Nazaruddin-Muncul-di-Metro-TVhttp://nasional.kompas.com/read/2012/10/06/2020573/Abraham.Berharap.Presiden.Selesaikan.Konflik.KPK-Polrihttp://nasional.kompas.com/read/2009/07/23/18004364/SBY-Boediono.Menang.60.80. Persenhttp://news.detik.com/read/2011/06/27/113024/1669317/10/sby-diminta-stop-curhat-dan-politik-pencitraanhttp://news.detik.com/read/2012/10/09/065802/2057818/10/sby-pantas-menuai-pujian?nd771108bcjhttp://news.detik.com/read/2012/10/09/060346/2057812/10/icw-pidato-sby-sudah-tegas-pelaksanaannya-harus-dikawal-bersama?nd771108bcjhttp://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468071/pemberantasan-korupsi-di indonesia-peringkat-2-dari-bawahhttp://politik.kompasiana.com /2011/01/25/paradoks-komunikasi-sby/http://pustakawan.pnri.go.id/uploads/media/5/APLIKASIFILSAFATDALAMILMUKOMUNIKASI.dochttp://www.antaranews.com/berita/1295860097/pakar-media-berlebihan-soal-pernyataan-presidenhttp://www.bisnis-kti.com/index.php/2012/10/kpk-vs-polri-pidato-sby-dinilai-terlalu-berhati-hati/http://www.indonesiafinancetoday.com/read/13548/Berita-Nazaruddin-Dorong-Pertum buhan-Pemirsa-TV-di-Juli-Agustushttp://www.kpi.go.id/component/content/article/14-dalam-negeri-umum/30399-partai-demokrat-adukan-tv-one-dan-metro -tv-ke-kpihttp://www.metrotvnews.comreadnewsprograms2012061512932121Kegalauan-Yudhoyono-.htmhttp//www.metrotvnews.com/readnews/2012031885449SBY-Ada-Gerakan-Aneh-untukJatuhkan-Pemerintah1http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/09/mbluo0-pernyataan-presiden-dinilai-terlambathttp://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/09/12/lrevtp-perkara-korupsi-di-indonesia-mencapai-1018-kasushttp://www.tempo.co/read/news/2009/07/22/078188554/SBY-Pidato-Saya-Dipelintir-dan-Diputarbalikanhttp://www.youtube.com/watch?v=qikfqfktb-8http://video.tvonenews.tv/arsip/view/62583/2012/10/07/ketua_kpk_berharap_presiden_turun_tangan_dalam_konflik_kpk _dan_ polri.tvOnehttp://video.tvonenews.tv/arsip/view/62639/2012/10/08/pidato_presiden_ri_terkait_kisruh_polri_dan_kpk.tvOne

Page 61 of 157 | Total Record : 1563