cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Hubungan antara Intensitas Menonton Televisi dan Tingkat Pengawasan Orang Tua (Parental Mediation) dengan Perilaku Kekerasan Oleh Anak Austin Dian P; Taufik Suprihatini; Sri Widowati Herieningsih; Nuriyatul Lailiyah
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.348 KB)

Abstract

Televisi masih menjadi media pilihan khalayak untuk mendapatkan informasi dan hiburan di saat maraknya era website, karena kemampuannya mengatasi faktor jarak, ruang, dan waktu. Namun kini banyak tayangan televisi yang mengandung konten kekerasan dan pengaduan masyarakat mengenai acara televisi terus meningkat di KPI dari tahun ke tahun. Banyak program yang mendapat teguran dari KPI hingga beberapa program dicekal untuk tayang. Oleh karena itu perlu adanya pengawasan dari orang tua yang dianggap lebih memahami dan dapat membimbing ketika anak-anak sedang menonton televisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menonton televisi dan tingkat pengawasan orang tua (parental mediation) dengan perilaku kekerasan oleh anak. Intensitas menonton televisi adalah tingkat keseringan (frekuensi), kualitas kedalaman menontonatau durasi dan daya konsentrasi dalam menonton televisi yang diukur dengan frekuensi, durasi,dan perhatian. Tingkat pengawasan orang tua diukur dengan aturan yang ditetapkan, pengawasanorang tua, dan menemani. Sedangkan perilaku kekerasan oleh anak diukur dengan dua dimensi,yaitu kekerasan secara fisik dan kekerasan secara verbal. Teori yang digunakan adalah teoriKultivasi dari George Gerbner dan teori Parental Mediation dari Nathanson. Penelitian inimerupakan penelitian eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian iniadalah siswa kelas 3, 4, 5, dan 6, SD Negeri Wonolopo 3 Semarang yang berjumlah 203 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik nonrandom sampling. Teknik ini menggunakan cara pengambilan purposive sampling, yang berjumlah 65 orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis koefisien korelasi rank Kendall menggunakan perhitungan program SPSS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara intensitas menonton televisi dengan perilaku kekerasan anak. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,040 dengan koefisien korelasi sebesar 0,239. Oleh karena sig sebesar 0,040 < 0,05; maka kesimpu lan yang dapat diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). Begitu pula untuk variabel tingkat pengawasan orang tua (parental mediation) dengan perilaku kekerasan anak menunjukkan bahwa terdapat hubungan Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,022 dengan koefisien korelasi sebesar – 0,265. Oleh karena sig sebesar 0,022 < 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). Saran yang diberikan sebagai implikasi hasil penelitian adalah stasiun televisi perlu menyeleksi kembali jam tayang untuk program yang berisi konten dewasa dan memberikan kode untuk setiap tayangan.Key words : Intensitas Menonton Televisi, Pengawasan Orang Tua, Perilaku Kekerasan Oleh Anak
The Relation of Curanmor News Online Exposure and the Frequency of Curanmor Word of Mouth with the Alertness Level of Students Motorcyclists In Tembalang Rico Ananda Putra, Yohanes; Pradekso, M.Sc, Drs. Tandiyo
Interaksi Online Vol 5, No 1: Januari 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.834 KB)

Abstract

Curanmor cases that occurred in Tembalang turns out to be phenomenon that also highlighted by college students. There are various curanmor word of mouth broadcast message about students lose motorcycles in various places in Tembalang plus another curanmor news on online mass media very easily accessible. On the other side the increase in the number of cases curanmor occurring in Tembalang shows that in the last few years the alertness level of students motorcyclists on Tembalang decline, where most of the victim are a students. The purpose of this research is to knowing the relation of curanmor news online exposure and the frequency of curanmor word of mouth with the alertness level of students motorcyclists In Tembalang. Theory used in this research is the Cognitive Dissonance Theory by Festinger. The type of this research is explanatory research. This research using non-random dan accidental sample collecting method, with total 30 sample of respondent. Testing instrument used for testing the hypothesis is corelation statistic test. Correlation analysis used in this research is the Pearson correlation analysis. The hypothesis test showed the significant value of Curanmor News Online Exposure variable by 0,880, and 0,499 for the significant value of Frequency of Curanmor Word of Mouth variable. All the significant values are lower than α(0,05), so the both variable are not connected to the Alertness Level of Students Motorcyclists In Tembalang. The conclusion of this research is for college students to aware about persuasive message about curanmor alertness from banner either from the police department or university.
Video Dokumenter Televisi ‘Ngesti Pandowo’ (Produser dan Editor) Astrid Henariani Prakoso; Djoko Setyabudi; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Kebudayaan merupakan salah satu identitas suatu bangsa. Bangsa Indonesia sendiri memiliki banyak kebudayaan yang tersebar di setiap wilayahnya. Seiring berjalannya waktu, masuk dan tumbuh kebudayaan baru di Indonesia. Dengan masuknya kebudayaan baru ditakutkan menggeser kebudayaan tradisional yang sudah ada. Terlebih lagi budaya modern yang lebih diminati banyak orang terutama anak muda daripada budaya tradisional yang sudah ada. Kebudayaan tradisional di Kota Semarang sendiri sebenarnya masih ada, sampai sekarang masih ada tempat yang mengandung unsur budaya tradisional yang tidak kalah bersejarah dibanding wisata Lawang Sewu dan Gereja Blenduk yang menjadi ikon kota Semarang. Tepatnya, terletak di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Tempat ini memiliki nilai budaya tradisional yang tinggi, bukan karena bangunannya tetapi kegiatan yang dilakukan di tempat tersebut.Kegiatan yang dilaksanakan di gedung ini adalah pentas kesenian wayang orang. Kelompok kesenian wayang orang di Semarang yang ada sejak tahun 1937 tampil setiap Sabtu malam di gedung TBRS. Kelompok ini mencoba untuk menampilkan kesenian tradisional kota Semarang dengan tujuan melestarikan kesenian wayang orang di Kota Semarang, seperti yang diungkapkan Cicuk Sastro Sudirdjo selaku pemimpin dari kelompok seni wayang orang Ngesti Pandowo ini. Tidak banyak masyarakat yang menonton pentas wayang orang ini, dalam sekali pementasan Ngesti Pandowo hanya mendapat kurang lebih Rp 500.000,00 dari penjualan tiket seharga Rp 20.000,00 tiket per orang. Padahal biaya produksi dalam sekali pementasan berkisar Rp 3.500.000,00.Hal diatas menunjukan adanya keterkaitan dengan kebudayaan tradisional yang semakin tidak dikenal masyarakat. Kegelisahan yang muncul dalam hal ini adalah apakah kesenian wayang orang dapat terus ada. Bagaimana cara untuk membuat kebudayaan tradisional wayang orang ini tetap hidup, dan menumbuhkan kembali minat masyarakat agar dapat menikmati kebudayaan ini.3Dari kegelisahan mengenai masuknya kebudayaan modern yang menggeser kebudayaan tradisional inilah yang kemudian menjadi tema untuk produksi dokumenter. Mengingat bahwa masyarakat akan lebih mudah mencerna informasi yang dikemas secara audio visual, dokumentaris memutuskan untuk membuat produk jurnalistik berbentuk video dokumenter mengenai kebudayaan seni Wayang Orang Ngesti Pandowo. Kesenian tradisional wayang orang merupakan kebudayaan lokal yang masih ada hingga saat ini, tetapi tidak banyak orang menyaksikan pementasan kesenian wayang orang. Terbukti dengan sedikitnya jumlah penonton yang datang untuk menyaksikan kesenian ini.Documentaries’ Statement :Tema : Budaya tradisional (kesenian wayang orang) yang tersingkirkan1. Aspek kepedulian : Mengenai bagaimana kepedulian pemerintah terhadap kesenian tradisional, apakah pemerintah peduli sepenuhnya terhadap paguyuban dan seniman-seniman didalamnya, atau apakah kepedulian pemerintah hanya setengah-setengah? Bagaimana kepedulian para pelaku seni itu sendiri? Mereka melakukannya demi mempertahankan kesenian tradisional atau materi (uang) ?2. Aspek minat dan ketertarikan Mencari tahu kenapa anak muda sudah tidak begitu minat dan tertarik dengan kesenian / kebudayaan tradisional (lewat voxpop). Bagaimana usaha Ngesti Pandowo sebagai salah satu kesenian tradisional di kota Semarang dalam menarik minat masyarakat khususnya anak muda untuk menonton? Memaparkan minat anak muda saat ini dengan munculnya berbagai tawaran produk kebudayaan baru yang muncul dan lahir dari adaptasi budaya asing.43. Aspek prioritas : Kesenian tradisional kurang menjadi prioritas dalam kegiatan pengembangan daerah, dan yang lebih sering diutamakan destinasi wisata seperti Kota Lama, Lawang Sewu dll.4. Aspek ruang dan waktu Mengenai Ngesti Pandowo yang bernegosiasi dengan kemajuan zaman, perubahan apa saja yang mereka lakukan ketika menyesuaikan modernitas sekarang ini, misalnya efek tata cahaya; bagaimana dengan rias dan kostum? Apakah masih sesuai pakem atau sudah banyak berubah dari pakemnya?II. TujuanMelalui video dokumenter ini dokumentaris ingin menginformasikan kepada target audiens akan potensi dan arti penting seni kebudayaan wayang orang, yang dimana saat ini sudah mulai tergerus keberadaannya oleh budaya-budaya modern yang masuk di kalangan anak muda. Selain itu juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa telah terjadi perbedaan pandangan terhadap nilai budaya tradisional antara generasi tua dan generasi muda.III. Signifikansi1. Praktis: bagi media TV lokal yang menayangkan, video dokumenter ini bisa menjadi salah satu tayangan yang mendidik masyarakat luas khususnya anak muda tentang kebudayaan.2. Akademis: karya bidang ini dibuat dalam bentuk video dokumenter, merupakan salah satu aplikasi mata kuliah konsentrasi jurnalistik dalam bidang jurnalistik televisi. Video dokumenter ini menjadi salah satu kontribusi jurnalistik dalam bentuk audio visual.3. Sosial: Nilai-nilai perjuangan hidup yang ada dalam video dokumenter diharapkan dapat memberikan motivasi bagi masyarakat, khususnya generasi5muda supaya menyadari akan pentingnya pelestarian kesenian tradisional, sebagai contohnya kesenian Wayang Orang Ngesti Pandowo.IV. Tinjauan Literatur1. Dokumenter Sebagai Produk JurnalistikKomunikasi massa dapat didefinisikan sebagai proses penggunaan sebuah medium massa untuk mengirim pesan kepada audien yang luas untuk tujuan memberi informasi, menghibur, atau membujuk. Di sinilah dokumentaris sebagai komunikator massa membutuhkan sarana agar pesan dapat tersampaikan dengan baik kepada audien yang ditarget. Sarana tersebut bukan lain adalah video dokumenter yang ditayangkan di televisi.Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa. Jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun siaran (Wolseley, 1969:3). Film atau video dokumenter termasuk salah satu produk jurnalistik, hal ini diperkuat dengan adanya bahasan mengenai film dokumenter sebagai salah satu tren film sebagai medium komunikasi massa (Vivian, 2008: 180-181). Sedangkan menurut Morrisan (2008: 211) video dokumenter merupakan sebuah produk jurnalistik berbentuk soft news yang bertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan secara menarik. Televisi dipilih sebagai media untuk memutar video dokumenter karena masyarakat sangat akrab dengan televisi dan hampir semua kalangan dapat mengakses media ini.2. Gaya dan Strukur DokumenterAda banyak tipe, kategori, dan bentuk penuturan dalam dokumenter. Dalam pembuatan dokumenter ini, dokumentaris memilih menggunakan gaya perbandingan. Dalam bentuk perbandingan umumnya diketengahkan perbedaan suatu situasi atau kondisi, dari satu objek/subjek dengan yang lainnya (Ayawaila,62008: 40-43). Seperti halnya video dokumenter Ngesti Pandowo yang membandingkan budaya tradisional dan budaya modern di kalangan anak muda Semarang.Berkaitan dengan struktur penuturan film dokumenter, dokumentaris menggunakan struktur penuturan tematis dimana cerita dipecah ke dalam beberapa kelompok tema yang menempatkan sebab dan akibat digabungkan kedalam tiap sekuens. Struktur penuturan ini biasanya digunakan apabila fokus cerita adalah sebuah objek lokasi yang merupakan tempat sejumlah orang melakukan aktivitasnya. Seperti halnya Ngesti Pandowo yang merupakan tempat paguyuban seni wayang orang.V. Target AudiensPembuatan video dokumenter ini membidik khalayak usia remaja dengan kisaran umur 15-25 tahun, pria dan wanita yang berdomisili di Jawa Tengah khususnya kota Semarang serta bagi masyarakat penikmat maupun pecinta budaya tradisonal pada umumnya.VI. Format dan DurasiVideo ini akan diproduksi dengan durasi ± 23 menit, dan dikemas dalam bentuk dokumenter.VII. Mekanisme Produksi1. Pra produksi, merupakan tahapan awal dari keseluruhan rangkaian pembuatan video dokumenter ini. Beberapa hal yang harus disiapkan pada tahap pra produksi meliputi perencanaan (penentuan ide dasar, tema video dokumenter, pematangan konsep, pembuatan jadwal serta rancangan anggaran biaya), riset (riset disini antara lain riset lokasi sebagai lokasi pengambilan gambar, riset tokoh dokumenter, serta riset lain yang berkaitan dengan dokumenter), perekrutan tim (disini dokumentaris merekrut orang lain sebagai editor dan camera person tambahan), dan pengadaan alat seperti kamera, tripod, MMC, recorder, dan lain-lain.72. Produksi merupakan tahapan pelaksanaan dari apa yang telah direncanakan pada tahap pra produksi. Pada tahap ini segala perencanaan dan konsep dilaksanakan, membutuhkan waktu setidaknya kurang lebih tiga bulan karena berbagai hal yang terjadi diluar rencana pada saat produksi merupakan sesuatu yang bersifat fleksibel. Proses produksi meliputi kegiatan: pengambilan footage, wawancara dengan narasumber, dan evaluasi.3. Paska produksi atau proses editing merupakan tahap akhir dari pembuatan dokumenter. Pada saat ini dokumentaris mengolah bahan-bahan yang telah direkam menjadi gambar-gambar berhubungan (beralur cerita) untuk disajikan kepada penonton sesuai rancangan cerita yang telah dibuat pada tahap pra produksi. Pada tahap ini yang mengerjakan proses editing adalah orang luar yang dokumentaris rekrut sebagai operator aplikasi edit video di computer sesuai arahan dokumentaris sebagai editor. Tahap ini membutuhkan waktu kurang lebih tujuh minggu.4. Penayangan merupakan saat dimana karya bidang berupa video dokumenter ini akan ditayangkan pada sebuah stasiun lokal dengan durasi ± 23 menit dengan menyesuaikan format dan jadwal program sesuai persetujuan pihak instansi.VIII. Kesimpulan1. Sebagai produser, terdapat beberapa tanggungjawab dokumentaris terutama saat pra produksi, yaitu: perencanaan anggaran, perekrutan tim, pengurusan izin pengambilan gambar dan janji dengan narasumber, pengurusan izin dan lobi dengan stasiun televisi lokal, persiapan alat produksi maupun paska produksi serta pengaturan jadwal.2. Produser perlu mengurus beberapa izin sebelum mengadakan produksi, di antaranya izin untuk pengambilan gambar di Gedung Pandanaran yang membutuhkan surat pengantar dari kampus dan proposal (surat izin terlampir). Sedangkan untuk melakukan pengambilan gambar kegiatan Ngesti Pandowo di TBRS tidak memerlukan izin tertulis.83. Proses pengajuan kerjasama yang dilakukan dokumentaris sebagai produser untuk menayangkan produk ini di stasiun TV lokal juga tidak mudah. Setelah mencoba mengajukan proposal ke Kompas TV, Pro TV, dan TVKU, akhirnya didapat juga deal dengan Cakra Semarang TV yang menayangkan video dokumenter televisi ini pada hari Senin 11 Maret 2013 pukul 22.30.4. Produser melakukan beberapa perubahan dari anggaran biaya dan time schedule yang sudah dibuat sebelumnya, hal ini diakibatkan karena perkembangan alur cerita dan juga terkadang cuaca yang tidak mendukung untuk pengambilan gambar outdoor. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membuat video dokumenter ini dari proses pra produksi hingga paska produksi adalah sekitar 6,5 bulan (September 2012 – pertengahan Maret 2013)5. Selain mendapat jobdesk sebagai produser, disini dokumentaris juga merangkap sebagai editor, meskipun saat proses editing, dokumentaris meminta bantuan dari pihak luar sebagai operator edit yang bekerja di bawah petunjuk yang diberikan baik oleh dokumentaris maupun sutradara. Proses editing dan mixing dilakukan di Semarang dan memakan waktu sekitar 7 minggu, berdasarkan naskah yang dibuat oleh sutradara. Dalam prosesnya dokumentaris menggunakan software Adobe Premiere Pro CS 5 yang diinstal di komputer PC dengan spek yang sudah sangat memadai untuk mengedit video.6. Dokumentaris sebagai editor bersama dengan sutradara, kameramen, dan operator edit awalnya memilih gambar mana saja yang bisa dimasukkan ke dalam video. Kemudian dilakukan pemotongan gambar sesuai naskah (editing script) yang sudah dibuat sebelumnya oleh sutradara. Setelah itu video di-mix dengan rekaman audionya, dan diberi backsound musik yang mendukung. Selain itu ditambahkan juga beberapa efek agar menjadi satu kesatuan, antara lain Audio Transitions, Video Effects, Video Transmissions. Dokumentaris juga menambahkan teks yang dikira perlu untuk memberi keterangan yang berguna bagi audiens.9DAFTAR PUSTAKABuku:Ayawaila, Gerzon R. 2008. Dokumenter dari Ide sampai Produksi. Jakarta: FFTV -IKJ PRESSEffendy, Heru. 2002. Mari Membuat Film : Panduan Menjadi Produser. Yogyakarta: PanduanHampe, Barry. 1997. Making Documentary Films and Reality Videos. New York: Owl Books.Morissan. 2008. Manajemen Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Jakarta: Kencana.Saroengallo, Tino. 2008. Dongeng Sebuah Produksi Film. Jakarta: PT Intisari Mediatama.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana.Widagdo, M. Bayu & Gora, S. Winastwan. 2004. Bikin Film Indie Itu Mudah!. Yogyakarta: Penerbit Andi.Wolseley, Roland E. 1969. Understanding Magazines. Ames, Iowa: The Iowa University Press.E-book:Stinson, Jim . 2002. Video Digital Communication & Production. Tinley Park : The Goodheart-Willcox Company, Inc.Internet:Anonim. Ngesti Pandowo Bertahan Dalam Keterbatasan.http://pancapana.multiply.com/journal/item/17/WO.-Ngesti-Pandawa-Tempatku-Kiprah diakses pada tanggal 4 Februari 2013.10Anonim. Anak Wayang Semarang Menggiring Angin.http://www.mesias.8k.com/ngestipandowo2.htm diakses pada tanggal 4 Februari 2013.Anonim. GRIS untuk Rakyat. http://www.mesias.8k.com/gris.htm diakses pada tanggal 22 Maret 2013.Blog Wayang Orang Ngesti Pandowo. http://wongestipandowo.wordpress.com/ diakses pada tanggal 4 Februari 2013.Dian Amalia. Pengantar Ilmu Jurnalistik.http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2007/04/26/pengantar-ilmu-jurnalistik/ diakses pada tanggal 12 September 2012.Facebook Page “Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang.http://www.facebook.com/pages/WAYANG-ORANG-NGESTI-PANDOWO-SEMARANG/107095799314973 diakses pada tanggal 4 Februari 2013.Intan Ayu. Cicuk “Sang Penunggu” Ngesti Pandawa.http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2011/11/01/872/Cicuk-Sang-Penunggu-Ngesti-Pandawa diakses pada tanggal 12 September 2012.Nurfita Kusuma Dewi. GRIS, Jejak Historikal yang Hilang. http://www.wikimu.com/news/DisplayNews.aspx?id=17056 diakses pada tanggal 22 Maret 2013.Ratri Furry P.R, M.Faris Afif. Wayang Orang Ngesti Pandowo, Ikon Budaya Kota Semarang yang Terlupakan.http://edentsonline.com/wayang-orang-ngesti-pandowo-ikon-budaya-kota-semarang-yang-terlupakan/ diakses pada tanggal 4 Februari 2013.
Tampilan Tubuh Perempuan Dalam Game Online pada Situs www.girlsgogames.co.id Febriana Handayani; Tandiyo Pradekso; Nurist Surayya Ulfa; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.878 KB)

Abstract

Abstraksi - Penelitian ini berangkat dari kepopuleran game online yang sekarang ini digandrungi oleh berbagai kalangan usia termasuk anak-anak. Selain sebagai sarana hiburan, ternyata game yang merupakan bagian dari media baru mengandung pesan-pesan yang ada di dalamnya. 260 game yang menampilkan tubuh perempuan pada situs game online www.girlsgogame.co.id digunakan sebagai sampel dari analisis isi. Analisis isi dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggambaran tubuh perempuan dalam game online yang sering dimainkan oleh anak-anak, khususnya anak perempuan. Dengan menggunakan metode analisis isi deskriptif kuantitatif, penelitian ini mengasilkan temuan, yaitu 99,6% karakter perempuan ditampilkan dengan tubuh langsing, 85% memiliki tubuh bertipe jam pasir. 96,5% ditampilkan dengan pinggul besar, 93,5% pinggang ramping, dan 66,5% berpayudara besar. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar karakter perempuan ditampilkan dalam warna kulit putih(81,5%) dan sisanya adalah karakter perempuan dengan kulit coklat. Bahkan tidak ada satupun karakter perempuan dalam game yang diteliti ditampilkan dengan kulit hitam.Karakter perempuan juga lebih sering ditampilkan dengan rambut yang panjang (77,7%) dan lurus (65,4%). Selain itu, ditemukan pula bahwa seluruh game yang dianalisis ini menampilkan karakter perempuan dengan pakaian yang minim dan nyaris telanjang sehingga tubuh mereka sengaja ditampilkan dengan bentuk yang ideal. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakter perempuan dalam game online ditampilkan dengan tubuh ideal yang fantastis. Dari penelitian ini diharapkan ada penelitian lebih lanjut mengenai dampak permainan yang menampilkan tubuh perempuan terhadap pemain khusunya anak perempuan.
Pemaknaan Santri Mengenai Wacana Poligami Pada Film Surga Yang Tak Dirindukan 2 Bakhita Aida; Hapsari Dwiningtyas Sulityani
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.529 KB)

Abstract

The divorce recapitulation data processed by the Religious Courts stated that in 2015 there were 7.476 divorce cases due to polygamy. Polygamy practice developed because polygamy discourse still contains pros and cons or raises perspective in every individual, so to knew the perspective or meaning of the audience on polygamy in the movie of Surga Yang Tak Dirindukan 2, researchers used the method of reception analysis. The purpose of this research was to described the meaning of santri as audiences about polygamy discourse on the movie of Surga Yang Tak Dirindukan 2 .The theory used in this research was the theory of encoding-decoding and Nurture theory. The result of the research showed that there were variations in the meaning of different santri on polygamy discourse on Surga Yang Tak Dirindukan 2. The six informants in the negotiation position justify the permissibility of polygamy with the condition and the special cause. But they were not willing to do polygamy because polygamy makes people feel hurt and polygamy conditions that are difficult to implement that is fair. Where some female santri informants argue that fair includes the established aspects and feelings while the santri son disagrees if the feelings are fair demands. Not only that, some informants agreed that wives who can not perform their duties well are conditions that were allowed to be polygamous. Informant's opinion is based on the textualist's interpretation of Al-Qur’an verses on polygamy, Kitab Kuning, santri and kyai, and the mass media.
Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub, Intensitas Komunikasi Politik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensi terhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula pada Pilgub Jateng 2013 Awang Asmoro; Tandiyo Pradekso; Muchamad Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.667 KB)

Abstract

Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub,Intensitas Komunikasi Politik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensiterhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula pada Pilgub Jateng 2013ABSTRACTOn May 26th, 2013, people of Central Java implemented the Gubernatorial Election.Various campaigns conducted to gain public sympathy. However, the number of abstentions wasvery high, reaching 44 percent. On the other hand, youth voters have a significant impact to thesuccess of the elections, or the victory of candidate, based on the relatively large amount.Adolescents at 17-18 years old, which when the Central Java Gubernatorial Election 2013, theyvote for the first time, most of them live with a family and at that age are also often involved insome reference groups.This study used quantitative research methods and the type is explanatory research,which examines the relationship between variables through hypothesis testing. The populationused in this study were high school students, Madrasah Aliyah, and vocational high schools inSemarang city, with multistage random sampling technique. This study used logistic regressionas statistical test. This test is used when the dependent variabel have dichotomous scale.The results showed that exposure to the candidates’ campaigns has no effect on youthvoters political participation, while political communication intencity in the family and politicalcommunication intencity in the reference group both has influence on youth voters politicalparticipation. Opened campaign or through the media can’t reach youth voters effectively. Onthe other side, youth voters need some party (but not political party) to mobilize their politicalparticipation. So, this study suggested that the target of the campaign are families or groups whohave access to the youth voters. Family and reference group had a significant influence on thepolitical socialization process to the youth voters, so that will be more effective when the politicor campaign informations delivered through the socialization agents.Keywords : campaign, family, reference group, youth votersABSTRAKSIPada tanggal 26 Mei 2013, masyarakat Jawa Tengah melaksanakan pemilihan Gubernurdan Wakil Gubernur secara langsung. Namun, angka golput ternyata sangat tinggi, yaitumencapai angka 44 persen. Di sisi lain, pemilih pemula memiliki pengaruh yang cukupsignifikan bagi kesuksesan pemilihan umum, ataupun bagi kemenangan salah satu kandidat,mengingat jumlah yang relatif besar. Remaja pada usia 17-18 tahun, di mana pada saat PilgubJateng 2013 menjadi pemilih untuk pertama kalinya, sebagian besar tinggal dengan keluarga danpada usia tersebut juga sering terlibat dalam suatu kelompok referensi.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan tipe penelitianeksplanatori, yaitu mengkaji hubungan antar variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi yangdigunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang, denganteknik multistage random sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi logistik. Ujiini digunakan ketika variabel tetap berskala dikotomi.Hasil penelitian menunjukan bahwa terpaan kampanye Cagub-Cawagub tidakmempunyai pengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula, sedangkan intensitaskomunikasi politik di dalam keluarga dan intensitas komunikasi politik di dalam kelompokreferensi memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula. Kampanye terbuka ataumelalui media tidak dapat menjangkau pemilih pemula dengan efektif. Di sisi lain, pemilihpemula membutuhkan pihak-pihak untuk memobilisasi partisipasi politik mereka. Untuk itu,disarankan agar kampanye dilakukan untuk menyasar keluarga atau kelompok-kelompok yangmemiliki akses kepada pemilih pemula. Keluarga dan kelompok referensi memiliki pengaruhyang signifikan dalam proses sosialisasi politik kepada pemilih pemula sehingga akan lebihefektif ketika informasi politik atau informasi kampanye disampaikan melalui agen-agensosialisasi tersebut.Kata kunci: kampanye, keluarga, kelompok, pemilih pemulaPENDAHULUANKomunikasi merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Pertukaran pesandilakukan di antara manusia melalui komunikasi. Fungsi komunikasi untuk mempersuasi banyakdijumpai dalam dunia politik. Komunikasi berperan sebagai penghubung antara pemerintahdengan rakyat. Di Indonesia, dengan sistem pemerintahan yang republik, di mana republikdengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilihlangsung oleh rakyat, maka komunikasi digunakan sebagai alat untuk mempersuasi masyarakatagar memberi dukungan kepada suatu pihak atau golongan. Salah satu bentuk nyata dukunganmasyarakat terhadap suatu pihak atau golongan adalah melalui pemilihan umum (pemilu). Dalampemilu, para kandidat berlomba-lomba memperoleh suara rakyat untuk bisa menduduki jabatantertentu dalam pemerintahan. Komunikasi dalam kegiatan ini berperan penting untukmempersuasi masyarakat. Salah satu strategi komunikasi untuk mempersuasi masyarakat adalahkampanye. Upaya perubahan yang dilakukan kampanye selalu berkaitan dengan aspek kognitif,afektif, dan behavior. Namun, di tengah maraknya kampanye politik yang dilakukan partaipolitik dalam pemilu di tahun 1999, 2004, dan 2009, didapat data bahwa partisipasi politikmasyarakat Indonesia dalam pemilu justru mengalami penurunan. Tidak hanya dalam Pemilu,rendahnya partisipasi politik masyarakat dalam Pilgub juga terasa. Data hasil Pilgub di beberapadaerah juga menunjukkan bahwa tingkat Golput masyarakat sangat tinggi, yaitu Jawa Tengahdengan tingkat Golput paling tinggi dari provinsi lain dengan 45,25 persen(http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1432).Keluarga sebagai lingkungan terdekat bagi seseorang memiliki peran yang cukup pentingbagi perkembangan seseorang. Dalam dunia politik, keluarga, terutama orang tua memilikiperanan untuk mengedukasi anaknya tentang politik. Tidak hanya melalui keluarga, pemilihpemula yang masih berusia remaja cenderung terlibat dengan kelompok referensi dalampergaulannya. Kelompok referensi dalam bentuk kelompok teman sebaya, kelompok diskusi, dankomunitas memiliki peran penting juga dalam kesuksesan pemilihan umum. Sosialisasi tentangpolitik juga dapat terjadi dalam kelompok referensi, di mana dengan keberadaan kelompokreferensi, informasi, dalam hal ini informasi politik yang diperoleh masing-masing anggota dapatdibagikan kepada anggota lain, sehingga menambah pengetahuan bagi anggota, sehinggaanggota dapat menentukan sikapnya terhadap politik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terpaan kampanye Cagub-CawagubJateng 2013, intensitas komunikasi politik di dalam keluarga, dan intensitas komunikasi politikdi dalam kelompok referensi terhadap partisipasi politik pemilih pemula dalam Pilgub Jateng2013.Tipe penelitian ini adalah eksplanatori. Tipe penelitian ini digunakan untuk menjelaskanhubungan (korelasi) antar variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi dalam penelitian iniadalah siswa SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang. Data diambil dari Profil Pendidikan KotaSemarang Tahun 2012 dengan mengambil data kelompok usia 16-18 tahun. Pada tahun 2013,usia terkecil dalam kelompok usia tersebut akan memenuhi syarat usia sebagai pemilih dalampemilihan umum, maka anggota kelompok usia tersebut pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah2013 dianggap sebagai pemilih pemula. Jumlah anggota populasi ini adalah 50.419 orang.Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling.Kerangka TeoriBeberapa studi menunjukkan bagaimana agenda kampanye mempengaruhi isu yangmenonjol di kalangan pemilih (Iyengar & Simon; Togeby, dalam Hansen, 2008: 8). Kampanyesebagai sarana komunikasi persuasi kandidat digunakan untuk mengarahkan isu yang menonjoldi kalangan pemilih sesuai dengan keinginannya. Misalnya, De Vreese (dalam Hansen, 2008: 9)menunjukkan bagaimana isu dari kampanye jajak pendapat menyebabkan pemilih mengevaluasikinerja politisi terhadap isu kampanye. Johnston dkk. (dalam Hansen, 2008: 9) menunjukkanbagaimana isu perdagangan bebas meningkatkan isu yang menonjol selama kampanye danbagaimana pemilih mengevaluasi kandidat berdasar pengaruh yang kuat terhadap perdaganganbebas pada pilihan mereka. Freedman dkk (dalam Hansen, 2008: 7) menemukan bahwa terpaankampanye meningkatkan ketertarikan politik, kesadaran, pengetahuan, dan kecenderungan untukmemilih.Para peneliti secara tradisional berkonsentrasi pada keluarga sebagai agen sosialisasi utama,menemukan bahwa diskusi politik di dalam rumah, partisipasi orang tua dalam pemilihan, dansumber daya politik secara signifikan berdampak pada partisipasi politik remaja (Verba dkk;Brady dkk, dalam Pacheco, 2008: 415). . Menurut beberapa ilmuwan, anak muda hanya memilihseperti pilihan orang tua mereka (Rundio; dalam Armstrong, dkk, 2008: 1). Misalnya, jika orangtua mereka Partai Republik, mereka cenderung memilih Partai Republik juga. Studi telahmenunjukkan bahwa arah politik dikalahkan oleh paksaan orang tua yang lebih banyak padatahun-tahun awal seseorang bergabung dalam pemilihan umum dan perlahan-lahan berkurang,selalu tersisa sedikit pengaruh (Jennings; dalam Gross, 2007: 6).Kelompok referensi adalah seseorang atau sekelompok orang yang mempengaruhi perilakuindividu secara signifikan (Bearden dan Etzel, 2001: 184). Dalam studi merek pilihan konsumen,Witt (dalam Bearden dan Etzel, 2001: 183-184) menegaskan studi nonmarketing pada awalnyamengindikasi bahwa kohesivitas kelompok mempengaruhi perilaku. Baron dan Byrne (dalamRakhmat, 2009: 149) berpendapat bahwa pengaruh sosial terjadi ketika perilaku, perasaan, atausikap kita diubah oleh apa yang orang lain katakan atau lakukan.Hipotesis1. Terpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 (X1) secara signifikan berpengaruhterhadap partisipasi politik pemilih pemula (Y).2. Intensitas komunikasi politik di dalam keluarga (X2) secara signifikan berpengaruh terhadappartisipasi politik pemilih pemula (Y).3. Intensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi (X3) secara signifikanberpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula (Y).PEMBAHASANRegresi logistik merupakan pendekatan untuk memprediksi, seperti regresi Ordinary LeastSquare (OLS). Namun, dengan regresi logistik, peneliti memprediksi hasil yang dikotomi, dalampenelitian ini adalah partisipasi politik pemilih pemula, dengan nilai 1 untuk kategoriberpartisipasi dan nilai 0 untuk kategori tidak berpartisipasi. Situasi ini menimbulkan masalahbagi asumsi OLS yang mengharuskan varians eror (nilai residual) terdistribusi normal.Uji parsial dilakukan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara individu mempengaruhivariabel terikat.TabelPartial TestB Sig. Exp(B)x1 -.085 .633 .918x2 1.085 .000 2.959x3 1.239 .000 3.454Constant -6.209 .000 .002Ho : β = 0 (Variabel x tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen)Ha : β ≠ 0 (Variabel x signifikan mempengaruhi variabel dependen)Kriteria pengujian: Jika nilai signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak, Ha diterima. Jika nilai signifikansi > 0,05, maka Ho diterima, Ha ditolak.Hasil pengujian :Nilai signifikansi X1 = 0,633, berarti > 0,05Nilai signifikansi X2 = 0,000, berarti < 0,05Nilai signifikansi X3 = 0,000, berarti < 0,05Karena ada satu variabel yang tidak signifikan, maka dilakukan penghitungan ulang denganmembuang variabel yang tidak signifikan. Hasilnya sebagai berikut:TabelPartial TestB Sig. Exp(B)x2 1.078 .000 2.938x3 1.226 .000 3.409Constant -6.526 .000 .001Interpretasi Odds RatioKoefisien regresi pada regresi logistik sulit diinterpretasikan karena regresi logistik berbicaramengenai probabilitas. Maka digunakan angka odds ratio, di mana nilai odds ratio ditunjukkanpada kolom Exp(B).1. Exp(B1) = 2,938Artinya, semakin tinggi intensitas komunikasi politik di dalam keluarga yang dilakukanpemilih pemula, maka kecenderungannya untuk ikut berpartisipasi politik meningkat.Atau,Kecenderungan pemilih pemula yang mengalami intensitas komunikasi politik di dalamkeluarga yang tinggi untuk berpartisipasi politik dalam Pilgub Jateng 2013 meningkat 2,938kali lipat lebih tinggi dibanding pemilih pemula yang memiliki intensitas komunikasi politikdi dalam keluarga yang lebih rendah.2. Exp(B2) = 3,409Artinya, semakin tinggi intensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi yangdilakukan pemilih pemula, maka kecenderungannya untuk ikut berpartisipasi politikmeningkat.Atau,Kecenderungan pemilih pemula yang mengalami intensitas komunikasi politik di dalamkelompok referensi yang tinggi untuk berpartisipasi politik dalam Pilgub Jateng 2013meningkat 3,409 kali lipat lebih tinggi dibanding pemilih pemula yang memiliki intensitaskomunikasi politik di dalam keluarga yang lebih rendah.Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013, Intensitas KomunikasiPolitik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensi terhadap Partisipasi Politik PemilihPemula dalam Pilgub Jateng 2013Berdasarkan hasil analisis statistik, diketahui bahwa dari tiga variabel bebas yaitu terpaankampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013, intensitas komunikasi politik di dalam keluarga, danintensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi, variabel terpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 tidak berpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula. Dari hasilperhitungan, tidak terdapat cukup bukti untuk menerima hipotesis yang menyatakan bahwaterpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 berpengaruh positif terhadap partisipasi politikpemilih pemula.Zaller (dalam Evans, 2004: 201) berpendapat bahwa dari sudut pandang statistika, meskipunkita tahu dari perspektif dunia nyata bahwa terpaan kampanye memiliki efek pada bagaimanaorang-orang memilih (pemilu), belum ada yang formalisasi nyata dari efek kampanye karenasurvey dengan ribuan responden pun tidak cukup besar untuk mendeteksi efeknya. Selarasdengan hasil penelitian ini, bahwa terpaan kampanye yang diterima oleh kelompok pemilihpemula ternyata tidak memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik pada pemilihan umum. Efekkampanye pada Pilgub Jateng 2013 tidak terlihat pada kelompok pemilih pemula, karena tidakmendapat cukup bukti yang mendukung hipotesis yang diajukan. Lebih lanjut, Newton (dalamFarrell dan Beck, 2004: 184) berpendapat, pemilih membentuk preferensi mereka atas dasarinformasi selain yang disediakan dalam kampanye, dan terhadap informasi ini, pesan bias yangdipikirkan oleh spesialis pemasaran tidak bisa menang. Artinya adalah bahwa pemilih,memutuskan pilihan mereka pada pemilihan umum bukan berdasar informasi yang diberikandalam kampanye. Sedangkan pesan-pesan yang telah disusun oleh tim sukses kampanye, tidakdapat menang melawan informasi yang diperoleh di luar kampanye. Dalam penelitian ini,sumber informasi lain diperoleh melalui diskusi politik dalam keluarga dan kelompok referensi,di mana keduanya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi politik kelompokpemilih pemula. Semakin intensif diskusi yang dilakukan, baik di dalam keluarga maupunkelompok referensi, maka akan semakin tertanam dalam benak pemilih pemula, yang kemudianmempengaruhi pandangan politiknya, sehingga partisipasi politiknya sebagai pengamatterbentuk berdasarkan pandangan keluarga maupun kelompok referensi.Berdasarkan seminar “Voting” (1954), oleh Bernard Berelson, Paul F. Lazarsfeld, danWilliam N. McPhee, dan “The American Voter” (1960), oleh Angus Campbell, Philip E.Converse, Warren E. Miller, dan Donald E. Stokes, pada penelitian terbaru, banyak ahliberpendapat bahwa keputusan pemilihan bergantung pada identifikasi partisan dan sosiologiyang sudah ada sebelum kampanye dimulai dan kampanye hanya mengaktifkan preferensi yangtersembunyi ini (dalam Mayer, 2008: 59). Jadi, dalam sebuah keputusan partisipasi pemilih,kampanye tidak memiliki pengaruh yang berarti, namun keputusan lebih dipengaruhi olehmisalnya faktor lingkungan dan pandangan pribadi terhadap kandidat, di mana hal ini sudahmulai berkembang di dalam benak kalangan pemilih sebelum dilakukannya kampanye. Kegiatankampanye diperlukan untuk hanya mengaktifkan ingatan tentang pandangan pribadi danlingkungan yang mempengaruhinya saat sebelum dilakukannya pemungutan suara. Kampanyedalam hal ini tidak lebih sebagai pengingat saja tentang kegiatan pemilihan umum, hal inimenggambarkan tidak adanya pengaruh yang diberikan kepada keputusan pemilih.Kelompok yang menolak perlunya kampanye politik, berpendapat bahwa hasil pemiluditentukan oleh kinerja pemerintah dan bahwa kampanye hanya berarti sedikit dalammenentukan hasil pemilu. Mengikuti tradisi klasik dari V.O. Key (dalam Maisel dkk, 2007: 3),peneliti tersebut menekankan model reward atau hukuman berdasarkan indikator pemerintahanyang sebenarnya, seperti perekonomian atau perang dan damai. Jika perekonomian berjalandengan baik dan masyarakat puas dengan kinerja keseluruhan pemerintahan saat ini, merekaharus memilih anggota partai tersebut, dan jika mereka tidak puas, mereka harus menghukumpartai tersebut dengan menolak memilih partai tersebut. Model demokrasi ini, menurut Popkin(dalam Maisel dkk, 2007: 3) hanya membutuhkan informasi dan pilihan yang minim sebagaibagian dari pemilihan umum. Pemilih tidak diharuskan mengikuti debat dengan sangat hati-hatiatau mencari detail dari program kerja kandidat. Sebaliknya, mereka hanya harus mampu menilaiyang telah dilakukan pemerintah saat ini. Sesuai dengan konsep tersebut, analisis berbasis kinerjacenderung berpikir bahwa kualitas kampanye, janj-janji kandidat, dan liputan media massa tidakberarti dalam menentukan hasil pemilihan umum. Permasalahan yang menonjol (seperti tingkatpengangguran, inflasi, dan lain-lain) adalah yang menggerakan pemilih (Beck dan Nadeau,dalam Maisel dkk, 2007: 3). Kegiatan kampanye, ditujukan untuk meraih simpati masyarakatagar memilih suatu partai atau kandidat dalam pemilihan umum, namun, berdasarkan uraian diatas, kampanye politik tidak berpengaruh terhadap keputusan pemilih dikarenakan pemilihmengambil keputusan berdasarkan kinerja kandidat. Kegiatan kampanye yang lebih berfokuspada penyampaian program kerja atau hiburan-hiburan tidak memiliki dampak signifikanterhadap keputusan pemilih. Pemilih pemula, yang sebagian besar pelajar, memiliki cenderungmemiliki sedikit waktu untuk mengakses informasi mengenai kinerja kandidat. Namun denganadanya keluarga dan kelompok referensi, di mana di antaranya memiliki pengetahuan danpenilaian terhadap kandidat, maka dalam diskusi yang melibatkan pemilih pemula, pemilihpemula akan dapat menilai kinerja kandidat berdasarkan informasi yang diperoleh dari keluargaataupun kelompok referensi. Semakin banyak pemilih pemula memperoleh informasi, makapemilih pemula akan lebih obyektif dalam menentukan pilihan.Chaffe dkk (dalam Nimmo 2006: 112-113) berpendapat anak dari keluarga yang mendorongpengungkapan diri dan penyingkapan gagasan politik yang bertentangan; sementara mengecilkanhubungan sosial yang berupa penghormatan dan yang konformis, cenderung lebihberpengetahuan tentang politik, lebih besar kemungkinannya terlibat dalam politik, lebih percayakepada politik, lebih realistik dalam mengagumi pemimpin politik, dan lebih menaruh minatterhadap politik dibandingkan dengan anak dari keluarga tipe yang lain. Dalam diskusi keluarga,semakin intensif komunikasi yang dilakukan dalam rangka membahas masalah politik danmelibatkan pemilih pemula, maka pemilih pemula yang cenderung aktif dalam diskusi, misalnyadengan mengutarakan pandangan politiknya, akan cenderung berpartisipasi dalam politik.Hirsch (dalam Nimmo, 2006: 113) menyebutkan bahwa kelompok sebaya memiliki pengaruhyang memperkuat dan mendukung pandangan politik anak sehingga politik benar-benar menjadimasalah pembahasan yang relevan. Nimmo (2006: 113) berpendapat bahwa kelompok sebayajuga mempengaruhi belajar politik sehingga mereka memberikan bimbingan melaluikeanggotaan dalam asosiasi sukarela, perhimpunan kewarganegaraan, atau dengan rekan kerja diperusahaan, serikat, buruh, atau tempat kerja yang lain. Karena orang biasanya masuk dalampandangan sendiri, maka kemungkinan asosiasi seperti itu mengubah opini politik menjadiberkurang. Meskipun tidak selalu demikian, kecenderungan yang umum ialah bahwa orangmenyesuaikan kepercayaan, nilai, dan pengharapan politiknya dengan kawan sebaya untukmemelihara persahabatan yang ditunjukkan dengan menjadi kawan sebaya.Menurut Huntington dan Nelson (dalam Arifin, 2011: 213), sifat partisipasi politik yangterlihat berdasarkan hasil penelitian cenderung kepada partisipasi politik yang dimobilisasi ataudigerakan oleh pihak lain (mobilized participation). Namun, berbeda dengan pendapatHuntington dan Nelson, penggerak partisipasi politik kelompok pemilih pemula bukan olehpartai politik, kandidat, tim sukses, atau pejabat pemerintah, karena terpaan kampanye tidakmempengaruhi partisipasi politik kelompok ini. Penggerak yang berpengaruh terhadap kelompokpemilih pemula adalah keluarga dan kelompok referensi. Keluarga dan kelompok referensitermasuk dalam lingkungan terdekat bagi kelompok pemilih pemula. Ini artinya bahwakeputusan kelompok pemilih pemula dalam pemilihan umum dipengaruhi oleh lingkungan yangada di dekatnya. Dengan intensitas komunikasi yang tinggi di dalam keluarga maupun kelompok,pemilih pemula mendapat pengetahuan politik yang mana pengetahuan tersebut berdasar padaperspektif masing-masing keluarga atau kelompok, artinya pengetahuan yang diberikan bersifatsubjektif. Berdasarkan hal tersebut, menurut Dan Nimmo (dalam Arifin 2011: 223-224)kelompok pemilih pemula ini cenderung masuk dalam tipe pemilih rasional. Kelompok pemilihpemula yang berpartisipasi cenderung melakukan diskusi mendalam tentang politik baik dengankeluarga maupun kelompok referensi. Pemberi suara rasional berminat secara aktif terhadappolitik, rasa ingin tahu yang dimiliki kelompok pemilih pemula menjadikan diskusi denganlingkungan terdekat sebagai sarana mendapatkan informasi, dalam hal ini adalah informasipolitik. Melalui diskusi, pemilih pemula dapat memperoleh cukup informasi untuk menentukanalternatif yang dihadapkan padanya, alternatif pemimpin Jawa Tengah periode 2013-2018. Motifpartisipasi yang terlihat dalam penelitian ini, menurut Dan Nimmo (2006: 129-130) yaitusengaja, diarahkan dari dalam, dan diarahkan dari luar. Motif sengaja, artinya bahwa pemilihpemula secara sengaja terlibat dalam diskusi politik yang kemudian akan meningkatkanpengetahuan politiknya dan dapat mempengaruhi pandangan politiknya. Motif diarahkan daridalam, artinya bahwa orientasi atau kecenderungan partisipasi politiknya diperoleh melaluibimbingan orang tuanya. Pemilih pemula dengan intensitas komunikasi politik yang tinggi didalam keluarga cenderung terpengaruh untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum. Yangketiga, motif diarahkan dari luar, artinya bahwa kecenderungan partisipasi pemilih pemula,selain dipengaruhi oleh keluarga, juga dipengaruhi lingkungan yang lebih luas, dalam hal iniadalah kelompok referensi. Diskusi politik yang terjadi dalam kelompok yang melibatkanpemilih pemula, cenderung mempengaruhi partisipasi pemilih pemula dalam pemilihan umum.Partisipasi pemilih pemula dalam Pilgub Jateng 2013 ini termasuk rendah, di mana sebanyak59% menyatakan tidak berpartisipasi dalam pemilihan umum. Ini menunjukkan bahwa motifyang ada dalam diri pemilih pemula kurang dibangun. Jika intensitas komunikasi politik didalam keluarga dan kelompok referensi berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderunganpartisipasi dalam pemilihan umum, maka ketika intensitas komunikasi politik di dalam keluargadan kelompok referensi rendah, pemilih pemula cenderung tidak berpartisipasi. Ini berarti motifdiarahkan dari dalam dan luar, kurang berkembang dalam diri pemilih pemula. Keluarga dankelompok referensi kurang bisa memaksimalkan perannya sebagai agen sosialisasi politik kepadapemilih pemula. Sedangkan pemilih pemula, juga kurang termotivasi untuk secara aktif mencariinformasi politik sehingga kecenderungan partisipasinya rendah.PENUTUPBerdasarkan hasil analisis data menggunakan regresi logistik, maka dapat disimpulkansebagai berikut:1. Tidak terdapat pengaruh terpaan kampanye Cagub-Cawagub terhadap partisipasi politikpemilih pemula. Beberapa jawaban atas temuan ini yaitu antara lain, kegiatan kampanyeyang ditujukan kepada kelompok pemilih pemula sedikit, hal ini menyebabkan terpaan yangdiperoleh cenderung rendah, sehingga pengetahuan yang dimiliki pemilih pemula tentangkandidat juga minim. Kegiatan kampanye yang umum dilakukan seperti kampanye terbukadan melalui media massa maupun media luar ruang tidak dapat menjangkau kalangan remaja.2. Terdapat pengaruh yang signifikan dari intensitas komunikasi politik di dalam keluargaterhadap partisipasi politik pemilih pemula.3. Terdapat pengaruh yang signifikan dari intensitas komunikasi politik di dalam kelompokreferensi terhadap partisipasi politik pemilih pemula.4. Partisipasi politik pemilih pemula cenderung rendah dan hal itu lebih dipengaruhi padaintensitas komunikasi politik di dalam keluarga dan kelompok referensi yang cenderungrendah juga.Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:1. Para calon yang tampil dalam pemilihan umum, agar melakukan kampanye dengan cara lainuntuk menyasar pemilih pemula, hal ini karena dengan kegiatan kampanye yang telahdilakukan seperti kampanye terbuka, melalui media massa maupun media luar ruang, tidakdapat mempengaruhi partisipasi mereka. Untuk itu, disarankan agar melakukan kampanyemelalui agen sosialisasi bagi pemilih pemula atau remaja, yaitu keluarga dan kelompokreferensi, hal tersebut bisa menjadi alternatif yang efektif untuk menjangkau pemilih pemulaatau remaja.2. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pihak penyelenggara pemilihan umum bersamapemerintah, agar memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnyapendidikan politik bagi anak muda.3. Keberadaan keluarga dan kelompok referensi, sebagai lingkungan terdekat dan sebagai agensosialisasi bagi pemilih pemula, berpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula.Maka, keluarga dan kelompok referensi sebaiknya lebih aktif mengajak anak berkomunikasidan berdiskusi tentang politik, sehingga terjadi keterbukaan antar anggota keluarga danpemilih pemula dapat meningkatkan pengetahuan politik.4. Keberadaan pemilih pemula sebagai bagian baru dalam dunia politik memiliki peran pentinguntuk ikut membangun bangsa, maka pemilih pemula sebaiknya lebih aktif dan tertarik padadunia politik. Pemilih pemula sebaiknya terbuka terhadap informasi politik yang diterimabaik melalui media massa maupun dari orang lain. Hal ini sangat berguna untukmengembangkan pengetahuan politik para pemilih pemula.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik: Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi danKomunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.Armstrong, Abbigail dkk. 2008. Examining Trends in Youth Voting: The Effect of Turnout,Competition, and Candidate Attributes on 18-24 Voters from 1974-2004. University ofEvansville.Bearden, William O. dan Michael J. Etzel. 1982. Reference Group Influence on Product andBrand Purchase Decisions. Journal of Consumer Research: Volume 9.Evans, Jocelyn A.J. 2004. Voter & Voting: an Introduction. London: Sage Publications.Farrell, David M. dan Rudiger Schmitt-Beck. 2004. Do Political Campaigns Matter? CampaignEffects in Elections and Referendums. New York: Routledge.Gross, John. 2007. The Influence of Parents in the Voting Behavior of Young People: A Look atthe National Civic and Political Engagement of Young People Survey and the 2008Presidential Election. Public Opinion and Survey Research.Hansen, Kaper M. 2008. The Effect of Politial Campaigns: Overview of the Research OnlinePanel of Electoral Campaigning (OPEC). University of Copenhagen.Maisel, L. Sandy, Darrell M. West, dan Brett M. Clifton. 2007. Evaluating Campaign Quality:Can the Electoral Process be Improved. New York: Cambridge University Press.Mayer, William G. 2008. The Swing Voter in American Politics. Washington: The BrookingInstitution.Nimmo, Dan. 2006. Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek. Bandung: Remaja Rosdakarya.Pacheco, Julianna Sandell. 2008. Political Socialization in Context: The Effect of PoliticalCompetition on Youth Voter Turnout. USA: Springer Science+Business Media.Rakhmat, Jalaluddin. 2009. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1432
Constitutional Court’s Crisis Management of Akil Mochtar’s Case Uli Mediana, Cipta; Naryoso, S.Sos, M.Si, Agus
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.886 KB)

Abstract

The Constitutional Court is one of the state institutions that conduct independent judicial power to hold a court in order to enforce law and justice in Indonesia that became a proof of state agencies was also not spared from the crisis. The Chairman of the Constitutional Court in 2013, Akil Mochtar caught red-handed by the Corruption Eradication Commission (KPK) for allegedly receiving bribe money for handling election disputes Gunung Mas, Central Kalimantan and elections Lebak, Banten. Since the arrest of Akil Mochtar, the media reports negative opinion, so that this crisis into the acute stage. This study used a qualitative approach and constructivism, this research aims to describe the crisis management strategy of the Constitutional Court to face the negative media reports and described the Constitutional Court’s efforts to restore public trust. The theory used include; Weyerhaeuser Issues Management Process, Crisis Cluster, Image Restoration Theory and Strategy Formulation for Crisis Management. The unit of observation in this study is the Constitutional Court of the Republic Indonesia, and the unit of research analysis are those that directly relate of the handling the crisis of the Constitutional Court of Akil Mochtar’s case. This study found that the Constitutional Court seeks to overcome the crisis by always doing the press conference conducted on an ongoing basis information of the arrest of Akil Mochtar, constitutional judges present testified at the Commission, establish the Honorary Council of the Constitutional Court as a device to monitor constitutional justices, constitutional judges forms Ethics Council, and inviting advocates to report to the Constitutional Court if known some legal lobbying efforts, do a media relations activity by visiting the Liputan6.com’s office. This study concluded that the crisis experience of the Constitutional Court in Akil Mochtar’s case included to crisis public relations, where the crisis is categorized as intentional cluster crisis. Crisis management strategy used by the Constitutional Court, among others; corrective action, mortification, and adaptive change strategy.
KONSTRUKSI REALITAS MEDIA MASSA TEMPO DAN REPUBLIKA DALAM PEMBERITAAN BASUKI TJAHAJA PURNAMA PASCA PILKADA PUTARAN PERTAMA DKI JAKARTA 2017 Onny Safwedha; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.934 KB)

Abstract

The results of the study show that the redactional policies of each medium affect the viewpoint taken in the news of an event. The redactional policy taken by Tempo, makes Tempo look to strive more objectively in performing news. Tempo provided fairly neutral and balanced reverence and criticism, such as Tempo's mission as an independent medium. Tempo and Republika have slightly different redactional policies in conducting an information of the Full Tjahaja Basuki. Furthermore, Republika provides inclined preaching in a more Islamic point of view, such as the Republika mission to put the interests of Muslims first. The results of the research that Tempo tended to display balanced information or equally large information from both pro- and con-parties. Compared to a Republika that tends to be heavy on one side, because it adores an Islamist preaching.
Karya Bidang Program Tayangan “Gitaran Sore-Sore” di PROTV Semarang sebagai Produser Pelaksana Raynaldo Faulana Pamungkas; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.579 KB)

Abstract

Televisi merupakan salah satu saluran yang mampu menyebarkan informasi secara massal. Namun seringkali informasi yang disebarkan saluran televisi nasional kurang dapat diterima oleh khalayak di daerah. Hal tersebut dikarenakan tayangan televisi nasional tidak memperhitungkan unsur proximity. Televisi lokal seharusnya mampu membawa unsur proximity tersebut menjadi sebuah tayangan yang berkualitas. Namun seringkali khalayak tidak sadar akan kekuatan televisi lokal tersebut.Gitaran sore-sore sebagai sebuah tayangan talkshow yang hadir di televisi lokal mampu menghadirkan unsur proximity. Gitaran sore-sore juga menjadi sarana untuk menyebarluaskan ide-ide masyarakat Semarang melalui obrolan ringan tentang hobi dan konten yang mengangkat tentang informasi lokal. Lewat cara interaktif dan inspiratif tayangan gitaran sore-sore mampu membawa kekuatan televisi lokal ke tengah-tengah khalayak.Pada program tayangan Gitaran Sore-sore. produser bertugas untuk memimpin jalannya produksi acara, menyediakan kebutuhan produksi, membuat rencana kerja, menkordinasi tim , hingga membuat anggaran produksi. Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, karya ditayangkan live di ProTV setiap hari rabu dan kamis mulai tannggal 29 September hingga 13 November 2014 pukul 15.00 WIB. Melalui karya ini diharapkan khalayak Semarang mampu mempunyai tayangan yang informatif dan inspiratif serta menghibur.Kata kunci : Talkshow Gitaran Sore-Sore, Program acara anak muda, Hobi
MEMAHAMI POWER DAN KOMUNIKASI IDENTITAS DIRI MELALUI TATO Wanda Amalia Santoso; Dr. Hapsari Dwiningtyas, S.Sos, MA
Interaksi Online Vol 5, No 3: Agustus 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.28 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai bagaimana memahami power dan komunikasi identitas diri perempuan melalui tato. Penemuan sebelumnya menemukan bahwa perempuan lebih sering berkomunikasi secara non verbal, sehingga tato menjadi salah satu pilihan perempuan untuk berkomunikasi. Namun banyak hal yang harus dihadapi perempuan untuk bisa mendapatkan tato mulai dari masalah sosial, budaya, hingga agama. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami power dan komunikasi identitas diri perempuan melalui tato. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi yang memahami fenomena dari kehidupan pelakunya. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa tato dapat menjadi power dan identitas diri perempuan yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Power dalam tato dapat terlihat ketika tato mampu menjadi komunikasi non verbal yang dapat digunakan oleh perempuan. Komunikasi keluarga yang tidak berjalan denga baik membuat perempuan memiliki kesulitan untuk berkomunikasi secara verbal. Selain itu tato juga menjadi tanda claiming the body yang digunakan perempuan untuk menandai kepemilikan tubuh mereka. Namun tato juga dijadikan pihak lain untuk menandai tubuh perempuan yang mereka miliki. Ketika pihak lain meng claim tubuh perempuan menjadi milik mereka melalui tato, perempuan tidak memiliki kekuatan untuk memiliki dan membuat tubuh mereka sendiri. Tato juga menjadi terapeutik bagi perempuan yang mengubah emosi dari pengalaman buruk menjadi sebuah karya seni.. Identitas diri perempuan melalui tato terlihat ketika tato dapat memenuhi kebutuhan aktualisasi diri perempuan. Salah satu kebutuhan aktualisasi perempuan adalah penghargaan atas diri. Kurangnya aktualitas yang dirasakan perempuan dapat digantikan oleh tato yang mengakui keberhasilan dan prestasi perempuan melalui identitas yang perempuan buat melalui gambar tato yang dapat mewakili identitas mereka untuk menghargai diri mereka sendiri. Identitas diri perempuan melalui tato juga terlihat ketika perempuan menggunakan identitas pribadi melalui tato untuk melindungi diri mereka dari budaya kota Yogyakarta yang masih memberikan stigma negatif pada perempuan bertato. Pada akhirnya, tato memiliki power dan menjadi komunikasi identitas diri yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Page 68 of 157 | Total Record : 1563