cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI ORANG TUA,GURU, DENGAN ANAK TUNAWICARA DALAM MENANAMKAN NILAI PROSOSIAL DAN ANTISOSIAL DI MASYARAKAT Maya Puji Lestari; Agus Naryoso; Wiwied Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.075 KB)

Abstract

1ABSTRAKSIJudul : MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI ORANG TUA, GURU, DENGAN ANAK TUNAWICARA DALAM MENANAMKAN NILAI PROSOSIAL DAN ANTISOSIAL DI MASYARAKATNama : MAYA PUJI LESTARINIM : D2C009032Anak tunawicara merupakan anak yang memiliki keterbatasan dan gangguan dalam berkomunikasi. Keterbatasan komunikasi ini yang membuat proses penyampaian dan pemaknaan pesan sulit dipahami oleh orang tua dan guru. Orang tua dan guru mempunyai peran sangat besar dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat kepada anak tunawicara, karena keterbatasan komunikasi seringkali membuat anak tunawicara sulit melakukan interaksi dengan masyarakat. Melakukan interaksi dengan orang lain merupakan hal yang perlu dilakukan oleh setiap orang tidak terkecuali anak tunawicara, sehingga salah satu hal yang harus dipahami oleh anak tunawicara ketika anak berinteraksi dengan masyarakat adalah berperilaku prososial dan mengindari perilaku antisosial.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini berusaha menjelaskan pengalaman unik orang tua, guru, dan anak tunawicara mengenai proses penyampaian pesan menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal serta pemaknaan pesan terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara. Penelitian ini menggunakan Teori Manajemen Makna Terkoordinasi dan Teori Kinesik, yang menjelaskan bahwa dalam proses komunikasi dengan anak tunawicara, hal yang paling penting adalah pemaknaan pesan dan tindakan setelah menerima pesan. Proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh orang tua, guru, dan anak tunawicara seringkali menggunakan gerak tubuh sebagai bentuk komunikasi nonverbal yang merupakan cara komunikasi yang dilakukan.Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa orang tua dan guru harus memiliki komitmen dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara. Kendala dalam berkomunikasi dengan anak tunawicara adalah proses penyampaian dan pemaknaan pesan.Cara efektif yang dilakukan orang tua dan guru dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial kepada anak tunawicara adalah mendemonstrasikan pesan dengan menggunakan gerak tubuh. Selain proses penyampaian pesan secara verbal dan nonverbal, anak tunawicara memahami perilaku prososial dan antisosial dari perilaku yang ditunjukkan oleh orang tua dan guru dalam interaksi sehari-hari. Komunikasi Antar Pribadi antara orang tua, guru, dengan anak tunawicara dikatakan berhasil ketika anak tunawicara dapat memaknai pesan secara interpersonal bukan sekedar makna pribadi. Ketika anak tunawicara mampu memaknai pesan secara interpersonal, perilaku yang ditunjukkan oleh anak tunawicara akan sesuai dengan perilaku prososial yang diajarkan oleh orang tua dan guru. Anak tunawicara juga akan memahami bahwa perilaku antisosial harus dihindari di masyarakat.Kata kunci : keterbatasan dan gangguan komunikasi, prososial dan antisosial, makna dan tindakan2ABSTRACKTitle : UNDERSTANDING INTERPERSONAL COMMUNICATION EXPERIENCE BETWEEN PARENTS AND TEACHERS WITH COMMUNICATION DISORDER CHILD IN INCLUCATING PROSOCIAL AND ANTISOCIAL VALUES IN SOCIETYName : MAYA PUJI LESTARINIM : D2C009032Communication disorder child is a child who has limitations and disorders in communication. This limitations communication makes the process of delivering and meaning of messages is difficult to understood by parents and teachers. Parents and teachers have a very big role in inclucating prosocial and antisosial values in society to communication disorder child, because of limited communication often makes communication disorder child difficult to interact with the society. Interaction with other people is the thing to be done by every person no exception communication disorder child, so one of the things that must be understood by communication disorder child when the child interact with the society is prosocial behavior and avoid antisocial behavior.This study uses a qualitative descriptive type with phenomenological approach. This study attempts to explain the unique experience of parents, teachers, and communication disorder child about process of delivering a message using verbal and nonverbal communication as well as the meaning of messages related with prosocial and antisocial values are delivered by parents and teachers to communication disorder child. This study uses Coordinated Management of Meaning Theory and Kinesik Theory, which explains that in the process of communication with communication disorder child, the most important thing is the meaning of messages and the action after receiving messages. The process of delivering messages that is done by parents, teachers, and communication disorder child often use gestures as a form of nonverbal communication that is the way communication is done.Based on the results of the study, suggests that parents and teachers should have a commitment to nurturing and educating communication disorder child. Constraints in communication with communication disorder child is the process of delivering and meaning of messages. The effective way that done by parents and teachers in inculcating prosocial and antisosial values to communication disorder child is demonstrate with using gestures messages. Besides the process of delivering messages verbally and nonverbally, communication disorder child understanding the prosocial and antisocial from the behaviors are shown by parents and teachers in their daily interactions. Interpersonal communication between parents and teachers with communication disorder child is successful when the child can meaning of messages in interpersonal rather than personal meaning. When communication disorder child are able meaning of messages in interpersonal, the behaviors are shown by communication disorder child interpersonal, will suit with prosocial behavior that is taught by parents and teachers. Cmmunication disorder child will also understand that antisocial behavior should be avoided in the society.Key words : limitations and disorders communications, prosocial and antisocial, meaning and action3MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI ORANG TUA,GURU, DENGAN ANAK TUNAWICARA DALAM MENANAMKAN NILAI PROSOSIAL DAN ANTISOSIAL DI MASYARAKATLatar BelakangPerilaku masyarakat yang seringkali mengasingkan atau membedakan anak tunawicara seperti menolak anak tunawicara untuk sekolah di sekolah umum dan juga terbatasnya sekolah inklusi bagi anak berkebutuhan khusus, sehingga hak anak untuk mendapatkan pendidikan tidak dimiliki oleh anak tunawicara. Hal seperti ini yang membuat anak tunawicara semakin bersikap antisosial di masyarakat, selain itu anak tunawicara juga memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan anak normal biasa seperti sering membentak, berteriak keras, berkemauan keras, dan juga sulit untuk diajarkan sesuatu. Sikap yang ditunjukkan anak tunawicara seperti ini membuat orang tua dan guru memiliki peran besar dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat, karena pada dasarnya setiap orang merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain,tidak terkecuali anak tunawicara.Penanaman nilai prososial dan antisosial merupakan salah satu hal yang penting, karena dalam berinteraksi dengan masyarakat, anak tunawicara harus memahami akan perilaku yang harus dilakukan dan harus dihindari. Anak tunawicara merupakan anak berkebutuhan khusus yang memiliki gangguan komunikasi, hal ini membuat proses komunikasi tidak berjalan dengan baik. Proses komunikasi bukan sekedar proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan, akan tetapi lebih menekankan kepada proses sharing meaning atau berbagi makna. Perilaku prososial yang diajarkan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara ditunjukkan dengan komunikasi instruksional dengan cara mendemontrasikan menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal. Penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal merupakan salah satu cara untuk memudahkan anak memaknai pesan dengan mudah.Perumusan Masalah dan TujuanGangguan komunikasi yang dialami oleh anak tunawicara membuat orang tua, guru serta anak tunawicara mengalami kesulitan dalam memaknai setiap pesan yang dikomunikasikan. Sehingga dalam penelitian ini ingin mengetahui “Bagaimana4pengalaman komunikasi antarpribadi orang tua, guru dengan anak tunawicara dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat?”Sehingga melalui penelitian ini ingin mendeskripsikan pengalaman komunikasi antarpribadi orang tua, guru dengan anak tunawicara dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat yang fokus pada 1)mengetahui komitmen orang tua dan guru dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara, 2)mengetahui kendala komunikasi selama proses penyampaian pesan kepada anak tunawicara, 3)mengetahui konsistensi penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat.Kerangka Teori dan Metodologi PenelitianPeneilitian ini menggunakan Teori Manajemen Makna Terkoordinasi atau Coordinated Management of Meaning yang dikembangkan oleh W.Bernett Pearce, Vernon Cronen yang mengatakan bahwa ini merupakan pendekatan komprehensif terhadap interaksi sosiak yang memakai tata cara kompleks dari tindakan dan makna yang selaras dalam komunikasi. Teori ini membantu kita dalam memahami proses pemaknaan dan tindakan. Kunci pada teori ini adalah makna dan tindakan, interaksi serta cerita. (Littlejohn,2009:225)Keterbatasan komunikasi anak tunawicara tidak menghalangi hubungan interaksi diantara orang tua dan guru dengan anak tunawicara. Dalam proses penyampaian makna terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara diharapkan dapat dimaknai sebagaimana makna tersebut disampaikan oleh orang tua maupun guru dalam berkomunikasi dengan anak tuanawicara. Sehingga makna tersebut terbentuk dalam makna interpersonal bukan hanya sekedar makna pribadi. Manusia mengkoordinasikan makna dengan cara yang hierarkis, ini merupakan salah satu ciri inti dari CMM. Terdapat enam level makna dalam hierarki yang dibentuk yaitu isi, tindak tutur, episode, hubungan, naskah kehidupan, dan pola budaya. (Turner,2008:118-119)Proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh orang tua dan guru adalah menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal yang dalam penelitian ini menggunakan Teori Kinesik dari Birdwhistel yang menjelaskan tentang isyarat nonverbal yang menggunakan tubuh untuk mengisyaratkan pesan (Liliweru,1997:72).5Ray Birdwhistell dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semua tubuh dan anggota tubuh mempunyai fungsi tertentu dan komunikasi antar manusia.Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata – kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah dan cenderung menggunakan analisis induktif.Penelitian ini menggunakan pendekatan atau tradisi fenomenologi yang fokus pada pengalaman pribadi objek yang diteliti. Fenomenologi diartikan sebagai 1) pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal, 2) suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang. Istilah fenomenologi sering digunakan sebagai anggapan umum bahwa menunjuk pada pengalaman subjektif dari berbagai jenis dan tipe subjek yang ditemui. Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. (Moelong, 2007: 14-15)Dapat dikatakan bahwa penelitian deskriprif kualitatif ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman pribadi objek yang diteliti. Sehingga seseorang dapat memahami tentang pengalaman pribadi objek yang diteliti karena semua informasi yang didapatkan oleh peneliti berdasarkan pengalaman pribadi yang dikomunikasikan dan informasi yang didapatkan dideskripsikan dan ditulis dalam bentuk naratif.Deskripsi Tekstural dan Struktural Pengalaman Komunikasi Antarpribadi Orang Tua, Guru dengan Anak Tunawicara dalam Menanamkan Nilai Prososial dan Antisosial di MasyarakatDeskripsi struktural merupakan deskripsi mengenai bagaimana fenomena dimaksud sebagai pengalaman. Deskripsi struktural meliputi perilaku sadar dalam berpikir dan memutuskan, berimajinasi, dan mengingat kembali untuk menemukan makna struktural dasar yang hanya dipahami melalui refleksi. Deskripsi tekstural adalah deskripsi dari sesuatu yang tampak sedangkan deskripsi struktural mendeskripsikan pengalaman yang tersembunyi. (Moustakas,1994:79)6Pengalaman unik yang ditemukan dari pengalaman informan dalam tiga bagian yang dikelompokkan adalah 1) komitmen orang tua dan guru dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara. Pengalaman unik orang tua dalam mengasuh anak tunawicara adalah dalam berkomunikasi dengan anak tunawicara orang tua harus konsisten menggunakan satu bahasa yang mana bahasa merupakan media komunikasi. Guru mempunyai pengalaman dalam mendidik anak tunawicara seorang guru harus mampu memahami bahasa isyarat nonverbal SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) yang seringkali digunakan anak tunawicara untuk melakukan komunikasi.Bagian yang ke 2) kendala komunikasi dengan anak tunawicara. Pengalaman orang tua ketika berkomunikasi dengan anak tunawicara adalah orang tua mengalami kesulitan dalam menanamkan iman dan kepercayaan kepada anak, karena orang tua tidak dapat memberikan contoh secara nyata kepada anak tunawicara. Penggunaan bahasa isyarat SIBI yang dilakukan oleh anak tunawicara sulit untuk dipahami oleh orang tua. Sedangkan kendala yang dialami oleh guru adalah dalam mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia yang lebih kepada mengenalkan kata dan makna kepada anak tunawicara.Bagian yang ke 3) konsistensi penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal sebagai pembelajaran penanaman nilai prososial dan antisosial di masyarakat. Pengalaman komunikasi yang diungkapkan oleh orang tua dan guru ketika mengajarkan anak untuk memahami nilai prososial dan antisosial adalah dengan mendemonstrasikan pesan kepada anak tunawicara yaitu menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal.Sintesis Makna Tekstural dan StrukturalCara berkomunikasi yang digunakan oleh orang tua dan guru dengan anak tunawicara adalah komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi nonverbal biasanya digunakan untuk menekankan pesan yang disampaikan. Orang tua dan guru lebih menggunakan komunikasi verbal untuk melatih anak berkomunikasi, dalam penyampaikan pesan terkait dengan penanaman nilai prososial dan antisosial, orang tua lebih sering mendemontrasikan kepada anak tentang perilaku prososial. Dalam mendemonstrasikan, orang tua lebih banyak menggunakan bahasa nonverbal.Teori Kinesik dari Birdwhistel menjelaskan tentang isyarat nonverbal yang menggunakan tubuh untuk mengisyaratkan pesan (Liliweri, 1997:72). Ray Birdwhistell dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semua gerakan tubuh dan7anggota tubuh mempunyai fungsi tertentu dan komunikasi antar manusia (Liliweri, 1997:72). Bagi anak tunawicara isyarat nonverbal merupakan cara komunikasi yang dilakukan anak dalam menyampaikan setiap pesan. Gerakan tangan dan gerakan tubuh lainnya yang dilakukan oleh anak tunawicara dalam berkomunikasi mengisyaratkan pesan, setiap gerakan isyarat yang dilakukan memiliki makna pesan, sehingga semua gerakan tubuh dan anggota tubuh mempunyai fungsi tertentu dalam proses komunikasi dengan orang lain.Hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh anak tunawicara saja, akan tetapi orang tua dan juga guru yang akan berkomunikasi dengan anak tunawicara. Ketika orang tua dan guru menyampaikan pesan kepada anak tunawicara dengan menggunakan komunikasi nonverbal, orang tua dan guru menggunakan gerakan tubuh untuk menekankan pesan yang disampaikan. Terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang diajarkan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara, proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh orang tua adalah lebih menggunakan demonstrasi yang didalamnya menggunakan gerak tubuh, isyarat tangan dan ekspresi wajah. Setiap gerakan tangan dan tubuh lainnya memiliki makna pesan yang harus diinterpretasikan oleh anak tunawicara sesuai dengan makna pesan yang dimaksudkan oleh orang tua.Orang tua menjelaskan kepada anak akan nilai prososial dan antisosial , dengan menggunakan bahasa nonverbal dan mendemonstrasikannya seperti contoh anak tidak boleh berbohong orang tua menjelaskan bohong itu dosa dengan mendeskripsikan menunjuk keatas yang artinya Tuhan ditambah dengan ekspresi nonverbal yang memperlihatkan wajah dengan raut muka yang marah, mata melotot. Selain itu dipertegas lagi dengan orang bohong mulutnya lebar, dengan ekspresi mulut dibuka lebar dengan mata melotot. Deskripsi itu menjelaskan bahwa bohong tidak boleh, sehingga dapat dilihat bahwa setiap gerakan tubuh dan ekspresi yang digunakan untuk mengkomunikasikan setiap pesan memiliki makna.Paul Eckmandan Wallace V.Friesen memberikan beberapa klasifikasi gerakan tubuh yaitu emblems, ilustrator, affect display, regulator, dan adaptor (Devito,1997:187). Berdasarkan penuturan sebelumnya, orang tua dan guru mendemonstrasikan dengan menggunakan beberapa klasifikasi gerakan tubuh seperti ilustrator adalah perilaku nonverbal yang mengilustrasikan pesan verbal dengan menggunakan isyarat badan dengan gerakan gerakan tangan. Kemudian affect display8merupakan gerakan wajah yang mengandung makna emosional, seperti ekspresi marah dengan mata melotot, mulut dan mulut dibuka lebar yang ditunjukkan orang tua ketika menjelaskan suatu pesan kepada anak tunawicara.Berdasarkan penelitian mengenai pengalaman komunikasi antar pribadi antara orang tua, guru dengan anak tunawicara dalam menanamkan nilai prososial dan antisosial di masyarakat ini menunjukkan bahwa penelitian ini merujuk pada paparan teoritis dari Teori Manajemen Makna Terkoordinasi (Coordinated Management of Meaning) yang fokus pada hubungan antar individu dan bagaimana seseorang memberi makna pada pesan dan pentingnya mengatur koordinasi mengenai suatu makna pesan. Koordinasi adalah usaha untuk mengartikan pesan-pesan yang berurutan. (Turner, 2008:122)Kesesuaian Teori Manajemen Makna Terkoordinasi dengan penelitian ini adalah proses komunikasi antar pribadi antara orang tua dengan anak tunawicara serta guru dengan anak tunawicara yang membentuk suatu hubungan atau relasi diantara keduanya, baik hubungan dalam keluarga maupun di lingkungan sekolah. Relasi yang terbangun tersebut akan membantu anak tunawicara yang memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pesan yang dimaksudkan. Hubungan dalam suatu komunikasi akan sangat membantu antara komunikator dan komunikan yaitu orang tua, guru, serta anak tunawicara yang masing-masing dapat berperan sebagai komunikator dan komunikan.Anak tunawicara merupakan anak berkebutuhan khusus yang secara spesifik memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, sehingga proses pemaknaan pesan yang disampaikan tidak semudah ketika seseorang menyampaikan pesan dengan orang lain yang tidak memiliki keterbatasan komunikasi. Anak tunawicara memiliki kendala dalam mengkoordinasikan setiap pesan secara berurutan yang ditangkapnya dan kesulitan dalam memaknai setiap pesan yang ada. Hal yang terpenting dalam berkomunikasi adalah makna yang disampaikan dapat diterima dan dimaknai sesuai dengan makna pesan yang dimaksudkan. Sehingga yang ditekankan dan sangat penting dalam penelitian ini adalah proses pemaknaan pesan yang dilakukan oleh anak tunawicara terkait dengan nilai prososial dan antisosial yang disampaikan oleh orang tua dan guru. Dalam penyampaian pesan tersebut, tidak terlepas dari sebuah interaksi komunikasi yang berada dalam sebuah hubungan atau relasi antar keduanya.9Pearce (1989) menyatakan bahwa koordinasi lebih mudah ditunjukkan daripada dijelaskan, maksudnya cara terbaik untuk memahami koordinasi adalah dengan mengamati orang-orang berinteraksi dalam sehari-hari. Karena orang memasuki suatu percakapan dengan kemampuan dan kompetensi yang berbeda-beda, mencapai koordinasi dapat menjadi sulit pada saat-saat tertentu. Selain itu, koordinasi dengan orang lain merupakan hal yang penuh tantangan sebagiannya karena orang lain juga sedang berusaha untuk mengkoordinasikan tindakannya dengan tindakan kita. (Turner,2008:122)Anak tunawicara memahami koordinasi atau mengartikan pesan-pesan yang disampaikan orang tua mengenai nilai prososial dan antisosial lebih kepada anak mengamati orang tua dalam berinteraksi sehari-hari. Seperti perilaku sopan santun, saling menolong, menghormati orang lain, anak tunawicara mengerti mengenai perilaku tersebut dari dia melihat sikap orang tuanya kepada orang lain ketika bertemu dengan tetangga yang memberikan senyuman. Pesan tersebut dikoordinasikan oleh anak karena dia mengamati orang tuanya, orang tua dalam menjelaskan nilai prososial dan antisosial ini juga lebih mengkomunikasikan melalui contoh atau demontrasi. Hal tersebut ternyata sangat membantu anak mengkoordinasikan pesan yang disampaikan. Hanya menggunakan komunikasi secara verbal dirasa susah untuk dikoordinasikan oleh anak karena kemampuan komunikasi verbal lisan yang sangat kurang dari anak tunawicara.Pembelajaran nilai prososial dan antisosial di masyarakat yang dilakukan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara ini menerangkan mengenai instruksi yang ditunjukkan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara untuk berperilaku prososial. Instruksi yang disampaikan tersebut menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal seperti gerak tangan dan tubuh. Pesan yang disampaikan tersebut kemudian diterima oleh anak tunawicara, dalam proses penerimaan pesan, anak kemudian akan memaknai pesan yang disampaikan sesuai dengan pemahaman anak untuk mentafsirkan pesan. Tahapan selanjutnya adalah mengenai umpan balik yang diberikan oleh anak tunawicara kepada orang tua dan guru. Umpan balik adalah komunikasi yang diberikan pada sumber pesan oleh penerima pesan yang menunjukkan pemahaman makna. (Turner,2007:13)Umpan balik atau feed back merupakan suatu respon yang ditunjukkan oleh anak tunawicara kepada orang tua dan guru. Ketika pesan yang ingin disampaikan10kepada anak tunawicara dalam menyampaikan pesan kepada anak tunawicara. Proses penyampaian pesan yang dilakukan tersebut menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal yang diharapkan pesan tersebut dapat dimakanai oleh anak tunawicara. Setelah proses pemaknaan terjadi, anak tunawicara kemudian menunjukkan perilaku yang merupakan hasil dari komunikasi instruksional yang dapat dikontrol dan dikendalikan dengan baik.KesimpulanBerdasarkan pembahasan yang sudah dipaparkan mengenai pengalaman unik dari temuan penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa :1. Mengasuh dan mendidik anak tunawicara harus didasari dengan komitmen yang diambil oleh orang tua. Komitmen yang ditunjukkan orang tua adalah kesiapan dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara. Cara pengasuhan yang tepat bagi anak tunawicara adalah cara pengasuhan authoritative yaitu cara pengasuhan yang memiliki keseimbangan antara responsiveness dan demandingness. Pola pengasuhan ini menunjukkan bahwa orang tua memberikan kasih sayang, keluasan, dan kebebasan kepada anak tunawicara akan tetapi tetap memberikan pengawasan kepada anak tunawicara. Keterbatasan komunikasi anak tunawicara juga harus dipahami oleh orang tua dengan orang tua memiliki komitmen dalam berkomunikasi menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal seperti mendeskripsikan, mengilustrasikan, dan mendemonstrasikan pesan supaya mudah dipahami oleh anak serta konsisten menggunakan satu bahasa ketika melakukan komunikasi dengan anak tunawicara.2. Guru SMALB memiliki komitmen dalam mengasuh dan mendidik anak tunawicara, komitmen yang ditunjukkan oleh guru adalah dalam control atau mengawasi perilaku prososial dan antisosial anak tunawicara selama berada di sekolah. Guru juga berperan dalam memberikan pembelajaran bagi anak tunawicara. Sikap yang ditunjukkan guru kepada anak tunawicara adalah penuh kasih sayang dan penuh kesabaran yang merupakan salah satu hal yang terpenting untuk membuat proses belajar mengajar menjadi nyaman dan menyenangkan. Selain itu, guru SMALB juga harus memiliki kemampuan dalam menguasai bahasa nonverbal seperti isyarat SIBI yang merupakan salah satu cara komunikasi yang dilakukan oleh anak tunawicara. Kemampuan guru11dalam berkomunikasi secara verbal dan nonverbal akan membantu proses penyampaian pesan kepada anak tunawicara.3. Kendala komunikasi yang dialami oleh orang tua dan guru adalah pada cara penyampaian pesan kepada anak tunawicara. Orang tua merasa kesulitan ketika menjelaskan kepada anak mengenai sesuatu yang sifatnya tidak dapat dilihat dan ditunjukkan secara nyata seperti menjelaskan mengenai iman dan kepercayaan kepada anak tunawicara. Selain itu, orang tua juga mempunyai kendala dalam memaknai pesan yang disampaikan oleh anak tunawicara ketika anak menggunakan isyarat SIBI. Hal ini disebabkan karena orang tua tidak mengerti arti dari setiap gerak jari yang digunakan oleh anak tunawicara.4. Orang tua dan guru dalam berkomunikasi dengan anak tunawicara tetap menggunakan komunikasi verbal untuk melatih kemampuan berbicara anak tunawicara, sedangkan komunikasi nonverbal yang digunakan orang tua dan guru berfungsi untuk menekankan, melengkapi dan untuk mengatur pesan yang disampaikan kepada anak tunawicara. Anak tunawicara cenderung lebih memilih menggunakan komunikasi nonverbal dalam berkomunikasi karena komunikasi nonverbal bagi anak tunawicara adalah untuk menggantikan komunikasi verbal.5. Proses penyampaian pesan oleh orang tua dan guru mengenai nilai prososial dan antisosial untuk mengajarkan perilaku baik dan buruk kepada anak tunawicara ini disajikan dengan menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal dengan cara mendemonstrasikan kepada anak tunawicara. Selain mendemonstrasikan, orang tua dan guru juga memberikan contoh yang dapat dilihat oleh anak tunawicara. Anak tunawicara akan lebih mudah memahami pesan mengenai perilaku baik dengan melihat sikap atau perilaku prososial yang ditunjukkan orang tua dan guru dalam keseharian seperti sopan santun dan saling menolong dengan orang lain.6. Proses pemaknaan pesan tidak sekedar memaknai pesan secara pribadi, akan tetapi lebih pada pemaknaan interpersonal. Makna pribadi merupakan makna yang dicapai seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain sambil membawa pengalamannya yang unik kedalam interaksi, sedangkan makna interpersonal merupakan pemaknaan bersama yang diartikan sebagai hasil yang muncul ketika dua orang sepakat akan interpretasi satu sama lain mengenai sebuah12interaksi. Pesan yang disampaikan oleh orang tua dan guru kepada anak tunawicara mengenai perilaku yang baik yang harus dilakukan dan perilaku antisosial yang harus dihindari dapat dimaknai secara berbeda oleh anak tunawicara, tergantung pemaknaan yang dilakukan oleh anak yaitu pemaknaan pribadi atau interpersonal. Proses pemaknaan pesan yang baik adalah ketika seseorang dapat memaknai pesan secara interpersonal, yaitu pencapaian makna secara bersama.7. Perilaku yang ditunjukkan anak tunawicara adalah berdasarkan pemaknaan pesan yang dilakukan. Ketika pesan dari orang tua dan guru dimaknai secara interpersonal, perilaku anak tunawicara akan sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua dan guru yaitu anak akan berperilaku baik sesuai dengan nilai prososial. Perilaku anak tunawicara tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua dan guru ketika anak hanya memaknai pesan secara pribadi, yang menunjukkan bahwa anak memiliki kecenderungan berperilaku antisosial.Daftar PustakaAbdurrachman, Muljono dan Sudjadi.1994.Pendidikan Luar Biasa Umum.Jakarta:Departemen Pendidikan dan KebudayaanAbercrombie, Nicholas dkk.2010. Kamus Sosiologi. Yogyakarta:Pustaka PelajarArsjad, Maidar G. Dan Mukti U.S.1987.Pembinaan Kemampuan BerbicaraBahasa Indonesia.Jakarta:ErlanggaBeebe, Steven A., Susan J. Beebe, Mark V. Redmond.2005.InterpersonalCommunication Relating to Others.Fourth Edition.USA:Pearson Education,IncDevito, Joseph.1997.Human Communication. Jakarta : Pustaka Utama GrafitiDjamarah,Syaiful Bahri.2002.Psikologi Belajar.Jakarta:Rineka CiptaEffendi, Onong Uchjana. 1992. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung:PT Remaja RosdakaryaLe Poire, Beth A.2006.Family Communication.London: Sage PublicationsLiliweri, Alo.1997.Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: PT Citra Aditya BaktiLittlejohn, Stephen W.2007. Theories of Human Communication.Jakarta:Salemba HumanikaLittlejohn, Stephen W.2009. Teori Komunikasi. Jakarta : Salemba Humanika13Moelong, Lexy Jhon.2008.Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung :PT Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark.1994.Phenomenological Research Methods.London:Sage PublicationsMuhammad, Arni.2009.Komunikasi Organisasi.Jakarta:PT Bumi AksaraMulyana, Dedy.2001.Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar.Bandung: PTRemaja RosdakaryaPurwanto, Heri . 1998. Ortopedagogik Umum. Yogyakarta : IKIP YogyakartaRahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Yogyakarta:Pustaka PelajarSardjono.2000. Ortopedagogik Anak Tunarungu. Surakarta:UNS PressSoekanto, Soerjono.2006.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta:RajaGrafindo PersadaSoewito dan Soejono.1999.Komunikasi Total. Jakarta: Bumi AksaraSutaryo.2005.Sosiologi Komunikasi.Yogyakarta:Arti Bumi IntaranTelford, Charles W. dan James M. Swrey.1995 Education for Children withSpecial Needs. Bandung: Remaja RodsakaryaTubbs, Stewart L.2001.Human Communication.Bandung: PT Remaja RosdakaryaTurner, Richard West. 2009. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta :Salemba HumanikaYusuf, Pawit M.1990.Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Instruksional.Bandung:PT Remaja Rosda Karya
PENGARUH INTENSITAS MENGAKSES MEDIA SOSIAL ADIDAS DAN CITRA MEREK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN SPORT SHOES ADIDAS DI KALANGAN REMAJA WANITA Purnama, Ayu Sri; Herieningsih, Sri Widowati; Pradekso, Tandiyo; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.216 KB)

Abstract

Sport shoes merupakan salah satu jenis sepatu yang di minati oleh masyarakat saat ini, Selain itu akhir-akhir ini salah satu jenis sport shoes yakni running shoes menjadi fashion baru dikalangan remaja di Indonesia. Namun salah satu produsen sports shoes yaitu adidas saat ini kurang diminati bila dibandingkan dengan kompetitornya hasil survey mengenai sport shoes yang digunakan dan diminati oleh remaja wanita di Indonesia menunjukkan bahwa Adidas menempati urutan ke- tiga setelah nike dan converse kemudian data top brand index kategori remaja menunjukkan bahwa sport shoes Adidas sangat fluktuatif dari tahun 2012 – 2015.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh intensitas mengakses media sosial adidas dan citra merek terhadap keputusan pembelian sport shoes adidas di kalangan remaja wanita. teori yang digunakan adalah teori ketergantungan dan teori respon kognitif. populasi dalam penelitian ini adalah remaja wanita yang berusia 18 – 22 tahun dan berdomisili di semarang dan sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 50 responden dengan teknik purposive sampling.Dalam uji hipotesis, penulis menggunakan analisis regresi berganda, hasilnya menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara intensitas mengakses media sosial Adidas dan citra merek terhadap keputusan pembelian. uji hipotesis yang pertama menunjukkan tidak terdapat pengaruh antara intensitas mengakses media sosial terhadap keputusan pembelian sport shoes adidas di kalangan remaja wanita. kemudian Uji hipotesis yang kedua menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara citra merek terhadap keputusan pembelian sport shoes adidas di kalangan remaja wanitaKesimpulan dari penelitian ini adalah hipotesis pertama dan kedua tidak terbukti karena tidak terdapat pengaruh antara intensitas mengakses media sosial terhadap keputusan pembelian sport shoes adidas di kalangan remaja wanita kemudian tidak terdapat pengaruh antara citra merek terhdap keputusan pembelian sport shoes adidas di kalangan remaja wanita.
Hubungan Terpaan Iklan JD.ID dan Tingkat Pendapatan dengan Minat Beli di JD.ID Gofita Dharana Zenaislamey Novadhiyavast; Joyo Nur Suryanto Gono
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.153 KB)

Abstract

JD.ID hadir ditengah-tengah persaingan e-commerce lain yang sudah lebih dulu masuk dan berlomba-lomba menjadi top e-commerce di Indonesia. Belanja iklan televisi yang dilakukan oleh JD.ID selama periode 2017 terhitung tinggi yaitu mencapai Rp215,61 miliar. JD.ID juga mendeklarasikan sebagai e-commerce yang menyediakan barang-barang yang premium, harga yang kompetitif, dijamin keaslian dan kualitasnya. Namun dengan adanya hal tersebut, JD.ID masih belum bisa menjadi top e-commerce di Indonesia. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara terpaan iklan JD.ID dan tingkat pendapatan dengan dengan minat beli di JD.ID. Teori yang digunakan adalah Teori Advertising Exposure dan Teori Kategori Sosial. Tipe penelitian kuantitatif ini adalah eksplanatori. Teknik sampling yang digunakan adalah non probability sampling dengan metode purposive sampling, dan jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 60 orang yang menetap di Kota Semarang, memiliki ponsel pribadi, pernah melihat iklan JD.ID, memiliki pendapatan bulanan dan berusia antara 17-45 tahun. Uji hipotesis dilakukan dengan uji Kendall’s Tau-b. Uji hipotesis pertama yang dilakukan untuk menguji hubungan antara terpaan iklan JD.ID dengan minat beli di JD.ID, menghasilkan nilai koefisien korelasi 0,426 yang menunjukkan kekuatan hubungan agak rendah dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Kemudian uji hipotesis kedua yang dilakukan untuk menguji hubungan antara tingkat pendapatan dengan minat beli di JD.ID menghasilkan nilai koefisien korelasi 0,352 yang menunjukkan kekuatan hubungan rendah dan nilai signifikansi sebesar 0,002. Maka semakin tinggi terpaan iklan JD.ID maka akan dikuti pula dengan semakin tingginya minat beli di JD.ID dan semakin tinggi tingkat pendapatan-nya maka akan dikuti pula dengan semakin tingginya minat beli di JD.ID. Berdasarkan hal tersebut, dapat disarankan pada perusahaan JD.ID agar dapat menysusun strategi komunikasi pemasaran yang lebih baik dengan menonjolkan juga sisi harga di JD.ID yang lebih murah, jangan hanya berfokus menonjolkan pada jaminan original dan premium-nya saja seperti yang diterapkan selama ini pada tagline maupun iklan-nya.
KONTROVERSI HEALTHY LIFESTYLE PADA PROGRAM OCD (OBSESSIVE CORBUZIER DIET) DI MEDIA ONLINE TWITTER Sallindri Sanning Putri; Hedi Pudjo Santosa; Taufik Suprihatini; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.052 KB)

Abstract

Ramainya pemberitaan program OCD (Obsessive Corbuzier Diet) sebagai healthy lifestyle yang beredar di media twitter hingga tersebar di berbagai media massa, menjadi perbincangan hangat yang menimbulkan berbagai opini dalam masyarakat. Aturan OCD yang dianggap fleksibel namun juga menyimpang dari anjuran kesehatan, membuat program ini menuai kritik dari berbagai lapisan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna sebagaimana dimaksud oleh media twitter dan mengetahui bagaimana resepsi khalayak terhadap kontroversi OCD sebagai healthy lifestyle. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori perspektif perbedaan individual (Ball-Rokeach, S. J.dan DeFleur, M.L. 1976) dan khalayak aktif (Levy dan Windhl 1985:110). Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis resepsi Stuart Hall. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview kepada 7 informan. Indepth interview dilakukan dengan FGD (Forum Group Discussion) dan wawancara individual. Informan dalam penelitian ini yakni, pengguna twitter aktif dan khalayak yang mendapat terpaan tweet program OCD. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa khalayak meresepsi OCD tidak sesuai dengan preferred reading yang di komunikasikan media. Preferred reading di dapat dari teks media twitter yang menggambarkan OCD sebagai sebuah healthy lifestyle yang diyakini dapat menurunkan berat badan secara praktis dan instan. Namun dalam melakukan pemaknaan, khalayak membaca posisi OCD secara oppositional reading, dimana OCD tidak dilihat sebagai healthy lifestyle, namun hanya sekedar program diet. Khalayak memahami secara pasti pemahaman healthy lifestyle, namun tidak  menerapkan pengetahuan yang dimilikinya sebagai gaya hidup.  Aturan OCD yang berbeda dari paham kesehatan pada umumnya, seperti makan pagi dan mengkonsumsi kolesterol diresepsi khalayak hanya sebagai sebuah informasi. Khalayak memilih untuk tetap menjalani kebiasaan dan pengetahuan yang ditanamkan sejak dahulu oleh orang tua dan budaya sosialnya, daripada mempercayai dan mengikuti semua statement Deddy Corbuzier. OCD di terima khalayak secara dominant reading sebagai program diet yang mampu menurunkan berat badan, namun tidak dari segi kesehatan. Twitter sebagai media pertama publikasi program ini pun, dilihat khalayak sebagai media yang digunakan untuk memperoleh informasi dan dipercaya dapat menyebarkan suatu trend secara cepat dan luas. Terpaan media dan lingkungan pertemanan berpengaruh dalam mempersuasif dan mengusik rasa ‘penasaran’ khalayak. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam memaknai terpaan media, khalayak memiliki pemahaman yang berbeda sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Kata kunci :  Twitter, Kontroversi OCD, Healthy lifestyle
Understanding Family Communication and Peer Group in Decision of Wearing Hijab Nindha Rahmayantie, Erieke; Budi Lestari, SU, Dr. Dra. Sri
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.132 KB)

Abstract

Hijab has become trend and lifestyle for the muslim women. Started many young people who uses hijab with some consideration is to run religious orders, become more syar’i or just following the trend. In this case, youth’s decision making to wear hijab assumed that inspired by peer group and family. This descriptive qualitative research aims to describe that family and peer group has contribution in youth’s decision making to wear hijab. Subject of this research is moslem’s teenager, age 18 – 22 years, wear hijab within the past year (since 2015), better use hijab syar’i or modern. Approach in phenomenology, this research is based on paradigm constructivism. This research use Ethic Dialogic Theory who focus on I – Thou relationship that provide opportunities for each individual to express their opinions, and Symbolic Interactionism Theory which refers to a verbal and non verbal symbol that family or peer group used to contribute youth’s decision making of wear hijab. The results showed that in fact the family and peer groups contribute to the decision making process of wearing hijab. individuals have the opportunity to express and decide their own choices. Family and peer group plays a role in providing advice and consideration in decision making process of wearing hijab. Type of family, parenting style that applied by parents and family culture influence on decision making process. In family, informant are closer to the mother figure that is considered provide more advice. Close family communication relationship contributes that familiarity can bring an openness to tell each other that eventually will be material of the decision. While in communication with peer group, verbal and nonverbal comments are given by peers to contribute in decision making of wearing hijab. In a group of peers which the members are improve themselves and bound in friendship commitment further contribute in decision of wearing hijab. Friendship functions play a role in youth’s decision making process that is togetherness, simulation, physical support, the support of ego, social comparison and intimacy or attention. All the informant relationship with peer group has become the stage of friendship. Inspiration figure was also instrumental in giving confidence in wearing hijab. in addition to family members and peers, public figure also inspired many informant of wearing hijab.
Pembuatan Script Serial Animasi Petualangan Ramboy & Raia episode 1 dan 2 Lifebuoy Shampoo Fertilina Hardiyani
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.021 KB)

Abstract

Dunia periklanan yang berkembang dengan begitu cepat, mendorong pekerja industriini untuk memiliki daya kreatif yang tinggi namun tetap persuasif. Untuk itu,diperlukan pendekatan lain untuk beriklan, salah satunya adalah film. Selainmenghibur dari segi cerita, pesan komunikasi periklanan pun dapat disisipkan didalamnya tanpa penonton harus merasa keberatan. Film animasi adalah salah satujenis film yang tepat apabila memilih anak-anak sebagai target audience.Petualangan Ramboy dan Raia adalah salah satu serial animasi yang digunakan olehLifebuoy Shampoo sebagai media beriklan melalui pendekatan storytelling. Pesanutama yang ingin disampaikan dalam animatic series ini adalah bahwa keramas tidakcukup hanya dengan air karena air hanya memindahkan kotoran, bukanmembersihkan.Salah satu unsur penting dalam sebuah film adalah script yang dijadikan acuan ceritadan dialog antar tokohnya. Pengerjaan script Petualangan Ramboy dan Raia inidikerjakan oleh seseorang yang disebut sebagai seorang copywriter. Selainmenjalankan fungsinya sebagai copywriter yang harus menjual produk lewat tulisan,seorang copywriter dalam hal ini juga harus menjalankan fungsi seorang scriptwriteryang harus menyusun cerita yang menarik untuk ditonton.Melalui karya bidang ini, akan dijelaskan tahap-tahap apa yang dilakukan hinggaterbentuklah script yang siap tayang mulai dari tahap pemberian creative brief,brainstorm, penyusunan guideline, pembuatan karakter tokoh, pembuatan storyline,penjabaran ke bentuk script itu sendiri, hingga tahap revisi. Pemilihan nama dankarakter masing-masing tokoh, konsep cerita, dan visualisasi pun harus diperhatikandengan seksama agar pesan komunikasi yang ingin disampaikan oleh brand tetapdapat tersampaikan dengan baik tanpa mengabaikan dari sisi cerita itu sendiri.Kata kunci : periklanan, animatic series, copywriter, Petualangan Ramboy & Raia
Twitter Sebagai Media Propaganda (Analisis Wacana pada Tweet @TsamaraDKI dan @FaldoMaldini sebagai Media Propaganda Menjelang Pemilihan Presiden 2019) Sahlan Marzuuqi; Muchamad Yulianto
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1125.639 KB)

Abstract

Political propaganda is one of the ways that politicians use to bring opinions and issues that are developing in society ahead of the 2019 Political elections. The purpose of political propaganda is none other than to get support and win votes in a political contestation. Social media is one tool that is often used to convey propaganda. Twitter social media platform is the right choice for politicians to convey their political propaganda. Tsamara Amany Alatas and Faldo Maldini are young Indonesian politicians who are active in using social media twitter. Both are part of each winning team of candidates for president and vice president who advanced in political contestation in 2019. Although newcomers, both politicians have influence in the Indonesian political arena which is quite strong supported by their active use of social media. This research uses Discourse Analysis which after analysis is associated with political propaganda. The results of the research using discourse analysis can be seen the forms and propaganda techniques issued by the Twitter account politicians @TsamaraDKI and @ FaldoMaldini ahead of the 2019 presidential and vice presidential elections, namely using propaganda techniques of name calling, glittering generalities, card stacking, plain folks, bandwagon techniques, testimonials
INTERPRETASI KHALAYAK TERHADAP PEMBERITAAN KASUS KEKERASAN SEKSUAL DI JAKARTA INTERNATIONAL SCHOOL DI TELEVISI Brillian Barro Vither; Hedi Pudjo Santosa; Turnomo Rahardjo; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.317 KB)

Abstract

Televisi merupakan teknologi audio visual yang dapat menyajikan informasi dan hiburan secara cepat, terjangkau, dan umum dimiliki oleh masyarakat. Setiap stasiun televisi berusaha memberikan program-program terbaru sesuai dengan tren yang berlangsung. Begitu beranekaragam produk yang disajikan televisi, salah satu produk unggulan yang disajikan televisi adalah program berita.Berita yang memuat peristiwa kekerasan dan kriminalitas mendapat perhatian yang cukup tinggi dari para penonton televisi. Bahkan berita kriminal dan kekerasan sering disiarkan pada jam-jam produktif untuk menarik minat masyarakat. Pemberitaan kekerasan yang berlebihan ditakutkan dapat menimbulkan efek bagi pemirsa yang menyaksikan berita tersebut secara terus menerus. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan audiens mengenai pemberitaan kasus kekerasan seksual di Jakarta International School yang tayang pada program berita di televisi. Penelitian ini menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall untuk menjelaskan jalannya proses encoding-decoding pemberitaan dari program berita.Penelitian ini adalah penelitian dengan tipe deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Dalam analisis resepsi khalayak dipandang sebagai produser makna yang tidak hanya menjadi konsumen isi media. Hasil penelitian akan membagi khalayak ke dalam tiga posisi pemaknaan. Yaitu kelompok dominat reading, khalayak yang menerima fakta yang ditayangkan oleh program berita sesuai dengan prefered reading (makna yang ditawarkan media). Kelompok ini diisi oleh mereka yang menganggap bahwa kasus kekerasan seksual di JIS merupakan kasus yang menyeramkan. Kelompok negotiated reading, memaknai fakta yang ditayangkan sesuai dengan kenyataan, namun tidak setuju dengan cara penyampaiannya dalam program berita. Sedangkan kelompok oppositional reading, adalah khalayak yang memiliki pemaknaan yang berbeda sama sekali dengan makna dominan.Kelompok ini terdiri dari mereka yang menganggap bahwa kasus kekerasan seksual di JIS adalah kasus kriminalitas biasa dan tidak takut terhadap hal tersebutPenelitian ini sangat terbuka untuk dikaji dari sudut pandang dan metode berbeda dan menjadi dasar penelitian selanjutnya, terutama hal mengenai pemberitaan pesohor di infotainment dan khalayak aktif sehingga dapat menambah kajian penerimaan khalayak.
Karya Bidang Program Radio “Jateng Pagi” di RRI PRO 1 Semarang (Pengarah Acara) Nungki Dwi Widyastuti; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.506 KB)

Abstract

Radio Republik Indonesia is the oldest radio in Indonesia and the only government-owned radio that has the vision to realize Indonesia's public broadcasting institution as the largest networked radio, nation character builder, world-class. RRI has very wide network from Aceh to Papua. However, there are still many young people who do not know Radio Republik Indonesia. The number of private radios emerging has made RRI's popularity waning. The main reason is the image of RRI as a radio news and radio for parents, so less attractive for young people who are thirsty for entertainment and the latest things. One solution is to re-concept or re-create "Jateng Pagi" talk show program with a new concept by involving students as resource persons in this program and targeting the youth as the target audience, so it is expected to increase radio audience especially RRI PRO 1 Semarang. During the program's execution, the author served as a program director with rundown and according to the concepts that have been made by the creative director and the producer. Promotion by using social media such as instagram, youtube, line and whatsapp before and during the event. The results of the post-production questionnaire showed through the production of "Jateng Pagi", the team succeeded in increasing the number of listeners of "Jateng Pagi" RRI PRO 1 Semarang to 81 listeners. Similarly, at first the active listeners only 3 pepople in each episode, with the new concept now "Jateng Pagi" managed to increase 8 to 19 active listeners in each episode.
MEMAHAMI FENOMENA KOMUNIKASI HIPERPERSONAL MENGGUNAKAN ANONYMOUS USERNAME DALAM PORTAL BERITA ONLINE Eleonora Irsya; Hedi Pudjo Santosa; Yanuar Luqman
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.912 KB)

Abstract

MEMAHAMI FENOMENA KOMUNIKASI HIPERPERSONAL MENGGUNAKANANONYMOUS USERNAME DALAM PORTAL BERITA ONLINEAbstrakPortal berita online memberikan keleluasaan kepada pengaksesnya untuk mengunduhaplikasi situs berita dan berkomentar dalam kolom komentar yang disediakan hanya denganmembuat akun. Namun, banyak yang membuat akun dengan identitas lain atau tidak denganidentitas aslinya atau anonim. Hal itu dipermudah dengan tidak adanya verifikasi ketat ketikaakan membuat akun. Selain itu diduga adanya komunikasi hiperpersonal dalam portal beritaonline yaitu masyarakat lebih tertarik berkomunikasi dengan perantaraan internet daripadaberkomunikasi secara langsung. Banyak alasan yang mendasari mengapa mereka melakukan haltersebut ditambah dengan menggunakan akun anonim. Penelitian ini bertujuan untukmengungkap alasan yang mendasari mengapa mempraktikkan komunikasi hiperpersonalmenggunakan akun anonim. Penelitian ini menggunakan landasan Computer MediatedCommunication Theory (CMC), Deindividuation Theory dan Dependency Theory.Hasil penelitian ini menemukan fakta bahwa Portal berita online, selain sebuah situsberita online juga merupakan media komunikasi maya, memungkinkan penggunanya dapatmenulis identitas yang diinginkan sebagai upaya membentuk suatu image tertentu. Akun anonymtersebut dibuat supaya diri mereka tidak mudah dikenali oleh orang lain ketika mengirimkankomentar. Ada pula yang merasa identitas tidak terlalu penting dalam kolom komentar karenadirinya tidak ingin terganggu oleh orang yang terganggu dengan komentar yang dikirimnya.Komunikasi hiperpersonal yang terjadi dikarenakan adanya sebuah kesepahaman yang terbentukwalaupun tidak mengenal latarbelakang masing-masing. Ada pula yang mempunyai keterbatasandalam berkomunikasi dengan orang lain dalam kehidupan nyata sehingga beralih ke portal beritaonline untuk membahas isu-isu yang terjadi.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspek akademisdan praktis. Implikasi akademis penelitian ini berupa kontribusi dalam memperkaya ilmupengetahuan mengenai interaksi dengan menggunakan media baru di mana terdapat fenomenamelakukan komunikasi hiperpersonal dengan akun anonim. Sementara itu, implikasi praktismemberikan rekomendasi bagi pengakses portal berita online dalam berperilaku sehingga dapattercipta komunikasi yang sehat.Kata Kunci: Media Online, Anonim, Komunikasi Hiperpersonal.UNDERSTANDING HYPERPERSONAL COMMUNICATION PHENOMENON USINGANONYMOUS USERNAME IN ONLINE NEWS PORTALAbstractOnline news portal provides flexibility for users to download the application news sitesapplication and submit a comment in the comments field which will if only users made theaccount. However, many user creates account using fake or anonymous identity. The access tobe anonymous user get easier by the absence of the detail verification when creating an account.Besides that, it is believed that using hyperpersonal communication is because people these dayare more interested to communicate using Internet than direct communication. Many underlyingreason that make them do so and also using the anonymous account. This research is aimsuncover the reason why using hyperpersonal communication using anonymous username. Thisresearch uses Computer Mediated Communication Theory (CMC), Deindividuation Theory andDependency Theory.The research’s outcomes found that online news portal, in addition to an online news siteis also a virtual communication media, allowing users to write the desired identity as an effort toestablish a certain image. The anonymous accounts were made so that they themselves are noteasily recognized by others when submitting a comment. There is also a feeling of identity doesnot really matter in the comments field because he did not want to bothered by people who aretroubled by the comments sent. Hyperpersonal communication that occurs due to a form ofunderstanding that even do not know the background of each. There also has limitations incommunicating with other people in real life so the switch to online news portal to address issuesthat occur.The research is expected to provide the implications of the academic and practicalaspects. Academic implications of this research is a contribution in enriching the knowledge ofthe interaction by using new media where there is a phenomenon Hyperpersonal communicatewith an anonymous account. Meanwhile, the practical implications of providingrecommendations to the access of online news portals to behave so as to create a goodcommunication.Key words : Online Media, Anonym, Hyperpersonal CommunicationMEMAHAMI FENOMENA KOMUNIKASI HIPERPERSONAL MENGGUNAKANANONYMOUS USERNAME DALAM PORTAL BERITA ONLINEKolom sign in or log in atau register or log in sudah tidak asing lagi ketika mengaksessosial media. Fungsinya adalah mendaftarkan identitas untuk memperoleh username. Apakahsulit? Tidak, tinggal mengisi kolom-kolom sesuai dengan data diri. Sayangnya, dewasa ini makinbanyak identitas non riil atau asal-asalan yang dibuat untuk berinteraksi antar pengunjung atauuser lain dalam media sosial tersebut. Hal ini dikarenakan tidak adanya tuntutan untuk membuatidentitas username yang sesuai dengan identitas asli dan kebebasan untuk membuat sebanyakmungkin username.Mendaftar dengan verifikasi yang longgar memicu adanya identitas palsu yangmemberikan kebebasan dalam menggunakan sosial media. Kelonggaran identitas tersebut tidakterlepas dari salah satu karakteristik media baru yang disampaikan Feldman (dalam Flew2005:101) yaitu manipulable (mudah dimanipulasi). Masyarakat diberi kebebasan untukmemanipulasi, merubah data dan informasi secara bebas tanpa adanya batasan atau aturan.Belum pernah ada kasus hukum yang melibatkan users dalam sebuah portal media online karenakomentar yang melanggar etika.Masyarakat seperti diberi kesempatan untuk tidak perlu bertanggung jawab terhadapkomentar atau pendapat dengan pilihan kata yang tidak patut. Hal itu dikarenakan masyarakataman karena identitas mereka tidak riil atau berlindung dibalik username palsu. Manusia telahlupa pada kehidupan nyata dan terjebak dalam virtual reality di mana mereka lebih nyamanuntuk hidup di dalamnya. Internet digunakan sebagai pelarian untuk mendapatkan rasa nyamandan mengatasi rasa kesepian sehingga dapat mengembalikan harga diri sebagai makhluk sosial—tidak dapat hidup tanpa berinteraksi dengan orang lain.Orang yang hidup dengan menggunakan internet acap kali terjebak dalam situasi isolasisosial di mana dia lebih terbuka pada media tersebut. Orang-orang tersebut menggunakaninternet sebagai teknologi sosial atas solusi dalam mengatasi kesepian, ketidakberdayaan, dankehilangan harga diri (Maria Bakardjieva, 2005:123). Sedangkan Walther memberi nama“komunikasi hiperpersonal” untuk menggambarkan komunikasi dengan perantara komputer yangsecara sosial lebih menarik daripada komunikasi langsung. Dia memberikan tiga faktor yangcenderung menjadikan partner komunikasi via komputer lebih menarik: (a) e-mail dan jeniskomunikasi komputer lainnya memungkinkan presentasi diri yang sangat efektif, dengan lebihsedikit penampilan atau perilaku yang tidak diinginkan dibandingkan komunikasi langsung; (b)orang yang terlibat dalam komunikasi via komputer kadang kala mengalami proses atributif yangberlebihan yang di dalamnya dengan membangun kesan stereotip tentang partner mereka; dan (c)ikatan intensifikasi bisa terjadi dalam pesan-pesan positif dari seseorang partner sehingga akanmembangkitkan pesan-pesan positif dari rekan satunya (dalam Severin dan Tankard, 2005:462).Dalam dunia nyata identitas merupakan karakteristik esensial yang menjadi basis pengenalandari sesuatu hal, ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang; jati diri. Menurut Chris Barker,identitas itu bukanlah sesuatu yang terberi (given), tetapi merupakan sesuatu yang dibuat(created). Sama halnya dengan virtual reality, identitas harus dibuat namun tidak mengharuskanakan kebenarannya.Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan mengungkap alasan yang mendasari mengapa mempraktikkankomunikasi hiperpersonal menggunakan anonymous username.TeoriComputer Mediated Communication Theory and the problem of identityComputer Mediated Communication Theory digunakan untuk menjelaskan komunikasiyang terjadi dengan menggunakan media baru yang dinamakan internet. Teori ini digunakanuntuk menjelaskan komunikasi yang dalam hal ini memberi tanggapan atau komentar antarpemilik username pada portal berita online, di mana komunikasi tersebut terjadi dalam ruangvirtual yang dikenal sebagai virtual reality.Deindividuation TheoryTeori Deindividuation juga menegaskan bahwa masuknya individu secara mendalamdalam sebuah kerumunan atau kelompok mengakibatkan hilangnya identitas diri. Akibatnya,seseorang yang merasa kehilangan identitas pribadi lebih cenderung mendorong orang untukbertindak agresif atau menyimpang dari perilaku sosial supaya dapat diterima ketika merekaberada di pengaturan grup daripada ketika mereka sendirian. Dalam kaitannya dengan teorideindividuation, kondisi anonim dalam kelompok menyebabkan kurangnya kesadaran seseorangsiapa mereka sebagai individu.Dependency TheoryTeori ketergantungan media itu sendiri berpendapat bahwa pengaruh media ditentukan olehketerkaitan antara media, penonton, dan masyarakat. Keinginan individu untuk informasi darimedia adalah variabel utama dalam menjelaskan mengapa pesan media memiliki efek kognitif,afektif, atau variabel. Ketergantungan media tinggi, ketika individu mendapatkan kepuasan tetapibergantung pada informasi dari sistem media.Metode PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif-deskriptif. Penelitiankualitatif mencari jawaban atas pertanyaan dengan menguji berbagai latar sosial dan individuyang menjalaninya. Moleong (2007:6) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai penelitianyang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitianmisalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik dan dengan cara deskripsidalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan denganmemanfaatkan metode alamiah.Mengungkap alasan atau motivasi yang mendasari mengapa mempraktikkan komunikasihiperpersonal menggunakan username anonym pada portal berita online membutuhkanpendekatan secara langsung di lapangan sehingga diperoleh pengetahuan baru berdasarkanpandangan para informan.Menurut Husserl (dalam Kuswarno 2009:40) fenomenologi bertugas untuk menjelaskanthings in themselves, mengetahui apa yang masuk sebelum kesadaran dan memahami makna danesensinya dalam intuisi dan refleksi diri. Proses ini memerlukan penggabungan apa yang tampakdan apa yang ada dalam gambaran orang yang mengalaminya. Jadi gabungan antara yang nyatadengan yang ideal.Salah satu komponennya yang menjadi analisis dalam penelitian ini adalah kesengajaan.Kesengajaan untuk membuat anonymous username untuk berkomunikasi dalam portal beritaonline. Kesengajaan selalu berhubungan dengan kesadaran, dengan demikian kesengajaanmerupakan proses internal dalam diri manusia. Faktor yang berpengaruh terhadap kesengajaanantara lain kesenangan (minat), penilaian awal dan harapan terhadap objek. Kesengajaan untukmembuat anonymous username dibangun oleh konsep pokok yaitu identitas menjadikan sebuahentitas yang masuk dalam kesadaran sama seharusnya identitas mempertahankan karakteristikdasar dari sebuah entitas. Dalam fenomenologi, identitas terdapat pada ilusi untukmempertahankan hal-hal pokok dari objek sehingga masih bisa dikenali. Dalam sisi portal beritaonline, individu merusak identitas ketika mengembalikan ilusi kepada kesadaran, inilah yangdisebut Husserl sebagai sebuah kesengajaan.PembahasanPerilaku Mengakses Internet dalam Kehidupan Sehari-hariInternet sebagai media komunikasi paling mutakhir bisa dipahami sebagai bagian darikomunikasi massa yang tujuannya memberikan informasi seluas-luasnya kepada khalayak.Tetapi, karena adanya beberapa perbedaan karakteristik yang cukup signifikan sebagaiakibat perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat (Hadi, 2005:20). Portal beritaonline sebagai bagian dari internet telah menjadi bagian dari kebutuhan hiduppenggunanya. Dengan mengakses media sosial ini, pengakses portal berita online dapatmemanfaatkan internet sebagai ”sebuah alat” untuk memenuhi kebutuhan akan informasidan komunikasi manusia yang semakin tinggi. Ditambah lagi, dukungan piranti dalammengakses internet yang semakin praktis memungkinkan manusia dapat lebih mudahdalam mengakses internet dengan menggunakan handphone. Dari keterangan yangdiperoleh dari para informan, aktivitas yang cukup padat tidak menghalangi mereka untuktetap menyempatkan waktu mengakses portal berita online, walaupun sekadar mengecekataupun mencari informasi yang sedang up to date. Dari hasil penelitian, diperolehpemanfaatan lain dari portal berita online dan kolom komentar. Informan dari penelitianmengakui bahwa pemanfaatan portal berita online dan kolom komentar juga dapatdigunakan untuk menambah wawasan atas sebuah isu yang berkembang baik dibacanyasecara langsung atau diperolehnya dari komentar pengakses lain. Ditambah, para informantidak menemukan kelebihan yang dirasakannya menggunakan portal berita online darimedia konvensial. Para informan menganggap media konvensional sudah tidak praktis danekonomis, sehingga perlahan meninggalkan media konvensional untuk beralih ke mediaonline. Tidak semua portal yang ada di Indonesia diakses oleh para informan penelitian ini,paling sering dikunjungi adalah Detik.com, Kompas.com, Tempo.co dan Bola.net karenamenurut informan portal ini menjanjikan kecepatan informasi dalam mengakses berita yangterbaru. Selain itu, tampilan yang lebih sederhana dan lebih terfokus pada beritamenjadikan alasan menarik menjadikan akun portal berita pantas dipilih untuk diikuti. Darihasil penelitian, ditemukan bahwa informan menggunakan portal berita online sebagaimedia baru yang memiliki banyak kegunaan, seperti yang dikatakan McQuail (2000:128-129) yang menjabarkan konsep media baru yang dimiliki oleh portal berita online yaituTingkat Interaktivitas, Tingkat Social Presence, Tingkat Autonomy dan TingkatPlayfullness.Penggunaan Akun Anonymous dalam Portal Berita OnlinePara informan seperti terpengaruh oleh orang lain dan merasakan bahwa tidak adaketentuan yang ketat dalam pembuatan akun. Slouka dalam Ashar Hadi (2005:165)menjelaskan bahwa penggandaan identitas di Internet tak lebih dari sekedar komoditas.Artinya, identitas tidak bersifat esensial, melainkan dibentuk untuk kepentingankepentingan.Para informan juga mempunyai kepentingan menggunakan anonymous,mereka tidak ingin ditelusuri identitasnya karena tidak ingin berurusan dengan orang lainkarena komentarnya. Goffman (dalam Littlejohn dan Foss [eds], 2008:87) mengatakantentang bagaimana cara komunikator mempresentasikan dirinya (self-presentation).Kehidupan sehari-hari dapat dilihat seperti sebuah pertunjukan, di mana terdapat rasapenasaran apa yang akan ditampilkan oleh sang aktor dan yang akan membentuk suatukesan kepada khalayaknya. Seperti layaknya sebuah pertunjukan, terdapat dua bagian dimana aktor tersebut berperan, yaitu front stage dan back stage. Bagian front stage adalahtempat di mana pertunjukan tersebut berlangsung dan diatur sedemikian rupa. Bagianback stage adalah tempat di mana terdapat kesan yang berlawanan dari kesan yangdibangun saat pertunjukan (Goffman dalam Lemert dan Branaman [eds], 1997:Ixv).Akun anonymous yang dimiliki oleh para informan memainkan peran sebagaiaktor pada front stage. Dalam front stage, terdapat beberapa faktor penentu yaitu latar(setting), ciri khas (personal front), dan penampilan dan sikap (appearance and manner)(Goffman, 1956:13-16). Sebagai aktor pada front stage, akun anonymous diharuskanmenyembunyikan beberapa hal, seperti misalnya kesalahan (errors) yang secara tidaksengaja muncul saat persiapan pertunjukan atau saat pertunjukan tersebut berlangsung(Goffman, 1956:27). Hal itu dilakukan oleh para informan dengan membaca ulangkomentar yang hendak mereka kirimkan dan menambah wawasan mereka telebih dahulusebelum memberikan komentar. Goffman sendiri yang mengatakan bahwa untukmemperoleh peran, maka seorang aktor tidak diperkenankan untuk membiarkan dirinyamengalami ejekan, hinaan, dan berbagai bentuk perendahan diri (1956:29). Sependapatdengan Goffman, para informan menghindari hal-hal negatif yang bisa saja terjadidengan menyembunyikan identitas asli mereka. Seperti yang dikatakan oleh Goffman(1956:28), untuk menghasilkan sebuah pertunjukan yang bagus, standar ideal yangdimiliki seorang aktor dapat diperoleh dengan mengorbankan privasi dirinya ataubeberapa hal yang berhubungan dengan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Privasibukan saja seputar identitas namun juga berupa kegiatan-kegiatan yang dilakukan olehaktor pada back stage. Para informan tidak memberikan tambahan informasi mengenaidiri mereka sebenarnya dalam bentuk apapun dalam akun anonymous. Bagaimana punjuga, meski terdapat tekanan dari suatu bagian untuk dapat diidentifikasi sebagai frontdan back dari sebuah pertunjukan yang di mana saling berhubungan satu sama lain, tetapakan ada beberapa bagian yang fungsinya dapat saling bertukar, kapan menjadi front dankapan menjadi back, dan juga sebaliknya (Goffman, 1956:77). Hal ini menurut parainforman bergantung pada rubrik berita yang mereka baca, mereka bisa menjadi dirisendiri ketika mengomentari hal yang mereka suka, bola misalnya. Berbeda ketikamengomentari news dan isu politik yang mereka belum tentu paham.Perilaku Komunikasi Hiperpersonal dalam Portal Berita OnlineTerdapat perbedaan pandangan pengakses portal berita online dalam menyikapikomunikasi dengan menggunakan media virtual ini. Pandangan pertama, bahwa portalberita online memberikan kenyamanan kepada penggunanya sebagai media komunikasiyang mudah. Portal berita online memberikan situasi yang berbeda di mana penggunanyadapat menentukan momen yang tepat dalam membuat komentar sehingga orang dapatmemberikan respon yang sesuai dengan harapan. Maka dari itu, pengakses portal beritaonline berusaha menyesuaikan dengan orang lain sehingga dapat tertarik untuk meresponkomentar yang dibuatnya. Harapan (expectation) yang dimaksud dalam bahasan iniadalah seperti yang dijelaskan oleh West dan Turner (2008:159) yang dapat diartikansebagai pemikiran dan perilaku yang diantisipasi dan disetujui dalam percakapan oranglain. Oleh karenanya, termasuk di dalam harapan ini adalah perilaku verbal dan nonverbalseseorang. Akan tetapi, harapan dalam komunikasi pengakses portal berita onlineberkaitan dengan isi berita dan perilaku yang diwakilkan oleh tulisan yang dibuat olehpenggunannya di portal berita online. Untuk memaknai harapan yang bersifat non-verbalcukup berbeda dengan dunia nyata karena para pelaku komunikasi tidak bertemu secaralangsung. Burgoon dan Hale menyatakan ada dua jenis harapan : prainteraksional daninteraksional.Harapan pra-interaksional (pre-interactional expectation) mencakupjenis pengetahuan dan keahlian interaksional yang dimiliki oleh komunikatorsebelum memulai percakapan. Jika dikaitkan dengan hasil penelitian mengenaiperilaku pengakses portal berita online, para pengakses portal berita online tidakselalu mengetahui apa yang dibutuhkan untuk memasuki dan mempertahankansebuah percakapan. Percakapan yang terjadi tidak selalu sesuai yang diharapkankarena belum tentu suatu permulaan pembicaraan dapat menarik orang lain untukturut berkomentar atau mengomentari komentar yang dibuat oleh para informan.Pengetahuan akan komunikan dan keahlian kecakapan interaksional komunikatorsangat besar pengaruhnya.Harapan interaksional (interactional expectation) merujuk padakemampuan seseorang untuk menjalankan interaksi itu sendiri. Kebanyakan orangmengharapkan orang lain untuk menjaga jarak sewajarnya dalam sebuahpercakapan. Menurut Burgoon dan Hale kemampuan seseorang dalammenjalankan interaksi ini sering kali mempertimbangkan isyarat non-verbal danketergantungannya pada latar belakang budaya dari komunikator. Dengandemikian, harapan akan terpenuhi oleh budaya tempat komunikator tinggal.KesimpulanPerangkat elektronik seperti perangkat komputer atau laptop serta gadget seperti smartphone danandroid memudahkan para pengakses portal berita online untuk selalu terhubung dengan internetdan mengakses situs berita. Walaupun tidak praktis dibandingkan dengan gadget, intensitasmengakses internet menggunakan komputer tidak kalah dengan pengguna gadget canggih.Media konvensional meliputi koran dan majalah sudah tidak efisien dibandingkan dengan situsberita online dalam menyajikan sebuah news dan perkembangan isu-isu yang sedang hangatdiperbincangkan. Situs berita online dianggap lebih efisien dan hemat dan memiliki efek dominoyang mampu membawa pembaca untuk mengetahui berita secara mendalam dan dalam berbagaisisi yang berbeda. Ditambah dengan kemudahan interaktif yang disediakan dalam bentuk kolomkomentar.Pembuatan akun anonymous yang dilakukan merupakan dianggap tidak menyalahi peraturankarena tidak ada peraturan yang berlaku tegas dalam pembuatan identitas dalam portal beritaonline. Nama yang dipakai ada yang tidak jauh dari identitas asli namun ada yang sangat jauhdari identitas asli. Hal ini dimanfaatkan para pengakses portal untuk bisa berkomentar tanpadikenali langsung oleh orang lain. Mereka tidak ingin terganggu ruang privasinya karenakomentar yang dikirimkan.Komunikasi dalam portal berita online sangat rentan terhadap mis-understanding dalammemaknai pesan. Kecakapan pengakses portal berita online dalam menyampaikan pesan kepadapengakses lain dianggap penting dalam berkomunikasi sehingga pesan yang disampaikan dapatdimaknai secara benar dan tidak menyinggung orang lain.Kekurangan dalam berkomunikasi langsung dan kekurangan dalam diri sendiri menjadi salahsatu alasan pengakses portal berita online untuk secara nyaman berkomunikasi via portal beritaonline. Identitas baru yang dibuat bisa saja diketahui kemudian hari, namun pengakses portalberita dan pemilik akun anonymous tidak gentar dan takut karena mereka merasa benar danberkomentar secara sopan.

Page 69 of 157 | Total Record : 1563