cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Strategi Komunikasi Pemasaran Indihome PT.Telkom Wilayah Jateng Timur Selatan ( WITEL ) Solo Dalam Upaya Meningkatkan Jumlah Konsumen. Ageng P., Eka Puspita; Herieningsih, Sri Widowati; Yulianto, M; Lailiyah, Nurriyatul
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.683 KB)

Abstract

Penelitian ini berjudul Strategi Komunikasi Pemasaran Indihome PT.Telkom Wilayah JatengTimur Selatan ( WITEL ) Solo. PT.Telekomunikasi Indonesia ( TELKOM ) merupakan salah satu perusahaan penyelenggaraan informasi dan telekomunikasi serta penyedia jaringan telekomunikasi terlengkap dan terbesar di Indonesia. Saat ini mengeluarkan produk baru yang diberi nama Indihome, dimana produk Indihome ini merupakan produk Bundling yang telah menyediakan layanan Triple Play ( 3P) terdiri dari telephone rumah, internet dan tv kabel yang memeiliki kemampuan dapat di rewind atau pause. Sehingga menarik untuk dijadikan obyek penelitian yang dilakukan di PT.Telkom Wilayah Jateng Timur Selatan ( Solo ) dalam upaya meningkatkan jumlah konsumen. Semakin banyaknya produk dari kompetitor menyebabkan persaingan kompetitor di pasaran yang semakin meningkat.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai strategi yang dilakukan perusahaan dalam hal komunikasi pemasaran dalam meningkatkan jumlah konsumen. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan pengambilan data dalam penelitian dengan wawancara, dokumentasi, rekaman, dan kepustakaan. Dengan menggunakan teori Bauran Komunikasi Pemasaran Terintegrasi Integrated Marketing Communication ( IMC ) dan Marketing mix 4P.Berdasarkan hasil penelitian dalam penelitian ini adalah dapat mengambil kesimpulan bahwa kegiatan komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh Pt.Telkom WITEL Solo adalah dengan menggunakan elemen bauran komunikasi pemasaran yang terintegrasi atau disebut dengan Integrated Marketing Communication ( IMC ) terdiri dari advertesing, sales dan di dukung dengan aktivitas door to door dari para sales. Advertesing dengan memanfaatkan media Above The Line ( ATL) brosur, radio, spanduk dan Below The Line ( BTL) program talkshow di radio dan tv lokal, website, media sosial. Pada tahapan sales promotion perusahaan menggunakan pemberian promo dan potongan harga, salah satu yang diberikan adalah pemasangan gratis pada penggunaan awal layanan indihome pada bulan pertama dan telephone gratis 1000 menit lokal dan interlokal. Personal selling yang dilakukan perusahaan mengandeng pengembang perumahan. Selanjutnya pada tahapan public relations melakukan hubungan baik dengan media lokal untuk program talkshow, directmarketing yang dijalankan perusahaan dilakukan dengan direct call atau outbound call dan melakukan pengiriman surat kepada pelanggan yang terakhirr pada online marketing yang dijalankan dengan memanfaatkan media internet dengan media sosial facebbok dan twiteer, website. Selanjutnya perusahaan juga menggunakan cara dalam promosi dengan melakukan penjualan secara door to door dengan face to face kepada calon pelanggan tujuannya agar lebih interaktif, pelanggan dalam menggali informasi yang luas tentang produk. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah jika dilihat dari strategi komunikasi pemasaran yang telah dilakukan sudah cukup berjalan dengan baik, yaitu dengan menggunakan konsep dan teori dalam komunikasi pemasaran promotion mix. Dilihat dari jumlah konsumen yang setiap bulannya mengalami kenaikan, hal ini menunjukkna bahwa program-program komunikasi pemasaran yang dijalankan PT.Telkom WITEL Solo adalah cukup efektif.
Pemaknaan Perempuan Terhadap Konstruksi Mitos Kecantikan Dalam Media Online Femaledaily.com Area Sandhy; Dr. Hapsari Dwiningtyas, S.Sos, MA
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.61 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai bagaimana konstruksi-konstruksi mitos kecantikan yang ditampilkan di dalam media online Femaledaily.com mempengaruhi persepsi perempuan tentang gambaran-gambaran kecantikan dan tubuh ideal bagi perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana Femaledaily.com mengkonstruksi citra-citra kecantikan ideal dan bagaimana pemaknaan perempuan terhadap citra-citra kecantikan ideal tersebut. Analisis dilakukan dengan paradigma kritis dan menggunakan metode analisis resepsi milik Ien Ang. Beauty Myth Theory Naomi Wolf dan Disciplining Body Theory Michael Foucault digunakan sebagai teori yang menjelaskan bagaimana mitos-mitos kecantikan berkembang dalam media baru saat ini dan ritual-ritual kecantikan apa saja yang dilakukan oleh perempuan untuk memenuhi citra-citra kecantikan ideal yang dikonstruksi oleh media. Hasil penelitian menunjukkan pemaknaan terhadap setiap elemen kecantikan yang dilakukan oleh keseluruhan subjek penelitian memiliki keberagaman yang dipengaruhi oleh latar belakang masing-masing subjek penelitian, antara lain usia dan jenis pekerjaan. Pada elemen kecantikan pembentukan tubuh keseluruhan subjek penelitian memiliki pemaknaan yang serupa dengan makna dominan dalam teks, bahwa tubuh langsing dengan perut rata serta lengan dan paha yang kencang seperti yang ditampilkan di dalam teks memang merupakan bentuk tubuh ideal yang diidamkan oleh setiap perempuan. Pada elemen kecantikan kulit wajah keseluruhan subjek penelitian memiliki pemaknaan yang berlawanan dengan makna dominan dalam teks yang merepresentasikan perempuan cantik sebagai perempuan yang memiliki kulit wajah yang cerah dan awet muda, sementara keseluruhan subjek penelitian memaknai perempuan cantik tidak selalu harus yang berkulit cerah dan awet muda karena pada kenyataannya banyak perempuan yang berkulit coklat atau gelap atau yang sudah tua pun tetap dapat terlihat cantik asalkan kulit wajah mereka tetap bersih dan terawat.
Memaknai Prasangka Sosial Masyarakat Non-Muslim di Eropa Terhadap Masyarakat Muslim Dalam Film 99 Cahaya di Langit Eropa Dea Dwidinda Lutfi; Taufik Suprihatini; Hapsari Dwiningtyas; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.07 KB)

Abstract

Film sebagai salah satu bentuk media massa mempunyai kemampuan untuk menyampaikan pesan kepada khalayaknya. Film merupakan representasi yang menghasilkan realitas yang sengaja dikonstruksikan untuk memberikan sebuah gambaran lewat kode-kode, mitos, ideologi-ideologi dari kebudayaan. Film 99 Cahaya di Langit Eropa merupakan film yang menggambarkan kehidupan masyarakat muslim di Eropa, khususnya mengenai prasangka sosial masyarakat Eropa terhadap muslim. Penelitian ini bertujuan menggambarkan bagaimana kebenaran dominan mengenai representasi prasangka sosial dihadirkan melalui simbol-simbol visual dan linguistik dan mengungkap ideologi yang ada di dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotik Roland Barthes untuk meneliti dan mengkaji tanda-tanda dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat muslim sebagai kelompok minoritas di Eropa masih mengalami berbagai penolakan dan kesulitan yang disebabkan oleh prasangka yang dimiliki masyarakat non muslim d i Eropa. Prasangka sosial mengenai muslim, dimiliki oleh sejumlah masyarakat Eropa dari berbagai kalangan, seperti anak kecil, mahasiswa hingga dosen. Prasangka sosial tersebut diperparah dengan sumber sosial seperti media massa dan sekolah di Eropa yang menempatkan muslim pada posisi yang salah. Prasangka masyarakat Eropa terhadap muslim pada film didominasi dalam bentuk prasangka verbal atau pada tahap antilokusi. Film ini juga menunjukkan bagaimana seorang muslim merespon prasangka yang ditujukan padanya, mulai dari menangis hingga menjalin hubungan personal dengan masyarakat Eropa untuk diterima menjadi sebagian dari mereka dengan tetap mempertahankan identitas mereka, karena mereka yakin bahwa Islam adalah agama yang cinta damai. Film 99 Cahaya di Langit Eropa mengukuhkan kebenaran yang secara dominan dimunculkan bahwa masyarakat muslim Islam berperan penting dalam membangun perabadan Eropa hingga maju seperti sekarang.Keywords : Semiotika; Film; Prasangka Sosial, Barthes
PENGAWASAN ORANGTUA DAN LITERASI DIGITAL KELUARGA MELALUI DIALOG SERTA MEDIASI TERHADAP ANAK-ANAK MEREKA Nugroho Adhi Santoso, Ixnatius; Noor Rakhmad, Wiwid
Interaksi Online Vol 8, No 2: April 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.242 KB)

Abstract

Excessive use of gadget can affect the cohesiveness and attachment of each family member and make the child vulnerable to addiction. This research is to describe the usage of gadget that influence the cohesiveness and attachment as well as social control behaviors and communication strategies used by parents in the context of monitoring the use of their gadget by using Relational Dialectics Theory and Parental Mediation Theory. The research is using qualitative method with phenomenological approach. The results showed the research subjects consisting of two families as information units showed positive results on the problem statement of the study worried by the author. The dialogue and mediation that is carried out based from parents digital literations from their knowledge as well as the values / norms adopted. Dialogue is carried out through conversation and discussion while mediation is carried out using active mediation and limited mediation.
Representasi Whiteness dalam Film 12 Years A Slave Arfianto Adi Nugroho; Adi Nugroho; Taufik Suprihartini; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.774 KB)

Abstract

12 Years A Slave adalah film drama sejarah yang bercerita tentang perjalananSalomon Northup, seorang kulit hitam merdeka untuk terbebas dari perbudakan danmemperoleh kemerdekaannya kembali. Berbeda dengan film-film Hollywoodsebelumnya yang mengangkat tema sejarah konflik sosial antarras di Amerika, filmini menyajikan secara gamblang kekejaman sistem perbudakan yang dilakukan kulitputih dalam bentuk kekerasan fisik dan psikologis. Meski membuka kembali sejarahkelam bangsa Amerika, film ini sukses meraih penghargaan sebagai Film TerbaikOscar 2014.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui representasi sosok kulit putih dalamfilm 12 Years A Slave. Tipe penelitian ini adalah kualitatif, menggunakan pendekatanteori representasi dari Stuart Hall dan analisis semiotika dengan teknik analisis datadari konsep Kode-Kode Televisi John Fiske. Analisis dilakukan dengan tiga level,yakni level realitas, level representasi, dan level ideologi. Level realitas dan levelrepresentasi dianalisis secara sintagmatik, sedangkan analisis secara paradigmatikuntuk level ideologi.Hasil penelitian menemukan bahwa sosok kulit putih digambarkan sebagai rasyang lebih unggul sedangkan ras kulit hitam sebagai ras yang lemah dan tidakberdaya tanpa bantuan kulit putih. Melalui analisis sintagmatik pada level realitas danrepresentasi peneliti menemukan stereotip materialis dan kejam pada sosok kulitputih. Stereotip tersebut merupakan representasi dari kekuasaan kulit putih dalamperbudakan. Sedangkan melalui analisis paradigmatik pada level ideologi penelitimenemukan konstruksi ideologi Whiteness dan American Dream. Konstruksi ideologiwhiteness menampilkan identitas heroik pada kulit putih yang menyelamatkan kulithitam yang lemah. Film ini menempatkan ras kulit putih sebagai penanda istilahhukum dan pengatur kehidupan sosial. Konstruksi American Dream yang ditampilkanlewat semangat dan kegigihan Northup untuk keluar dari perbudakan danmendapatkan kemerdekaannya menyiratkan pesan Amerika sebagai negara yangideal, pahlawan, dan penyelamat dunia.
Memahami Communication Gap Antarbudaya Anggota Etnis Jawa Muslim Pondok Pesantren Kauman dengan Warga Etniss Tionghoa Non Muslim di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang Amalia, Rizky; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.727 KB)

Abstract

Terdapat pondok pesantren di area pecinan yang bernama Pondok Pesantren Kauman di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Anggotanya etnis Jawa Muslim. Sedangkan, warga sekitar merupakan warga etnis Tionghoa non Muslim. Terjadi communication gap antara etnis Jawa Muslim sebagai pendatang dan etnis Tionghoa non Muslim sebagai penduduk asli. Penelitian ini bertujuan memahami communication gap yang terjadi antara anggota etnis Jawa Muslim Pondok Pesantren Kauman dengan warga etnis Tionghoa non Muslim Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Menggunakan pendekatan kualitatif, dengan paradigma interpretif, dan dianalisa melalui metode fenomenologi. Penelitian ini menggunakan Communication Accomodation Theory. Hasil penelitian ini menemukan bahwa proses komunikasi antarbudaya yang terjadi menimbulkan gap antara anggota Pondok Pesantren Kauman dan warga etnis Tionghoa di Desa Karangturi. Gap itu muncul ketika warga etnis Tionghoa sebagai penduduk asli menganggap tradisi, budaya, dan agama yang dianut sebagai hal yang dipercaya sudah ada sejak dulu serta berlangsung secara turun temurun. Sedangkan anggota Pondok Pesantren Kauman yang merupakan pendatang di Desa Karangturi tersebut tidak bisa berakomodasi dengan baik terhadap tradisi dan budaya yang dimiliki penduduk asli. Sehingga anggota etnis Jawa Muslim memilih berinteraksi dengan kelompoknya sendiri, dan tetap menggunakan atribut keagamaan yang dipercayai seperti peci, sarung maupun kerudung. Prasangka yang muncul membuat kedua etnis tetap menunjukkan identitas yang kuat dari masing-masing budaya mereka. Upaya yang dilakukan Pondok Pesantren Kauman untuk mengurangi munculnya gap sebagai pendatang dengan penduduk asli melalui akomodasi. Akomodasi dilakukan oleh anggota Pondok Pesantren Kauman dalam bentuk pemasangan lampion dan pembuatan tulisan Cina di berbagai sudut Pondok Pesantren Kauman. Selain itu juga dibangun pos kamling yang menyerupai klenteng dan ditambah oleh Pondok Pesantren Kauman dengan tulisan Arab dan Cina di kanan dan kiri pintu masuknya.
Batman Sebagai Pahlawan Borjuis (Analisis Semiotika pada Film Batman Returns) Shafira Indah Muthia; AdI Nugroho; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.678 KB)

Abstract

Nama : Shafira Indah MNIM : D2C009036Judul : Batman Sebagai Pahlawan Borjuis(Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)ABSTRAKBatman merupakan salah satu karakter superhero (pahlawan super) yangeksistensinya dalam dunia perfilman Hollywood tidak dapat diragukan lagi. Mengawalikesuksesan melalui komik dan serial TV, Batman telah berhasil menjadi film superheroterbaik dan terlaris sepanjang masa. Namun penelitian ini akan mengkritik sosok pahlawanborjuis yang direpresentasikan dalam karakter Batman sebagai superhero dalam film BatmanReturns. Bruce Wayne dengan latar belakang keluarga milyarder yang memiliki kekuasaandalam masyarakat memanfaatkan kekayaannya untuk menjadi seorang Batman.Tipe penelitian ini adalah deskriptif, di mana penelitian yang dilakukan berusahamengungkapkan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan bertujuan untukmembuat gambaran secara sistematis pada tanda-tanda yang direpresentasikan dalam filmBatman Returns. Metode analisis yang digunakan adalah analisis semiotika Roland Barthesdengan membedah teks melalui dua tataran penandaan, yaitu makna denotasi dan maknakonotasi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dokumentasi, yaitu denganmengumpulkan informasi yang berkaitan dengan penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa tanda yang merepresentasikanBatman sebagai pahlawan borjuis yaitu status sosial Batman sebagai kelas atas, sikap yangmenunjukkan kekuasaan dan pro-kapitalis, dan sosoknya yang individualis. Bertentangandengan Batman, Penguin, yang muncul sebagai musuh Batman justru memegang peransebagai sosok proletariat. Hal ini dapat dilihat dari aspek pakaian, lingkungan, kamera, dansikap Penguin yang memperjuangkan haknya secara revolusioner sebagai bentuk perlawananterhadap ketidakadilan yang diterimanya. Dengan adanya penelitian ini, penulis berharap agarmasyarakat dapat lebih kritis dalam memahami hal-hal yang ditampilkan oleh media. Sosokyang ditampilkan protagonis dalam media tidak selalu dapat dinilai sebagai sosok yanginnocent (polos), namun dapat dilihat sisi lainnya melalui kaitannya dengan nilai-nilai sepertinilai kemanusiaan, kelas sosial, dan kapitalisme. Begitu juga sebaliknya, sosok yangditampilkan media secara antagonis tidak dapat selalu dipahami sebagai sosok yang buruk.Kata kunci: Film, Superhero, Pahlawan BorjuisNama : Shafira Indah MNIM : D2C009036Judul : Batman Sebagai Pahlawan Borjuis(Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)ABSTRACTBatman is a superhero character whose existence in the Hollywood film industry can not bedoubted. Venturing through the success of the comic and TV series, Batman has managed tobe the best superhero movie and best-selling of all time. However, this study will criticizebourgeois hero who represented by Batman as a superhero in the film Batman Returns. BruceWayne with a family background of billionaires who have power in society utilizing hiswealth to become Batman.The type of research is descriptive, where research is done trying to tell a problem orsituation as it is and aims to make a systematic overview on the signs that represented in thefilm Batman Returns. The analytical method used was Roland Barthes semiotic analysis todissect the text through two level tagging, i.e the meaning of denotation and connotations.Techniques of data collection is documentation, which is to gather information related to theresearch .The results showed that there are some signs that represent the bourgeois hero asBatman's status as an upscale social, power, and attitude that shows pro-capitalist andindividualist figure. Contrary to Batman , Penguin , which appears as an villain of Batmanactually holds the role as a figure of the proletariat. It can be seen from the aspect of clothing(dress), environment, camera , and attitudes Penguin fought revolutionary for their rights inthe struggle against injustice is received. Given this research, the author hopes that people canbe understanding the things shown by the media critically. The protagonist figure shown inthe media can‟t always be assessed as being innocent, but can be seen through the other sideof relation with values such as human values, social class, and capitalism . Vice versa , thefigure shown is antagonistic media can‟t always be understood as a bad figure.Keywords: Film, Superhero, Bourgeoise HeroesBatman Sebagai Pahlawan Borjuis(Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Shafira Indah MNIM : D2C009036JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANA. Latar BelakangBatman merupakan salah satu karakter superhero (pahlawan super) yang eksistensinyadalam dunia perfilman Hollywood tidak dapat diragukan lagi. Mengawali kesuksesanmelalui komik dan serial TV, Batman telah berhasil menjadi film superhero terbaik danterlaris sepanjang masa (Sofyan, 2012). Film Batman pertama sudah hadir pada tahun1966 dan terus diproduksi sekuelnya oleh beberapa sutradara terkenal di antaranya TimBurton dan Christoper Nolan. Seperti salah satu film masterpiece bikinan Tim Burtonyang diadaptasi dari komik karya Bob Kane dan Bill Finger ini berjudul Batman Returns.Menjadi sekuel dari film Batman (1989), Batman Returns (1992) masih bercerita seputarkehidupan Bruce Wayne (Michael Keaton), milyarder asal kota Gotham yang memilikialter ego sebagai Batman. Bruce Wayne bukanlah manusia atau makhluk khayalan yangdapat terbang di atas awan, menembakkan laser dari bagian tubuhnya, atau dapat berubahmenjadi makhluk kuat selain manusia. Bruce Wayne adalah orang biasa yangmemanfaatkan kekuatan teknologi dan uang untuk memberantas ketamakan dankeserakahan di Gotham City (Wiyoto, 2012).Kehadiran sosok Batman sebagai pahlawan pembela kebenaran yang mengandalkanteknologi, iptek, ilmu bela diri, dan tentunya kekayaan, tentu membuat audiens larutdalam karakter heroik yang mulia dan innocent. Namun jika ditilik melalui sudutpandang Marxisme, karakter Batman sebagai bourgeois heroes merupakan sosokpahlawan pendukung kapitalisme yang memiliki kekuasaan dalam masyarakat. Denganlatar belakang sebagai anak milyarder dan pewaris utama perusahaan paling berpengaruhdi Gotham, Wayne Enterprise, Bruce/Batman berfungsi untuk mempertahankan statusquo dengan menjajakan ideologi kapitalis dalam bentuk terselubung dan denganmembantu menjaga keinginan konsumen tetap tinggi. Salah satu nilai dijual dalamkonsep pahlawan borjuis adalah individulisme, sebuah nilai yang muncul dalam berbagaibentuk (the self-made man, the American dream, the “me generation”, dan sebagainya)(Berger, 1991: 47-48). The Penguin dalam film ini berperan sebagai villain justru hadirsebagai seseorang pimpinan gang kelas bawah yang mewakili kaum yang ditinggalkan,dibuang, dikucilkan. Penguin di sini mewakili kaum kelas bawah. Kaum kelas bawahmerupakan kaum yang tertindas dimana harapan dan hak mereka dirampas (Magnis-Suseno, 2003:114).B. Perumusan MasalahPenelitian ini akan mengkritisi dan menjelaskan kepada masyarakat mengenai sosokpahlawan borjuis yang digambarkan dalam karakter Batman sebagai superhero dalamfilm Batman Returns. Bruce Wayne dengan latar belakang keluarga milyarder yangmemiliki kekuasaan dalam masyarakat memanfaatkan kekayaannya untuk menjadiseorang Batman. Dari hal tersebut maka dapat membuka permasalahan penelitian yaitubagaimana sosok pahlawan borjuis pada Batman direpresentasikan dalam film BatmanReturns?C. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana sosok pahlawan borjuis padaBatman direpresentasikan dalam film Batman Returns.D. Kerangka Pemikiran- Sosok Superhero- Stratifikasi Sosial- Film sebagai RepresentasiE. Metodologi Penelitian- Tipe Penelitian: deskriptif-kualitatif. Penelitian deskriptif digunakan untukmendeskripsikan fenomena sosial yang menyajikan gambaran tentang detil spesifikdari situasi, lingkungan sosial, atau sebuah hubungan (Neuman, 2007 : 16). Tujuanutama penelitian kualitatif adalah untuk mengetahui motif yang mendasari perilakumanusia (Kothari, 2004: 3-4)- Pendekatan Penelitian: Teori semiotika Roland Barthes- Subyek Penelitian: Film Batman Returns yang diproduksi Warner Bros pada tahun1992 dan disutradarai oleh Tim Burton.- Sumber Data: Data primer diperoleh langsung dari mengamati dan mengkaji filmBatman Returns. Data sekunder diperoleh dari: internet, kepustakaan, buku, jurnalataupun informasi lain yang mampu membantu penelitian dan relevan denganpermasalahan yang diteliti.- Teknik Pengumpulan Data: Dokumentasi. Yaitu dengan mengumpulkan berbagaiinformasi tentang film tersebut yang berkaitan dengan tema penelitian ini.- Analisis dan Interpretasi Data: Kode-kode sosial “Codes of Television” John Fiskeyang terdiri dari 3 level (Level Realitas, Level Representasi, dan Level Ideologis).PEMBAHASANPada bagian ini dilakukan analisis secara sintagmatik dan paradigmatik yang berisi level“reality”, “representation”, dan “ideology”. Dalam bukunya ”Television Culture” (1987: 7)John Fiske menggunakan Codes of Television untuk menganalisis objek yang bergerak. Levelpertama yakni realitas (reality) meliputi penampilan dan lingkungan dalam film antara lain:penampilan, busana/kostum, tata rias, lingkungan, gaya bicara, dan ekspresi. Tataran keduaadalah representasi (representation) yang dibangun lewat kerja teknis seperti kamera,pencahayaan, musik dan selanjutnya ditransmisikan ke dalam konflik, karakter, dan dialog.Untuk level ketiga yaitu level ideologi (ideology) dianalisis secara paradigmatik denganberusaha mengungkapkan kode-kode ideologi yang tersembunyi dalam suatu objek sepertipatriarki, ras, feminisme, kelas, dan sebagainya.Analisis sintagmatik yang sudah dilakukan sebelumnya pada tokoh Batman, Penguin,dan Max sebagai tiga tokoh yang paling menonjol dalam film membawa beberapa nilai danideologi tersembunyi di antaranya:1. Kemunculan Batman menunjukkan status sosial ekonominya yaitu kelas atas (upperclass). Hal tersebut dapat dilihat pada beberapa elemen yaitu: Pakaian. Menggunakanpakaian tertentu memiliki beberapa alasan, sama halnya saat kita berbicara. Beberapaalasannya di antaranya, „untuk membuat hidup lebih mudah, untuk menunjukkanmaupun menyembunyikan identitas kita, dan untuk menarik perhatian lawan jenis‟(Kuruc, tt:198). Pada Batman, kostum yang digunakan memiliki fungsi untukmenunjukkan identitasnya sebagai seorang superhero sekaligus menyembunyikanidentitas aslinya sebagai Bruce Wayne melalui topeng yang ia gunakan. Pakaianpakaianyang dikenakan oleh Batman, Penguin, dan Max memiliki fungsi secaradenotatif yang sama, yaitu sebagai sumber perlindungan tubuh dalam bertahan hidupyang berupa tambahan bagi rambut (topi) dan ketebalan kulit (baju dan celana) padatubuh yang berfungsi melindungi. Namun, seperti halnya semua sistem buatanmanusia, pakaian akan selalu memperoleh selingkupan konotasi dalam latar sosial(Danesi,2010:257). Pakaian digunakan untuk melegitimasi posisi pemakainya dalamidentifikasi simbolik dengan tradisi yang ada pada masyarakat mereka. Kaum elitperkotaan berpakaian berbeda dari yang lainnya dalam fungsinya sebagai simbol kelasatau peringkat (Kawamura, 2005:24). Dari beberapa pakaian yang dikenakan Bruceseperti tuxedo, setelan jas, kemeja, dan dasi juga pada koleksi kostumnya sebagaiBatman yang melimpah menunjukkan Bruce/Batman sebagai seseorang dengan statusekonomi yang tinggi. Menurut pandangan Spencer, fashion adalah simbol manifestasidari hubungan antara superior dan inferior yang berfungsi sebagai kontrol sosial.Fashion juga merupakan simbol dari peringkat sosial dan status (Spencer 1966[1896]dalam Kawamura,2005:22).2. Batman adalah sosok yang berkuasa dan pro-kapitalis. Sebagai tokoh utama dalamfilm, hampir keseluruhan alur cerita tentu didominasi dengan kemunculanBatman/Bruce. Ditemukan beberapa aspek yang memunculkan tanda yangmenegaskan bahwa Batman merupakan sosok yang memiliki kekuasaan di Gothamnamun sekaligus sosok yang pro-kapitalis, di antaranya: Aspek kamera. Penggunaanbeberapa teknik dalam kamera mengandung beberapa tanda yang kemudian dapatsaling terkait dengan aspek-aspek lain hingga menemukan sebuah ideologi tertentu.Penggunaan framing kamera long-shot pada Batman merupakan petanda yangmemiliki makna sebagai sebuah konteks, ruang lingkup, dan jarak publik. Teknik lowangle memaknai adanya kekuasaan (power) dan wibawa (authority) (Berger,1982:27). Keterlibatan Batman dalam kebijakan pemerintah. Pada kelompok statussosial lapisan atas biasanya juga memiliki beberapa aspek lain yang juga dihargai dandiakui oleh masyarakat. Kekayaan tentu erat kaitannya dengan kekuasaan dankehormatan dari lingkungan sosialnya. Bruce memegang peran sebagai pemilikWayne Enterprises. Sebagai seseorang yang berpengaruh di Gotham, Brucemenunjukkan adanya hubungan dan keterlibatannya dengan pemerintah Gotham.Tanda tersebut dapat terbaca melalui potongan dialog Bruce yang mengungkapkanketidaksetujuannya pada upaya Max membangun pembangkit listrik di Gothammelalui kalimat “I'll fight you. I've already spoken to the mayor and we agree.”(“Aku akan menentangmu. Aku sudah berbicara dengan Walikota dan kitamenyepakati hal ini.”). Bruce menjadi sosok yang memiliki kekuasaan dan pengaruhbagi para kalangan elit Gotham.Meskipun tidak digambarkan secara langsung dalam film ini karena film inimerupakan sekuel kedua kisah Batman namun latar belakang keluarga Batmanmenyebutkan bahwa Bruce menjadi pewaris tunggal dari perusahaan terbesar diGotham yaitu Wayne Enterprises. Hal itu tentu saja secara otomatis membawaBruce/Batman pada status sosial kelas atas melalui ascribed status, yaitu status sosialyang diberikan berdasarkan jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia,dan lain-lain. Dapat juga merujuk pada posisi secara hierarki dan menandakan prestiseseseorang (Bruce, 2006, 289).3. Individualisme pada sosok Bruce/Batman. Marx dalam menganalisis media jugameliputi hubungannya dengan figur heroik dalam suatu film, drama televisi, bukukomik, dll. Bagi beberapa orang, sosok pahlawan dalam film dapat mencerminkanusia dan masyarakat mereka. Bagi yang lain, sosok pahlawan memberi dampakadanya imitasi yang dilakukan untuk mencapai identitaas. Konsep pahlawan yangborjuis dalam suatu tatanan masyarakat dianggap sebagai sebuah penyimpangan yangdapat mengganggu ekuilibrium masyarakat (Berger, 1982:47). Pahlawan borjuismemiliki fungsi utama untuk menjaga status quo dengan „menjajakan‟ ideologikapitalis dalam berbagai bentuk. Kelas borjuis, secara hakiki berkepentingan untukmempertahankan status quo, untuk menentang segala perubahan dalam strukturkekuasaan termasuk usaha perubahan yang dilakukan kelas proletar secararevolusioner. Salah satu konsep yang „dijajakan‟ pahlawan borjuis adalahindiviualisme, di mana hal tersebut juga dapat ditemui pada sosok Batman. Padaanalisis sintagmatik yang telah diuraikan sebelumnya, baik Batman maupun Bruceditampilkan dalam lingkungan sosialnya sebagai sosok yang jarang bersosialisasidengan rekan maupun sahabat terdekat. Hanya Alfred Pennyworth, sebagai pelayandan orang kepercayaan keluarganya saja yang terlihat selalu menemani, melayani, danmembantu aktivitas Batman.PENUTUP1. Status sosial Batman sebagai kelas atas. Dapat dilihat dari cara berpakaian. Gayaberpakaian seseorang juga berfungsi untuk menunjukkan simbol dari peringkat sosialdan status seseorang dalam masyarakat. Beberapa jenis pakaian yang digunakanBruce/Batman seperti tuxedo, kostum berteknologi Batman yang terdiri dari basicsuit, topeng, jubah, dan sepatu boots merupakan pakaian dan aksesoris yang seringdigunakan oleh masyarakat kelas atas untuk menandai kedudukan sosialnya dimasyarakat. Kostum Batman yang hi-tech (berteknologi tinggi) tentunya memerlukanbiaya yang sangat besar dalam pembuatannya dan Batman merupakan salah satusuperhero dengan kapabilitas tersebut.2. Batman adalah sosok yang berkuasa dan pro-kapitalis. Dilihat dari aspek kameradengan framing long-shot merupakan petanda yang memiliki makna sebagai sebuahkonteks, ruang publik, dan jarak pubilk. Sedangkan teknik low-angle memaknaiadanya kekuasaan (power) dan wibawa (authority). Selain itu ditemukan pula ideologikapitalis yang dilihat dari kepemilikan modal (uang dan alat-alat produksi) Batmandalam perusahaan yang dikelolanya dan keterlibatan Batman dalam suatu kebijakanpemerintah, hal ini ditunjukkan melalui dialognya dengan Max Schreck yangmengungkapkan pertentangannya dan Walikota Gotham terhadap rencanapembangunan pembangkit listrik Power Plant di Gotham.3. Nilai individualisme yang ditemukan dalam sosok Batman menegaskan sosoknyasebagai pahlawan borjuis. Menurut Marx, salah satu konsep yang „dijajakan‟pahlawan borjuis adalah individualisme. Hal ini dapat dilihat dari analisis mengenailingkungan pada analisis sintagmatik. Bruce/Batman ditampilkan dalam lingkungansosialnya sebagai sosok yang jarang bersosialisasi dengan rekan maupun sahabatterdekat. Hanya Alfred Pennyworth, sebagai pelayan dan orang kepercayaankeluarganya yang terlihat selalu menemani, melayani, dan membantu aktivitasBatman.4. Bertentangan dengan Batman, Penguin, yang hadir sebagai musuh Batman justrumemunculkan tanda-tanda yang dapat dibaca sebagai sosok proletariat. Proletariatmemegang peranan sebagai strata terbawah dari masyarakat. Sebagai kelas termiskindari sebuah masyarakat yang tidak memiliki alat-alat produksi. Pada aspek gayaberpakaian Penguin digambarkan pakaian yang digunakan hanya berupa longunderwear(pakaian dalam berbentuk terusan) sebagai pelindung tubuh dari udaradingin dan sebuah sepatu boots bertali dan berbahan kulit. Aksesori lain seperti topitinggi (top hat) yang digunakan merupakan topi untuk semua kalangan kelas sosialyang menjadi populer di Abad ke-19. Lingkungan tempat tinggal Penguin adalahgorong-gorong, pipa pembuangan untuk limbah atau air permukaan yang terletak dibawah tanah. Aspek kamera dengan teknik high-angle memberikan kesan inferioritas,ketidakberdayaan, dan lemah.5. Penguin melakukan perlawanan secara revolusioner untuk memperjuangkan haknyasebagai rakyat Gotham yang telah dirampas karena dampak kapitalisme. Dengankeadaan fisiknya yang cacat juga membuat Penguin menjadi sosok yang terbuang dandikucilkan. Hal tersebut dapat dilihat pada dialog-dialog yang digunakan dankemunculannya di Gotham dengan cara revolusioner seperti membuat kekacauandengan kawanan sirkusnya Red Triangle Circus.DAFTAR PUSTAKABuku:Berger, Arthur Asa. (1991). Media Analysis Techniques. New Delhi: Sage Publications Ltd.Bruce, Steve, and Yearley, Steven. (2006). The SAGE Dictionary of SOCI OLOGY .London:Sage Publications Ltd.Danesi, Marcel. (2010). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotikadan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Kawamura, Yuniya. (2005). Fashion-ology. Berg: New York.Kothari, R. C. (2004). Research Methodology. New Delhi: New Age International Ltd.Magnis-Suseno, Franz. (2003). Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis kePerselisihan ke Revisionisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Neuman, Lawrence W. (2007). Basic of Social Research. Amerika: Pearson Education.Internet:Sofyan, Eko Hendrawan. (2012). Ini Dia, 10 Film Terlaris di Tahun 2012. Dalamhttp://entertainment.kompas.com/read/2012/12/27/16341739/Ini.Dia.10.Film.Terlaris.di.Tahun.2012%20Sofyan%2027%20desember%202012. Diunduh pada 1 April pukul20.15 WIB.Wiyoto (2012). 10 Fakta Batman Yang Tidak Anda Ketahui. Dalamhttp://uniqpost.com/49215/10-fakta-batman-yang-tidak-anda-ketahui/. Diunduh pada 1April pukul 21.00 WIB.Jurnal:Kuruc, Katarina.tt. Fashion as Communication: A semiotic Analysis of Fashion on „Sex andthe City‟
Political Public Relations Campaign for Election of Mayor and Deputy Mayor of Solok Period 2016-2020 Division Community Relations and Event Coordinator Elisabeth Putri Widasari; Agus Naryoso M.Si; Much Yulianto M.Si; Joyo M S Gono; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The background of this field work is the winning pair Irzal Ilyas and Alfauzi Bote as Mayor and Deputy Mayor of Solok period 2016-2021 through the political campaigns of public relations. In the political campaigns of public relations, division of Community Relations and Event Coordinator tasked to establish relationships and conduct two-way communication with the religious leaders, community leaders, traditional leaders and communities through events, third party endorser, and community relations. Political public relations campaign lasted for two months and managed to make relations and support from religious leaders and traditional leaders in the 8 villages of 13 urban villages, 14 communities and 13 urban villages blusukan. In this field work also indicates that "Political Public Relations Campaign for Election of Mayor and Deputy Mayor of Solok Period 2016-2021" was successfully carried out.
Resepsi Khalayak terhadap Karakter Difabel dalam Film Wonder Revi Andrean Siregar; Hapsari Dwiningtyas Sulistyani
Interaksi Online Vol 7, No 2: April 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.976 KB)

Abstract

The meaning of the active audience makes the text in a film has rich meaning. This is because the audience actively produces meaning based on their background, experience and daily life. Film Wonder is a film that strives to show diffable characters as individuals who have potential, just like the general public, and are treated equally by the surrounding environment. However, the Wonder film also tried to show diffable characters by using disable characteristics, such as different people, being marginalized, being objects of jokes and intimidation, and need to be pitied. However, the meaning of an active audience is not necessarily in line with the alternative ideas that media texts offer in the Wonder film. Thus, this study aims to describe the meaning of active audiences towards diffable characters in the Wonder Film. Using a qualitative-descriptive approach and reception analysis method with John Fiske's semiotic television and Stuart Hall's reception data analysis techniques. Research subjects are diffable and non-diffable audiences. The paradigm in this study uses interpretive and the theory used is the Acceptance Theory, the Representation Theory and the Stereotype Theory. The results of this study succeeded in choosing fifteen preferred reading that featured disable and diffable characters in the text offered by the Wonder film. Through the preferred reading, the results of this study indicate that there are differences in the position of the meaning of the audience towards the diffable characters in the Wonder film between non-diffable and diffable informants. Non-diffable informants have a tendency to interpret diffable characters in negotiations. This is because informants interpret diffable characters in a dilemma, where direct interaction with diffable makes informants have a tendency to approve texts that illustrate that diffable have the potential and look like society in general, however, informants' ignorance of diffable groups makes stereotypes and representations that detrimental to participating in the production process of the meaning of the informant. Meanwhile, diffable informants interpreted diffable characters in Wonder films tending to be dominant. The informant said that they were just like the general public, who have emotional and can do excellent in doing a thing very well liked. The meaning arises based on the experience of the informant who directly got achievements and did creations. In the other hand, diffable informants also tend to disagree with texts that are detrimental to groups with diffable, such as discriminating between diffable only from physical forms.
Produksi Program Acara Berita Feature “Harmoni Islam” di Cakra Semarang TV sebagai Produser Muhammad Imaduddin; M Bayu Widagdo; I Nyoman Winata; Hedi Pudjo Santosa; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.212 KB)

Abstract

Televisi memiliki peran penting bagi sarana edukasi dan hiburan bagi masyarakat. Persaingan antar televisi saat pada bulan Ramadhan terbilang cukup ketat. Stasiun televisi menjadikan momentum Ramadhan dengan membuat berbagai macam program dengan balutan Islami namun minim makna.Harmoni Islam sebagai sebuah program news feature hadir sebagai alternatif tayangan pada bulan Ramadhan. Harmoni Islam mengangkat topik-topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dibahas dengan bahasa yang ringan namun tidak meninggalkan esensi.Pada program Harmoni Islam. produser bertugas untuk merencanakan topik apa yang akan diangkat, membuat rencana kerja, membuat anggaran produksi, membuat perijinan, hingga membuat agenda wawancara kepada narasumber. Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, karya ditayangkan di Cakra Semarang TV setiap hari selama Bulan Ramadhan mulai dari tanggal 28 Juni 2014sampai 27 Juli 2014 pukul 17.00 WIB. Melalui karya ini diharapkan masyarakat mendapatkan tayangan yang mendidik mengedukasi dan menambah informasi khalayak mengenai serba-serba Islam sehingga meningkatkan ibadah di Bulan Ramadhan dan menambah wawasanKata kunci : News Feature, jurnalistik, program acara, Islam

Page 70 of 157 | Total Record : 1563