cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Hubungan Antara Terpaan Promosi Aplikasi My Blue Bird dan Citra Merek dengan Minat Konsumen untuk Menggunakan My Blue Bird sebagai Sarana Transportasi Fatia Maharani; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.854 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi yang semakin maju saat ini menjadikan munculnya berbagai bentuk usaha yang semakin lama semakin berubah. Salah satunya ialah industri jasa transportasi yang semakin tahun semakin berkembang. PT. Blue Bird Tbk. menghadirkan My Blue Bird sebagai bentuk layanan jasa transportasi online yang di dalamnya juga sudah menggunakan sistem moderen berupa pembayaran transaksi non tunai serta beberapa fitur yang mendukung dalam pemesanan easy ride. Guna memaksimalkan penggunaan jasa layanan transportasi online, My Blue Bird menggunakan strategi komunikasi pemasaran salah satunya dengan melakukan promosi penjualan berupa diskon di berbagai merchant yang dilaksanakan untuk meningkatkan frekuensi penggunaan My Blue Bird. Selain promosi, citra merek yang dipersepsikan oleh konsumen juga dapat mempengaruhi perilaku minat konsumen terhadap produk perusahaan khususnya jasa transportasi. Berdasarkan data yang diperoleh dari laporan keuangan Blue Bird ditemukan adanya penurunan pendapatan di tahun 2016 yang menjadikan Blue Bird harus mecari solusi agar bisa bertahan di industri transportasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan positive antara terpaan promosi aplikasi My Blue Bird dan citra merek dengan minat konsumen untuk menggunakan My Blue Bird sebagai sarana transportasi. Teori yang digunakan adalah Teori Advertising Exposure dan Teori Cognitive Response. Populasi penelitian adalah warga di Semarang yang berusia 17-30 tahun yang telah terterpa promosi aplikasi My Blue Bird. Sedangkan sampel penelitian yang diambil yaitu sebanyak 50 konsumen dengan menggunakan teknik purposive sampling. Berdasarkan uji hipotesis yang dilakukan menggunakan analisis korelasi Kendall’s Tau-b, menunjukkan hasil bahwa: Pertama, terdapat hubungan positive antara terpaan promosi aplikasi My Blue Bird dengan minat konsumen untuk menggunakan My Blue Bird sebagai sarana transportasi dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,530. Hal ini menunjukkan keeratan hubungan yang kuat, dengan arah hubungan yang positif. Semakin tinggi terpaan promosi penjualan, maka semakin tinggi minat penggunakan produk My Blue Bird oleh konsumen. Kedua, terdapat hubungan positive antara citra merek dengan minat konsumen untuk menggunakan My Blue Bird sebagai sarana transportasi, dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,620. Hal ini menunjukkan keeratan hubungan yang kuat, dengan arah hubungan yang positif. Semakin tinggi citra merek My Blue Bird, maka semakin tinggi minat untuk menggunakan produk My Blue Bird oleh konsumen, begitu juga sebaliknya. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada pihak Blue Bird untuk lebih memperhatikan publikasi media lini komunikasi (baliho, twitter, facebook, youtube & instagram) yang digunakan dalam memberikan informasi. Selain itu disarankan juga untuk memberikan keterlibatan konsumen dalam kegiatan strategi promosi berbentuk creative campaign dan edukasi mengenai keamanan dan keselamatan berkendara serta mempertimbangkan harga sebagai faktor penting, agar citra My Blue Bird semakin baik dan konsumen menjadi tertarik untuk menggunakan aplikasi tersebut.
Komodifikasi Keluarga Ustadz Jefri Al Buchori Dalam Tayangan Infotainment Sri Nofidiyahwati; Dr. Sunarto; Adi Nugroho; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.005 KB)

Abstract

Pasca Ustadz Jefri Al Buchori meninggal dunia, infotainment memanfaatkan kesedihan yang melanda keluarga Ustadz Jefri Al Buchori sebagai sebuah komoditas berita. Infotainment secara cerdas menyulap tragedi kehidupan selebriti menjadi bagian bisnis mereka, sehingga hal apa pun dapat diubah menjadi komoditas yang layak tonton dengan mengalami komodifikasi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan komodifikasi isi yang terjadi pada keluarga Ustadz Jefri Al Buchori dalam tayangan infotainment beserta ideologi yang dominan di belakangnya. Penelitian ini menggunakan teori komodifikasi sebagai salah satu penerapan dalam pendekatan teori ekonomi politik media dalam paradigma kritis melalui metode analisis wacana model Teun Van Dijk. Subjek penelitian ini adalah tayangan infotainment Cek&Ricek, penulis naskah dan redaksi Cek&Ricek, serta pengamat media infotainment. Berdasarakan temuan penelitian, komodifikasi isi terkait pemberitaan keluarga Ustadz Jefri Al Buchori berupa dramatisasi dan serialisasi. Dramatisasi berupa munculnya gambar-gambar istri dari Ustadz Jefri Al Buchori yang masih dirudung duka yang ditandai dengan tetesan air mata, selain itu dramatisasi bisa diciptakan dari naskah, yaitu dengan memainkan dramaturgi. Sedangkan serialisasi, tayangan Cek&Ricek menampilkan pemberitaan keluarga Ustadz Jefri Al Buhori dengan tema yang berbeda-beda setiap harinya. Ideologi yang melatarbelakangi tayangan ini dikarenakan adanya sistem rating dalam dunia pertelevisian. Rating menjadi barometer untuk kesuksesan sebuah program televisi. Terbukti dengan adanya kenaikan rating dalam tayangan Cek&Ricekketika memberitakan keluarga Ustadz Jefri Al Buchori, jumlah pendapatan iklan yang diperoleh pihak stasiun televisi juga bertambah.Kata Kunci : Komodifikasi, Kapitalisme, Infotainment
TAHAPAN KETERBUKAAN DIRI DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL PADA INDIVIDU TRANSGENDER/TRANSEKSUAL RATIH KHOIRUNNISA; Agus Naryoso, S.Sos, M.Si
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.044 KB)

Abstract

Kelompok LGBT dianggap sebagai masalah dan hal negatif yang perlu diselesaikan. Dalam hal ini masyarakat perlu mengetahui bahwa masing-masing pengertian dari Lesbian, Guy, Biseksual, dan Transgender itu berbeda. Jika Lesbian, Guy, dan Biseksual dianggap sebagai sesuatu yang menyimpang, maka berbeda dengan para transgender/transeksual. Para transgender/transeksual merupakan individu yang melakukan proses coming out dalam pencarian jati dirinya. Hal ini berkaitan dengan identitas seksual dan identitas gender seseorang. Jika seseorang terlahir dengan kondisi biologis laki-laki maka ia dapat disebut identitas seksualnya laki-laki namun belum tentu ia memiliki identitas gender laki-laki, begitupun sebaliknya. Inilah yang menjadi fokus peneliti dalam tahapan keterbukaan diri para transgender/transeksual terhadap lingkungan sosialnya. Penelitian ini merupakan studi kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode fenomenologi. Pendekatan fenomenologi merupakan tradisi penelitian kualitatif yang berakar pada filosofi dan psikologi, dan berfokus pada pengalaman hidup manusia (sosiologi). Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang konsep diri, kepribadian, dan proses komunikasi dalam tahapan keterbukaan diri seorang transgender/transeksual dalam lingkungan sosial yang mengalami perubahan dari FtM (Female to Male) maupun MtF (Male to Female). Perbedaan dalam diri transgender/transeksual sangat mempengaruhi dalam pembentukan konsep diri dan tahapan keterbukaan diri mereka terhadap lingkungan sosial. Transgender/transeksual FtM (Female to Male) mampu membangun konsep diri secara utuh yang dibangunnya secara konsisten. Namun ia mengalami hambatan dalam proses keterbukaan diri dengan orang lain. Transgender/transeksual FtM (Female to Male) hanya mampu membangun komunikasi dengan gender perempuan dan mengabaikan gender laki-laki. Ia tidak bisa membangun kedekatan dengan gender laki-laki (male). Berbeda dengan Transgender/transeksual MtF (Male to Female) yang memiliki hambatan dalam membangun konsep dirinya karena stigma negatif yang terbangun dalam masyarakat terhadap mereka seperti julukan waria atau banci. Namun para transgender/transeksual MtF (Male to Female) justru mampu melalui tahapan keterbukaan diri terhadap lingkungannya secara konsisten. Mereka cenderung terbuka dan mudah membangun komunikasi dengan orang yang baru dikenal. Transgender/transeksual mampu membangun keterbukaan diri dan menjalin hubungan kedekatan di lingkungan sosial mereka sendiri yaitu keluarga dan teman dekat saja
SELF PRESENTATION ANGGOTA KOMUNITAS MOTOR RX-KING MRC (KAJIAN DRAMATURGI TENTANG PRESENTASI DIRI ANGGOTA KOMUNITAS MOTOR RX-KING DI KOTA SALATIGA) Muhammad Bariqi Najman; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.68 KB)

Abstract

The RX-King motorcycle community is one of hundreds of well-known motorcycle communities in Indonesia. This community is seen as a frightening community because of the image of the RX-King itself which is famous as the "Jambret" motorcycle. The existence of this RX-King community actually wants to change the society stigma about this community which is considered negative. This can be seen from the activities inside and outside their community. In RX-King community scene, they have the characteristics of "revving up engine" and "giving a thumbs up" when they meet fellow RX-King motorcycle users on the road. The characteristic of the RX-King itself is often understood by the public as a negative thing, in fact it is a way of communicating between RX-King motorcycle users. The purpose of this study was to analyze the Self Presentation by members of the RX-King MRC motorcycle community in Salatiga City. This study uses a constructivist paradigm with descriptive qualitative research methods to see how the Front Stage and Back Stage of the RX-King community members MRC in the symbolic communication process. The theory used to describe this phenomenon is Goffman's dramaturgy and aspects of symbolic interactionism carried by George Herbert Mead. Informants in this study amounted to 6 people who are active members of the RX-King MRC community in Salatiga City who have different occupational backgrounds. The results of this study show that the front stage and back stage of MRC community members are very different. In the front stage the members of the RX-King MRC community conduct community activities that they usually do and in the back stage they carry out activities according to the routine that they usually do such as working and socializing in the community. By looking at actions, gestures, symbols, minds, self, we can see that members can match themselves according to conditions and situations. That the negative stigma attached to members of the RX-King MRC community is not entirely true because there are many positive activities including social service activities, charity activities, helping houses of worship that they always carry out in their community.
MEMAHAMI ANTILOKUSI PADA POLISI Alifati Hanifah; Agus Naryoso; Turnomo Rahardjo; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.568 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya pemberitaan di media massa dan informasi negatif mengenai perilaku buruk polisi di masyarakat. Pemberitaan tersebut membuat masyarakat memiliki persepsi dan stereotip negatif dan munculnya prasangka terhadap polisi. Ekspresi prasangka terhadap polisi seringkali ditemui dalam taraf antilokusi, yaitu ekspresi menggunjingkan perilaku buruk polisi, dan menyebabkan komunikasi polisi dengan lingkungan sosial tempat tinggalnya menjadi terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana munculnya prasangka terhadap polisi dan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengelola prasangka tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Peneliti menggunakan konsep persepsi dan stereotip untuk menjelaskan munculnya prasangka terhadap polisi, dan konsep lima ekspresi prasangka untuk menjelaskan ekspresi prasangka terhadap polisi yang seringkali ditemui di masyarakat. Teknik analisis yang digunakan adalah metode fenomenologi dari Van Kaam. Informan penelitian berasal dari anggota polisi dan masyarakat umum, yang sekaligus merupakan tetangga informan polisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prasangka terhadap polisi tidak selalu disebabkan oleh persepsi dan stereotip negatif yang dimiliki seseorang. Hal tersebut disebabkan adanya faktor lain yang menyebabkan munculnya prasangka yaitu lingkungan budaya informan yang merupakan lingkungan budaya konteks tinggi (high context cultural). High context cultural menjelaskan bahwa anggota budaya ini menggunakan latar belakang sosial untuk menilai seseorang, sehingga prasangka lebih mudah muncul dalam kelompok budaya ini. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa komunikasi untuk mengelola hanya dilakukan oleh informan polisi dikarenakan informan polisi memiliki kepentingan dan tujuan untuk mengurangi prasangka terhadap institusinya. Informan polisi menggunakan pesan verbal dan nonverbal untuk melakukan komunikasi tersebut. Cara yang digunakan informan merupakan ciri khas komunikasi yang dilakukan anggota budaya konteks tinggi. Keyword: Prasangka, Antilokusi dan Budaya konteks tinggi
PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DALAM DINAMIKA HUBUNGAN PACARAN: STUDI TERHADAP PENGGUNAAN INSTAGRAM PADA PASANGAN BERPACARAN ., Sa’adatina; Manalu, S. Rouli
Interaksi Online Vol 5, No 4: Oktober 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.003 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman individu dalam penggunaan Instagram pada dinamika hubungan pacaran. Penemuan sebelumnya menemukan bahwa penggunaan jejaring sosial Facebook tidak mempengaruhi keintiman dan kepuasan hubungan, akan tetapi pasangan telah mencapai pada tahap keintiman yang tinggi akan menyeimbangkan antara penggunaan jejaring sosial Facebook dengan kepuasan hubungan. Maka dari itu, pada penelitian ini membahas mengenai bagaimana penggunaan media sosial dalam dinamika hubungan pacaran, di mana fokus pada penggunaan Instagram. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi yang memahami fenomena dari kehidupan para pelakunya. Teori yang digunakan adalah Teori Penetrasi Sosial dan Teori Pengurangan Ketidakpastian. Teori Penetrasi Sosial digunakan untuk menggambarkan tahapan dalam suatu hubungan dari orientasi ke pertukaran stabil. Teori Pengurangan Ketidakpastian membahas mengenai strategi untuk mengurangi ketidakpastian kognitif dan perilaku dengan pencarian informasi melalui komunikasi dengan orang lain. Penelitian dilakukan kepada enam pasangan berpacaran dengan tiga variasi hubungan, yaitu hubungan jarak jauh tanpa interaksi tatap muka, hubungan jarak jauh dengan beberapa interaksi tatap muka, dan hubungan dekat secara geografis. Hasil penelitian ini tidak semua informan menggunakan Instagram sebagai fasilitator pengembangan hubungan pada masa penjajakan, sebagian di antara mereka hanya menggunakan messenger sebagai media utama untuk memenuhi kebutuhan komunikasinya. Pada masa awal hubungan, para informan menggunakan Instagram sebagai media representasi masa lalu, penarik perhatian dan tolok ukur pemilihan calon pasangan. Memasuki masa berpacaran, Instagram sebagai media pengurangan ketidakpastian, di mana media tersebut sebagai alat pengontrol pasangan di dunia maya. Keberadaan Instagram juga dimanfaatkan untuk publikasi status hubungan sebagai salah satu bentuk kebanggaan dan membentengi pasangan dari orang lain. Sisi negatif dari Instagram dalam hubungan pacaran dapat menimbulkan kesalahpahaman dan kecemburuan yang memunculkan tindakan balas dendam dan pemutusan hubungan.
Representasi Budaya Popular dalam Video Parodi Jokowi-Ahok di Youtube Selama Pemilukada DKI Jakarta 2012 Amalia Ayu Wulansari; Triyono Lukmantoro; Nurul Hasfi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.502 KB)

Abstract

Representation of Popular Culture in Jokowi-Ahok's Video Parodyson Youtube During Pemilukada DKI Jakarta 2012AbstractPemilukada DKI Jakarta 2012 was marked by the rise of videos that related toGovernor and Vice Governor candidates of DKI Jakarta 2012 on internet mediaYoutube, such as videos which is purposely made for campaign, or videos withSARA (etnic, religion, race and inter-group) issue, that attack one of the pair'scabdidates. The interesting point is videos made by partisipants and volunteerswho support one of the pair's candidates.This research wanted to see how popular culture's representation inJokowi-Ahok's videos on Youtube during Pemilukada DKI Jakarta 2012, usingdefinition consept of popular culture by Storey, namely popular culture as a formof resistance from the oppressed or the minorities to the ruler or the majority.Codes of televition by Fiske was used as a method to analyze three videos as thesource of research data, by waching and reading those videos.The result showed that popular culture being represented in the threevideos of Jokowi-Ahok through songs, music, and videos that parodied K-pop andBritish boyband One Direction, which is became an attraction for the public.Those videos more likely used the fame that has been owned by the songs, music,and videos that being parodied in Jokowi-Ahok's vidoes and turn popular cultureinto a medium and tool for community to express their opinion and politicalaspirations.Keywords: Representation, popular culture, Youtube, Codes of televisionviiiRepresentasi Budaya Popular Dalam Video Parodi Jokowi-Ahokdi Youtube Selama Pemilukada DKI Jakarta 2012AbstraksiPemilukada DKI Jakarta 2012 diwarnai dengan munculnya video-video terkaitcalon Gubernur dan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta di media internetYoutube, seperti video yang memang dibuat untuk kepentingan kampanye, atauvideo yang berbau isu-isu SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) yangmenyerang salah satu pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Yangmenarik perhatian adalah video yang dibuat oleh partisipan dan relawan yangmendukung salah satu pasangan calon.Penelitian ini ingin melihat bagaimana representasi budaya popular dalamvideo Jokowi-Ahok di Youtube selama Pemilukada DKI Jakarta 2012,menggunakan konsep definisi budaya popular dari Storey, yaitu budaya popularsebagai suatu bentuk perlawanan kaum minoritas atau tertindas kepada kaummayoritas atau penguasa. Codes of television dari Fiske digunakan sebagaimetode untuk mengurai tiga video yang menjadi sumber data penelitian, denganmengamati dan membaca tiga video Jokowi-Ahok tersebut.Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya popular direpresentasikandalam tiga video Jokowi-Ahok melalui penggunaan lagu, musik dan video yangmemarodikan K-pop dan boyband Inggris One Direction, yang menjadi suatudaya tarik bagi masyarakat. Video-video tersebut seperti menggunakan ketenaranyang telah dimiliki oleh lagu, musik, dan video yang diparodikan dalam videoJokowi-Ahok dan mengubah budaya popular menjadi suatu media dan alat bagimasyarakat dalam menyampaikan aspirasi dan pendapat terkait politik.Keywords: Representasi, Budaya popular, Youtube, Codes of televisionixLatar BelakangSejak Orde Baru, peran musik dan lagu pada pemilihan umum hanya sebatassebagai “penggembira”, tidak kurang tidak lebih. Musik atau lagu digunakansebagai penarik massa pada kampanye-kampanye yang dilakukan tiga partai saatitu. Dengan mengundang penyanyi pop dan penyanyi dangdut ternama, baikkaliber nasional atau lokal, sudah menjadi jaminan akan mendatangkan banyakmassa.Pada akhir tahun 2012, digelar pemilukada yang dapat dikatakanmengundang perhatian hampir seluruh masyarakat Indonesia yaitu PemilukadaDKI Jakarta untuk Gubernur dan Wakil Gubernur yang berakhir pada bulanOktober 2012 dengan terpilihnya Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakartadidampingi Basuki Tjahaja Purnama sebagai Wakil Gubernur DKI Jakartaperiode 2012-2017. Selama masa kampanye Pemilukada DKI Jakarta, banyak halhalbaru dalam pelaksanaannya, seperti penggunaan media internet Youtubedengan video-videonya dan isu-isu yang menyebar terkait para kandidat, termasukGubernur DKI Jakarta saat itu, Fauzi Bowo yang mencalonkan diri kembali untukperiode kedua sebagai Gubernur DKI Jakarta melawan Jokowi-Ahok.Rumusan MasalahPemilukada DKI Jakarta 2012 adalah salah satu bukti perkembangan budayapopular sebagai alat baru dalam politik Indonesia, dengan penggunaan musik,xlagu, dan video yang sedang trend saat ini, serta penggunakan media internet,salah satunya adalah website video terbesar Youtube.Berdasarkan perkembangan budaya popular di Indonesia, munculpertanyaan mengenai bagaimana representasi budaya popular digunakan sebagaisalah satu media dan alat dalam berpolitik, melalui video parodi Jokowi-Ahok diYoutube selama masa kampanye Pemilukada DKI Jakarta 2012?TujuanUntuk mendeskripsikan representasi budaya popular digunakan sebagai salah satumedia dan alat dalam berpolitik, melalui video parodi Jokowi-Ahok di Youtubeselama masa kampanye Pemilukada DKI Jakarta 2012.Kerangka PemikiranPenelitian ini menggunakan definisi representasi dengan pendekatan kontruktivis,yaitu representasi adalah suatu kerja menggunakan obyek dan efek, makna tidaktergantung kualitas material dari tanda, melainkan dari fungsi simbol tandatersebut. Konsep definisi budaya popular dari Storey juga digunakan untukmenjelaskan budaya popular, yaitu budaya popular merupakan bentuk perlawananantara grup minoritas atau subordinate dan kekuatan dari grup dominan.xiMetodologiPenelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, dengan menggunakananalisis semiotik. Tiga video Jokowi-Ahok diuraikan menggunakan metode codesof television Fiske, dengan analisis sintagmatik, yaitu level realitas dan levelrepresentasi, serta analisis paradigmatik dengan level ideologi.Hasil PenelitianPada level realitas dan level representasi, terlihat tiga video Jokowi-Ahokmenggambarkan warga Jakarta dengan pengaruh budaya popular, seperti terlihatpada kostum yang bergaya K-pop, video yang memarodikan video klip KoreaSelatan Gangnam Style dan penggunaan lagu K-pop Bigbang dan boyband InggrisOne Diretion.Level ideologi menunjukkan bagaimana budaya popular digunakansebagai media dan alat dalam menyampaikan aspisari, pendapat, atau kritik yangberkaitan dengan politik.Kesimpulan1. Bentuk budaya popular direpresentasikan dalam dua video, yaitu video 1:Jokowi Basuki (Gangnam Style n Big Bang) Parody, di mana dalam videotersebut, digunakan lagu K-pop Bigbang ‘Fantastic Baby’ dengan videoxiiyang memarodikan video klip rapper Korea, PSY, ‘Gangnam Style’. Videokedua yang merepresentasikan budaya popular adalah video 3: JOKOWIDAN BASUKI – what makes you beautiful by one direction [PARODY].Video ini menggunakan lagu dari boyband Inggris yang sedang naik daun,One Direction ‘what makes you beautiful’.2. Dalam video 2: Jokowi dan Foke – TAKOTAK MISKUMIS byCAMEOProject feat. Yosi Project Pop, Yosi mengunakan lagu dan video,serta Youtube sebagai media untuk menyoroti masalah isu SARA yangmuncul pada Pemilukada DKI Jakarta. Budaya popular digunakan Yosisebagai media untuk menyampaikan aspirasi, pendapat, dan protes tentangisu SARA yang mewarnai pemilukada tersebut.Saran1. Implikasi TeoritisPenelitian ini berusaha untuk memberi gagasan pemikiran dan kontribusidalam ragam penelitian mengenai representasi budaya popular sesuaidengan salah satu konsep definisi Storey, yaitu budaya popular digunakansebagai suatu bentuk perlawanan kaum tertindas atau lemah, dalam hal iniadalah masyarakat umum, terhadap kaum penguasa yaitu pemerintah danpolitikus.xiii2. Implikasi PraktisDiharapkan penelitian ini dapat membuka pemahaman bagi masyarakat,lembaga pemerintah, partai politik, dan politikus agar dapat menggunakanbudaya popular dan media internet secara lebih baik sebagai salah satusarana dalam mengemukakan aspirasi, pendapat, dan pemikiran terkait isuisupolitik.3. Implikasi SosialWarga masyarakat agar lebih aktif dalam dunia politik melaluipenyampaian pendapat dan aspirasi, yang sekarang dapat dilakukandengan mudah melalui media internet. Dengan lebih banyak masyarakatyang melakukan penilaian dan pengawasan terhadap jalannyapemerintahan, pemerintah, partai politik, dan politikus juga akanmendengar, mengerti, dan memahami keinginan dan aspirasi wargamasyarakat.xivDAFTAR PUSTAKABerger, Arthur. A. (2010). The Objects of Affection Semiotics and Consumer Culture. NewYork: Palgrave MacmillanCartoni, Lorenzo and Tardini, Stefano. (2006). Internet. New York: RoutledgeCogan, Bryan and Kelso, Tony. (2009). Encyclopedia of Politics, The Media and PopularCulture. Santa Barbara, California: Greenwood PressFiske, John. (2006). Understanding Popular Culture. In a Harold E. Hinds, Jr (Ed.), PopularCulture Theory and Methodology. A Basic Introduction ( pg. 118). Wisconsin:The University of Wisconsin PressFiske, John. (1987). Television Culture. New York: RoutledgeFiske, John and Hartley, John. (2003). The Signs of Television. In Fiske, John & Hartley,John (eds). Reading Television (pp. 23-40). London & New York: RoutledgeFlores, Juan. (2000). Pueblo Pueblo: Popular Culture in Time. In Raiford Guins & OmayraZ. Cruz (eds). Popular Culture: A Reader (pg. 72-81). London: Sage PublicationsGreen, Lelia. (2010). The Internet. An Introduction to New Media. Oxford, New York:BergHall, Stuart. (1997). Representations: Cultural Representations and Signifiying Practises.London: Sage PublicationsxvHediger, Vinzenz. (2009). YouTube and the Aesthetics of Political Accountability. InSnickars, Pelle and Vonderau, Patrick (eds). The Youtube Reader (pg.252-263).Stockholm, Swedia: MediehistorisktHermes, Joke. (2005). Re-reading Popular Culture. Blackwell Publishing LtdJensen, Klaus Bruhn. (2011). New Media, Old Methods – Internet Methodologies and theOnline/Offline Divide. In Consalvo, Mia and Ess, Charles (eds). The Handbook ofInternet Studies (pg. 43-56). UK: Wiley-Blackwell PublishingJunaedi, Fajar. (2009). Menelanjangi Film Indonesia. Yogyakarta: Lingkar MediaKorean Culture and Information Service. (2011). The Korean Wave: A New Pop CulturePhenomenon. Republik Korea Selatan: Korean Culture and Information Service,Ministry of Culture, Sports and TourismMacdonald, Dwight. (1957). A Theory of mass Culture. In Raiford Guins & Omayra Z. Cruz(eds). Popular Culture: A Reader (pg. 39-46). London: Sage PublicationsPease, Allan. (1981). Body Language. London: Sheldon PressShidu, Gretchen Luchsinger dan Meena, Ryth. (2007). Electoral Financing to AdvanceWomen’s Political Participation: A Guide for UNDP Support. New York: UnitedNation Development ProgrammeSnickars, Pelle and Vonderau, Patrick. (2009). Introduction. In Snickars, Pelle andVonderau, Patrick (eds). The Youtube Reader (pg. 9-19). Stockholm, Swedia:MediehistorisktStorey, John. (2003). Inventing Popular Culture. From Folklore to Globalization. USA, UK,Australia, German: Blackwell Publishing LtdxviStorey, John. (2009). Cultural Theory and Popular Culture: An Introduction. UK: LongmanPublishing GroupStromer-Galley, Jennifer and Wichowski, Alexis. Political Discussion Online. In Consalvo,Mia & Ess, Charles (eds). The Handbook of Internet Studies (pg. 168-181). UK:Wiley-Blackwell PublishingSuhandinata , Justian . (2010). WNI Tionghoa dalam Stabilitas Ekonomi dan Politik diIndonesia. Jakarta : Gramedia Pustaka UtamaVivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Jakarta: KencanaWeaver, John A. (2005). Popular Culture Primer. New York: Peter Lang Publishing LtdWebb, Jen. (2009). Understanding Representations. London and California: SagePublicationsWillcox, David. R. (2005). Propaganda, The Press, and Conflict. The Gulf war and Cosovo.New York: RoutlegdeWilliams, Raymond. (1976). ’Culture and Masses’. In Raiford Guins & Omayra Z. Cruz(eds). Popular Culture: A Reader (pp. 25-32). London: Sage PublicationsJURNALCathey, Paul Eben. (2009). Understanding Propaganda: Noam Chomsky and TheInstitutional of Analysis of PowerxviiHepple, Bob. (2010). The New Single Equality Act in Britain. The Equal Rights Review, vol.Five:11-24Kim, Eun Mee dan Ryoo, Ji won. (2007). South Korean Culture Goes Global:K-Pop and the Korean Wave. Korean Social Science Journal, XXXIV No.1:117-152Nilges, Thorsten. (2005). Gender Inequality in Politics. Human Rights: A GenderPerspective. Mozaik 2005/1:5-7Situmorang, James R. (2012). Pemanfaatan Internet Sebagai New Media Dalam BidangPolitik, Bisnis, Pendidikan Dan Sosial Budaya. Jurnal Administrasi Bisnis, Vol.8,No.1: hal. 73–87, (ISSN:0216–1249) Center for Business Studies. FISIP – UnparSUMBER INTERNETAnarchy. oxforddictionaries.com. Diakses Juni 27, 2013, darihttp://oxforddictionaries.com/definition/english/anarchyArthur, Hendra Nick. Pilkada Sulsel- Ribuan pendukung IA joged dangdut di KPU.(2012, September 14). Bisnis-KTI.COM. Diakses Desember 14, 2012, darihttp://www.bisnis-kti.com/index.php/2012/09/pilkada-sulsel-ribuan-pendukungia-joget-dangdut-di-kpu/Asril, Sabrina. Beredar, Video Foke Sindir Jokowi di Pengungsian. (2012, Agustus 9).KOMPAS.COM. Diakses Desember 12, 2012, darihttp://megapolitan.kompas.com/read/2012/08/09/07190193/Beredar.Video.Foke.Sindir.Jokowi.di.PengungsianCain, Helena. Definition of Casual Clothing. eHow.com. Diakses Juni 21, 2013, darihttp://www.ehow.com/about_6790682_definition-casual-clothing.htmlxviiiCamera shots angles and movements, lighting, cinematography and mise en sceen.Diakses Juni 15, 2013, dari http://www.skwirk.com.au/p-c_s-54_u-251_t-647_c-2411/camera-shots-angles-and-movement-lighting-cinematography-andmise-en-scene/nsw/camera-shots-angles-and-movement-lightingcinematography-and-mise-en-scene/skills-by-text-type-film/film-overviewDasar Hukum Penyelenggaraan PILKADA. (n.d). www.depdagri.go.id. DiaksesDesember 4, 2012, dari http://www.depdagri.go.id/pilkadaEtab. Plaid. (2005, Oktober 12). Urbandictionary.com. Diakses Juli 3, 2013, darihttp://www.urbandictionary.com/define.php?term=plaidFisher, Max. Gangnam Style, Dissected: The Subversive Message Within South Korea'sMusic Video Sensation. (2012, Agustus 23). theatlantic.com. Diakses pada Juli8, 2013, darihttp://www.theatlantic.com/international/archive/2012/08/gangnamstyle-dissected-the-subversive-message-within-south-koreas-music-videosensation/261462/Jokowi-Foke bertarung lewat video di Youtube. (2012, Agustus 27).METROTVNEWS.COM. Diakses Desember 12, 2012, darihttp://www.metrotvnews.com/read/news/2012/08/27/103613/Jokowi-Foke-Bertarung-Lewat-Video-Klip-diKurniawan, Wahyu. Pilkada DKI: Dinilai ceramah SARA, Rhoma Irama terancampidana. (2012, Agustus 1). SOLOPOS.COM. Diakses Desember 10, 2012, darihttp://www.solopos.com/2012/08/01/pilkada-dki-dinilai-ceramah-sara-rhomairama-terancam-pidana-206442Kurniawan, Ranu Ario. Masih Sedikit, Politisi yang Gunakan Social Media. (2013, Mei 11).Timlo.net. Diakses Mei 23, 2013, darihttp://www.timlo.net/baca/70812/masih-sedikit-politisi-yang-gunakan-sosialmedia/Lizza, Ryan. The Youtube Election. (2006, Agaustus 20). NewYorkTimes.com. DiaksesNovember, 27 2012. darihttp://www.nytimes.com/2006/08/20/weekinreview/20lizza.html?pagewanted=all&_r=0xixMashable. Orang suka komentar pedas politik di social media. (2012, November 6).Diakses Mei 18, 2013, darihttp://ictwatch.com/internetsehat/2012/11/06/orang-suka-komentar-pedaspolitik-di-social-media/Masykur, Ahwalian. Beredar video parodi musik Jokowi sindir Foke. (2012, Agustus 29).KETITIK.net. Diakses Desember 12, 2012, darihttp://www.ketitik.net/2012/08/29/4611/beredar-video-parodi-musik-jokowisindir-foke/Mecca, Zaskia. Video Koboy China Pimpin Jakarta. (2012, Agustus 24). Diakses Maret 23,2013, dari http://milanistaindonesia.blogspot.com/2012/08/video-koboychina-pimpin-jakarta-video.htmlMiharjo, Anton. Pertempuran Pilkada Bali di Youtube. (2013, Mei 14). Kompasiana.com.Diakses Mei 23, 2013, darihttp://politik.kompasiana.com/2013/05/14/pertempuran-pilkada-bali-diyoutube-555884.htmlNahyudi. Dunia maya ramai dengan kampanye Foke dan Jokowi. (2012, Agustus 29).LIPUTAN6.COM. Diakses Desember 12, 2012, darihttp://news.liputan6.com/read/433129/dunia-maya-ramai-dengan-kampanyefoke-dan-jokowiNouval, Alvin. Jejaring Sosial, Media Baru Unutk Berpolitik. (2013, April 26). Merdeka.Com. Diakses Mei 18, 2013, dari http://www.merdeka.com/teknologi/jejaringsosial-media-baru-untuk-berpolitik.htmlParody. oxforddictionaries.com. Diakses Juni 27, 2013, darihttp://oxforddictionaries.com/definition/english/parodyRosyid, Ikhsan. Goyang Ngebor, Goyang Gergaji dan Dangdut Koplo Pantura Jatim VsJanji Politik dalam Kampanye Parpol. (2011, Oktober 25). Diakses April 10,2013, dari http://ikhsan_history-fib.web.unair.ac.id/artikel_detail-36006-Mind%20and%20Think%20-Goyang%20Ngebor,%20Goyang%20Gergaji,%20dan%20Dangdut%20Koplo%20Pantura%20Jatim%20vs%20Janji%20Politik%20dalam%20Kampanye%20Parpol.htmlRustandi, Dudi. Kekuatan media jejaring sosial. (2013, April 28). Kompasiana. com.Diakses Mei 18, 2013, darihttp://media.kompasiana.com/buku/2013/04/28/kekuatan-media-jejaringsosial-550924.htmlxxRp. 15 Trilyun dan Pandangan Negarawan Inul. (2004, Maret 4). Diakses April 10, 2013,dari http://pemilu2004.goblogmedia.com/rp-15-trilyun-dan-pandangannegarawan-inul.htmlSAYKOJI Buat Lagu Bertema Kampanye Damai Pemilu 2009. (2009, Februari 23).ekampanyedamaipemiluindonesia2009.blogspot.com. Diakses Mei 12, 2013,darihttp://ekampanyedamaipemiluindonesia2009.blogspot.com/2009/02/saykojibuat-lagu-bertema-kampanye.htmlSchwab, Nikki. In Obama-McCain Race, Youtube Becaome a Serious Battleground forPresidential Politics. (2008, November 7). U.S NEWS.com. Diakses November27, 2013, dari http://www.usnews.com/news/campaign-2008/articles/2008/11/07/in-obama-mccain-race-youtube-became-a-seriousbattleground-for-presidential-politicsSteinhauser, Paul. The Youtube-ification of Politics: Candidates losing control. (2007, July18). CNN.com. Diakses November, 27 2012. dari http://articles.cnn.com/2007-07-18/politics/youtube.effect_1_youtube-video-video-sharing-web-sitemoments?_s=PM:POLITICSSwastika, I Putu Agus. Internet, Social Media dan Pilkada. (2013, April 9). Primakara.com.Diakses Mei 23, 2013, dari http://www.primakara.com/?content=detailberita&kode=19Tren Fashion ala Gangnam Style. (2012, September 27). Vemale.com. Diakses Juni 15,2013, dari http://www.vemale.com/fashion/tips-and-tricks/15562-tren-fashionala-gangnam-style.htmlVirdhani, Marieska Harya. Makna baju kotak-kotak bagi pasangan Jokowi-Ahok. (2012,Maret 29). Okezone.com. Diakses Juli 3, 2013, darihttp://jakarta.okezone.com/read/2012/03/29/505/602087/makna-baju-kotakkotak-bagi-pasangan-jokowi-ahokxxiVena, Jocelyn. (2012, Maret 14). The Wanted Vs. One Direction: A Boy Band CheatSheet. MTV News breaks down the differences between the two groupsresponsible for 2012's British Invasion. MTV.com. Diakses pada Juli 10, 2012,dari http://www.mtv.com/news/articles/1681029/the-wanted-onedirection-boy-bands.jhtmlWijaya, M Akbar. Jejaring sosial mudahkan politikus serap aspirasi rakyat. (2013, April15). Republika.co.id. Diakses Mei 18, 2013, darihttp://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/04/15/mlave8-jejaringsosial-mudahkan-politikus-serap-aspirasi-rakyat
TINGKAT PEMANFAATAN SOCIAL MEDIA TERHADAP BRANDING PARIWISATA JAWA TENGAH OLEH DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA PROVINSI JAWA TENGAH Fetiyana Luthfi Prihandini; Agus Naryoso; Adi Nugroho; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.67 KB)

Abstract

Pemanfaatan social media saat ini telah membuat masyarakat kini mengalami perubahan proses komunikasi, tidak hanya secara vertikal hierarkis, namun juga terjadi secara horizontal. Dalam keadaan seperti ini, proses komunikasi yang harus dikembangkan haruslah bersifat interaktif dialogis dengan membangun partisipasi publik. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu instansi yang memanfaatkan social media Twitter dan Facebook sebagai tools branding pariwisata Jawa Tengah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pemanfaatan social media terhadap branding pariwisata Jawa Tengah. Adapun variabel yang diteliti adalah tingkat pemanfaatan social media sebagai variabel independen (X), dan branding pariwisata Jawa Tengah sebagai variabel dependen (Y). Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Atitude Change Theory oleh Carl Hovland dan Teori Ekologi Media oleh McLuhan.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian survei (survey), dimana informasi data dikumpulkan dari sejumlah sampel berupa orang, melalui pertanyaan-pertanyaan berupa kuesioner, kemudian disebarkan kepada 40 responden yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Untuk menjawab permasalahan yang terdapat dalam perumusan masalah, penelitian ini menggunakan Uji Koefisien Korelasi Pearson sebagai teknik analisis data.Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara tingkat pemanfaatan social media dengan branding pariwisata Jawa Tengah sebesar 0,575, sehingga dapat dinyatakan bahwa antara tingkat pemanfaatan social media dengan branding pariwisata Jawa Tengah terdapat hubungan yang cukup kuat dengan arah positif. Melalui perhitungan rumus analisis regresi dengan bantuan program komputer SPSS Release 11,5 diperoleh nilai t sebesar 2,92 dengan probabilitas kesalahan atau signifiknsi (sig) sebesar 0,006. Oleh karena sig sebesar 0,006 < 0,05, maka inferensi yang diambil adalah menerima Ha dan menolak Ho. Semakin tinggi tingkat pemanfaatan social media, maka semakin tinggi tingkat keberhasilan branding wisata Jawa Tengah kepada followers akun social media Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.
Analisis Semiotika: Representasi Objektifikasi Seksual Perempuan dalam Film Drama Komedi 3 Dara Rizkyana, Ardelia; ., Sunarto
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film merupakan salah satu media komunikasi massa yang efektif dan efisien dalam menyampaikan pesan. Film dianggap dapat membentuk dan menghadirkan kembali realitas sosial melalui audio visual, sehingga dapat berpengaruh terhadap cara pandang masyarakat. Film yang menjadi objek penelitian adalah 3 Dara bergenre drama komedi. Film ini dipilih karena memiliki tema yang unik dengan pesan yang ingin disampaikan adalah tentang pentingnya kesetaraan gender. Selain itu, film ini banyak menghadirkan mitos dan stereotip perempuan melalui figur-figur perempuan didalamnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi objektifikasi seksual perempuan dalam film drama komedi 3 Dara. Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dengan pendekatan semiotik sehingga diharapkan mampu menemukan makna-makna dan ide-ide yang terkandung di dalam film . Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang menggunakan metode analisis semiotika John Fiske yaitu “The Codes of Television” berdasar tiga level yaitu level realitas, level representasi dan level ideologi. Penelitian ini menggunakan teori sikap atau teori standpoint sebagai teori utama, serta ditambah dengan teori objektifikasi dan teori male gaze untuk mempermudah di dalam mengevaluasi mengenai objektifikasi seksual perempuan. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 21 scene yang dipilih, pada level realitas dan level representasi masih menempatkan perempuan ke dalam posisi lemah dan tertindas berdasar pada tubuhnya yang dijadikan sebagai objek seksual. Di mana peneliti menemukan pada level realitas dan level representasi terdapat representasi objektifikasi seksual melalui unsur penampilan,, kostum,make up, ekspresi, gestur, kontak mata, kamera, narasi, dialog, editing, musik, tokoh dan pemeran. Pada level ideologi kemudian peneliti menemukan bahwa film drama komedi 3 Dara oleh pembuat filmnya masih menyediakan sudut pandang dominan patriarki di dalam merepresentasikan perempuan.. Peneliti menemukan bahwa: pertama, film drama komedi 3 Dara masih memposisikan perempuan berdasar mitos tubuh ideal yang telah berkembang di masyarakat; kedua, film ini memberikan gambaran bahwa perempuan berdasarkan tubuhnya dapat selalu diobjektifkan sehingga menjadi korban pelecehan seksual; ketiga, melalui tubuhnya perempuan dapat dikomersialisasi dan dikomodifikasi sesuai dengan selera pihak kapitalis guna mencari keuntungan; dan keempat, perempuan digambarkan tidak memiliki otoritas terhadapa tubuhnya sendiri karena berada di bawah control laki-laki.. Namun, selain itu peneliti juga menemukan bahwa film drama komedi 3 Dara menunjukkan usaha di dalam menghadirkan konsep feminisme yang liberal guna menghapus adanya opresi terhadap tubuh perempuan. Selain itu film ini juga menghadirkan konsep female gaze bahwa tidak hanya laki-laki yang dapat mengobjektifkan perempuan secara seksual, melainkan perempuan dapat melakukan objektifikasi seksual melalui tatapan yang erotis terhadap laki-laki. Akan tetapi, hal tersebut tidak serta merta menghapus dominasi sudut pandang patriarki yang masih mengontrol perempuan ke dalam sebuah keterbelengguan atas tubuhnya. Penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi penelitian selanjutnya dengan menggunakan pendekatan intepretif karena objektifikasi seksual perempuan tema yang paling menarik untuk dibahas, sehingga akan lebih detil lagi jika terdapat pemaknaan dari khalayak akan hal tersebut. Selain itu juga dapat menggunakan Teori milik Simone de Beauvoir yaitu “the second sex” guna melihat bagaimana perempuan menjadi Liyan, sehingga selalu diposisikan sebagai yang lemah dibawah kuasa laki-laki termasuk secara seksualitas
REPRESENTASI IDENTITAS KEINDONESIAAN DALAM FILM MERAH PUTIH Sholakhiyyatul Khizana; Triyono Lukmantoro; Nurrist Surayya Ulfa; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.323 KB)

Abstract

Setiap negara memiliki identitas nasionalnya sendiri, salah satu ciri yang digunakan untuk mengenali negara tersebut. Hal ini menjadi rumit ketika negara tersebut memiliki beragam kebudayaan atau multikultur. Budaya mana yang kemudian akan diangkat untuk dijadikan sebuah identitas nasional. Umumnya sebuah identitas diangkat berdasarkan budaya mayoritas yang berada dalam sebuah negara, hal inilah yang kemudian membuat masyarakat luas menyalahartikan ‘Jawa’ sebagai identitas nasional. Merah Putih merupakan film yang merepresentasikan sebuah identitas keindonesiaan melalui pluralisme. Identitas nasional tidak lagi diangkat berdasarkan sebuah kebudayaan mayoritas namun semua kebudayaan yang mendiami wilayah Indonesia termasuk budaya minoritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi identitas keindonesiaan dalam film Merah Putih.Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis semiotika John Fiske ‘the codes of television’. Film ini diuraikan secara sintagmatik pada level realitas dan level representasi, sedangkan penguraian level ideologi menggunakan analisis secara paradigmatik.Merah Putih merepresentasikan pluralisme sebagai identitas nasional. Masing-masing karakter dalam film ini dengan baik merepresentasikan budaya asalnya, baik dengan tata cara berpakaian, bahasa yang digunakan, pola pikir,kebiasaan, ritual peribadatan dan sebagainya. Identitas asal yang disandang para karakter dalam film ini memungkinkan terbentuknya berbagai entosentrisme, prasangka, dan stereotip. Kesadaran akan identitas nasionallah yang kemudianmenyatukan berbagai perbedaan yang ada. Temuan yang menarik dalam penelitianini adalah, bagaimana identitas gender ikut terbawa dalam arus perselisihankebudayaan. Pada dasarnya lingkunganlah yang memposisikan kelas sosial laki-laki dan perempuan, dalam film perang berlatar tahun 1940-an ini maskulinitas tampak dijunjung tinggi dan peran perempuan terdiskriminasi. Pluralisme tidak berpengaruhpada kelas sosial ini karena dalam film ini baik budaya mayoritas maupun minoritas memiliki pandangan yang sama terhadap posisi laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat.Kata kunci : film, identitas nasional, pluralisme

Page 84 of 157 | Total Record : 1563