cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Eksistensi Graffiti sebagai Media Ekspresi Subkultur Anak Muda Triliana Kurniasari; Taufik Suprihatini; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.248 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Menuangkan pesan ke dalam bentuk visual masih sering menjadi pilihan karena bentuk visual memiliki beberapa kelebihan, seperti bisa dinikmati lebih lama, pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan lebih jelas, dan dapat terdokumentasikan dengan baik. Sementara di sisi lain, komunikasi visual juga bisa menjadi representasi sosial budaya suatu masyarakat yang dijalankan dan menjadi kebiasaan yang berlangsung lama dalam masyarakat itu. Di sini masyarakat dalam suatu cara tertentu memilih untuk berkomunikasi visual yang justru menunjukkan kelebihannya dibandingkan dengan budaya lainnya, termasuk lewat kemunculan budaya komunikasi visual dalam karya seni rupa jalanan atau street art.Graffiti, sebagai salah satu bentuk street art, mengandung pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh para pembuatnya. Pesan bisa muncul secara tersembunyi atau eksplisit. Graffiti dipelopori oleh anak-anak muda yang “gatal” ingin menuangkan ide-ide kreatifnya untuk menunjukkan eksistensi dan ekspresi diri walaupun menggunakan cara-cara yang kerap dianggap melanggar aturan atau norma. Graffiti yang ada di Indonesia kemudian kental dihubungkan dengan kota Yogyakarta, karena bisa dikatakan hampir tiap tembok jalanan di sana tak luput dari sentuhan dan perhatian seniman lukis jalanan.Pada awalnya, menurut Majalah HAI No. 36/XXX/4-10 September 2006 (Wicandra, 2006: 52), graffiti menjadi sekadar coretan dinding yang berafiliasi dengan kelompok atau geng tertentu. Kemudian graffiti menemukan gaya baru yang mengarah pada artistic graffiti sehingga muncul seni mural yang banyak menyajikan kritik sosial. Di sini tembok jalanan menjadi tempat atau medium alternatif bagi seniman guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas. Dengan menggunakan nama jalanan (street name) dan ideologinya masing-masing, setiap writer (pembuat graffiti) menumpahkan ekspresinya melalui penampakan warna, objek, dan kata-kata dalam graffiti.Setiap kota ternyata memiliki ceritanya sendiri tentang keberadaan budaya visual graffiti, termasuk di Kota Semarang yang terlihat dari mulai banyaknyasudut kota yang dihiasi oleh graffiti. Walaupun aktivitas graffitinya tidak seramai di Yogyakarta, Kota Semarang pernah dihiasi graffiti mural yang menjadi perbincangan banyak orang yang bertema “Cicak vs Buaya”. Mural ini dibuat oleh 12 PM (one two pm), salah satu komunitas street art di kota Semarang, di Jalan Hayam Wuruk, Pleburan, Semarang, dan merupakan hasil kerjasama antara komunitas street art 12 PM dengan LSM Antikorupsi KP2KKN Jateng. Pesan dalam mural ini begitu mengena karena menggambarkan tentang kondisi politik di Indonesia saat itu yang sarat dengan kisruh politik antara Polri (digambarkan sebagai Buaya) dan KPK (sebagai Cicak).Daya kritis dalam graffiti menunjukkan seni memang tak bisa dipisahkan dengan realitas kehidupan sosial di masyarakat. Seni juga tidak bisa berdiam jika ada ketimpangan dalam kehidupan. Dengan bahasa dan style yang berkarakter, seni mampu berbicara dengan bahasa sendiri. Para seniman akan terus berekspresi meskipun wahana atau wadah mereka banyak yang hilang akibat ditelan perubahan zaman. Tembok jalanan menjadi tempat atau medium alternatif bagi seniman guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas. Demi sebuah eksistensi dan mempertahankan identitas agar tetap diakui, kelompok seniman street art tak kehabisan akal guna menuangkan uneg-uneg, mereka berkreasi bukan lagi di atas kanvas namun di tembok-tembok jalan (Andrianto, 2009).Kemunculan komunitas graffiti sendiri sesungguhnya merupakan salah satu bentuk subkultur anak muda di tengah masyarakat. Apa yang membuat subkultur anak muda sangat “terlihat” adalah adanya sifat khas dan perilaku anak muda yang suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer, dan tentu saja, berbeda. Beberapa cara yang dilakukan anak muda untuk mengkomunikasikan eksistensi dirinya muncul salah satunya lewat kebiasaan yang melanggar aturan atau norma. Dalam hal ini, graffiti yang muncul kerap dianggap sebagai salah satu masalah yang ditimbulkan anak muda ketika mereka tidak berhasil mendapatkan akses komunikasi yang diharapkan. Praktik graffiti kerap dijuluki sebagai vandalisme karena bentuknya yang dianggap merusak,mengotori, dan memperkumuh tembok kota. Karena itu, kerap muncul undang-undang yang melarang keberadaan graffiti di tengah masyarakat.Perkembangan komunitas graffiti menjadi suatu subkultur anak muda, dengan adanya sifat khas dan perilaku yang suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer, dan tentu saja, berbeda. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini merumuskan permasalahan tentang eksistensi graffiti sebagai media komunikasi dan ekspresi subkultur anak muda.PEMBAHASANPenelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus, di mana peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa yang akan diselidiki dan bilamana fokus penelitian terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) dalam konteks kehidupan nyata (Yin, 2002: 1). Menggunakan tiga orang informan yang terdiri dari para writer, studi kasus dipilih agar dapat memahami dan menjawab keingintahuan peneliti terhadap fenomena graffiti yang tengah berlangsung secara spesifik di Kota Semarang dengan batasan penelitian yang dibahas yakni eksistensi subkultur dan ekspresi yang dibawa oleh subkultur melalui graffiti. Selain itu, penelitian dilakukan karena terdapat keunikan pada penggunaan graffiti sebagai media komunikasi subkultur yang menyajikan berbagai elemen visual mulai dari penampakan garis, objek, warna, kata-kata, hingga penempatannya di jalanan yang mampu menarik perhatian khalayak.Graffiti sebagai bentuk komunikasi visual, sesuai dengan pendapat Chaffee (1993: 3) bahwa komunikasi mempunyai banyak muka, informasi bisa ditransmisikan melalui berbagai bentuk. Di sini komunikasi terbentuk melalui visualisasi graffiti berupa objek, kata-kata, dan pewarnaan sebagai media berekspresi anak muda. Adanya penampakan objek biasanya mewakili pesan yang ingin disampaikan, sementara kata-kata yang tersaji bisa menjadi sarana yang memudahkan penerimaan pesan oleh khalayak. Sedangkan penggunaan warna, bagi informan pria, secara psikologis menunjukkan ekspresi maskulinitas dengan kecenderungan warna gelap. Hal ini berbeda dengan informan wanita yang cenderung menunjukkan ekspresi keceriaan, kesetiaan, atau dedikasi pada orang lain. Tidak hanya itu, mereka yang merasa sebagai pemalu dan tidak percaya diri,bisa menyuarakan ekspresinya lewat graffiti karena di sini mereka tidak harus berbicara.Berdasarkan pengamatan, dominasi graffiti yang muncul di Semarang cenderung menyampaikan pesan visual dan tidak banyak graffiti yang membawa pesan sosial terkait dengan kondisi masyarakat di sekitarnya. Pesan visual tersebut biasanya dibuat dengan maksud memperindah suatu lokasi atau untuk menunjukkan eksistensi diri pada komunitas dan masyarakat. Dalam hal ini, berbagai elemen dalam graffiti bisa menghasilkan bentuk estetika tersendiri dalam berkomunikasi sehingga mampu membangun hubungan antara pembuat dengan khalayaknya. Hal ini karena adanya tiga elemen estetika visual seperti yang diutarakan Dake (2005: 7) tentang objek (yaitu graffiti), pembuat (yaitu writer), dan khalayak. Ketiga elemen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain yang pada akhirnya saling membentuk umpan dan timbal balik atas penampakan graffiti.Sementara itu, keberadaan graffiti merupakan suatu bentuk subkultur di tengah masyarakat. Hebdige (Hasan, 2011: 220-221) berpandangan bahwa subkultur adalah subversi bagi apa yang dianggap normal. Subkultur bisa saja dianggap sebagai hal yang negatif karena watak kritisnya terhadap standar masyarakat yang dominan. Subkultur dibawa secara bersama-sama oleh kumpulan individu yang merasa diabaikan oleh standar masyarakat dan menyebabkan mereka mengembangkan perasaan kememadaian terhadap identitasnya sendiri.Mengikuti cara Gelder (Hasan, 2011: 221-222) yang mengusulkan enam kunci cara mendefinisikan subkultur, terlihat ada persamaan dan perbedaan bila masing-masing kunci tersebut diperbandingkan dengan hasil pengamatan di lapangan sebagai berikut:a. Melalui hubungan negatif mereka terhadap kerja (misalnya bersifat parasit, malas-malasan suka bermain di waktu luang).Berkaitan dengan hal ini, kenyataannya setiap writer tetap melakoni pekerjaan lain dalam rangka mempertahankan posisinya secara ekonomi dan politik agar tetap diakui keberadaannya oleh masyarakat. Umumnya mereka ini sangat aktif mengembangkan seni atau mengakrabi dunia anak muda. Dunia yang digeluti tidak jauh dari dunia kreatif, seperti menjadi desainer grafis. Jadi bisadikatakan hubungan negatif yang diutarakan Gelder tidak tampak pada subkultur graffiti yang muncul di Semarang.b. Melalui hubungan mereka yang ambivalen atau negatif terhadap kelas (jika subkultur bukanlah „kesadaran kelas‟ dan tidak konformitas terhadap definisi kelas secara tradisional).Secara umum, graffiti di Semarang tidak dijadikan sebagai sebuah gerakan yang merujuk pada kelas tertentu termasuk kelas atau kelompok akar rumput. Lebih tepatnya, para pelaku yang muncul justru mengandalkan graffiti hanya sebagai sumber ketenaran kelompok dan individu. Graffiti yang tersaji kebanyakan melambangkan nama kelompok dan belum banyak jenis graffiti mural yang menyikapi keadaan sekitar dengan kritis. Ini menandakan bahwa graffiti di Semarang masih berupaya pada usaha mencari “jati diri” street art yang ingin dikembangkan oleh subkultur.c. Melalui asosiasi mereka terhadap teritori atau wilayah (misalnya di jalanan, di klab, kelompok tertentu) daripada pada kepemilikan dan kekayaan.Sebagai salah satu bentuk street art, graffiti sudah tentu beredar di jalanan. Setiap kelompok (crew) umumnya mempunyai penanda markasnya masing-masing. Di sini ada kebiasaan untuk mencantumkan tanda tangan di setiap sudut jalanan yang pernah disinggahi, tidak peduli apakah itu ditimpakan di tembok, baliho, bahkan rambu lalu lintas. Selain itu, ada aturan yang dianut setiap writer untuk saling meminta ijin sebelum menimpa gambar writer lain. Aturan lainnya yang berlaku adalah tidak menggambar di daerah terlarang seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah.d. Melalui perpindahan mereka keluar rumah dan ke dalam bentuk-bentuk kepemilikan non-domestik (kelompok sosial daripada keluarga).Berbeda dengan pendapat Gelder ini, pergerakan subkultur graffiti di Semarang tetap mendapat dukungan domestik yakni dari keluarga. Kenyataannya setiap individu tidak melepaskan dirinya dari pergaulan dalam kelompok sosial termasuk dengan subkultur lain berkembang di sekitarnya. Artinya tidak ada perpindahan para pelakunya ke luar rumah, melainkan secara seimbang mereka bergerak di antara kutub domestik dan non-domestik.e. Melalui ikatan mereka yang unik terhadap gaya yang berlebihan dan kadang keterlaluan.Mengamati pergerakan writer di Semarang, ternyata tidak terdapat gaya berlebihan yang muncul melainkan terdapat pembedaan gaya yang khas terhadap komunitas atau subkultur lain. Kekhasan yang muncul hanyalah penggunaan identitas crew yang melekat pada pakaian yang didesain dan didistribusikan komunitas graffiti secara independen (distro). Hal ini dikarenakan setiap writer umumnya juga bergerak di bidang desain grafis sehingga bisa mengambil keuntungan untuk mengenalkan crew-nya melalui distro tersebut.f. Melalui penolakan mereka terhadap kedangkalan (banalitas) dari kehidupan yang umum yang merupakan korban masifikasi dan tren.Salah satu bentuk penolakan dalam subkultur graffiti misalnya adalah penggunaan ideologi indie atau DIY (Do It Yourself) seperti yang dianut kelompok musik underground, komunitas BMX, skateboard, dan subkultur lainnya. Ideologi indie berlaku pada pemakaian identitas pada merek distro yang dikenakan setiap individu dan biasanya setiap writer akan melekatkan karakter graffitinya ke dalam merek distronya. Penolakan lainnya berupa perlawanan atau perebutan ruang publik dengan tembok-tembok komersial. Ketika wajah perkotaan dipenuhi oleh pesan komersial, saat itulah writer menggunakan graffiti sebagai ajang perlawanan lewat pembuatan tagging secara masif dan diam-diam dalam satu spot komersial.Karakteristik utama dari semua subkultur adalah bahwa anggota subkultur terpisah atau terlepas di berbagai tingkat yang dianggap sebagai budaya dominan. Pembagian tersebut bisa berupa isolasi total atau terbatas pada aspek-aspek kehidupan seperti pekerjaan, sekolah, kesenangan, pernikahan, pertemanan, agama, atau tempat tinggal. Sebagai tambahan, pemisahan tersebut bisa terjadi dengan sukarela, karena lokasi geografis, atau kebebasan (Ferrante, 2011: 61). Hal inilah yang terjadi pada subkultur graffiti yang memisahkan diri dari masyarakat dengan membentuk identitasnya sendiri berdasarkan kesepakatan dan aturan yang dianut di dalam kelompoknya. Dalam pembentukan identitas tersebut, subkulturgraffiti juga membawa ekspresi perlawanan yang mengiringi pergerakannya di tengah masyarakat.Sementara itu, kultur perlawanan yang terbentuk dalam subkultur graffiti Semarang berupa “perang” public space, di mana para writer bertarung memperebutkan ruang publik dengan pemerintah dan para pengiklan. Ruang publik adalah tempat berinteraksi yang mempertemukan semua unsur masyarakat ke dalam sebuah situasi yang luas. Karenanya tidak jarang ruang publik dimanfaatkan berbagai pihak untuk kepentingan menyampaikan pesan. Salah satunya oleh pemerintah dalam mensosialisasikan kebijakan kepada masyarakat melalui baliho, spanduk, dan sebagainya. Pihak lainnya yakni para pemilik modal atau pengiklan yang mampu menyewa tembok untuk kepentingan komersial. Di sini, kultur perlawanan oleh subkultur graffiti mewujud dalam bentuk vandalisme. Vandalisme memang tidak bisa dipisahkan dari budaya graffiti dan lebih sering muncul lewat timpa-menimpa gambar graffiti.Berdasar pengamatan, iklan komersial ternyata cukup mendominasi wajah ruang publik. Setiap tempat di sudut kota tidak ada yang tidak tersentuh iklan, sebut saja di jembatan penyeberangan, di persimpangan jalan, di sekitar lampu merah, di tembok rumah, di mana pun bisa ditemui iklan komersial. Bahkan penempatan iklan komersial tidak jarang menyalahi aturan, seperti dengan menempelkan sederet poster iklan yang sama pada satu tembok. Kemampuan iklan komersial melahap ruang publik dikarenakan kemampuan pemilik modal untuk membayar waktu dan tempat beriklan. Karenanya bila dilihat secara kasat mata, iklan komersial begitu merajai beragam medium yang tersaji di jalanan. Pada posisi inilah graffiti menjadi pesaing iklan-iklan komersial. Writer sejatinya termasuk salah satu pihak yang bersaing mendapatkan perhatian khalayak di ruang publik. Karena adanya persaingan tersebut, tidak jarang tanda tangan atau tagging ditimpakan pada iklan-iklan komersial di tembok kota.Perlawanan ini menciptakan subkultur graffiti yang memadukan tiga bentuk protes seperti yang disebutkan Yinger (Hasan, 2011: 222), yaitu 1) penentangan terhadap nilai dominan berupa tindakan masyarakat yang patuh pada pemerintah dan budaya konsumerisme karena adanya iklan komersial, 2) penentangan terhadap struktur kekuasaan yang terlihat melalui larangan mencorat-coret tembok atau kemampuan pemilik modal dalam membeli tembok, dan 3) penentangan terhadap pola-pola komunikasi yang terperangkap dalam nilai-nilai dominan itu yakni berupa paksaan mematuhi peraturan pemerintah serta bujukan dan rayuan terhadap terbentuknya masyarakat konsumen.Adanya ekspresi perlawanan memang tidak pernah lepas dari graffiti, di mana dengan perlawanan tersebut graffiti bisa mendapatkan posisinya saat ini di masyarakat. Posisi tersebut di satu sisi masih lekat dengan penolakan yang menganggapnya sebagai perusakan terhadap fasilitas publik, sedangkan di sisi lain ia diterima karena efektivitasnya dalam mengkritisi keadaan sosial masyarakat.PENUTUPFenomena graffiti yang muncul di beberapa kota belakangan ini menjadikan dinamika perkotaan yang semakin beragam menarik untuk dipelajari. Tidak terkecuali di Kota Semarang di mana kemunculannya mendapat penilaian yang berbeda-beda dari masyarakat. Bagi sebagian kalangan, graffiti dianggap hanya sebagai coretan tembok belaka yang tidak mempunyai makna. Namun bagi sebagian yang lainnya, graffiti dianggap sebagai karya seni yang menyatukan elemen garis, bentuk, dan warna di medium tembok jalanan. Selain itu, graffiti juga dianggap bisa menyampaikan pesan tentang eksistensi pembuatnya.Eksistensi gerakan graffiti di Semarang masih berupaya mencari jati diri dengan cara bergerilya dari satu tembok ke tembok lainnya, masif, dan militan. Ada kecenderungan graffiti menjadi semacam tren di kalangan anak muda yang muncul dengan ideologi “ikut-ikutan”. Hal ini terlihat dari kemunculan banyak seniman (writer) baru yang menggunakan graffiti hanya sebagai ajang pemenuh kepuasan pribadi dan eksistensi diri, yakni dengan membuat pesan visual seperti dalam piece, tagging, dan throw-up yang dibuat sebebas-bebasnya, tanpa mengandung pesan sosial tertentu seperti yang ada pada jenis mural dan stensil. Meskipun demikian, seniman yang lebih senior biasanya telah menemukan originalitas karya dengan membuat graffiti yang berisi pesan sosial.Gerakan graffiti di Semarang membawa ekspresi perlawanan yang berupa perebutan ruang publik antara para seniman dengan para pemilik modal. Perlawanan terlihat dari kecenderungan writer untuk menimpa gambar secarasembunyi-sembunyi dan tanpa ijin di spot-spot yang dipenuhi dengan pesan periklanan atau komersial. Hal ini terkait dengan kenyataan banyaknya tembok kota yang menjadi spot komersial sehingga sarana untuk menumpahkan ekspresi semakin berkurang. Karena bentuk perlawanan tersebut, graffiti di Semarang masih lekat dengan stempel vandalisme. Masyarakat cenderung menilai graffiti sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dan mengotori keindahan lingkungan.Menggunakan metode studi kasus, penelitian ini memberikan gambaran bagaimana komunitas graffiti membentuk subkultur yang terus bertahan di tengah masyarakat dan menggunakan graffiti sebagai media ekspresi dan komunikasi. Dalam hal ini, studi kasus dipilih untuk menjawab keingintahuan peneliti berkaitan dengan kemunculan fenomena graffiti secara spesifik di suatu wilayah, yaitu di Semarang, dengan batasan penelitian yang dibahas yakni eksistensi subkultur dan ekspresi yang dibawa oleh subkultur melalui graffiti. Hal ini terkait dengan pemanfaatan graffiti untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Penempatannya di jalanan menjadi daya tarik tersendiri, di mana mulai dari proses pembuatan hingga hasil akhir selalu menarik perhatian khalayak yang lalu lalang di jalanan.Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perkembangan komunikasi visual di kalangan anak muda, khususnya graffiti yang disajikan sebagai bentuk ekspresi diri namun kerap dianggap vandalisme oleh masyarakat. Peneliti berusaha memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa graffiti selayaknya dihargai sebagai media komunikasi dan ekspresi anak muda yang menyajikan berbagai pesan mulai dari eksistensi individu hingga pesan sosial. Oleh karena itu, peneliti memberikan rekomendasi agar writer mampu menyajikan graffiti yang bisa dipertanggungjawabkan, artinya memiliki konsep yang jelas dan mengandung pesan sosial sekaligus pesan visual sehingga bisa menimbulkan timbal balik yang lebih banyak dari khalayak. Dengan demikian fungsi sosial dan visual graffiti sama-sama bisa terpenuhi, yakni di satu sisi pesan pesan sosial mampu membangkitkan pemahaman bahwa graffiti bisa ditujukan sebagai media mengkritisi keadaan di lingkungan masyarakat. Sementara di sisi lain, secara visual graffiti dapat dimanfaatkan untuk memperindah lokasi.DAFTAR PUSTAKAChaffee, Lyman G. 1993. Political Protest and Street art: Popular Tools for Democratization in Hispanic Countries. Westport: Greenwood Publishing Group, Inc.Dake, Dennis. 2005. “Aesthetic Theory” (dalam Handbook of Visual Communication: Theory, Methods, and Media, Ken Smith dkk, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc., hal. 3-22).Ferrante, Joan. 2011. Seeing Sociology: An Introduction. California: Wadsworth Cengage Learning.Hasan, Sandi Suwardi. 2011. Pengantar Cultural Studies. Yogyakarta: Ar Ruz Media.Yin, Robert K. 2002. Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Sumber internet:Andrianto, Andi. 2009. “Graffiti, Simbol Perlawanan Kota” (http://www.suara merdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=58125; diakses 25/03/2012 22:16:13)Wicandra, Obed Bima. 2006. “Graffiti di Indonesia: Sebuah Politik Identitas Ataukah Tren? Kajian Politik Identitas pada Bomber di Surabaya” dalam Jurnal Nirmana Vol. 8, No. 2, Juli 2006, hal. 51-57. (http://fportfolio. petra.ac.id/user_files/02-032/POLITIK%20IDENTITAS%20GRAFFITI. PDF; diakses 24/03/2012 21:31:26)
Hubungan Intensitas Terpaan Iklan Media Luar Ruang dan Persepsi tentang Asosiasi Merek dengan Loyalitas Konsumen untuk Menggunakan Kartu Indosat IM3 David Fredy Christiyanto; Adi Nugroho; M Yulianto; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.696 KB)

Abstract

Iklan media luar ruang merupakan salah media promosi yang masih dianggap efektifoleh perusahaan untuk melakukan promosi produk mereka. Dengan penempatan iklan diluar ruang diharapkan pesan yang ingin disampaikan bisa di terima oleh khalayak secaraluas. Selain iklan Pandangan khalayak yang mengenai sebuah brand juga akanberpengaruh kepada brand tersebut diterima masyarakat atau tidak. Kedua faktor diatasdianggap bisa memiliki hubungan bagaimana factor-faktor tersebut bisa menjadikankonsumen menjadi konsumen yang loyal. Loyalitas konsumen merupakan hal yangingin dicapai setiap brand yang bisa menimbulkan hubungan yang berkesinambunganantara perusahaan atau brand dengan konsumen.Untuk melihat bagaimana iklan media luar ruang dan asosiasi merek memilikihubungan dengan loyalitas pada penelitian ini peneliti menggunakan teori ElaborationLikelihood Model (ELM) dan Perception (DeVito). Hasil dari penelitian ini menemukanbahwa intensitas terpaan iklan media luar ruang dan persepsi tentang asosiasi merekIndosat IM3 memiliki hubungan dengan loyalitas konsumen untuk menggunakan kartuIndosat IM3. Bagaimanapun faktor-faktor tersebut bisa mempengaruhi nilai dariloyalitas konsumen terhadap brand.
MEMAHAMI MEKANISME CROWDFUNDING DAN MOTIVASI BERPARTISIPASI DALAM PLATFORM Kitabisa.com March Hot Asi Sitanggang; S. Rouli Manalu
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.151 KB)

Abstract

The development of the internet is more massive with the discovery of web 2.0 facilities gave birth to a new phenomenon of crowdsourcing. Anyone can participate openly through the internet. One of the phenomenon that is the trend in the present is the crowdfunding phenomenon of raising funds openly involving the public by utilizing internet facilities. One of the most popular crowdfunding in Indonesia is crowdfunding donation based on Kitabisa.com. This research is qualitative descriptive type using two stages. The first stage is to know from the side of technology/platform by using the approach of website content analysis. The second stage is to know the motivation of donors in participating in crowdfunding using phenomenology approach. The purpose of this research is to know how crowdfunding mechanism in Indonesia in general and what factors influence people in donating. This research uses altruism theory, gotongroyong culture and social learning theory. Research subject is Kitabisa.com website and six people who have been involved in donation at Kitabisa.com at least twice the funding. The results of this study found that the development of the Internet in the era of web 2.0 brings new alternatives to the funding system. In general, crowdfunding in Indonesia using donation based. In the process of hooking the donors Kitabisa.com as platfrom adopt culture and values in Indonesian society. The individual's motivation in donating is influenced by empathy motivation, cultural motivation, and religious teachings motivation. Kitabisa.com leads the empathy of website visitors by presenting campaigns about humanity, poverty, and health as a content of comodification in Kitabisa.com. With the platform Kitabisa.com can be connected between fundraisers with donors.
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PERSUASI PENDAMPING DALAM PROGRAM REHABILITASI SOSIAL WANITA PEKERJA SEKS PADA RESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANG Theresia Karo Karo; Turnomo Rahardjo; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.152 KB)

Abstract

MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PERSUASI PENDAMPINGDALAM PROGRAM REHABILITASI SOSIAL WANITA PEKERJA SEKS PADARESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANGABSTRAKKomunikasi persuasi adalah suatu proses memengaruhi sikap, pendapat danperilaku orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal. Dengan menggunakankata-kata lisan dan tertulis, menanamkan opini baru dan usaha yang disadari mengubahsikap, kepercayaan, dan perilaku orang lain melalui transmisi pesan. Pada programrehabilitasi sosial terhadap wanita pekerja seks (WPS) di Resosialisasi Argorejo KotaSemarang, pendamping berperan untuk mempengaruhi motivasi WPS dalammengembalikan perannya di masyarakat dengan beralih pekerjaan.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatanfenomenologi. Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan pengalaman unik pendampingdari pihak Resosialisasi Argorejo, Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga Kota Semarang,dan PKBI Griya ASA Kota Semarang terhadap WPS mengenai komunikasi persuasi yangdilakukan dalam komunikasi antarpribadi dan kelompok dengan pendekatan insentif.Konsep diri WPS akan mempengaruhi pengambilan keputusan. Hal ini diperjelas denganpendekatan insentif dalam Teori Respons kognitif dan pendekatan nilai-ekspetansi. Teoriini menjelaskan bahwa seseorang mengambil sikap yang memberikan keuntungan lebihbesar.Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa pendamping dan WPSmelakukan pendekatan awal secara individual dan dalam kelompok. Hal inimempengaruhi tingkat kedekatan, keterbukaan dan kepercayaan WPS terhadappendamping. Ketika WPS mampu untuk memaknai pesan, perilaku yang ditunjukkanakan sesuai dengan tujuan program rehabilitasi sosial. WPS juga akan memahami bahwaberalih pekerjaan akan memberikan kesempatan yang lebih baik lagi dalam menjalankanperannya sebagai bagian dari masyarakat, yakni dengan mematuhi aturan, norma dannilai yang berlaku di masyarakat.Kata kunci : Persuasi, Rehabilitasi, WPSUNDERSTANDING THE COMMUNICATION EXPERIENCE OF PERSUASIONIN A SOCIAL REHABILITATION PROGRAMME TO ACCOMPANYINGWOMEN SEX WORKERS ON RESOCIALIZATION ARGOREJO SEMARANGABSTRACTPersuasion is a process influenced by the attitudes, opinions, and behaviors of others,both verbal and nonverbal. By using the words spoken and written, instilling a newopinion and effort consciously changing the attitudes, beliefs, and behavior of otherthrough transmission of the message. On the social rehabilitation of women sex workers(WSW) in Semarang City, Resocialization Argorejo escort role to influence motivation inreturn for her role in the community by switching jobs.This research uses qualitative descriptive study type with the approach of thePhenomenology. This research seeks to explain the unique experience of accompanyingfrom Resocialization Argorejo, Dinas Sosial, Pemuda and Olahraga Semarang City, andLSM PKBI Griya ASA toward WSW about communication persuasion in interpersonalcommunication and group incentive approach. The concept of self WSW will affectdecision making. This is made clear by the incentive approach in Cognitive ResponseTheory and approach to value-ekspetansi. This theory explains that a person take a stancethat provides greater advantages.Based on the results of the study, suggests that the escort WSW doing the initialapproach, individually and in groups. This affects the level of closeness, openness, andtrust of WSW to escort. When WSW is able to interpret the message, the behavior that isdemonstrated to be in accordance with the purposes of social rehabilitation programmes.WSW will also understand that turning the job will give her a better chance of runningagain in her role as part of the community, namely the compliance with rules, norms, andvalues which prevail in the community.Keywords : Persuasion, Rehabilitation, WSWMEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PERSUASI PENDAMPINGDALAM PROGRAM REHABILITASI SOSIAL WANITA PEKERJA SEKS PADARESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANGA. PendahuluanNilai dan aturan yang berlaku di masyarakat merupakan hasil dari budaya. Budayaterbentuk dari kebiasaan manusia dalam mereprentasikan satu hal dan yang lainnya,selanjutnya menjadikannya sebagai patokan di kehidupan selanjutnya. Aturan yangberlaku dalam masyarakat menjadi patokan untuk mengatur tingkah laku dalamberinteraksi. Wanita pekerja seks (WPS) atau lebih dikenal dengan pekerja seks komersial(PSK) adalah wanita yang pekerjaan utamanya sehari-hari memuaskan nafsu seksuallaki-laki atau siapa saja yang sanggup memberikan imbalan tertentu yang biasa berupauang atau benda berharga lainnya (Mudjijono, 2005:16). Hal ini menjadi pemisah antaramasyarakat dan WPS. Pemisahan ini bukan tanpa alasan, WPS merupakan jenis pekerjaanyang sulit diterima oleh masyarakat karena dianggap tidak bermoral dan melanggar aturanyang berlaku di masyarakat.Dalam kebebasan individu terdapat batasan sosial dalam berinteraksi. Norma-normasosial membatasi perilaku individu. Masing-masing individu yang terlibat di dalammasyarakat melalui perilaku yang dipilih secara aktif dan sukarela. Pembentukan sikapsosial dalam masyarakat dinyatakan dengan cara-cara kegiatan yang sama danberulang-ulang terhadap suatu objek sosial, biasanya tidak hanya oleh seseorang tetapijuga oleh orang lain yang sekelompok atau di masyarakat.Alasan yang paling utama dalam bekerja sebagai WPS, seringkali terkait denganmateri. Ketika sudah tidak ada lagi pilihan lain untuk mempertahankan hidupnya, makajalan pintas ini dianggap setimpal dengan terpenuhinya kebutuhan dasar yang mendesak.Kurangnya pendidikan, keahlian dan pengetahuan akan hal-hal yang bersifat rohanimenjadikan WPS sebagai pilihan untuk mempertahankan hidup, ditambah lagi saat inisangat sulit menemukan pekerjaan dengan pendidikan dan tingkat pengetahuan yangminim.Tingginya jumlah lokalisasi dan semakin meningkatnya jumlah WPS semakinmenunjukkannya ekonomi masyarakat yang semakin kritis. Bekerja sebagai WPSbukanlah pilihan untuk memperoleh materi. Tetapi karena dianggap dapat menghasilkanuang dengan cepat, jumlah yang banyak, dan mudah, membuat mereka memilihpekerjaan ini. Konsekuensi yang harus ditanggung oleh WPS merupakan dikucilkan olehmasyarakatUntuk membimbing dan mendampingi WPS maka pemerintah bersama-sama denganmasyarakat mengadakan program rehabilitasi sosial, yakni yang bertujuan untukmemasyarakatkan kembali. Tugas ini menjadi tanggung-jawab dalam programKementerian Sosial di Indonesia. Dinsospora Kota Semarang mendapat bagian untukmelaksanakan program rehabilitasi sosial, yang lebih merumuskan pada programpengentasan WPS untuk masa depan.Lokalisasi menjadi salah satu sasaran bagi Dinas Sosial Pemuda dan Olah Raga(Dinsospora) Kota Semarang dengan pengadaan program rehabilitasi sosial. Program inimulai sejak tahun 2009, bekerja sama dengan lokalisasi Sunan Kuning atau yangsekarang berganti nama dengan sebutan Resosialisasi (Resos) Argorejo di Kota Semarangyang diketuai oleh Bapak Suwandi E.P. Rehabilitasi sosial yang diadakan di ResosialisasiArgorejo bekerja sama dengan Dinsospora Kota Semarang, Dinas Kesehatan KotaSemarang, Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, dan Bina Masyarakat KapolresKota Semarang. Subjek penelitian ini melibatkan lima orang narasumber yaitu tiga orangpendamping dan dua orang wanita pekerja seks. Tiga orang pendamping terdiri dariKetua Resosialisasi Argorejo Kota Semarang, pekerja lapangan (PL) dari LSM PKBIGriya ASA Kota Semarang dan Kepala Bidang Penyandang Masalah KesejahteraanSosial (PMKS) Dinsospora Kota Semarang. Ketiganya dengan latar belakang yangberbeda tetapi memiliki tujuan yang sama dalam program rehabilitasi sosial. Beberapateori yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya komunikasi persuasi, untukmengetahui proses dan strategi komunikasi yang terjadi antara pendamping dan WPSdalam pengambilan keputusan yang baru. Selain itu juga digunakan pendekatan insentif,Teori Respons Kognitif dan nilai ekspetansi untuk memahami pengaruh keuntunganmaksimal yang mempengaruhi sikap WPS dalam pengambilan keputusan.Rehabilitasi sosial berfungsi untuk melaksanakan proses memasyarakatkan kembalianggota masyarakat yang perilakunya tidak sesuai dengan harapan dari sebagian besarmasyarakat. Tujuan utama dari pengadaan pendampingan dan konseling ini adalahbagaimana pendamping dapat melakukan komunikasi persuasi yang efektif, sehinggadapat mengarahkan WPS kepada keputusan meninggalkan dunia prostitusi dan memilihpekerjaan yang lebih bermartabat. Tentunya dibutuhkan waktu dan tahapan dalammembimbing dan setiap keputusan tidak dapat dipaksakan kepada orang lain.Untuk itu, Pemerintah Kota Semarang mengadakan program rehabilitasi sosial, selainuntuk pengentasan masalah tuna sosial, juga dapat memberikan solusi dari kesenjangansosial yang muncul antara WPS dan masyarakat, akibat konsekuensi dari pekerjaan mereka.Program rehabilitasi sosial ini dilakukan secara bertahap dan dalam kurun waktu tiga tahundiharapkan WPS dapat meninggalkan dunia prostitusi serta kembali mematuhi norma dannilai yang berlaku di masyarakat. Tidak menutup kemungkinan proses rehabilitasi inimenemui hambatan.Komunikasi persuasi bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, dan perilakuseseorang yang menimbulkan perubahan. Dalam melaksanakannya pendamping berperansebagai komunikator yang mampu untuk melakukan komunikasi secara personal kepadasetiap individu dan lebih baik bila dilakukan secara tatap muka. WPS sebagai pihakpenerima pesan merupakan individu atau kelompok yang menjadi sasaran persuasi untukmengubah pendapat, sikap dan perilakunya. Sedangkan pesan merupakan pemberianpengertian. Setiap pesan yang disampaikan oleh pendamping dapat mempengaruhipengambilan keputusan pada WPS.B. ISIDengan menggunakan pendekatan interpretif untuk menganalisis fenomena yang ditelitiyang dipadu dengan self-disclosure theory, pendekatan insentif (Teori Respons Kognitifdan nilai ekspetansi) dan komunikasi persuasi. Tujuan penelitian adalah untuk memahamipengalaman komunikasi persuasi dan mengetahui kendala komunikasi yang munculdalam melakukan pendampingan itu sendiri. Karena tujuan interpretasi bukan untukmenemukan hukum yang mengatur kejadian-kejadian, tetapi berusaha mengungkapkancara-cara yang dilakukan orang dalam memahami pengalaman mereka sendiri.Paradigma interpretif kemudian dikombinasikan dengan pendekatanfenomenologis, yang sama-sama berusaha melihat realitas berdasarkan pengalamanindividu yang mengalami langsung pengalaman tersebut tanpa berusaha mengategorikanfenomena yang ada. Diharapkan dapat terjadi pemahaman terhadap cara-cara orangdalam memahami pengalaman mereka sendiri dan akhirnya menentukan realitaskeberadaan manusia yang merupakan inti dari paradigma interpretif.Dalam penelitian ini dapat dilihat bagaimana pendamping membangun kedekatandan keterbukaan terhadap WPS. Pendamping berasal dari latar belakang yangberbeda-beda, informan I merupakan pendamping dari pihak pengurus Resosialisasi(Resos) Argorejo sendiri. Kesibukan sebagai ketua yang membatasi informan I untukmelakukan pendekatan secara personal terhadap WPS. Untuk pertemuan antara informanI dengan WPS, dilakukan secara berkelompok dalam penyuluhan. Hal tersebut dilakukanoleh pengurus Resos Argorejo atau bawahan dari informan I yang telah dibentuk.Interaksi yang dilakukan tidak secara langsung, melainkan mengawasi melalui laporandari pengurus Resos Argorejo.Pendekatan oleh informan kedua, dilakukan dalam dua bentuk, komunikasiantarpribadi dan komunikasi dalam kelompok. Komunikasi antarpribadi dilakukan ketikapendamping menerima laporan kesehatan dari klinik Griya ASA, yang menjadi tempatcek kesehatan bagi WPS. Komunikasi kelompok dilakukan pada saat pelatihanketerampilan yang diadakan sekali dalam sebulan di Gedung Resos.Selanjutnya, informan yang ketiga berasal dari pihak pemerintah. Informan IIIditunjuk sebagai Kepala Bidang PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial) dalamDinsospora Kota Semarang. Awal pendekatannya hampir sama dengan informan I yangmelakukan pendekatan secara berkelompok, yakni dalam acara penyuluhan atau pelatihanyang dilakukan sekali dalam sebulan oleh Dinsospora Kota Semarang. Dapat diakuinya,dengan intensitas pertemuan yang jarang, sehingga beranggapan bahwa ia kurang dapatmengenal WPS secara individual.Dalam penelitian ini akan dilihat bagaimana komunikasi persuasi yang dilakukanoleh pendamping terhadap WPS. Kasus nyatanya adalah WPS yang memiliki harapanakan pemenuhan kebutuhan dan pemuasan dalam hal materi, yang berujung padapelanggaran nilai dan norma dalam masyarakat. Stigma yang diberikan oleh masyarakatsebagai akibat dari ketidakmampuan individu. Untuk mengembalikan kembali WPS kedalam masyarakat maka perlu dilakukan pendekatan secara persuasi yang mengajak WPSmemikirkan kembali tentang pekerjaannya.Pendekatan komunikasi yang efektif dilakukan dengan menyesuaikan pesan persuasiagar terkait dengan dasar motivasi setiap WPS. Hal ini disebabkan oleh karena lebih darisetengah WPS yang ada di Resos Argorejo memiliki latar belakang yang sama, yaknimasalah ekonomi dan berpendidikan rendah. Maka pendampingan dengan mengarahkanWPS pada pelatihan keterampilan dirasa sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh WPS.Pendamping mewajibkan bagi setiap WPS di Resos Argorejo untuk mengikuti programrehabilitasi sosial yang bertujuan untuk beralih pekerjaan.Pendamping dalam penelitian ini memiliki cara yang berbeda dalam melangsungkankomunikasi persuasi. Hubungan awal yang tercipta dalam komunikasi persuasi yangdilangsungkan oleh ketiga pendamping adalah 1) Ayah dan anak, 2) Teman dan teman, 3)Pemerintah dan masyarakat. Pertama hubungan ayah-anak terlihat dari informan I yangjuga sebagai Ketua Resosialisasi Argorejo. Dia cukup dihormati di kalangan WPS, olehsebab itu WPS menganggapnya sebagai ayah dan informan I juga menganggap WPSsebagai anaknya. Tetapi yang unik adalah walaupun ada anggapan informan I sebagaiayah, hubungannya dengan WPS tidak dekat secara personal. Lebih kepada bentukmenghormati, segan, dan patuh terhadap informan I. Dengan posisi yang cukup tinggi dikalangan Resosialisasi Argorejo membuat kesibukannya semakin padat. Sehingga dirinyakurang terlibat secara langsung dengan WPS. Walaupun begitu, dia tetap mengontrollewat pengurus Resos Argorejo dan mengajukan kegiatan baru yang berhubungan denganpendampingan WPS. Hubungan yang hampir sama juga ditunjukkan oleh informan IIIyang menempatkan dirinya pada bentuk hubungan pemerintah dan masyarakat.Pendampingan ini bertujuan untuk mengentaskan dan mengembalikan WPS padakewajibannya sebagai anggota masyarakat yang mematuhi nilai dan norma yang berlaku,yakni dengan pemberian pengajaran keahlian, penyuluhan dan kejar paket pendidikanbagi yang WPS yang membutuhkannya. Pendekatan yang dilakukan oleh informan I danIII merupakan pendekatan berbentuk kelompok. Hubungan yang lebih santai ditunjukkanoleh informan yang kedua. Menggunakan pendekatan sebagai seorang teman.Memberikan perhatian yang sederhana dengan menanyakan kabar dan berinteraksi secaralangsung membuat WPS merasa diperhatikan.Identifikasi diri WPS cukup berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan darikomunikasi persuasi yang disampaikan oleh pendamping. Tingkat ekonomi yang rendahadalah alasan yang paling banyak yang menjadi latar belakang pekerjaan mereka sebagaiWPS. Para WPS di Resos Argorejo rata-rata merupakan tulang punggung keluarga.Sebanyak 75% dari uang hasil bekerja diserahkan WPS kepada keluarga. Meningkatnyaprostitusi sejalan dengan terjadinya krisis ekonomi. Terdapat pula kekecewaan dariperceraian, dilihat dari jumlah persentase 44% WPS yang mayoritas bercerai. Selanjutnya,tingkat pendidikan yang rendah, hal ini dapat dilihat dari persentasi tingkat pendidikanWPS di Resos Argorejo yang hanya tamatan SD (Sekolah Dasar) yakni 52%. Sehinggahal ini mempersempit kesempatan untuk memperoleh pekerjaan dengan pendidikan yangrendah. Terdapat pula alasan lainnya yakni kepuasan secara seksual, kemarahan, dantrafficking yang menjadi latar belakang pekerjaan sebagai WPS.Informan IV dan V memiliki latar belakang yang sama yakni masalah materi,informan IV yang harus memenuhi kebutuhannya setelah bercerai dengan suami danmasih memiliki tanggung jawab untuk menyekolahkan anak. Sehingga informan IV danV terpaksa bekerja sebagai WPS. Mereka sadar akan tingkat pendidikan yang rendah dankurangnya keahlian mempersempit kesempatan mereka untuk bekerja di masyarakat.Sehingga, pilihan sebagai WPS dirasa dapat menjadi sumber penghasilan berkecukupantanpa membutuhkan ijasah dan pengalaman bekerja.Dengan pekerjaan mereka, kedua informan menyadari konsekuensi yang merekaterima selama menjalani pekerjaan sebagai WPS. Mereka harus pintar untukmenyembunyikan pekerjaan mereka dari keluarga dan masyarakat yang mengenal merekadi daerah asalnya. Mereka mengaku malu kalau sampai keluarga terdekat mengetahuipekerjaannya. Untuk itu mereka memilih tempat yang jauh dari keluarga, seperticontohnya informan IV berasal dari Jawa Timur sedangkan informan V berasal dariJepara. Selanjutnya harus pintar dalam menjaga diri, sebab tidak jarang dengan pekerjaanmereka, terdapat tamu yang bertindak sesuka hati. Usaha selanjutnya yang dilakukan olehWPS adalah berupaya untuk menjaga kesehatan tubuh agar tidak terkena penyakit danhal-hal merugikan lainnya.Penelitian ini menjelaskan bagaimana tanggapan WPS terhadap komunikasi persuasioleh pendamping dalam program rehabilitasi sosial. Informan IV mengakui bahwabanyak manfaat yang didapat dari program rehabilitasi sosial yang dijalaninya sejak 2011.Tetapi untuk mencari pekerjaan lain, dia berpendapat bahwa hal ini masih jauh darirencananya. Karena dia masih mengumpulkan modal untuk membangun usaha.Sedangkan hal yang sebaliknya didapatkan dari informan V yang sudah mulai berpikiruntuk mencari pekerjaan lain. Dengan keahliannya membuat keterampilan tangan dansudah mulai dipasarkan, membuatnya berpikir untuk keluar ari pekerjaannya sebagaiWPS. Ia juga ingin untuk menghasilkan uang secara halal dan berkumpul kembalibersama keluarga. Dirinya menyadari bahwa umur yang sudah melebihi 45 tahunmembuatnya berpikir untuk menekuni pekerjaan lain.Informan IV beranggapan bahwa pendamping yang mendampinginya cukup mampudalam mengajar atau menjadi pelatih. Dirinya akan sangat terbuka dengan pendampingkalau hanya seputar masalah pekerjaan dan program rehabilitasi sosial, tetapi biladitanyakan mengenai masalah pribadi, dirinya tidak dapat menceritakan kepadapendamping atau orang lain. Sedangkan oleh informan V, dirinya beranggapan bahwapendamping sudah cukup mampu untuk mengajar dan membimbingnya. Dirinya cukupdekat dengan pendamping dari PKBI Griya ASA Kota Semarang dibandingkan dengandua pendamping lainnya. Informan V beranggapan bahwa semua pendamping samabaiknya dan bentuk perhatian yang diterima juga sama rata bagi semua WPS.C. PENUTUPPenelitian ini merupakan studi yang mengkaji mengenai pengalaman komunikasi persuasipendamping dengan wanita pekerja seks dalam program rehabilitasi sosial padaResosialisasi Argorejo, Kota Semarang. Instrumen yang digunakan dalam studi ini adalahindepth interview, dengan mencoba menggali pengalaman narasumber dalammelangsungkan komunikasi persuasi dalam pendampingan pada program rehabilitasisosial, baik itu dalam penyuluhan maupun dalam pelatihan keterampilan untuk mencapaitujuan resosialisasi WPS.Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini antara lain, pendekatan oleh pendampingdilakukan dengan dua cara yakni pendekatan secara individual dan pendekatan dalamkelompok. Pendamping yang menggunakan pendekatan secara individual pada awalperkenalan dengan intensitas pertemuan yang tinggi mempengaruhi tingkat kedekatan,keterbukaan, dan kepercayaan yang semakin tinggi dari WPS terhadap pendamping,begitu pula sebaliknya. Selanjutnya dapat dilihat bahwa keberhasilan pendamping terletakpada ada atau tidaknya motivasi WPS untuk mencari pekerjaan lain dengan modalkeahlian yang diterima. Sedangkan, pengambilan keputusan untuk beralih pekerjaan tidakdapat dipaksakan oleh pihak manapun, baik dari lembaga atau pemerintah danmasyarakat. Kendala dalam proses komunikasi persuasi ini adalah kurangnya penanganansecara individual kepada WPS. Untuk ini dirasa perlu untuk melakukan dialog denganpemerintah atau elemen masyarakat lainnya, guna mencapai satu titik temu mengenai apayang sebenarnya dibutuhkan oleh WPS sehingga dapat memberantas prostitusi.Akan lebih baik bila pendekatan komunikasi persuasi dengan menyertakan buktinyata. Pendamping saat ini semuanya berasal dari elemen masyarakat dan pemerintah,akan lebih baik bila memang terdapat pendamping dengan latar belakang yang samadengan WPS sehingga terdapat perasaan senasib yang dapat menggerakkan WPS.Selanjutnya, ditemukan alasan lain yang muncul pada WPS pada saat pengambilankeputusan untuk meninggalkan pekerjaan sebagai WPS, yang pertama menjadi ibu rumahtangga dan faktor umur yang semakin tua.Pengalaman komunikasi persuasi pendamping dalam menyampaikan programrehabilitasi sosial ternyata lebih rumit. Pendekatan komunikasi antarpribadi denganmenciptakan hubungan yang terbuka sehingga menciptakan rasa kedekatan dankepercayaan. Pendekatan dengan komunikasi kelompok menggunakan TeoriPenstrukturan Adaptif, yang menyatakan bahwa aturan yang dibuat oleh kelompokberfungsi sebagai perilaku para anggotanya. Aturan yang ada akan membatasi individudalam berperilaku akan tetapi aturan yang sama dapat membuat individu memahami danmelakukan interaksi dengan orang lain.Dalam penelitian ini, penyampaian pesan untuk mempengaruhi WPS mengikutiprogram rehabilitasi sosial yang bertujuan pada resosialisasi atau memasyarakatkan WPSdengan beralih profesi tidak digunakan secara mendalam oleh pendamping. Pendekatanawal yang dilakukan sangat berpengaruh dalam proses pembentukan sikap. Dua dari tigaorang pendamping melakukan pendekatan awal secara kelompok dan dengan tingkatkedekatan yang rendah, sehingga dapat disimpulkan bahwa pendamping belum mampuuntuk membentuk motivasi pada WPS untuk beralih pekerjaan.Pendekatan insentif terhadap sikap dengan Teori Respon Kognitif dan pendekatannilai-ekspentasi. Teori ini kemudian mengasumsikan bahwa seseorang memberikanrespon terhadap suatu komunikasi dengan beberapa pikiran positif atau negatif dan bahwapikiran-pikiran ini sebaliknya menentukan apakah orang akan mengubah sikapnyasebagai akibat dari komunikasi atau tidak. Pada WPS, perubahan sikap untuk mengikutipesan dari komunikasi persuasi yang disampaikan oleh pendamping adalah denganmemperhitungkan keuntungannya. Bagi WPS bila sebagai wanita pekerja seks akanmemenuhi kebutuhannya dalam hal materi, maka hal ini akan menutupi nilai negatif yangtercipta dari pekerjaan mereka. Sehingga, WPS masih akan tetap melakukanpekerjaannya selama memiliki kesempatan dan menguntungkannya.Penelitian ini dapat memberi referensi bagi pendamping tentang pentingnyamencapai satu kesepakatan mengenai apa yang harus dilakukan oleh pendamping dan apayang sebenarnya dibutuhkan oleh WPS dalam mencapai realisasi beralih pekerjaan.Selain pesan yang disampaikan, sangat perlu menciptakan komunikasi antarpribadi yangbaik, dan perlu diperhitungkan kemampuan pendamping dalam menyampaikan pesan.Latar belakang ekonomi dan pendidikan yang rendah, serta kekecewaan (perceraian)merupakan alasan utama, sehingga hal ini dapat menjadi bahan untuk menyesuaikanpesan persuasi agar terkait dengan dasar motivasi setiap WPS dalam pemenuhan harapanmereka.Lebih jauh lagi penelitian ini dapat membawa pengaruh positif terhadap masyarakat.Masyarakat dapat lebih mengerti dan paham akan situasi dari WPS dan tidak hanya bisamemberikan stigma tetapi juga dapat membantu dalam meyakinkan WPS untuk beralihpekerjaan. Hal yang penting adalah agar tidak dengan secara paksa untuk menutuplokalisasi. Karena perubahan keputusan untuk beralih pekerjaan merupakan proses yangbertahap dan memerlukan waktu. Keputusan tersebut berasal dari dalam dirimasing-masing WPS untuk beralih pekerjaan, pilihan tersebut tidak dapat dipaksakan.DAFTAR PUSTAKAReferensi Buku :Denzin, Norman K & Yvonna S. Lincoln. (1994). Handbook of QualitativeResearch. California: Sage PublicationDevito, Joseph A. (1997). Human Communication (Edisi kelima). Jakarta:Profesional BooksGerungan, W, A. (2000). Psikologi Sosial (Edisi kedua). Bandung: RefikaAditamaFisher, Aubrey. (1986). Teori-Teori Komunikasi. Bandung: RemajaRosdakaryaGudykunst, B William. (2005). Theorizing About InterculturalCommunication. California: Sage PublicationLiliweri, Alo. 2003. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta: LKiSLiliweri, Alo. 2009. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta:Pustaka PelajarLittlejohn, Stephen W. (1999). Theories of Human Communication, SixthEdition. Belmont, California: Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. (2008). Theories of HumanCommunication. Thomson Wadsworth: USALittlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. (2009). Communication. SAGE: USAMartin, Judith N & Thomas K. Nakayama. (2003). InterculturalCommunication in Context. California: Mountain View: MayfieldMoran, Dermot. (2000). Introduction to Phenomenology. London: RoutledgeMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. ThousandOaks, California: Sage Publication Inc.Nimmo, Dan. (2000). Komunikasi Politik. Bandung: Remaja RosdakaryaSears, Freedman dan Peplau. (2006). Psikologi Sosial. Jakarta: ErlanggaSuranto. (2010). Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: Graha IlmuSuranto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha IlmuSeverin dan Tankard. (2005). Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan Terapandi Dalam Media Massa. Jakarta: KencanaUchjana, Onong. (2002). Dinamika Komunikasi. Bandung: RosdakaryaWest dan Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi. Jakarta: SalembaHumanikaZgourides, D. George & Christie S. Zgourides. (2000). Sociology. USA: IDGBooks WorldwideSkripsi / Laporan Penelitian :Irsyadina, Iffah (2007).“Komunikasi Persuasif Pendampingan dalam ProgramPendampingan Anak Jalanan” . Skripsi. Universitas DiponegoroSetiawan, YB (2007). "Memahami Komunikasi Kelompok Dalam Pendampingan KorbanKekerasan Berbasis Gender ". Skripsi. Universitas DiponegoroYunda, Nugraheni (2013). "Memahami Komunikasi Persuasif Kelompok DukunganSebaya (KDS) Smile Plus dalam Meyakinkan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)Bergabung untuk Menumbuhkan Kepercayaan Diri”. Skripsi. Universitas DiponegoroPeraturan Daerah Kabupaten Klaten No. 27 Tahun 2002 tentang Larangan Pelacuran,Pasal 1 angka 4Referensi Internet :Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga, Provinsi Jawa Tengah. (2012). Seksi PelayananRehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Narkobahttp://dinsos.jatengprov.go.id/index.php/yanrehsos/95-seksi-pelayanan-rehsos-tuna-sosial-korban-narkoba. Diakses pada tanggal 19 September 2012 pukul 09.17 WIB.Oktarini, Fitri. (2003). 129 Ribu Perempuan Indonesia Jadi pekerja Seks.http://www.tempo.co/read/news/2003/06/20/05520469/null, diakses 27 September 2012,pukul 14.30 WIBKomisi Nasional Perempuan. (2012). Perempuan dan Pemiskinan.http://www.komnasperempuan.or.id/pengetahuan_perempuan/perempuan-dan-pemiskinan/, diakses 27 September 2012 pukul 14.06 WIBKementrian pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.(2012). Situasi Eksplitasi Seks Komersial Anak di Semarang.http://www.gugustugastrafficking.org/index.php?option=com_content&view=article&id=651:jawa-tengah-situasi-eksploitasi-seks-komersial-anak-disemarang&catid=145:situasi-eska&Itemid=185, diakses 27 September 2012 pukul 14.50WIBKompasiana. (2012). Prostitusi dan Indonesiaku.http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/07/prostitusi-dan-indonesia-ku/, diakses tanggal 9Oktober 2012 pukul 15.30 WIBLandasan hukum dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 27(http://lib.unnes.ac.id/14214/ diakses tanggal 19 September 2012 pukul 08.32 WIB)Merdeka. (2012). Sunan Kuning Jadi Percontohan Lokalisasi sejak 2009.http://www.merdeka.com/peristiwa/sunan-kuning-jadi-percontohan-lokalisasi-sejak-2009.html diakses pada tanggal 15 Maret 2013, pukul 01.33 WIBRadar Bekasi. (2012) Apa Benar Motivasi PSK adalah Ekonomi?http://www.radar-bekasi.com/?p=33924, diakses 27 September 2012 pukul 13.42 WIBSuara Merdeka. (2008). Kondom 100 Persen untuk Resos Argorejo.http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/09/18/31264/Kondom.100.Persen.untuk.Resos.Argorejo diakses 15 Maret 2013, pukul 01.51 WIB
Title: Build Process of Adaptation to the New Environment in the Boys and Girls who Go Abroad Karina Devi Utami; Drs. Hj. Sri Widowati Herieningsih, MS
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.088 KB)

Abstract

Go abroad for the people in Indonesia is commonly done for a purpose. One of the causes is the education. When male students and female students decided to go abroad, a lot of things to deal with. They are experiencing cultural differences often become an obstacle that ultimately hinder them in the process of adaptation in the new environment. This study aims to determine how the process of building adaptations made by male and female students in the new environment with a culture different from his native residence. The method used is descriptive qualitative interpretive paradigm. This study uses a U-curve Theory of Adaptation, Communication Accommodation Theory and Uncertainty Reduction Theory as a research platform. Data collection techniques are depth interviews with six informants consisting of three male students and three female students informants who wander in Semarang. The results of this study indicate that: (1) Informants feel the cultural differences in language, speech, and habits which lead to the informant experiencing culture shock. (2) The biggest obstacle faced by the informant is language. In female students, another obstacle to be faced is the loneliness and the hassles of arranging for day-to-day while the barriers are not perceived by male students (3) In the adaptation of intercultural, informants faced with a situation of anxiety and uncertainty caused by differences in cultural background and lack of information held by the informant about the culture and customs in the new environment. (4) The difference in cultural background into a major cause of anxiety and uncertainty. In informants coming from Sumatra, Kalimantan and Jakarta speech with intonation hard or fast as commonly practiced in residence of origin actually become an obstacle when in Semarang predominantly spoke more slowly and softly (5) Informants do strategy in an effort to reduce anxiety and uncertainty among others with an active strategy, interactive strategy, and passive strategies. (6) All the informants accommodation in its communication in different ways. (7) There is a difference homesick phenomenon through which the male students and female students. At the male student informants felt homesick duration shorter than female student informant. (8) In the process of building adaptation, informants in a variety of ways in order to adjust and comfortable in new environments such as opening up, interaction, eliminate prejudice, stereotypes, ethnocentric, and encouragement through motivation. (9) The results of adaptation to the informer male students showed a level of comfort more than the adaptation of female student informants, for the student informant barriers they feel homesick slow to be tolerated. (10) The process of building adaptation informants showed diverse curve
MEMAHAMI PENGALAMAN BODY SHAMING PADA REMAJA PEREMPUAN Tri Fajariani Fauzia; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.218 KB)

Abstract

This research was motivated by the number of cases or the phenomenon of body shaming in society. There were 966 cases of physical insult or body shaming which is handled by the police from across Indonesia throughout 2018. A total of 347 cases were completed either through law enforcement or mediation approach between victims and perpetrators. The purpose of this research is to know and understand body shaming experienced by adolescent girls. The theory used in this research is the Theory of Socialized Anxiety and Theory of Social Phenomenology. Interpretive paradigm and data analysis technique refers to the method of Clark Moustakas phenomenology. Subjects were young women who have or are experiencing body shaming. The results of this study indicate that the body shaming behavior common to all informants since middle school age and tend to be done by a school friend. The intensity of body shaming tends to rise with age and the emerging awareness of the body and appearance. The shape of body shaming is dominated by color, shape and size of the body in the form of verbal communication and even some up in the form of physical violence. Kind of Body shaming Experienced, such informants got body shaming speech in a crowded place and gets a body shaming accompanied by physical violence. Even body shaming of a male friend or lover puts more stress on the informant, with comment form unattractive body or face. Body shaming pressure and bring shame that lowers body confidence. Informants be easily sensitive to a variety of things, such as in choosing clothes, refused an invitation to leave the house, until further closing and self-limiting. Informants in this study perform verification effort to avoid the body shaming back with body treatments, a program of diet, exercise, and learn makeup. Resistance of body shaming led to the concept of body positivity, but they still take measures changes in the body'seperti dress, Forming a good body, and sensitive on matters relating to the body. Experiencing body shaming and doing body-positivity may not be completed even though they can take the fight. When the informant has been doing body positivity did not rule out the possibility they feel insecurity on his back and make changes in order to prevent the occurrence of body shaming.
Strategi Komunikasi Pemasaran PT. New Ratna Motor di Wilayah Jawa Tengah dan DIY Dalam Mempertahankan Posisi Toyota Avanza Sebagai Market Leader di Kelas LMPV Tegar Tuanggana; Djoko Setiabudi; Agus Naryoso; Nuriyatul Lailiyah
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.739 KB)

Abstract

Perkembangan pasar di dunia otomotif semakin pesat. Banyaknya varian mobil yang ditawarkan kepada konsumen juga semakin beragam. Kondisi yang dialami oleh PT. New Ratna Motor saat ini adalah penjualan Toyota Avanza sedang mengalami gangguan akibat bermunculan produk-produk LMPV sejenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran PT. New Ratna Motor dalam mempertahankan posisi Toyota Avaza sebagai market leader di kelas LMPV. Penelitian tentang strategi komunikasi PT. New Ratna Motor menggunakan tipe penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan wawancara mendalam ( depth interview ) terhadap subjek yang diteliti.Hasil dari penelitian ini adalah, strategi komunikasi pemasaran yang dijalankan oleh PT. New Ratna Motor saat menghadapi kondisi saat ini adalah tidak menggunakan strategi yang berbeda dari strategi sebelumnya. Karena strategi komunikasi pemasaran yang sebelumnya dinilai masih efektif dalam mempertahankan posisi Toyota Avanza sebagai market leader di kelas LMPV untuk wilayah Jawa Tengah dan DIY.Kata Kunci : Strategi komunikasi pemasaran, taktik, market leader, IMC
The Role of Marketing Communications in Management of “Enjoy Semarang” Section in Tribun Jateng Website Arif Nurochman; Drs. Tandiyo Pradekso, M.Sc
Interaksi Online Vol 5, No 2: April 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.304 KB)

Abstract

With the development of technology, the public are increasingly choosing online media as the first reference when need any information. Every year the number of Internet users in Indonesia is always increase, reported by the WeAreSocial, number of active Internet users in Indonesia in 2016 amounted to 88.1 million. This makes online marketing opportunities in the future is very large and open wide. Tribun Jateng is one of mass media that converge to online media. We, as the team of the research study are working with the Tribun Jateng to manage one of its sections that focus on travel, is Enjoy Semarang. This sections very potential as the reference person reading the news and advertising medium, but because it is still new, it takes strategy and promotion to introduce this travel sections to the wider community. As a marketing communications of the research study are working with the Tribun Jateng, i conducted a strategy to raise awareness of the new channels through the off air events and also quiz on instagram and seek revenue through advertisements advertorials and social media advertising.
HUBUNGAN DAYA TARIK SPONSORSHIP DUA KELINCI DAN AFILIASI KELOMPOK DENGAN MINAT BELI MUHAMMAD ABDUSSHOMAD; Tandiyo Pradekso; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.613 KB)

Abstract

ABSTRACTTITLE : RELATIONS THE ATTRACTIVENESS SPONSORSHIPDUA KELINCI TO REAL MADRID AND AFFILIATEGROUP WITH INTEREST BUYNAME : MUHAMMAD ABDUSSHOMADNIM : D2C 007 057The research was motivated by the phenomenon of competition between DuaKelinci with Garuda in the category of branded products packaging peanuts. DuaKelinci chose Real Madrid sponsorship partner to raise brand awarness and itsbrand image as a product that is close to the football world and to be able tocontinue to compete with the market leader in Indonesia packing peanuts, Garuda.The population in this study are football lovers in the city of Semarang. Becausethere is no exact number of football lovers in the city of Semarang, the authordetermines its own number of samples to be taken in this research is as much as50 samples. The sampling technique used in this study was purposive sampling.Researchers using interviews with a research instrument in the form of aquestionnaire for data collection. Based on the research, the attraction sponsorshipDua Kelinci to Real Madrid has a positive relationship with the buying interest. Itis seen from the significance value of 0.001 which indicates that the relationshipbetween variables is significant with a correlation coefficient of 0.414. Whileaffiliate groups also have a positive relationship with the buying interest, as seenfrom the significance value of 0.003 which indicates that the relationship betweenvariables is significant with a correlation coefficient of 0.403. Based on researchcompanies need to utilize other marketing programs in addition to programsponsorship Dua Kelinci to Real Madrid in order to raise interest in purchasingthe prospective consumer audience. In addition, Dua Kelinci can benefit appealbesides the attractiveness of football clubs, for example utilizing the domesticappeal of celebrity is more familiar among the people of Indonesia compared toclub football abroad.Keywords: Affiliate Group, Dua Kelinci, Packaging Peanuts, Interests Buy, RealMadrid, SponsorshipHUBUNGAN DAYA TARIK SPONSORSHIP DUA KELINCI DANAFILIASI KELOMPOK DENGAN MINAT BELISalah satu program PR adalah pemberian sponsor (sponsorship) padabeberapa kegiatan. Sponsorship atau pemberian sponsor adalah dukunganfinansial untuk suatu acara, kegiatan, subyek, lembaga, atau bahkan individu yangdianggap memang pantas untuk menerimanya. Sponsorship merupakan pemberiandukungan keuangan atau bentuk-bentuk dukungan lainnya kepada pihak penerimaagar keuangan si penerima tetap lancar dan menjadi lebih kokoh. (Jefkins:1997:170). Pemberian sponsor atau sponsorship menjadi salah satu program yangpaling banyak dipilih karena dukungan massa yang cukup kuat dalam sebuahacara ataupun kegiatan. Pensponsoran bisa jadi merupakan salah satu bentukpengiklanan ataupun menjadi bagian dari pemasaran, akan tetapi bisa jugamenjadi taktik PR. Kegiatan yang cukup banyak menerima sponsorship saat iniadalah olahraga. Hampir setiap kegiatan olahraga mendapat dukungan finansialyang cukup besar. Hal ini disebabkan semakin merakyatnya kegiatan olahragasehingga pemberian sponsor ini merupakan salah satu cara terbaik dalammenjangkau pasar konsumen secara massal. Dengan besarnya kegiatan peliputanmedia setiap kegiatan olahraga maka peliputan untuk pihak penyedia sponsor jugasemakin besar. Contoh dari kegiatan olahraga yang mendapatkan sponsorshipantara lain adalah Djarum Indonesia Open (Badminton), Djarum Indonesia SuperLeague (Sepakbola), Sampoerna Proliga (Voli), Biskuat Tiger Cup (Sepakbola),dan Pocari Sweat Futsal (Futsal).“Dua Kelinci Official Sponsor Real Madrid Presents: IndonesiaMenggiring Bola”, atau yang kemudian lebih popular disebut Dua Kelinci –Indonesia Menggiring Bola, merupakan event sponsorship awal dari Dua Kelincisebagai official launching sponsor tersebut. Tujuan program ini tentu saja sejalandengan objektif yang telah ditetapkan. Dua Kelinci ingin membentuk brandawareness serta brand image sebagai produk yang identik dengan sepakbola.Dengan menggandeng Real Madrid, diharapkan terbentuk citra di masyararakatdan diketahui secara luas bahwa Dua Kelinci adalah official sponsor klub itu.Kalau melihat data “Indonesian Consumer Profile 2008”, Kacang Garudamasih kokoh menjadi jawara, alias sebagai market leader di antara berbagaimerek kompetitornya, dengan perolehan market share sangat fantastis yaitu88,7%. Menyusul di belakangnya adalah rival abadinya, yaitu Dua Kelinci(10,1%), yang sama-sama ber-home base di Pati Jawa Tengah. Berikutnya adalahkacang merek Kaya King (0,6%), lalu merek Gajah (0,1%), Merpati (0,1%), danIyes (0,1%), serta merek-merek lainnya di bawah 0,1%. Sedangkan menurut dataTop Brand Index yang dilakukan oleh Frontier Consulting Group untuk kategorikacang bermerek (2011), Kacang Garuda menduduki peringkat pertama dengan65.6% Top Brand Index, disusul oleh Dua Kelinci 13%, Sukro 5,9 %, Katom 2,5%, Mayasi 2 %, Iyes 1,5 %, Kayaking 1,3 %, dan Gajah 1,1 %. Dalam persepektifsurvei, mind share terbentuk dari top of mind (TOM), yakni merek yang pertamakali muncul di benak konsumen saat berbicara tentang kategori tertentu.Sedangkan market share dapat diketahui dengan pendekatan last usage.Penggunaan last usage memang tidak bisa mencerminkan market share secaratepat, namun demikian ukuran yang sederhana ini mampu mengindikasikanbesarnya market share suatu produk. Sementara commitment share merupakancerminan dari keinginan konsumen untuk memilih suatu merek di masamendatang (future intention). (Marketing 02/IX/Februari 2009: 51-52) Dalamkaitannya dengan minat beli produk, daya tarik sponsorship yang dilakukan olehDua Kelinci ini bertujuan membentuk brand awareness serta brand imagesebagai produk yang identik dengan sepakbola. Dengan adanya programsponsorship itu, akan jadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesiaterutama pendukung tim Real Madrid. Efek dari program ini akan mempengaruhiminat beli produk Dua Kelinci, terlebih pendukung Real Madrid. Mereka akanberanggapan bahwa membeli produk Dua Kelinci secara tidak langsung akanmembantu keuangan klub Real Madrid. Mereka yang bukan pendukung RealMadrid juga akan bangga dengan program ini karena ada perusahaan Indonesiayang mampu menjadi sponsor resmi salah satu klub terbesar di Dunia danberujung kepada perubahan pandangan, sikap maupun perilaku terhadap DuaKelinci. Mereka yang pada awalnya apatis, bisa jadi akan berminat membeliproduk ini setelah menjadi sponsor resmi Real Madrid. Sedangkan kaitan afiliasikelompok dengan minat beli, bahwa minat beli produk dipengaruhi banyak hal.Baik dari faktor internal maupun eksternal konsumen. Dari faktor eksternal salahsatunya adalah afiliasi mereka terhadap sebuah kelompok tertentu. Perilaku darikelompok itu dapat merubah pendapat maupun perilaku dari mereka yangberafiliasi terhadapnya. Jadi, dengan Real Madrid menerima sponsor dari DuaKelinci, hal itu akan mempengaruhi minat beli produk bagi mereka yangberafiliasi dengan Real Madrid.Untuk menumbuhkan minat beli dan akhirnya melakukan keputusanpembelian pada diri konsumen tidaklah mudah. Banyak faktor yangmempengaruhinya, baik faktor internal atau dari dalam diri konsumen maupunpengaruh eksternal yaitu rangsangan yang dilakukan perusahaan. Dalam aktivitaspemasaran, komunikasi merupakan bagian yang penting dan sentral. Keberhasilanpemasaran sangat bergantung pada keberhasilan komunikasi itu sendiri didalamnya. Melalui kegiatan komunikasi pemasarannya untuk mendapatkanpelanggan baru maupun mempertahankan pelanggan lama, PT Dua Kelincimelakukan terobosan besar dengan menjadi sponsor resmi klub sepakbolaSpanyol, Real Madrid. Survey Top Brand dari tahun 2009 hingga 2011 padakategori kacang bermerek, Top Brand Index (TBI) Dua Kelinci naik turun padatiap tahunnya. Pada saat ini, TBI tahun 2011 menurun dibandingkan dengan tahun2010. Hal ini dapat dilihat pada gambar 1-1.Tabel 1.1Top Brand Index (TBI) Dua Kelinci Tahun 2009-2011Survey 2009 Survey 2010 Survey 201117,9 % 26,0 % 13,0 %Berdasarkan survey Top Brand diatas dapat dilihat bahwa TBI DuaKelinci naik turun. Jika dilihat pada tahun 2011 TBI mengalami penurunandibandingkan tahun 2010, sebelum Dua Kelinci menjadi sponsor resmi RealMadrid. TBI berdasarkan parameter, yaitu merek yang paling diingat (top ofmind), merek yang terakhir dibeli atau dikonsumsi (last used), serta merek yangakan dipilih lagi di masa mendatang (future intention). Hal tersebut menunjukkanbahwa index merek menurun di mata konsumen.Strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan PT Dua Kelinci denganmenjadi sponsor resmi Real Madrid belum mampu membuat Top Brand merekamengalahkan market leader kacang bermerek selama ini yakni Kacang Garuda.Justru ketika mereka menjadi sponsor resmi Real Madrid, Top Brand merekamenurun drastis dibandingkan sebelum menjadi sponsor Real Madrid.Salah satu yang dapat mempengaruhi dalam menumbuhkan minat belikonsumen adalah faktor sosial seperti kelompok kecil, keluarga, peran, dan statussosial dari konsumen. Faktor-faktor ini sangat mempengaruhi tanggapankonsumen. Oleh kerena itu, pemasar harus benar-benar memperhitungkannyauntuk menyusun strategi pemasaran. Perilaku seseorang dipengaruhi banyakkelompok kecil. Afiliasi mereka dalam kelompok itu dapat mempengaruhi pilihanproduk dan merek yang akan dipilih olehnya. Dari uraian tersebut maka pokokpermasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah adakah hubungandaya tarik sponsorship Dua Kelinci ke Real Madrid dan afiliasi kelompok denganminat beli produk?Pada beberapa penelitian sebelumnya, aspek yang diteliti masih seputardaya tarik celebrity endorser atau daya tarik iklan dan kelompok acuan yangdihubungkan dengan minat beli konsumen. Dalam penelitian ini lebih membahaspada daya tarik sponsorship dan afiliasi kelompok dengan minat beli produk. Duavariabel dalam penelitian ini yakni daya tarik sponsorship dan afiliasi kelompokacuan menjadi pembeda dengan variabel-variabel dalam penelitian sebelum ini.Sedangkan variabel minat beli tergolong umum dimasukkan dalam penelitiansebelum ini. Teori yang dipakai dalam penelitian ini sama dengan penelitiansebelumnya yang berjudul Hubungan Daya Tarik Iklan Animasi dan Sikap Merekdengan Minat Beli Produk Molto Ultra yakni teori Integrasi Informasi.Perbedaannya terletak pada alasan penggunaan teori tersebut. Dalam penelitian initeori tersebut digunakan untuk mengetahui bagaimana daya tarik sponsorshipyang merupakan informasi berpotensi untuk mempengaruhi sikap seseorang dandigabungkan dengan afiliasi terhadap suatu pengaruh yang besar bagi komunikan.Sedangkan pada penelitian sebelumnya adalah informasi dari daya tarik iklan danpandangan positif terhadap suatu merek berpotensi mempengaruhi sikapseseorang.Teori yang menjelaskan keterkaitan aspek daya tarik sponsorship danminat beli adalah Teori Integrasi Informasi (Information Integration Theory).Teori ini merupakan teori tentang pengorganisasian informasi yang dikemukakanoleh Martin Feishbein. Teori ini berasumsi bahwa organisasi mengakumulasikandan mengorganisasikan informasi yang diperolehnya tentang sekelompok orang,objek, situasi atau ide-ide untuk membentuk sikap yang sesuai dengan konsepyang terbentuk dari hasil penerimaan informasi tersebut. (Littlejohn, 2002:234-240).Sedangkan teori yang berkaitan dengan afiliasi dengan minat beli adalahcognitive learning theory. Teori ini menjelaskan situasi dalam mana konsumenhendak memecahkan suatu masalah atau memenuhi kebutuhan menuntuk merekamembentu sikap (entah positif atau negatif) terhadap produk berdasarkaninformasi yang diperoleh, dipadu dengan pengetahuan dan keyakinan mereka.Pada umumnya, semakin banyak informasi yang diperoleh, semakin besarkemungkinan seseorang membentuk sikap. Namun, konsumen tidak selalumencari semua informasi yang berhubungan dengan produk. konsumen biasanyahanya memperhatikan informasi yang disukai atau dipahaminya. Konsekuensinya,para pemasar tidak perlu menjelaskan semua informasi yang terkait denganproduk, cukup memilih beberapa informasi kunci yang membedakan produknyadari produk pesaing. (Simamora. 2004:185).Dalam penelitian ini dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Dayatarik Sponsorship (X1) mempunyai hubungan positif dengan minat beli (Y).Artinya semakin kuat daya tarik sponsorship Dua Kelinci ke Real Madrid, makaakan semakin tinggi minat beli produk. Serta afiliasi Kelompok (X2) mempunyaihubungan positif dengan minat beli (Y). Artinya semakin kuat afiliasi, maka akansemakin tinggi minat beli produk.Karena tak ada ada jumlah pasti pecinta sepakbola di kota Semarang makapenulis menentukan sendiri jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian iniadalah sebanyak 50 sampel. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalampenelitian ini adalah purposive sampling. Peneliti menggunakan metodewawancara dengan instrument penelitian berupa kuesioner untuk pengambilandata. Berdasarkan hasil penelitian, daya tarik sponsorship Dua Kelinci ke RealMadrid mempunyai hubungan positif dengan minat beli. Hal tersebut terlihat darinilai signifikansinya yaitu sebesar 0,001 yang menunjukkan bahwa hubunganantar variabel sangat signifikan dengan koefisien korelasinya sebesar 0,414.Sedangkan afiliasi kelompok juga memiliki hubungan positif dengan minat beli,hal ini terlihat dari nilai signifikansinya yaitu sebesar 0,003 yang menunjukkanbahwa hubungan antar variabel sangat signifikan dengan koefisien korelasinyasebesar 0,403. Berdasarkan penelitian perusahaan harus memanfaatkan programpemasaran yang lain selain program sponsorship Dua Kelinci ke Real Madridguna memunculkan minat beli pada khalayak calon konsumen. Selain itu jugaDua Kelinci dapat memanfaatkan daya tarik selain daya tarik dari klub sepakbola,misalnya memanfaatkan daya tarik selebriti dalam negeri yang lebih familiar dikalangan masyarakat Indonesia dibandingkan dengan klub sepakbola luar negeriDAFTAR PUSTAKABukuAltsiel, Tom dan Jean Grow. 2006. Advertising Strategy: Creativity tacticsfrom the outside/in. New Delhi: Sage Publication India.As’ad, Moh, 1998. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty.Assael, Henry. 1998. Consumer Behaviour and Marketing Action. 6thEdition. Boston: Wadsworth IncChaplin, JP. 2002. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajawali Press.Ferrinadewi, Erna. 2008. Merek & Psikologi Konsumen Implikasi PadaStrategi Pemasaran. Yogyakarta: Graha Ilmu.Jefkins, Frank. 1997. Periklanan. Jakarta : ErlanggaKartajaya, Hermawan. 2003. Marketing In Venus. Jakarta: PT GramediaPustakaKasali, Rhenald. 1995. Manajemen Periklanan, Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kitchen, Philip J. 1998. Marketing Communications: Principles andPractice. London: Cengage Learning EMEAKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta:Kencana Prenada Media GroupKoswara, Endang. Teori-teori Kepribadian. Jakarta: Refika AditamaKotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Prehallinda.Laksana, Fajar. 2008. Manajemen Pemasaran:Pendekatan Praktis.Yogyakarta: Graha IlmuLittlejohn, Stephen W. 2002. Theories of Human Communications. NewYork: Wadsworth.Percy, Larry dan Rossiter, J.R. 1997. Advertising Communication andPromotion Management. New York: McGraw HillPrasetijo, Dra. Ristiyanti dan MBA Prof. John J.O.I Ihalauw, Ph.D. 2004.Perilaku Konsumen. Yogyakarta: penerbit ANDISchiffman, Leon G dan Leslie Lazar Kanuk. 2004. Perilaku Konsumen.Edisi Ke-7. Jakarta: PT Indeks.Shimp, Terrence A. 2003. Periklanan Promosi Dan Aspek TambahanKomunikasi Terpadu. Edisi ke-5. Jakarta : Erlangga.Simamora, Bilson. 2000. Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta: PTGramedia Pustaka Utama.Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 2011. Metode Penelitian Survai.Jakarta: Penerbit Pustaka LP3ES IndonesiaSugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, R&D.Bandung: AlfabetaSutisna, 2003. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung:PT Remaja RosdakaryaTjiptono, Fandy. 2005. Brand Managemet & Strategi. Yogyakarta: ANDI.Tjiptono, Fandy dan Santoso Singgih. 2001, Riset Pemasaran: Konsepdan. Aplikasi dengan SPSS. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.WebsiteAnonim, 2009. Top Brand Index 2009. (http://www.topbrandaward.com/top-brand-survey/survey-result/top-brand-result-2009,diakses tanggal 12 Februari 2012)Anonim, 2010. Top Brand Index 2010. (http://www.topbrandaward.com/top-brand-survey/survey-result/top-brand-result-2010,diakses tanggal 12 Februari 2012)Anonim, 2011. Top Brand Index 2011. (http://www.topbrandaward.com/top-brand-survey/survey-result/top-brand-result-2011,diakses tanggal 12 Februari 2012)Bigman, Dan, 2011, Most Valuable Soccer,(http://www.forbes.com/2011/04/20/most-valuable-soccer, diaksestanggal 7 Januari 2013)Dua Kelinci, 2012, About Us, (http://www.dk-peanuts.com/in/aboutus.html, diakses tanggal 9 Desember 2012)Dua Kelinci, 2012, Dua Kelinci as Official Partner Real Madrid inIndonesia, (http://id.dk-peanuts.com/en/about-us/news/dua-kelincias-official-partner-for-real-madrid-in-indonesia.html, diaksestanggal 12 Februari 2012)
Persepsi Khalayak tentang Aksi Demonstrasi FPI di Surat Kabar Suara Merdeka Anike Puspita Yunita; Joyo NS Gono; Lintang Ratri Rahmiaji; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.563 KB)

Abstract

Pascareformasi, demonstrasi marak terjadi di berbagai daerah di tanah air.Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh anggota Front Pembela Islam (FPI)rupanya memiliki daya tarik tersendiri bagi media massa untuk mengangkatnyamenjadi berita. Suara Merdeka merupakan salah satu media cetak yang menulisdemonstrasi FPI dalam pemberitaannya. Akan tetapi, Suara Merdekamengidentikkan demonstrasi yang dilakukan oleh anggota FPI dengan tindakananarkis dan selalu berujung dengan bentrokan pada berita yang dihasilkannya.Kata-kata bentrokan, kericuhan, keributan, perusakan, dan kemacetan hampirselalu ada dalam berita demonstrasi FPI di Suara Merdeka.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana persepsikhalayak tentang aksi demonstrasi FPI di surat kabar Suara Merdeka. Tipepenelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis resepsi.Dalam analisis resepsi, khalayak dipandang sebagai produser makna, tidak hanyamenjadi konsumen media. Khalayak akan menerima berita demonstrasi FPI yangdibacanya sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, dan pengetahuan mereka.Penelitian ini juga menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall, untukmenjelaskan jalannya proses encoding dan decoding berita-berita aksi demonstrasiFPI.Hasil penelitian menunjukkan bahwa khalayak aktif dalammenginterpretasi berita demonstrasi FPI yang diterimanya. Interpretasi khalayakterbagi dalam tiga posisi pemaknaan: dominant-hegemonic position, negotiatedposition, dan oppositional position. Khalayak yang masuk dalam dominanthegemonicposition, memaknai demonstrasi FPI identik dengan tindakan anarkisdi dalamnya. Khalayak tersebut memaknai demonstrasi FPI sesuai dengan maknadominan yang dihadirkan Suara Merdeka. Sementara khalayak dengan negotiatedposition, akan menerima makna dominan yang ada, tetapi mereka memilikipemaknaan alternatif dimana ada campur tangan pihak lain atau pemerintah dalamdemonstrasi FPI. Kemudian tidak ada khalayak yang berada pada posisi oposisi.Hal ini dilihat dari kecenderungan pemberitaan yang seragam.Temuan lain dari penelitian ini yaitu tidak ada korelasi antara perbedaanagama dengan pemaknaan khalayak terhadap berita aksi demonstrasi FPI.

Page 83 of 157 | Total Record : 1563