cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 514 Documents
KAJIAN PEMBANGUNAN KAWASAN TERTINGGAL DI KABUPATEN GROBOGAN Eva Artmey Mangedaby; Agung Sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.082 KB)

Abstract

Kawasan tertingggal adalah suatu kawasan permukiman penduduk dengan segala kegiatan sosial, budaya dan ekonominya yang terletak baik dikawasan buddidaya maupun dikawasan lindung dengan tingkat pertumbuhan atau perkembangan suatu aspek kehidupannya lebih rendah atau tertinggal dibandingkan kawasan permukiman lainnya. Kabupaten Grobogan merupakan Kabupaten Dati II Jawa Tengah yang secara konstelatif berdekatan dengan jalur regional dimana hal itu didukung dengan potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Grobogan. Permasalahan yang dimiliki yaitu kondisi aksesbilitas, ketersediaan sarana prasarana, serta perluasan kesempatan kerja. Sedangkan tujuan dari penelitian ini untuk memberikan rekomendasi arahan pembangunan yang ada di Kabupaten Grobogan dan sasaran yang ingin dicapai adalah teridentifikasinya aksesbilitas, ketersediaan sarana dan prasarana, kesempatan perluasan kerja serta perumusan arahan pengembangan yang ada di Kabupaten Grobogan dengan cara mereview kebijakan-kebijakan yang sudah ada. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut maka dalam penelitian ini digunakan metode kuantitatif dengan pendekatan penelitian kuantitatif. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif yang meliputi analisis aksesilitas, analisis sarana prasarana, analisis kesempatan kerja serta analisis kebijakan. Hasil dari penelitian ini adalah arahan rekomendasi untuk pemerintah, masyarakat, dan swasta untuk mengetaskan kawasan tertinggal yang ada di Kabupaten Grobogan. Dengan rekomendasi ini diharapkan Kabupaten Grobogan tidak lagi menjadi kawasan tertinggal 
Startegi Pengelolaan Persampahan di Kecamatan Colomadu Satyarsa Wienuri; Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1025.351 KB)

Abstract

Growing population have caused increasing waste production. Waste problem is not only faced by large cities, but small ones are going to be, one of them is Colomadu District. Colomadu separated geographically but still one of Karanganyar’s administrative region, this condition is called exclave. Exclave caused waste problems because high production did not pursued by carrying intensity. The research purpose is to make solid waste management strategy with two phase of plan making, research and planning. Research phase aims to identify existing problems with observation, questionnaire, and interview. Planning is purposed to make strategies that consist of process flow and activities in each process. Researcher involved society and government suggestions through depth interviews. There are four characteristics of waste management in Colomadu. Waste to Recource concept focus in adding mangement points.
POLA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PERIKANAN WILAYAH PESISIR KECAMATAN BONANG KABUPATEN DEMAK Elizabeth Fatimatul Hajar; Samsul Ma’rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.981 KB)

Abstract

Kecamatan Bonang merupakan salah satu wilayah pesisir Kabupaten Demak terdapat empat desa pesisir yaitu Desa Purworejo, Desa Margolinduk, Desa Morodemak, dan Desa Betahwalang. Potensi 4 Desa sebagai wilayah pesisir sangat didominasi hasil perikanan yang sangat melimpah namun, berdasarkan data BPS dalam angka tahun 2011 Kecamatan Bonang memiliki jumlah rumah tangga miskin cukup besar. Tujuan dalam penelitian ini adalah merumuskan pola agribisnis perikanan sebagai strategi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di wilayah pesisir Kecamatan Bonang. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan melakukan analisis deskriptif dan analisis frekuensi untuk menganalisis potensi agribisnis perikanan. Analisis hierarchi cluster untuk mengelompokkan klasifikasi wilayah sesuai dengan tipologi karakteristik potensi pengembangan agribisnis perikanan. Analisis multidimensional scalling untuk memetakan tipologi wilayah sesuai karakteristik potensi agribisnis perikanan. Temuan studi yang didapatkan dari penelitian ini adalah pola pengembangan agribisnis perikanan wilayah pesisir Kecamatan Bonang dimana Desa Betahwalang dan Desa Morodemak menjadi desa input produksi penyedia peralatan penangkapan dan bibit ikan tambak. Desa Betahwalang, Desa Margolinduk, Desa Morodemak dan Desa Purworejo memiliki potensi pada kegiatan perikanan tangkap dan kegiatan budidaya (tambak). Pada kegiatan pengolahan ada tiga wilayah pusat pengolahan yaitu sentra pengolahan rajungan kupas di Desa Betahwalang, sentra pengolahan ikan asin dan udang rebon di Desa Purworejo, dan sentra pengolahan kerupuk dan terasi di Desa Margolinduk. Hasil pengolahan pada masing-masing sentra wilayah ini nantinya bisa dijual langsung dari 2 Desa yaitu Desa Margolinduk dan Desa Purworejo yang secara eksisting dekat dengan akses jalan lokal utama selain itu Desa Purworejo juga menjadi pusat aktivitas perikanan karena terdapat TPI Morodemak.
EVALUASI KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA PERMUKIMAN DI KELURAHAN BANDARJO KABUPATEN SEMARANG Dina Puspita; Djoko Suwandono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.554 KB)

Abstract

Perkembangan suatu kota, diiringi pula dengan peningkatan aktivitas masyarakatnya. Peningkatan aktivitas masyarakat menimbulkan perubahan-perubahan fisik lingkungan yang secara tidak sadar dapat meningkatkan permasalahan yang ada di perkotaan. Salah satu permasalahan yang dapat timbul adalah masalah permukiman. Permukiman yang baik, dapat dilihat dari sarana dan prasarana yang ada, dan pemerintah telah menerbitkan peraturan standar sarana dan prasarana permukiman. Di Indonesia kita dapat dengan mudah menemukan permukiman yang tidak atau kurang  layak. Salah satu dari permukiman tersebut adalah permukiman Bandarjo, yang memiliki bentuk yang cukup berantakan serta kotor. Melalui kondisi tersebut kita dapat mengobservasi mengenai ketersediaan sarana dan prasarana berdasar standar yaitu menggunakan Peraturan Kementrian Sarana dan Prasarana no 534/2001 mengenai standar pelayanan minimum serata menggunakan persepsi penghuni. Berdasarkan hal tersebut maka dapat ditentukan apakah prasarana (jalan, drainase, sanitasi, air bersih dan persampahan) dan sarana (pendidikan, kesehatan, perdagangan, sosial budaya dan ruang terbuka hijau) di permukiman Kelurahan Bandarjo telah memadai atau tidak. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, maka tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan analisis karakteristik sosial ekonomi, analisis ketersediaan sarana prasarana berdasarkan standar dan analisis sarana prasarana berdasarkan persepsi penghuni. Adapun metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, penyebaran kuisioner, dan telaah dokumen. Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah tingkat ketersediaan sarana prasarana di Kelurahan Bandarjo yang telah memadai kecuali persampahan dan ruang terbuka hijau.
Kajian Risiko Banjir Di Kabupaten Pati Berbasis Sistem Informasi Geografis Muhammad Rofiq Andhesta; Sri Rahayu
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1877.966 KB)

Abstract

Pati Regency is a city where almost every year, hit by the floods. Pati regency, whose land is mostly lowland regions have sunken to the flat topography is particularly vulnerable site affected by the flooding. Therefore, research by identifying the level of flood risk in Pati regency. In this study conducted with a quantitative approach, using the scoring method, overlay, weighting and descriptive analysis. Regional analysis of vulnerability to floods, flood vulnerability analysis region is determined by three variables: physical vulnerability, the vulnerability of social, economic vulnerability, the vulnerability of the environment.According to the results of processing and classification of risk maps using GIS (Geographic Information System) that in Pati District there are 181 village or sub-district 21 that indicated an impact of flooding. If you look at the results of the total area of the village affected by flooding risk in Pati District has a total area of 47.038 hectares with flooding risk classification level high up to very high.If seen in the results table which classified the risk that there are villages and districts that have to be followed-up for flood mitigation response efforts, villages and districts are District of Kayen, Kayen village with an area of very high risk classification and with an area of 1.221. 2million polygon risk 506 ha, Tegalombo Village, Dukuhseti Subdistrict with area high flood risk level classification 660.050 and with an area of polygons that affect the risk area of 1.012 ha.In the flood disaster risk assessment efforts in Pati District serves as the basis for developing a policy in this flood disaster management. This created a policy that would later become the basis for flood disaster management plans. In order government risk assessments that have been made are as a base, in making an action to be performed in the field in collaboration with stakeholders or the communities in disaster risk reduction.
HUBUNGAN KEMAMPUAN MASYARAKAT TERHADAP KEMAMPUAN KOMPOSISI KDB DAN KDH DI PERUMAHAN PURI DINAR MAS SEMARANG Ayu Anisa Febriana Sanoerman; Mussadun Mussadun
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.578 KB)

Abstract

Penggunaan lahan bermacam-macam fungsi salah satunya merupakan penggunaan lahan sebagai perumahan atau tempat tinggal masyarakat. Perumahan merupakan kebutuhan dasar (basic needs) bagi manusia disamping pangan dan sandang. Perumahan mempunyai fungsi sangat penting yang tidak hanya dilihat sebagai sarana kehidupan semata, tapi perumahan juga merupakan suatu proses bermukim. Perumahan sudah merupakan kebutuhan tersendiri yang diinginkan berbagai kalangan atau kelas masyarakat. Agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang pembangunan perumahan masyarakat, diperlukan perumahan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat. Pembeli di perumahan membeli rumah dengan tipe dan harga yang dipilihnya sesuai kemampuan ekonomi dimiliknya. Awang Firdaos (1997) menjelaskan bahwa permintaan rumah dipengaruhi oleh faktor-faktor diantaranya adalah lokasi, pertumbuhan penduduk, pendapatan, kemudahan pendanaan, fasilitas, dan sarana umum. Dari segi pendapatan perekonomian masyarakat sangat penting dalam memiliki suatu rumah. Hal ini dikarenakan bahwa dalam mendapatkan rumah yang terletak di perkotaan besar sangat sulit untuk masyarakat yang memiliki pendapatan rendah. Pertimbangaan lingkungan dan lokasi yang ada, masyarakat dengan tingkat pendapatan yang rendah akan memilih perumahan yang menawarkan perumahan yang sesuai pendapatan tersebut. Berbeda dengan masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi dengan mudah mereka. Intesitas pemanfaatan lahan merupakan komponen penting dalam penataan suatu bangunan di suatu lahan yang direncanakan. Masyarakat lebih tertarik dengan harga yang memikat dan fasilitas yang disediakan. Intensitas pemanfaatan lahan diperlukan di setiap rumah karena merupakan unsur penting dalam mendirikan rumah. Para penghuni Perumahan Puri Dinar Mas Semarang merupakan masyarakat yang beragam, karena memiliki mata pencaharian dan tingkat sosial yang berbeda-beda. Dalam waktu yang akan datang kebutuhan ruang dalam hunian pasti akan terus meningkat, seperti merekonstruksikan ulang rumah mereka dan lain-lain. Berdasarkan uraian penjelasan diatas dapat ditarik menjadi pertanyaan penelitian (research questions) yaitu Bagaimana hubungan kemampuan masyarakat penghuni RW 16 Perumahan Puri Dinar Mas dalam penentuan komposisi KDB dan KDH di rumahnya? analisis cross tab untuk menganalisa pengaruh komposisi KDB dan KDH dengan kemampuan masyarakat dan dengan menggunakan analisis kuantitatif untuk memperkuat analisis yang dilakukan selama penelitian berlangsung. 
KAJIAN AKTIVITAS KOMERSIAL TERKAIT DENGAN HARGA LAHAN DI KORIDOR JALAN PAHLAWAN REVOLUSI JAKARTA TIMUR Abdul Baari; Ragil Haryanto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.6 KB)

Abstract

Lahan merupakan suatu daerah di permukaan bumi yang ciri -cirinya mencakup semua pengenal yang bersifat cukup mantab dan dapat diduga berdasarkan daur dari biosfer, tanah, air, populasi manusia pada masa lampau dan masa kini sepanjang berpengaruh atas penggunaan lahan pada masa kini dan masa yang akan datan. Oleh karena lahan tidak dapat di perbaharui itu menjadikan harga lahan meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu aktifitas manusia yang berpengaruh terhadap penggunaan dan harga lahan yaitu  adanya kegiatan yang dapat menghasilkan finansial (bisnis)bagi manusia itu sendiri atau yang biasa disebut dengan komersial. Dari tahun ke tahun perkembangan aktivitas komersial sangat pesat, ditandai dengan maraknya pembangunan ruko maupun rukan di pinggir jalan utama dimana banyaknya  penduduk yang memanfaatkan jalan utama untuk melakukan aktifitasnya yang memicu kehadiran kegiatan komersial di sekitar jalan utama tersebut. Adanya aktivitas komersial itu pula menyebabkan penyimpangan peruntukan penggunaan lahan sehingga berimplikasi pada naiknya harga lahan yang tinggi. Berdasarkan justifikasi tersebut, muncul pertanyaan penelitian, “Bagaimana dampak aktivitas komersial terhadap penawaran harga pasar dan penetapan njop lahan di koridor Jalan Pahlawan Revolusi?” Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut, maka alur penelitian perlu difokuskan pada fenomena perkembangan harga lahan yang terjadi seiring dengan perkembangan aktivitas komersial, baik dilihat dari nilai NJOP lahan maupun dari kesepakatan agen properti untuk penetapan harga lahan di koridor Jalan Pahlawan Revolusi. Pergerakan perkembangan perkotaan jakarta yang menggurita dari pusat ke timur menyebabkan perkembangan lahan di wilayah timur menjadi berubah semakin cepat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji pengaruh aktivitas komersial terhadap penawaran harga pasar dan penetapan nilai jual objek pajak (NJOP) lahan di koridor jalan pahlawan revolusi,  pondok bambu, Jakarta Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif keluaran dari analisis meliputi karakteristik lahan pada wilayah studi, kegunaan terbaik dan tertinggi lahan dan kajian keterkaitan penawaran harga pasar dan penetapan njop terhadap aktivitas komersial di koridor Jalan Pahlawan Revolusi. Selain itu diharapkan hasil analisis dapat digunakan untuk menyusun rekomendasi terkait dengan hasil penelitian.
PEMBANGUNAN MODEL KERUANGAN UNTUK IDENTIFIKASI KAWASAN RAWAN EROSI DI WILAYAH PESISIR (STUDI KASUS: KABUPATEN KULON PROGO) Rakyan Paksi Nagara; Imam Buchori
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 4 (2013): November 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1340.691 KB)

Abstract

Erosi dapat menyebabkan degradasi lingkungan yang merugikan antara lain penurunan kesuburan tanah yang dapat mengurangi produktifitas, bencana kekeringan dan tanah longsor dan kekeringan. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Kulon Progo, seluas 26.093,395 ha atau 45,48% merupakan kawasan rawan kekeringan dan terdapat lebih dari 306 kk yang mengalami kasus kekeringan pada tahun 2012. Sedangkan untuk bencana tanah longsor, seluas 15.726,40 ha atau 27,40% merupakan kawasan rawan longsor dan terjadi 166 kali kasus tanah longsor pada tahun 2012. Dengan adanya latar belakang tersebut, maka studi ini akan membuat mitigasi bencana yang dapat memprediksi persebaran kawasan rawan erosi dengan menggunakan pemodelan. Model yang dikembangkan adalah model matematis RUSLE yang dibuat ke dalam bentuk spasial, dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis. Model tersebut menghasilkan nilai laju erosi pada Kabupaten Kulon Progo adalah 0,456-200,825 ton/ha/tahun. Nilai tersebut terbagi menjadi empat tingkat kerawanan yaitu sangat ringan, ringan, sedang, dan berat. Seluas 36.784,804 ha atau 64,11% merupakan kawasan dengan tingkat erosi ringan dan seluas 1,440 atau 0,0025% merupakan kawasan dengan tingkat erosi berat. Kemudian dilakukan validasi model melalui survey lapangan, dengan hasil kevalidan 89,47%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa permodelan cukup baik dalam menghitung besarnya laju erosi secara spasial. Untuk pengembangan kedepannya perlu adanya updating data seperti data penggunaan lahan yang sifatnya dinamis. Selain itu, penggunaan data DEM dengan perkembangan teknologi yang baru memiliki tingkat resolusi lebih tajam dapat menunjukkan data kelerengan yang lebih detail untuk kedepannya.         
KAJIAN KARAKTERISTIK KAWASAN PEMUKIMAN KUMUH DI KAMPUNG KOTA (Studi Kasus: Kampung Gandekan Semarang) Raisya Nursyahbani; Bitta Pigawati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.648 KB)

Abstract

Kemunculan kampung kota merupakan fenomena yang banyak terjadi terutama di negara-negara berkembang dan sebenarnya adalah sebuah bentuk asli dari kota-kota di Indonesia. Disisi lain, dalam kampung kota yang padat juga terdapat berbagai masalah yang selanjutnya dapat menyebabkan munculnya pemukiman kumuh dalam kampung kota tersebut (Budihardjo, 1997). Sehubungan dengan hal tersebut, kondisi yang terjadi di Kampung Gandekan memiliki permasalahan yang menarik untuk dijadikan sebagai obyek penelitian karena memiliki keunikan tersendiri sebagai salah satu Kampung Kota yang memiliki keterkaitan dengan sejarah kota Semarang, namun disisi lain saat ini tengah menghadapi berbagai permasalahan baik secara sosial, ekonomi dan budaya maupun yang terkait dengan kemunculan kawasan kumuh didalamnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik kawasan pemukiman kumuh yang terdapat  di Kampung Gandekan Semarang beserta tingkat kekumuhannya. Hasil analisis dari kajian terhadap karakteristik kawasan permukiman kumuh di Kampung Gandekan diketahui bahwa karakteristik pemukiman kumuh yang terdapat di Kampung Gandekan ini, dari karakteristik penghuninya adalah merupakan warga campuran antara pribumi dengan etnis Tionghoa yang sebagian besar memiliki tingkat pendidikan dan penghasilan ekonomi yang masih rendah, dari karakteristik huniannya sebagian besar masih tergolong jenis hunian yang belum layak huni, dari karakteristik sarana prasarana terutama untuk kepentingan privat masih belum memadai sedangkan dari karakteristik lingkungannya diketahui bahwa kondisi lingkungan didalamnya cenderung tidak teratur dan masih belum memenuhi standar kebutuhan pemukiman seperti tidak adanya keberadaan ruang terbuka hijau maupun non hijau yang dapat digunakan untuk kegiatan aktifitas bersama.  Adapun hasil dari analisis tingkat kekumuhannya, Kampung Gandekan memiliki kategori yang terbagi menjadi dua jenis tipologi tingkat kekumuhan yakni tingkat kumuh sedang dan tingkat kumuh rendah.
ANALISIS KARAKTERISTIK SPBU DI KAWASAN CEPAT BERKEMBANG KOTA SEMARANG BAGIAN SELATAN Awan Ariseto Moelyanto; Imam Buchori
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 1, No 1 (2012): November 2012
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1386.52 KB)

Abstract

At recent days, the growth of motor vehicle is equal to the growth of public activities and the growth of area. It increases the needs of fuel, so that it increasing number of gas station in Semarang to the remote area. Remote area of Semarang, especially in Tembalang subdistrict and Banyumanik subdistrict, has been developed significantly because there are some interests such as comfortable settlement, ideal business area, crowded activities area (education centre, settlement, trading area and service system area) and existense of space.The growth of Tembalang subdistrict and Banyumanik subdistrict is followed by the growth of supporting public facilities such as stores, hospital, post office, gas station, etc. The purpose of this research is to identify characteristic and knowing the range area for spreading gas station services toward the consumer in research area. This research is done through character knowledge of gas station location in arterial setyabudi street in Banyumanik subdistrict and tembalang street in Tembalang subdistrict and latter by knowing the consumer spreading of its gas station.This research applied quantitative approach and collecting primary data method through the interview,in field observation, spreading questionaires and collecting secondary data from instantion. The result of this research is comaparative character of each gas station location along arterial Setiabudi street in Banyumanik subdistrict and tembalang street in Tembalang subdsitrict. The result of this research is highly hoped to given some consideration in evaluating the gas station location through effectivity and improper of gas station location toward consumer’s need, so that there will be optimalization of those ga stations or the gas station new set.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue