cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 514 Documents
Pengaruh Keberadaan Desa Wisata Tanon Kecamatan Getasan terhadap Ekonomi Masyarakat Lokal dan Guna Lahan Puspita Ristiyana; Mohammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.326 KB)

Abstract

Tanon Tourism Village is located in Dusun Tanon, Ngrawan Village, Getasan District, is one of the developing tourist villages in Semarang Regency. The Tanon Tourism Village was pioneered in 2009 and began to be formalized in 2012 as an embryo of a tourism village in Ngrawan Village. The development of the tourism village which has occurred for more than 10 years has influenced the physical and non-physical aspects of the village. The influence on physical aspects for example is the change in land, while the influence on non-physical aspects for example, on the economy of the community. So, this study aims to determine the effect of the presence of Tanon Tourism Village on the economy and land use. The method used is quantitative by using descriptive statistics and image analysis methods. Through the research results, it is known that its influence on the economic aspects is to encourage the desire to try, create employment opportunities, namely the creation of various jobs related to tourism village activities, as well as increasing the income earned every month. While the effect on land changes is a change in land use and land to meet the demand of accommodations and supporting facilities for tourism activities.
Dampak Aktivitas Ekowisata di Pulau Karimunjawa Berdasarkan Persepsi Masyarakat Akhsanul Ni’am Laksono; Mussadun Mussadun
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.012 KB)

Abstract

Keindahan pantai di Pulau Karimunjawa memiliki daya tarik bagi para turis domsetik maupun mancanegara. Jumlah wisatawan yang datang semakin meningkat. Penambahan jumlah wisatawan itu menguntungkan masyarakat Karimunjawa. Lapangan kerja terbuka luas dan pendapatan masyarakat bertambah. Namun hal ini berdampak negatif pada terumbu karang dan padang lamun yang terus rusak. Penelitian ini melihat dampak terhadap sumberdaya alam, sosial budaya, ekonomi serta kelembagaannya dengan adanya kegiatan pariwisata menurut persepsi masyarakat yang tinggal di sana. Penelitian ini mengindentifikasi karakteristik sumberdaya alam, sosial budaya, ekonomi, dan kelembagaan, kemudian mengidentifikasi jenis pariwisata yang ada di Pulau Karimunjawa. Dari kedua hal tersebut menghasilkan analisis dampak aktifitas wisata terhadap sumberdaya alam, sosial budaya, ekonomi, dan kelembagaan di Pulau Karimunjawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Dengan melakukan wawancara menggunakan teknik snowball hingga jawaban dari pertanyaan itu berulang dan mengalami kejenuhan. Untuk teknik pengumpulan datanya menggunakan triangulasi, yaitu mengkompilasi hasil observasi, wawancara, dan dari data sekunder baik dari hasil penelitian sebelumnya atau berdasarkan data dari instansi. Pariwisata ini menyebabkan kerusakan pada terumbu karang dan lamun. Menurut penelitian pada tahun 2010 terumbu karang pada tahun 1991 mencapai 459,952 ha dan pada tahun 2009 mengalami penurunan hingga  mencapai 338,408 ha. Pada padang lamun pada tahun 1991 mencapai 198,675 ha dan pada tahun 2009 hanya 162,805 ha. Pada sisi perekonomian masyarakat pun meningkat karena mereka menambah profesi mereka. Selain nelayan mereka juga menjadi penyedia jasa wisata. Namun ada pergeseran sopan santun dengan adanya turis asing yang datang. Dengan adanya pariwisata muncul banyak paguyuban yang membantu BTNK dalam mengontrol wisatawan. Dari hasil penelitian yang ada, didapatkan rekomendasi kepada pemerintah agar memperhatikan kegiatan pariwisata, apabila tidak ada perhatian yang serius dari pemerintah justru dapat menjadi pariwisata yang tidak berkelanjutan. Selain itu kepada masyarakat harus lebih dapat menjaga lingkungannya sendiri. Bila masyarakat tidak menjaga hal tersebut, maka masyarakat dapat menikamati dari sisi ekonomi hanya sesaat saja.
KETERKAITAN AKTIVITAS INDUSTRI DI KLASTER INDUSTRI BATIK BAYAT KABUPATEN KLATEN Avinda Dyah N; Prihadi Nugroho
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1029.056 KB)

Abstract

The existence of business clusters can strengthen the resilience of the economy which mainly rely on existing potential. In 2006, industry and trade sector dominated by SMEs at 99% and approximately 30% of the population of SMEs in Indonesia are in Central Java. One of Klaten district, known as the dominance of small industrial activity. The flagship product of Klaten in 2013 is one industrial clusters batik. Industrial cluster is one of the small industry that has become the main economic commodities in Bayat, Klaten. Batik has been a source employement for the majority of people in Bayat, Klaten. Batik as local economic development able to create an ascsociation with related business like entrepreneur/batik craftsmen, supplier of raw materials, and buyer. The linkage will certainly have an impact on the business dependence. The dependence of batik craftsmen on suppliers of raw materials and the buyer mat ant any time be a time bomb for enterpreneurs/craftsmen batik. Moreover, in its development obstacles in the cluster development such as marketing and promotion. The lack of an extensive marketing campaign and resulted in many employers/batik craftsmen who rely showroom and cooperative. The weakness of mutual trust between employers/batik craftsmen in the sharing information is also an obstacle in the development of clusters. Lack of government’s role related to the flow production such as capital, marketing, and information sharing is one of the constraints in the batik industry cluster development. Constraints such activity causes the linkage of economic activity, social activity, horizontal, and vertical disturbed. This is certainly going to disrupt the continuity of batik industry cluster in Klaten. Results from this research that form of activity linkages Cluster Batik Bayat can be divided into three categories, namely new batik industry, heritage batik industry, and government-owned industries. Form of horizontal and vertikal linkages occur at variable raw material procurement, information sharing, market demand, and marketing. The highest form of horizontal linkages contained in the government-owned industries and vertical linkages form the dependence of business which at times can be reduced by buyer and suppliers of raw materials.
KAJIAN KUALITAS PERMUKIMAN DENGAN CITRA QUICKBIRD DAN SIG DI KECAMATAN SERENGAN KOTA SURAKARTA Wahyu Tirto Prasetyo; Sri Rahayu
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.353 KB)

Abstract

Masalah permukiman di Indonesia, terutama untuk wilayah perkotaan, disebabkan karena besarnya jumlah penduduk dan perkembangan penduduk secara pesat. Sebagaimana negara -negara yang sedang berkembang. Permasalahan utama yang terjadi di kota ini adalah masalah permukiman manusia, yang pada umumnya disebabkan karena semakin meningkatnya jumlah penduduk. Salah satu wilayah yang terkena dampak tersebut adalah Kecamatan Serengan, Kota Surakarta. Perkembangan Kecamatan Serengan ini kian pesat menjadikan kawasan ini memiliki permukiman yang sangat padat dan memiliki kompleksitas masalah permukiman. Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana kualitas permukiman di Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, metode yang digunakan adalah skoring dan overlay berdasarkan 11 parameter kualitas permukiman, menggunakan software GIS. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa luas wilayah yang berkondisi baik 80,67 Ha menyebar hampir di seluruh Kelurahan yang ada di Kecamatan Serengan kecuali untuk Kelurahan Joyontakan. Kondisi sedang 100,71 Ha berada di Kelurahan Tipes, Serengan, dan Joyontakan, sedangkan yang berkondisi buruk 40,67 Ha berada disebagian Kelurahan Joyontakan.
PENYEDIAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DITINJAU DARI PREFERENSI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KABUPATEN KUDUS Zulinar Irfiyanti; Widjonarko .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263 KB)

Abstract

Rusunawa merupakan salah satu program nasional untuk mengatasi permasalahan permukiman kumuh dan liar. Salah satu pembangunan rusunawa berada di Kabupaten Kudus, tepatnya di Desa Bakalan Krapyak. Rusunawa ditujukan bagi MBR yang belum memiliki hunian tetap, bertempat tinggal di permukiman kumuh dan liar. Rusunawa terdiri dari 4 blok yaitu blok A, B, C dan D. Blok A dan B sudah dihuni 81% yang artinya sudah dimanfaatkan oleh MBR secara optimal. Namun blok C dan D belum dapat dioperasikan karena belum adanya MBR yang mendaftar sebagai penghuni rusunawa. Permasalahan inilah yang mendasari penelitian tugas akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi MBR dan faktor yang mempengaruhi preferensi MBR dalam pemanfaatan rusunawa. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, teknik pembobotan dengan menggunakan skala likert dan analisis crosstab. Hasil dari penelitian adalah menunjukkan bahwa minat MBR di Kabupaten Kudus dalam pemanfaatan rusunawa adalah rendah yaitu 26%. Rendahnya minat MBR terhadap rusunawa dikarenakan rusunawa dinilai tidak nyaman, tidak aman, tidak dapat dijadikan sebagai hak milik, harga sewa yang dinilai mahal, fasilitas yang kurang memadai dan hunian MBR saat ini lebih nyaman bila dibandingkan dengan rusunawa. Faktor sosial, ekonomi, budaya masyarakat dan kondisi lingkungan hunian dan rusunawa juga berpengaruh terhadap rusunawa. dari keempat aspek tersebut maka dapat diketahui bahwa faktor yang berpengaruh terhadap preferensi MBR dalam pemanfaatan rusunawa adalah permanensi bangunan, tingkat kenyamanan hunian, usia MBR dan jenis pekerjaan MBR. MBR sebenarnya berminat untuk tinggal di rumah susun namun bukan dengan sistem sewa melainkan sistem milik. Dengan menggunakan sistem hak milik maka MBR merasa lebih aman dalam hal kepemilikan terhadap rumah susun tersebut.
Efektivitas Mekanisme dan Prosedur Pembangunan Wilayah Terpadu sebagai Penghubung Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan Kota Surakarta Yustinus Rimas Pramundarto; Samsul Ma'rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1514.236 KB)

Abstract

National Development Planning System and Spatial Planning System are two types of planning system prevailing in Indonesia. The planning system essentially has a plan that is aspasial and spatial. Integration between the Development Plan and Spatial Plan for the challenges ahead in the framework of integrity of the effectiveness and efficiency of government administration. One was conducted by the Ministry of the Interior to make a guide that aims to bridge the two domains of the planning system through Pembangunan Wilayah Terpadu (Integrated Regional Development) which is regulated by the Regulation of the Minister of Interior of the Republic of Indonesia Number 72 Year 2013. The main focus in this study aims to assess how effective the mechanisms and procedures Integrated Regional Development Surakarta as an instrument that connects the Development Plan and Spatial Plan using qualitative methods in studying these objectives. Secondary data were obtained from Surakarta City Government planning documents such as RPJMD, RKP, RTRW, RDTR, and PWT. Efforts to bridge between SPPN with SPR needs to be done in order to create the integration of governance in order to realize the sustainable development of Surakarta.
POLA KONSUMSI AIR BERSIH PADA RUMAH KOST DI KAWASAN PENDIDIKAN TINGGI TEMBALANG Wahyu Indriastuti; Widjonarko Widjonarko
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.787 KB)

Abstract

Perkembangan Kawasan Pendidikan Tinggi Tembalang yang diiringi dengan peningkatan jumlah mahasiswa berdampak pada peningkatan jumlah rumah kost dengan berbagai tipe yaitu sederhana, menengah, dan mewah. Selain itu, peningkatan jumlah penduduk juga secara langsung berpengaruh pada peningkatan kebutuhan air bersih sebagai infrastruktur vital bagi kehidupan manusia. Namun, permasalahan yang terjadi adalah kesenjangan antara tingkat kebutuhan air bersih yang tinggi dengan terbatasnya pelayanan air bersih dari PDAM. Hal ini kemudian mendorong masyarakat termasuk pengelola rumah kost untuk menyediakan air bersih secara individu. Kebiasaan konsumsi atau pemakaian air bersih pada masyarakat lokal dan cara mereka untuk beradaptasi dengan fasilitas penyedia air berdasarkan pemakaian air yang dilakukan kemudian membentuk suatu pola konsumsi air bersih (Andey dan Kelkar, 2008). Untuk itu, tujuan penelitian ini adalah menganalisis pola konsumsi air bersih pada rumah kost baik kost tipe sederhana, menengah, maupun mewah di Kawasan Pendidikan Tinggi Tembalang berdasarkan tingkat konsumsi, sistem aktivitas, dan sistem penyediaan air bersih. Adapun variabel penelitian yang digunakan adalah tingkat konsumsi air bersih per kapita, jumlah konsumen, volume konsumsi, jenis dan fluktuasi pemakaian air bersih, serta sistem penyediaan air bersih (sumber air, pengolahan dan penampungan air, serta dari aspek pembiayaan) dengan metode kuantitatif melalui analisis crosstab dan deskriptif. Dari hasil penelitian diketahui adanya variasi pola konsumsi air bersih pada masing-masing rumah kost yang ditandai dengan perbedaan tingkat konsumsi air per kapita. Urutan rata-rata tingkat konsumsi air per kapita dari yang tertinggi hingga terendah adalah kost mewah sekitar 123,45 liter/orang/hari, kost sederhana sekitar 120,52 liter/ orang/hari dan kost menengah sekitar 115,86 liter/ orang/hari. Faktor yang secara signifikan berpengaruh terhadap tingkat konsumsi per kapita adalah gender dan hari maksimum konsumsi air serta jumlah penghuni dan volume konsumsi air bersih pada tiap rumah kost. Dari kesimpulan hasil analisis dapat diketahui bahwa pola konsumsi air bersih pada rumah kost memiliki karakteristik yang berbeda dengan domestik ditinjau dari tingkat konsumsi per kapita dan faktor yang mempengaruhi pola konsumsi tersebut. Temuan studi yang diperoleh adalah adanya indikasi peningkatan konsumsi air bersih yang terus meningkat seiring perkembangan kampus di Tembalang. Namun, di satu sisi hal tersebut tidak diimbangi dengan penyediaan air dari PDAM sehingga berimplikasi pada upaya masyarakat dalam pemanfaatan air tanah. Tingkat pengeboran air tanah yang cukup tinggi jika dikaitkan dengan sistem sanitasi yang bersifat individu, kurang terintegrasi dengan bangunan di sekitarnya, serta masih bercampur dengan saluran drainase dapat memberikan suatu ancaman terhadap bahaya lingkungan seperti meningkatnya volume saluran drainase, pencemaran air sungai dan pencemaran sumber air tanah dangkal. Dalam hal ini rumah kost yang paling berpotensi mendapatkan ancaman pencemaran air tanah dangkal adalah kost sederhana. Untuk itu, perlu adanya pengaturan mengenai sistem air bersih yang baik.
PENGARUH PARIWISATA TERHADAP KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PADA KAWASAN OBJEK WISATA CANDI BOROBUDUR KABUPATEN MAGELANG Rudi Biantoro; Samsul Ma’rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.192 KB)

Abstract

Aktivitas pariwisata merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam upaya pembangunan dan pengembangan wilayah dengan berkontribusi terhadap pendapatan suatu daerah. Salah satu wilayah yang berkembang karena kontribusi dari sektor pariwisatanya adalah Kebupaten Magelang, Jawa Tengah. Keberadaan kawasan wisata Candi Borobudur yang berskala internasional memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan masyarakat yang ada di sekitarnya. Sebagai salah satu objek wisata budaya, Candi Borobudur banyak dikunjungi wisatawan karena keunikan budaya yang terdapat di lingkungan masyarakatnya. Hal tersebut mendorong munculnya aktivitas lain sebagai pendukung aktivitas pariwisata. Ditandai dengan semakin bertumbuhnya aktivitas perdagangan dan jasa di kawasan wisata Candi Borobudur, karakterisitik pengunjung ysng bersifat heterogen membawa pengaruh terhadap perubahan karakteristik sosial masyarakat yang tinggal di kawasan wisata Candi Borobudur. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh keberadaan aktivitas pariwisata Candi Borobudur terhadap karakteristik sosial ekonomi masyarakat yang ada di sekitarnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik purposive sampling dengan sampel yang di pilih adalah masyarakat desa borobudur yang berada dan bekerja di dalam kawasan wisata candi borobudur. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa terdapat perubahan guna lahan dan karakteristik sosial ekonomi masyarakat sebagai pengaruh dari aktifitas pariwisata di objek wisata Candi Borobudur. Perubahan guna lahan yang terjadi antara tahun 2004-2013 di kawasan wisata Candi Borobudur yaitu berubahnya lahan kosong menjadi lahan terbangun. Lahan terbangun tersebut diantaranya museum kapal, hotel, perdagangan jasa dan permukiman. Untuk perubahan karakteristik sosial, terjadi penurunan partisipasi masyarakat terhadap kegiatan sosial yang ada di lingkungannya. Sedangkan untuk perubahan karakteristik ekonomi terlihat dari meningkatnya pendapatan masyarakat yang bekerja di dalam kawasan wisata Candi Borobudur. Jadi dapat simpulkan bahwa dengan adanya pariwisata candi borobudur memberikan pengaruh terhadap karakteristik sosial ekonomi  masyarakat. Diperlukan upaya pelestarian kegiatan sosial seperti pengajian, upacara adat. Selain itu koordinasi antara pemerintah dan masyarakat perlu ditingkatkan.
Potensi dan Tantangan Pengembangan Kawasan Kota Lama Semarang sebagai Destinasi Wisata dengan Pendekatan Smart Tourism Noval Pinasthika; Wisnu Pradoto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.383 KB)

Abstract

Semarang City Old Town is one of the tourist icon of Semarang City. The interesting thing about the Old Town area of Semarang is the historic building which makes it dubbed as one of the World Heritage City. But the city of Semarang tourism is considered still less attractive than the city of Solo or Yogyakarta. At the same time, Semarang City won an award from Indonesia Smart Nation Award (ISNA) in 2015 with the smart city's highest index. Implementation of the concept of integrated smart city in Semarang City will certainly encourage the Old City of Semarang to apply the concept of intelligent tourism. This study aims to determine the potential and challenges of the concept of intelligent tourism applied in the Old Town area of Semarang. The method used is descriptive quantitative with the analysis technique of Service Quality and Importance Performance Analysis (IPA). The results of this study indicate that the Old Town area of Semarang still has many challenges because of the 13 important elements of smart tourism The Old City area of Semarang only has 5 elements. The elements are those that have not yet optimal performance levels.
PENGARUH KEBERADAAN INDUSTRI GULA BLORA TERHADAP PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN, SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN DI DESA TINAPAN DAN DESA KEDUNGWUNGU Yuliana Nur Fatikawati; Mohammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1054.93 KB)

Abstract

Industri merupakan salah satu strategi dalam pengembangan wilayah yang mampu meningkatkan perekonomian suatu wilayah. Pembangunan industri akan berpengaruh pada semua aspek dalam pengembangan wilayah, seperti fisik, sosial ekonomi, dan lingkungan, seperti halnya dengan industri gula Blora PT.GMM. Keberadaan industri gula blora akan meningkatkan perekonomian wilayah, karena mampu menyerap banyak tenaga kerja dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Akan tetapi, di sisi lain industri gula dapat menyebabkan gangguan terhadap lingkungan seperti bau yang tidak sedap dan kebisingan. Selain itu, keberadaan industri gula akan mengubah penggunaan lahan yang ada, sehingga jika tidak direncanakan dengan baik maka tidak menutup kemungkinan permukiman akan semakin padat dan terjadi perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan fungsinya. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian yang bertujuan untuk mengkaji apa pengaruh keberadaan industri gula Blora terhadap terhadap perubahan penggunaaan lahan, sosial ekonomi masyarakat, dan lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan analisis statistik deskriptif dan analisis interpretasi citra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan industri gula blora berpengaruh pada perubahan penggunaan lahan di wilayah sekitar yaitu di Desa Tinapan dan Kedungwungu. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi adalah perubahan lahan non terbangun menjadi lahan terbangun yaitu dari lahan pekarangan/kampung menjadi industri, warung makan, dan kos. Selain itu, perubahan penggunaan lahan yang terjadi adalah perubahan fungsi lahan dari lahan permukiman menjadi kos. Keberadaan industri gula blora berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terlihat dari perluasan kesempatan kerja pada tahap kontruksi/pembangunan hingga tahap operasional. Perluasan kesempatan kerja yang terjadi adalah adanya penciptaan kesempatan kerja serta terjadinya pergeseran pekerjaan pokok maupun pekerjaan sampingan pada kelompok responden buruh bangunan, karyawan industri, pemilik kos, pemilik warung makan, dan petani tebu. Adanya perluasan kesempatan kerja akan berpengaruh pada perubahan tingkat pendapatan yang diterima oleh masyarakat. Perubahan tingkat pendapatan tersebut berpengaruh pada keinginan masyarakat untuk terus memperbaiki kondisi rumah menjadi lebih baik. Keberadaan industri gula blora berpengaruh negatif dan positif pada lingkungan. Pengaruh negatif industri gula adalah terjadinya pencemaran udara (bau dan bising). Bau yang ditimbulkan oleh industri menganggu kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan mual, pusing dan batuk. Kebisingan menganggu aktivitas masyarakat seperti tidur, ibadah, dan bersantai. Pengaruh positif dari industri gula blora adalah limbah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar baik limbah padat maupun limbah cair. Limbah industri dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber irigasi pada musim kemarau, tetes untuk penggemuk sapi, serta ampas untuk pupuk organik.  

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue