cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 514 Documents
KINERJA PELAKSANAAN PNPM PARIWISATA DALAM UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN DI DESA WISATA KEMBANGARUM DAN DESA WISATA PENTINGSARI KABUPATEN SLEMAN Ninik Wahyuning Tyas; Asnawi .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.001 KB)

Abstract

Kemiskinan merupakan permasalahan klasik yang telah ada sejak dahulu. Di Indonesia sendiri,kemiskinan masih menjadi fenomena yang belum dapat dipungkiri. Fenomena kemiskinan ini pun juga dialamiKabupaten Sleman sebagai salah satu kabupaten yang termasuk dalam Provinsi Daerah Istimewa Yogyakartayang memiliki potensi pariwisata yang cukup beragam. Salah satu obyek wisata yang saat ini berkembang pesatdi Sleman adalah desa wisata. Dari 34 desa wisata yang terdapat di Sleman, terdapat dua desa yangberkembang pesat, yaitu dengan Desa Wisata Kembangarum dan Desa Wisata Pentingsari. Sementara itu,pemerintah telah mencanangkan PNPM Pariwisata yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan melaluiadanya desa wisata. Oleh karena itu, tentunya diperlukan kajian mengenai kinerja PNPM Pariwisata dalammengentaskan kemiskinan melalui pelaksanaan program desa wisata. Hal ini menjadi topik yang menarik untukdilakukan penelitian, sehingga memunculkan pertanyaan penelitian “Bagaimana kinerja pelaksanaan PNPMPariwisata dalam upaya pengentasan kemiskinan di Desa Wisata Kembangarum dan Desa Wisata PentingsariKabupaten Sleman?”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif sehingga data yang didapatkanberasal dari kuesioner dengan menggunakan teknik sampling simple random sampling. Hasil penelitian iniberupa identifikasi program kegiatan PNPM Pariwisata, identifikasi keterlibatan masyarakat,identifikasikarakteristik masyarakat yang terlibat serta evaluasi mengenai kinerja pelaksanaan PNPM Pariwisata.
Identifikasi Daerah Rawan Longsor Berbasis SIG di Kecamatan Sumowono Kareza Ahmad; Imam Buchori
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.833 KB)

Abstract

One of the natural disasters that often occur in hilly areas is landslides. Landslides can occur due to the movement of masses of land, rocks, the intensity of very high rainfall, and many other factors, and have the potential to damage the environment by causing various losses. Sumowono District is one of the vulnerable areas to landslides in Kabupaten Semarang, which is located in highland and mountainous areas with the soil condition that are quite vulnerable with high intensity of rainfall. Landslides often occur in Sumowono District and cause losses. In 2015, there were around 12 landslides in this sub-district and some affected residents and caused material losses. Distribution of landslides and the time when the disaster occurred was difficult to predict, so there was no effort early treatment before the landslide disaster occurs. The purpose of this study is mapping and identifying the distribution of vulnerable areas to landslides using matrix matrix pairwise comparison method and SNI Permen PU No.22/PRT/M/2007 in Sumowono District. The methods that will be used in this study are the scoring method, matrix pairwise comparison in the context of AHP with expert judgment, and weighted overlay technique. Criteria used include topography, soil type, geological structure, rainfall, land cover, and population density. The results of this study are the distribution of landslide vulnerable areas based on SNI Permen PU No.22/PRT/M/ 2007 with modification and pairwise comparison. Identification of the distribution of landslide areas that are more accurate in representing condition in the area is SNI Permen PU that are classified into three classes, which is high vulnerability with an area of 1.089,07 Ha or 18,53% spread across 16 villages, with an area of 3.513,64 ha or 59,77% spread over 16 villages, and low with an area of 1.276,20 Ha or 21,71% spread over 15 villages.
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN SEKITAR BUKIT SEMARANG BARU Putry Ayu Aryany; Wisnu Pradoto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1016.032 KB)

Abstract

Pertumbuhan penduduk kota cenderung meningkat yang disebabkan oleh laju urbanisasi dan migrasi yang tinggi dan  mengakibatkan pertumbuhan kota menuju ke arah pinggiran kota (peri-urban). Kota Semarang mengalami perkembangan kota ke arah pinggiran salah satunya ke arah barat Kota Semarang yakni di Kecamatan Ngaliyan. Selain itu, terdapat pengembangan Kota Baru Bukit Semarang Baru (BSB) yang merupakan konsep aglomerasi perkotaan. Kecamatan Ngaliyan merupakan Kecamatan yang secara administratif berbatasan langsung dengan kawasan pengembangan BSB dan mulai berkembang pesat sebagai kawasan perumahan serta perdagangan dan jasa. Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan penelitian yang harus dijawab, yaitu “Bagaimanakah perubahan penggunaan lahan yang terjadi di kawasan sekitar Bukit Semarang Baru dan Apakah faktor yang mempengaruhinya?” Untuk mengkaji perubahan penggunaan lahan menggunakan analisis overlay peta dan untuk mengkaji faktor yang mempengaruhi perubahan lahan menggunakan analisis model regresi spasial OLS (Ordinary Least Square). Hasil analisis yang dilakukan bahwa perubahan penggunaan lahan di kawasan sekitar BSB pada periode tahun 2000-2006 perubahan penggunaan lahan terbesar adalah untuk kegiatan industri, sedangkan pada periode tahun 2006-2012 perubahan penggunaan lahan terbesar adalah untuk pengembangan kawasan perumahan. Perubahan lahan tersebut sebesar 30% dipengaruhi oleh perkembangan jaringan jalan, tumbuhnya kawasan perumahan, kondisi fisik alam, lokasi yang dekat dengan jalan arter primer jalan raya Semarang-Boja, dan  adanya Kota Baru BSB, dengan pengaruh terbesar adalah adanya pengembangan kawasan perumahan.
Kajian Kerentanan Sosial Dan Ekonomi Terhadap Bencana Banjir (Studi Kasus: Wilayah Pesisir Kota Pekalongan) Arsiadi Wisnu Hapsoro; Imam Buchori
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.732 KB)

Abstract

Penelitian ini diangkat dari latar belakang kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang rentan terhadap bencana banjir di wilayah pesisir Kota Pekalongan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kerentanan sosial dan ekonomi masyarakat melalui pemodelan  untuk mengetahui tingkat kerentanan masyarakat dengan bantuan alat Sistem Informasi Geografis.Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis kuantitatif dengan metode analisis data berupa scoring analysis, deskriptif kuantitatif dan analisis spasial.Kerentanan sosial yang merupakan kajian dalam penelitian ini diukur dengan kepadatan penduduk, penduduk usia tua dan balita, penduduk wanita dan pemahaman masyarakat terhadap bencana. Sedangkan kerentanan ekonomi diukur dari persentase tingkat kemiskinan.Dari hasil penelitian, 272,9  ha wilayah pesisir Kota Pekalongan atau sekitar 6% dari luas total Kota Pekalongan tergenang air laut pada tahun 2029. Tingkat kerentanan sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah pesisir Kota Pekalongan terkategorikan kedalam tiga kelas yaitu kerentanan rendah (1 kelurahan), kerentanan sedang (4 kelurahan) dan kerentanan tinggi (1 kelurahan). Kesimpulan yang dapat diambil adalah model terbentuk dan dapat mempresentasikan kondisi sebenarnya di lapangan sebesar 83,34%.
TIPOLOGI KERENTANAN PERMUKIMAN KUMUH KAWASAN PESISIR TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI KOTA TEGAL Marina Ayu Wulandari; Sunarti .
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.413 KB)

Abstract

Kota Tegal merupakan salah satu kota yang sebagian wilayahnya merupakan kawasan permukiman kumuh pesisir. Kawasan tersebut dihuni oleh masyarakata yang mayoritas mata pencahariannya bergantung pada laut. Tidak jarang, di kawasan tersebut mengalami kenaikan permukaan air laut dan masuknya air laut ke daratan (rob). Masyarakat hanya mempunyai kapasitas yang relatif minim untuk mengelola risiko secara fisik dan finansial, serta dalam membuat keputusan adaptasi jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa kawasan pesisir Kota Tegal merupakan kawasan yang cukup rawan dan rentan terhadap bahaya, seperti bahaya alam yang diakibatkan oleh perubahan iklim.Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi tipologi kerentanan permukiman kumuh di kawasan pesisir Kota Tegal. Hal ini bertujuan untuk merumuskan bentuk-bentuk kerentanan permukiman kumuh di kawasan pesisir, berdasarkan aspek fisik dengan keterkatitan respon sosial masyarakat. Penelitian ini akan mengambil fokus wilayah studi di Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat dan Kelurahan Mintaragen, Kecamatan Tegal Timur yang memiliki berbagai isu permasalahan permukiman. Pendekatan pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, yang dilakukan dengan melakukan studi literatur, observasi lapangan, sampling kuisioner,serta wawancara kepada beberapa instansi terkait dan tokoh masyarakat dilingkungan tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah variasi tipologi kerentanan permukiman kumuh pesisir terhadap perubahan iklim. Berdasarkan karakteristik permukiman kumuh dan kerentanan bahaya perubahan iklim pada permukiman, maka dihasilkan empat tipe permukiman kumuh, yaitu tipe permukiman kumuh rentan tinggi genangan rob dari sungai, tipe permukiman kumuh rentan persebaran genangan rob dari aliran bawah tanah, tipe permukiman kumuh rentan tinggi dan lama genangan rob dari saluran outfall pantai, dan tipe permukiman kumuh rentan persebaran genangan rob dari saluran drainase lingkungan. Tipologi kerentanan permukiman kumuh ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi para pembuat kebijakan, khususnya Pemerintah Kota Tegal serta masyarakat setempat dalam melakukan penanganan permukiman kumuh pada masing-masing kawasan terkait dengan dampak perubahan iklim yang terjadi saat ini.
PERBANDINGAN BIAYA UMUM TRANSPORTASI ANGKUTAN UMUM DAN SEPEDA MOTOR SEBAGAI MODA TRANSPORTASI OLEH MAHASISWA (Studi Kasus: Kampus Universitas Diponegoro Tembalang) Nasruddin Nasruddin; Anita Ratnasari Rakhmatulloh
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.271 KB)

Abstract

Moda transportasi angkutan umum merupakan salah satu sarana transportasi penting yang harus dikembangkan. Adanya kampus Undip Tembalang sebagai pusat tarikan membuat tingginya mobilitas yang terjadi di sekitar kawasan tersebut, dimana pelakunya di dominasi oleh mahasiswa. Preferensi mahasiswa memilih moda transportasi cenderung kepada penggunaan kendaraan pribadi yaitu sepeda motor dibandingkan angkutan umum. Padahal dilihat dari trayek angkutan umum, angkutan umum sebenarnya mampu menjangkau sampai ke wilayah permukiman/kos-kosan mahasiswa dan juga mampu mengantar mahasiswa untuk sampai ke setiap fakultas dan gedung lainnya yang berada di kampus Undip Tembalang. Jika dilihat dari biaya yang dikeluarkan, penggunaan angkutan umum tentu menghabiskan tarif yang lebih kecil dibandingkan penggunaan sepeda motor. Namun, tetap saja sepeda motor menjadi preferensi utama mahasiswa. Penlitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi mahasiswa dalam pemilihan moda transportasi serta membandingkan selisih biaya umum transportasi sepeda motor dan angkutan umum untuk perjalanan menuju kampus. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diketahui bahwa sebanyak 62% mahasiswa Undip Tembalang memilih menggunakan sepeda motor sebagai moda transportasi untuk perjalanan kekampus, sedangkan sisanya yaitu 38% memilih menggunakan angkutan umum. Hasil perhitungan biaya umum transportasi didapat rata-rata selisih biaya umum transportasi sepeda motor dan angkutan umum adalah Rp 10.648. Besarnya selisih biaya umum transportasi ini disebabkan karena besarnya nilai konversi waktu tunggu dan waktu perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Sehingga untuk kedepannya, untuk membuat selisih biaya umum transportasi angkutan umum terhadap sepeda motor menjadi lebih kecil sehingga preferensi mahasiswa terhadap moda angkutan umum meningkat, diperlukan mekanisme perencanaan transportasi yang lebih baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa dalam memilih sepeda motor adalah kepemilikan sepeda motor yang tinggi, kepemilikan SIM, jenis kelamin, kenyamanan sepeda motor yang fleksibel, cepat, dan efisien untuk digunakan, keamanan, kehandalan sepeda motor seperti bisa digunakan setiap saat dan ada ketika dibutuhkan dalam penggunaannya, waktu tempuh perjalanan yang singkat, dan biaya umum transportasi yang rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa dalam memilih angkutan umum adalah rendahnya kepemilikan sepeda motor, rendahnya kepemilikan SIM, jenis kelamin mahasiswa, dan tingkat keamanan yang tinggi seperti jarangnya tindak kejahatan yang terjadi didalam angkutan umum.
Perubahan Luas Lahan Sawah menjadi Non Sawah di Wilayah Joglosemar Natasha Diofanny; Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (780.471 KB)

Abstract

Urbanisation process in Joglosemar region of Central Java has more or less affected the size of paddy field. Data from CSB (Central Statistical Board) estimate that during the last decade the land used for rice field has declined around 5,424 hectares. At the same time the number of people living in urban areas has increased by around 3 million people. If the conversion of rice field continues, it will likely to have an impact on food security for the region as well as its neighboring areas. This research aims to analyse the factors that contribute to the change in paddy field production areas in Joglosemar region. The research applies quantitative method to analyse the rate of conversion by using linier regression technique. Based on the analysis, it is found that the average rate of rice field conversion is 0.24% per year while the main cause of the conversion is the urbanization process. It is also found that the industrialisation process and land productivity have insignificant contribution to the conversion process.  From the findings, it can be estimated that if the urbanization rate reaches 4.64% annually as it happens recently, in the next decade until 2030 Joglosemar region will experience deficit of rice supply.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN KAWASAN PERMUKIMAN BAGI MASYARAKAT GOLONGAN MENENGAH KE ATAS DI KECAMATAN NGALIYAN, SEMARANG Astri Purnama Dewi; Broto Sunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3309.548 KB)

Abstract

Urbanisasi merupakan suatu proses pembentukan perkotaan dalam aspek  sosial, ekonomi, budaya, politik dan fisik terbangundan memlalui urbanisasi tersebut terdeskripsikan perpindahan penduduk ke kota. Salah satu kota yang menjadi tujuan urbanis adalah Kota Semarang. Kota Semarang menjadi daerah tujuan karena selain merupakan ibukota Jawa Tengah, Kota Semarang juga memiliki berbagai macam aktivitas, sehingga permintaan kebutuhan ruang menjadi tinggi. Dengan terbatasnya ruang perkotaan, maka kawasan permukiman  semakin berkembang di kawasan pinggiran kota. Salah satu kecamatan yang berada di pinggiran kota dan potensial untuk kawasan permukiman di Kota Semarang adalah Kecamatan Ngaliyan, yang bebas dari banjir,kondisi jaringan air minum, sistem drainase, sanitasi lingkungan yang baik, jaringan telepon yang cukup, lingkungan yang sehat dan nyaman, serta fasilitas dan infrastruktur yang lengkap. Berdasarkan data perumahan permukiman di Kota Semarang, penduduk Kecamatan Ngaliyan didominasi oleh masyarakat golongan menengah ke atas, dan masih diperlukan lagi alokasi ruang untuk kawasan permukiman masyarakat golongan menengah ke atas. Untuk alokasi kawasan permukiman masyarakat golongan menengah ke atas perlu diperhatikan kondisi fisik maupun non fisik. Terkait dengan hal tersebut, ditemukan adanya alokasi permukiman yang tidak sesuai dengan regulasi. Berdasarkan fenomena di atas pertanyaan penelitian yang diangkat dalam studi ini adalah “Dimanakah lahan untuk kawasan permukiman bagi masyarakat golongan menengah ke atas di Kecamatan Ngaliyan berdasarkan kelayakan fisik maupun non fisik?” Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian  ini adalah untuk mengidentifikasi kesesuaian lahan kawasan permukiman bagi masyarakat golongan menengah ke atas di Kecamatan Ngaliyan. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan rasionalistik dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan analisis super impose. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data harga lahan untuk kawasan permukiman masyarakat golongan menengah ke atas di Kecamatan Ngaliyan serta data kondisi fisik Kecamatan Ngaliyan seperti kelerengan, curah hujan, jenis tanah, rencana penggunaan lahan permukiman, bencana alam, dan sempadan sungai melalu 2 (dua) analisis tersebut diperoleh hasil penelitian bahwa kesesuaian lahan kawasan perumahan permukiman bagi masyarakat golongan menengah ke atas di Kecamatan Ngaliyan, Semarang berada di 2 kelurahan, yaitu Kelurahan Beringin dan Ngaliyan yang masing-masing luasannya adalah 15,07 Ha untuk Kelurahan Ngaliyan dan 16,19 Ha untuk Kelurahan Beringin. Sumbangan yang dapat diberikan bagi pengembangan ilmu perencanaan wilayah dan kota adalah dapat menambah wawasan mengenai kesesuaian lahan kawasan permukiman bagi masyarakat golongan menengah ke atas dalam bidang perencanaan wilayah dan kota terutama dibidang penataan dan perancangan bangunan serta keterkaitannya dengan bidang ilmu lainnya. Rekomendasi bagi pengembangan kebijakan pembangunan adalah dapat digunakan sebagai masukan dalam membangun kawasan permukiman khususnya di Kecamatan Ngaliyan yang diperlukan bagi masyarakat golongan menengah ke atas.
KAJIAN KEMBALI TERHADAP RISIKO TSUNAMI DI KOTA BANDA ACEH Dara Zaiyana; Imam Buchori
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.457 KB)

Abstract

Kota Banda Aceh merupakan salah satu wilayah yang berpotensi terkena tsunami. Tragedi gempa bumi Samudra Hindia pada 26 Desember 2004 merupakan gempa terbesar dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Ketinggian gelombang muka air laut saat tsunami mencapai daratan (run up height) terukur setinggi 20 meter, genangan (inundation) bisa menghempas daratan sejauh 8 kilometer jauhnya dari pinggir pantai sehingga 50% dari semua bangunan rusak akibat terkena gelombang tsunami. Selama hampir 10 tahun setelah kejadian gempa dan tsunami tersebut, Kota Banda Aceh telah pulih kembali dalam menjalankan peran pentingnya dalam tatanan aspek kehidupan masyarakat Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh, bahkan pembangunan yang telah dilakukan relatif lebih maju jika dibandingkan dengan pembangunan sebelum masa tsunami. Pemerintah Kota Banda Aceh juga telah melakukan berbagai macam upaya mitigasi bencana salah satunya yaitu dengan adanya peta risiko bencana tsunami. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko bencana tsunami di Kota Banda Aceh melalui peninjauan kembali dengan menggunakan data dan informasi terbaru dengan menggunakan Sistem Infromasi Geografis (SIG) kemudian mengidentifikasikan wilayah-wilayah mana saja yang berada pada kelas kerentanan rendah, sedang dan tinggi. Penelitian ini dilakukan melalui metode pendekatan kuantitatif. Pengolahan data yang dilakukan untuk mendapatkan risiko tsunami yaitu melalui skoring dan overlay dua komponen, yaitu bahaya (hazard) dan kerentanan (vulnerability). Melalui analisis dan pemodelan SIG analisis bahaya tsunami diklasifikasikan ke dalam 2 zona yaitu tinggi dan rendah. Analisis kerentanan diklasifikasi menjadi 3 zona yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Hasil overlay dan klasifikasi penilaian tingkat kerentanan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Kota Banda Aceh sebagian besar termasuk dalam kategori tingkat kerentanan sedang sebesar 41%. Hal ini disebabkan karena sebagian besar lahan yang akan terdampak tsunami jauh dari pinggir pantai dan untuk analisis risiko secara keseluruhan Kota Banda Aceh memiliki tingkat risiko tsunami yang rendah dengan persentase sebanyak 18%, risiko tsunami yang sedang sebanyak 42% dan risiko tsunami tinggi sebanyak 40%.
Daya Tarik Waduk Diponegoro Sebagai Sarana Rekreasi Hanna Dian Pratiwi; Hadi Wahyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.205 KB)

Abstract

As one of the universities that are in great demand by the students, Diponegoro University always develops facility and infrastructures both to support academic activities and non-academic activities. One of the infrastructure facility built to support non-academic fields, namely the construction of Diponegoro Reservoir. Establishment of Diponegoro Reservoir which has the purpose to support the facility and infrastructures located in the campus of Diponegoro University, but also as a recreational facility for students of Diponegoro University. Reservoir area used as recreation area for students and community around the campus, proved by the students and residents who chatting, sports, and take pictures in the area. Although the area of Diponegoro Reservoir is not yet supported by adequate facility and infrastructure. From it can be known the attraction of Diponegoro Reservoir as a means of recreation. The purpose of this study is to determine the attractiveness and the factors that affect the students and the surrounding community for recreation in Diponegoro Reservoir. The method used is quantitative with descriptive analysis, and using factor analysis to know how big the relation of attraction level. Data collection techniques include questionnaires, document review, field observation and field documentation. The attraction of Diponegoro Reservoir includes 3 variables namely strategic location, atmosphere and supporting activities. Of the three variables can be concluded that the strategic location is the most first attraction seen by visitors so that have the desire to come to Diponegoro Reservoir.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue