cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 514 Documents
Peran Kota-Kota Kecil Dalam Peningkatan Aktivitas Pertanian Di Kawasan Agropolitan Merapi Merbabu Mila Wijayanti; Samsul Ma'rif
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1450.621 KB)

Abstract

Agropolitan area is the area with adequate agricultural service for farmers start from pre production to post harvest marketing.The role of small town as a link between big cities as center consumption and villages as center of production are necessary for developing Agropolitan area. Based on these things, analysis the role of small town in Agropolitan area are required. Ngablak, Dukun-Sawangan, Tegalrejo, Grabag, Pakis, and Candimulyo are Small town in Agropolitan area Merapi Merbabu. variables used in this research is commodities area by virtue of conformity land, the city,  entanglement small town with local hiterlandny and role of small town as center for trade and service. Method used in this research is quantitative and qualitative descriptive method. Rural urban linkages showed the high interaction in form of linkages economic namely entanglement the shopping flow of farm inputs and capitalization pre agricultural production and marketing of commodities. rural urban linkages also occuring in form of entanglement transportation and relatedness of agricultural technology. Small town in Agropolitan area has a role as a center trade for foods, horticulture vegetables, and horticulture fruits and flowers. Small town in Agropolitan area Merapi Merbabu also has a role as central services for finance, education, and transportation that support the agricultural activity.
KEMITRAAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN MASYARAKAT DALAM KEGIATAN PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN BERBASIS MASYARAKAT DI JAWA TENGAH Imam Wahyudi; Asnawi Manaf
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.91 KB)

Abstract

Keberadaan kawasan kumuh sebagai bentuk kemiskinan dalam dimensi keruangan sudah menjadi permasalahan utama kawasan-kawasan perkotaan di Indonesia. Luas kawasan kumuh perkotaan di Indonesia sudah mencapai angka 57.800 Hektar di tahun 2009 dengan pertambahan kantong-kantong permukiman kumuh mencapai 1,37% pertahunnya (BPS, 2011). Banyak pihak mulai menyadari bahwa penyelesaian permasalahan kawasan kekumuhan tidak bisa diselesaikan oleh Pemerintah Daerah saja atau masyarakat saja namun perlu adanya kerjasama dari keduanya. Kegiatan penataan lingkungan berbasis masyarakat lahir sebagai salah satu intervensi yang berupaya membangun kemitraan antara Pemerintah Daerah dengan masyarakat sebagai bentuk kerjasama dalam menata lingkungan tempat tinggal yang kumuh. Penelitian ini mencoba menangkap sejauh mana kemitraan antara Pemerintah Daerah dengan masyarakat terimplementasi di kegiatan tersebut. Kajian ini menjadi perlu dilakukan untuk menggambarkan mengenai keefektifan pelaksanaan kegiatan dalam mengatasi kawasan kumuh dan pembelajaran yang bisa diambil dari kegiatan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus di dua lokasi penataan di Jawa Tengah. Dari hasil analisis tergambar bahwa kemitraan antara Pemerintah Daerah dengan masyarakat dapat dilihat pada tahap perencanaan partisipatif, dialog komunikasi yang dilakukan, tinjauan perencanaan dan kebijakan di skala kota, dan kegiatan channeling pada tahap pembangunan. Dalam pelaksanaannya keberpihakan Pemerintah Daerah menjadi kunci sukses dari kegiataan penataan lingkungan berbasis masyarakat ini. Dari hasil temuan lapangan dapat disimpulkan bahwa intervensi kegiatan telah mampu menata lingkungan permukiman yang kumuh menjadi lingkungan yang tertata dan juga merubah prilaku masyarakat untuk hidup bersih. Intervensi kegiatan penataan ini dapat terbentuk didasari oleh adanya kemitraan yang terjalin antara Pemerintah Daerah dengan masyarakat.
PENGARUH KEBERADAAN LUMPUR PANAS SIDOARJO TERHADAP KONDISI FISIK LINGKUNGAN DAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR Gita Amalia Octavianingrum; Iwan Rudiarto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.115 KB)

Abstract

Eksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan akan berakibat pada kerusakan lingkungan. Sementara, kerusakan lingkungan hidup dapat memberikan dampak buruk terhadap kondisi fisik maupun sosial dan ekonomi di lingkungan sekitar. Keadaan ini juga terjadi di Sidoarjo. Peristiwa Lumpur panas Sidoarjo merupakan suatu fenomena geologi yang menimbulkan keluarnya semburan lumpur, dimana akan berpengaruh terhadap kondisi fisik lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh keberadaan lumpur panas Sidoarjo terhadap kondisi fisik lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat sekitar. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, skoring, dan analisis spasial. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa keberadaan lumpur Sidoarjo secara fisik mengalami penurunan kualitas lingkungan yang berupa pencemaran air dan udara. Selain itu,  terdapat perubahan pemanfaatan lahan, dimana lahan yang mayoritas didominasi oleh sawah kini telah tenggelam oleh lumpur, sehingga mengakibatkan masyarakat sekitar beralih profesi dari buruh tani atau petani menjadi wiraswasta maupun serabutan. Sementara, pada Rencana Detail kawasan sekitar lumpur panas Sidoarjo akan dikembangkan sebagai wisata geologi, IPTEK. Secara sosial ekonomi pemanfaatan asset penghidupan dalam kategori buruk. Selain itu, berdasarkan hasil anaslisis, Desa Ketapang, Gempolsari, Kalitengah, dan Keboguyang berada pada kerentanan tinggi, dan Desa Gedang dan Kedungcangkring berada pada kerentanan sedang. Banyaknya jumlah penduduk yang tetap bertahan di sekitar area lumpur panas Sidoarjo dikarenakan mata pencaharian yang dimiliki terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya, masyarakat tidak memiliki biaya untuk membeli lahan baru, cinta tanah leluhur. Kondisi tersebut tentunya membuat masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
PENGARUH PERGERAKAN PEKERJA COMMUTER TERHADAP POLA KONSUMSI DI KECAMATAN KALIWUNGU Anindita Indrareni; Anita Ratnasari Rakhmatulloh
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 4 (2013): November 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.495 KB)

Abstract

Kota merupakan suatu kawasan yang terus mengalami perkembangan baik secara fisik maupun non fisik yang mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi kawasan pinggiran di sekitarnya. Kota Semarang merupakan salah satu kawasan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Kaliwungu dan memiliki tingkat perekonomian yang lebih baik didalamnya, dibuktikan dengan nilai UMR yang lebih tinggi dari Kecamatan Kaliwungu di Kabupaten Kendal. Hal ini kemudian menimbulkan suatu pergerakan oleh penduduk Kecamatan Kaliwungu yang memilih bekerja di Kota Semarang sehingga terjadilah perjalanan ulang alik (commuting). Terjadinya perjalanan ulang alik ini tentunya mempengaruhi besarnya konsumsi yang dikeluarkan oleh masing-masing pelaku perjalanan ulang alik. Apabila semakin jauh jarak yang ditempuh maka diperkirakan konsumsi yang dikeluarkan pun akan semakin besar. Penelitian ini disusun untuk mengetahui pengaruh pergerakan pekerja commuter terhadap pola konsumsi yang dikeluarkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dilakukan analisis menggunakan tabulasi silang berdasarkan data hasil survey primer mengenai konsumsi yang dikeluarkan penduduk baik pangan dan non pangan di Kecamatan Kaliwungu. Metode penentuan sampel yang digunakan adalah metode sample non probability sampling dengan teknik purposive sampling. Alasan digunakannya purposive sampling ini didasarkan pertimbangan peneliti yang memfokuskan penelitian ini hanya kepada pekerja commuter di Kecamatan Kaliwungu saja. Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan menggunakan crosstab diketahui berbagai jenis variabel yang mempengaruhi pola konsumsi penduduk. Variabel tersebut terdiri dari pendapatan, waktutempuh, mata pencaharian, modat ransportasi dan jarak. Selain itu, diketahui bahwa Semakin jauh jarak yang ditempuh oleh pekerja komuter maka konsumsi untuk biaya transportasi akan semakin tinggi pula. Hal tersebut menyebabkan terjadinya penekanan pada jenis konsumsi lainnya agar seluruh konsumsi masih dapat terpenuhi sesuai dengan kondisi ekonomi pelaku pergerakan. Pelaku pergerakan dengan jarak 10-20 km melakukan penekanan sebesar 3% yang diambil dari konsumsi pangan, sandang, rekreasi dan konsumsi tak terduga. Sedangkan pada pekerja commuter dengan jarak tempuh lebih dari 20 km melakukan penekanan mencapai 10% yang diambil dari konsumsi pangan, sandang, pendidikan, rekreasi dan konsumsi tak terduga. 
PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENGGUNAAN JALUR PEDESTRIAN DI KORIDOR JALAN PROF. H. SOEDARTO, S.H. Rona Panduri; Djoko Suwandono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.599 KB)

Abstract

Ruang kota milik publik bertindak sebagai generator interaksi sosial dan budaya. Pola perilaku masyarakat sendiri yang menentukan cara menggunakan ruang yang sudah diciptakan. Oleh karena itu, desain perkotaan harus didasarkan pada bagaimana memenuhi nilai-nilai kemanusiaan. Walaupun desain perkotaan sudah disesuaikan dengan kebutuhan manusia, masih banyak terdapat masalah yang terjadi sehubungan dengan perilaku masyarakat itu sendiri.Salah satu masalah yang dihadapi kota metropolitan di Indonesia adalah ketidakteraturan penggunaan pedestrian. Sebagai obyek penelitian, peneliti memilih koridor Jalan Prof. H. Soedarto, Semarang karena koridor ini sudah mengalami masalah tersebut. Masalah yang terdapat di wilayah penelitian berupa pemanfaatan pedestrian untuk aktivitas selain berjalan kaki seperti berdagang dan parkir. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan bersifat deskriptif karena penelitian ini menjelaskan perilaku masyarakat dalam memanfaatkan pedestrian, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pilihan orang berjalan kaki dan berdagang di pedestrian, serta menjelaskan hubungan penggunaan pedestrian pejalan kaki dan PKL sehingga menggambarkan pola perilaku penggunaan pedestrian. Hasil dari analisis ini adalah untuk mengetahui perilaku penggunaan pedestrian dengan dan ketidakdisiplinan yang ditinjau dari fungsi lahan dan bangunan sehingga dapat diketahui pola berjalan kaki di koridor Jalan Prof. H. Soedarto, S.H. untuk kenyamanan dan keamanan.
KAJIAN KEBERLANJUTAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES) SEBAGAI KAMPUS KONSERVASI (Studi Kasus: UNNES Sekaran, Semarang) Ruby Phramesti; Nany Yuliastuti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.467 KB)

Abstract

Universitas Negeri Semarang (UNNES) sebagai salah satu universitas negeri ternama di Semarang telah dikenal secara luas dengan deklarasi pada Maret 2010 sebagai kampus konservasi. UNNES bertekad menjunjung tinggi prinsip perlindungan, pengawetan, pemanfaatan, dan pengembangan secara lestari terhadap sumber daya alam dan budaya luhur bangsa. Hal ini tidak jauh dari konsep pembangunan berkelanjutan yang diterapkan pada level kawasan kampus. Maka perlu dikaji kembali mengenai pemenuhan kriteria-kriteria kampus berkelanjutan yang sudah dipenuhi oleh UNNES. Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka dapat disimpulkan pada sebuah pertanyaan penelitian, yaitu “Bagaimana perwujudan pendekatan keberlanjutan dalam pembangunan dan pengembangan UNNES sebagai kampus konservasi?”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat mengkaji dan menilai upaya perwujudan pendekatan keberlanjutan dalam pembangunan dan pengembangan kampus konservasi. Kajian akan dilakukan terhadap konsep kampus konservasi UNNES, implementasi program kampus konservasi yang telah dilaksanakan serta capaian UNNES dalam mewujudkan kampus konservasi sebagai bentuk dari sustainable campus. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Variabel yang diteliti antara lain meliputi konsep kampus konservasi, kualitas lingkungan alam, manajemen kawasan kampus, kesehatan warga kampus, estetika kawasan, partisipasi warga kampus dan kualitas SDM, riset dan kurikulum, serta rencana kebijakan di masa mendatang. Analisis yang digunakan adalah analisis mengenai konsep kampus konservasi UNNES terhadap konsep kampus berkelanjutan, analisis implementasi program kampus konservasi UNNES, dan analisis capaian UNNES dalam mewujudkan konsep kampus konservasi dengan keberlanjutannya. Hasil yang didapat setelah melakukan analisis yaitu bahwa UNNES belum berkelanjutan karena masih terfokus pada satu pilar, yaitu lingkungan.. Rekomendasi berdasarkan hasil dari penelitian ini yaitu  pengoptimalan dan pemberdayaan mahasiswa selain sebagai kader konservasi juga dapat dilibatkan dalam proses perencanaan dan pembangunan hingga sampai tahap monitoring dan evaluasi program-programnya.
Pengaruh Perkembangan Infrastruktur Dasar Pariwisata Terhadap Minat Kunjungan Wisatawan Candi Gedong Songo Kecamatan Bandungan Fiki Putri Kartika; Hadi Wahyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 8, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.788 KB)

Abstract

The development of infrastructure quality can produce tourism object development, which can attract more tourists). This study aims to analyze the effect of the development of basic tourism infrastructures on the tourists visiting the Gedong Songo Temple with linear regression analysis tools. The variables used are the number of tourists as (dependent variable) and roads, clean water, electricity, telecommunications and waste infrastructures as (independent variables). The results show there is an influences between the development of infrastructure in the interest of tourist visits, where the infrastructure indicators that influenced the interest of tourist visits are the number of electricity customers and the length of the road in good condition with the resulting model. Y = 2,509 X1 + 38,349X3 + €i it means that an increase in the length of the road network in good condition 1 Km that is good can affect the growth of tourist interest by 2,509 residents. there is an increase in the number of electricity customers by 1 person it can affect the growth of tourist interest by 38,349 people. These results can explain that effect of the development of basic tourism infrastructures on tourist visits by 92.9%, while the rest is influenced by other factors not explained or voiced in this study.
KAJIAN KARAKTERISTIK DAN METODE PENANGANAN KAWASAN KUMUH (STUDI KASUS: KECAMATAN SEMARANG TIMUR, KOTA SEMARANG) Sri Kumala; Fitri Yusman
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.658 KB)

Abstract

Perkembangan lingkungan permukiman di Kota Semarang tidak terlepas dari pesatnya laju pertumbuhan penduduknya. Seiring dengan pertumbuhan penduduk di daerah perkotaan Semarang, kebutuhan akan penyediaan prasarana dan sarana permukiman akan meningkat. Namun pemenuhan akan kebutuhan prasarana dan sarana permukiman kurang terpenuhi, sehingga menimbulkan kawasan kumuh. Kecamatan Semarang Timur merupakan salah satu kecamatan di Semarang yang memiliki kawasan kumuh. Permasalahan yang terdapat di Kecamatan Semarang Timur berkaitan dengan kemiskinan dan kesenjangan yang memicu konflik antara pemerintah dan masyarakat. Konflik muncul karena belum diketahuinya karakteristik kawasan kumuh serta metode penanganan yang kurang tepat. Berdasarkan pada permasalahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan penelitian yaitu “Bagaimana karakteristik kawasan kumuh? Bentuk penanganan yang seperti apakah yang sesuai dengan karakteristik kawasan kumuh tersebut?”.Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendapatkan data lokasi kawasan kumuh berikut karakteristik dari masing-masing lokasi kawasan kumuh di Kecamatan Semarang Timur serta mendapatkan metode penanganan kawasan kumuh yang sesuai. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis normatif. Pengumpulan data kuantitatif menggunakan random sampling dengan cara observasi, wawancara, dan menyebarkan kuisioner kepada responden. Hasil akhir dari penelitian ini adalah sebaran kawasan kumuh berikut karakteristiknya di Kecamatan Semarang Timur meliputi komponen fisik yaitu jaringan jalan, persampahan, air bersih, sanitasi, dan drainase serta komponen non-fisik meliputi partisipasi masyarakat, pendidikan, pendapatan dengan metode penanganan perbaikan kampung yaitu penyempurnaan program Gerdu Kempling  menggunakan konsep TRIBINA.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELAKSANAAN KONSOLIDASI LAHAN DI KELURAHAN KRAMAS, SEMARANG Muhamad Dhimas Alhafidh; Broto Sunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.605 KB)

Abstract

Kelurahan Kramas merupakan Kelurahan yang termasuk dalam bagian Kecamatan Tembalang Kota Semarang yang ditetapkan sebagai Bagian Wilayah Kota (BWK) VI dengan luas wilayah 4.420.057 Ha.Perkembangan Kota Semarang cenderung kearah selatan. Kebutuhan lahan untuk tempat tinggal sering menimbulkan permasalahan, tidak jarang terjadi pemecahan lahan menurut kehendak pemiliknya sehingga mengabaikan peraturan yang berlaku terutama penyediaan kawasan perumahan dan permukiman yang berdampak pada penataan lingkungan seperti jalan, saluran air, dan fasilitas umum lainnya. Oleh karena itu dalam rangka penataan lahan dan lingkungannya dikeluarkan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 Tahun 1991 tentang konsolidasi lahan. Hal ini dimaksud untuk mengantisipasi timbulnya pemukiman yang tidak teratur dan kumuh seperti pada lokasi penelitian yang apabila dibiarkan terlalu lama akan mempersulit dalam penanganannya dari berbagai aspek nantinya. Untuk mengetahui proses pelaksanaan program konsolidasi lahan di Kelurahan Kramas, maka diperlukan bentuk partisipasi dari masyarakat  yang tepat. Permasalahan ini menarik sebagai obyek penelitian untuk mendapatkan data-data tentang proses dari partisipasi masyarakat dalam mensukseskan pelaksanaan konsolidasi lahan di Kelurahan Kramas. Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan konsolidasi lahan di Kelurahan Kramas. Dari hasil analisis di atas, ditemukan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan konsolidasi lahan di Kelurahan Kramas, Semarang yaitu (1) Faktor Aksesibilitas yang terdiri dari 5 (lima) variable yaitu lokasi lahan terhadap jaringan jalan, kondisi fisik lahan, aksesibilitas lahan, ketersediaan fasilitas dan utilitas ,dan kepemilikan lahan. (2) Faktor Ekonomi yang terdiri dari 3 (tiga) variable yaitu tingkat penghasilan, tingkat pengeluaran, dan status lahan. Dan terakhir (3) faktor Sosial yang terdiri dari dua (dua) variabel yaitu tingkat pendidikan dan lama tinggal.
TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DI KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG Aidy Huzaini; Sri Rahayu
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.494 KB)

Abstract

Sub DAS Garang hulu yang terletak di bagian atas Kota Semarang tepatnya pada Kecamatan Gunungpati pada saat ini telah mengalami gangguan, berupa alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan permukiman yang tidak memperhatikan syarat-syarat konservasi tanah dan air yang mana secara hidrologis merupakan daerah resapan untuk wilayah kota Semarang. Pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air di Kecamatan Gunungpati berpotensi menyebabkan terjadinya degradasi lahan yang pada akhirnya akan menimbulkan lahan kritis. Hal ini dapat dilihat dari dampak lanjutan dari adanya lahan kritis yaitu permasalahan banjir di daerah Semarang bawah. Menururt Soedarjanto dan Syaiful (2003) lahan kritis adalah lahan/tanah yang saat ini tidak produktif karena pengelolaan dan penggunaan tanah yang tidak/kurang memperhatikan syarat-syarat konservasi tanah dan air sehingga menimbulkan erosi, kerusakan- kerusakan kimia, fisik, tata air dan lingkungannya. Berangkat dari permasalahan diatas maka dilakukan sebuah penelitian tentang perubahan tingkat kekritisan lahan di Kecamatan Gunungpati Semarang yang merupakan bagian dari Sub Das Garang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kekritisan lahan di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang selama kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2006 dan 2010. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode overlay,skoring serta pembobotan. Tingkat kekritisan lahan di Kecamatan Gunungpati dibedakan menjadi 5 (lima) kategori yaitu, lahan dengan kondisi sangat kritis, kritis, agak kritis, potensial kritis dan lahan tidak kritis. Hasil analsis menjelaskan bahwa peningkatan kekritisan lahan di Kecamatan Gunungpati lebih didominasi pada perubahan lahan tidak kritis menjadi lahan potensial kritis seluas 249,94 hektar dengan wilayah terluas terdapat di Kelurahan Kalisegoro 67,14 hektar dan di Kelurahan Sumurrejo seluas 31,34 hektar. Dari perubahan-perubahan tingkat kekritisan lahan di Kecamatan Gunungpati selama kurun waktu 5 tahun yaitu dari tahun 2006-2010 diperoleh suatu fenomena dimana kerapatan tajuk/vegetasi sangat berperan besar dalam kekritisan suatu lahan pada fungsi kawasan lindung dan penyangga, sedangkan tingkat produktivitas lahan dan manajemen lahan berpengaruh besar pada kawasan budidaya. Kecamatan Gunungpati yang pada dasarnya merupakan daerah tangkapan air untuk Kota Semarang yang saat ini telah mengalami gangguan pada kondisi lahannya. Salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh masyrakat di Kecamatan Gunungpati untuk meminimalisir peningkatan kekritisan lahan yang terjadi yaitu dengan memberdayakan lahan- lahan tidur (tegalan, tanah kosong) sesuai aturan konservasi tanah. Pemberdayaan lahan tidur ini nantinya mampu meningkatkan nilai lahan itu sendiri baik terutama dari segi produktivitas.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue