cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
KOSAKATA WARNA BAHASA SUNDA (PENDEKATAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI) Santy Yulianti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v5i1.39

Abstract

Natural Semantic Metalingua is the approach that is used in this writting to describe colours in Sundanesse compared with Indonesian. Colours is an interesting topic in this area because colours in every language has their own uniqueness. Colours in Sundaness are influenced by natural condition. Based on  Natural Semantic Metalanguage, the colours of Sundaness are classified into three categories, i.e. basic colours, natural condition, and adjektive/adverb. The writer found an interesting original meaning of colours of both Sundaness and Indonesian. Basic colours in Sundaness has one dissent with Indonesian,i.e. the colour of Blue. Sundaness originally do not know the concept of blue. In addition, colour in Sundaness has tight gradation, such as the concept of green which use natural condition and adjective to describes its density. ABSTRAKPada kesempatan ini penulis menggunakan pendekatan Metabahasa Semantik Alami (Natural Semantic Metalanguage) untuk mendekripsikan warna dalam bahasa Sunda yang dipadankan dengan bahasa Indonesia. Warna menjadi bahasan yang menarik untuk dianalisis karena kosakata warna dalam setiap bahasa memiliki keunikannya tersendiri. Warna dalam bahasa Sunda banyak dipengaruhi oleh keadaan alam. Berdasarkan pada pendekatan MSA, kosakata warna diklasifikasikan berdasarkan warna dasar, tanda alam dan keterangan/kata sifat. Penulis melihat adanya makna asali kosakata warna yang dapat diperoleh dengan memperbandingkan dengan kosakata warna bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Warna dasar dalam bahasa Sunda memiliki perbedaan dengan bahasa Indonesia. Bahasa Sunda awalnya tidak mengenal konsep warna biru sebagai warna dasar. Selain itu, variasi warna dalam bahasa Sunda sangat rapat, seperti warna hijau yang memiliki banyak ciri dengan menggunakan tanda alam dan kata sifat.
Examining Word List and Processes in Law of The Republic of Indonesia Number 6 Year 2011 Eva Tuckyta Sari Sujatna; Cece Sobarna
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.1544

Abstract

This research tries to figure out the word list and the types of processes in Law of the Republic of Indonesia No 6 of Year 2011 concerning immigration. The research method applied in this research is descriptive method to describe the word list and the process in each data. Based on the result of the data analysis, firstly, it was found that the word “yang” is the highest frequency gramatically, while “pasal” is the highest frequency lexically. Secondly, it was reported there are four different processes; they are material process, mental process, relational process, and verbal process. Among the processes, the dominant process applied in Law of the Republic of Indonesia No 6 Year 2011 concerning Immigration is the verb “dipidana” as material processes, “menolak” as mental processes, “melarang” as verbal processes, and “adalah” as relational processes. AbstrakTujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kosakata dan jenis-jenis proses dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif untuk mendeskripsikan kosakata dan proses dalam setiap data. Berdasarkan hasil analisis data, pertama ditemukan bahwa kata “yang” secara gramatikal memiliki frekuensi tertinggi, sedangkan secara leksikal kata “pasal” memiliki frekuensi tertinggi. Kedua, ditemukan empat proses yang berbeda, yaitu proses material, proses mental, proses relasional, dan proses verbal. Di antara proses-proses tersebut, proses yang dominan diterapkan dalam UUD RI No 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian adalah verba “dipidana” sebagai proses material, “menolak” sebagai proses mental, “melarang” sebagai proses verbal, dan “adalah” sebagai proses relasional.
Bahan Ajar Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) Tingkat Pemula Berbasis Budaya Cirebon Indrya Mulyaningsih; Emah Khuzaemah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.6784

Abstract

This study aims to produce teaching materials for BIPA learning based on Cirebon culture. The method used is 4D which includes: Define or define, Design or design, Develop or develop, and Disseminate or disseminate. The definition stage is carried out by conducting Focus Group Discussions (FGD). The design stage refers to the results of the DKT. The development phase includes: validation of content and media experts, limited trial, and DKT. The research period is from July 2020 to November 2021. After going through four stages, it can be concluded that the teaching materials that have been prepared can be used for BIPA students, especially in Cirebon. Further research can be in the form of updating these teaching materials, for example in the form of e-books or others to make them easier to use. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar pembelajaran BIPA berbasis budaya Cirebon. Metode yang digunakan adalah 4D yang meliputi: Define atau pendefinisian, Design atau perancangan, Develop atau pengembangan, dan Disseminate atau penyebaran. Tahap pendefinisian dilakukan dengan melakukan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT). Tahap perancangan mengacu pada hasil DKT. Tahap pengembangan meliputi: validasi pakar konten dan media, uji coba terbatas, dan DKT. Waktu penelitian dari Juli 2020 sampai November 2021. Setelah melalui empat tahap dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang telah disusun dapat digunakan bagi pembelajar BIPA, khususnya di Cirebon. Penelitian selanjutnya dapat berupa pemutakhiran dari bahan ajar ini, misalnya dalam bentuk e-book atau lainnya supaya lebih mudah digunakan.
DAMPAK KEHADIRAN STASIUN TELEVISI BERBAHASA LOKAL PAL TV (PALEMBANG TV) PADA PELESTARIAN BAHASA LOKAL DI KOTA PALEMBANG Desmalinda Desmalinda; Piky Herdiansyah; Rahmadina Naripati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v5i2.153

Abstract

This research aims to describe the function and role of the television in preserving Palembang language. The method used in this research is qualitative descriptive method. The data were collected from direct interviews to seven informants reside in Palembang with various backgrounds, professions and education levels to discover the impact of Palembang-speaking local television station. The research shows that national television stations have not performed their role in education and language preservation as they should be. The level of local language preservation in national television stations is still low. This condition is covered by the presence of local stations, such as PAL TV. Televisions can be a strategic tool in language preservation with proper management by adding diverse programs that are in accordance with the public interests.  ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan peran televisi dalam pelestarian bahasa Palembang. Adapun metode yang digunakan adalah metode deskripptif kualitatif. Data di peroleh dari wawancara langsung kepada tujuh narasumber yang berdomisisli di kota Palembang, beragam latar belakang, profesi, dan tingkat pendidikan untuk mengetahui dampak adanya televisi lokal berbahasa Palembang. Temuan penelitian ini adalah stasiun televise berjaringan nasional belum menjalankan fungsinya edukasi dan pelestarian bahasa daerah sebagaimana mestinya. Tingkat pelestarian bahasa lokal pada televise berjaringan nasional masih rendah. Kekurangan televise berjaringan ini sedikit tertutupi dengan hadirnya televise lokal, seperti PAL TV. Televisi dapat menjadi sarana strategis dalam pelestarian bahasa dengan pengelolaan yang baik berupa penambahan acara yang beragam dan sesuai dengan minat masyarakat.
Makna Toponim di Tangerang sebagai Representasi Keberadaan Etnis Cina Benteng: Sebuah Kajian Linguistik Historis Komparatif Sonya Ayu Kumala; Multamia RMT Lauder
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4048

Abstract

Cina Benteng in Tangerang called as Cina Benteng, the native of Tangerang. The name Benteng is closely related to the early history of Chinese migration. Cina Benteng in Tangerang, namely living in forts and growing crops as farmers or fishermen. Brown skin, slanted eyes, and keep an ash table, is a glimpse of the portrait of Cina Benteng. Regarding to that phenomena mentioned above, in this study the author examines the meaning of toponyms in Tangerang to be associated with the existence Cina Benteng. This study uses a comparative historical linguistic approach that uses names as linguistic units to examine meaning, and its relation to historical context. The theory used in this study is etymological theory, semiotic’s theory meaning by Barthes and, and Nystorm (2016). Toponyms or place names are one of the branches of onomastics (Rais et al, 2008). Onomastics examines self names and place names. The name is present not only to fulfill the function of identification, but the presence of the name also reveals the existing socio-cultural aspects. A name is constructed, interpreted, used continuously or even later replaced and abandoned. The study of place names or toponyms is a form of comparative historical linguistic study that utilizes branches of linguistic studies such as semantics and sociolinguistics as well as other fields outside of intersecting linguistics (Lauder, 2015). The data for this paper were collected from written documentation or maps. In addition, the author also uses ethnographic methods to be able to see the relationship of a place name with the surrounding community. The result of the study shows the meaning of toponym in Tangerang are strongly related to the existence of Cina Benteng from the old times until modern times.  AbstrakEtnis Tionghoa di Tangerang yang disebut sebagai Cina Benteng, yaitu pribuminya Tangerang. Sebutan Benteng terkait erat dengan sejarah awal migrasi Cina Benteng di Tangerang yaitu mendiami benteng-benteng dan bercocok tanam sebagai petani atau nelayan. Berkulit coklat, bermata sipit, dan memelihara meja abu, merupakan sekilas potret Cina Benteng. Sehubungan dengan fenomena tersebut di atas, pada penelitian ini penulis bertujuan menelaah makna toponim di Tangerang untuk dikaitkan dengan keberadaan atau eksistensi dari etnis Cina Benteng. Penelitian ini menggunakan ancangan linguistik historis komparatif yang memanfaatkan nama sebagai satuan linguistik yang akan ditelisik makna, dan kaitannya dengan aspek historis. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori makna etimologi, teori makna semiotik Barthes dan, dan Nystorm (2016). Toponim atau nama tempat adalah salah satu cabang kajian dari onomastika (Rais et al, 2008). Onomastika mengkaji nama diri dan nama tempat. Nama hadir tidak semata untuk memenuhi fungsi identifikasi akan tetapi kehadiran nama juga mengungkap aspek sosial budaya yang ada. Sebuah nama dikonstruksikan, dimaknai, digunakan secara terus menerus atau bahkan kemudian diganti dan ditinggalkan. Kajian nama tempat atau toponim merupakan bentuk kajian linguistik historis komparatif yang memanfaatkan cabang kajian linguistik seperti semantik dan sosiolinguistik serta bidang lain diluar linguistik yang bersinggungan (Lauder, 2015). Data untuk tulisan ini dikumpulkan dari dokumentasi tertulis atau peta. Selain itu penulis juga memanfaatkan metode etnografi untuk dapat melihat kaitan sebuah nama tempat dengan masyarakat sekitar. Hasil penelitian ini menunjukan makna toponim di Tangerang, terkait erat dengan keberadaan Cina Benteng baik di masa lampau hingga dewasa ini.
Ekspresi Eufemisme dalam Surat Kabar di Kota Palu Ali Karim; Julia Marfuah; Muhammad Aqil; Fadly A. Karim
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.6726

Abstract

The topic discussed in this article is the use of euphemisms in newspapers. The aim is to describe the synonymy of euphemisms in newspapers in terms of collocation, distribution, emotive meaning and meaning components. The steps taken in this research include three stages, namely: (1) data collection stage, (2) data analysis stage, and (3), data analysis results presentation stage. The method used in collecting data is the siak method with note-taking technique. The methods used in data analysis are the matching method with referential matching techniques and the distributional method with techniques for direct elements, expansion techniques, and replacement techniques. The methods used in presenting the results of data analysis are formal methods and informal methods. The results of the research show that the use of euphemisms in newspapers is not perfectly synonymous with the linguistic form they replace based on analysis of collocation, distribution, emotive meaning and meaning components. Apart from that, the use of euphemisms in newspapers tends to hide certain intentions so as not to disturb the public. AbstrakTopik yang dibahas dalam artikel ini adalah penggunaan eufemisme dalam surat kabar. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan sinonimi eufemisme dalam surat kabar ditinjau dari kolokasi, distribusi, makna emotif, dan komponen makna. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi tiga tahap, yaitu: (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap analisis data, dan (3) tahap penyajian hasil analisis data. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode siak dengan teknik catat. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode padan dengan teknik padan referensial dan metode distribusional dengan teknik unsur langsung, teknik perluasan, dan teknik penggantian. Metode yang digunakan dalam penyajian hasil analisis data adalah metode formal dan metode informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan eufemisme dalam surat kabar tidak sepenuhnya sinonim dengan bentuk kebahasaan yang digantikannya berdasarkan analisis kolokasi, distribusi, makna emotif, dan komponen makna. Selain itu, penggunaan eufemisme dalam surat kabar cenderung menyembunyikan maksud tertentu agar tidak meresahkan masyarakat.
Konstruksi Interogatif Polar dalam Bahasa Jepang Abdul Gapur; Mhd. Pujiono
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 1 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v7i1.477

Abstract

Each language has its own characteristics, which can be seen by the interrogative construction themselves. Polar interrogative construction in Japanese will be discussed in this research. The research is kind of qualitative reasearch by using descriptive method. The data of the research is the polar interrogative construction consisted in the textbooks minnano nihongo shokyuu I and nameraka nihongo kaiwa. The theory of interrogative construction by Seimund (2011) was used as the theory in this research. The results of the research showed that the finding of polar interrogative construction was formed by the intonation, the addition of interrogative particle, and the interrogative tag. Meanwhile, the polar interrogative construction formed by the change of constituent order, verbal inflection, and disjunction was not found. The finding of polar interrogative construction in the textbook minna no nihongo shokyuu I is dominated by the polar interrogative construction which is formed by the adding of interrogative particle, while in the textbook nameraka nihongo kaiwa is dominated by the polar interrogative construction which is formed by the intonation. AbstrakSetiap bahasa memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik tersebut dapat dilihat dari konstruksi interogatifnya. Pada penelitian ini akan dibahas mengenai konstruksi interogatif polar dalam bahasa Jepang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah konstruksi interogatif polar yang terdapat dalam bukuMinna No Nihongo Shokyuu I, Nameraka Nihongo Kaiwa,dan komikOremonogatariChapter1karangan Kazune Kawahara danAruko.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konstruksi interogatif Siemund (2001). Hasil dari penelitian ini adalah konstruksi interogatif polar yang wujud terbentuk dari intonasi, penambahan partikel interogatif,dan taginterogatif. Sementarakonstruksi interogatif polar yang terbentuk dengan perubahan urutan konstituen, infleksi verbal dan disjungsi tidak ditemukan. Konstruksi interogatif polar yang wujud dalam buku Minna No Nihongo Shokyuu I dankomikOremonogatariChapter 1 didominasi oleh konstruksi interogatif polar yang terbentuk dari penambahan partikel interogatif,sementara pada buku Nameraka Nihongo Kaiwadidominasi oleh konstruksi interogatif polar yang terbentuk dari intonasi.
Leksikon Nama Peralatan Rumah Tangga Masyarakat Minangkabau: Gambaran Dinamika Masyarakat Reniwati Reniwati; Khanizar Khanizar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4169

Abstract

Minangkabau language is not free from language contact with other languages. This language contact brought about a change in the Minangkabau language. This change also occurs in the lexicon associated with household furniture. This article aims to describe the lexicon in the meaning field of lost or potentially missing household furniture and explain its reasons. The data are provided by applying conversational method with a set of techniques. The research was carried out in areas, including suburbs. Informants consist of different generations intending to know the existence of the lexicon in that generation.  The data were analyzed using identity method namely translational and referencial identity methods with a set of techniques that are in accordance with this field research.  The data analysis shows that the old lexicon and the new lexicon are household appliances. The use of the new lexicon can have some impacts, namely, the loss of the use of the old lexicon and another lexicon that collocates with it. AbstrakBahasa Minangkabau tidak terbebas dari kontak bahasa dengan bahasa lain. Kontak bahasa ini membawa perubahan dalam bahasa Minangkabau. Perubahan itu juga terjadi pada lekson yang berkait dengan peralatan rumah tangga. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan keadaan penggunaan leksikon peralatan rumah tangga yang lama, penggunaan leksikon peralatan rumah tangga yang baru dan pengaruh penggunaannya pada leksikon yang lama dan lekskon yang terkait dengan leksikon lama tersebut. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode cakap dengan seperangkat teknik. Pengumpulan data dilakukan di daerah yang termasuk pinggiran kota. Informan terdiri dari generasi yang berbeda dengan tujuan mengetahui eksistensi dari leksikon di generasi tersebut. Data dianalisis dengan menggunakan metode padan referensial dan translasional dengan seperangkat teknik yang sesuai dengan penelitian ini. Dari analisis data diperoleh leksikon lama dan leksikon baru di ranah peralatan rumah tangga.  Penggunaan leksikon baru dapat berdampak, yaitu hilangnya penggunaan leksikon lama dan leksikon yang lain yang berkolokasi dengannya. 
Challenges in Pronouncing Indonesian Vowels: Phoneme Realization Among American BIPA Learners Dewi Wahyuning Astuti; Lia Maulia Indrayani; Erlina Zulkifli Mahmud
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.8021

Abstract

Due to cultural linguistic exchanges, and the strategic value of being able to communicate in the language for academic, business, and diplomatic purposes, the number of foreign students enrolling in Bahasa Indonesia for Foreign Speakers (BIPA) programs has increased. As BIPA students acquire Indonesian as a second language, it will be challenging. The purpose of this study is to identify the realization of Indonesian vowels in BIPA (Indonesian for Foreign Speakers) by American students learning Indonesian, as well as to see the most common vowel realizations produced by BIPA learners. The method used was Qualitative research conducted with a descriptive method. Data were collected from in-depth interviews and recorded speech samples. The analysis was conducted by transcribing speech into phonetic transcriptions to find the realization of phonemes uttered by BIPA students from America. Data consist of different phonological phonemes that were uttered by seven American BIPA students at Malang University. The result show that there were three categories of phoneme realization linguistic, there are phoneme additions, phoneme deletions, and phoneme alterations. The data showed different realization phonemes occurred in Vowel /a/, /i/, /e/, /o/, /ə/, /ʊ/, /u/. By understanding these different realizations, educators can develop more effective lesson plans to improve pronunciation and fluency for American BIPA learners. Abstrak Karena pertukaran bahasa budaya, dan nilai strategis untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia untuk tujuan akademis, bisnis, dan diplomatik, jumlah siswa asing yang mendaftar di program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) telah meningkat. Ketika pemelajar BIPA memperoleh bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi realisasi vokal bahasa Indonesia dalam BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) oleh mahasiswa asal Amerika yang belajar bahasa Indonesia, serta melihat realisasi vokal yang paling umum diproduksi oleh pemelejar BIPA. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang dilakukan dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan dari wawancara mendalam dan rekaman sampel ujaran. Analisis dilakukan dengan mentranskrip ucapan ke dalam transkripsi fonetik untuk menemukan realisasi fonem yang diucapkan oleh mahasiswa BIPA dari Amerika. Data terdiri dari berbagai fonem fonologis yang diucapkan oleh tujuh mahasiswa BIPA Amerika di Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga kategori realisasi fonem linguistik yaitu penambahan fonem, penghilangan fonem, dan perubahan fonem. Data menunjukkan realisasi fonem yang berbeda terjadi pada vokal /a/, /i/, /e/, /o/, /ə/, /ʊ/, /u/. Dengan memahami realisasi yang berbeda ini, para pengajar dapat mengembangkan rencana pelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan pelafalan dan kefasihan bagi para pemelajar BIPA.
Proses Material dalam Klausa Bahasa Inggris Pada Teks Asuransi Jiwa: Pendekatan Tata Bahasa Fungsional Ponia Mega Septiana; Eva Tuckyta Sari Sujatna; Rosaria Mita Amalia
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 8, No 2 (2019): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v8i2.884

Abstract

This research focuses on the material processes that are applied in the text of Life Insurance. The data is obtained from the brochures of Life Insurance in several companies. The collected data are taken randomly. This research discusses two main points: 1) the lexical verb describes the type of material process, and 2) the role of participants are used in the material process within the text. They are analyzed based on the theory of systemic functional linguistic focus on transitivity (material process) by Halliday (2014). This research applies the descriptive qualitative method that uses two techniques. First, selects and collects the clauses. Second, analyze and describes the clause based on the research questions. The result of the research reveals that the lexical verb describes the type of material processes in the text of life insurance. The verbs are an offer, receive, protect, provide, customize, request, access, earn, allow, decrease, increase, lock, change, add, choose, take, pay, buy, build, work, help, and give. Then, the roles of participants are involved in the text such as actor, goal, and recipient. ABSTRAKPenelitian ini merupakan penerapan proses material dalam teks tentang asuransi jiwa. Data dari penelitian ini diperoleh dari brosur – brosur asuransi jiwa dari berbagai perusahaan asuransi. Pengumpulan data diambil secara acak. Penelitian ini membahas dua poin utama yaitu 1) verba leksikal yang menggambarkan tipe material proses. 2) peran partisipant yang digunakan dalam material proses dalam teks tersebut. Teks dianalisis berdasarkan teori Systemic Fuctional Linguistik yang berfokus pada transitivity (material process) dari Halliday (2014). Penelitian ini juga menerapkan metode kualitatif deskripitf dengan menggunakan dua teknik analisis. Pertama, memilah dan mengumpulkan data klausa, dan yang kedua menganalisis dan menggambarkan klausa berdasarkan pertanyaan. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa verba leksikal yang menggambarkan tipe material proses dalam teks asuransi jiwa adalah offer, receive, protect, provide, customize, request, access, earn, allow, decrease, increase, lock, change, add, choose, take, pay, buy, build, work, help, dan give. Selanjutnya, peran partisipant yang terlibat dalam teks seperti actor, goal dan recipient.