cover
Contact Name
Winci Firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
jurnalranahbahasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : 25798111     DOI : https://doi.org/10.26499/rnh
Core Subject :
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa Jawa Kromo Ketika Lebaran Pada Ranah Keluarga: Tinjauan Sosiolinguistik Riqko Nur Ardi Windayanto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.3803

Abstract

This study aims to reveal the shift and maintenance of formal Javanese (kromo) during Eid in the family domain by searching the language choices and its underlying factors. This is qualitative research. The research data consists of verbal data (the utterances that used when sungkeman or greeting as a central ritual in Eid) and social data, namely the reasons behind the use of these utterances. Both are obtained by semi-structured interviews. In addition, social data is obtained by literature study. The data are analyzed by using ethnographic methods, namely (1) analyzing the forms of language choice in accordance with the theory; and (2) explaining the constellation factors and language shifts-maintenance of informants’ explanations, interpretations, and expert explanations. Based on the research result, language choices include variations in the same language, code switching, and a combination of code-switching and code-mixing between formal Javanese, Indonesian, and Arabic. The selection is motivated by linguistic factors and social factors. This shows that the shift from Javanese to other languages during Eid do not fully occur. Its use is still maintained. Both are motivated by social factors of each. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pergeseran dan pemertahanan bahasa Jawa kromo ketika lebaran pada ranah keluarga dengan menelusuri pilihan bahasa dan faktor yang melatarbelakanginya. Data penelitian terdiri atas data verbal (tuturan-tuturan yang digunakan ketika sungkeman atau salaman sebagai ritual sentral dalam lebaran) dan data sosial, yaitu alasan-alasan di balik penggunaan tuturan-tuturan tersebut. Keduanya diperoleh dengan wawancara semi terstruktur. Sebagai tambahan, data sosial diperoleh dengan studi kepustakaan. Data dianalisis dengan menggunakan metode etnografi, yaitu (1) menganalisis bentuk-bentuk pilihan bahasa sesuai dengan teori; serta (2) menjelaskan konstelasi faktor dan pergeseran-pemertahanan bahasa berdasarkan penjelasan informan, interpretasi, dan penjelasan pakar. Berdasarkan hasil penelitian, pilihan-pilihan bahasa meliputi variasi dalam bahasa yang sama, alih kode, dan gabungan alih kode-campur kode antara bahasa Jawa kromo, bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Pemilihan itu dilatarbelakangi oleh faktor linguistis dan faktor sosial. Hal itu menunjukkan bahwa pergeseran dari bahasa Jawa kromo ke bahasa-bahasa lain pada saat lebaran tidak sepenuhnya terjadi. Penggunaannya masih dipertahankan. Keduanya dilatarbelakangi oleh faktor sosial masing-masing.
Strategi Kesantunan Mahasiswa Asing di Indonesia Ketika Meminta Bantuan dan Meminta Maaf Siti Salamah; Hermanto Hermanto; Dedi Wijayanti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8396

Abstract

Previous research on the pragmatic politeness strategies of foreign students has only examined the politeness maxims used by these students. This study examines how foreign students ask for help and apologize from a gender perspective. The objectives of this study are to determine the following: (1) the types of politeness strategies frequently used by foreign male and female students, (2) the strategies used when asking for help, and (3) the strategies used when apologizing. These strategies are based on the theory of Brown and Levinson. This study employed a qualitative case study research method. The researcher employed observation, recording, and interviewing techniques. Data were analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña (2014) model. The data were validated using credibility, transferability, dependability, and objectivity tests. The results show that male foreign students tend to use direct strategies when asking for help or apologizing. Conversely, female students tend to use negative politeness strategies when asking for help or apologizing. An interesting finding emerged in the category of apologizing for social relations: both male and female foreign students tended to use negative politeness strategies. They used these strategies to maintain good social relations. Abstrak Penelitian strategi pragmatik kesantunan mahasiswa asing sebelumnya hanya berfokus pada deskripsi maksim kesopanan mahasiswa asing. Penelitian ini akan meneliti bagaimana mahasiswa asing meminta bantuan dan meminta maaf dari perspektif gender. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) jenis strategi kesantunan mahasiswa dan mahasiswi asing yang sering digunakan; (2) strategi kesantunan mahasiswa dan mahasiswi asing ketika meminta bantuan; dan (3) strategi kesantunan mahasiswa dan mahasiswi asing ketika meminta maaf. Strategi kesantunan dalam penelitian ini mengacu pada teori Brown dan Levinson. Metode penelitian ini adalah studi kasus kualitatif. Peneliti menggunakan teknik observasi, perekaman, dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña (2014). Keabsahan data dilakukan dengan uji kredibilitas, uji transferabilitas, uji dependabilitas, dan terakhir uji objektivitas. Hasil menunjukkan mahasiswa asing cenderung menggunakan strategi langsung saat meminta bantuan dan meminta maaf. Sebaliknya, mahasiswi cenderung memakai strategi kesantunan negatif saat meminta bantuan dan meminta maaf. Hal menarik muncul pada kategori aktivitas permintaan maaf tentang relasi sosial, mahasiswa dan mahasiswi asing sama-sama cenderung menggunakan strategi kesantunan negatif. Strategi tersebut digunakan untuk menjaga hubungan sosial tetap terjalin baik.
PENERAPAN PRINSIP KERJASAMA GRICE DALAM INTERAKSI TAWAR MENAWAR (ANALISIS ETNOGRAFI KOMUNIKASI DI PASAR SIMPANG TIGO, PASAMAN BARAT) Astuti Samosir
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v4i2.30

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk membahas dan mereview penerapan prinsip kerja sama Grice dalam interaksi tawar-menawar di Pasar Simpang Tigo dengan cara mereview empat maksim: maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Pendekatan penelitiannya adalah pendekatan kualitatif, sementara kajian ini menggunakan metode etnografi komunikasi. Hasil kajian atas interaksi tawar-menawar di pasar, yaitu penerapan dan pelanggaran prinsip kerja sama Grice (maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara). Penerapan yang secara luas digunakan di dalam interaksi tawar-menawar adalah maksim relevansi dan maksim cara, sementara pelanggaran terhadap maksim adalah maksim kuantitas dan maksim kualitas.
Keterancaman Bahasa Roswar: Analisis Daya Hidup Bahasa Santy Yulianti; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2942

Abstract

Roswar language is one of the languages in West Papua which has less than 5000 native speakers, so this language vitality study is needed to measure the vitality of the Roswar language. This paper is the result of research on the vitality of the Roswar language in Waprak and Nordiwar Villages, Roswar District, Teluk Wondama Regency, West Papua Province. This study aims to describe the language vitality in Papua/West Papua. The scope of this research is based on sociolinguistic theories, especially those related to the vitality of language and endangered languages. The use of language in the written domain/expression domain, use of language in the religion domain, and the use of language in the education domain are mostly at a level of decline. Language vitality which is at a threatened level is the use of language in the transactions domain. The vitality of Roswar language is based on the P value (P-value) which explains the relationship between the variables in each index compared to the mobility of the informants in the relative urban-rural position, the use of language in the family domain, the use of language in the written expression domain, the use of language to express expression of feelings, use of language in the religion domain, and use of language in the government domain. AbstrakTulisan ini merupakan hasil penelitian vitalitas bahasa Roswar di desa Waprak dan Nordiwar, Distrik Roswar, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan vitalitas bahasa di Papua/Papua Barat. Cakupan penelitian ini didasarkan pada teori-teori sosiolinguistik khususnya yang berkaitan dengan vitalitas bahasa dan bahasa terancam punah. Penggunaan bahasa pada ranah/ekspresi tulis, penggunaan bahasa pada ranah keagamaan, dan penggunaan bahasa pada ranah pendidikan sebagian besar berada pada tingkat mengalami kemunduran. Vitalitas bahasa yang berada pada tingkat terancam adalah penggunaan bahasa pada ranah transaksi. Vitalitas bahasa Roswar berdasarkan nilai P (P-value) yang menerangkan keterkaitan variabel-variabel dalam tiap indeks yang dibandingkan berada di ranah mobilitas informan pada posisi relatif kota-desa, penggunaan bahasa pada ranah keluarga, penggunaan bahasa pada ranah/ekspresi tulis, penggunaan bahasa untuk mengungkapkan ekspresi perasaan, penggunaan bahasa pada ranah keagamaan, dan penggunaan bahasa pada ranah pemerintahan.                  
Preposition of Customary Language on Manjapuik Marapulai of Pasambahan Text in Solok City, West Sumatera Eriza Nelfi; Elvina A. Saibi; Iman Laili
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.5965

Abstract

This study aims to describe the preposition of the various convention languages in the text of Pasambahan Manjapuik Marapulai (hereinafter abbreviated as TPMM) in Solok City, West Sumatera. TPMM is one of a series of marriage ceremonies carried out according to Minangkabau custom in Solok City. The method in this study uses a qualitative descriptive method with the object of study in the form of prepositions in TPMM. The research data is in the form of sentences containing prepositional phrases contained in the TPMM. For data collection, the listening method was used with note-taking techniques. Furthermore, to analyze the data, the distribution method was used with the direct element division technique as a basic technique and an advanced technique in the form of marking reading techniques. The results of the research show that the prepositional forms found are the basic prepositions and the derived forms in the form of combined prepositions of type the meaning found is the place of being, the place of origin, the place of destination, origin, a certain place, comparison, and inclusion.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan preposisi bahasa ragam adat dalam teks Pasambahan Manjapuik Marapulai (selanjutnya disingkat dengan TPMM) di Kota Solok, Sumatera Barat. TPMM adalah salah satu rangkaian upacara proses perkawinan yang dilakukan secara adat Minangkabau di Kota Solok. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan objek kajian  berupa preposisi dalam TPMM. Data penelitian ini berupa kalimat yang mengandung frasa preposisional yang terdapat dalam TPMM. Untuk pengumpulan data digunakan metode simak dengan teknik catat. Selanjutnya, untuk menganalisis data digunakan metode agih dengan teknik  bagi unsur langsung sebagai teknik dasar dan teknik lanjutan berupa teknik baca markah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk preposisi yang ditemukan adalah preposisi  bentuk dasar dan   bentuk turunan berupa preposisi gabungan.  Jenis makna yang ditemukan adalah tempat berada, tempat asal, tempat tujuan, tempat tertentu; perbandingan, dan kesertaan.
Pemertahanan Bahasa Bare’e Pada Masyarakat Pamona di Kecamatan Poso Pesisir: Kajian Sosiolinguistik Fatmawati Fatmawati; Moh. Tahir; Yunidar Yunidar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8523

Abstract

This study discusses the maintenance of the Bare’e language among the Pamona community in Poso Pesisir District from a sociolinguistic perspective. The study focuses on the forms of Bare’e language maintenance and the factors influencing the continuity of its use amid social changes within the community. The objectives of this study are to describe the forms of Bare’e language maintenance among the Pamona people in Poso Pesisir District and to analyze the factors affecting the sustainability of the language’s use. This research employed a qualitative method with a sociolinguistic approach. The data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving traditional leaders, teachers, parents, young people, and members of the Pamona community as speakers of the Bare’e language. Data analysis applied the Miles and Huberman model, which consists of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the maintenance of the Bare’e language still exists in both formal and informal domains. In formal settings, the Bare’e language is used in schools, village institutions, and traditional ceremonies as a symbol of cultural identity and a medium for conveying the social values of the Pamona community. In informal settings, the language is used within families, daily social interactions, and local cultural activities. The factors influencing the continuity of the Bare’e language consist of internal and external factors. Internal factors include community awareness of the importance of the local language, language attitudes, and the role of families and traditional leaders in language transmission. External factors include the dominance of the Indonesian language in formal education, the influence of globalization and digital media, urbanization, and the support of social institutions and the government for local language preservation. This study demonstrates that maintaining the Bare’e language requires the active involvement of the community, families, and social institutions to ensure that the Bare’e language continues to survive as a cultural identity of the Pamona people in Poso Pesisir District. Abstrak Penelitian ini membahas pemertahanan bahasa Bare’e pada masyarakat Pamona di Kecamatan Poso Pesisir dalam kajian sosiolinguistik. Permasalahan dalam penelitian ini difokuskan pada bentuk pemertahanan bahasa Bare’e serta faktor-faktor yang memengaruhi keberlangsungan penggunaannya di tengah perubahan sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pemertahanan bahasa Bare’e pada masyarakat Pamona di Kecamatan Poso Pesisir dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keberlangsungan penggunaan bahasa tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosiolinguistik. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tokoh adat, guru, orang tua, generasi muda, dan masyarakat Pamona sebagai penutur bahasa Bare’e. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemertahanan bahasa Bare’e masih berlangsung dalam ranah formal dan informal. Dalam ranah formal, bahasa Bare’e digunakan di sekolah, instansi desa, dan kegiatan adat sebagai simbol identitas budaya dan media penyampaian nilai sosial masyarakat Pamona. Dalam ranah informal, bahasa Bare’e digunakan dalam lingkungan keluarga, interaksi sosial masyarakat, dan kegiatan budaya lokal. Faktor-faktor yang memengaruhi keberlangsungan penggunaan bahasa Bare’e terdiri atas faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kesadaran masyarakat terhadap pentingnya bahasa daerah, sikap bahasa, serta peran keluarga dan tokoh adat dalam pewarisan bahasa. Faktor eksternal meliputi dominasi Bahasa Indonesia dalam pendidikan formal, pengaruh globalisasi dan media digital, urbanisasi, serta dukungan lembaga sosial dan pemerintah terhadap pelestarian bahasa daerah. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemertahanan bahasa Bare’e memerlukan keterlibatan aktif masyarakat, keluarga, dan lembaga sosial agar bahasa Bare’e tetap bertahan sebagai identitas budaya masyarakat Pamona di Kecamatan Poso Pesisir.
Bahasa Iklan di Antara Erotisme dan Simbiosis Mutualisme Abd Rahman Rahim; Arifuddin Arifuddin; Wardiman Wardiman
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.3366

Abstract

The main problem discussed in this study is the use of language in advertising media as a form of using Indonesian in public spaces. Through promotion through advertising, a product can be known by the public and this is the purpose of an advertised product. The approach used in this study is a qualitative approach, namely research that produces descriptive data in the form of spoken or written words from people or observed behavior. The described aspect is the result of an analysis of the use of vulgar language and the meaning contained in each advertisement. Based on an analysis of several advertised products, both on electronic media (television) and on social media, it is evident that erotic word choices are used in advertising media. AbstrakMasalah utama yang dibahas dalam penelitian ini adalah pemakaian bahasa di media iklan sebagai salah satu bentuk pemakaian bahasa Indonesia di ruang publik. Melalui promosi lewat iklan, sebuah produk dapat dikenal oleh masyarakat dan inilah yang menjadi tujuan sebuah produk diiklankan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yakni penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata lisan atau tertulis dari orang atau prilaku yang diamati. Aspek yang dideskripsikan adalah hasil analisis pemakaian bahasa vulgar dan makna yang terkandung dalam setiap iklan. Berdasarkan hasil analisis terhadap beberapa produk yang diiklankan, baik di media elektronek (televisi) maupun di media sosial terbukti bahwa pilihan kata yang bersifat erotis digunakan dalam media iklan.
Bentuk Tindak Tutur Ekspresif dalam Tayangan Mata Najwa Serial “Gaduh Tiga Periode”. Laili Etika Rahmawati; Zulfa Destia Isnaini; Zahy Riswahyudha Ariyanto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.4126

Abstract

Najwa's eyes are often the basis for people's opinions and feelings being expressed. The expressive speech acts in Mata Najwa's talk show entitled "Three Periods of Noise" provide an illustration of how society responds to important and even controversial issues. This research aims to describe the form of expressive speech acts in the Mata Najwa serial "Gaduh Tiga Period". This research uses a qualitative descriptive research method with the steps: (1) selection of material and context, (2) data collection, (3) identification of expressive speech acts, (4) classification and categorization, (5) analysis of language and speaking style, (6) interpretation of meaning and context, (7) critical analysis, (8) presentation of results, and (9) conclusion. This research data uses the form of oral data delivered by speakers in the Mata Najwa serial "Gaduh Tiga Period". The technique used in this research uses listening and note-taking techniques. Test the validity of the data using theoretical triangulation by linking existing theories with the data collected. After the data is collected, it is then analyzed to draw conclusions. The results of this research show that it consists of (1) 8 forms of expressive speech acts of greeting, (2) 14 forms of expressive speech acts of hope, (3) 4 forms of expressive speech acts of blaming, (4) 4 forms of expressive speech acts of praising, (5) 4 forms of expressive speech acts of approval, (6) 2 forms of expressive speech acts of gratitude, and (7) 4 forms of expressive speech acts of thanks. The conclusion of this research shows that the expressive speech acts in the Mata Najwa serial with the topic "Gaduh Tiga Period" show that there is diversity in the expression of views, both supportive and non-supportive. AbstrakMata Najwa seringkali menjadi basis opini dan perasaan masyarakat diungkapkan. Tindak tutur ekspresif dalam gelar wicara Mata Najwa bertajuk “Gaduh Tiga Periode” memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat merespons isu penting bahkan kontroversial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk tindak tutur ekspresif dalam tayangan Mata Najwa serial “Gaduh Tiga Periode”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah: (1) pemilihan materi dan konteks, (2) pengumpulan data, (3) identifikasi tindak tutur ekspresif, (4) klasifikasi dan kategorisasi, (5) analisis bahasa dan gaya berbicara, (6) penafsiran makna dan konteks, (7) analisis kritis, (8) penyajian hasil, dan (9) penyimpulan. Data penelitian ini menggunakan wujud tuturan data lisan yang disampaikan oleh penutur dalam acara Mata Najwa serial “Gaduh Tiga Periode”. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik simak dan catat. Uji validitas data menggunakan triangulasi teori dengan cara mengaitkan teori-teori yang ada dengan data yang terkumpul. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis untuk mendapatkan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdiri dari (1) 8 bentuk tindak tutur ekspresif salam, (2) 14 bentuk tindak tutur ekspresif berharap, (3) 4 bentuk tindak tutur ekspresif menyalahkan, (4) 4 bentuk tindak tutur ekspresif memuji, (5) 4 bentuk tindak tutur ekspresif menyetujui, (6) 2 bentuk tindak tutur ekspresif bersyukur, dan (7) 4 bentuk tindak tutur ekspresif terima kasih. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tindak tutur ekspresif dalam serial Mata Najwa dengan topik “Gaduh Tiga Periode” terdapat keanekaragaman dalam ekspresi pandangan baik yang mendukung maupun yang tidak.
Proses Morfologis dan Makna Semantik Kosakata Pembelajar, Pebelajar, dan Pemelajar Gatut Susanto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.2289

Abstract

This paper aims to explain the morphological process and semantic meaning of the following three words, namely; pembelajar, pebelajar, and pemelajar. The method used in this study is descriptive analysis. The results show that morphological process of the words pembelajar and pebelajar are formed by giving the prefix peN- on the basic form of belajar (verb). These two words are categorized as agentive one-two in pairs. The first agentive acts as an ordinate, while the second agentive acts as a sub-ordinate. On the other hand, the word pemelajar is formed by the process of prefixing peN- on the basic form of pelajar (noun). Besides, semantically, the word pembelajar means a person who gives learning to students, and the word pebelajar means a person who receives learning. While the word pemelajar, semantically, it does not has a clear concept of meaning. Based on the findings above, it is recommended to the teachers of Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) and to those who concerned about BIPA to be aware of the Indonesian linguistics when they use the three vocabularies to someone who is learning BIPA. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk menjelaskan proses morfologis dan makna semantik kosakata pembelajar, pebelajar, dan pemelajar. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif terhadap proses morfologis dan makna semantik terhadap ketiga kosakata tersebut. Hasil analisis morfologis kosakata pembelajar dan pebelajar adalah nomina yang dibentuk dengan pengimbuhan peN- pada bentuk dasar belajar. Kedua kosakata tersebut berkategori agentif satu-dua secara berpasangan. Proses pembentukan nomina berkategori agentif satu-dua berlaku pada bentuk dasar berupa verba. Kosakata pemelajar adalah nomina yang dibentuk dengan pengimbuhan peN- pada bentuk dasar pelajar. Pembentukan kosakata pemelajar dari bentuk dasar pelajar tidak diperlukan karena pelajar sudah nomina, jadi tidak perlu dinominakan lagi. Secara semantik, pembelajar bermakna sebagai agentif satu dan pebelajar agentif dua. Secara semantik, kosakata pemelajar cenderung membingungkan pemakai bahasa Indonesia (BI). Oleh karena itu, disarankan kepada pemakai BI, terutama pengajar dan pegiat BIPA untuk peka linguistik bahasa Indonesia ketika menggunakan ketiga kosakata tersebut untuk menyebut orang asing yang belajar BIPA. 
Praktik Akomodasi Bahasa di Kabupaten Pangandaran Dwi Wahyuni; Sri Munawarah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.7324

Abstract

This study aims to explain the pattern of language accommodation and the factors that influence the occurrence of language accommodation in Pangandaran Sub-district so that the language choices of the community can be known. The focus of this research is linguistic variables so that language accommodation in Pangandaran Sub-district can be illustrated. This research uses qualitative methods with instruments in the form of questionnaires and lists of swadesh words and lists of basic cultural words according to the meaning field. The approach used in this research is sociolinguistic approach. The data in this study were obtained from direct observation and interviews. The data were classified to identify the language accommodation patterns and the factors causing the language accommodation. The findings of this research are language accommodation patterns in Pangandaran Sub-district in the form of convergence and divergence. The language accommodation is influenced by social identity factor and individual experience. Based on the pattern of accommodation and the factors that influence it, it can be seen that the language choice of Pangandaran Sub-district people is in the form of single language, code switching, and code mixing. The findings can show the language accommodation in Pangandaran Sub-district so that it can be used as a basis for planning appropriate efforts in language and culture preservation.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pola akomodasi bahasa dan faktor yang memengaruhi terjadinya akomodasi bahasa di Kecamatan Pangandaran sehingga dapat diketahui pilihan bahasa masyarakatnya. Fokus penelitian ini adalah variabel linguistik sehingga dapat tergambar akomodasi bahasa di Kecamatan Pangandaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan instrumen berupa kuesioner serta daftar kata swadesh dan daftar kata budaya dasar menurut medan makna. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiolinguistik. Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi dan wawancara secara langsung. Data diklasifikasi untuk diidentifikasi pola akomodasi bahasanya dan faktor penyebab terjadinya akomodasi bahasa tersebut. Hasil temuan penelitian ini adalah pola akomodasi bahasa di Kecamatan Pangandaran berupa konvergensi dan divergensi. Akomodasi bahasa tersebut dipengaruhi oleh faktor identitas sosial dan pengalaman individual. Berdasarkan pola akomodasi dan faktor yang memengaruhinya dapat terlihat bahwa pilihan bahasa masyarakat Kecamatan Pangandaran berupa tunggal bahasa, alih kode, dan campur kode. Hasil temuan-temuan itu dapat menunjukkan akomodasi bahasa di Kecamatan Pangandaran sehingga dapat dijadikan landasan untuk merencanakan upaya yang tepat dalam pelestarian bahasa dan budaya.