cover
Contact Name
Muhamad Sahiddin
Contact Email
jurnaljktp@gmail.com
Phone
+6281342494099
Journal Mail Official
msahiddin@gmail.com
Editorial Address
Jalan Padang Bulan II, Hedam, Distrik Heram, Kota Jayapura
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Tropis Papua
ISSN : -     EISSN : 26545756     DOI : https://doi.org/10.47539
Core Subject :
Peer-reviewed, open-access journal publishing original research articles, systematic reviews, and nursing case studies in the field of nursing science and practice. Scientific coverage focuses on tropical nursing, with an emphasis on malaria, tuberculosis, dengue fever, and other neglected tropical diseases, as well as all fundamental fields of nursing practice in eastern Indonesia and similar tropical settings.
Arjuna Subject : -
Articles 147 Documents
HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN GIZI SEIMBANG PADA IBU HAMIL DALAM MENCEGAH STUNTING: THE RELATIONSHIP OF HUSBAND SUPPORT TO FULFILLMENT BALANCED NUTRITION NEEDS OF PREGNANT WOMEN IN PREVENTING STUNTING Tania Aisyah Rinaldi; Yulia Irvani Dewi; Tesha Hestyana Sari
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i2.354

Abstract

Stunting menjadi isu gizi yang aktual pada balita di era global masa ini. Karenanya, pemerintah Indonesia tengah berupaya mengurangi insiden stunting melalui langkah-langkah berupa intervensi gizi  spesifik maupun intervensi gizi sensitif. Dukungan suami menjadi esensial bagi ibu hamil dalam pemenuhan kebutuhan gizi yang seimbang, di mana peran suami memiliki peran yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan suami dengan pemenuhan kebutuhan gizi seimbang dalam mencegah stunting. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang dilakukan di Puskesmas Rejosari pada bulan Juni-Juli 2023. Sampel penelitian terdiri dari 105 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan dipilih menggunakan teknik probability sampling. Metode analisis yang diterapkan adalah analisis bivariat uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki konsumsi energi yang normal (64,8%). Dukungan suami berada pada kategori tinggi pada dimensi informasional (73,3%), penilaian (73,3%) dan emosional (73,3%). Sedangkan pada dimensi instrumental, sebanyak 60% responden menyatakan mendapatkan dukungan dalam kategori rendah. Dukungan suami dalam bentuk dukungan informasional (p= 0,104), dukungan instrumental (p=0,429), dukungan penilaian (p= 0,051), dan dukungan emosional (p= 0,325) tidak berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan gizi seimbang ibu hamil. Hasil analisis pada variabel dukungan keluarga secara keseluruhan diperoleh nilai p= 0,425, yang menunjukkan tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemenuhan kebutuhan gizi seimbang pada ibu hamil. Pentingnya pendekatan holistik dalam program intervensi nutrisi yang tidak hanya melibatkan dukungan suami, tetapi juga melibatkan faktor lain seperti pendidikan gizi, akses terhadap sumber makanan berkualitas, serta dukungan sosial dan kesehatan.   Abstract Stunting has become a current nutritional issue among toddlers in this global era. Consequently, the Indonesian government strives to reduce the incidence of stunting through specific and sensitive dietary interventions. Husband's support is essential for pregnant women in fulfilling balanced nutritional needs, where the husband's role is significant. This study aims to determine the relationship between a husband's support and the fulfillment of balanced nutritional needs in preventing stunting. This research uses a cross-sectional design conducted at Rejosari Public Health Center in June-July 2023. The study sample comprised 105 respondents who met the inclusion criteria and were selected using probability sampling techniques. The applied analysis method is the bivariate Kolmogorov-Smirnov test. The study results show that most respondents have normal energy consumption (64.8%). Husband's support was in the high category in the informational (73.3%), appraisal (73.3%), and emotional (73.3%) dimensions. However, 60% of respondents in the instrumental dimension stated they received support in the low category. Husband's support in the form of informational support (p= 0.104), instrumental support (p=0.429), appraisal support (p= 0.051), and emotional support (p= 0.325) was not related to fulfilling pregnant women's balanced nutritional needs. The overall family support variable analysis yielded a p-value of 0.425, indicating no relationship between the husband's support and the fulfillment of balanced nutritional needs in pregnant women. The importance of a holistic approach in nutritional intervention programs is emphasized, involving both husband's support and other factors such as nutritional education, access to quality food sources, and broader social and health support.
HUBUNGAN SEDENTARY LIFESTYLE DAN POLA TIDUR DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA REMAJA USIA 14-18 TAHUN: THE RELATIONSHIP BETWEEN SEDENTARY LIFESTYLE AND SLEEP PATTERNS WITH THE INCIDENCE OF OBESITY IN ADOLESCENTS AGED 14-18 YEARS Fiqih Zakiyah ilyas; Arneliwati; Aminatul Fitri
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i2.355

Abstract

Masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa disebut dengan masa remaja. Sedentary lifestyle adalah mencakup aktivitas apa pun yang dilakukan di luar tempat tidur, dengan posisi paling umum atau dominan adalah duduk dan berbaring, serta jumlah kalori yang terbakar minimal. Semakin lama seseorang melakukan sedentary semakin besar kemungkinan seseorang untuk mengalami beberapa masalah kesehatan, termasuk obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sedentary lifestyle dan pola tidur dengan kejadian obesitas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif menggunakan desain cross-sectional di Pekanbaru. Sampel penelitian sebanyak 277 responden dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Pengukuran sedendary lifestyle menggunakan Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ). Analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian yang didapatkan karakteristik responden sebagian besar responden usia 16 tahun (51,4%) dan berjenis kelamin perempuan (58,5%). Sebanyak 66,4% remaja berada pada kategori sedentary lifestyle sedang. Ada hubungan hubungan antara sedentary lifestyle dengan kejadian obesitas pada remaja usia 14- 18 tahun (p= 0,031). Sedangkan pola tidur tidak berhubungan dengan kejadian obesitas (p=1,000). Sekolah dan orang tua dapat berperan aktif dalam memberikan edukasi dan fasilitas untuk mendukung gaya hidup aktif di kalangan remaja. Selain itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkaji faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi kejadian obesitas pada remaja, termasuk pola makan, faktor genetik, dan lingkungan sosial. Abstract The transition period between childhood and adulthood is called adolescence. A sedentary lifestyle includes any activity conducted outside of bed, with the most common or dominant positions being sitting and lying down and minimal calories burned. The longer an individual engages in sedentary behavior, the greater the likelihood of experiencing several health problems, including obesity. This study aims to determine the relationship between a sedentary lifestyle and sleep patterns and the incidence of obesity. It employs a descriptive method using a cross-sectional design in Pekanbaru. The study sample consisted of 277 respondents, selected using stratified random sampling. Sedentary lifestyle measurement was conducted using the Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ). Bivariate analysis was carried out using the chi-square test. The results showed that most respondents were 16 (51.4%) and female (58.5%). About 66.4% of adolescents were in the moderate sedentary lifestyle category. There was a significant relationship between a sedentary lifestyle and the incidence of obesity in adolescents aged 14-18 years (p= 0.031). However, sleep patterns were not related to the incidence of obesity (p=1.000). Schools and parents can play an active role in providing education and facilities to support an active lifestyle among adolescents. Furthermore, further research is needed to examine other factors that may influence the incidence of obesity in adolescents, including dietary patterns, genetic factors, and the social environment.
PENGARUH PEMBERIAN JUS BUAH NAGA MERAH (HYLROCEREUS POLYRHIZUS) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL PADA PEGAWAI DENGAN HIPERKOLESTEROLEMIA : THE EFFECT OF ADMINISTRATION OF RED DRAGON FRUIT (HYLROCEREUS POLYRHIZUS) JUICE ON TOTAL CHOLESTEROL LEVELS IN EMPLOYEES WITH HYPERCHOLESTEROLEMIA Rizki Sari Utami; Siska Natalia; Rahma Dewita Sopha
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i1.356

Abstract

Buah naga dengan daging buah berwarna merah berpotensi menurunkan kolesterol total dan trigliserida dan antioksidan, antara lain flavonoid, betain, hidroksisinamat, karotenoid, likopen, asam linoleat dan linolenat, serta vitamin C. Penelitian bertujuan untuk menguji pengaruh konsumsi jus buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap tingkat kolesterol total. pada pegawai hiperkolesterolemia. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimental dengan rancangan pre test and post test with control group. Sampel penelitian dibagi menjadi 2 kelompok masing-masing 15 responden yang dipilih dengan purposive sampling. Kelompok intervensi diberikan jus buah naga merah selama 21 hari di pagi hari. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok intervensi terjadi penurunan rata-rata kadar kolesterol setelah diberikan intervensi pemberian jus buah sebesar 28,33 mg/dl, dimana sebelum pemberian pemberian jus buah naga merah rata-rata kadar kolesterol sebesar 236,33±21,33 mg/dl dan rata-rata kolesterol sesudah pemberian jus buah naga merah sebesar 208,0±22,5 mg/dl. Ada perbedaan rata-rata kadar kolesterol antara kelompok yang diberikan jus buah naga merah dengan kelompok kontrol sebesar 20,8 mg/dl sesudah pemberian jus buah naga merah dengan nilai p= 0,014, yang berarti perbedaan kadar kolesterol antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol signifikan secara statistik. Jus buah naga merah dapat direkomendasikan sebagai terapi komplementer non-farmakologis dalam penatalaksanaan hiperkolesterolemia.   Red dragon fruit, with its red flesh, has the potential to lower total cholesterol and triglycerides due to its antioxidant properties, including flavonoids, betaine, hydroxycinnamates, carotenoids, lycopene, linoleic and linolenic acids, and vitamin C. This study examines the effect of consuming red dragon fruit juice (Hylocereus polyrhizus) on total cholesterol levels in employees with hypercholesterolemia. This study uses a quasi-experimental design with a pre-test and post-test with a control group design. The sample was divided into two groups, each comprising 15 respondents selected through purposive sampling. The intervention group was given red dragon fruit juice for 21 days in the morning. The results showed that in the intervention group, there was an average reduction in cholesterol levels of 28.33 mg/dl after the juice intervention, where the average cholesterol level before the intervention was 236.33±21.33 mg/dl and the average cholesterol level after the red dragon fruit juice intervention was 208.0±22.5 mg/dl. There was a difference in the average cholesterol levels between the group given red dragon fruit juice and the control group of 20.8 mg/dl after the red dragon fruit juice intervention, with a p-value of 0.014, indicating that the difference in cholesterol levels between the intervention and control groups was statistically significant. Red dragon fruit juice can be recommended as a non-pharmacological complementary therapy for hypercholesterolemia.
GRATITUDE DENGAN STRES PASIEN TUBERKULOSIS PARU: GRATITUDE WITH STRESS OF LUNG TUBERCULOSIS PATIENT Ifa Nofalia; Suhendra Agung Wibowo
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i2.358

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu penyakit yang membutuhkan waktu pengobatan lama sehingga rentan mengalami stres. Stres yang dialami pasien tuberkulosis paru sangat berfariatif mulai dari normal, ringan, sedang, parah, hingga sangat parah. Praktik kebersyukur (gratitude) dapat memicu perasaan positif dan mengurangi gangguan emosi yang berdampak pada kesehatan mental, seperti kecemasan, stres, bahkan depresi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan gratitude dengan stres pada pasien TB paru di kecamatan Mojowarno kabupaten Jombang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sejumlah 241 responden dengan sampel 150 responden dan pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Kuesioner Depression, Anxiety, and Stress Scale-21 (DASS-21) digunakan untuk menilai stress dan Gratitude Questionnaire-6 (GQ-6) untuk mengukur gratitude pada pasien. Metode analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan uji spearman rank. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 58,7% responden memiliki tingkat gratitude tinggi, 39,3% sedang dan 2% rendah. Hasil analisa data stres menunjukkan 52% tidak mengalami stres, 38% stres ringan, 8,7% stres sedang dan 1,3% stres berat.  Hasil uji korelasi spearman rank diperoleh nilai p= 0,005 yang artinya terdapat hubungan antara gratitude dengan stress pada pasien tuberkulosis paru. Hal ini berimplikasi bahwa gratitude menjadi dasar bagi seorang pasien tuberkulosis paru dalam mengurangi stres. Abstract Pulmonary tuberculosis (TB) is a disease that requires a long treatment time, making it susceptible to stress. The stress experienced by pulmonary tuberculosis patients varies from normal, mild, moderate, severe, to very severe. The practice of gratitude can trigger positive feelings and reduce emotional disorders that impact mental health, such as anxiety, stress, and even depression. The aim of this research is to determine the relationship between gratitude and stress in pulmonary TB patients in Mojowarno sub-district, Jombang district. This research uses quantitative observational analytical methods with a cross sectional approach. The population in this study was 241 respondents with a sample of 150 respondents and sampling used simple random sampling. The Depression, Anxiety, and Stress Scale-21 (DASS-21) questionnaire is used to assess stress and the Gratitude Questionnaire-6 (GQ-6) to measure gratitude towards patients. The data analysis method used is the Spearman rank test. The results of the research showed that 58.7% of respondents had a high level of gratitude, 39.3% had a medium level and 2% had a low level. The results of stress data analysis showed that 52% experienced no stress, 38% had mild stress, 8.7% had moderate stress and 1.3% had severe stress. The results of the Spearman rank correlation test obtained a value of p= 0.005, which means there is a relationship between gratitude and stress in pulmonary tuberculosis patients. This has the implication that gratitude is the basis for a pulmonary tuberculosis patient in reducing stress.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS METODE VIDEO DAN DEMONSTRASI TATAP MUKA DALAM PRAKTIKUM PEMASANGAN INFUS: COMPARISON OF THE EFFECTIVENESS OF VIDEO AND FACE-TO-FACE DEMONSTRATION METHODS IN INTRAVENOUS INFUSION PRACTICUM Sunarti Sunarti; Hugo Kingson Borneo; Fitri Dia Muspitha; Marjuannah
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i2.359

Abstract

Penerapan praktik laboratorium dengan menggunakan video meskipun diharapkan mampu memberikan pengalaman praktik yang sama dengan tatap muka di laboratorium, namun memunculkan pertanyaan pada praktisi laboratorium keperawatan tentang efektivitas media video sebagai media pembelajaran tunggal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas metode video dan demonstrasi tatap muka dalam praktikum pemasangan infus. Penelitian ini merupakan true eksperiment dengan pre-post test design yang dilakukan pada mahasiswa Program Studi program studi Diploma III Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Jayapura pada bulan Juni - September 2023. Sampel penelitian berjumlah 52 orang yang dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu yang diberikan pembelajaran secara tatap muka dan kelompok yang diberikan pembelajaran dengan video. Analisis data menggunakan uji Mann-whitney, uji wilcoxon dan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan secara signifikan nilai rata-rata sebelum dan sesudah pada masing-masing kelompok pemberian pembelajaran dengan diberikan video (p= 0,001) dan pembelajaran tatap muka (p= 0,000). Ada perbedaan rata-rata skor nilai keterampilan tentang kompetensi pemasangan infus antara kelompok yang diberikan video dengan kelompok tatap muka (p= 0,047). Sedangkan pada pengetahuan, tidak ada perbedaan antara kelompok yang diberikan video dan demonstrasi tatap muka (p= 0,552). Pembelajaran dengan pemberian video dapat dipertimbangkan sebagai media pembelajaran praktikum pemasangan infus. Abstract The implementation of laboratory practices using videos, although expected to provide the same practical experience as face-to-face in the laboratory, raises questions among nursing laboratory practitioners about the effectiveness of video media as a single learning medium. This study aims to test the effectiveness of video methods and face-to-face demonstrations in intravenous infusion practicum. This research is a true experiment with a pre-post test design conducted on students of the Diploma III Nursing Study Program, Politeknik Kesehatan Kemenkes Jayapura in June - September 2023. The research sample consisted of 52 people who were divided into 2 groups: those given face-to-face learning and a group given learning with videos. Data analysis used the Mann-Whitney test, Wilcoxon test, and paired t-test. The results showed a significant difference in the average value before and after in each learning group given with videos (p= 0.001) and face-to-face learning (p= 0.000). There is a difference in the average skill score about the competence of intravenous infusion installation between the group given the video and the face-to-face group (p= 0.047). Meanwhile, in knowledge, there is no difference between the group given video and face-to-face demonstration (p= 0.552). Learning with video provision can be considered as a learning medium for intravenous infusion practicum.
HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI, POLA ASUH, PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN GIZI KURANG PADA BALITA USIA 12-59 BULAN : THE RELATIONSHIP OF NUTRITIONAL KNOWLEDGE, PARENTING PATTERNS, INFECTIOUS DISEASES WITH UNDERNUTRITION IN TODDLER AGES 12-59 MONTHS Rosmin Mariati Tingginehe; Evelin Ardhya Novita Tumbiri
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i2.360

Abstract

Anak balita usia 12-59 bulan merupakan kelompok usia yang paling sering mengalami kekurangan gizi. Di Indonesia, masalah ini menjadi fokus kesehatan masyarakat, mengingat dampak jangka panjangnya pada perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi, pola asuh, dan penyakit infeksi dengan status gizi pada balita usia 12-59 bulan. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Ria, Kota Jayapura dengan menggunakan desain cross-sectional.  Sampel penelitian adalah ibu yang memiliki balita usia 12 – 59 bulan yang berjumlah 91 orang yang ditetapkan menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur pengetahuan gizi, observasi pola asuh, dan catatan medis untuk penyakit infeksi. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 54,9% balita usia 12 – 59 bulan masuk dalam kategori status gizi kurang. Pengetahuan gizi (p= 0,000), pola asuh (p= 0,000) dan penyakit infeksi (p= 0,000) memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Ria. Temuan ini mengindikasikan bahwa perbaikan status gizi dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan ibu tentang gizi dan pola asuh yang baik, serta pencegahan penyakit infeksi pada balita. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk melakukan studi longitudinal untuk mengkaji dampak jangka panjang dari faktor-faktor ini terhadap status gizi anak. Temuan ini dapat berkontribusi dalam pengembangan kebijakan dan program yang ditargetkan untuk mengatasi masalah gizi kurang pada anak-anak di Indonesia. Abstract Children aged 12-59 months are the age group most frequently experiencing nutritional deficiencies. In Indonesia, this issue has become a public health focus, considering its long-term impact on child development. This study aims to determine the relationship between nutritional knowledge, parenting patterns, and infectious diseases with the nutritional status of children aged 12-59 months. The research was conducted in the working area of Puskesmas Tanjung Ria, Jayapura City, using a cross-sectional design. The research sample consisted of 91 mothers with children aged 12 – 59 months, selected using simple random sampling technique. Data were collected through questionnaires measuring nutritional knowledge, observation of parenting patterns, and medical records for infectious diseases. Data analysis used the chi-square test. The results showed that 54.9% of children aged 12 – 59 months had poor nutritional status. Nutritional knowledge (p= 0.000), parenting patterns (p= 0.000), and infectious diseases (p= 0.000) were significantly related to the nutritional status in the working area of Puskesmas Tanjung Ria. These findings indicate that improvements in nutritional status can be achieved by increasing mothers' knowledge about nutrition and good parenting and preventing infectious diseases in toddlers. For future research, it is suggested that a longitudinal study be conducted to examine the long-term impact of these factors on children's nutritional status. These findings can contribute to developing targeted policies and programs to address the issue of poor nutrition in children in Indonesia.
TERAPI HANDHELD FAN TERHADAP DYSPNEA PASIEN CONGESTIVE HEART FAILURE DI RSUD KOTA BAUBAU: HANDHELD FAN THERAPY ON DYSPNEA OF CONGESTIVE HEART FAILURE PATIENTS IN BAUBAU CITY REGIONAL GENERAL PUBLIC HOSPITAL Andi Nurhikma Mahdi; Ian Saputra; Teti Susliyanti Hasiu
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i2.361

Abstract

Congestive heart failure (CHF) merupakan penyakit penyebab kematian terbanyak kedua di Indonesia setelah stroke. Gejala yang sering ditemukan pada CHF adalah dyspnea diikuti nyeri dada dan jantung berdebar. Paroxysmal nocturnal dyspnea yang sering muncul dengan tiba-tiba menyebabkan gangguan tidur pada penderita. Terapi handheld fan merupakan suatu terapi yang dapat digunakan dalam menangani dyspnea dan telah direkomendasikan dalam penanganan dyspnea akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi handheld fan terhadap dyspnea pada pasien CHF di RSUD Baubau. Desain penelitian menggunakan pre eksperimen one group pretest-posttest design dengan jumlah sampel 20 responden yang dipilih secara accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen Modified Borg Scale dan handheld fan. Uji statistik yang digunakan ialah Wilcoxon Sign Rank Test. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata dyspnea sebelum terapi handheld fan berada pada tingkat sesak nafas ringan (45%) dan setelah diberikan terapi handheld fan rata-rata berada pada tingkat sangat sedikit sesak nafas (70%). Terdapat pengaruh pemberian terapi handheld fan terhadap dyspnea pada pasien CHF di RSUD Kota Baubau (p= 0,000). Peneliti selanjutnya dapat menggunakan kipas genggam yang terstandar diameter dan kecepatan hembusan anginnya, menambahkan variabel penelitian seperti tingkat kenyamaan, alat ukur tambahan seperti respiratory rate dan saturasi oksigen. Abstract Congestive heart failure (CHF) is the second leading cause of death in Indonesia after stroke. Common symptoms found in CHF include dyspnea, followed by chest pain and palpitations. Paroxysmal nocturnal dyspnea often suddenly appears, causing sleep disturbances in patients. Handheld fan therapy is a treatment that can be used to manage dyspnea and has been recommended for acute dyspnea management. This study aims to determine the effect of handheld fan therapy on dyspnea in CHF patients at RSUD Baubau. The research design used a pre-experimental one-group pretest-posttest design with a sample of 20 respondents selected through accidental sampling. Data collection used the Modified Borg Scale instrument and a handheld fan. The statistical test used was the Wilcoxon Sign Rank Test. The results showed that the average dyspnea level before handheld fan therapy was mild breathlessness (45%), and after the therapy, it was very slightly breathless (70%). There was a significant effect of handheld fan therapy on dyspnea in CHF patients at RSUD Kota Baubau (p= 0.000). Future researchers could use a standardized handheld fan with a specified diameter and wind speed, add research variables like comfort level, and use additional measurement tools such as respiratory rate and oxygen saturation.
HUBUNGAN INTENSITAS NYERI DENGAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN SECTIO CAESAREA DI RUANG KEBIDANAN : THE RELATIONSHIP OF PAIN INTENSITY AND SLEEP QUALITY IN CAESAREA SECTIO PATIENTS IN THE MIDWIFERY ROOM Ni Made Dewi Susanti
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i1.366

Abstract

Persalinan sectio caesarea (SC) sering menyebabkan rasa sakit di perut karena sayatan operasi. Adanya keluhan nyeri setelah operasi adalah hal yang normal namun dapat berdampak pada kualitas tidur. Tidur diperlukan untuk memaksimalkan proses penyembuhan sehingga jika kualitas tidur terganggu maka akan menghambat proses penyembuhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan intensitas nyeri dengan kualitas tidur pada pasien SC di ruang kebidanan RSU Sinar Kasih Tentena. Jenis penelitian ini bersifat analitis dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah pasien yang telah menjalani SC yang dilakukan pada 4-13 Agustus 2022 berjumlah 30 responden. Pengumpulan data menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan Sleep Quality Questionnaire (SQQ). Data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden mengalami intensitas nyeri sedang (53,7%) dan kualitas tidur yang buruk (76,7%). Ada hubungan antara intensitas nyeri dengan kualitas tidur pasien SC di ruang kebidanan RSU Sinar Kasih Tentena (p= 0,005). Pihak Rumah sakit dapat memberikan penyuluhan terkait nyeri yang dirasakan oleh responden pasca operasi SC dan cara mengatasi nyeri yang timbul.   Cesarean section (C-section) often causes abdominal pain due to the surgical incision. Postoperative pain complaints are normal but can affect sleep quality. Sleep is essential for maximizing the healing process, and poor sleep quality can hinder recovery. This study aims to determine the relationship between pain intensity and sleep quality in C-section patients in the maternity ward of RSU Sinar Kasih Tentena. This research is analytical with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 30 respondents who had undergone C-sections from August 4-13, 2022. Data collection was conducted using the Numeric Rating Scale (NRS) and the Sleep Quality Questionnaire (SQQ). Data were analyzed using the Spearman Rank test. The results showed that the majority of respondents experienced moderate pain intensity (53.7%) and poor sleep quality (76.7%). There is a relationship between pain intensity and sleep quality in C-section patients in the maternity ward of RSU Sinar Kasih Tentena (p = 0.005). The hospital, with its potential to empower patients through education, can provide valuable insights related to the pain experienced by respondents after a C-section and ways to manage the pain.
HUBUNGAN PELAKSANAAN FUNGSI MANAJEMEN KEPERAWATAN PENGORGANISASIAN DENGAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT DI MASA COVID-19: THE RELATIONSHIP OF THE IMPLEMENTATION OF ORGANIZING NURSING MANAGEMENT FUNCTIONS TO PUBLIC HEALTH SERVICES DURING COVID-19 Dwi Debi Tampa'i
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i1.367

Abstract

Keadaan pandemi COVID-19 yang terjadi secara mendadak dan cepat berpengaruh kepada perencanaan yang telah disusun sebelumnya oleh Puskesmas. Segala bentuk manajemen Puskesmas harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pelayanan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelaksanaan fungsi manajemen keperawatan pengorganisasian dengan pelayanan kesehatan masyarakat di masa COVID-19 pada Puskesmas Kayamanya Kabupaten Poso. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional pada bulan September tahun 2021 di Puskesmas Kayamanya. Sampel penelitian berjumlah 44 orang yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki fungsi manajemen keperawatan pengorganisasian dalam kategori baik (63,6%) dan pelayanan kesehatan masyarakat dalam kategori baik (56,8%). Ada hubungan antara fungsi manajemen keperawatan pengorganisasian dengan pelayanan kesehatan masyarakat (p= 0,013). Diharapkan kepada pemberi pelayanan kesehatan khususunya di puskesmas untuk mengoptimalkan pelayanannya berdasarkan fungsi manajemen keperawatan yang diterapkan.   The sudden and rapid onset of the COVID-19 pandemic affected the pre-established plans by community health centers (Puskesmas). All forms of Puskesmas management had to be adjusted to meet the conditions and service needs during the COVID-19 pandemic. This study, with its significant findings, aims to determine the relationship between implementing the nursing management function of organizing and community health services during COVID-19 at the Kayamanya Puskesmas, Poso Regency. This research used a quantitative method with a cross-sectional approach conducted in September 2021 at the Kayamanya Puskesmas. The study sample consisted of 44 individuals selected using simple random sampling. The statistical analysis used was the chi-square test. The results showed that most respondents had a suitable category of nursing management organizing function (63.6%) and a suitable category of community health services (56.8%). There is a relationship between the nursing management organizing function and community health services (p=0.013). It is hoped that health service providers, especially at Puskesmas, will optimize their services based on the applied nursing management functions.
HUBUNGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT DENGAN SIKAP ETIS PERAWAT TERHADAP PASIEN: THE RELATIONSHIP BETWEEN NURSE JOB SATISFACTION AND NURSE ETHICAL ATTITUDES TOWARDS PATIENS Ranti Damayanti; Diding Kelana Setiadi; Ria Inriyana
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i1.368

Abstract

Kepuasan kerja diduga dapat menentukan atau mendorong kinerja perawat ke arah yang baik atau sebaliknya. Salah satu yang termasuk ke dalam kinerja perawat adalah sikap etis perawat terhadap pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepuasan kerja perawat dengan sikap etis perawat terhadap pasien. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian ini melibatkan seluruh perawat pelaksana di 11 ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang dengan jumlah sampel 160 responden yang dipilih melalui simple random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk mengukur kepuasan kerja dan sikap etis perawat terhadap pasien dengan bentuk google form. Hasil penelitian menunjukkan 94,37% responden memiliki tingkat kepuasan kerja tinggi. Sebagian besar responden memiliki sikap etis yang baik terhadap pasien (90,00%). Hasil uji spearman correlation diperoleh nilai p= 0,001 dengan koefisien korelasi 0,677, yang berarti ada hubungan kuat dan memiliki arah positif antara kepuasan kerja perawat dengan sikap etis perawat terhadap pasien. Disarankan pihak rumah sakit untuk melakukan pengukuran kepuasan kerja perawat dan evaluasi untuk mempertahankan kepuasan kerja perawat tetap tinggi sehingga menunjukkan sikap yang positif.   Job satisfaction is believed to influence or drive nurse performance positively or negatively. One aspect of nurse performance is the ethical attitude of nurses towards patients. This study aims to determine the relationship between nurse job satisfaction and the moral attitude of nurses toward patients. This is a quantitative study with a cross-sectional design. The study involved all implementing nurses in 11 inpatient wards of Sumedang Regional General Hospital, with a sample size of 160 respondents selected through simple random sampling. Data collection was conducted using a questionnaire to measure job satisfaction and the ethical attitude of nurses towards patients via Google Forms. The results showed that 94.37% of respondents had high job satisfaction. Most respondents had a good ethical attitude towards patients (90.00%). The Spearman correlation test results showed a p-value of 0.001 with a correlation coefficient of 0.677, indicating a strong and positive relationship between nurse job satisfaction and the ethical attitude of nurses towards patients. It is recommended that the hospital conduct regular measurements of nurse job satisfaction and evaluations to maintain high job satisfaction, thus fostering a positive attitude.

Page 8 of 15 | Total Record : 147