cover
Contact Name
Muhamad Sahiddin
Contact Email
jurnaljktp@gmail.com
Phone
+6281342494099
Journal Mail Official
msahiddin@gmail.com
Editorial Address
Jalan Padang Bulan II, Hedam, Distrik Heram, Kota Jayapura
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Tropis Papua
ISSN : -     EISSN : 26545756     DOI : https://doi.org/10.47539
Core Subject :
Peer-reviewed, open-access journal publishing original research articles, systematic reviews, and nursing case studies in the field of nursing science and practice. Scientific coverage focuses on tropical nursing, with an emphasis on malaria, tuberculosis, dengue fever, and other neglected tropical diseases, as well as all fundamental fields of nursing practice in eastern Indonesia and similar tropical settings.
Arjuna Subject : -
Articles 147 Documents
Efektivitas kombinasi afirmasi positif, akupresur, dan aromaterapi terhadap nyeri pada pasien kanker: Effectiveness of a combination of positive affirmation, acupressure, and aromatherapy on pain in cancer patients Andri Praja Satria; Alya Ramadani
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.505

Abstract

Nyeri merupakan salah satu keluhan utama pada pasien kanker dan dapat mengganggu kenyamanan, tidur, aktivitas, serta kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas terapi kombinasi afirmasi positif, akupresur, dan aromaterapi terhadap penurunan nyeri pasien kanker di Rumah Singgah Kanker Samarinda. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan rancangan pretest-posttest with control group. Sampel berjumlah 50 responden yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol, masing-masing 25 responden, melalui purposive sampling. Nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale, sedangkan data dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk, Levene test, paired t-test, independent sample t-test pada delta score, dan Cohen's d. Hasil menunjukkan rerata skor nyeri kelompok intervensi menurun dari 7,12 ± 1,27 menjadi 1,36 ± 1,22, sedangkan kelompok kontrol menurun dari 5,60 ± 1,44 menjadi 4,60 ± 1,58. Analisis pretest menunjukkan terdapat perbedaan nyeri awal antarkelompok, sehingga interpretasi efektivitas difokuskan pada delta score. Delta score kelompok intervensi lebih besar dibandingkan kelompok kontrol (5,76 ± 0,78 berbanding 1,00 ± 0,58), dengan perbedaan yang bermakna secara statistik (t = 24,551; p < 0,001) dan effect size yang sangat besar (Cohen's d = 6,94). Terapi kombinasi afirmasi positif, akupresur, dan aromaterapi dapat dipertimbangkan sebagai intervensi keperawatan komplementer untuk membantu manajemen nyeri pasien kanker. Pain is one of the main complaints experienced by cancer patients and may interfere with comfort, sleep, activities, and quality of life. This study aimed to determine the effectiveness of a combination therapy consisting of positive affirmation, acupressure, and aromatherapy in reducing pain among cancer patients at Rumah Singgah Kanker Samarinda. A quasi-experimental design with a pretest-posttest control group approach was used. A total of 50 respondents were selected through purposive sampling and divided into an intervention group and a control group, with 25 respondents in each group. Pain was measured using the Numeric Rating Scale, while data were analyzed using the Shapiro-Wilk test, Levene test, paired t-test, independent sample t-test on delta scores, and Cohen's d. The results showed that the mean pain score in the intervention group decreased from 7.12 ± 1.27 to 1.36 ± 1.22, while the control group decreased from 5.60 ± 1.44 to 4.60 ± 1.58. Pretest analysis indicated a baseline difference in pain scores between groups; therefore, interpretation of effectiveness focused on delta scores. The delta score in the intervention group was greater than that in the control group (5.76 ± 0.78 versus 1.00 ± 0.58), with a statistically significant difference (t = 24.551; p < 0.001) and a very large effect size (Cohen's d = 6.94). The combination of positive affirmation, acupressure, and aromatherapy may be considered a complementary nursing intervention to support cancer pain management.
Hubungan pengawasan kader dengan kekambuhan penyakit malaria di wilayah kerja Puskesmas Waibu, Kabupaten Jayapura: The relationship between cadre supervision and malaria recurrence in the working area of Waibu Community Health Center, Jayapura Regency Kismiyati Kismiyati; Melinda Estuning Putri
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.508

Abstract

Kekambuhan malaria masih menjadi tantangan dalam upaya pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Waibu, Kabupaten Jayapura, sehingga diperlukan penguatan pengawasan kader melalui konseling, evaluasi, dan kontrol pengobatan. Kader malaria berperan penting dalam memastikan kepatuhan pengobatan pasien dan memantau kemungkinan kekambuhan melalui kunjungan dan komunikasi langsung kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengawasan kader dengan kekambuhan malaria di wilayah kerja Puskesmas Waibu, Kabupaten Jayapura, tahun 2026. Desain penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan case-control retrospektif dengan sampel berjumlah 94 responden yang terdiri dari 47 kasus dan 47 kontrol, dipilih menggunakan purposive sampling dengan perbandingan 1:1. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri dari 12 item yang mengukur tiga komponen pengawasan kader, yaitu konseling, evaluasi pengobatan, dan kontrol pengobatan, dan dianalisis menggunakan uji chi-square serta perhitungan odds ratio (OR). Evaluasi pengobatan menunjukkan hubungan yang paling kuat dengan kekambuhan malaria (p = 0,001; OR = 4,40), diikuti konseling kader (p = 0,004; OR = 3,47), sedangkan kontrol pengobatan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p = 0,058). Penguatan kapasitas kader pada aspek konseling dan evaluasi pengobatan perlu menjadi prioritas dalam upaya pengendalian kekambuhan malaria di wilayah endemis. Malaria recurrence remains a challenge to malaria control efforts in the working area of Puskesmas Waibu, Jayapura Regency, highlighting the need to strengthen cadre supervision through counseling, treatment evaluation, and treatment monitoring. Malaria cadres play a central role in ensuring patient adherence to treatment and monitoring possible recurrence through direct visits and communication with the community. This study aimed to determine the relationship between cadre supervision and malaria recurrence in the working area of Puskesmas Waibu, Jayapura Regency, in 2026. A quantitative observational analytic design with a retrospective case-control approach was used, with a sample of 94 respondents consisting of 47 cases and 47 controls, selected using purposive sampling at a 1:1 ratio. Data were collected using a structured questionnaire comprising 12 items measuring three components of cadre supervision, namely counseling, treatment evaluation, and treatment monitoring, and analyzed using the chi-square test and odds ratio (OR) calculation. Treatment evaluation showed the strongest relationship with malaria recurrence (p = 0.001; OR = 4.40), followed by cadre counseling (p = 0.004; OR = 3.47), while treatment monitoring showed no significant relationship (p = 0.058). Strengthening cadre capacity in counseling and treatment evaluation should be prioritized in efforts to control malaria recurrence in endemic areas.
Hubungan pengetahuan tentang diet asam urat dengan perilaku diet penderita asam urat di daerah wetland: The relationship between knowledge of a gout diet and dietary behavior among patients with gout in wetland areas Yuliana Fitriyanti; Helina; Ari Rahmat Aziz
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.509

Abstract

Gout arthritis merupakan penyakit metabolik yang dipengaruhi oleh pola konsumsi tinggi purin. Namun, masih banyak penderita asam urat di daerah wetland yang belum memiliki pengetahuan memadai mengenai diet rendah purin. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan tentang diet asam urat dengan perilaku diet penderita asam urat di daerah wetland. Desain penelitian adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 123 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan rendah (56,1%) dan perilaku diet tidak baik (60,2%). Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang diet asam urat dengan perilaku diet penderita asam urat di daerah wetland (p = 0,010; OR = 2,842; 95% CI = 1,348–5,993). Peningkatan pengetahuan mengenai diet asam urat perlu menjadi prioritas intervensi keperawatan komunitas, khususnya pada masyarakat di daerah wetland. Gout arthritis is a metabolic disease influenced by a high-purine consumption pattern. However, many gout sufferers in wetland areas still lack adequate knowledge about a low-purine diet. This study aimed to determine the relationship between knowledge about gout diet and dietary behavior among gout sufferers in wetland areas. A descriptive correlational design with a cross-sectional approach was used. A total of 123 respondents were selected using accidental sampling. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the chi-square test and odds ratio. The results showed that the majority of respondents had low knowledge (56.1%) and poor dietary behavior (60.2%). A significant relationship was found between knowledge about gout diet and dietary behavior among gout sufferers in wetland areas (p = 0.010; OR = 2.842; 95% CI = 1.348–5.993). Improving knowledge about gout diet should be prioritized in community nursing interventions, particularly in wetland communities.
Gambaran self-efficacy pada usia dewasa madya dengan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rejosari, Pekanbaru: Self-efficacy among middle-aged adults with hypertension in the Rejosari Community Health Center work area, Pekanbaru Siti Rohimi; Arneliwati; Herlina
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.510

Abstract

Salah satu tantangan dalam pengelolaan hipertensi, terutama pada kelompok usia dewasa madya, adalah kesibukan dan tingginya stresor kehidupan yang menghambat penerapan perilaku hidup sehat. Rendahnya kepatuhan pasien juga masih menjadi masalah utama dalam manajemen hipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran self-efficacy pada usia dewasa madya dengan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rejosari, Pekanbaru. Desain penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 333 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Self-efficacy diukur menggunakan Hypertension Self-Care Profile (HBP-SCP). Mayoritas responden memiliki tingkat self-efficacy kategori sedang (67,3%). Keyakinan tertinggi ditemukan pada aspek kepatuhan minum obat antihipertensi sesuai jadwal dokter, dengan 74,4% responden menyatakan yakin atau sangat yakin. Sebaliknya, keyakinan terendah ditemukan pada aspek pengelolaan pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan stres, dan pemantauan kesehatan mandiri, dengan proporsi "agak yakin" berkisar antara 45,3%–53,8%. Penguatan self-efficacy pada aspek-aspek tersebut perlu menjadi fokus intervensi keperawatan pada penderita hipertensi dewasa madya. One of the challenges in managing hypertension, especially among middle-aged adults, is the busyness and high life stressors that hinder the adoption of healthy lifestyle behaviors. Low patient adherence also remains a major problem in hypertension management. This study aimed to describe the self-efficacy of middle-aged adults with hypertension in the working area of Puskesmas Rejosari, Pekanbaru. A descriptive design with a cross-sectional approach was used. A total of 333 respondents were selected using purposive sampling. Self-efficacy was measured using the Hypertension Self-Care Profile (HBP-SCP). The majority of respondents had a moderate level of self-efficacy (67.3%). The highest confidence was found in adherence to taking antihypertensive medication according to the doctor's schedule, with 74.4% of respondents reporting being confident or very confident. In contrast, the lowest confidence was found in diet management, physical activity, stress management, and self-health monitoring, with the proportion of respondents reporting "somewhat confident" ranging from 45.3% to 53.8%. Strengthening self-efficacy in these aspects should be the focus of nursing interventions for middle-aged hypertensive patients.
Efektivitas rebusan daun mindi (Melia azedarach) terhadap penurunan kadar glukosa darah penderita diabetes melitus: Effectiveness of Melia azedarach leaf decoction in reducing blood glucose levels among patients with diabetes mellitus Djadid Subchan; Dwi Erma Kusumawati; Rahmat Kurniawan
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.511

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa darah dan membutuhkan penatalaksanaan jangka panjang, termasuk terapi komplementer berbasis tanaman obat. Daun mindi (Melia azedarach) secara tradisional digunakan sebagai obat herbal dan diduga memiliki efek hipoglikemik. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas rebusan daun mindi terhadap penurunan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus. Desain penelitian adalah quasi-experimental dengan pendekatan pre-test dan post-test with control group. Sampel terdiri dari 60 responden, yaitu 30 kelompok perlakuan dan 30 kelompok kontrol, yang dipilih dari wilayah kerja Puskesmas Biak, Kabupaten Banggai. Kelompok perlakuan diberikan rebusan daun mindi sebanyak 100 ml, sedangkan kelompok kontrol hanya diberikan air putih. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan sebelum intervensi dan 30 menit setelah intervensi. Data dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk dan paired samples t-test. Rerata kadar glukosa darah kelompok perlakuan menurun dari 298,60 ± 96,07 mg/dL menjadi 250,63 ± 86,55 mg/dL (p < 0,001), sedangkan kelompok kontrol menurun dari 243,13 ± 123,18 mg/dL menjadi 235,60 ± 111,61 mg/dL, tetapi tidak signifikan (p = 0,190). Rebusan daun mindi berpotensi menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus, tetapi diperlukan penelitian lanjutan dengan desain lebih kuat, durasi lebih panjang, serta standardisasi dosis dan keamanan penggunaan. Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood glucose levels and requires long-term management, including complementary therapies based on medicinal plants. Melia azedarach leaves have traditionally been used as herbal medicine and are believed to have hypoglycemic effects. This study aimed to analyze the effectiveness of Melia azedarach leaf decoction in reducing blood glucose levels among patients with diabetes mellitus. A quasi-experimental design with a pre-test and post-test with control group approach was used. A total of 60 respondents were selected from the working area of Puskesmas Biak, Banggai Regency, consisting of 30 participants in the intervention group and 30 in the control group. The intervention group received 100 mL of Melia azedarach leaf decoction, while the control group received only plain water. Blood glucose levels were measured before the intervention and 30 minutes after. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk test and paired samples t-test. The mean blood glucose level in the intervention group decreased from 298.60 ± 96.07 mg/dL to 250.63 ± 86.55 mg/dL (p < 0.001), while the control group decreased from 243.13 ± 123.18 mg/dL to 235.60 ± 111.61 mg/dL, with no statistically significant difference (p = 0.190). Melia azedarach leaf decoction has the potential to reduce blood glucose levels in patients with diabetes mellitus; however, further studies with stronger designs, longer duration, and standardized dosage and safety evaluation are needed.
Hubungan persepsi mahasiswa tentang kepemimpinan klinik dan supervisi kepala ruangan dengan kepuasan praktik klinik keperawatan di RSUD Kabupaten Banggai: The relationship between students’ perceptions of clinical leadership and head nurse supervision and satisfaction with nursing clinical practice at Banggai District Hospital Sri Musriniawati Hasan; Nuralamsyah Nuralamsyah; Ike Nurjanah; Hana Muhammad; Rahmat Kurniawan
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.512

Abstract

Praktik klinik keperawatan merupakan komponen penting dalam pendidikan keperawatan yang berperan dalam membentuk kompetensi profesional mahasiswa melalui pengalaman langsung di lahan praktik. Kualitas kepemimpinan klinik dan supervisi kepala ruangan diduga memengaruhi persepsi mahasiswa serta tingkat kepuasan selama proses pembelajaran klinik. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan persepsi mahasiswa terhadap kepemimpinan klinik dan supervisi kepala ruangan dengan kepuasan praktik klinik keperawatan di RSUD Kabupaten Banggai. Desain penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 98 mahasiswa D-III Keperawatan yang dipilih menggunakan total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji chi-square serta regresi logistik untuk mengetahui kekuatan hubungan antarvariabel. Mayoritas responden memiliki persepsi baik terhadap kepemimpinan klinik (78,6%) dan supervisi kepala ruangan (60,2%), serta sebagian besar merasa puas terhadap praktik klinik keperawatan (67,3%). Kepemimpinan klinik berhubungan signifikan dengan kepuasan praktik klinik keperawatan (p = 0,04), sedangkan supervisi kepala ruangan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p = 0,23). Regresi logistik menunjukkan bahwa persepsi kepemimpinan klinik merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kepuasan mahasiswa (AOR = 2,86; 95% CI: 1,00–8,15; p = 0,049). Penguatan peran clinical instructor menjadi aspek penting dalam menciptakan lingkungan pembelajaran klinik yang optimal. Clinical nursing practice is a fundamental component of nursing education that enables students to integrate theoretical knowledge with practical skills in real healthcare settings. The quality of clinical instructor leadership and head nurse supervision is assumed to influence students' perceptions and satisfaction during clinical practice. This study aimed to examine the relationship between student perceptions of clinical leadership and head nurse supervision with satisfaction in nursing clinical practice at Banggai District Hospital. A quantitative study with a cross-sectional design was employed. A total of 98 Diploma III Nursing students were selected using total sampling. Data were collected using structured questionnaires and analyzed using the chi-square test and logistic regression to determine the strength of associations between variables. Most respondents had good perceptions of clinical leadership (78.6%) and head nurse supervision (60.2%), and 67.3% reported satisfaction with clinical nursing practice. Clinical leadership was significantly associated with satisfaction (p = 0.04), while head nurse supervision showed no significant relationship (p = 0.23). Logistic regression indicated that clinical leadership perception was the most influential factor associated with student satisfaction (AOR = 2.86; 95% CI: 1.00–8.15; p = 0.049). Strengthening the quality of clinical instructor leadership is essential to create an optimal clinical learning environment.
Hubungan self awareness dengan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri: The relationship between self-awareness and compliance with iron supplement consumption in adolescent girls Verina Raisya Irawan; Ari Rahmat Aziz; Herlina
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.513

Abstract

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi pada remaja putri akibat meningkatnya kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan dan kehilangan darah saat menstruasi. Pemerintah telah melaksanakan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai upaya pencegahan anemia, namun tingkat kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri masih rendah. Salah satu faktor internal yang diduga berperan dalam kepatuhan konsumsi TTD adalah self-awareness. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan self-awareness dengan kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri di SMK Negeri 1 Pekanbaru. Desain penelitian adalah korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 239 siswi yang dipilih menggunakan stratified random sampling. Self-awareness diukur menggunakan kuesioner yang mencakup tiga dimensi, yaitu subjektif, objektif, dan simbolik, sedangkan kepatuhan konsumsi TTD diukur berdasarkan jumlah tablet yang dikonsumsi dalam satu bulan terakhir. Mayoritas responden memiliki self-awareness yang baik pada ketiga dimensi, namun sebagian besar tidak patuh mengonsumsi TTD (67,4%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara self-awareness subjektif (p = 0,397), objektif (p = 0,133), maupun simbolik (p = 0,129) dengan kepatuhan konsumsi TTD. Peningkatan kepatuhan konsumsi TTD memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dengan melibatkan faktor eksternal seperti dukungan keluarga, teman sebaya, dan tenaga kesehatan. Anemia is a common health problem among adolescent girls due to increased iron requirements during growth and blood loss during menstruation. The government has implemented an iron supplement tablet (IST) program as an effort to prevent anemia, but compliance rates among adolescent girls remain low. One internal factor suspected to influence compliance is self-awareness. This study aimed to determine the relationship between self-awareness and iron supplement tablet compliance among adolescent girls at SMK Negeri 1 Pekanbaru. A correlational design with a cross-sectional approach was used. A total of 239 female students were selected using stratified random sampling. Self-awareness was measured using a questionnaire covering three dimensions — subjective, objective, and symbolic — while compliance was measured based on the number of tablets consumed in the past month. The majority of respondents had good self-awareness across all three dimensions, yet most were non-compliant with iron supplement tablet consumption (67.4%). No significant relationship was found between subjective (p = 0.397), objective (p = 0.133), or symbolic self-awareness (p = 0.129) and iron supplement tablet compliance. Improving compliance requires a more comprehensive approach involving external factors such as family support, peer support, and health worker involvement.