cover
Contact Name
Muhamad Sahiddin
Contact Email
jurnaljktp@gmail.com
Phone
+6281342494099
Journal Mail Official
msahiddin@gmail.com
Editorial Address
Jalan Padang Bulan II, Hedam, Distrik Heram, Kota Jayapura
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Tropis Papua
ISSN : -     EISSN : 26545756     DOI : https://doi.org/10.47539
Core Subject :
Peer-reviewed, open-access journal publishing original research articles, systematic reviews, and nursing case studies in the field of nursing science and practice. Scientific coverage focuses on tropical nursing, with an emphasis on malaria, tuberculosis, dengue fever, and other neglected tropical diseases, as well as all fundamental fields of nursing practice in eastern Indonesia and similar tropical settings.
Arjuna Subject : -
Articles 147 Documents
Faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis pada anak usia sekolah di wilayah lahan basah : Factors related to the incidence of dermatitis in school-age children in wetland areas Dinda Wulandari; Nurhannifah Rizky Tampubolon; Ririn Muthia Zukhra
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i1.387

Abstract

Dermatitis merupakan peradangan kulit yang umum terjadi pada anak usia sekolah, terutama di wilayah dengan sanitasi rendah seperti lahan basah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis pada anak usia sekolah di wilayah lahan basah. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan potong lintang. Sampel terdiri dari 102 anak usia 6–12 tahun yang dipilih dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur sebanyak 28 item yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 0,05. Sebanyak 64 responden (62,7%) mengalami dermatitis. Terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian dermatitis dengan sanitasi lingkungan (p<0,001), personal hygiene (p<0,001), dan riwayat alergi (p<0,001). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan kejadian dermatitis (p=0,683). Sanitasi lingkungan yang buruk, kebersihan diri yang tidak optimal, dan adanya riwayat alergi merupakan faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kejadian dermatitis pada anak usia sekolah di wilayah lahan basah. Intervensi preventif berbasis komunitas diperlukan untuk mengurangi risiko dermatitis pada kelompok ini. Dermatitis is a common skin inflammation affecting school-aged children, particularly in areas with poor sanitation such as wetlands. This study aimed to analyze factors associated with the incidence of dermatitis among school-aged children living in wetland areas. This research employed a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. A total of 102 children aged 6–12 years were selected using purposive sampling based on inclusion criteria. Data were collected through a structured 28-item questionnaire that had been previously validated and tested for reliability. Data analysis included univariate and bivariate analyses using the Chi-Square test with a significance level of 0.05. A total of 64 respondents (62.7%) experienced dermatitis. There were significant associations between dermatitis incidence and environmental sanitation (p<0.001), personal hygiene (p<0.001), and allergy history (p<0.001). However, gender was not significantly associated with dermatitis (p=0.683). Poor environmental sanitation, inadequate personal hygiene, and a history of allergies are significantly associated with the incidence of dermatitis among school-aged children in wetland areas. Community-based preventive interventions are recommended to reduce the risk of dermatitis in this population.
EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN MAHASISWA KEPERAWATAN WAMENA TENTANG HIV/AIDS: PENELITIAN DENGAN DESAIN PRETEST-POSTTEST PADA SATU KELOMPOK: EFFECTIVENESS OF HEALTH EDUCATION ON NURSING STUDENTS' KNOWLEDGE ABOUT HIV/AIDS IN WAMENA: A ONE-GROUP PRETEST-POSTTEST DESIGN Rosdiana Tandiola; Sethiana Dewi Ruben; Marleona Sawamanay; Suningsih Suabey; Kristiyani Herda Rophi; Fitri Dia Muspitha
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i2.390

Abstract

Mayoritas penderita HIV/AIDS berada pada usia produktif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan promosi kesehatan mengenai HIV/AIDS kepada remaja dan dewasa muda untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pencegahan penularan HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pendidikan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan mahasiswa Diploma III Keperawatan di Wamena. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan rancangan one-group pretest-posttest design. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa semester IV Program Studi D-III Keperawatan Wamena sebanyak 62 orang Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata pengetahuan mahasiswa sebesar 3,58 (p= <0,001), dengan nilai effect size sebesar 0,78. Pendidikan kesehatan efektif digunakan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa keperawatan. Selain itu, secara khusus pada institusi pendidikan keperawatan, program pendidikan kesehatan tentang HIV/AIDS harus terus dikembangkan agar pengetahuan mahasiswa terus meningkat dan dapat diaplikasikan dalam praktik klinik maupun komunitas. The majority of people living with HIV/AIDS are in their productive age. One of the efforts that can be made is providing health promotion about HIV/AIDS to adolescents and young adults to improve their knowledge and understanding of HIV transmission prevention. This study aimed to evaluate the effectiveness of health education in improving the knowledge of Diploma III Nursing students in Wamena. The study employed a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The research sample consisted of 62 fourth-semester students in the Diploma III Nursing program in Wamena. Data analysis was performed using the Wilcoxon test. The results showed an increase in the average knowledge score of students by 3.58 (p< 0.001), with an effect size of 0.78. Health education was found to be effective in improving nursing students' knowledge. Furthermore, specifically in nursing education institutions, health education programs on HIV/AIDS should be continuously developed to enhance students' knowledge, which can be applied in clinical and community practice.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA TENTANG PROGRAM WINGKO (WOLBACHIA ING KOTA SEMARANG): THE OVERVIEW OF COLLEGE STUDENTS' KNOWLEDGE LEVEL ON THE WINGKO PROGRAM (WOLBACHIA ING KOTA SEMARANG) Aerrosa Murenda Mayadilanuari; Silvia Nurvita; Dody Indra Sumantiawan; Dhieo Kurniawan
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i2.397

Abstract

Wolbachia adalah jenis bakteri yang secara alami ditemukan pada serangga dan memiliki kemampuan untuk menekan replikasi virus dalam tubuh nyamuk seperti virus dengue. Kota Semarang menetapkan program Wolbachia Ing Kota Semarang (WINGKO) untuk menekan angka demam berdarah di Kota Semarang. Keberhasilan program WINGKO bergantung pada penerimaan dan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Nasional Karangturi Semarang tentang Program WINGKO. Penelitian deskriptif kuantitatif ini dilakukan pada bulan Agustus 2024 dengan melibatkan 34 mahasiswa. Pengambilan sample dilakukan dengan metode accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (58,82) dan berada pada kelompok umur 18-19 (47,06%). Sebanyak 70,59% responden memiliki tingkat pengetahuan rendah terkait Wolbachia mayoritas mahasiswa khawatir terhadap program WINGKO dan mereka masih ragu untuk mendukung pelaksanaan program WINGKO (73,53%). Perlu adanya peningkatan sosialisasi dan edukasi terkait Program WINGKO untuk meningkatkan pemahaman dan dukungan masyarakat di Kota Semarang. Wolbachia is a type of bacteria naturally found in insects and can suppress virus replication in mosquito bodies, such as the dengue virus. The city of Semarang has implemented the Wolbachia Ing Kota Semarang (WINGKO) program to reduce the incidence of dengue fever in Semarang. The success of the WINGKO program depends on the acceptance and cooperation between the government and the community. This study aims to assess the knowledge level of students at Universitas Nasional Karangturi Semarang regarding the WINGKO Program. This descriptive quantitative study was conducted in August 2024, involving 34 students. The sampling method used was accidental sampling. The study results show that most respondents were female (58.82%) and in the age group of 18-19 years (47.06%). A total of 70.59% of the respondents had a low level of knowledge regarding Wolbachia. Most of the students expressed concern about the WINGKO program and were still hesitant to support its implementation (73.53%). There is a need for improved socialization and education about the WINGKO Program to enhance understanding and support among the community in Semarang.
PENERAPAN SWEDISH MASSAGE DALAM ASUHAN KEPERAWATAN UNTUK PERUBAHAN INDIKATOR NYERI PADA PASIEN HIPERTENSI: STUDI KASUS: IMPLEMENTATION OF SWEDISH MASSAGE IN NURSING CARE ON CHANGES IN PAIN INDICATORS OF HYPERTENSION PATIENTS: A CASE STUDY Rikani Rikani; Rycco Darmareja
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i2.399

Abstract

Prognosis hipertensi menjadi penyebab kematian ketiga secara global. Swedish massage menjadi salah satu rekomendasi intervensi non farmakologi untuk penderita hipertensi. Intervensi ini memberikan stimulasi sirkulasi darah dan sistem syaraf yang berpengaruh pada respons berupa perasaan rileks serta dapat menurunkan tekanan darah. Studi dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi perubahan indikator nyeri pada pasien hipertensi setelah diberikan intervensi Swedish massage. Metode deskriptif analisis berupa single case study dilakukan kepada pasien hipertensi berusia 30-65 tahun. Data dikumpulkan melalui kegiatan wawancara, observasi, studi dokumen, pemeriksaan fisik dan instrumen evaluasi. Intervensi khusus yang dilakukan pada pasien adalah Swedish massage 1x sehari selama 10-20 menit dalam 4 hari berturut-turut berdasarkan standar operasional Evidence Based Nursing Practice. Hasil pengkajian awal menunjukkan pasien nyeri, seperti menahan beban berat di kepala yang menetap tidak menjalar, dengan skala 8, dengan durasi yang tidak menentu. Setelah dilakukan intervensi masalah nyeri akut teratasi di hari ke 4 dengan perubahan pada Mean Arterial Pressure (106 mmHG), frekuensi nadi (80x/ menit) serta keluhan nyeri pasien (skala 2). Direkomendasikan terapi Swedish massage menjadi salah satu intervensi komplementer yang dapat dilakukan untuk menurunkan nyeri pada pasien hipertensi. Hypertension prognosis is the third leading cause of death globally. Swedish massage is one of the recommended non-pharmacological interventions for individuals with hypertension. This intervention stimulates blood circulation and the nervous system, resulting in a relaxing response that can lower blood pressure. This study aimed to identify changes in pain indicators in hypertensive patients after receiving Swedish massage intervention. A descriptive-analytical method using a single case study was conducted on hypertensive patients aged 30-65. Data were collected through interviews, observations, document reviews, physical examinations, and evaluation instruments. The specific intervention involved administering Swedish massage once daily for 10-20 minutes over four consecutive days, following the standards of Evidence-Based Nursing Practice. Initial assessment results indicated the patient experienced pain, described as a persistent, heavy sensation in the head without radiating, with a pain scale of 8 and an indeterminate duration. After the intervention, acute pain was resolved by the fourth day, with changes observed in Mean Arterial Pressure (106 mmHg), pulse frequency (80 beats/minute), and the patient's pain complaint (scale 2). Swedish massage therapy is recommended as a complementary intervention to reduce pain in hypertensive patients.
HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT DENGAN KEPATUHAN PELAKSANAAN EARLY WARNING SYSTEM DI BANGSAL RAWAT INAP DEWASA: THE RELATIONSHIP BETWEEN NURSES' WORKLOAD AND THE EARLY WARNING SYSTEM IMPLEMENTATION COMPLIANCE IN ADULT INPATIENT WARD Tulus Bukhori; Widuri Widuri; Jennifa; Tri Arini
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i2.401

Abstract

Kepatuhan pelaksanaan early warning system (EWS) oleh perawat dalam upaya menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien di rumah sakit salah satunya dipengaruhi oleh faktor beban kerja. Meningkatnya beban kerja perawat di unit perawatan dapat diakibatkan karena kurangnya tenaga, banyaknya prosedur administratif yang harus diselesaikan, dan beban tugas atau job description yang masih kurang jelas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan beban kerja perawat dengan kepatuhan pelaksanaan EWS di ruang rawat inap dewasa. Penelitian menggunakan desain korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 41 responsen. Instrumen penelitian menggunakan time and motion study dan cheklist EWS yang sudah ada petunjuk teknis di Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI. Analisis data menggunakan uji Kendall’s Tau-b. Hasil penelitian menunjukkan beban kerja perawat mayoritas masuk kategori sedang (61%) dan kepatuhan pelaksanaan EWS mayoritas masuk kategori kurang patuh (58,5%). Ada hubungan yang signifikan antara beban kerja perawat dengan kepatuhan pelaksanaan EWS (p= 0,001). Sedangkan usia (p= 0,491), jenis kelamin (p= 0,612), masa kerja (p= 0,839), dan tingkat pendidikan (p= 0,855) tidak berhubungan dengan kepatuhan pelaksanaan EWS. Manajemen Rumah Sakit dapat merumuskan kebijakan baru terkait penambahan SDM perawat sesuai dengan kapasitas pelayanan dan menyelenggarakan kegiatan pelatihan EWS. The compliance of implementing the early warning system (EWS) by nurses in an effort to reduce morbidity and mortality of patients in hospitals is influenced by factors such as workload. An increase in nurses' workload in the care unit may be caused by a lack of staff, numerous administrative procedures that need to be completed, and unclear job descriptions. The purpose of this study is to determine the relationship between nurses' workload and compliance with the implementation of EWS in adult inpatient wards. This study used a correlational design with a cross-sectional approach. The research sample consisted of 41 respondents. The research instruments used included time and motion study and EWS checklist, which had technical guidelines available at Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI. Data analysis was performed using Kendall's Tau-b test. The results of the study showed that most nurses' workload was categorized as moderate (61%), and the majority of compliance with EWS implementation was categorized as non-compliant (58.5%). There was a significant relationship between nurses' workload and compliance with EWS implementation (p= 0.001). Minewhile Age (p= 0.491), gender (p= 0.612), years of service (p= 0.839), and education level (p= 0.855) were not found to be related to compliance with EWS implementation. Hospital management may formulate new policies related to increasing the nursing workforce in accordance with service capacity and conduct EWS training activities.
PENGARUH ADOLESCENT EMPOWERMENT TERHADAP PENCEGAHAN HIV PADA REMAJA: SEBUAH QUASI EXPERIMENTAL: THE IMPACT OF ADOLESCENT EMPOWERMENT ON HIV PREVENTION AMONG ADOLESCENTS: A QUASI-EXPERIMENTAL STUDY Ikadek Sudiyasa; Dedi Supriadi; Linlin Handayani
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i2.402

Abstract

Remaja merupakan kelompok rentan terhadap penularan HIV/AIDS, khususnya di wilayah Papua yang memiliki prevalensi HIV/AIDS tertinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh program Adolescent empowerment terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja dalam pencegahan HIV/AIDS. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental with control group pretest-posttest design dengan 80 responden yang dibagi menjadi dua kelompok: kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Intervensi dilakukan selama tujuh minggu menggunakan modul pembelajaran, diskusi kelompok, dan pembuatan video edukasi yang diunggah ke media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi mengalami peningkatan signifikan pada pengetahuan (mean difference= 7,900; p= 0,001), sikap (mean difference= 10,825; p= 0,001), dan perilaku (mean difference= 2,350; p= 0,006) dibandingkan kelompok kontrol. Program ini terbukti efektif dalam memberdayakan remaja sebagai agen perubahan dalam pencegahan HIV/AIDS. Penelitian ini menyarankan implementasi program serupa di wilayah lain untuk mendukung upaya pencegahan HIV/AIDS yang lebih luas. Adolescents are a vulnerable group for HIV/AIDS transmission, particularly in Papua, which has the highest HIV/AIDS prevalence in Indonesia. This study aims to evaluate the impact of the Adolescent empowerment program on improving adolescents' knowledge, attitudes, and behaviors regarding HIV/AIDS prevention. This study utilized a quasi-experimental design with a control pretest-posttest involving 80 respondents divided into an intervention group and a control group. The intervention was conducted over seven weeks using learning modules, group discussions, and the creation of educational videos uploaded on social media. The results showed a significant improvement in the intervention group in knowledge (mean difference= 7.900; p= 0.001), attitudes (mean difference= 10.825; p= 0.001), and behaviors (mean difference= 2.350; p= 0.006) compared to the control group. This program proved effective in empowering adolescents as agents of change in HIV/AIDS prevention. It is recommended that similar programs be implemented in other regions to support broader HIV/AIDS prevention efforts.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK CAREGIVER DENGAN TINGKAT SELF-EFFICACY DALAM MERAWAT IBU DENGAN DIABETES MELLITUS GESTASIONAL: RELATIONSHIP CAREGIVER CHARACTERISTICS AND SELF-EFFICACY LEVELS IN CARING FOR MOTHERS WITH GESTATIONAL DIABETES MELLITUS Roudlotul Jannah; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i2.404

Abstract

Diabetes mellitus gestasional (DMG) dapat berdampak fatal jika tidak ditangani dengan tepat, karena dapat merusak kesehatan ibu dan janin. Self-efficacy yang tinggi pada caregiver berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup ibu dengan DMG, karena mampu mendukung manajemen kesehatan ibu serta memberikan dukungan psikologis dan emosional yang lebih stabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik caregiver dengan self-efficacy. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Tuban dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 81 caregiver yang mendampingi ibu dengan DMG yang berkunjung ke Poli Hamil dan Puskesmas, yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan tingkat self-efficacy sebagian besar berada pada kategori tinggi (55,6%). Karakteristik caregiver yang berhubungan dengan self-efficacy adalah jenis kelamin (p= 0,033; OR 7,56 CI 95% 3,90 – 63,65), pendidikan (p= 0,046) dan penghasilan (p= 0,016; OR 3,67 CI 95% 1,22 – 10,99). Caregiver perempuan memiliki peluang 7,568 kali lebih besar untuk memiliki self-efficacy tinggi dibandingkan laki-laki. Caregiver dengan penghasilan ≥Rp 1.851.083 memiliki peluang 3,674 kali lebih besar untuk memiliki self-efficacy tinggi dibandingkan individu dengan penghasilan <Rp 1.851.083. Self-efficacy yang tinggi pada caregiver diharapkan dapat mendukung pengelolaan kesehatan ibu secara optimal dan mengurangi risiko komplikasi. Gestational diabetes mellitus (GDM) can have fatal consequences if not properly managed, as it can harm the health of both the mother and the fetus. High self-efficacy among caregivers plays an important role in improving the quality of life of mothers with GDM by supporting maternal health management and providing more stable psychological and emotional support. This study aims to determine the relationship between caregiver characteristics and self-efficacy. The study was conducted in Tuban Regency using a cross-sectional design. The sample consisted of 81 caregivers accompanying mothers with GDM at maternity clinics and public health centers, selected using consecutive sampling. Data analysis was performed using the chi-square test with a 95% confidence level. The results showed that most caregivers had high self-efficacy (55.6%). Caregiver characteristics significantly associated with self-efficacy were gender (p= 0.033; OR 7.56, 95% CI 3.90–63.65), education (p= 0.046), and income (p= 0.016; OR 3.67, 95% CI 1.22–10.99). Female caregivers were 7.568 times more likely to have high self-efficacy than male caregivers. Caregivers with an income of ≥IDR 1,851,083 were 3.674 times more likely to have high self-efficacy than those earning <IDR 1,851,083. High self-efficacy among caregivers is expected to support optimal maternal health management and reduce the risk of complications.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SELF-MANAGEMENT PENDERITA HIPERTENSI: FACTORS AFFECTING SELF-MANAGEMENT OF HYPERTENSION PATIENTS Fitriani Fitriani; Titi Iswanti Afelya; Diyah Astuti Nurfa'izah
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i2.410

Abstract

Self-management merupakan kemampuan penting yang diperlukan oleh penderita hipertensi untuk mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi. Faktor seperti usia, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, dan lama menderita penyakit dapat memengaruhi kemampuan self-management. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang memengaruhi self-management pada penderita hipertensi di Kota Jayapura. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 96 penderita hipertensi. Data dikumpulkan menggunakan  Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire (HSMBQ) yang telah divalidasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85,5% responden memiliki kemampuan self-management yang baik. Faktor usia (p= <0,001, r= -0,211), status perkawinan (p= 0,002, r= 0,63), dan lama menderita hipertensi (p< 0,001, r= 0,935) memiliki hubungan signifikan dengan self-management. Namun, faktor pendidikan (p= 0,924, r= -0,072), jenis kelamin (p= 0,539, r= -0,027), dan pekerjaan (p= 0,070, r= 0,66) tidak menunjukkan hubungan signifikan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk intervensi kesehatan yang bertujuan meningkatkan kemampuan self-management penderita hipertensi. Self-management is an essential skill required by hypertensive patients to control blood pressure and prevent complications. Factors such as age, education, occupation, marital status, and duration of illness can influence self-management ability. This study aims to analyze the factors influencing self-management among hypertensive patients in Jayapura City. This study employed a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 96 hypertensive patients. Data were collected using the validated Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire (HSMBQ). Data analysis was performed using the Chi-Square test. The results showed that 85.5% of respondents had good self-management abilities. Factors such as age (p= 0.000, r= -0.211), marital status (p= 0.002, r= 0.63), and duration of hypertension (p< 0.001, r= 0.935) were significantly associated with self-management. However, factors such as education (p= 0.924, r= -0.072), gender (p= 0.539, r= -0.027), and occupation (p= 0.070, r= 0.66) were not significantly associated. These findings can be used as a reference for health interventions aimed at improving self-management skills among hypertensive patients.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN KEJADIAN PENYAKIT ISPA PADA BALITA: RELATIONSHIP BETWEEN KNOWLEDGE AND SMOKING HABITS WITH THE INCIDENCE OF RESPIRATORY INFECTIONS IN TODDLERS Agus Darmawan; Rina Andriani; Waode Azfari Azis; Rininta Andriani
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i2.412

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama kematian pada balita, dengan risiko yang meningkat akibat rendahnya pengetahuan orang tua dan kebiasaan merokok. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pengetahuan orang tua dan kebiasaan merokok dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wamolo, Kabupaten Buton Tengah. Penelitian menggunakan desain cross-sectional pada 70 balita yang dipilih dengan metode simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan catatan kesehatan, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dengan taraf signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara pengetahuan dengan kejadian ISPA (p=0,002; OR=0,15; CI 95%: 0,048–0,474) serta antara kebiasaan merokok dengan kejadian ISPA (p=0,037; OR=3,82; CI 95%: 1,20–12,13). Anak dari keluarga perokok memiliki risiko 3,82 kali lebih tinggi mengalami ISPA dibandingkan anak dari keluarga tanpa kebiasaan merokok. Pengetahuan orang tua dan kebiasaan merokok memiliki hubungan signifikan dengan kejadian ISPA pada balita. Intervensi edukasi dan pengendalian kebiasaan merokok diperlukan untuk menurunkan prevalensi ISPA. Acute Respiratory Infections (ARI) are one of the leading causes of death among toddlers, with risks exacerbated by low parental knowledge and smoking habits. This study aims to analyze the relationship between parental knowledge and smoking habits with the incidence of ARI among toddlers in the working area of Wamolo Health Center, Central Buton Regency. The study employed a cross-sectional design involving 70 toddlers selected through simple random sampling. Data were collected using questionnaires and health records and analyzed using chi-square tests at a 95% confidence level (α = 0.05). The results showed a significant relationship between knowledge and ARI incidence (p=0.002; OR=0.15; 95% CI: 0.048–0.474) as well as between smoking habits and ARI incidence (p=0.037; OR=3.82; 95% CI: 1.20–12.13). Children from smoking households were 3.82 times more likely to develop ARI compared to children from non-smoking households. Parental knowledge and smoking habits are significantly associated with ARI incidence among toddlers. Educational interventions and smoking habit control are needed to reduce ARI prevalence.
DUKUNGAN KELUARGA DENGAN EFIKASI DIRI PASIEN TB PARU YANG MENJALANI PENGOBATAN DI POLIKLINIK PARU : FAMILY SUPPORT AND SELF EFFICACY OF PULMONARY TUBERCULOSIS PATIENTS UNDERGOING TREATMENT AT THE PULMONARY CLINIC Nining Nirmalasari; Mohammad Wafri Matorang; Detrina F. Uramako
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i2.413

Abstract

Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit infeksi menular yang masih menjadi tantangan kesehatan global, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Keberhasilan pengobatan TB sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah dukungan keluarga yang berperan dalam meningkatkan efikasi diri pasien. Efikasi diri yang baik dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan dan mengurangi risiko putus obatPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dan efikasi diri pasien TB paru yang menjalani pengobatan di Poliklinik Paru RSUD Poso. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 44 pasien TB paru yang dipilih menggunakan metode simple random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Fisher. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien mendapatkan dukungan keluarga yang baik (79,5%), dan mayoritas memiliki efikasi diri yang tinggi (88,6%). Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan efikasi diri pasien TB paru (p= <0,001). Pasien dengan dukungan keluarga yang baik memiliki efikasi diri lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki dukungan keluarga kurang. Perawat dan tenaga kesehatan diharapkan lebih aktif dalam mengedukasi keluarga pasien tentang pentingnya dukungan mereka dalam proses penyembuhan. Pulmonary tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains a global health challenge, particularly in developing countries such as Indonesia. The success of TB treatment is influenced by various factors, one of which is family support, which enhances patients’ self-efficacy. Good self-efficacy can improve patients’ adherence to treatment and reduce the risk of treatment discontinuation. This study analyzes the relationship between family support and self-efficacy in pulmonary TB patients undergoing treatment at the Pulmonary Clinic of RSUD Poso. This study employed a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The research sample comprised 44 pulmonary TB patients selected using simple random sampling. Data were collected through interviews using a structured questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted descriptively and inferentially using Fisher’s exact test. The results showed that most patients received good family support (79.5%), and most had high self-efficacy (88.6%). Statistical analysis indicated a significant relationship between family support and self-efficacy in pulmonary TB patients (p< 0.001). Patients with good family support had higher self-efficacy than those with lower family support. Nurses and healthcare professionals are expected to be more active in educating patients’ families about the importance of their support in the healing process.

Page 10 of 15 | Total Record : 147