cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
KARAKTERISTIK MIKROBIOLOGI DAN TEKSTUR ES KRIM PROBIOTIK DENGAN BAHAN BAKU SUSU SEGAR YANG DIKOMBINASIKAN DENGAN UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas) Prastiti, Rofiq; Mulyani, Sri; Masykuri, Masykuri
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 4 (2013): Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.271 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai komposisi adonan es krim probiotik dari susu segar yang dikombinasikan dengan ubi jalar ungu terhadap karakteristik mikrobiologi (total bakteri asam laktat dan total asam) dan tekstur. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan T0 sebagai kontrol, T1 sebagai komposisi adonan es krim dengan kadar lemak 5%, T2 sebagai komposisi adonan es krim dengan kadar lemak 10%, T3 sebagai komposisi adonan es krim dengan kadar lemak 15% dengan 5 kali pengulangan. Karakteristik mikrobiologi es krim probiotik dilihat dari total bakteri asam laktat dan total asam. Total bakteri asam laktat  es krim probiotik menunjukkan hasil yang non signifikan (P>0,05). Total asam es krim probiotik menunjukkan hasil yang signifikan (P<0,05). Tekstur es krim probiotik menunjukkan hasil yang non signifikan (P>0,05).
PENGARUH PROTEKSI PROTEIN TEPUNG KEDELAI DENGAN TANIN DAUN BAKAU TERHADAP KONSENTRASI AMONIA, UNDEGRADED PROTEIN DAN PROTEIN TOTAL SECARA In Vitro Cahyani, Ratna Dwi; Nuswantara, Limbang Kustiawan; Subrata, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.002 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah meghasilkan bahan pakan sumber protein terproteksi untuk meningkatkan produktivitas ternak dilihat dari pengukuran amonia (NH3), Rumen Undegraded Dietary Protein (RUDP) dan Protein Total. Penelitian dilakukan secara in vitro dengan rancangan acak lengkap 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan penelitian adalah T0 (tepung kedelai tanpa tanin), T1 (tepung kedelai+tanin 0,25%), T2 (tepung kedelai+tanin 0,5%), T3 (tepung kedelai+tanin 0,75%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung kedelai yang diproteksi tanin daun bakau dengan level 0,25%, 0,5%, dan 0,75% dapat menurunkan konsentrasi amonia (NH3) dan meningkatkan Rumen Undegraded Dietary Protein (RUDP) serta produksi protein total (P<0,05). Rataan konsentrasi NH3, persentase RUDP dan produksi protein total pada T0, T1, T2, T3 berturut-turut adalah (7,78 mM, 15,93 %, 339,68 mg/g), (7,24 mM, 16,33%, 402,76 mg/g), (6,61 mM, 14,35%, 20,98 mg/g), (6,37 mM, 20,98%, 507,01 mg/g).Kata kunci : tepung kedelai, daun bakau, tanin, NH3, RUDP, protein total
PENGARUH PROTEKSI PROTEIN AMPAS KECAP DENGAN TANIN TERHADAP KONSENTRASI AMONIA, PRODUKSI PROTEIN TOTAL DAN PERSENTASE RUMEN UNDEGRADED DIETARY PROTEIN SECARA IN VITRO Mayangsari, Nadia Sitha; Subrata, Agung; Christiyanto, Marry
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.495 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh level penambahan tanin daun mangrove untuk memproteksi protein ampas kecap terhadap konsentrasi amonia (NH3), produksi protein total dan persentase rumen undegraded dietary protein (RUDP) secara in vitro. Materi yang digunakan adalah ampas kecap, daun mangrove sebagai sumber tanin alami, cairan rumen dan reagensia yang digunakan dalam analisis NH3, protein total dan RUDP. Parameter yang diamati adalah konsentrasi NH3, produksi protein total dan persentase RUDP. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan adalah T0 (ampas kecap + tanpa tanin), T1 (ampas kecap + tanin 0,25%), T2 (ampas kecap + tanin 0,50%), T3 (ampas kecap + tanin 0,75%). Hasil penelitian diolah secara statistik dengan analisis sidik ragam dan jika terdapat pengaruh nyata akibat perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan dengan taraf 5% untuk mengetahui adanya perbedaan pengaruh antar perlakuan. Hasil penelitian didapatkan konsentrasi NH3 protein ampas kecap terproteksi dengan perbedaan aras tanin berturut-turut adalah 4,34; 3,46; 3,29; 3,10 mM. Produksi protein total yang dihasilkan berturut-turut adalah 315,37; 330,05; 334,04; 304,45 mg/g. Persentase RUDP yang dihasilkan berturut-turut adalah 27,91; 27,96; 28,03; 27,36 %. Hasil uji variansi menunjukkan bahwa proteksi protein ampas kecap menggunakan tanin mangrove berpengaruh terhadap konsentrasi NH3 namun tidak berpengaruh terhadap produksi protein total dan persentase RUDP. Hasil uji lanjut DMRT menunjukkan bahwa konsentrasi NH3 pada perlakuan T0 nyata lebih tinggi (p<0,05) dari T1, T2 dan T3 sedangkan T1, T2 dan T3 tidak berbeda nyata (p>0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa proteksi protein ampas kecap menggunakan tanin daun mangrove terbukti menurunkan konsentrasi amonia (NH3) tetapi tidak mempengaruhi produksi protein total dan persentase RUDPnya.Kata kunci: ampas kecap; tanin; amonia; protein totalABSTRACTThe aimed of this research was to determine the effect of level tannin of mangrove leaf to protected soy pulp protein on ammonia concentration (NH3), total protein production and percentage of rumen undegraded dietary protein (RUDP) in vitro. The material used is soy pulp, mangroves leaves as a natural source of tannins, rumen liquor and reagents used in the analysis of NH3, total protein and RUDP. Parameters measured were NH3 concentrations, total protein production and percentage of RUDP. The experiment was conducted used a completely randomized designed with 4 treatments and 4 replications. Treatments are T0 (soy pulp + without tannin), T1 (soy pulp + tannin 0.25%), T2 (soy pulp + tannin 0.50%), T3 (soy pulp + tannin 0.75%). The results were analyzed statistically by variance analysis, and if there is a real effect due to treatment followed by Duncan test at 5% level to detect a difference between treatment effects. The results obtained NH3 concentration of soy pulp protein protected with different tannin are 4.34; 3.46; 3.29; 3.10 mM. The results total protein production are 315.37; 330.05; 334.04; 304.45 mg/g. The results percentage RUDP are 27.91; 27.96; 28.03; 27.36%. The variant test results showed that the protective soy pulp protein used mangrove tannin significantly decrease NH3 concentrations, but no significantly on total protein production and percentage RUDP. The DMRT test result showed that NH3 concentrations on T0 significantly higher (p<0.05) from T1, T2 and T3 while T1, T2 and T3 not significantly different (p>0.05). From the results of this research concluded that the protection of soy pulp protein used mangrove leaves tannin proven to decrease ammonia concentration (NH3) but did not affected to total protein production and percentage RUDP.Keywords: soy pulp; tannin; ammonia; total protein
POLA PERTUMBUHAN KAMBING JAWARANDU BETINA DI KABUPATEN REMBANG (Growth Pattern of Female Jawarandu Goat in Rembang Regency) Utomo, Gadhang Satryo; Sukarno, Sularno Darto; Lestari, C.M. Sri
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 3 (2014): Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.047 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan kambing Jawarandu betina berdasarkan bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh. Materi yang digunakan adalah kambing Jawarandu betina umur 0-4 tahun sebanyak 185 ekor. Pengambilan sampel kambing dilakukan dengan cara purposive sampling. Variabel yang diukur adalah bobot badan, tinggi pundak, panjang badan dan lingkar dada kambing Jawarandu betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot badan, tinggi pundak, panjang badan dan lingkar dada mempunyai pola pertumbuhan yang sama. Pada umur 0-3 bulan sampai umur >18-30 bulan (poel 2) pertumbuhan bobot badan, tinggi pundak, panjang badan dan lingkar dada meningkat (P<0,05), sedangkan pada umur >18-30 bulan (poel 2) dan >30-42 bulan (poel 3) pertumbuhan bobot badan, tinggi pundak, panjang badan dan lingkar dada cenderung tetap (P>0,05), tetapi pada umur >30-42 bulan (poel 3) dan umur >42-48 bulan (poel 4) pertumbuhan bobot badan, panjang badan dan lingkar dada meningkat kembali (P<0,05), tetapi pada tinggi pundak umur >42-48 bulan (poel 4) cenderung tetap (P>0,05). Simpulan hasil penelitian adalah pertumbuhan tinggi pundak, lingkar dada, panjang badan dan pertambahan bobot badan pada kambing Jawarandu betina mempunyai pola yang sama mulai dari umur 0-3 bulan sampai umur >30-42 bulan (poel 3), tetapi pada lingkar dada, panjang badan dan bobot badan mengalami peningkatan kembali pada umur >42-48 bulan (poel 4), sedangkan pada tinggi pundak cenderung tetap. Kata kunci : kambing Jawarandu; pertumbuhan; ukuran tubuh ABSTRACT           This study was aimed to determine the growth pattern of female Jawarandu goats based on body weight and body measurements. The material used in this study was 185 heads female Jawarandu goats aged 0-4 years. Goats sampling was done by purposive sampling methods. The variables measured were body weight, shoulder height, body length and chest girth. The results showed that body weight, shoulder height, body length and chest girth have the similar growth pattern. From the age of 0-3 months to >18-30 months (2 pairs permanent incisors teeth; pit) the body measurements of goat was increased (P<0.05), while at age of >18-30 months (2 pairs pit) and >30-42 months (3 pairs pit) the body measurements was similar (P>0.05), increased again (P<0.05) from age of >30-42 months (3 pairs pit) to >42-48 months (4 pairs pit), except  in shoulders height (P>0.05). The conclusion could be drawn from this study was the shoulders height, chest girth, body length and body weight in female Jawarandu goats (from the age of 0-3 months to >30-42 months (3 pairs pit) grown in similar pattern, however the chest girth, body length and body weight were increased again at the age of >42-48 months (4 pairs pit) except shoulders height. Keywords: body size; growth; Jawarandu goat.
HUBUNGAN ANTARA UKURAN-UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT BADAN SAPI BALI BETINA PADA BERBAGAI KELOMPOK UMUR Niam, Hijriyatul Untsayaini Muharramatin; Purnomoadi, Agung; Dartosukarno, Sularno
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.239 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keeratan hubungan antara ukuran-ukuran tubuh untuk pendugaan bobot badan pada sapi Bali betina. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Juli 2009, di Dinas Pertanian Kota Pangkalpinang, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 20 ekor sapi Bali betina poel 1, 20 ekor sapi Bali betina poel 2, 20 ekor sapi Bali betina poel 3 dan 20 ekor sapi Bali betina poel 4. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan jenis kelamin betina, tidak sedang bunting minimal 2 bulan, dan umur. Peralatan yang digunakan adalah timbangan ternak digital, tongkat ukur dan pita ukur. Variabel yang diamati meliputi bobot badan, lingkar dada, tinggi pundak, panjang badan dan lebar dada. Data yang diperoleh diolah secara statistik untuk menentukan koefisien korelasi (r), koefisien determinasi (R2) dan menentukan persamaan regresi sederhana sebagai persamaan penduga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi pada tiap umur memiliki keeratan yang berbeda-beda. Keeratan hubungan paling tinggi pada poel 1 sebesar 0,92 antara lingkar dada dengan bobot badan. Keeratan hubungan antara tinggi pundak dengan bobot badan pada poel 3 sebesar 0,65. Keeratan hubungan antara panjang badan dengan bobot badan pada poel 1 dan poel 3 sebesar 0,78. Keeratan hubungan antara lebar dada dengan bobot badan paling tinggi pada poel 2 sebesar 0,42. Secara keseluruhan ukuran tubuh yang memiliki nilai korelasi tinggi sebesar 0,92 adalah antara lingkar dada dengan bobot badan. Nilai korelasi (r) mendekati +1 menunjukkan adanya hubungan sangat kuat dan positif antara dua variabel. Kesimpulan yang diperoleh adalah hubungan antara bobot badan dengan ukuran-ukuran tubuh bervariasi menurut umur yang dinyatakan dengan poel dan nilai korelasi berkisar antara 0,15 hingga 0,92. Secara keseluruhan, lingkar dada memiliki keeratan yang lebih baik dibandingkan dengan tinggi pundak, panjang badan dan lebar dada.
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG BUAH JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava L.) DALAM RANSUM TERHADAP PERLEMAKAN AYAM BROILER Aditya, Herawan; Mahfuds, Luthfi Djauhari; Ismadi, Vitus Dwi Yunianto Budi
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 2 (2013): Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.517 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung buah jambu biji merah dalam ransum terhadap perlemakan ayam broiler. Ayam broiler umur 16 hari unsex strain MB 202 sebanyak 120 ekor dengan bobot rata – rata 389,33 ± 7,9 g ditempatkan di 20 unit petak kandang dengan masing-masing unit berisi 6 ekor ayam. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan : T0 (kontrol) : ransum tanpa penggunaan tepung buah jambu biji merah; T1 : ransum dengan penggunaan tepung buah jambu biji merah 1,7%; T2 : ransum dengan penggunaan tepung buah jambi biji merah 3,4% ; T3 : ransum dengan penggunaan tepung buah jambu biji merah 5,1%; T4 : ransum dengan vitamin C 500 ppm. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan prosedur analisis ragam (Analysis of Variance / ANOVA) dengan uji F pada taraf 5% dan apabila hasil analisis menunjukkan pengaruh perlakuan yang nyata akan dilanjutkan dengan uji wilayah Ganda Duncan dengan program SAS versi 9.0. Variabel yang diamati adalah bobot badan akhir, pertambahan bobot badan, persentase lemak abdomen, kadar kolesterol darah dan kadar trigliserida darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan penggunaan tepung buah jambu biji merah tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap bobot hidup, pertambahan bobot badan, persentase lemak abdomen, kadar kolesterol darah dan kadar trigliserida darah.Kata kunci : ayam broiler, ransum, buah jambu biji merah, perlemakan ABSTRACT The goals of this study is to find out the utilization of red guava fruit meal in the diet on broiler fat content. Broiler chickens at 16 days old unsex strain MB 202 ammount 120 birds with average weight 389,33 ± 7,9 g. 20 unit cages with each unit placed 6 broiler chicken This research used Completely Randomized Design with 5 treatments and 4 replications: T0 (control): rations without red guava truit meal, T1: ration with red guava fruit meal 1,7%, T2: ration with red guava fruit meal 3,4%, T3: ration with red guava fruit meal 5,1%. The data obtained were analyzed using various analytical procedures (Analysis of Variance / ANOVA) F-test with level 5% and if the result of the analysis show that the real effect of treatment will be followed by Duncan's test with SAS program version 9.0. Variables observed were body weight, average dayli gain, percentage of abdominal fat, blood cholesterol and blood triglyceride. The results showed that treatment with red guava fruit meal were not significant (P>0,05) towards body weight, average dayli gain, percentage of abdominal fat, blood cholesterol and blood triglyceride.Key words: broiler chickens, ration, red guava fruit meal, fattening up
PENGGUNAAN EKSTRAK LIMBAH SAYUR DALAM KOMBINASI CAIRAN RUMEN SEBAGAI STARTER BERDASARKAN TOTAL JAMUR SERTA KEBERADAAN KAPANG DAN KHAMIR (Use of Waste Vegetable Extracts in Combination Rumen Fluid as a Starter on Total Fungi with Existence Molds and Yeasts Payitno, Suryohadi; Widiyanto, Widiyanto; Utama, Cahya Setya
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 4 (2014): Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.146 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan  penelitian mengetahui total jamur serta keberadaan  kapang dan khamir pada starter Ekstrak  Limbah  Sayur Fermentasi (ELSF) dengan penambahan  cairan  rumen. Materi penelitian adalah pollard yang digunakan sebagai substrat untuk  pertumbuhan  kapang dan  khamir. Rancangan  percobaan yang digunakan adalah  Rancangan  Acak  Lengkap  (RAL) pola faktorial (4x2). Faktor A dengan  4 perlakuan yaitu  perbandingan  ELSF dan cairan  rumen (0:0, 10:20, 20:20, 20:10) dan faktor B adalah lama pemeraman (0 jam dan 48 jam), serta 4 ulangan dari setiap perlakuan. Parameter yang diamati adalah total jamur serta keberadaan kapang dan khamir. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak  ada interaksi antara perlakuan  dan  lama pemeraman  terhadap  total jamur. Perlakuan perbandingan ELSF dan  cairan  rumen serta lama peram 48  jam menghasilkan total jamur lebih tinggi (P<0,05) dibanding kontrol dan lama peram 0 jam. Pemeraman 48 jam menunjukkan adanya kapang pada starter. Identifikasi kapang yang tumbuh pada starter adalah Aspergillus sp. Pemeraman 0  jam menunjukkan  adanya khamir pada starter dikarenakan pada ELSF terdapat khamir Saccharomyces sp yang dapat dimanfaatkan  dalam proses fermentasi. Simpulan penelitian adalah perlakuan perbandingan ELSF dan cairan rumen serta pemeraman 48 jam meningkatkan total jamur pada starter. Kapang Aspergillus sp dan  khamir Saccharomyces cerevisiae tumbuh  pada starter yang tersusun  dari kombinasi ekstrak  limbah  sayur fermentasi dengan  cairan rumen  yang diinokulasikan pada substrat pollard.Kata kunci : ELSF; cairan rumen; total jamur; kapang; khamir ABSTRACT This study was aimed  to measure total fungi as well as the presence of mold and yeast in the starter ELSF with the addition of rumen fluid. The research material is pollard used as a substrate for the growth  of molds and yeasts. The experimental design used was a completely randomized  design (CRD) factorial design (4x2). Factor A with 4 treatments, comparison ELSF and rumen fluid (0: 0, 10:20, 20:20, 20:10) and factor B was a long ripening (0 h and 48 h), and 4 replications of each treatment. Parameters measured was total fungi as well as the presence of mold  and  yeast. Treatment comparison ELSF and rumen  fluid produces mushrooms and long ripened total of 48 hours resulted in a total of fungi was higher (P <0.05) than the control. Ripening 48 hours showed the presence of mold on the starter. Identification of mold that grows on the starter is Aspergillus sp. Ripening 0 hours showed the yeast in the starter because the yeast Saccharomyces sp ELSF there that can be used in the fermentation process. The conclusions of this research is the treatment comparison ELSF and rumen fluid as well as long ripening increases the total mushroom starter. Aspergillus sp and the yeast Saccharomyces cerevisiae grown on  a starter that is composed of a combination  of extracts of vegetable waste fermentation inoculated with rumen fluid on the substrate pollardKeywords: ELSF; rumen fluid; total fungi; molds; yeast
DAYA KEMBANG, TOTAL PADATAN, WAKTU PELELEHAN, DAN KESUKAAN ES KRIM FERMENTASI MENGGUNAKAN STARTER Saccharomyces cereviceae. Achmad, Fauzan; Nurwantoro, Nurwantoro; Mulyani, Sri
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.202 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah memperoleh data secara ilmiah pengaruh lama pemeraman adonan es krim dengan menggunakan starter Saccharomyces cereviceae terhadap total padatan, daya kembang (Overrun), waktu pelelehan, serta uji kesukaan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2012 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah lama pemeraman starter Saccharomyces cereviceae 1 jam (T1), perbandingan 2 jam (T2), perbandingan 3 jam (T3), perbandingan 4 jam (T4) dan perbandingan 5 jam (T5). Parameter yang diamati meliputi total padatan, daya kembang (overrun), waktu pelelehan, serta kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pemeraman Saccharomyces cereviceae berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap penurunan total padatan, peningkatan overrun atau daya kembang, dan percepatan waktu pelelehan. Es krim yang paling disukai adalah es krim dengan lama pemeraman 3 jam.Kata Kunci : es krim; daya kembang (overrun); total padatan; waktu pelelehan; kesukaanABSTRACTThe purpose of this study was to obtain scientific data the effect curing time dough ice cream using Saccharomyces starter cereviceae to total solids, Overrun, time melting, as well as preference test. The research was conducted in June-August 2012 in the Laboratory of Animal Products Technology, Faculty of Animal Science, Diponegoro University, Semarang. Experimental design used in this study was completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 4 replications. Treatment applied is long ripening starter Saccharomyces cereviceae 1 hour (T1), ratio of 2 hours (T2), the comparison to 3 hours (T3), comparison 4 hours (T4) and comparison to 5 hours (T5). The parameters observed were total solids, flower power (overrun), time melting, as well as joy. The results showed that the longer curing Saccharomyces cereviceae significantly (P <0.05) for total solids reduction, improved overrun or flower power, and acceleration of melting time. The most preferred ice cream is ice cream with curing time of 3 hours.Keywords: ice cream; overrun, total solids; time melting; favorite
PENGGUNAAN PROTEIN AKIBAT PEMBERIAN PORSI RANSUM BERBEDA DIKOMBINASIKAN DENGAN LAMA PENCAHAYAAN PADA AYAM BROILER (The Use of Protein Due to Combination of Feed Serving and Lighting Period on Broiler) Saraswati, Agrientya; Suthama, Nyoman; Budi Ismadi, Vitus Dwi Yunianto
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.723 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitianbertujuanmengetahui kombinasipembatasan ransum pada siang hari dan lama pencahayaan pada malam hari terhadap kecernaan protein, retensi nitrogen dan pertambahan bobot badan serta rasio efisiensi protein pada ayam broiler.  Materi yang dipergunakan adalah 320 ekor ayam broiler day old chicks (DOC) dengan bobot badan rata-rata 95,34±4,12 g, ransum (mengandung protein 19% dan energi metabolis 3007,70 Kkal).  Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap pola split plot 3 x 2 dengan 5 ulangan(tiap unit 10 ekor).  Main plot adalah lama pencahayaan (T1 4jam, T2 6jam, dan T3 2G:2T) dan sub plot adalah porsi ransum berbeda (R1 30% siang:70% malam dan R2 40% siang:60% malam).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama pencahayaan 6 jam pada malam hari  menghasilkan kecernaan protein, retensi nitrogen, rasio efisiensi protein dan pertambahan bobot badan yang lebih baik dibanding dengan perlakuan pencahayaan 4jam dan cahaya berselang, namun semua parameter tersebut menunjukkan hasil yang sama terhadap pembatasan porsi ransum. Simpulan penelitian pencahayaan selama 6jam  membuatkecernaan protein dan performans broiler menunjukkan nilai tertinggi.           Kata kunci : ayam broiler; pencahayaan; porsi pakan; kecernaan protein ABSTRACT The research was aimed to determine the combining effect of dietary restrictions and lighting periode at day and night on protein digestibility, nitrogen retention and body weight gain in broiler chickens.  The experimental animals were 320 bird of day old chicks (DOC) broilers with average weight gain 95,34±4,12 g, given feed containing  protein19% and metabolizable energy 3007,70 kcal/ kg.  Experiment was assigned in a completely randomized design of 3x2 split plot pattern with five replicates (10 bird each).  Main plot was lighting periode (T1 4 hours, T2 6 hours, and T3 2D:2L) and sub-plots was different ration portion (R1 30% at day:70% at night and R2 40% at day:60% at night).  The results showed that the treatment T2 (6 hours lighting at night) produced  protein digestibility, nitrogen retention, protein efficiency ratio and body weight gain better than T1(4 hours lighting periode) and T3 (intermittent lighting).  However, restriction of ration portion showed similar result for all parameters.  Protein digestibility and broiler perform shows the highest result due to 6 hours lighting periode. Key words: broiler; lighting periode; portion of  diet; protein digestibility
KARAKTERISTIK FISIOLOGI RUMPUT BENGGALA (Panicum maximum) PADA TANAH SALIN YANG DIPERBAIKI Pradewa, Civic Julian; Sumarsono, Sumarsono; Kusmiyati, Florentina
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.696 KB)

Abstract

Research use saline soil from Kaliori, Rembang, Central Java, in green house and Plant and feed science Laboratorium, of animal husbandry and agricultural faculty, Diponegoro University. The research to evaluated Physiology Characteristic of Benggala grass that, wide leaf area, a chlorophyll, b chlorophyll, total chlorophyll, and nitrat reductase activty at repair of saline soil. Research use complete random progam, and duncan test with 3 rasio, and 7 treatment. Control (P0), gypsum (P1), ash hull of rice (P2), animal fertilizer (P3), gypsum and ash hull of rice combination (P4), gypsum and animal fertilizer combination (P5), ash hull of rice and animal fertilizer combination (P6). Repair of saline soil with gypsum and animal fertilizer combination (P5) have best effect, than other treatment. This effect give highest on the average at parameter of wide leaf area, and so of a chlorophyll, b chlorophyll, total chlorophyll, and nitrat reductase.Key word : Saline soil, Benggala grass, Leaf Area, chlorophyll, Nitract Reductase Activity.ABSTRACTPenelitian menggunakan tanah salin asal kecamatan Kaliori, Rembang Jawa Tengah dan dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Ilmu Tanaman Makanan Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, untuk mengkaji karakteristik fisiologi rumput benggala yaitu luas daun, klorofil a, b, dan total, serta aktivitas nitrat reduktase, pada tanah salin yang diperbaiki. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang di lanjutkan dengan uji jarak berganda duncan, yang terdiri 3 ulangan dan 7 perlakuan, yaitu kontrol (P0), gipsum (P1), abu sekam padi (P2), pupuk kandang (P3), kombinasi gipsum dan abu sekam padi (P4), kombinasi gipsum dan pupuk kandang (P5), kombinasi abu sekam padi dan pupuk kandang (P6). Perbaikan tanah salin menggunakan perlakuan kombinasi pupuk kandang gipsum (P5) memiliki pengaruh paling baik dibandingkan dengan perlakuan lain. Perlakuan kombinasi gipsum pupuk kandang, menunjukkan nilai rata-rata paling tinggi pada parameter luas daun, begitu pula pada klorofil a, klorofil b, klorofil total serta aktivitas nitrat reduktase.Kata kunci : Tanah Salin, Rumput Benggala, Luas Daun, Klorofil, Aktivitas Nitrat Reduktase.