cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG KAYAMBANG (Salvinia molesta) DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS FISIKOKIMIA DAGING AYAM KAMPUNG (The Effects of Salvinia Molesta Flour Weeds to the Physicochemical Quality Of Free-Range Chicken meat) Muliasari, Septia; Sarengat, Warsono; Dwiloka, Bambang
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.899 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung Salvinia molesta terhadap kualitas fiskokimia daging ayam kampung meliputi tentang Water Holding Capacity (WHC), pH, wateractivity (aw) dan kadar air. Materi yang digunakan adalah daging ayam kampung yang diperoleh dari pemeliharaan 100 ekor dengan bobot rata-rata awal sebesar 31,66 g dan koefisien variansi sebesar 10,73% dalam kandang 20 unit flock masing-masing diisi 5 ekor selama 10 minggu. Ransum yang diberikan yaitu jagung, tepung bungkil kedelai, bekatul, tepung ikan, minyak, kapur, premix, lysin, methionin dan tepung S. molesta. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap yaitu tahap persiapan, pelaksanaan meliputi pemeliharaan DOC sampai dengan pemotongan untuk mendapatkan sampel dan analisis sampel. Ransum penyusunan diberikan pada saat periode starter dengan kandungan EM 2900 kkal/kg dan kandungan PK 20% dan periode finisher dengan kandungan EM 2900 kkal/kg dan kandungan PK 19%. Model rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yaitu To= 0%, T1=6%, T2=12%, dan T3=18% tepung S. molesta. Data dianalisis menggunakan analisis ragam jika ada pengaruh dilanjutkan dengan uji beda Duncan.Hasil fisikokimia daging ayam kampung adalah WHC (37,02%-38,04%), pH (6,24-6,31),aw(0,91-0,92), dan kadar air (75,21%-75,75%). Simpulan penelitian ini adalah bahwa penggunaan campuran pakan tepumg S. molesta dapat diterapkan sebagai pakan alternatif yang dapat bersaing dengan pakan konvensional tanpa mengurangi kualitas fisikokimia daging ayam kampung.Kata kunci : WHC; pH; aw; kadar air; daging ayam kampung ABSTRACT The study aimed to determine the effect of flour Salvinia molesta use on the quality of chicken meat physicochemical covers on Water Holding Capacity (WHC), pH, water activity (aw) and water content. The material used is chicken meat obtained from the maintenance of 100 individuals with an average initial weight of 31.66 grams and a coefficient variance of 10.73 % in the cage flock of 20 units each filled 5 tails for 8 weeks. The feed is corn, soybean meal flour, bran ,fish meal, oil, chalk, premix, lysine, methionin and S. molesta powder. The study was conducted in several phases preparation, implementation includes the maintenance of DOC up with cuts to get the samples and sample analysis. Ration was given at the time of the preparation of the content of the starter period EM 2900 kcal/kg and 20 % PK content and finisher periods containing EM 2900 kcal/kg and 19 % PK content. Model of experimental design used was completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications ie To=0 % ,T1=6 %, T2=12 % ,and T3=18 % starch S. molesta. Data were analyzed using analysis of variance if there is an influence of different test followed by Duncan. The results of physicochemical meat chicken is the WHC (37.02% -38.04%), pH (6.24 to 6.31), aw (0.91 to 0.92) and moisture content (75.21%-75.75%). The conclusions of this study is that the use of S. molesta powder feed mixture can be applied as an alternative feed that can compete with conventional feed without reducing the physicochemical quality chicken meat.Keywords : WHC ,pH ,aw ,moisture content ,free range chicken meat
PENGARUH BERBAGAI FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN PADA PEMBATASAN PAKAN TERHADAP PERFORMANS AYAM BROILER Idayat, Ady; Atmomarsono, Umiyati; Sarengat, Warsono
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.615 KB)

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to determine the influence of feeding frequency on feed restriction on broiler chickens performance. The material used in this study were 200 heads of unsex 1 Day Old Chick (DOC), broiler strain. The experimental design used was Completely Randomized Design (CRD), with 4 treatments and 5 trials consisted of 10 chickens. T0: ad libitum feeding according to the standard PT. Charoen Pokphand, T1: feeding 75% of standard feed with 3 times a day frequency, T3: feeding 75% of standard feed with 2 times frequency of. Data obtained then analyzed with the F test at range test level of 5%. The results showed there’s no interaction between the restriction on the consumption of feed rations, body weight gain and conversion rations. Consumption of broiler chicken rations at T0: 553.09 g, T1: 553.57 g, T2: 552.80, T3: 555.42 g. Body weight gain of broiler chickens at T0: 360.13 g, T1: 350, 52 g, T2: 347, 99 g and T3: 354.01 g. Conversion ration of broiler chickens at T0: 1.54 g, T1: 1.58 g, T2: 1.59 g and T3: 1.56 g. The conclusion is there’s no effect of feeding frequency 4 times, 3 times and 2 times at 75% of standard feed restriction on the broiler chicken performance. Key words: feeding frequencies, feed restriction, performance, broiler chickens   ABSTRAK Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai frekuensi pemberian pakan pada pembatasan pakan terhadap performans ayam broiler. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah broiler umur 1 hari (DOC) unsex, sejumlah 200 ekor. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan sehingga ada 20 petak kandang sebagai unit percobaan. Setiap unit percobaan terdiri dari 10 ekor ayam. T0 : Pemberian pakan  ad libitum sesuai standar P.T. Charoen Pokphand, T1 : Pemberian pakan 75 % dari pakan standar dengan frekuensi pemberian 4 kali, T2 : Pemberian Pakan 75 % dari pakan standar dengan frekuensi pemberian 3 kali, T3 : Pemberian Pakan 75 % dari pakan standar dengan frekuensi pemberian 2 kali. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan analisis ragam dengan uji F pada taraf uji 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara pembatasan pakan terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Konsumsi ransum ayam broiler pada T0: 553,09 g, T1: 553,57g, T2: 552,80 g dan T3: 555,42g. Pertambahan bobot badan ayam broiler pada T0: 360,13g, T1: 350,52g, T2: 347,99g dan T3: 354,01g. Konversi ransum ayam broiler pada T0: 1,54g, T1: 1,58g, T2: 1,59g dan T3: 1,56g. . Disimpulkan bahwa pengaruh berbagai frekuensi pemberian pakan 4 kali, 3 kali, dan 2 kali pada pembatasan pakan 75% dari standar tidak memberikan pengaruh terhadap performans ayam broiler.  Kata kunci: frekuensi pemberian pakan, pembatasan pakan, performans, ayam  broiler
PENINGKATAN KUALITAS RANSUM YANG DITAMBAH CAMPURAN HERBAL KAITANNYA DENGAN FERTILITAS TELUR DAN MORTALITAS EMBRIO PADA AYAM KEDU PEBIBIT Edi, Joshapat Nursasongko; Wahyuni, Hanny Indrat; Suthama, Nyoman
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.552 KB)

Abstract

ABSTRACT The aim of the research was to assess the effect of improving dietary of nutriens and adding herbal mixture of noni, gotu kola and turmeric in the ration on fertility and embryos mortality breeder kedu chicken. Seventy two heads of one-year-old black kedu hens with average body weight of 1614 ± 124g and 18 cocks with average body weight of 1897 ± 151g were used in this research. Feed stuffs used were as follows yellow corn, soybean meal, fish meal, rice bran, flour skin shells, limestone (CaCO3), concentrates CP 124 and mineral premix. The research used completely randomized design (CRD) in 2x3 factorial patterns with 3 replications. The first factors were the type of ration namely farmer formulated (R1) and improved ration (R2). The second factors were the level of mixture 0% that is (H0), 4% (H4) and 8% (H8). The result shows that there was no interaction (P> 0.05) between the type of ration and the level of herbal mixture on feed consumption, fertility, embryo mortality as well as Hen Day Production (HDP). Nutrient differences of the ration effected (P <0.05) feed consumption and mortality of embryos, but it was not affect on fertility and HDP. The level of herbal mixture effected (P <0.05) feed consumption, but not on fertility, embryo mortality and HDP. The conclusions was 4% level of herbs mixture was the best level added to the ration since it enhanced fertility and depressed embryo mortality despite increased feed consumption.Keywords: kedu hens, herbs, fertility, embryoABSTRAKPenelitian bertujuan mengkaji pengaruh peningkatan kualitas nutrien ransum dan penambahan herbal campuran mengkudu, pegagan dan kunyit dalam ransum terhadap fertilitas dan mortalitas embrio ayam kedu pebibit. Ternak penelitian adalah ayam kedu hitam umur 1 tahun sebanyak 72 ekor betina dengan bobot badan rata-rata 1614 ± 124g dan 18 ekor jantan dengan bobot badan rata-rata 1897 ± 151g, jagung kuning, bungkil kedelai, tepung ikan, dedak padi, tepung kulit kerang, kapur (CaCO3), konsentrat CP 124 dan premix mineral. Alat yang digunakan adalah tempat ransum dan minum, timbangan analitis kapasitas 3 kg dengan ketelitian 1 g dan termometer. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2x3 dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah jenis ransum peternak (R1) dan ransum perbaikan (R2), faktor kedua adalah level campuran herbal 0% (H0), 4% (H4) dan 8% (H8) dalam komposisi 100% ransum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi yang nyata (P>0,05) antara jenis ransum dan level herbal terhadap konsumsi ransum, fertilitas, mortalitas embrio dan HDP ayam Kedu. Pemberian ransum berbeda formula berpengaruh (P<0,05) terhadap konsumsi ransum dan mortalitas embrio, tetapi tidak terhadap fertilitas dan HDP. Penambahan level herbal berpengaruh (P<0,05) terhadap konsumsi ransum, namun tidak terhadap fertilitas, mortalitas embrio dan HDP. Simpulan dari penelitian bahwa penambahan herbal 4% menunjukkan hasil terbaik dilihat dari peningkatan fertilitas dan penurunan mortalitas embrio meskipun terjadi peningkatan konsumsi.Kata kunci: ayam kedu, herbal, fertilitas, embrio
PENGARUH PENAMBAHAN PROBIOTIK Rhizopus oryzae TERHADAP TOTAL MIKROBA USUS HALUS DAN SEKA AYAM KAMPUNG PERIODE GROWER (The Effect of Probiotic Rhizopus Oryzae Administrationon The Total Number of Microbes in The Small Intestine and Caeca of Kampoeng Chicke Pratiwi, Kristiani Dina; Sugiharto, Sugiharto; Yudiarti, Turrini
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 3 (2014): Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.214 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh penambahan probiotik Rhizopus oryzae ayam kampung terhadap jumlah total mikroba yang ada pada usus halus dan seka ayam kampung periode grower. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus–11 Oktober 2014 di kandang ayam, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro.Materi yang digunakan adalah Day Old Chick (DOC) ayam kampung sebanyak 100 ekor (unsexed) dengan bobot badan 37,90± 1,36 g. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL).  Perlakuan yang diuji adalah dosis probiotik Rhizopus oryzae terdiri atas T0(kontrol), T1 (penambahan 0,1% probiotik Rhizopus oryzae) dan T2 (penambahan 0,2% probiotik Rhizopus oryzae). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotikRhizopus oryzae dalam ransum berpengaruh terhadap total mikroba usus halus dan seka ayam kampung periode grower tetapi berpengaruh terhadap pertumbuhan bobot badan harian ayam kampung umur 0-9 minggu. Pertumbuhan bobot badan harian tertinggi pada perlakuan T1 dan tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap T2 tetapi berbeda nyata terhadap (P<0,05) T0. Kesimpulan penelitian adalah penambahan Rhizopus oryzae dengan dosis 0,1% dan 0,2% pada pakan ayam kampung belum dapat meningkatkan jumlah total mikroba pada usus halus dan seka ayam kampung periode grower, tetapi dapat meningkatkan pertambahan bobot badan harian ayam kampung umur 0-9 minggu dan yang tertinggi pada penambahan dosis 0,1% probiotik Rhizopus oryzae.Kata kunci: Probiotik; fungi;mikroba; produktivitas; ayam kampung ABSTRACT The purpose of this study was to investigate the effect of probiotic Rhizopus oryzaeadministration on the total number of microbes in the smallintestine and caeca of kampoengchickens during the growerperiod. The study was conducted on 11 August to 11 October 2014 in the poultry farm at the Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University.The materials used in this study were 100 Day Old Chick (DOC) (unsexed) with initial body weight of 37.90 ± 1,36 g.The experiment was set asCompletely Randomized Design (CRD).The treatments consisted of T0 (control), T1 (0.1% addition of probiotic Rhizopus oryzae to the diet) and T2 (0.2% addition of probiotic Rhizopus oryzae to the diet).The results showed that addition of probioticRhizopus oryzae in the diet did not affect (P>0.05) the total number of microbesin the small intestine and caeca ofchicken during the grower period, but affected (P<0.05) the daily gain of chicken within 0-9 weeks.The highest daily gain was observed in T1 which was not different (P>0.05) from T2 but different (P<0.05) from T0.The conclusion of this study was the administration of Rhizopus oryzae with a dose of 0.1 % and 0.2 % in the chicken dietdid not increase the total number of microbes in the small intestine and caeca of kampong chickensduring the grower period, but the additionof Rhizopus oryzae could increase the daily gain at 0-9 weeks of age,at which the highest impact was observed when Rhizopus oryzae was added at 0.1 %.Keywords: Probiotic; fungi; microbe; productivity;kampoeng chicken
SERAPAN NITROGEN DAN FOSFOR TANAMAN Lemna minor SEBAGAI SUMBER DAYA PAKAN PADA “PERAIRAN” YANG MENDAPATKAN KOTORAN ITIK Kuncoro, Rizki Wahyu; Anwar, Syaiful; Purbajanti, Endang Dwi
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.869 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan kotoran itik dengan dosis yang berbeda terhadap serapan nitrogen dan serapan fosfor tanaman Lemna minor. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diterapkan meliputi P1 = kontrol; P2 = 5 g/l kotoran itik; P3 = 10 g/l kotoran itik; P4 = 15 g/l kotoran itik; P5 = 20 g/l kotoran itik. Parameter yang diamati adalah serapan nitrogen dan serapan fosfor. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji F (p<0,05) dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf 5% dan uji Polinomial Ortogonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kotoran itik mampu meningkatkan serapan nitrogen dan serapan fosfor secara nyata (p<0,05). Serapan nitrogen tertinggi dicapai pada penambahan kotoran itik sebanyak 19,625 g/l sedangkan serapan fosfor pada 13,12 g/l. Efisiensi pemanfaatan nitrogen dan fosfor tertinggi dicapai pada penambahan kotoran itik 20 g/l sebesar 2,4380% dan 15 g/l sebesar 8,6232%.Kata kunci: Lemna minor, kotoran itik, serapan nitrogen, serapan fosforABSTRACTThe study aims to examine the effect of adding duck manure with different doses on the nitrogen and phosphor uptake of Lemna minor. Experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 4 replications. Treatment applied were P1 = control, no duck manure excrement; P2 = addition of 5 g/l of duck manure; P3 = addition of 10 g/l of duck manure; P4 = addition of 15 g/l of duck manure; P5 = addition of 20 g/l duck manure. Data were analyzed with Analysis of Variance and if there was a significant treatment effect (p <0.05) data were continue analyzed by Duncan's multiple range test at the level of 5% and Orthogonal Polynomial test. The results showed that the addition of duck manure was able to increase uptake of nitrogen and phosphor uptake significantly (p<0.05). The highest nitrogen uptake achieved in the addition of duck manure as much as 19.625 g/l while the uptake of phosphor at 13.12 g/l. The highest nitrogen and phosphor utilization efficiency achieved in the addition of duck manure 20 g/l of 2.4380% and 15 g / l of 8.6232%.Key words: Lemna minor, duck manure, nitrogen uptake, phosphor uptake
PENGGUNAAN KAYAMBANG(Salvinia molesta) YANG DIFERMENTASI DENGAN Aspergillus niger DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS FISIK TELUR ITIK LOKAL (Using of kayambang (Salvinia molesta) fermented with Aspergillus niger in the Diet on Physical Quality of Local Duck E Ratya, Nindityas; Atmomarsono, Umiyati; Suprijatna, Edjeng
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.399 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian dilakukan untuk mengetahui level penggunaan Kayambang(Salvinia molesta) fermentasi dengan Aspergillus niger sebagai pakan alternatif sampai pada taraf optimal terhadap kualitas telur. Materi penelitian menggunakan 80 ekor itik petelur lokal (Pengging) umur 22-29 minggu dengan bobot 1457±124,8 gram. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan (0%, 15% Salvinia molesta non fermentasi, 15% Salvinia molesta fermentasi, 17,5% Salvinia molesta fermentasi, 20% Salvinia molesta fermentasi) dengan 4 ulangan yang terdiri dari 4 ekor setiap unit. Parameter yang diamati meliputi bobot telur, warna kuning telur dan indeks haugh. Hasil penelitian menunjukan bobot telur dan indeks haugh tidak berbeda nyata (P>0,05), sedangkan warna kuning telur berbeda nyata (P<0,05). Pemanfaatan Salvinia molestafermentasi sampai 20% tidak mempengaruhi bobot telur dan indeks haugh tetapi dapat meningkatkan kualitas kuning telur menjadi lebih baik.Kata kunci : Salvinia molesta; Aspergillus niger; Kualitas fisik telur. ABSTRACT This research is conducted to determinethe optimallevel of usage in Kayambang (Salvinia molesta) fermentation with Aspergillus niger as an alternative feed to the physical quality of the duck eggs.The materials are using 80 local laying ducks (Pengging) aged 22-29 weeks with a  weight 1.457±124.8 grams. This research is composed by using Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments (0%, 15% non-fermented Salvinia molesta, 15% fermented Salvinia molesta, 17.5% fermented Salvinia molesta, 20% fermented Salvinia molesta) and 4 replications consisting of 4 ducks in each pen. The observed parameters are including egg weight, yolk color and Haugh index. The results showed that the egg weight and Haugh index were not significantly different (P>0.05), while the yolk color were significantly different (P<0.05). It was concluded that the Salvinia molesta which is fermented up to 20% did not affect the egg weight and Haugh index however it can improve the quality of the yolk to be better.Keywords: Salvinia molesta; Aspergillus niger;physicalquality of egg.
TAMPILAN PRODUKSI, BERAT JENIS, KANDUNGAN LAKTOSA DAN AIR PADA SUSU SAPI PERAH AKIBAT INTERVAL PEMERAHAN YANG BERBEDA Vidyanto, Tri; Sudjatmogo, Sudjatmogo; Sayuthi, Suranto Moch
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.989 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh interval pemerahan berbeda pada peningkatan produksi, berat jenis, laktosa, dan air pada susu. Materi yang digunakan adalah 16 ekor sapi perah FH terdiri atas bulan laktasi 4 dan 5 serta periode laktasi 2 dan 3. Bobot badan rata-rata 373,27±27,32 kg (CV 7,32%) dan produksi susu rata-rata 12,50±0,06 liter (CV 0,46%). Rancangan percobaan yang digunakan adalahCrossover Design. Perlakuan yang dicobakan adalah T1 (interval pemerahan 12:12 jam) dan T2 (interval pemerahan 16:8 jam). Parameter yang diamati meliputi produksi, beratjenis, laktosa, dan airpada susu. Data dianalisis menggunakan uji F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata (P<0,05) antara interval pemerahan (T1 vs T2) pada semua parameter yang diamati, yaitu produksi susu masing-masing 13,33 dan 12,30 kilogram/ekor/hari, berat jenis susu masing-masing 1,028 dan 1,026 g/ml, kandungan laktosa masing-masing 0,66 dan 0,58 kg/ekor/hari, air pada susu masing-masing 11,54 dan 10,72  kg/ekor/hari. Kesimpulan dari penelitian adalah sapi yang diperah dengan interval pemerahan 12:12 jam menghasilkan produksi susu lebih tinggi dibandingkan interval pemerahan 16:8 jam. Kata kunci: Sapi perah; interval pemerahan; produksi susu. ABSTRACT        This study was aimed at knowing the effect of milking interval on milk production, milk density, lactose yield, and water content in milk. The average of body weight and milk production were 373.27 ± 27.32 kg (CV 7.32%) and  12.50 ± 0.06 liters (CV 0.46%). The experimental design used was Crossover Design. The treatment was T1 (milking interval 12:12 hours) and T2 (milking interval 16:8 hours). The parameters observed were milk production, milk density, lactose yield, and water content ini milk. The data were analysed by F test. The results showed that there was an effect of milking interval (T1 vs T2) on all parameters observed, such as milk production was 13.33 and 12.30 kg/head/day, milk density was 1.028 and 1.026 g/ml, lactose yield was 1.80 and 1.56 kg/head/day and water content in milk was 11.54 and 10.72 kg/head/day, respectively. In conclusion, the milking interval 12:12 hours was better than 16:8 hours to increase the milk production. Keywords: Dairy cows; milking interval; milk production.
PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK SEBAGAI ADITIF PAKAN TERHADAP KADAR KOLESTEROL, HIGH DENSITY LIPOPROTEIN (HDL) DAN LOW DENSITY LIPOPROTEIN (LDL) DALAM DARAH AYAM KAMPUNG Suryo, Heinrich; Yudiarti, Turrini; Isroli, Isroli
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.097 KB)

Abstract

Probiotik adalah suplemen pakan mikrobia yang bermanfaat bagi ternak untuk menjaga keseimbangan mikrobia di dalam usus. Pemberian probiotik dapat menjaga keseimbangan komposisi mikrobia dalam saluran pencernaan ternak sehingga meningkatkan daya cerna bahan pakan dan menjaga kesehatan ternak. Tujuan penelitian ini adalah mengukur kadar kolesterol, HDL dan LDL darah ayam kampung yang diberi aditif pakan probiotik. Penelitian ini menggunakan Day Old Chick (DOC) ayam kampung sebanyak 200 ekor dengan bobot badan awal rata-rata 33,58 ± 0,8 gram, antikoagulen, EDTA, Vacuntainer, Centrifuge. Probiotik yang digunakan yaitu jenis kapang dan pakan gasal memiliki kandungan energi termetabolit 2750,000 kkal, protein kasar 20,900 %, lemak 6,260 %. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 5 ulangan, masing-masing unit percobaan 20 ekor. Perlakuan yang diterapkan pada penelitian ini adalah tanpa penambahan dosis probiotik (T0), dengan tambahan dosis probiotik 0,25 g probiotik / 100 g pakan (T1), 0,50 g probiotik / 100 g pakan (T2), 0,75 g probiotik / 100 g pakan (T3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan probiotik dalam pakan ayam kampung berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar HDL, LDL, dan Kolesterol. Rerata kadar HDL masing-masing perlakuan T0, T1, T2, dan T3 berturut-turut adalah 41,440; 45,920; 48,440 dan 50,400 mg/dl. Rerata kadar LDL masing-masing perlakuan T0, T1, T2 dan T3 berturut-turut adalah 78,089; 70,550; 45,677; dan 47,011 mg/dl. Rerata kadar Kolesterol masing-masing perlakuan T0, T1, T2 dan T3 berturut-turut adalah 163,529; 160,000; 132,941; dan 131,764 mg/dl. Simpulan penelitian adalah pemberian probiotik mampu meningkatkan kadar HDL, menurunkan kadar LDL dan Kolesterol darah ayam kampung. Hasil yang paling baik pada perlakuan taraf 0,75 g/100 g (T3).Kata kunci : Probiotik, ayam kampung, kolesterol, HDL, LDL.ABSTRACT Probiotic is a supllement feed mikrobia which beneficial for cattle to keep mikrobia balance in gut. Giving probiotic can keep the composition mikrobia in digestive tract of cattle to increase the power of gastrointestinal tract and keep healty of cattle. The aims of research was to measure the levels of cholesterol, HDL and LDL in blood of indigenous chicken with given as probiotics feed additive. This study used Day Old Chick (DOC) of 200 chicken with initial body weight of an average of 33.58 ± 0.8 grams, antikoagulen, EDTA, Vacuntainer, Centrifuge. Probiotics used which are the kind of mold. The composition of basal feed are metabolizable energy (ME) 2750 kcal, 20.9% crude protein, 6.260% fat. Experimental design used was completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments with 5 replicates, each experimental unit 20. The treatment was dose of probiotic T0 without probiotics addition, applied 0.25 g probiotic / 100 g (T1), 0.50 g probiotic / 100 (T2), 0.75 g probiotic / 100 g (T3). The results showed that addition of probiotics affected (P <0.05) to the levels of Cholesterol, HDL, LDL. The average HDL levels each treatment T0, T1, T2 and T3 were 41,440; 45,920; 48,440 and 50,440 mg/dl respectively. The average LDL levels each treatment T0, T1, T2 and T3 were 78,089; 70,550; 45,677; and 47,011 mg/dl respectively. The average Cholesterol levels each treatment T0, T1, T2 and T3 were 163,529; 160,000; 132,941; and 131,764 mg/dl respectively. The emelutions the addition of probiotics increased levels of HDL, decreased levels of LDL and cholesterol in indigenous chickens.Key words: probiotics, indigenous chicken, Cholesterol, HDL, LDL
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG JAHE MERAH (Zingiber officinale var. RUBRUM) DALAM RANSUM TERHADAP EFISIENSI PENGGUNAAN PROTEIN PADA AYAM KAMPUNG PERIODE PERTUMBUHAN (16 - 22 MINGGU) (The Effect of added Red Ginger Meal (Zingiber officinale var. RUBRUM) in the Irianto, Alfian Bagus; Atmomarsono, Umiyati; Suprijatna, Edjeng
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 1 (2014): Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.573 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung jahe merah dalam ransum terhadap efisiensi penggunaan protein ayam kampung periode pertumbuhan. Materi yang digunakan adalah ayam kampung betina umur 16 minggu, sebanyak 100 ekor dengan bobot badan rata-rata 1.202,96 ± 8,92 g ditempatkan dalam kandang battrey. Bahan pakan yang digunakan terdiri dari jagung giling, bekatul, tepung ikan, bungkil kedelai, white pollard, premiks dan tepung jahe merah. Pakan diberikan ad libitum. Ayam dikelompokkan menjadi 4 kelompok berdasarkan bobot badan, kelompok I (1.000-1.100), II (1.101-1.200), III (1.201-1.300), dan IV (1.301-1.400). Ada 20 unit percobaan dengan tiap unit berisi 5 ekor. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan 4 kelompok, yaitu perlakuan T0 = ransum perlakuan tanpa tepung jahe merah, T1 = ransum perlakuan dengan penambahan tepung jahe merah 0,25%, T2 = ransum perlakuan dengan penambahan tepung jahe merah 0,5%, T3 = ransum perlakuan dengan penambahan tepung jahe merah 0,75%, T4 = ransum perlakuan dengan penambahan tepung jahe merah 1%. Data yang diperoleh kemudian dianalisis ragam. Hasil penelitian setelah dianalisis ragam menunjukkan penambahan tepung jahe merah tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap rasio efisiensi penggunaan protein ayam kampung periode pertumbuhan.Kata kunci: ayam kampung; jahe merah; efisiensi penggunaan protein ABSTRACT This study was aimed to determined effect of red ginger meal on the protein efficiency utility of growth period native chicken’s diet. The material used in the study were female native chickens 16 weeks of age, a total of 100 chickens with an average body weight of 1.202,96 ± 8,92 g were placed in a battrey cage. There are 20 experimental units with each unit containing 5 chickens. Feedstuffs used in this study were corn, rice bran, fishmeal, soybean meal, white pollard, premix and red ginger meal. Given feed ad libitum. Chickens are classified into 4 block based on body weight, block I (1.000-1.100), II (1.101-1.200), III (1.201-1.300), dan IV (1.301-1.400). Experimental design used randomized block design (RDB) with 5 treatments and 4 groups; T0 = ration treatments without red ginger meal, T1 = ration treatments with red ginger meal 0,25%, T2 = ration treatments with red ginger meal 0,5%, T3 = ration treatments with red ginger meal 0,75%, T4 = ration treatments with red ginger meal 1%. The data obtained were analyzed using analysis of variance. The results after analysis of variance showed the addition of red ginger meal had no effect (P>0,05) in the protein efficiency of growth period native chickens diet.Key word: native chicken; red ginger; protein efficiency utility
PENGARUH METODE MARINASI DENGAN BAWANG PUTIH PADA DAGING ITIK TERHADAP pH, DAYA IKAT AIR, DAN TOTAL COLIFORM Nurohim, Nurohim; Nurwantoro, Nurwantoro; Sunarti, Dwi
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.513 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode marinasi dengan bawang putih pada daging itik dengan jus, crush dan blend. Materi yang digunakan penelitian ini yaitu 1 kg daging itik bagian dada dan bawang putih. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diterapkan yaitu daging itik tanpa perlakuan marinasi (T0), marinasi daging itik dengan 8% jus bawang putih dari berat daging itik (T1), marinasi daging itik dengan 8% crush bawang putih dari berat daging itik (T2), dan marinasi daging itik dengan blend bawang putih (crush ditambah air 10% dari berat daging itik) (T3). Variabel yang diamati adalah pH, daya ikat air, dan total coliform. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda duncan untuk mengetahui perlakuan yang terbaik. Hasil analisis ragam menunjukkan, bahwa marinasi daging itik pada bawang putih dengan metode yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pH, daya ikat air, dan total coliform. Kesimpulan dari penelitian ini daging itik yang dimarinasi dengan blend bawang putih dapat menghasilkan pH dan daya ikat air paling baik. Namun untuk kepentingan keamanan pangan menggunakan jus bawang putih dapat menghasilkan coliform yang rendah pada daging itik.Kata kunci : bawang putih, daging itik, pH, daya ikat air, dan total coliform.ABSTRACT This experiment was conducted to study the effect of the marinated method by garlic in the form of juice, crush and blend in duck meat. The material used in this experiment was 1 kg of chest duck meat and garlic. Completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications was selected in this method. Treatment were non marinated duck meat (T0), marinated duck meat with garlic juices 8% of the duck meat weight (T1), marinated duck meat with garlic crush 8% of the duck meat weight (T2), and marinated duck meat with a blend of garlic (crush plus 10% was of based on duck meat weight) (T3). The variables measured were pH, DIA, and total coliform. Data were analyzed by analysis of variable at the level of 5%, followed by Duncan's test to determine the best treatments. The results of the analysis of showed, that different marinated method demonstrated significant result (P <0.05). Duncan’s test ikrold that the best treatment blend garlic marinated method demonstrated in pH and water holding capacity, while in the coliform performend juice garlic marinated method was the best. However, due to food safety concern it can be conclused that juice garlic method was the best to marinated duck meat.Key words : garlic, duck meat, pH, water holding capacity, and total coliform.