cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
UJI PROKSIMAT PAKAN CECERAN PADA INDUSTRI PAKAN YANG DIFERMENTASI DENGAN STARFUNG (Proximate Analysis of Scattered Feed on Feed Industries Fermented by Starfung) Soviyani, Navi; Hadi Eko Prasetiyono, Bambang Waluyo; Pujaningsih, Retno Iswarin
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.599 KB)

Abstract

ABSTRAK Pakan ceceran merupakan pakan yang berasal dari industri pakan yang tercecer selama proses pengolahan pakan berlangsung. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi komposisi proksimat pakan ceceran yang difermentasi dengan penambahan starter Starfung level berbeda. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah pakan ceceran, starter Starfung, aquadest. Alat yang digunakan adalah nampan, pengaduk, plastik, termometer, oven pengering, serta berbagai perlengkapan dalam analisis proksimat. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah fermentasi dengan penambahan starter Starfung level berbeda sebagai berikut: T0 = pakan ceceran + starter Starfung 0%, T1 = pakan ceceran + starter Starfung 1%, T2 = pakan ceceran + starter Starfung 2% dan T3 = pakan ceceran + starter Starfung 3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan dalam penambahan Starfung level berbeda terhadap bahan kering, abu, lemak kasar, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen, tetapi berpengaruh nyata pada kandungan protein kasar. Perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan fermentasi pakan ceceran dengan penambahan starter Starfung pada level 2%. Kata kunci: pakan ceceran; Starfung; fermentasi; uji proksimat  ABSTRACT Scattered feed is derived from the feed industries that scattered during the feed processing take place. The objective of this research was evaluate the fermentation effect from many different level of starfung on it’s nutrition contents. The material used on this research were scattered feed from collectors, Starfung, aquadest, tray, stirer, oven and various equipments in proximate analysis. Research was done in completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 4 replications. The treatments were: T0 = scattered feed with 0% level of Starfung addition, T1 = fermented scattered feed with 1% level of Starfung addition, T2 = fermented scattered feed with 2% level of Starfung addition and T3 = fermented scattered feed with 3% level of Starfung addition. Result of the research showed that there was no significantly difference (p>0.05) on many different level of Starfung addition in dry matter, ash, extract ether, crude fiber and nitrogen-free extract contents, but the treatments showed significantly difference on crude protein (p<0.05). The best treatment is fermented scattered feed by 2% level of “starfung” addition. Key words: scattered feed; Starfung; proximate analysis 
Pengaruh Pemeraman Ransum dengan Sari Daun Pepaya terhadap Kecernaan Lemak dan Energi Metabolis Ayam Broiler Kiha, Amelia Florida; Murningsih, Wisnu; Tristiarti, Tristiarti
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.071 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemeraman ransum dengansari daun pepaya konsentrasi 30% pada volume berbeda terhadap kecernaanlemak dan energi metabolis pada ayam broiler. Penelitian ini menggunakan 160ekor ayam broiler unsex strain Lohmann umur satu minggu dengan bobot badanrata-rata 134,67±2,03 g. Bahan penyusun ransum terdiri dari jagung kuning,bungkil kedelai, bungkil kelapa, dedak halus, meat bone meal, poultry meat meal,tepung bulu, dan mineral mix. Rancangan percobaan yang digunakan adalahRancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuanpenelitian yaitu T0 (ransum kontrol), T1 (ransum kontrol yang diperam denganSDP 30% sebanyak 300 cc/kg), T2 (ransum kontrol yang diperam dengan SDP30% sebanyak 600 cc/kg) dan T3 (ransum kontrol yang diperam dengan SDP 30%sebanyak 900 cc/kg). Parameter yang diukur adalah konsumsi ransum,pertambahan bobot badan, kecernaan lemak, dan energi metabolis murni. Hasilpenelitian menunjukkan ada pengaruh perlakuan yang nyata (p<0,05) terhadapkonsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan nilai energi metabolis murniransum namun tidak nyata (p>0,05) terhadap kecernaan lemak. Berdasarkan hasilpenelitian, dapat disimpulkan bahwa pemeraman ransum dengan sari daun pepaya30% pada berbagai volume tidak dapat meningkatkan kecernaan lemak namunmampu meningkatkan energi metabolis murni pada volume sari daun pepaya 900ml/kg ransum.Kata kunci: ayam broiler, sari daun pepaya, kecernaan lemak, energi metabolis
PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN PADA PEMBATASAN PAKAN TERHADAP BOBOT AKHIR, LEMAK ABDOMINAL, DAN KADAR LEMAK HATI AYAM BROILER Hasan, Nur Fuad; Atmomarsono, Umiyati; Suprijatna, Edjeng
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.152 KB)

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to investigate the effect of different feeding frequency on restriction feeding on final weight, abdominal fat and liver fat content of broiler chickens. The material used in this study 200 DOC bird broilers Ross unsex with initial body weight 46.01 ± 4.88 g averages. The bird was feeding by comersial feed with a protein content of 22.69% and metabolizable energy 2935 kcal / kg. The research used completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications were arrange 20 experimental units, each unit consists of 10 chickens. Feed give ad libitum in 1-7 days of ages. After that feed restriction (75% standard) with frequencies of administration at the age of 8-21 days with treatment 4 times at 06.00, 10.00, 14.00 and 18.00, 3 times at 06.00, 14.00 and 18.00, two feedings given at 06.00 and 14.00, then given ad libitum feeding at the age of 22-35 days. The results showed that the effect of different feeding frequency on feed restriction was not significantly different (P> 0.05) of the final weight, abdominal fat and liver fat. The results of the average final weight respectively T0, T1, T2 and T3 at 1825.80; 1812.40; 1770.60; 1777.80 g. The results of abdominal fat average 1.34; 1.46; 1.50; 1.27%. The results of the average liver fat 1.54; 1.80; 1.83; 1.88%. In conclusion, the treatment of feed restriction 75% of the standard and different frequency of 2x, 3x, 4x did not significantly affect the final weight and liver fat content but the influence on levels of abdominal fat.Key words: Final body weight, abdominal fat, liver fatABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai frekuensi pemberian pakan pada pembatasan pakan terhadap bobot akhir, lemak abdominal, dan kadar lemak hati ayam broiler. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam broiler unsex dengan strain Ross sejumlah 200 ekor dengan bobot badan awal rata-rata 46,01±4,88 gram. Pakan yang digunakan adalah ransum komersial dengan kandungan protein 22,69% dan energi metabolis 2.935 kkal/kg. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan sehingga ada 20 unit percobaan, setiap unit terdiri dari 10 ekor ayam. Pakan diberikan ad libitum pada umur 1-7 hari. Setelah itu dilakukan pembatasan pakan (75% standar) dengan berbagai frekuensi pemberian pada umur 8-21 hari dengan perlakuan 4 kali pemberian pukul 06.00, 10.00, 14.00 dan 18.00, 3 kali pemberian pukul 06.00, 14.00 dan 18.00, 2 kali pemberian diberikan pukul 06.00 dan 14.00, selanjutnya pakan diberikan ad libitum pada umur 22-35 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh berbagai frekuensi pemberian pakan pada pembatasan pakan tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap bobot akhir, lemak abdominal, dan lemak hati. Hasil rataan bobot akhir secara berturut-turut T0, T1, T2 dan T3 sebesar 1.825,80; 1.812,40; 1.770,60; 1.777,80 g. Hasil rataan lemak abdominal 1,34; 1,46; 1,50; 1,27 %. Hasil rataan lemak hati 1,54; 1,80; 1,83; 1,88 %. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perlakuan pembatasan pakan 75% dari standar dan frekuensi pemberian yang berbeda yaitu 2x, 3x, 4x tidak berpengaruh nyata terhadap bobot akhir dan kadar lemak hati tetapi memberikan pengaruh terhadap kadar lemak abdominal.Kata kunci : Ayam bloiler, bobot akhir, lemak abdominal, kadar lemak hati
TAMPILAN LEMAK DAN SOLID NON FAT PADA SUSU SAPI PERAH AKIBAT ASUPAN NEUTRAL DETERGENT FIBER YANG BERBEDA (The Display of Fats and Solid non Fat of Dairy Cows Aaffected by Neutral Detergent Fiber Intake of Different Rations) Suhendra, Danes; Suprayogi, Teguh Hari; Sudjatmogo, Sudjatmogo
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 3 (2014): Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.389 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan Neutral Detergent Fiber (NDF) ransum yang optimal untuk dapat memperbaiki tampilan lemak susu dan Solid Non Fat (SNF) susu sapi perah. Penelitian ini telah dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Daerah Pembibitan Ternak Mulyorejo Desa Barukan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang dan Koperasi Banyu Aji Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang pada tanggal 29 Juni hingga 31 Juli 2014. Ternak yang digunakan sebagai materi percobaan adalah sapi perah FH 12 ekor yang terdiri dari bulan laktasi II dan III dengan pendugaan bobot badan rata-rata 408,5 ± 30,86 kg ( Coefisien Variance (CV) = 10, 68%) dan produksi susu rata-rata 9,3 ± 1,01 liter (CV=14,33%). Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan pakan T0 (kandungan NDF 61%), T1 (kandungan NDF 63%), dan T2 (kandungan NDF 64%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar lemak susu T1 (3,51%) berbeda nyata (P<0,05) dengan T0 (3,28%), namun tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan T2 (3,45%). Kadar SNF  T0 (7,31%) berbeda nyata (P<0,05) lebih rendah daripada T1 (7,83%) dan T2 (7,75%). Dapat disimpulkan bahwa peningkatan NDF hingga 63% dengan cara  penambahan kuantitas hijauan  dalam ransum sapi perah dapat meningkatkan SNF dan kadar lemak susu.Kata Kunci : Sapi perah; NDF; lemak susu; Solid Non Fat ABSTRACT This study was aimed to assess the optimal ration of Neutral Detergent Fiber (NDF) content to improve the performance of milk fat and Solid Non Fat (SNF) milk of dairy cows. This research was conducted at the Regional Operational Unit Mulyorejo, Livestock Breeding Barukan village, Tengaran Sub District of Semarang Regency and Banyu Aji Cooperative, Sub District of Getasan, Semarang Regency from June 29 to  July 31, 2014. Animal used as experimental materials were 12 Friesien Holstein dairy cows in second and third months of lactation with estimated body weight averaged at 408.5 ± 30.86 kg (Coefisien Variance (CV) = 10.68%) and milk production averaged of 9.3 ± 1.01 liters (CV = 14.33%). The experimental design used in this study was a completely randomized design for three treatments, i.e. T0 (NDF content of 61%), T1 (NDF content of 63%), and T2 (NDF content of 64%). The results showed that milk fat T1 (3.28%) affected with T0 (3.51%), but not affected (P>0.05) with T2 (3.45%). SNF content of T0 (7.31%) affected (P<0.05) less than T1 (7.83%) and T2 (7.75%). This study concluded that increasing NDF content to 63% in feed can improve SNF and milk fat content.Keywords: Dairy cow; NDF; milk fat; solid non fat
PENGARUH PENAMBAHAN SARI JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN PROTEIN KASAR DAN RETENSI NITROGEN PADA ITIK MAGELANG JANTAN Maghfiroh, Kholisotul; Mangisah, Istna; Ismadi, Vitus Dwi Yunianto Budi
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.67 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang pengaruh penambahan sari jeruk nipis dalam ransum itik Magelang jantan pada level yang berbeda terhadap kecernaan protein kasar dan retensi nitrogen. Materi yang digunakan adalah 100 ekor itik magelang umur 5 minggu dengan bobot badan rata-rata 460 ± 4,51 g. Bahan penyusun ransum yang digunakan terdiri dari jagung, bekatul, nasi aking, tepung ikan, bungkil kedelai dan premix. Ransum penelitian disusun dengan kandungan protein 18,25 % dan energi metabolis 2902 kkal/kg. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan dan setiap unit percobaan terdiri 5 ekor itik. Perlakuan penelitian yaitu T0 (ransum tanpa penambahan sari jeruk nipis), T1 (ransum + 1,5 ml sari jeruk nipis), T2 (ransum + 3 ml sari jeruk nipis) dan T3 (ransum + 4,5 ml sari jeruk nipis). Parameter yang diukur adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, kecernaan protein dan retensi nitrogen. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan penambahan sari jeruk nipis tidak berbeda nyata (non signifikan) terhadap konsumsi ransum, kecernaan protein, retensi nitrogen dan pertambahan bobot badan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan sari jeruk level 1,5 ml, 3 ml, dan 4,5 ml dalam ransum itik Magelang jantan tidak meningkatkan konsumsi ransum, kecernaan protein, retensi nitrogen dan pertambahan bobot badan.Kata kunci : Jeruk nipis (Citrus aurantifolia), kecernaan protein kasar, retensi nitrogen, dan itik Magelang jantan.ABSTRACTThe aim of the research is to assess the effect of lime (Citrus aurantifolia) addition in the diet on protein digestibility and nitrogen retention in male Magelang ducks. The material used is 100 ducks Magelang age of 5 weeks with an average body weight of 460 ± 4.51 g. Constituent materials used ration consisting of corn, bran, parched rice, fish meal, soybean meal and premix. Ration of research compiled by the protein content of 18.25% and metabolic energy 2902 kcal / kg. The research design used was completely randomized design with four for the treatment and five replications. Treatment research is T0 (ration without the addition of lime), T1 (ration + 1.5 ml of lime), T2 (ration + 3 ml of lime) and T3 (4.5 ml + ration of lime). Parameters measured were ration consumption, body weight gain, protein digestibility and nitrogen retention. The results showed the addition of lime treatments non significant to ration consumption, protein digestibility, nitrogen retention and body weight gain. Based on the research results can be concluded that the addition of 1.5 ml of lime level, 3 ml, and 4.5 ml in Magelang male duck ration did not increase the ration intake, protein digestibility, nitrogen retention and body weight gain.Keyword: Lime (Citrus aurantifolia), protein digestibility, nitrogen retention and male Magelang ducks
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG TEMUKUNCI(Boesenbergia Pandurata ROXB.) DALAM RANSUM TERHADAP BOBOTHIDUP, KADAR SGOT SGPT DAN KONDISI HATI AYAM BROILER (The Effect of Fingerroot Flour Addition (Boesenbergia Pandurata ROXB.) In The Ration on LiveWeight, SGOT SG Abdullah, Baskoro; Kusumanti, Endang; Atmomarsono, Umiyati
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.835 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuanmengetahui pengaruh penambahan tepung temukunci (Boesenbergia pandurata ROXB.) dapat meningkatkan bobot hidup dan  menjadikan kadar SGOT dan SGPT sampai batas normal, selain itu tidak mengganggu fungsi hati. Penelitian dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2013 di kandang milikLaboratorium Produksi Ternak Unggas, analisisransum di Laboratoruim Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah ayam broiler sebanyak 120 ekor (unsex) dengan bobot badan awal perlakuan umur 8 hari sebesar(137,5 g± 16,09) dan kandang sistem litter saat pemeliharaan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, setiap unit percobaan terdiri dari 6 ekor ayam broiler. Parameter yang diamati adalah bobot hidup, persentase bobot hati, kadar SGOT dan SGPT dalam darah. Data dianalisis ragam dengan uji F probabilitas 5%, dilanjutkan Uji wilayah ganda Duncan apabila analisis ragam menunjukkan pengaruh perlakuan nyata.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan temukunci tidak berpengaruh nyata terhadap bobot hidup, persentase bobot hati,  kadar SGOT dan SGPT dalam darah (P>0,05).Kesimpulan penelitian adalah pemberian tepung temu kunci sampai 2% dalam ransum ayam broiler tidak dapat meningkatkan bobot hidup, mempengaruhi kondisi hati dan kadar SGOT SGPT dalam darah ayam broiler. Kata kunci : ayam broiler; temu kunci; bobot hidup; SGOT; SGPT. ABSTRACT The study aims to determine the effect of fingerroot flour addition (Boesenbergia pandu rata ROXB.) in live weight and SGOT and SGPT levels, but it does not affect the function of the liver. The experiment was conducted from November to December 2013 in the poultry house of Faculity Animal and Agricultural Sciences and analysis of rations was conducted in Nutrition Feed Laboratory. One hundred and twenty broiler (unsexed) with initial live weight of the age of 8 days (137.5 g ± 16.09 were used as material in this study and litter system in breeding is used. The study used a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 4 replications, each experimental unit consisted of six broiler. Parameters measured were live weight, liver weight percentage, bloodSGOT andSGPT in blood. Data was analyzed by Anova with F test probability of 5%, followed by Duncan's multiple range test if the analysis of variance showed a real treatment effect. The results showed that the addition of fingerroot does not significantly affect live weight, liver weight percentage, SGOT and SGPT(P> 0.05). Conclusion of the study is fingerroot flour additition to 2% in broiler ration does not increase live weight, neither  the liver condition, SGOT and SGPT of broiler. Key words : broiler;fingerroot;live weight; SGOT; SGPT.
TINGKAH LAKU MAKAN DOMBA LOKAL JANTAN YANG DIBERI PAKAN PADA WAKTU SIANG DAN MALAM HARI (Eating Behaviour of Local Ram are Given Feed on Day and Night) Muhammad, Bayu; Sukarno, Sularno Darto; Purnomoadi, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 4 (2014): Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.403 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui tingkah laku makan  dan ruminasi  domba  lokal  jantan  yang diberi pakan dengan waktu berbeda. Materi yang digunakan adalah 12 ekor domba lokal jantan berumur 12-18 bulan, bobot badan rata–rata 20,65 ± 1,88 kg (CV =  9,14%). Pakan  yang digunakan berupa complete feed  dengan kandungan  total digestible  nutrients  (TDN)  69%  dan protein kasar  (PK)  16,64%. Penelitian menggunakan  rancangan acak lengkap, dengan 3 perlakuan 4 ulangan. Perlakuan tersebut adalah T1 pakan diberikan pada waktu siang hari, pukul  06.00-18.00 WIB, T2 pada waktu malam hari, pukul 18.00-06.00 dan T3 pada waktu siang-malam  (pemberian 24 jam). Hasil penelitian menunjukkan  bahwa  konsumsi BK total seluruh perlakuan  rata-rata sebesar 1.073,00 g/hari,  tidak berbeda nyata (P>0,05). Pertambahan bobot badan harian  rata-rata yaitu 75,00  g,  tidak berbeda nyata (P>0,05).  Rata-rata  kunyah makan, ruminasi dan kunyah total  menunjukkan  tidak berbeda nyata (P>0,05). Rata-rata  kunyah makan dan ruminasi sebesar 3.739,50 dan 5.808,12  kali/hari.  Kesimpulan dari penelitian ini adalah perbedaan  waktu  pemberian pakan tidak berpengaruh terhadap tingkah laku makan domba lokal jantan.Kata kunci: domba lokal jantan; tingkah laku makan; dan ruminasi ABSTRACT This study was aimed  to determine  the effect of feeding time on behavior of  eating and rumination  on Local Ram. The material used was 12 Local Ram aged of 12-18 months, mith average body weight of 20.65±1.88 kg (CV = 9.14%). Complete feed was used with  69%  TDN and 16.64%  CP. The design of experiment used was Completely Randomized Design (CRD) for 3 treatments and 4 replications. Tratments used were T1’s feed given during the day at 06.00 AM-06.00 PM, T2’s feed given during the night at 06.00 PM-06.00 AM and T3’s feed given during all day (24 hours feed given). The results showed total consumption DM intake of all treatments 1.073 g/day showed there was no significant different (P > 0.05), as well as average daily gain which was averaged  at 75.00 g for all treatments. The average of chewing activity  for   eating and  rumination and total number of chewing showed that there was no significant different (P>0.05), being 3.739.50 and  5.808.12 times  per  day  for  eating and rumination,  respectively. Conclusion of the the feeding time’s differentiation was  not influencing  eating behavior in local ram.Keywords : local ram; eating and rumination behavior
KUALITAS CHIP BERBAHAN DASAR ONGGOK DAN EKSTRAK LIMBAH SAYUR FERMENTASI DILIHAT DARI BAKTERI ASAM LAKTAT DAN BAKTERI GRAM Mahfudi, Sholikhul; Sulistiyanto, Bambang
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.694 KB)

Abstract

Onggok adalah bahan pakan lokal umum yang memiliki potensi sebagai sumber karbohidrat untuk pakan unggas. Onggok dapat ditingkatkan menjadi pakan fungsional bahkan jika diperkaya dengan bakteri fungsional seperti bakteri asam laktat (BAL). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kualitas mikrobiologi chip onggok yang terbuat dari onggok yang ditambahkan dengan ekstrak limbah sayur fermentasi (ELSF) dengan melihat kandungan bakteri asam laktat dan bakteri Gram. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah onggok , ELSF yang dibuat dengan metode Sulistiyanto dan Nugroho. Percobaan ini dilakukan dengan disain acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah tingkat perbedaan ELSF dengan cara 0% (T0), 40% (T1), 60% (T2)%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ELSF dalam membuat chip secara signifikan mempengaruhi jumlah total bakteri dalam chip (P <0,05), namun, tidak ada efek signifikan diberikan terhadap keberadaan bakteri gram. Di antara perlakuan (TO, T1 dan T2), yang masing-masing kandungan BAL 1,2 X102, 1,0 x103 dan 2,3 x104. Menganggap ke skor kehadiran Gram + / - bakteri, antar perlakuan masing-masing 1,00; 1,70 dan 1,90. Hal ini dianggap bahwa produk chip mengandung cukup bakteri gram postive yaitu BAL, tetapi bakteri gram negatif masih ditemukan.Kata kunci: onggok, ELSF, BAL, bakteri Gram ABSTRACT Cassava meal (onggok) is a common local feedstuff that has potential as a source of carbohydrates for the poultry feed. It can be improved to be functional feed even if enriched with functional bacteria such as lactic acid bacteria (LABs). This study aimed to study microbiological quality of cassava chips made from cassava meal that added with the extract fermented vegetable wastes (EFVW) by obeserving the presence of LABs and Gram bacteria. The material used in this study is cassava meal (onggok), EFVW that made by method of Sulistiyanto and Nugroho. The Experiment was conducted by completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 5 replications. The treatment applied is the difference level of ELSF by means 0% (T0), 40% (T1), 60% (T2)%. The results showed that the addition of ELSF in making chips significantly affected of number of total LABs of chips (P <0.05) , however, there was not significantly effect provided to the existence of gram bacteria. Among the treatments (TO, T1 and T2), the Total LAB respectively 1.2 X102; 1.0 x103 and 2.3 x104. Regard to the score the presence of Gram +/- bacteria, among the treatments respectively 1.00; 1.70 and 1.90. It is considered that the product of chip had enough contained the gram postive bacteria i.e. the LAB , but the gram negative bacteria was still found.Key word : cassava meal; EFVW; LABs; Gram bacteria
HUBUNGAN ANTARA UKURAN-UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT BADAN KAMBING JAWARANDU JANTAN BERBAGAI KELOMPOK UMUR DI KABUPATEN BLORA (The Correlation Between Body Measurements With Body Weight of Male Jawarandu Goats on Various Age Groups at Blora Regency) Mardhianna, Irma; Sukarno, Sularno Darto; Dilaga, I Wayan Sukarya
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.135 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan mengetahui korelasi atau hubungan antara bobot badan dengan ukuran-ukuran tubuh kambing Jawarandu jantan pada berbagai kelompok umur di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Materi berupa125 ekor kambing Jawarandu jantan yang dibedakan menjadi 5 kelompok umur (>0-3 bulan; >3-6 bulan; >6-12 bulan; >12-18 atau poel 1; >18-30 bulan atau poel 2) masing-masing berjumlah 25 ekor. Metode penelitian survey dan pemilihan lokasi secarapurposive sampling. Parameter tubuh yang diukur panjang badan (PB), lingkar dada (LD), lebar dada (LbD), dalam dada (DD), tinggi pundak (TP), lebar pinggul (LPi), tinggi pinggul (TPi) dan bobot badan (BB). Data yang diperoleh diolah untuk mendapatkan koefisien korelasi (r), koefisien determinasi (R2) dan persamaan regresi sederhana.Hasil menunjukkan rata-rata bobot badan dan semua variabel ukuran tubuh pada semua kelompok umur berbeda sangat nyata (P<0,01). Umur >0-3 bulan sampai umur >6-12 bulan pertumbuhan bobot badan dan panjang badan nyata (P<0,05), umur >12-18 bulan atau poel 1 dan >18-30 bulan atau poel 2 pertumbuhan tidak berbeda nyata (P>0,05).  Lingkar dada, lebar dada, dalam dada, dan lebar pinggul mempunyai nilai yang nyata dari umur >0-3 bulan sampai umur >18-30 bulan atau poel 2 (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian yaitu variabel yang mempunyai nilai korelasi paling kuat dalam pendugaan bobot badan adalah panjang badan dan lingkar dada.Kata kunci:   Korelasi;  Bobot badan;  Ukuran-ukuran tubuh Kambing Jawarandu Jantan ABSTRACT The research aimed toanalyze the correlation or the relationship between body weight and body measurements of male Jawarandu goats at various age groups at Blora, Central of Java. Total 125 male Jawarandu goats were measured and divided into five groups (25 heads of each group) of age i.e. >0-3 months; >3-6 months; >6-12 months; >12-18 or Poel 1; >18-30 months or Poel 2, respectively. The research was carried out based on survey methods and site selection using purposive sampling technique. Body size measured were body length (PB), chest circumference (LD), chest width (LbD), the chest depth (DD), shoulder height (TP),the hips width (LPi), hip height (TPi) and body weight (BB). The results showed that body weight and all body measurements in all age groups differ significantly (P<0.01), eventhoughthe body weight, shoulder height,body length and hip height had a similar growth pattern. At age group of >0-3 months to age of>6-12 months the body weight and body length grownsignificantly (P<0.05), whereas at age >12-18 months or Poel 1 and >18-30 months or Poel 2 the growth tended to remain (P>0.05). The chest circumference, chest width, the chest depth, and hips width had the same growth pattern namely increased from age >0-3 months to age of>18-30 months or Poel 2 (P<0.05). The conclusion of this research was body length and chest circumference was highly correlated to estimatethe body weight.Keywords: Correlations coefficient; Body weight; Body measurements; Male Jawarandu goat
SUBSTITUSI EKSTRAK AMPAS TEBU TERHADAP LAJU KEASAMAN DAN PRODUKSI ALKOHOL PADA PROSES PEMBUATAN BIOETHANOL BERBAHAN DASAR WHEY Fawaid, Muhammad Thoriqul; Al-baarri, Ahmad Ni'matullah; Legowo, Anang Muhammad
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.353 KB)

Abstract

This aim of this study was to determine the acidity and alcohol production that was expressed by pH from whey substituted with bagasse extract that was fermented with bread yeast (Saccharomyces cerevisiae). Experimental design used in the study was completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 4 replications. The whey was substituted with three level of bagasse extract: 10%, 20%, 30% for T1, T2, T3. The acidity was expressed as pH value of the fermentation solution. As a result,the substitution of whey using bagasse extract up to 30% slightly decreased pH value from 4.81 until 4.60 and alcohol from 0,21 until 0,41. This result suggested that the substitution of bagasse extract until 30% would not affected the acidity environment in fermentation solution.Keyword :whey;baggase extract;Saccharomyces cerevisiae; acidity;alcoholABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai pH dan produksi alkohol pada proses fermentasi whey yang disubstitusi ekstrak ampas tebu dengan bantuan ragi roti (Saccharomyces cerevisiae). Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Berbagai tingkat substitusi whey dengan ekstrak ampas tebu, yaitu 10%, 20%, 30% telah dilakukan sebagai T1, T2, dan T3. Nilai pH dan produksi alkohol diuji pada jam ke-60. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi whey dengan ekstrak tebu, tidak mempunyai pengaruh yang nyata terhadap penurunan pH dan produksi alkohol. Substitusi ekstrak ampas tebu dengan whey dari 10 sampai dengan 30% telah merubah nilai pH dari 4,81 menjadi 4,60 dan alkohol dari 0,21 menjadi 0,41. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa penambahan substrat berupa ekstrak ampas tebu kedalam proses fermentasi whey dalam pembuatan bioetanol, tidak banyak memberikan pengaruh pada nilai pH dan produksi alkohol.Kata kunci : whey;ekstrak ampas tebu;Saccharomyces cerevisiae;pH;alkohol