cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
PERBEDAAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN PISANG RAJA DAN PISANG AMBON TERHADAP INDEKS KELELAHAN OTOT ANAEROBIK PADA REMAJA DI SEKOLAH SEPAK BOLA Lone, Vicka Frantya; Ardiaria, Martha; Nissa, Choirun
Journal of Nutrition College Vol 6, No 4 (2017): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.232 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v6i4.18787

Abstract

Background : Anaerobic muscle fatigue occurs due to accumulation of lactic acid, causing soreness and reduced muscle contraction. Raja banana (Musa paradisiaca var. Sapientum L.) and Ambon banana (Musa paradisiaca var. Sapientum (L.) Kunt.) are high in carbohydrate and potassium which are involved in increasing blood glucose, thus consuming bananas before exercising may help prevent muscle fatigue.This study aimed to determine the effectiveness of Raja and Ambon bananas on anaerobic. muscle fatigue index of adolescents in football school.Methods :This study was a quasi-experimentusingthe posttest-only with control group design.Thirty-nine male adolescents aged 15-18 years at Terang Bangsa and Satria Kencana Serasi football schools were recruited and classified into 3 groups: control (240 ml of mineral water), group I (150 g Raja banana fruit), and group II (150 g of Ambon banana fruit). Anaerobic muscle fatigue was measured by Running-base Anaerobic Sprint Test (RAST) to calculate Anaerobic Fatigue (AF) value. Data were analyzed by One way ANOVA and ANCOVA test.Results :The average AF index in control group (11.53±2.20) was significantly different with group I (4.30±0.80; p=0.001), and group I with group II (9.76 ± 2.34; p=0,001). However not significantly different between the averageAF Index of control group withgroup II.Conclusion :There is a significant difference in the effectiveness of Raja and Ambon banana on reducing anaerobic muscle fatigue for adolescents in football school. Raja banana demonstratedbetter effects on muscle fatiguein comparison withAmbon banana.
HUBUNGAN ASUPAN ENERGI, PROTEIN, ZAT BESI DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR HEMOGLOBIN TENAGA KERJA WANITA DI PABRIK PENGOLAHAN RAMBUT PT. WON JIN INDONESIA Mantika, Anggi Irna; Mulyati, Tatik
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.31 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6890

Abstract

Latar Belakang: Anemia merupakan masalah kesehatan utama berkaitan dengan gizi yang terjadi pada tenaga kerja wanita. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya anemia pada tenaga kerja wanita adalah asupan gizi (energi, protein dan zat besi) yang kurang, menstruasi setiap bulan, dan aktifitas fisik yang berat.Dinas Transmigrasi dan Sosial Kabupaten Purbalingga pada tahun 2014 menyatakan dari 43.628 tenaga kerja 72,5% merupakan wanita. PT. Won Jin Indonesia merupakan pabrik yang berada di Kabupaten Purbalingga dengan jumlah tenaga kerja 260 orang,  89% merupakan tenaga kerja wanita. Data tenaga kerja yang tidak masuk karena sakit pada tiga bulan terahir yaitu bulanApril, Mei dan Juni 2014 sebanyak 405 tenaga kerja. Metode: Jenis penelitian observasional dengan desain cross sectional. Besar subjek yang digunakan adalah 74 orang yang diambil secara consecutive sampling. Kadar hemoglobin diukur dengan metode cyanmethemoglobin dengan alat spektofotometer dan secara semi otomatik menggunakan alat flawcytometri Asupan energi dan protein diperoleh melalui metode recall 24 jam yang dilakukan selama 3 hari, sedangkan asupan zat besi diperoleh melalui Food Frequency Semi Quantitative. Aktivitas fisik diperoleh melalui pengisian form aktivitas fisik. Analisis kenormalan data menggunakan uji Kolmogorov smirnov dan analisis hubungan menggunakan uji Spearman.Hasil: Asupan energi 85,1% terkategori baik, 50% memiliki asupan protein baik dan 62,2%  asupan zat besi baik. 52,7% aktivitas fisik aktif. Kadar hemoglobin pada subjek penelitian 87,8% terkategori normal (12-14gr/dl). Ada hubungan antara asupan energi (r=0,418), protein (r=0,611), dan zat besi (r=0,547) dengan kadar hemoglobin tenaga kerja wanita.Simpulan: Ada hubungan antara asupan energi, protein dan besi dengan kadar hemoglobin dan tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar hemoglobin.
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN MOTIVASI DENGAN KEPATUHAN KONSUMSI TABLET BESI FOLAT PADA IBU HAMIL Budiarni, Widya; Subagio, Hertanto Wahyu
Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.267 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v1i1.364

Abstract

Background: The benefit of giving free iron folic tablets to prevent iron deficiency anemia in pregnancy is often inhibited by the compliance of iron folic tablets consumption in pregnant women. Compliance is a behavior that can be influenced by many factors, such as knowledge, attitude and motivation. The purpose of this study is to determine association between knowledge, attitude, and motivation with compliance of iron folic tablets consumption in pregnant women. Methods: This is a cross sectional study, with 56 pregnant women as sample which are selected by consecutive sampling in Halmahera health center, Semarang. Data of compliancy on iron folic tablets consumption was measured by tablet calculation. Data of knowledge, attitude and motivation are taken from interviews using questionnaire. Bivariate analysis performed by Rank Spearman test. Results: This study showed 41,1% of subjects complied iron folic tablet consumption. The average compliance of iron folic tablet consumption in 10 days is 62.86%. Majority of pregnant women have a good knowledge (50%), good attitude (51.8%) and good motivation (57.1%). This study showed association between knowledge (r = 0.370, p = 0.005), attitude (r = 0.343, p = 0.010), and motivation (r = 0.616, p = 0.000) with compliance of iron folic tablets consumption. Conclusion: Motivation is the most dominant factor. The higher the motivation given  the more compliance the pregnant women of taking iron folic tablets consumption.
HUBUNGAN TOTAL ASUPAN SERAT, SERAT LARUT AIR (SOLUBLE), DAN SERAT TIDAK LARUT AIR (INSOLUBLE) DENGAN KEJADIAN SINDROM METABOLIK PADA REMAJA OBESITAS Hanifah, Nur Islami Dini; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 5, No 3 (2016): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.88 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i3.16385

Abstract

Latar Belakang: Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap masalah gizi dan kesehatan. Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi status obesitas pada remaja usia 13-15 tahun sebesar 2,5% dan pada remaja usia 16-18 tahun sebesar 1,6%. Keadaan obesitas pada usia tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya sindrom metabolik ketika usia dewasa. Faktor asupan makanan, seperti asupan serat, memiliki peran dan pengaruh terhadap obesitas dan kejadian sindrom metabolik.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain penelitian cross-sectional di SMA Negeri 15 Semarang. Subjek penelitian sebanyak 40 orang dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang berdasarkan kriteria inklusi, yaitu remaja berusia 15-18 tahun yang obesitas (IMT/U ≥ persentil ke-95), dan mengisi informed concent. Adapun kategori sindrom metabolik ditentukan berdasarkan kriteria NCEP-ATP III untuk remaja. Data total asupan serat, asupan serat larut air dan serat tidak larut air diperoleh melalui metode semi quantitative food frequency questionnaire (FFQ). Uji hubungan menggunakan uji Fisher.Hasil: Proporsi kejadian sindrom metabolik pada remaja obesitas di SMA Negeri 15 Semarang sebesar 47,5%. Sebesar 92,5% subjek penelitian kurang mengonsumsi serat total, 75% subjek kurang mengonsumsi serat larut air, dan 97,5% subjek kurang mengonsumsi serat tidak larut air. Tidak ada hubungan total asupan serat, asupan serat larut air dan serat tidak larut air dengan kejadian sindrom metabolik.Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara total asupan serat, asupan serat larut air dan serat tidak larut air dengan kejadian sindrom metabolik pada remaja obesitas.
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG TEMPE DAN PATI GARUT (Marantha arundinacea) TERMODIFIKASI TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS HIPERGLIKEMI Mustaghfiroh, Isvi Thuba; Probosari, Enny
Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.681 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i1.4534

Abstract

Latar Belakang: Hiperglikemi atau  peningkatan kadar glukosa darah melebihi batas normal (lebih dari 126 mg/dl untuk glukosa darah puasa) merupakan karakteristik yang timbul pada penderita diabetes melitus (DM).   Tempe dan pati resisten yang dihasilkan dari modifikasi umbi garut dengan autoclaving cooling cycling sebanyak 3 siklus diketahui memiliki efek hipoglisemik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian tepung tempe dan pati garut termodifikasi terhadap kadar glukosa darah.Metode: Jenis penelitian ini adalah true-experimental dengan desain pre and post randomized controlled group desain, menggunakan 24 ekor tikus Sprague dawley jantan berusia 3 bulan , dibagi menjadi 4 kelompok (K, P1, P2, P3) yang diinjeksi dengan 40 mg/kg BB STZ lalu dilanjutkan dengan  perlakuan pakan standar, pakan standar + PGT, pakan standar + tepung tempe, pakan standar+PGT + tepung tempe untuk kelompok K, P1, P2, P3 selama 14 hari. Kadar glukosa darah diperiksa menggunakan metode GOD-PAP. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji wilcoxon dan one-way ANOVA. Hasil: Tidak terjadi penurunan kadar glukosa darah yang signifikan (p<0,05) pada semua kelompok baik kontrol maupun perlakuan setelah 14 hari perlakuan. Uji Anova menunjukkan tidak ada beda ketiga kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol p=0,642. Simpulan: Pemberian tepung tempe dan pati garut termodifikasi tidak terbukti menurunkan kadar glukosa darah.
Asupan Energi Cemilan, Durasi dan Kualitas Tidur Pada Remaja Obesitas Dan Non Obesitas Agita, Viony Vira; Widyastuti, Nurmasari; Nissa, Choirun
Journal of Nutrition College Vol 7, No 3 (2018): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.05 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v7i3.22280

Abstract

Latar belakang: Asupan energi cemilan, durasi dan kualitas tidur merupakan salah satu faktor risiko terjadinya obesitas. Remaja obesitas biasa mengasup asupan energi cemilan berlebih, memiliki durasi tidur yang pendek, serta kualitas tidur yang buruk. Penelitian ini bertujuan  untuk  mengetahui apakah terdapat perbedaan asupan energi cemilan, durasi dan kualitas tidur pada remaja obesitas dan non obesitas usia 15-18 tahun.Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan desain cross sectional. Subjek sebanyak 25 orang masuk ke dalam kelompok obesitas dan 25 orang  merupakan kelompok  non obesitas. Semua subjek diwawancara menggunakan kuesioner skrining, indeks kualitas tidur pittsburgh, frekuensi makan semi kuantitatif, dan formulir singkat aktifitas fisik internasional. Analisis statistik menggunakan uji  independent t test, dan Mann Whitney.Hasil: Nilai perbedaan asupan energi cemilan (p= <0,001), durasi tidur (p=0,415), kualitas tidur (p=<0,001) pada kelompok obesitas dan non obesitas.Kesimpulan: Terdapat perbedaan asupan energi cemilan dan kualitas tidur pada kelompok obesitas dan non obesitas. Tidak terdapat perbedaan durasi tidur pada kelompok obesitas dan non obesitas.
PENGARUH PEMBERIAN YOGHURT SINBIOTIK TANPA LEMAK DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG GEMBILI (DIOSCOREA ESCULENTA) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL TIKUS HIPERKOLESTEROLEMIA Saputra, Surya; Margawati, Ani
Journal of Nutrition College Vol 4, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.468 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i2.10052

Abstract

Latar belakang: Hiperkolesterolemia merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler, yang menjadi penyebab utama kematian di dunia. Yoghurt merupakan susu yang difermentasi bakteri asam laktat (BAL) dan telah terbukti dapat menurunkan kolesterol. Penambahan prebiotik, seperti inulin dapat menunjang efek penurunan kolesterol pada yoghurt. Gembili (Dioscorea esculenta) merupakan bahan makanan tinggi inulin. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian yoghurt sinbiotik tanpa lemak dengan penambahan tepung gembili terhadap penurunan kolesterol total pada tikus hiperkolesterolemia.Metode: Penelitian eksperimental murni dengan pre-post test yang diterapkan pada 24 tikus Wistar jantan terinduksi hiperkolesterolemia yang dikelompokkan menggunakan sistem acak sederhana menjadi 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok intervensi. Subjek diberikan yoghurt sinbiotik tanpa lemak dengan penambahan tepung gembili sebanyak 2 ml, 3 ml, dan 4 ml selama 14 hari. Kadar kolesterol total ditentukan melalui metode CHOD-PAP.Hasil: Kelompok P1 menunjukkan penurunan kadar kolesterol total 11,28% (p=0.077), kelompok P2 mengalami penurunan kadarkolesterol total 12,16% (p=0.102), dan kelompok P3 mengalami penurunan kolesterol total 17,89% (p=0.002). Simpulan: Pemberian dosis yoghurt sinbiotik tanpa lemak dengan penambahan tepung gembili dengan dosis 4 ml/hari dalam waktu 2 minggu dapat menurunkan kadar kolesterol total darah tikus  hiperkolesterolemia secara signifikan (p<0.05).
PENGARUH PEMBERIAN JUS LIDAH BUAYA (ALOE VERA) TERHADAP KADAR KOLESTEROL LOW DENSITY LIPOPROTEIN (LDL) DAN HIGH DENSITY LIPOPROTEIN (HDL) Sianipar, Yulika; Isnawati, Muflihah
Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.324 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v1i1.740

Abstract

Latar Belakang: Dislipidemia merupakan salah satu faktor  risiko terjadinya penyakit jantung koroner. Lidah buaya (Aloe vera) mengandung beberapa bahan aktif  dapat menurunkan kolesterol dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus lidah buaya dengan dosis bertingkat terhadap kolesterol LDL dan kolesterol HDL pada wanita dislipidemia. Metode : Penelitian ini merupakan true experiment dengan  pre test - post test with control group design. Subjek penelitian adalah karyawati di Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah serta Balai Latihan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah yang diambil secara consecutive sampling, besar sampel adalah 43 orang yang dibagi secara acak dalam tiga kelompok. Kelompok kontrol tidak diberi lidah buaya, kelompok perlakuan 1 dan kelompok perlakuan 2 diberikan lidah buaya sebanyak 100 mg/hari dan 200 mg/hari yang diberikan dalam bentuk jus selama 14 hari. Kadar kolesterol LDL dan kadar kolesterol LDL diukur sebelum dan sesudah intervensi. Analisis kolesterol LDL dan kolestrol HDL menggunakan metode enzimatik. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji paired t-test dan anova pada derajat kemaknaan 5%. Hasil : Pada  pemberian jus Aloe vera 200 mg menyebabkan penurunan kadar kolesterol LDL dan meningkatkan kadar kolesterol HDL secara bermakna (p<0,05). Kadar kolesterol LDL menurun sebesar 20,36% dan kadar kolesterol HDL meningkat sebesar 18,87% setelah diberikan jus lidah buaya selama 14 hari. Pemberian jus Aloe vera 100 mg dapat menurunkan kadar kolesterol LDL tetapi juga mengalami penurunan kadar kelosterol HDL tetapi tidak bermakan (P>0,05) . Simpulan: Pemberian jus lidah buaya 200 mg/hari dapat menurunkan kadar kolesterol LDL dan meningkatkan kolesterol HDL secara bermakna.
SUBSTITUSI ISOLAT PROTEIN KEDELAI PADA DAGING ANALOG KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) Utama, Affini Nurratri; Anjani, Gemala
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.026 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16451

Abstract

Latar Belakang: Penyakit kardiovaskuler merupakan salah satu penyebab utama kematian secara global. Pengolahan kacang merah menjadi daging analog diharapkan dapat menjadi alternatif makanan sehat. Selain itu, substitusi isolat protein kedelai dapat meningkatkan kualitas dan nilai gizi dari daging analog kacang merah.Tujuan: Menganalisis kandungan protein, daya cerna protein in vitro, lemak, karbohidrat, air, abu, serat kasar serta tingkat penerimaan daging analog kacang merahMetode: Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap 1 faktor dengan 4 variasi substitusi isolat protein kedelai (0%, 5%, 10% dan 15%). Pengujian kadar protein dengan metode Mikro Kjedahl, daya cerna protein dengan metode multienzim secara in vitro, kadar lemak dengan metode Soxhlet, kadar karbohidrat dengan metode Carbohydrate by Difference, kadar air dan abu dengan menggunakan metode AOAC serta kadar serat dengan metode Gravimetri.Hasil: Kandungan protein adalah 3.88% – 11.6%, daya cerna protein in vitro yaitu 13.90% –  29.80%, lemak 1.48 – 2.56%, karbohidrat 31.30 – 37.75%, air 53.61 – 54.99%, abu 0.80 – 1.70%, serat kasar 0.87 – 1.90% dan dimana seluruhnya terdapat perbedaan (p<0,05) pada substitusi isolat protein kedelai. Terdapat perbedaan pada tingkat penerimaan dengan parameter rasa, warma dan tekstur (p<0,05).Simpulan: Substitusi isolat protein kedelai meningkatkan kandungan protein, daya cerna protein in vitro, air, abu dan serat kasar namun menurunkan kandungan lemak dan karbohidrat. Daging analog kacang merah dengan substitusi isolat protein kedelai sebesar 15% merupakan perlakuan terbaik.
PERBEDAAN KEPADATAN TULANG ANTARA PENDERITA AUTIS DAN TIDAK AUTIS Amalia, Rizky; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 3, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.147 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i2.5439

Abstract

Latar Belakang: Penderita autis memiliki beberapa gangguan khas, antara lain gangguan perilaku, gangguan penyerapan, serta gangguan makan. Salah satu cara untuk mengurangi gangguan perilaku penderita autis adalah melakukan diet bebas gluten bebas kasein (BGBC). Penerapan diet BGBC yang tidak tepat pada penderita autis menyebabkan defisiensi asupan zat gizi seperti vitamin D dan kalsium yang mengakibatkan penderita autis lebih berisiko memiliki kepadatan tulang rendah dibandingkan dengan anak yang tidak autis.Tujuan: Menganalisis perbedaan kepadatan tulang antara penderita autis dan tidak autis Metode: Penelitian observasional dengan desain penelitian case control dengan subjek 20 penderita autis dan tidak autis 10-19 tahun yang diambil secara consecutive sampling. Data yang diambil asupan vitamin D dan kalsium, dan nilai kepadatan tulang. Penilaian asupan vitamin D dan kalsium diperoleh  melalui formulir  FFQ (Food Frequency Semi Quantitative) dan nilai kepadatan tulang menggunakan z-score   quantitative ultrasound bone densitometry. Analisis bivariat menggunakan uji Independent T-Test Hasil: Rerata z-score kepadatan tulang penderita autis lebih rendah (-1,47+ 0,91) dibandingkan dengan anak tidak autis (0,32+ 0,53). Kepadatan tulang yang rendah  (z-score < -2) hanya ditemukan pada kelompok penderita autis (35%).  Pada kedua kelompok sebagian besar mempunyai asupan vitamin D dan kalsium rendah. Terdapat perbedaan kepadatan tulang antara kelompok penderita autis dan tidak autis (p=0,00)Simpulan: Terdapat perbedaan kepadatan tulang antara penderita autis dan tidak autis