cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KERAGAMAN PANGAN PADA ANAK JALANAN DI KOTA SEMARANG 'Aisy, Amalia Rihadatul; Fitranti, Deny Yudi; Purwanti, Rachma; Kurniawati, Dewi Marfu’ah; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 8, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.046 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v8i4.25839

Abstract

Latar Belakang: Anak jalanan mempunyai kecenderungan mengkonsumsi makanan tidak beragam yang dapat mengakibatkan terganggunya perkembangan dan pertumbuhan serta rentan terhadap masalah kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keragaman pangan pada anak jalanan di kota Semarang.Metode: Penelitian observational dengan rancangan cross sectional. Subjek adalah 58 anak jalanan usia 9-12 tahun diambil dengan cara consecutive sampling. Data pengetahuan gizi, pendapatan rumah tangga, pengaruh teman sebaya dan jumlah anggota rumah tangga diperoleh menggunakan kuesioner penelitian, data ketahanan pangan rumah tangga diperoleh menggunakan Household Food Security Survey Module (HFSSM), serta keragaman pangan dinilai dengan instrument Individual Dietary Diversity Score (IDDS). Data dianalisis statistika secara univariat dan bivariat menggunakan metode Chi-Square.Hasil: Sebagian besar subjek (82,2%) mengkonsumsi makanan yang tidak beragam sedangkan 17,2% lainnya mengkonsumsi makanan beragam. Terdapat hubungan antara pekerjaan pengasuh utama, pengetahuan gizi anak terkait porsi sayur, dan pengetahuan gizi pengasuh utama terkait kandungan sayur dan buah dengan keragaman pangan (p=0,003; p=0,035; p=0,003). Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan gizi anak, pengetahuan gizi pengasuh utama, pendapatan rumah tangga, pengaruh teman sebaya, ketahanan pangan rumah tangga dan besar keluarga dengan keragaman pangan (p>0,05). Simpulan: Pengetahuan gizi anak terkait porsi sayur dan pengetahuan gizi pengasuh utama terkait kandungan sayur dan buah merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan keragaman pangan pada anak jalanan di kota Semarang
KANDUNGAN FLAVONOID, TOTAL FENOL, DAN ANTIOKSIDAN SNACK BAR SORGUM SEBAGAI ALTERNATIF MAKANAN SELINGAN PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 Isdamayani, Linda; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.561 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10108

Abstract

Latar Belakang: Sorgum merupakan pangan lokal yang mengandung komponen antioksidan seperti favonoid dan total fenol. Konsumsi sorgum dapat diolah menjadi produk makanan selingan berupa snack bar. Kandungan antioksidan pada sorgum bermanfaat sebagai pangan sumber antioksidan bagi penderita diabetes mellitus (DM) tipe 2. Diabetes mellitus (DM) tipe 2 ditandai dengan hiperglikemia yang meningkatkan stres oksidatif. Stress oksidatif dapat berkembang menjadi komplikasi makro maupun mikrovaskuler. Tujuan: Menganalisis kadar flavonoid, total fenol, dan aktivitas antioksidan pada snack bar dari tiga jenis sorgum.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian rancangan acak lengkap satu faktor menggunakan variasi jenis sorgum (merah, putih, dan coklat). Analisis kadar flavonoid menggunakan allumunium chloride colorimetric, total fenol menggunakan Folin-Ciocalteu, dan aktivitas antioksidan dengan DPPH. Hasil: Kadar flavonoid, total fenol, dan aktivitas antioksidan snack bar sorgum merah 0.015mg QE/g, 2.508 mg GAE/g, dan 53.431 %; snack bar sorgum putih 0.016 mg QE/g, 1.343 mg GAE/g, dan 38.987 %; dan snack bar sorgum coklat 0.018 mg QE/g, 4.679 mg GAE/g, dan 64.431%. Ada perbedaan kadar total fenol dan aktivitas antioksidan, namun tidak ada perbedaan kadar flavonoid pada snack bar sorgum. Ada perbedaan kandungan flavonoid, total fenol, dan aktivitas antioksidan antara biji sorgum dan snack bar sorgum. Simpulan: Snack bar sorgum coklat mengandung flavonoid, total fenol, dan aktivitas antioksidan tertinggi dibanding snack bar sorgum merah dan putih. Ada perbedaan kandungan flavonoid, total fenol, dan aktivitas antioksidan antara biji sorgum dan snack bar sorgum. Snack bar sorgum putih paling disukai oleh panelis.
KONSUMSI CAIRAN PERIODE LATIHAN DAN STATUS HIDRASI SETELAH LATIHAN PADA ATLET SEPAK BOLA REMAJA Putriana, Dittasari; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.487 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6869

Abstract

Latar Belakang : Atlet sepak bola merupakan atlet yang melakukan olahraga dengan intensitas tinggi. Atlet sepak bola berpotensi untuk mengalami dehidrasi apabila kehilangan cairan karena peningkatan pengeluaran air melalui keringat dan pernafasan tidak diimbangi dengan konsumsi cairan yang cukup. Atlet remaja memiliki risiko dehidrasi lebih tinggi daripada atlet dewasa. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan konsumsi cairan pada periode latihan dengan status hidrasi setelah latihan pada atlet sepak bola remaja.Metode :  Penelitian observasional dengan desain cross-sectional yang melibatkan 47 atlet sepak bola remaja laki-laki (usia 13-16 tahun) di Sekolah Sepak Bola Universitas Diponegoro Semarang. Subjek dipilih dengan simple random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik subjek, konsumsi cairan, kehilangan berat badan, volume urin, keringat yang hilang selama latihan dan status hidrasi setelah latihan. Latihan pertandingan sepak bola dilakukan selama 70 menit. Konsumsi cairan pada periode latihan diukur dengan menggunakan food recall, keringat yang hilang selama latihan dihitung menggunakan rumus dan status hidrasi setelah latihan diketahui dengan pemeriksaan berat jenis urin. Hasil : Rerata konsumsi cairan pada periode latihan (1678,77±457,99 ml) masih kurang dari kebutuhan (2400-3400 ml). Rerata keringat yang hilang adalah 1364,19±448,68 ml. Semua atlet sepak bola remaja mengalami dehidrasi, sebagian besar mengalami significant dehydration (89,4%) dan yang lain mengalami minimal dehydration (10,6%). Terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi cairan pada periode latihan dan status hidrasi setelah latihan (p<0,05), tetapi tidak terdapat hubungan antara keringat yang hilang selama latihan dan status hidrasi setelah latihan pada atlet sepak bola remaja (p>0,05).Simpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi cairan pada periode latihan dan status hidrasi setelah latihan pada atlet sepak bola remaja.
TOTAL BAKTERI ASAM LAKTAT, PH, DAN KADAR SERAT MINUMAN FUNGSIONAL JELLY YOGHURT SRIKAYA DENGAN PENAMBAHAN KARAGENAN Harjantini, Utami; Rustanti, Ninik
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.215 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10156

Abstract

Latar Belakang: Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian utama di dunia, dimana mortalitasnya meningkat dua kali lipat selama 10 tahun yang dipengaruhi peningkatan gangguan metabolik. Pola makan berperan penting terhadap perkembangan sindrom metabolik. Substitusi sari srikaya dan penambahan karagenan pada yoghurt sinbiotik menghasilkan produk minuman fungsional jelly yoghurt srikaya dengan kandungan bakteri asam laktat dan serat yang cukup untuk menurunkan risiko sindrom metabolik.Tujuan: Menganalisis pengaruh substitusi sari srikaya dan penambahan karagenan terhadap total bakteri asam laktat, pH, dan kadar serat kasar jelly yoghurt srikaya.Metode: Merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan percobaan acak lengkap dua faktor yaitu substitusi sari srikaya (10%; 20%; dan 30%) dan penambahan karagenan (0,7% dan 0,8%) pada pembuatan minuman jelly yoghurt srikaya. Data yang terkumpul dianalisis secara statistik menggunakan Two Way ANOVA dilanjutkan uji Tukey.Hasil: Total bakteri asam laktat tertinggi dihasilkan oleh substitusi 30% sari srikaya dan penambahan 0,8% karagenan yaitu 8,12x108 cfu/ml, sedangkan subsitusi 30% sari srikaya dan 0,7% karagenan memiliki pH terendah sebesar 4,33. Kadar serat kasar tertinggi pada substitusi sari srikaya 30 % dan penambahan karagenan 0,7% yaitu 3,40%.Simpulan: Substitusi sari srikaya dan penambahan karagenan meningkatkan total bakteri asam laktat dan kadar serat kasar, serta menurunkan  pH minuman fungsional jelly yoghurt srikaya.
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN DAN KAFEIN DENGAN KEPADATAN TULANG PADA WANITA DEWASA MUDA Septriani, Ria Stella; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.417 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3730

Abstract

 *)Penulis Penanggungjawab Latar Belakang : Asupan protein dan kafein berlebihan akan menurunkan kepadatan tulang pada wanita dewasa muda. Hal tersebut berkaitan dengan peningkatan konsentrasi kalsium pada urin. Sebaliknya, status gizi, aktivitas fisik, asupan kalsium dan fosfor merupakan faktor yang dapat meningkatkan kepadatan tulang.Tujuan : Mengetahui hubungan asupan protein dan kafein dengan kepadatan tulang pada wanita dewasa muda.Metode : Desain penelitian cross sectional dengan subyek 86 wanita usia 18-23 tahun dipilih dengan metode simple random sampling. Data yang diambil adalah berat badan, tinggi badan, asupan protein, kafein, kalsium, fosfor, skor aktivitas fisik, dan nilai kepadatan tulang. Analisis bivariat menggunakan uji rank spearman dan analisis multivariat menggunakan uji regresi linear berganda.Hasil : Osteopenia ditemukan pada 30,2% subyek. Selain itu, 66,3% subyek memiliki status gizi normal, 97,7% memiliki aktivitas fisik sedang, 50% memiliki asupan protein  berlebih, seluruh subyek (100%) memiliki asupan kafein cukup, asupan kalsium dan fosfor kurang dari AKG masing-masing 75,6% dan 58,1%. Asupan protein dan kafein tidak memiliki hubungan dengan kepadatan tulang (p>0,05). Namun, status gizi (r=0,369), aktivitas fisik (r=0, 0,230), dan berat badan (r=0,312) memiliki hubungan bermakna dengan kepadatan tulang (p<0,05). Pada analisis regresi, hanya status gizi yang mempengaruhi kepadatan tulang (B=0,113).Kesimpulan : Asupan protein dan kafein tidak memiliki hubungan dengan kepadatan tulang pada wanita dewasa muda. Akan tetapi,  status gizi,aktivitas fisik, dan berat badan memiliki hubungan bermakna dengan kepadatan tulang sedangkan status gizi merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap nilai kepadatan tulang.
HUBUNGAN DENSITAS ENERGI DAN ASUPAN CAIRAN DENGAN BERAT JENIS URIN PADA REMAJA Setyarsih, Liani; Ardiaria, Martha; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 6, No 4 (2017): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.811 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v6i4.18670

Abstract

Background: Hydration status is a condition that describes total body fluid. One of the method of measuring hydration status is urine specific gravity. Energy density of food is the amount energy content of total weight food. Foods with high energy density tend to have a lower water content, which will affect fluid intake. The aim of this research was to know the correlation of energy density and fluid intake with urine specific gravity as one of the markers of hydration status. Method: This was an observational research with cross-sectional study design. The research was conducted in Senior High School 15 Semarang involving 55 subjects by Simple Random Sampling method. Food intake and fluid intake were assessed by 1x24 hours Food Recall. Urine specific gravity measured in laboratory. Body fat percentage measured by BIA (Bioelectrical Impendance Analysis) and physical activity assessed by 1x24 hours record physical activity. Data were analyzed by rank spearman.Result: Median of urine specific gravity men and women was 1,02 g/ml. Mean of energy density in men was 1,8±0,32 kcal/gram, in women was 2,1±0,59 kkal/gram. Mean of fluid intake in men was 2406,4±491,38 ml, in women was 2159,5±648,42ml. There was significant correlation of fluid intake with hydration status (p=0,027). There was no significant correlation of energy density and hydration status (p=0,218). Multivariate analysis showed that 14,6% of hydration status is affected by both fluid intake and energy intake. Conclusion: There was significant correlation of fluid intake with urine specific gravity. There was no significant correlation of energy density and urine specific gravity.
HUBUNGAN FREKUENSI KONSUMSI GLUTEN, KASEIN, DAN ASUPAN SERAT DENGAN POLA DEFEKASI ANAK AUTIS Hertanti, Alsha Listyobudi; Wirawanni, Yekti
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.392 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6880

Abstract

Latar Belakang : Gangguan pencernaan dan abnormal konsistensi feses dilaporkan semakin meningkat oleh para orang tua dari anak autis. Makanan yang mengandung gluten dan kasein dapat memicu pengaktifan respon sistem imun mukosa usus dan menyebabkan timbulnya abnormal mikroflora usus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara frekuensi konsumsi gluten, kasein, dan asupan serat, dengan pola defekasi pada anak autis. Metode : Penelitian observasional dengan design cross-sectional yang dilakukan di SLB Negeri dan SLB Kasih Bahagia Tarakan. Jumlah sampel sebanyak 30 dan dipilih dengan metode consecutive sampling. Hasil :  Penderita autis lebih banyak ditemukan pada laki-laki (83,3%) dibandingkan perempuan. Sebagian besar frekuensi konsumsi gluten termasuk dalam kategori kadang (33,3%), dan kasein dalam kategori tidak pernah (33,3%). Rata-rata asupan serat 19,9 gram/hari dan sebagian besar asupan serat subjek kurang (63,3%). Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar subjek (63,3%) memiliki frekuensi defekasi yang tidak normal dan konsistensi feses yang keras (73,3%). Hasil uji korelasi menunjukkan tidak ada hubungan antara frekuensi konsumsi gluten dan kasein dengan frekuensi defekasi dan konsistensi feses (p>0.05). Ada hubungan antara asupan serat dengan frekuensi defekasi (r=0.468, p=0.009). Terdapat hubungan yang signifikan antara asupan serat dengan konsistensi feses (r=0.837, p=0.000). Simpulan : Tidak terdapat hubungan antara frekuensi konsumsi gluten dan kasein dengan frekuensi defekasi dan konsistensi feses. Terdapat hubungan antara asupan serat dengan frekuensi defekasi dan sangat signifikan dengan konsistensi feses.
ASUPAN TINGGI NATRIUM DAN BERAT BADAN LAHIR SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN HIPERTENSI OBESITAS PADA REMAJA AWAL Fatta, Lutfiana Amirullah; Sulchan, Muhammad
Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v1i1.419

Abstract

Background: Obesity Hypertension does not only occur in adults or elderly, but also can occur on adolescents. Obesity Hypertension risk factors on adolescents as well as risk factors for obesity and hypertension. High-sodium intake and birth weight are two of the several risk factors for obesity hypertension. The purpose of this study was to determine magnitude of  risk factors of high-sodium intake and birth weight on obesity hypertension occurance on early adolescence. Method: The study was carried out in SMP 3, SMP 30, SMP Kesatrian 2, and Madrasah Al-Khoiriyah. The design of this study is case-control with the amount of subjects are 72 consist of 36 cases and 36 controls. The subjects were selected that met the inclusion criteria. Data sodium intake is obtained by interview using Food Frequency Questionnaire last one month. Data on birth weight is obtained from interview with parents which supported by the record of KMS / KIA. Height measurements using microtoise, weight using digital scales, waist circumference using a tape measure, and blood pressure using a sphygmomanometer. Results: The prevalence of obesity hypertension is 7.5%. In this study, it is found that there is a significant correlation between high-sodium intake (p = 0.042; OR = 3.5) birth weight (p = 0.012; OR = 3.7) on obesity hypertension occurance on early adolescence. Conclusion: High-sodium intake and birth weight are risk factor of obesity hypertension  on early adolescence.  Major risk factors of high-sodium intake and birth weight are respectively 3.5 times and 3.7 times
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN RASIO TRIGLISERIDA/HIGH-DENSITY LIPOPROTEIN (TG/HDL) PADA REMAJA Khusna, Fera Hidayatul; Murbawani, Etisa Adi
Journal of Nutrition College Vol 5, No 2 (2016): April
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.421 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i2.16366

Abstract

Latar belakang: Obesitas pada remaja terjadi karena adanya keseimbangan energi positif antara asupan dan aktivitas fisik. Perhitungan indeks massa tubuh merupakan indikator untuk menilai obesitas. Peningkatan indeks massa tubuh berkaitan dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular. Rasio TG/HDL merupakan indikator yang kuat untuk penyakit tersebut. Individu yang memiliki IMT dan rasio TG/HDL yang tinggi akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan rasio TG/HDL pada remaja.Metode  : Penelitian dilaksanakan di SMP Nasima Semarang pada bulan Februari 2016. Desain penelitian cross sectional dengan subjek 29 remaja usia 12-15 tahun dipilih dengan metode cluster sampling. Data yang diambil adalah berat badan, tinggi badan, asupan karbohidrat, lemak, serat, skor aktivitas fisik, dan rasio TG/HDL. Analisis bivariat menggunakan uji rank Spearman. Analisis multivariat menggunakan uji regresi linear.Hasil      : Terdapat 27,59% subjek memiliki status gizi obesitas, 20,69% overweight, dan 51,72% normal. Hasil penelitian menunjukkan rerata IMT pada remaja sebesar 22,89±4,55 kg/m2 dan rerata skor aktivitas fisik sebesar 1,69±0,41. Rerata asupan energi 2468,2±266,67 kkal, karbohidrat 390,42±48,55 gr, lemak 73,76±13,19 gr, dan serat 17,69±2,79 gr. Terdapat hubungan antara IMT dengan rasio TG/HDL pada remaja (r=0,498 ; p=0,006).Simpulan : Indeks massa tubuh memiliki hubungan dengan rasio TG/HDL.
HUBUNGAN RIWAYAT PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA ANAK Saputri, Ermy Liesma; Syauqy, Ahmad
Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.015 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i1.4514

Abstract

Latar Belakang : Obesitas merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia. Obesitas pada anak berdampak pada penurunan prestasi belajar dan dampak psikososial seperti kurang percaya diri. Obesitas dapat dipengaruhi oleh asupan makanan, aktivitas fisik dan riwayat pemberian ASI eksklusif. Riwayat pemberian ASI eksklusif dapat mencegah terjadinya obesitas pada anak. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian obesitas pada anak.Metode : Subyek penelitian case control ini terdiri dari 28 anak dengan obesitas sebagai kasus, dan 28 anak yang tidak obesitas sebagai kontrol di TK IT Bina Amal Semarang dan TK Negeri Semarang. Penentuan obesitas dengan nilai Z-skor berdasarkan IMT/U. Data riwayat pemberian ASI eksklusif diperoleh melalui wawancara. Asupan energi diperoleh dengan wawancara menggunakan FFQ dan aktivitas fisik diperoleh dari formulir recall aktivitas fisik. Hasil : Analisis bivariat menunjukkan bahwa riwayat pemberian ASI eksklusif mempunyai hubungan yang bermakna dengan obesitas (p=0.013: OR=4,2). Asupan energi yang lebih merupakan faktor risiko terjadinya obesitas (p=0,032: OR=3,2).  Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas (p=0,589: OR=1,3). Simpulan : Riwayat pemberian ASI tidak eksklusif berisiko 4,2 kali meningkatkan kejadian obesitas pada anak. Asupan energi tinggi berisiko 3,2 kali meningkatkan kejadian obesitas pada anak. Aktifitas fisik rendah berisiko 1,3 kali meningkatkan kejadian obesitas pada anak.