cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
PENGARUH SUPLEMENTASI KOMBINASI BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM), BERAS RAGI MERAH (MONASCUS PURPUREUS), DAN JAHE MERAH (ZINGIBER OFFICINALE VAR. RUBRUM) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA DAN HDL PASIEN STROKE ISKEMIK DENGAN DISLIPIDEMIA Aisy, Rihadatul; Maharani, Nani; Jaeri, Santoso; Retnaningsih, Retnaningsih
Journal of Nutrition College Vol 13, No 1 (2024): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i1.42033

Abstract

ABSTRACTBackground: The incidence of stroke in the world is reported as many as 15 million people each year and around 185 thousand experience recurrent strokes. The incidence of recurrent stroke can be avoided by controlling risk factors, especially dyslipidemia. There is a relationship between dyslipidemia and the risk of atherosclerosis, especially ischemic stroke and peripheral arterial disease. Nutraceuticals can be used as an adjuvant to conventional drugs. Objectives: The purpose of this study was to determine the effect of giving herbs containing garlic (Allium sativum) 675 mg, red yeast rice (Monascus purpureus) 750 mg, and red ginger (zingiber officinale var. rubrum) 375 mg, hereinafter referred to as BJR 22 on TG and HDL levels.Materials and Methods: This research was pre and posttest Control Group Design with double blind method. The research subjects were selected consecutively with 20 intervention groups receiving standard therapy (statins) and BJR 22 3 capsules/day and 20 control groups receiving standard therapy (statins) and placebo once daily, each group being given for 30 days. The data were analyzed used the Shapiro wilk test, Wilcoxon, Chi Square, Fisher's exact and Paired T-test. Results: The average change in TG levels before and after treatment in the intervention group was -5.95 ± 86.88 (p=0.575), while the control group was 4.3 ± 97.08 (p=0.845). There was no significant difference between the two group. The change in HDL levels in the intervention group was 10 ± 13.46, indicating a significant change (p = 0.004). In the control group it was 5.3 ± 27.25 indicating a change that was not significant (p = 0.273). The regression test shows that the factors that influence TG levels are calorie intake and those that influence HDL levels are smoking status, hypertension and fat intake.Conclusion: BJR 22 supplementation of 3 capsules/day for 30 days can improve HDL levels but does not significantly affect triglyceride levels.Keywords: Garlic, Red Yeast Rice, Dyslipidemia, Red Ginger, Stroke ABSTRAKLatar belakang: Penderita stroke memiliki risiko serangan berulang sekitar 11,1 % dalam 1 tahun. Insiden stroke berulang dihindari dengan upaya pengendalian faktor risiko salah satunya dislipidemia. Terdapat hubungan dislipidemia dengan risiko kejadian aterosklerosis terutama penyakit stroke iskemik dan penyakit arteri perifer. Prevalensi penderita statin intoleran ada 9,1%. Nutrasetikal dapat digunakan sebagai terapi adjuvant/pendamping obat konvensional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek pemberian herbal yang mengandung bawang putih (Allium sativum) 675 mg, Red Yeast Rice (RYR)/beras ragi merah (Monascus purpureus) 750 mg, dan jahe merah (zingiber officinale var. rubrum) 375 mg yang selanjutnya disebut BJR 22 terhadap kadar trigliserida (TG) dan High Density Lipoprotein (HDL).Metode: Penelitian dengan menggunakan pre and posttest control group design dengan cara double blind. Subjek penelitian dipilih secara konsekutif dengan jumlah 20 orang dalam kelompok intervensi yang mendapatkan terapi standar (statin) dan BJR 22 sebanyak 3 kapsul/hari dan 20 orang dalam kelompok kontrol yang mendapatkan terapi standar (statin) dan plasebo 3x1. Durasi penelitian adalah 30 hari. Data dianalisis menggunakan uji Saphiro Wilk, Wilcoxon, Chi Square, Fisher exact dan Paired T-test.Hasil: Rata-rata perubahan kadar TG sebelum dan sesudah perlakuan di kelompok intervensi adalah -5,95 ± 86,88 mg/dL (p=0,575), sedangkan kelompok kontrol 4,3 ± 97,08 mg/dL (p=0.845) Tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Perubahan kadar HDL di kelompok intervensi adalah 10 ± 13,46 mg/dL menunjukkan perubahan yang bermakna (p=0,004). Pada kelompok kontrol adalah 5,3 ± 27,25 mg/dL menunjukkan perubahan yang tidak bermakna (p=0,273). Uji regresi menunjukkan faktor yang memengaruhi kadar TG adalah asupan kalori dan yang memengaruhi kadar HDL adalah status merokok, hipertensi dan asupan lemak.Kesimpulan: Suplementasi BJR 22 dosis 3 kapsul/hari dapat memperbaiki kadar HDL namun tidak mempengaruhi kadar trigliserida secara bermakna.Kata Kunci: Bawang putih, Beras Ragi Merah, Dislipidemia, Jahe merah, Stroke
TINGKAT STRES AKADEMIK DAN RISIKO EATING DISORDER PADA MAHASISWA GIZI TINGKAT AKHIR UNIVERSITAS BRAWIJAYA: A CROSSECTIONAL STUDY Zulhadiman, Zulhadiman; Yuhasnara, Sofhin Madison; Muslihah, Nurul
Journal of Nutrition College Vol 13, No 2 (2024): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i2.40418

Abstract

ABSTRACTBackground: Strict educational curricula, many assignments, and changes between practice areas can increase academic stress in medical students. This is then supported by various other factors, resulting in a higher prevalence of academic stress in health students than students of other majors. While some stress levels can motivate and increase student productivity, excessive and prolonged stress can also cause adverse effects, such as the risk of eating disorders.Objectives: To analyze the relationship between academic stress levels and the risk of eating disorders in final-year nutrition and dietetic students at Brawijaya University.Methods: This research is a quantitative study with a cross-sectional design. The sample comprised 132 students in the Dietitian Profession study program and Bachelor of Nutrition Science at Brawijaya University. The sampling technique used saturated sampling, meaning that the entire population is sampled. Data was collected using the Perceived Academic Stress Scale (PASS) and Eating Attitude Test-26 (EAT-26) questionnaires. The data were analyzed using the Spearman rank correlation test.Results: 96 respondents (72.7%) experienced moderate academic stress, 16 respondents (12.1%) experienced severe academic stress, and 43 respondents (32.6%) were at risk of experiencing eating disorders. There is a significant relationship between the level of academic stress and the risk of eating disorders with positive direction and weak strength (p = 0,000, r = 0,349).Conclusion: There is a significant and positive relationship with weak power between the level of academic stress and the risk of eating disorders in final-year Nutrition and Dietetic students at Brawijaya University. Thus, the higher the level of academic stress, the higher the risk of eating disorders.Keywords: academic stress level; risk of eating disorders; student ABSTRAKLatar belakang: Kurikulum pendidikan yang ketat, banyaknya tugas, dan perpindahan antar wahana praktik dapat meningkatkan stres akademik pada mahasiswa kesehatan. Ditunjang dengan berbagai faktor lain, mengakibatkan prevalensi stres akademik yang terjadi pada mahasiswa kesehatan lebih tinggi dibandingkan mahasiswa jurusan lainnya. Sementara beberapa tingkat stres dapat memotivasi dan meningkatkan produktivitas mahasiswa, stres yang berlebihan dan berkepanjangan juga dapat menyebabkan efek buruk, seperti risiko eating disorder.Tujuan: Menganalisis hubungan antara tingkat stres akademik dan risiko eating disorder pada mahasiswa gizi tingkat akhir.Metode: Pendekatan penelitian yang ditetapkan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 132 mahasiswa dari program studi Profesi Dietisien dan S1 Ilmu Gizi Universitas Brawijaya, Kota Malang, Indonesia. Teknik sampel yang ditetapkan adalah sampling jenuh. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berkaitan dengan Perceived Academic Stress Scale (PASS) dan Eating Attituted Test-26 (EAT-26). Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan uji spearman rankHasil: Sebanyak 96 responden (72,7%) mengalami stres akademik sedang, 16 responden (12,1%) mengalami stres akademik berat, dan 43 responden (32,6%) berisiko mengalami eating disorder. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres akademik dan risiko eating disorder dengan arah positif dan kekuatan lemah (p = 0,000, r = 0,349).Simpulan: Ada hubungan yang signifikan dan positif antara tingkat stres akademik dengan risiko eating disorder pada mahasiswa tingkat akhir Gizi dan Dietisien Universitas Brawijaya. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat stres akademik maka semakin tinggi risiko terjadinya eating disorder.Kata kunci: tingkat stres akademik; risiko eating disorder; mahasiswa
PENGARUH PEMBERIAN JUS BIT NANAS (Beta vulgaris L, Ananas comosus) TERHADAP KADAR ASAM LAKTAT PADA ATLET SEPAK BOLA Febriyanah, Nurzanah; Dieny, Fillah Fithra; Nugraha, Teddy Wahyu; Afifah, Diana Nur
Journal of Nutrition College Vol 12, No 4 (2023): Oktober
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i4.41149

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Olahraga dengan instensitas yang tinggi dapat mengakibatkan peningkatan kadar asam laktat. Konsumsi jus bit-nanas pada atlet dapat meningkatkan kadar oksida nitrat (NO) yang memiliki berbagai fungsi berkaitan dengan aliran darah, pertukaran gas, biogenesis, efisiensi mitokondria,dan penguatan kontraksi otot sehingga mencegah peningkatan kadar asam laktat.Tujuan: Menganalisis pengaruh pemberian jus bit nanas terhadap kadar asam laktat pada atlet sepakbola Kota Semarang.Metode: Penelitian true experimental dengan desain pre-post test with controlled group design. Subjek penelitian adalah 32 orang atlet laki-laki sekolah sepak bola PERSISAC dan Akademi New Tugu Muda berusia 15-16 tahun. Pemberian jus bit-nanas pada kelompok perlakuan 200 ml, sedangkan kontrol diberikan air mineral 200 ml. Pemberian intervensi dilakukan satu kali pada pagi hari sebelum latihan. Pengukuran kadar asam laktat diambil dua kali, sebelum intervensi dan setelah melakukan test RSAT (Running Sprint Test Anaerobic). Data dianalisis menggunakan uji paired-t-test, independent-t-test, one way anova dan mann-whitney.Hasil: Sebagian besar subjek memiliki asupan (energi, karbohidrat, lemak, protein, vitamin C) yang kurang. Tidak terdapat perbedaan (p>0,05) rerata kadar asam laktat antara subjek dengan status gizi underweight, normal dan overweight. Terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) antara kadar asam laktat sebelum dan setelah  pemberian jus bit-nanas pada kelompok perlakuan, namun tidak ada beda pada kontrol. Kadar asam laktat pada kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol.Simpulan: Pemberian jus bit-nanas sebelum latihan berpengaruh secara bermakna terhadap kadar asam laktat atlet sepak bola Kota Semarang.Kata kunci: atlet sepak bola; jus bit-nanas; kadar asam laktat ABSTRACTBackground: Exercise with high intensity result an increase in lactic acid. The consumption of beet-pineapple juice in athletes can increase nitric oxide (NO) levels that serve a variety of functions related to blood flow, gas exchange, biogenesis, mitochondrial efficiency, as well as strengthening muscle contractions and preventing the increase in lactic acid levels.Objective: This study aimed to analyze the effect of pineapple-beet juice (Beta vulgaris L, Ananas comosus) on lactate acid among football athlete.Methods : Design of true experimental research with pretest-post test control group design. Subject were thirty-two male athletes of PERSISAC and New Tugu Muda Academy football school aged 15-16 years. The treatment of pineapple-beet juice give consist of treatment group consumed 200 ml, while control consumed 200 ml of water. Intervention was given once in the morning before training. Lactic acid measurements was taken twice, before intervention and after RSAT test (Running Sprint Test Anaerobic). All data were analyzed using paired-t-test, independent-t-test, one way anova and mann-whitney.Results: Most subjects had intake (energy, carbohydrate, fat, protein, and vitamin C) inadequate categories. No differences (>0,05) of lactic acid levels average between subjects with BMI in the underweight, normal and overweight categories. There was a significant difference (p<0.05) between lactic acid levels average before and after the consumption of beet-pineapple juice in the treatment group, but there was no difference in the control group. The treatment group were lower  in lactic levels than the control group.Conclusion: Consumption of beet-pineapple juice before exercise shows significant impact on the lactic acid levels of Semarang football athletesKeywords: beet-pineapple juice, football athletes, lactic acid levels  
PENGARUH EDUKASI ANEMIA MELALUI MEDIA VIDEO TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP, SERTA KEBERAGAMAN KONSUMSI MAKANAN REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 86 JAKARTA Farhan, Kamilia; Maulida, Nursyifa Rahma; Lestari, Widya Asih
Journal of Nutrition College Vol 13, No 2 (2024): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i2.41172

Abstract

ABSTRACTBackground: Adolescent girls are the most at-risk groups for anemia. The latest data stated that anemia prevalence of reproductive-age women in Indonesia is 30,6%, higher than the global prevalence. Food intake is one of many factors that contribute to this condition. The average food diversity of these young girls is still not reach the recommended nine food groups yet. Therefore, a school-scope education is essential to gain student’s awareness about anemia and food diversity.Objective: This study aims to analyze the impact of educational video about anemia on students’ knowledge, attitudes food diversity at SMP Negeri 86 Jakarta.Methods: This research had quasi-experimental method with one group pre-post design and included 54 junior high girls selected with simple random sampling. The analytical tests used to see the pre-post score difference of knowledge and food diversity were Paired Sample T-Test, and Wilcoxon Signed Rank for attitude score.Results: Educational video affected significant escalation in subject’s knowledge and attitude about anemia, yet none for food diversity. Statistical score for each variables were p-value = 0,000 for knowledge, p-value = 0,000 for attitude, and p-value = 0,177 for food diversity.Conclusion: This research concluded that educational video was effective in gaining students knowledge and attitude about anemia.Keywords : adolescent girls; anemia; behaviour; food diversity; video  ABSTRAKLatar belakang: Remaja putri adalah golongan yang paling mudah terkena anemia. Hal ini ditunjukkan dengan prevalensi anemia WUS di Indonesia berada pada angka 30,6%, lebih tinggi dari angka anemia global. Asupan makanan adalah salah satu yang berkontribusi dalam timbulnya angka ini. Di sisi lain, tingkat keragaman makanan remaja putri juga belum optimal untuk memenuhi kelengkapan berbagai jenis golongan makanan. Maka dari itu, diperlukan edukasi gizi pentingnya pencegahan anemia dengan konsumsi makanan beragam. Media video mendukung edukasi gizi karena bersifat audiovisual sehingga mempermudah penerimaan remaja terhadap informasi yang disampaikan.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh edukasi anemia melalui media video terhadap pengetahuan, sikap, serta keberagaman konsumsi makanan remaja putri di SMP Negeri 86 Jakarta.Metode: Penelitian ini bersifat quasi experimental dengan desain one group pre-test dan post-test serta melibatkan 54 sampel remaja putri yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Analisis data pengetahuan dan keragaman makanan menggunakan Paired Sample T-test, sedangkan sikap menggunakan Wilcoxon Signed Rank.Hasil: Media video meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja putri mengenai anemia, namun pada keragaman konsumsi, tidak terdapat perubahan yang signifikan antara sebelum dan sesudah edukasi. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value = 0,000 untuk pengetahuan dan sikap, serta p-value = 0,177 untuk keragaman makanan.Simpulan: Dapat disimpulkan bahwa media video efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja putri mengenai anemia.Kata Kunci : anemia; keberagaman; makanan; remaja putri; video
ASUPAN Fe, KEBIASAAN MINUM TEH, DAN STATUS GIZI BERKAITAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA SANTRI PUTRI Kusumawati, Agustin Dyah; Nurhayati, Nurhayati; Hardiansyah, Angga
Journal of Nutrition College Vol 13, No 3 (2024): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i3.42914

Abstract

ABSTRACTBackground: Anemia must receive special attention because it can affect health status, especially in women. Anemia can be caused by a lack of consuming foods containing iron (Fe), vitamin C, protein, the habit of consuming Fe inhibitor substances such as caffeine, oxalate, phytate, and tannins contained in tea as well as other factors such as blood loss and nutritional status.Objectives: To determine the relationship between Fe intake, tea-drinking habits, and nutritional status with the incidence of anemia in female students.Methods: This research used a cross-sectional design with a total sample of 73 female students at the Sirojuth Tholibin Islamic Boarding School in Grobogan Regency, Central Java. The sample was collected with accidental sampling. Data on Fe intake were obtained using the Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), tea-drinking habits using the Food Frequency Questionnaire (FFQ), nutritional status using Body Mass Index by Age (BMI/U), and the incidence of anemia was determined by measuring hemoglobin using the Point of Care Testing (POCT) method with the easytouch GCHb digital device. Bivariate analysis with Gamma (g) correlation test.Results The results of this study obtained the characteristics of respondents with sufficient Fe intake 41 (56,2%) respondents, good tea-drinking habits 51 (69.9%) respondents, good nutritional status 54 (74%) respondents, and no anemia category 52 (71.2%) respondents. Based on the results of the bivariate test analysis, it showed that Fe intake, tea-drinking habits, and nutritional status had a relationship with the incidence of anemia (p-value <0.05). Conclusion: There is a relationship between Fe intake, tea-drinking habits, and nutritional status with the incidence of anemia in female students.Keywords : anemia; Fe intake; female students; nutritional status; tea-drinking habit.                                                                      ABSTRAKLatar belakang: Anemia harus mendapat perhatian khusus karena dapat memengaruhi status kesehatan khususnya pada perempuan. Anemia dapat disebabkan oleh kurangnya mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi (Fe), vitamin C, protein, kebiasaan konsumsi zat inhibitor Fe seperti kafein, oksalat, fitat dan tanin yang terkandung dalam teh serta faktor lain seperti kehilangan darah dan status gizi.Tujuan: Mengetahui hubungan antara asupan Fe, kebiasaan minum teh, dan status gizi dengan kejadian anemia pada santri putri.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan total sampel 73 santri putri di Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin di Kab. Grobogan, Jawa Tengah. Sampel diambil dengan teknik accidental sampling. Data asupan Fe diperoleh dengan menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), kebiasaan minum teh dengan Food Frequency Questionnaire (FFQ), status gizi dengan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U), dan kejadian anemia ditentukan dengan pengukuran hemoglobin menggunakan metode Point of Care Testing (POCT) dengan alat digital Easytouch GCHb. Analisis bivariat dengan uji korelasi Gama (g).Hasil: Hasil penelitian ini diperoleh karakteristik responden dengan asupan Fe cukup 41 responden (56,2%), kebiasaan minum teh baik 51 responden (69,9%) status gizi baik 54 responden (74%), dan kejadian anemia dengan kategori tidak anemia 52 responden (71,2%). Berdasarkan hasil analisa uji bivariat menunjukkan bahwa asupan Fe, kebiasaan minum teh, dan status gizi memiliki hubungan dengan kejadian anemia (nilai p<0,05).Simpulan: Terdapat hubungan antara asupan Fe, kebiasaan minum teh, dan status gizi dengan kejadian anemia pada santri putri.Kata Kunci : anemia; asupan Fe; santri putri; status gizi; kebiasaan minum teh.
DIET RENDAH PROTEIN TERHADAP STATUS KESEHATAN PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIS (PGK): KAJIAN PUSTAKA Nareswari, Andayu; Haq, Nabila Ainul; Kusumastuty, Inggita
Journal of Nutrition College Vol 12, No 4 (2023): Oktober
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i4.38082

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Peningkatan jumlah penderita penyakit ginjal kronis (PGK) yang disebabkan oleh beberapa faktor risiko. Untuk mengurangi kerja ginjal biasanya pasien diberikan beberapa pembatasan zat gizi yang dapat menyebabkan pasien dengan penyakit ginjal kronis mengalami malnutrisi energi dan protein yang jika dibiarkan justru membuat harapan hidup pasien menurun.Tujuan: Tujuan dari kajian pustaka ini adalah untuk menganalisis diet rendah protein yang digunakan pada pasien penyakit ginjal kronis memberikan efek yang baik dan kontraindikasi dari pemberian diet rendah protein, sehingga dapat memperbaiki status kesehatan pasienMetode : Penelitian menggunakan sistematik review dari 19 jurnal dan dipilih 5 jurnal berdasarkan kriteria inklusi dan esklusi terkait dengan penyakit gagal ginjal kronis.Hasil : Beberapa artikel telah membahas terkait diet rendah protein yang diberikan pada pasien, namun perlu ada penilaian status gizi pasien dan kecukupan energi yang dikonsumsi pasien yang akan diberikan pembatasan protein. Adanya beberapa zat gizi juga seperti kalium dan jenis protein yang berasal dari sumber hewani dan nabati yang berpengaruh alam pengaturan pola makan pasien PGK karena adanyarisiko malnutrisi hingga kematianKesimpulan: Pemberian diet rendah protein pada pasien PGK sebaiknya juga mempertimbangkan beberapa hal sesuai dengan kondisi pasien serta pemilihan bahan makanan yang disesuaikan dengan kebutuhan. Faktor pemenuhan zat gizi untuk pasien PGK dapat menentukan status kesehatan pasienKata kunci: diet rendah protein, PGK, status Kesehatan ABSTRACTIntroduction: The prevalence of chronic kidney disease has increased as a result of various risk factors, and nutritional therapy, such as a low protein diet, is commonly used to maintain glomerulus advancement, which can lead to malnutrition and shorten the patient's life span.Aim: The goal of this literature review is to determine whether a low protein diet used in patients with chronic kidney failure has a good effect and whether there are any contraindications to delivering a low protein diet to enhance the patient's health.Methode: 5 journals were chosen for the study from a systematic assessment of 19 journals based on inclusion and exclusion criteria for chronic renal failure.Result: A nutritional assessment of the patient's nutritional condition and the appropriateness of energy intake in patients who will be given protein restriction has been explored in several studies. Because of the risk of starvation and death, various minerals, such as potassium and other types of protein, have an impact on the diet of CKD patients.Conclusions: A low protein diet must take into account a number of factors, including the patient's health and the food elements they require. Patients' nutritional state might be used to determine their health status.Keywords: Low protein diet. Chronic kidney disease, health status  
ALASAN PEMILIHAN MAKANAN, AKSES PEMBELIAN MAKANAN, DAN KUALITAS DIET PADA MAHASISWA Yugharyanti, Tsamara Putri; Fatimah, Siti; Rahfiludin, Mohammad Zen
Journal of Nutrition College Vol 13, No 1 (2024): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i1.39516

Abstract

ABSTRACTBackground: The diet of Indonesian people has changed due to the influence of the globalization era and technological advances. Inappropriate dietary changes such as excessive consumption of foods containing sugar, salt and fat increase the risk of obesity. Obesity cases in Central Java Province have increased from 2019 (5.5%) to 2021 (6.8%). A person's diet can affect the quantity and quality of food consumed, thus affecting the quality of the diet.Objective: This study aims to analyze the correlation food choice and food purchase access with diet quality among Public Health students at Diponegoro University.Methods: This type of research was observational study with cross sectional design. The subjects were 100 students of Faculty of Public Health Diponegoro University. The subjects were selected by simple random sampling. The independent variables were food selection and food purchase access. The confounding variables were nutritional knowledge and culture. Diet quality data was taken from the results of the Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire which was converted to a diet quality score. Correlation analysis used the Spearman Rank test.Results: The results showed that the subjects had good diet quality 55% and poor diet quality 45%. Poor diet quality in subjects was due to low consumption of nutrients and high consumption of fat. There is a correlation food selection and diet quality (p=0,034). There is no correlation  food purchase access (p=0,420), nutritional knowledge (p=0,283), and culture (p=0,301) with diet quality.Conclusion: There is a correlation food selection and diet quality, while there is no correlation access to food purchases, nutritional knowledge, and culture with diet quality.Keywords : diet quality; food choice; food purchase access; university students ABSTRAKLatar belakang: Pola makan masyarakat Indonesia mengalami perubahan karena pengaruh era globasilasi dan kemajuan teknologi. Perubahan pola makan yang tidak tepat seperti konsumsi makanan mengandung gula, garam, dan lemak yang berlebihan meningkatkan risiko obesitas. Kasus obesitas di Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan dari tahun 2019 (5,5%) hingga 2021 (6,8%). Pola makan seseorang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi sehingga berpengaruh terhadap kualitas diet.Tujuan: Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan pemilihan makanan dan akses pembelian makanan dengan kualitas diet.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro sebanyak 100 orang. Subjek dipilih dengan menggunakan metode simple random sampling. Variabel bebas penelitian ini adalah pemilihan makanan dan akses pembelian makanan. Variabel perancu penelitian ini adalah pengetahuan gizi dan budaya. Data kualitas diet berdasarkan hasil Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire yang dikonversi ke skor kualitas diet. Analisis korelasi menggunakan uji Rank Spearman.Hasil: Subjek memiliki kualitas diet baik 55% dan kualitas diet kurang 45%. Kualitas diet kurang pada subjek disebabkan rendahnya asupan zat gizi dan konsumsi tinggi lemak. Terdapat hubungan pemilihan makanan dengan kualitas diet (p=0,034). Tidak ada hubungan akses pembelian makanan (p=0,420), pengetahuan gizi (p=0,283), dan budaya (p=0,301)  dengan kualitas diet.Simpulan: Terdapat hubungan pemilihan makanan dengan kualitas diet. Tidak ada hubungan akses pembelian makanan, pengetahuan gizi, dan budaya dengan kualitas diet mahasiswa.Kata Kunci : akses pembelian makanan; kualitas diet; mahasiswa; pemilihan makanan  
PENGARUH EDUKASI GIZI MELALUI MEDIA POP-UP BOOK TERHADAP PENGETAHUAN GIZI DAN KEBIASAAN MAKAN PAGI SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI 3 TIUH MEMON Nurahmadi, Rizki; Khalida Dalimunthe, Nathasa
Journal of Nutrition College Vol 13, No 3 (2024): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i3.40863

Abstract

ABSTRACTBackground: School aged children are a group that is vulnerable to nutritional and health problems. One of the problem is the habit not have breakfast. Nutrition education with interesting media is an effort to increase nutrition knowledge and breakfast habits in school children.Objective: The aimed of the research was to analyze the effect of nutrition education through Pop-up book media on nutrition knowledge and breakfast habits of 3 Tiuh Memon Elementary School studentsMethods: This research was conducted in July 2023, located at Tiuh Memon 3 Public Elementary School. The research design was a pre-experimental design with one group pretest-posttest. The sampling technique used was purposive sampling with a total sample of 57 respondents. The research instrument was a nutritional knowledge questionnaire and food recall (type and frequency of having breakfast) before and after education. The analysis carried out was descriptive and different tests, namely the Paired T-test and the Wilcoxon test.Results: There was an effect of nutrition education through Pop-up book media on nutritional knowledge (p=0.002), breakfast habits (breakfast frequency in a week) (p=0.000) and breakfast habits (type of breakfast) (p=0.000).Keywords: Breakfast habit;Nutritional education;; Nutritional knowledge; School Aged children                                                             ABSTRACTLatar Belakang : Anak sekolah dasar adalah salah satu kelompok yang rentan terhadap permasalahan gizi dan kesehatan. Salah satu pemasalahannya yaitu tidak terbiasa untuk makan pagi. Edukasi gizi dengan media yang menarik merupakan salah satu upaya untuk dapat meningkatkan pengetahuan gizi dan kebiasaan makan pagi pada anak sekolah.Tujuan : Tujuan penelitian yaitu menganalisis pengaruh edukasi gizi melalui media Pop-up book terhadap pengetahuan gizi dan kebiasaan makan pagi siswa Sekolah Dasar Negeri 3 Tiuh MemonMetode : Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2023 berlokasi di Sekolah Dasar Negeri 3 Tiuh Memon. Desain penelitian ini adalah pre experiment design dengan pendekatan one group pretest-posttest. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling dengan jumlah sampel  sebanyak 57 responden. Instrumen penelitian ini adalah kuesioner pengetahuan gizi dan food recall (jenis dan frekuensi makan) sebelum dan sesudah edukasi. Analisis yang dilakukan adalah deskriptif dan uji beda yaitu Paired T-test dan uji Wilcoxon.Hasil : Terdapat pengaruh edukasi gizi melalui media Pop-up book terhadap pengetahuan gizi ( p=0,002) dan kebiasaan makan pagi (frekuensi makan pagi dalam seminggu) (p=0,000) dan kebiasaan makan pagi (jenis makan pagi) (p=0,000).Kesimpulan : Ada pengaruh edukasi gizi melalui media Pop-up book terhadap pengetahuan gizi dan kebiasaan makan pagi siswa Sekolah Dasar Negeri 3 Tiuh Memon.Kata Kunci : Anak usia sekolah; Edukasi Gizi; Kebiasaan Makan pagi; Pengetahuan gizi 
ANALYSIS OF SUGAR, SALT AND FAT IN SNACK FOODS SOLD AT ELEMENTARY SCHOOL FOOD STALLS Zaizafia, Athaya; Aristi, Dela; Ciptaningtyas, Ratri; Angkasa, Dudung
Journal of Nutrition College Vol 13, No 1 (2024): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i1.38444

Abstract

ABSTRACTBackground: Snacking is common among elementary school-age children. Ironically, snacks often contain lots of sugar, salt, and fat (SSF) which mostly available at school's area and might contributed to poor dietary pattern. Objective: to determine SSF’s content among snack food (SF) at school food stalls and intake of SSF from the SF among school-age children. Methods: This cross sectional study involved eighty-nine children age 8 to 12 at Madrasah Pembangunan elementary school in South Tangerang city  that randomly selected. Street food was classified as main dish, snacks and drinks. SSF content was determined by desk analysis through conversion of raw-cooked food, edible portion, estimated of intake sugar, salt and oil absorption from actual food weighing of listed snack foods. Intake of SSF was obtained from two non-consecutives 24 hours food recalls. FoodWorks and SPSS software were used to analyze food and descriptive analysis, respectively. Results: We found that almost one third of subjects experienced overweight (12.4%) and obesity (16.9%). There were 53 items of hawker foods were identified within school area and were comprised from 18 main dishes, 35 snacks and 10 drinks. Snack food contains more SSF content compared to main dishes. Salt is the highest contribution (120%) to recommended daily allowance compared to sugar and fat.Conclusion: The percentage contribution of snacks in school-age children consumption needs to be highlighted as an alarming wake-up call to introduce nutrition labelling on snacks sold at school areas.Keywords : snack food; sugar; salt; fat; school children ABSTRAKLatar belakang: Ngemil merupakan hal yang umum di kalangan anak usia sekolah dasar. Ironisnya, jajanan seringkali mengandung banyak gula, garam, dan lemak (GGL) yang banyak terdapat di lingkungan sekolah dan dapat menyebabkan pola makan yang buruk. Tujuan: untuk mengetahui kandungan GGL pada makanan jajanan di sekolah dan asupan GGL dari makanan jajanan pada anak sekolah. Metode: Studi cross sectional ini melibatkan delapan puluh sembilan anak usia 8 hingga 12 tahun yang dipilih secara acak. Makanan jalanan diklasifikasikan sebagai hidangan utama, makanan ringan dan minuman. Kandungan GGL ditentukan dengan analisis tabel melalui konversi makanan mentah, porsi yang dapat dimakan, perkiraan asupan gula, garam dan penyerapan minyak dari makanan aktual yang ditimbang dari makanan ringan yang terdaftar. Asupan GGL diperoleh dari dua penarikan makanan 24 jam non-berturut-turut. Perangkat lunak FoodWorks dan SPSS masing-masing digunakan untuk menganalisis makanan dan analisis deskriptif. Hasil: Hasil studi mendapatkan sepertiga anak sekolah responden kami mengalami kelebihan berat badan (12.4%) dan obesitas (16.9%). Teridentifikasi 53 jenis makanan jajanan di lingkungan sekolah yang terdiri dari 18 makanan utama, 35 makanan ringan dan 10 minuman. Makanan ringan mengandung lebih banyak kandungan GGL dibandingkan dengan makanan utama. Kontribusi garam dalam makanan ringan bahkan mecapai 120% dari angka kecukupan gizi , angka ini lebih tinggi dari persentase gula dan lemak.Kesimpulan: Persentase kontribusi GGL dari makanan ringan yang dikonsumsi anak sekolah perlu diawasi sebagai peringatan dini untuk memperkenalkan label gizi pada makanan jajanan yang dijual di lingkungan sekolah.Kata Kunci : camilan; gula; garam; lemak; anak sekolah 
ANTIMICROBIAL ACTIVITY OF LACTIC ACID BACTERIA ISOLATE FROM TRADITIONAL FERMENTED FOOD PEKASAM FROM SAMBAS REGENCY KALIMANTAN BARAT Azzahra, Uray Qiera Zelia; Maherawati, Maherawati; Fadly, Dzul
Journal of Nutrition College Vol 13, No 2 (2024): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i2.41203

Abstract

ABSTRACTBackground: Pekasam is a fermented product made from fish through a salting process with the addition of rice and incubated in a closed container for 4-10 days. The dominant bacteria that grow in pekasam are lactic acid bacteria. LAB have the potential to produce antimicrobial compounds that can inhibit the growth of pathogenic bacteria.Objectives: The aim of this study is to isolate LAB from pekasam and determine its antimicrobial activity against Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Salmonella typhi, and Pseudomonas aeruginosa.Methods: This study used a descriptive method with parameters such as total LAB colonies, microscopic and macroscopic morphology, and LAB antimicrobial activityResults: Total LAB colonies in this study ranged from 8,13×105–2,20×107 CFU/mL. The result of morphological identification showed that 32 isolates were bacilli and 1 were cocci with round-shape, flat edges, convex elevation, white and white-yellowish colors, and Gram positive. Based on antimicrobial activity, the highest (2,78 mm) inhibition zone was found in sample SB1 against Bacillus subtilis and the lowest (1,62 mm) was found in sample SB2 against Pseudomonas aeruginosa.Conclusion: The antimicrobial activity of all LAB isolates was categorized as weak because the inhibition zone was <5 mm.Keywords: Antimicrobial; lactic acid bacteria; pekasam; pathogenABSTRAKLatar belakang: Pekasam adalah produk fermentasi ikan yang dibuat melalui proses penambahan nasi dan penggaraman, kemudian diinkubasi di dalam wadah tertutup selama 4-10 hari. Proses pembuatan pekasam melibatkan BAL. BAL berpotensi menghasilkan senyawa antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi BAL dari pekasam dan mengetahui aktivitas antimikrobanya terhadap Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Pseudomonas aeruginosa.Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan parameter yang diamati meliputi total koloni BAL, morfologi koloni dan sel BAL, serta aktivitas antimikroba BAL.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan total BAL berkisar antara 8,13×105–2,20×107 CFU/mL. Hasil uji morfologi menunjukkan sebanyak 32 isolat BAL berbentuk basil dan 1 isolat berbentuk kokus dengan karakteristik bulat, tepian rata, elevasi cembung, berwarna putih susu dan putih kekuningan, serta Gram positif. Zona hambat tertinggi (2,78 mm) terdapat pada sampel SB1 terhadap bakteri Bacillus subtilis dan zona hambat terendah (1,62 mm) terdapat pada sampel SB2 terhadap bakteri Pseudomonas aeurignosa.Simpulan: Aktivitas antimikroba BAL terhadap bakteri patogen tergolong dalam kategori lemah karena diameter zona hambat yang dihasilkan <5 mm.Kata Kunci: Antimikroba; bakteri asam laktat; pekasam; patogen