cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 221 Documents
PEMANFAATAN SURIMI IKAN KURISI (Nemipterus sp.) PADA PEMBUATAN FISH ROLL DENGAN PENAMBAHAN DAGING YANG BERBEDA Saputra, Pradipta Ferry; Darmanto, Y S; Riyadi, Putut Har
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 4 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fish roll merupakan salah satu jenis produk diversifikasi ikan. Surimi merupakan bahan baku utama dalam pembutan fish roll. Mutu fish roll dipengaruhi oleh bahan baku utama dan bahan tambahan dimana tekstur menjadi salah satu parameter penting dalam penentuan mutu produk. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan penambahan daging yang berbeda yaitu udang, Tenggiri dan kepiting. Penelitian ini menggunakan parameter utama gel strength, uji lipat dan uji gigit, sedangkan parameter pendukungnya yaitu uji hedonik, uji proksimat (kadar air, protein dan lemak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan daging yang berbeda memberikan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05) terhadap uji gel strength, tetapi memberikan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap uji gigit dan memberikan perbedaan sangat nyata (P<0,01) terhadap uji lipat. Nilai tertinggi berdasarkan uji gel strength dengan nilai 1618,27 g.cm pada fish roll Tenggiri. Nilai uji hedonik yang terbaik kenampakan 7,43, bau 7,47, rasa 7,53 dan tekstur 7,27 pada fish roll Tenggiri. Nilai terbaik dari uji lipat 4,47 dan uji gigit 7,67 yaitu pada fish roll Tenggiri. Hasil pengujian kimiawi pada fish roll yaitu kadar air 70,43% pada fish roll Tenggiri, kadar protein 12,04% dan kadar lemak 3,35% pada fish roll kepiting. Penambahan daging yang menghasilkan tekstur paling baik dalam penelitian ini adalah dengan penambahan daging Tenggiri. 
EFEKTIVITAS LARUTAN ALGINAT DALAM MENURUNKAN KANDUNGAN LOGAM BERAT KADMIUM PADA DAGING KERANG HIJAU (Perna viridis) Chotimah, Siti Nur; Riyadi, Putut Har; Romadhon, Romadhon
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 4 (2016): Wisuda Periode Bulan Oktober 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.776 KB)

Abstract

Kerang hijau merupakan salah satu hasil laut yang banyak dikonsumsi masyarakat dan memiliki sifat menetap (filter feeders). Cara hidup dari kerang hijau yang menetap menyebabkan banyaknya kandungan logam berat yang terdapat dalam tubuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan lama perendaman (15, 30 dan 45 Menit) daging kerang hijau dalam larutan alginat 4,0% terhadap pengurangan kadar kadmium, kadar protein, kadar air, pH dan nilai organoleptik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan perlakuan lama waktu perendaman daging kerang hijau (0, 15, 30 dan 45 menit)  dan larutan alginat 4,0% dengan pengulangan 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama perendaman dalam larutan alginat memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap kadar cadmium, penurunan kadar protein, dan kenaikan kadar air. Namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap nilai pH. Hasil uji organoleptik memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap rasa dan tekstur, namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kenampakan dan bau. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman selama 30 menit dan konsentrasi larutan alginat 4,0% pada kerang hijau merupakan pengaruh perlakuan yang paling efektif untuk kualitas organoleptik kerang hijau.
PENGARUH PENAMBAHAN OZON SELAMA PENYIMPANAN DINGIN TERHADAP KADAR ASAM LEMAK BEBAS IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) Rahmahidayati, Ikfi; Agustini, Tri Winarni; Nur, Muhammad
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.02 KB)

Abstract

Sistem penyimpanan dingin ikan yang umum digunakan belum optimal dalam memperpanjang daya simpannya. Suatu bahan seperti ozon dapat ditambahkan pada sistem ini sebagai alternatif dalam mempertahankan mutu ikan dengan aman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan ozon pada penyimpanan dingin terhadap kadar asam lemak bebas ikan Nila Merah dan efektivitas ozon dalam pengawetan ikan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan Nila Merah utuh, ozon dan es slurry. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola terbagi oleh waktu ”Split Plot in Time”. Faktor konsentrasi ozon (0 ppm dan 3,5 ppm) sebagai sub plot dan lama penyimpanan (hari ke-0, 4, 8, 12 dan 16) sebagai main plot. Data nilai uji organoleptik dianalisis dengan uji Kruskal Wallis, sedangkan uji asam lemak bebas (FFA), pH dan Aw dianalisis menggunakan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi ozon dan lama penyimpanan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap nilai organoleptik, FFA dan Aw, namun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai pH (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai organoleptik berkisar antara 6,78 – 8,47; nilai FFA antara 0,340% – 0,865%; nilai pH antara 6,59 – 7,47; nilai Aw 0,894 – 0,992. Ikan Nila Merah dengan perlakuan ozon dapat diterima secara organoleptik hingga hari ke-16, namun perlakuan kontrol hanya bertahan hingga hari ke-12. Nilai FFA dengan perlakuan ozon lebih rendah daripada perlakuan kontrol.  Generally, chilling system of fish is not optimum to extending the shelflife. The substance such as ozone can be added to this system as an alternative method to maintain freshness quality of fish safely. This research was aimed to observe the effect of ozone addition on chilling system to free fatty acid of red tilapia and effectiveness of ozone for fish preservation. The material used were whole red tilapia, ozone and slurry ice. The method used in the research was experimental laboratories using Split Plot in Time Design. The factors consists of ozone concentration (0 ppm and 3.5 ppm) as sub plot and length of storage (0, 4, 8, 12 and 16 days) as main plot. The data of organoleptic value was analyzed by Kruskal Wallis, however free fatty acid (FFA), pH and Aw were analyzed by ANOVA. The result showed that different ozone concentration and length of storage gave significant effect (P < 0.05) to organoleptic value, FFA and Aw, but no significant effect on pH value (P > 0,05). Based on the results obtained organoleptic value range between 6.78 – 8.47; FFA value between 0.340% – 0.865%; pH value between 6.59 – 7.47; Aw value between 0.894 – 0.992. Organoleptic quality of red tilapia with ozone treatment can be accepted up to 16 days, but control treatment only lasted up to 12 days. FFA values with ozone treatment was also lower than control treatment.
KAJIAN AKTIVITAS BIOAKTIF EKSTRAK TERIPANG PASIR (Holothuria scabra) TERHADAP JAMUR Candida albicans Pranoto, Eunike Noviana; Ma'ruf, Widodo Farid; Pringgenies, Delianis
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Pengolahan dan bioteknologi hasil perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.502 KB)

Abstract

Sea cucumbers are found in Indonesian oceans. Sea cucumbers have been known containing substances as antifungal. Infection diseases in human caused by fungi, such as Candida albicans, are still high and antifungal drugs are less than antibacterial drugs in amount. Medical curing of Candidiasis chemically can use chemical agents. But they can caused resistance and side effects. The purpose of this research is to know the influence of different solvent and concentration usage of Holothuria scabra extract towards C. albicans and to know the bioactive substances contained in H. scabra. The results obtained from this research were: the best solvent to extract antifungal agents from H. scabra is methanol. Extract concentration of 5 mg/ml, 6 mg/ml,7 mg/ml showed inhibition zone continuously as high as 5,1 + 0,56 mm; 8,42 + 0,71 mm; 10,1 + 0,59 mm. The results are significantly different (P < 0,01), different (0,01 < P < 0,05), and not different (P > 0,05) for antifungal activity test. Bioactive substance test showed that alkaloid, saponin, steroid, and triterpene were found in H. scabra. H. scabra extract indicates potential activity as antifungal agent.    
PENGARUH PERBEDAAN BAHAN BAKU TERHADAP KANDUNGAN ASAM GLUTAMAT PADA TERASI Karim, Farhan Alfarobi; Swastawati, Fronthea; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.68 KB)

Abstract

Terasi merupakan salah satu produk perikanan yang pembuatannya dilakukan dengan proses fermentasi. Terasi umumnya berbahan dasar utama udang kecil yang sering disebut juga dengan udang rebon. Selain udang rebon, bahan baku dalam pembuatan terasi berasal dari ikan. Terasi berbahan baku udang rebon ataupun ikan memiliki potensi sebagai bahan pengganti penyedap rasa gurih “umami” karena adanya kandungan asam glutamat yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan baku yang berbeda terhadap kandungan asam glutamat dan kualitas terasi. Materi penelitian berupa terasi dari ikan teri segar, ikan petek segar dan udang rebon segar. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 3 perlakuan yaitu perbedaan bahan baku terasi (teri, petek dan udang rebon) dan 3 ulangan. Analisa pengujian mutu meliputi organoleptik, asam glutamat, protein, air, TPC, Aw, garam dan pH. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan perbedaan diantara perlakuan diuji dengan Uji Beda Nyata Jujur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan bahan baku memberikan perberbedaan nyata (p<0,05) terhadap nilai kadar protein, asam glutamat, kadar air, TPC, Aw dan pH. Perbedan bahan baku tidak memberikan perbedaan nyata (p>0,05) terhadap nilai kadar garam. Penggunaan bahan baku udang rebon menghasilkan produk terasi dengan nilai asam glutamat tertinggi (12,56%). Nilai organoleptik spesifikasi kenampakan, bau dan rasa menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,005), sedangkan tekstur dan jamur tidak memberikan perbedaan yang nyata (p>0,05). Kadar air dan pH terendah terdapat pada terasi dengan bahan baku rebon (Kadar air = 40,05%, pH = 6,28), sedangkan pada uji TPC dan Aw nilai terendah terdapat pada bahan baku Teri (TPC = 3,98×102, Aw = 0,82). Berdasarkan perlakuan  penggunaan bahan baku rebon memiliki kualitas terbaik diantara ketiga perlakuan dengan rata-rata nilai nilai organoleptik sebesar 7,87 ≤ µ ≤ 8,06, asam glutamat (12,56%), kadar protein (35,10%), kadar air (40,05%), TPC (1,74×103), Aw (0,84), kadar garam (0,64%) dan pH (6,28). Fish paste is a fisheries product that made by fermentation process. Fish paste usually made from planktonic shrimp or in Indonesian often known as “rebon”. Fish paste can be made from planktonic shrimp or fish as a potential substitute flavoring savory "umami" because of the content of glutamic acid. This research was aimed to determine the effects of using different raw materials to the content of glutamic acid and the quality of fish pastes. The research material were shrimp paste from fresh anchovies, fresh ponyfish and planktonic shrimp. The experimental design in this study was a randomized block design with 3 treatments in triplicates. Analysis of the samples quality included organoleptic, glutamic acid, protein content, water, TPC, Aw, salt content and pH. The data were analyzed by using ANOVA and the differences between treatments was tested using Significant Difference test. The results showed that the differences of raw materials significantly different (p<0.05) affect to the of protein content, glutamic acid, moisture content, TPC, Aw and pH. The differences of raw materials not significantly different (p>0.05) to the salt content. The use of raw material with a planktonic shrimp produced the highest value of glutamic acid (12.56%). The specification of organoleptic value appearance, odor and taste gived significant effect (p<0,05), while the texture and fungi gave no significant effect (p>0,05). The lowest moisture content and pH contained in shrimp paste with the raw materials of planktonic shrimp (moisture content = 40,05%, pH = 6,28), meanwhile at the TPC test and Aw the lowest value contained in raw materials of anchovy (TPC = 3,98×102, Aw = 0,82). Based on the treatment using planktonic shrimp as raw material showed the best quality of raw material among the others with an average value of organoleptic 7.87 ≤ μ ≤ 8.06, glutamic acid (12.56%), protein content (35,10%), water content (40.05%), TPC (1,74×103 colony/g), Aw (0.84 ), salt content (0,64%) and pH (6.28). 
APLIKASI KARAGENAN DAN ALGINAT DI DALAM PEMBUATAN PASTA IKAN KUNIRAN (Upeneus sulphureus) SELAMA PENYIMPANAN SUHU DINGIN Sri Rahayu; Y S Darmanto; Apri Dwi Anggo
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 2 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karagenan merupakan hidrokoloid yang diperoleh dari hasil ekstrak rumput laut merah (Rhodophyta). Alginat merupakan salah satu jenis hidrokoloid, yaitu suatu sistem koloid oleh polimer organik di dalam air. Keduanya mempunyai fungsi sebagai pembentuk gel. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kappa karagenan, iota karagenan dan alginat terhadap kualitas pasta ikan (bakso) selama penyimpanan suhu dingin. Penggunaan karagenan dan alginat sebanyak 3% dari berat daging ikan, pengujian pasta ikan dilakukan setiap  1 minggu sekali selama 21 hari meliputi uji gel strength, kadar air, kadar Aw. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa pasta ikan (bakso) dengan penambahan kappa karagenan mendapatkan nilai kekuatan gel terbaik yaitu: 1884,500±0,36 g.cm, lalu iota karagenan yaitu: 1313,567±0,90 g.cm, alginat: 1278,010±0,61 g.cm dan kontrol: 1149,397±0,94 g.cm. Selama 21 hari proses penyimpanan suhu dingin (4oC) didapatkan nilai gel strength terbaik dengan penambahan kappa karagenan yaitu 2727,460±0,56 g.cm. Penambahan kappa karagenan memberikan pengaruh paling tinggi terhadap kekuatan gel selama penyimpanan suhu dingin dibandingkan iota karagenan dan alginat.
PENGARUH PENGGUNAAN GAMBIR (Uncaria gambier) SEBAGAI BAHAN PENYAMAK PADA PROSES PENYAMAKAN KULIT TERHADAP KUALITAS FISIK KULIT IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Setiawan, Agus; Riyadi, Putut Har; Sumardianto, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.963 KB)

Abstract

Tanning atau Penyamakan merupakan salah satu tahapan dari proses penyamakan dimana tanning bertujuan untuk menghentikan laju pembusukan kulit dengan memantapkan protein oleh agensia penyamak pada tempat yang reaktif, salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan penyamak nabati adalah gambir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tannin gambir terhadap kualitas fisik dari kulit ikan nila samak. Parameter pengujian adalah suhu kerut, kemuluran, kekuatan sobek, kekuatan tarik dan kadar kelemasan. Penelitian menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan bertambahnya konsentrasi bahan penyamak belum tentu akan menghasilkan kulit samak yang terbaik pula. Nilai terbaik terdapat pada konsentrasi 15%, karena semua nilai rata-ratanya pada pengujian lain paling mendekati nilai yang terbaik yaitu penelitian pendahuluan dengan nilai kekuatan tarik 2054,82 N/cm2, nilai kemuluran 79,14% dan nilai suhu kerut 102,67 0C. Penelitian utama dengan nilai kekuatan tarik 1963,80 N/cm2, nilai kemuluran 77,22 %, nilai suhu kerut 104,00 0C, nilai kekuatan sobek 300,22 N/cm2 dan nilai kelemasan 4,41 mm. Tanning is a process which aims to stop the rate of decay of skin to stabilize proteins by agnesia tanner in reactive place. One of the materials that can be used as a vegetable tanning material is gambier. The purpose of this study was to determine the influence of using tannin of gambier for the physical quality of tilapia that have been tanned. The parameter tests are the value of : shrinkage temperature, elongation, tearing strength, tensile strength and softness test. The study war used experimental Completely Randomized Design (CRD) with three times treatmentss. Data were analyzed by variance analysis (ANOVA). To determine the differences between the treatment of tested data with Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that with increasing concentration of tanners will not necessarily produce the best leather anyway. The best values are at a concentration of 15%, because of all the average value in other testing closest best value that preliminary treatment with values of tensile strength 2054,82 N/cm2, elongation value of 79,14% and shrinkage temperature value 102,67 0C. The main treatment with the value of tensile strength 1963,80 N/cm2, elongation value 77,22%, shrinkage temperature value of 104,00 0C, tearing strength value of 300,22 N/cm2 and softness value of 4,41 mm.
APLIKASI PENAMBAHAN GELATIN DARI BERBAGAI KULIT IKAN TERHADAP KUALITAS PASTA IKAN TUNUL (Sphyraena picuda) Kesuma, Indah; Darmanto, Y S; Riyadi, Putut Har
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 4 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.943 KB)

Abstract

Fish paste is a minced fish mixed with flour, vegetables, and other spices. Fish paste is a dough for basic fish jelly products such as fish balls, fish sausage, kamaboko, etc. This study was observed to determine the effect of adding gelatin from various fish skin to barracuda fish paste. Fish processing industry has developed in Indonesia left the by-products of fish skins. The usage of fish skins become gelatin could overcome the worried of the certain people on gelatin made from bone or skin cow and pork. The result showed that the adding of various fish skin gelatin gives a very significant effect  to the value of gel strength, texture, and folding test, but does not give the significant effect on the hedonic value of fish paste. Based on the results it can be concluded that the catfish skin gelatin gave the best effect for the fish paste. Fish gelatin has not been developed yet, but fish gelatin is potential to develop because its characteristics that can make qulity of fish paste better. 
PENGARUH EDIBLE COATING NATRIUM ALGINAT DALAM MENGHAMBAT KEMUNDURAN MUTU DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus) SELAMA PENYIMPANAN SUHU RENDAH Herbowo, Muhammad Seno; Riyadi, Putut Har; Romadhon, Romadhon
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 3 (2016): Wisuda Periode Bulan Agustus 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.349 KB)

Abstract

Rajungan (P. pelagicus) merupakan komoditi perikanan yang  mudah rusak. Alginat termasuk kelompok hidrokoloid, memiliki potensi sebagai edible coating pada produk pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian edible coating natrium alginat terhadap lama simpan daging rajungan pada suhu rendah, serta konsentrasi edible coating natrium alginat terbaik. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah natrium alginat, gliserol, CaCl, dan daging rajungan. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories, menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Faktor pertama konsentrasi edible coating natrium alginat (0%; 1,5%; 2% dan 2,5%) dan Faktor kedua lama penyimpanan (hari ke-0, 1, 2, 3, dan 4). Data nilai uji organoleptik dianalisis dengan uji Kruskal Wallis, dan uji total plate count (TPC), TVBN, protein, dan kadar air dianalisis menggunakan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya interaksi antara konsentrasi edible coating natrium alginat dan lama penyimpanan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai TPC, TVBN, protein, dan kadar air. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai selang kepercayaan organoleptik terbaik pada konsentrasi natrium alginat 2% berkisar antara 7,008 ≤ µ ≤ 7,325, logaritma TPC berkisar antara 3,74 – 4,76 cfu/g; nilai TVBN berkisar antara 11,59 – 18,30 mg/100g; nilai kadar protein berkisar antara 16,29% – 13,88%; nilai kadar air antara 77,59% - 77,99%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa edible coating natrium alginat berpengaruh dalam mempertahankan mutu daging rajungan selama penyimpanan suhu rendah. Edible coating natrium alginat 2% merupakan konsentrasi terbaik, mampu mempertahankan mutu daging rajungan hingga hari ke 4.
PENGARUH PERBEDAAN KADAR GARAM TERHADAP MUTU ORGANOLEPTIK DAN MIKROBIOLOGIS TERASI REBON (Acetes sp.) Aristyan, Indra; Ibrahim, Ratna; Rianingsih, Laras
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.954 KB)

Abstract

Proses pembuatan terasi yang dilakukan oleh pengolah ikan ataupun dalam penelitian terasi di Indonesia masih menggunakan prosentase garam yang berbeda-beda, berkisar antara 2% – 20%, bahkan ada yang tidak menggunakan garam sama sekali. Konsentrasi garam yang terlalu sedikit dikhawatirkan akan membuat terasi mudah tercemar bakteri pathogen dan bermutu kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar garam yang berbeda (2%, 8,5%, dan 15%) terhadap mutu terasi rebon secara organoleptik dan mikrobiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata terhadap nilai organoleptik dan jumlah koloni bakteri terasi rebon. Semakin tinggi kadar garam semakin tinggi nilai kenampakan dan tekstur, tetapi semakin rendah nilai Aw, Total koloni bakteri S. aureus dan jumlah koloni bakteri Halofilik. Hasil pengujian E. coli, Salmonella, V. cholera, menunjukkan hasil negatif. Produk terasi yang terbaik yaitu produk yang ditambah garam 15% dengan nilai organoleptik rata-rata 8,1 tetapi cemaran mikrobanya tidak memenuhi syarat SNI. The process of making shrimp paste which is done by fish processors or in some researches in Indonesia is still using different percentages of salt, ranging between 2% to 20%, even without salt. The concentration of small amount of salt in shrimp paste could easy to be contaminated by pathogenic bacteria and has the poor quality. The purpose of this research was to know the influence of different percentages of salt (2%, 8.5%, 15%) toward sensory and microbiological quality of shrimp paste. The results showed that the using of different percentages of salt in making shrimp paste made of mysids caused a significant influence toward sensory and the total colonies of halophilic bacteria of shrimp paste. The higher the salt percentage the higher the value of appearance and the texture, but the lower the Aw value, total colonies of S. aureus bacteria and total colonies of Halophilic bacteria. Total colonies of E. coli, Salmonella, V. cholera bacteria, showed the negative result. The best quality of shrimp paste product was the product that was added by 15% salt which has the average sensory value 8,1 but the number of bacteria did not meet the requirement of SNI.Â