cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 221 Documents
PERBEDAAN KUALITAS IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsk) DURI LUNAK YANG DIPROSES MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR KAYU DAN BRIKET ARANG Darmawan, Adhitya Wahyu; Agustini, Tri Winarni; Riyadi, Putut Har
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 1(2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wood is the fuel used in the processing of milkfish soft thorns. Briquette charcoal is analternative fuel that can replace wood. The research was conducted to determine the effect oflong cooking using charcoal briquettes (9, 10 and 11 hours) and the firewood for 10 hours(control) to the organoleptic and nutritional quality milkfish soft thorns.The material in this research is as much as 200 kilograms of milk fish (±500gr/pcs), salt2%. Experimental design used was completely randomized design, comparing the differencein the length of time cooking charcoal briquettes 9, 10 and 11 hours and 10 hours firewood(control). The parameters measured were the levels of protein, fat, water, ash, andorganoleptic.The results showed that the difference in the length of time cooking (charcoalbriquettes) provides a very real difference (P<0,01) the levels of protein, fat, water and ashand organoleptic. The results of organoleptic owned milkfish duri lunak best with 9 hours ofcooking time using charcoal briquettes in the amount of 8,18< m< 8,9, while cooking using charcoal briquettes for 10 and 11 hours as well as firewood for 10 consecutive hours is :7,83<m<8,42, 7,89<m<8,24, 8,13<m< 8,51.
KARAKTERISTIK LEM DARI TULANG IKAN DENGAN HABITAT YANG BERBEDA (PAYAU, TAWAR, LAUT) Rohmah, Dinar Yuliati Nur; Darmanto, YS; Amalia, Ulfah
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.106 KB)

Abstract

Limbah tulang ikan dalam industri perikanan saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan limbah sisa olahan ikan tersebut perlu dikembangkan sehingga tidak menjadi sumber pencemaran lingkungan. Salah satu inovasi pemanfaatan limbah tulang ikan yaitu dapat dijadikan lem ikan. Lem ikan adalah bahan perekat yang berasal dari bagian ikan seperti kulit atau tulang, dan merupakan hasil ekstraksi kolagen dengan menggunakan pelarut bersifat asam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis tulang ikan yang digunakan terhadap karakteristik dan mutu lem ikan yang dihasilkan.  Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulang ikan bandeng, nila dan manyung yang masing-masing didapatkan dari sentra pengolahan Bandeng Semarang Indah, PT Aquafarm Nusantara Semarang, dan sentra pengasapan Bandarharjo. Pada penelitian ini tulang ikan diekstraksi menggunakan larutan asam asetat 5% selama 4 jam dengan suhu 65 – 70°C. Parameter pengujian dalam penelitian ini adalah keteguhan rekat, kerusakan kayu, viskositas, derajat keasaman (pH), dan kadar air. Penelitian ini dilakukan dengan metode percobaan laboratoris menggunakan rancangan dasar acak lengkap dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tulang ikan manyung sebagai bahan baku pembuatan lem ikan merupakan perlakuan terbaik karena karakteristik lem ikan yang dihasilkan memenuhi SNI 06-6049-1999 tentang Polivinil Asetat untuk Pengerjaan Kayu dengan hasil: kerusakan kayu 68.13%, viskositas 6.14 poise, pH 4.45, dan kadar air 54.84%. Nowadays, fishbone waste in fisheries industries are not yet used optimally. Waste utilization from fish processing need to be developed so that it won’t become environmental contamination. An innovation to utilize fishbone waste is to make it to be fish glue. Fish glue is an adhesive from parts of fish such as skin and fishbone and is the result from collagen extraction process by using acidic solvent. The main purpose of this research is to find out the effect of different types of fishbone toward the fish glue’s characteristic and quality. The used materials in this research are milkfish bones, tilapia bones, and seawater catfish bones which obtained from Semarang Indah Milkfish processing center, PT Aquafarm Nusantara Semarang, and Bandarharjo smoked fish center. In this research fishbones were extracted using acetic acid 5% for 4 hours in 65 – 70°C. The testing parameters in this research are bonding strength, timber damage, viscosity, pH, and water content. This research was conducted with a laboratory experiment using a completely basic randomized design with three replications. The result of this research showed that by using seawater catfish bones as the glue’s raw material, it shows the best result and the characteristic meet Indonesia’s National Standart (SNI) 06-6049-1999 about Polivinyl Acetat for Wood Processing which are: timber damage 68.13%, viscosity 6.14 poise, pH 4.45, and water content 54.84%.
EVALUASI ORGANOLEPTIK DAN KARAKTERISTIK KIMIA IKAN PATIN (Pangasius sp) ASAP MENGGUNAKAN METODE PENGASAPAN YANG BERBEDA Yuniarti, Riza; Swastawati, Fronthea; Surti, Titi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 3 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Ikan patin asap merupakan produk pangan yang tergolong memiliki karakteristik yang khas terutama pada warna, tekstur, flavor dan sifat kimianya. Kandungan protein ikan patin tergolong tinggi, namun di sinyalir dapat terpengaruh oleh proses pengasapan terutama asam amino lisinnya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas ikan patin asap yang diolah dengan metode berbeda, tungku (T) dan smoking cabinet (SC). Penelitian bersifat eksperimental lapangan dengan uji statistik independent sample t-tes dan single test. Hasil penelitian menunjukkan, nilai organoleptik ikan asap dengan metode T dan SC berturut-turut adalah 7,49 ≤ µ ≤ 7,84 dan 7,75 ≤ µ ≤ 8,01 pada taraf uji 95% sehingga layak untuk dikonsumsi namun tidak berbeda nyata antara kedua metode (P>0,05). Kadar air, kadar protein, kadar lemak dan kadar abu berturut-turut adalah (T); 61,59%; 21,22%; 5,74%; 1,86%; dan (SC) 63,24%; 21,88%; 7,61%; 2,25%. Hasil uji kadar abu menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata (P>0,05), sedangkan untuk kadar air, protein dan lemak menunjukkan hasil berbeda nyata (P<0,05). Kandungan fenol yang dihasilkan sangat tinggi yaitu 1317 ppm (T) dan 1427 ppm (SC), berdasarkan hasil t-test menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (P>0,05). Kandungan asam amino lisin pada ikan patin Asap yaitu 4,6% (T) dan 4,36% (SC). Metode (SC) menghasilkan kualitas yang lebih baik dalam hal nilai organoleptik dan karakteristik daripada metode (T), tetapi metode (T) cenderung lebih baik dan mempertahankan ketersediaan lisin dibandingkan pengasapan (SC).  
PENGARUH ”SOGA TINGI” (Cerios tagal) SEBAGAI BAHAN PENYAMAK TERHADAP KUALITAS FISIK DAN KIMIA KULIT IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsk) Zulfa, Feniya; Swastawati, Fronthea; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.047 KB)

Abstract

Penyamakan adalah proses konversi protein kulit mentah menjadi kulit samak yang stabil, tidak mudah membusuk, dan cocok untuk beragam kegunaan, salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan penyamak nabati adalah soga tingi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan tanin soga tingi terhadap kualitas fisik dan kimia dari kulit ikan bandeng samak. Materi yang digunakan yaitu kulit ikan bandeng yang diperoleh dari home industry Fania Food, Yogyakarta. Larutan soga tingi diperoleh dari desa Jetis Baran, Sleman Yogyakarta. Parameter pengujian meliputi kekuatan tarik, kemuluran, kekuatan sobek, suhu kerut, kadar air, kadar minyak, dan kadar zat larut dalam air. Penelitian menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan perlakuan konsentrasi 27,5%, 30%, 32,5% dan 20% mimosa sebagai kontrol. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa soga tingi dengan konsentrasi bahan penyamak yang berbeda berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kekuatan tarik, kemuluran, kekuatan sobek, suhu kerut, kadar air, kadar minyak, dan kadar zat larut dalam air. Kulit samak ikan bandeng dengan konsentrasi soga tingi 27,5% merupakan hasil yang terbaik dengan kriteria mutu : kekuatan tarik (1923,51N/cm2), kemuluran (24,86%), kekuatan sobek (420,28 N/cm2), suhu kerut (90,67°C), kadar air (14,13%), kadar minyak (8,43%), dan kadar zat larut dalam air (5,12%). Tanning is the process of converting raw skin protein into stable leather which not decompose easily, and suitable for various uses. One of the ingredients that can be used as a tanning materials is soga tingi. The research aimed was to determine the effect of the soga tingi tannins towards the physical and chemical the quality of fish skin leather. The material which used in this research were milkfish skin that obtained from Fania Food home industry, Yogyakarta. Soga tingi solution obtained from Jetis Baran village, Sleman, Yogyakarta. All samples were analyzed for tensile strength, elongation, tear strength, wrinkle temperature, moisture content, oil content, and levels of water-soluble substances. This research was charactereized as experimental laboratories using Completely Randomized Design (CRD) in triplicates with three different treatment concentrations (27.5%, 30%, 32,5% and 20% mimosa as a control). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA). To determine differences among the treatments the data was tested using, Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that Soga tingi with different concentrations of tanner gave the significant result (p<0,05) for tensile strength, elongation, tear strength, wrinkle temperature, moisture content, oil content, and levels of water-soluble substances. Leather fish with a concentration of 27,5% soga tingi was the best result with the quality criteria : tensile strength (1923,51 N/cm2), at break elongation (24,86%), tear strength (420,28 N/cm2), wrinkle temperature (90,67°C), moisture content (14,13%), oil content (8,43%), and the levels of substances soluble in water (5,12%).
EFEKTIVITAS LENGKUAS (Alpinia galanga) SEBAGAI PEREDUKSI KADAR FORMALIN PADA UDANG PUTIH (Penaeus merguiensis) SELAMA PENYIMPANAN DINGIN Miftahul Jannah; Widodo Farid Ma&#039;ruf; Titi Surti
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.643 KB)

Abstract

Udang Putih merupakan salah satu hasil perikanan yang mudah busuk, maka penambahan formalin sering digunakan untuk memperpanjang masa simpannya. Salah satu cara untuk menanggulangi  formalin adalah dengan menggunakan lengkuas yang mengandung saponin sehingga dapat mereduksi kadar formalin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi larutan lengkuas dan lama perendaman yang terbaik dalam mereduksi formalin, serta pengaruh penyimpanan suhu dingin terhadap kadar formalin udang Putih. Penelitian ini bersifat experimental laboratories. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x4. Parameter yang diukur adalah kadar formalin, TPC, pH, kadar air, dan nilai organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan penyimpanan dingin (0, 3, 6, dan 9 hari) memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) pada kedua perlakuan terhadap kadar formalin (Fhitung (101.762) > Ftabel (3.24)), TPC (Fhitung (4167.653) > Ftabel (3.24)), pH (Fhitung (261.652) > Ftabel (3.24)), kadar air (Fhitung (129.177) > Ftabel (3.24)), dan nilai organoleptik yaitu kenampakan (X2Hitung  (136.940) > X2Tabel (14.067)), bau (X2Hitung  (168.006) > X2Tabel (14.067)), serta tekstur (X2Hitung  (136.036) > X2Tabel (14.067)).  Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan larutan lengkuas efektif dan mempunyai pengaruh positif dalam mereduksi kadar formalin mencapai 63% pada Udang Putih.
KARAKTERISTIK EDIBLE FILM DARI CAMPURAN TEPUNG SEMIREFINED KARAGINAN DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TAPIOKA DAN GLISEROL Saputro, Benediktus Wahyu; Dewi, Eko Nurcahya; Susanto, Eko
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 2 (2017): Periode Wisuda Bulan April 2017
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.226 KB)

Abstract

Edible film merupakan jenis pengemas makanan yang berbentuk lembaran tipis atau film yang dapat dicerna oleh tubuh. Edible film yang dibuat dari komponen tunggal hasilnya tidak terlalu baik, maka perlu adanya   campuran antara beberapa bahan serta penambahan bahan aditif lainnya. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan  formulasi terbaik  dari edible film. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semi refined karaginan, tepung tapioka, dan gliserol. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium, rancangan percobaan  yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diterapkan yaitu perbedaan konsentrasi tepung tapioka (0,3%, 0,5%, dan 0,7%)  dengan 3 kali pengulangan. Parameter pengujian yang diamati berupa kuat tarik (MPa), persen  pemanjangan (%), ketebalan (mm), dan laju transmisi  uap air (g/m2/jam). Data di analisa menggunakan analisa sidik ragam (ANOVA), dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk mengetahui perlakuan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi tepung tapioka memberikan pengaruh yang sangat nyata (p<0.05) terhadap parameter kuat tarik, persen pemanjangan, ketebalan, dan laju transmisi uap air. Edible film terbaik dihasilkan dari perlakuan konsentrasi semi refined karaginan 1%, tepung tapioka 0,7%, dan gliserol 0,5% dengan hasil karakteristik kuat tarik 39,42 MPa, persen pemanjangan 66,02%, laju transmisi uap air 1,28 g/m2/jam, dan ketebalan 0,09 mm.
PENGARUH PENGGUNAAN BIOAKTIVATOR EM4 DAN PENAMBAHAN DAUN LAMTORO (Leucaena leucocephala) TERHADAP SPESIFIKASI PUPUK ORGANIK CAIR RUMPUT LAUT Eucheuma spinosum Ratrinia, Putri Wening; Ma'ruf, Widodo Farid; Dewi, Eko Nurcahya
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.582 KB)

Abstract

Pemakaian pupuk organik sangat dianjurkan karena dapat memperbaiki produktivitas tanah, baik secara fisik, kimia, maupun biologi tanah. Rumput laut E. spinosum mengandung unsur mikro dan makro nutrien, serta zat pengatur tumbuh tanaman seperti auksin, gibberellin, cytokinin, dan etilen sehingga sangat potensi yang besar sebagai pupuk organik penyubur tanaman. Penambahan daun lamtoro (L. leucocephala) basah berfungsi sebagai sumber nitrogen, fosfor dan kalium pada ekstrak pupuk rumput laut cair. Unsur tersebut merupakan unsur yang dibutuhkan tanaman, sehingga diharapkan akan meningkatkan mutu pupuk organik cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bioaktivator EM4 dan daun lamtoro (L.leucocephala) terhadap kandungan C-organik, nitrogen, phosphor, kalium, pH,dan bakteri patogen. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan penambahan dengan 3 taraf perlakuan kontrol (E1), penambahan EM4 (E2), dan penambahan EM4+daun lamtoro (E3) masing-masing tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan EM4 dan daun lamtoro memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap kadar C-organik (E1=6,53% ; E2=4,93% ; E3=4,19%), kadar nitrogen (E1=1,03% ; E2=2,43% ; E3=4,35%), kadar fosfor (E1=0,30% ; E2=0,31% ; E3=0,36%), kadar kalium (E1=0,96% ; E2=1,04% ; E3=1,23%),pH(E1=6,53; E2=5,54 ; E3=7,05) dan kandungan bakteri patogen Escherichia coli dan Salmonella sp pada semua perlakuan adalah negatif. The use of organic fertilizer is highly recommended because it can improve the productivity of the land, whether physical, chemical, and biological soil. E. spinosum seaweed contains elements of micro and macro nutrients, and plant growth regulators such as auxin, gibberellin, cytokinin, and ethylene so it is has great potential as an organic fertilizer for fertilising crops. Addition lamtoro (L. leucocephala) serves as a source of nitrogen, phosphorus and potassium in the liquid organic fertilizer. The element is needed by plants, which is expected to improve the quality of liquid organic fertilizer. This study aims to determine the effect of bio-activator EM4 and lamtoro (L. leucocephala) on the content of C-organic, nitrogen, phosphorus, potassium, pH, and bacterial pathogens. This research used exsperimental laboratories. The experimental design used was completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 3 replications, namely the control treatment (E1), the addition of EM4 (E2), and the addition of EM4 + leaf lamtoro (E3). Parameters measured were C-organic, nitrogen, phosphorus, potassium, pH, bacterial pathogens. Parametric data were analyzed by ANOVA.The results showed that the addition of EM4 and lamtoro significant effect (P <0.05) the levels of c-organic (E1 = 6.53%; E2 = 4.93%, E3 = 4.19%), nitrogen (E1 = 1.03%; E2 = 2.43%, E3 = 4.35%), phosphorus levels (E1 = 0.30%; E2 = 0.31%, E3 = 0.36%), potassium levels (E1=0,96% ; E2=1,04% ; E3=1,23%), pH (E1 = 6.53; E2 = 5.54; E3 = 7.05) and the content of pathogenic bacteria Escherichia coli and Salmonella sp was negative in all treatments.
PERBEDAAN KONSENTRASI MIMOSA PADA PROSES PENYAMAKAN TERHADAP KUALITAS FISIK DAN KIMIA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Kholifah, Nunung; Darmanto, YS; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.336 KB)

Abstract

Penyamakan kulit merupakan suatu proses pengolahan untuk mengubah kulit mentah hides maupun skines menjadi kulit tersamak atau leather. Kulit mentah mudah sekali membusuk dalam keadaan kering, keras dan kaku, sedangkan kulit tersamak memiliki sifat sebaliknya. Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi mimosa terbaik terhadap kualitas  kulit ikan nila samak ditinjau dari kekuatan tarik, kemuluran, kekuatan sobek, kadar air dan pH. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit ikan nila (Oreochromis niloticua) yang didapat dari PT Aquafarm Nusantara, Semarang. Parameter pengujian adalah kekuatan tarik, kemuluran, kekuatan sobek, pH dan kadar air. Penelitian menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi mimosa berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kualitas fisik yaitu kekuatan kekuatan tarik, kemuluran dan kekuatan sobek dan tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas kimia yaitu kadar air dan pH. Kulit ikan nila tersamak dengan perlakuan penambahan mimosa 30% memiliki kekuatan fisik dan kimia terbaik yaitu, kekuatan tarik (2164.97 N/cm2); kemuluran (10.71 %); kekuatan sobek (234.69 N/cm2); kadar air (17 %) dan pH (4.2), namun kulit samak dengan penambahan mimosa 10% merupakan produk yang sudah memenuhi kriteria mutu : kekuatan tarik (1671.17 N/cm2); kemuluran (12.49%); kekuatan sobek (192.07 N/cm2); kadar air (16.99%); dan pH (4.22). Tanning is a raw hides and skins conversion process into leather skines or leather. Raw skin can be rot easily in dry, hard and stiff conditions, while leather has the skin instead. The objective of this research was to determine the best mimosa concentration on quality fish tilapia leather skin in terms of tensile strength, elongation, tear strength, water content and pH. The material used in this research was skin tilapia (Oreochromis niloticua) bought from PT Nusantara Aquafarm, Semarang. The testing parameters were tensile strength, elongation, tear strength, moisture content and pH. This research used Completely Randomized Design (CRD) with three replication. Data were analyzed using analysis of varians (ANOVA). Comparison of means was carried out by Honestly Significant Difference Test (HSDT). Results of this research showed that different concentration of mimosa has significantly effected (p. < 0.05) against physical quality that is the strength of tensile strength, elongation and tear strength and not significantly effected on the chemical qualities that is  water content and pH. Tilapia fish leather skin with 30% mimosa adding was the best product which had the quality criteria : tensile strength (2164.97 N/cm2); elongation (10.71 %); tear strength (234.69 N/cm2); moisture content (17%) and pH (4.2), but leather skin with 10% mimosa adding was already fulfilled quality criteria : tensile strength (1671.17 N/cm2); elongation (12 %); tear strength (192.07 N/cm2); water content (16.99 %); and pH (4.22).
KARAKTERISTIK KUALITAS DAN TINGKAT KEAMANAN IKAN PARI (Himantura sp.) ASAP YANG DIOLAH DENGAN METODE PENGASAPAN BERBEDA Kumayanjati, Bayu; Swastawati, Fronthea; Riyadi, Putut Har
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 2 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas ikan asap adalah metode pengasapan. Kandungan fenol akan menentukan kenampakan ikan asap yang mengkilat dan rasa yang khas. Kandungan fenol yang terlalu tinggi (>317 ppm) cenderung  menghasilkan Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) yang bersifat karsinogenik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas dan tingkat keamanan ikan pari asap yang diolah dengan metode berbeda, tradisional (T) dan smoking cabinet (SC). Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental lapangan dengan uji statistik independent sample t-test. Hasil uji organoleptik ikan pari asap metode T dan SC berturut-turut adalah 7,55£m£7,98 dan 7,59£m£8,03, (P>0,05). Kadar air berturut-turut 64,04% dan 64,44% (P>0,05). Kandungan fenol berturut-turut 0,08% (800 ppm) dan 0,27% (2700 ppm) (P<0,01). Hasil uji PAH sebagai indikator karsinogenik yaitu benzo(a)pyrene berturut-turut 0,32 ppm (T) dan 0,01 ppm (SC).  Kualitas ikan asap kedua metode hampir sama, ini dapat dilihat dari hasil uji organoleptik dan kadar air, namun kadar air ikan pari asap kedua metode belum memenuhi standar SNI (60%). Kandungan fenol kedua metode melebihi standar 317 ppm. SC sebagai alat pengasapan dinilai lebih aman dibandingkan metode tradisional dan berdasarkan nilai benzo(a)pyrene ikan asap SC sudah memenuhi European Standard (0,01 ppm).
PENGARUH TRANSGLUTAMINASE TERHADAP MUTU EDIBLE FILM GELATIN KULIT IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcalifer) Salimah, Tutuk; Ma'ruf, Widodo Farid; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.64 KB)

Abstract

Plastik merupakan pengemas makanan yang berpotensi menyebabkan keracunan bila digunakan pada makanan, sehingga diperlukan bahan kemasan yang aman apabila dikonsumsi oleh manusia yaitu edible film. Edible film yang terbuat dari protein mempunyai sifat hidrofilik sehingga dapat menyerap sejumlah air pada RH tinggi. Penggunaan transglutaminase membantu memperbaiki kualitas edible film. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan transglutaminase terhadap nilai permeabilitas uap air, kadar air, ketebalan, persen pemanjangan, kekuatan tarik, dan kelarutan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelatin, transglutaminase, dan gliserol. Metode penelitian bersifat experimental laboratories dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan perbedaan konsentrasi transglutaminase (0,2%; 0,4%; 0,6%) serta kontrol dengan pengulangan 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji ANOVA, jika hasil Fhitung ≥ Ftabel maka dilakukan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan transglutaminase dapat menurunkan permeabilitas uap air dan kadar air, serta meningkatkan ketebalan, kekuatan tarik, dan persen pemanjangan. Penelitian menunjukkan bahwa penambahan transglutaminase dibandingkan tanpa penambahan transglutaminase dapat merubah nilai permeabilitas uap air 0,775 -1,13  (g.m-1.s-1.pa-1), kadar air 13,45 - 15,26 (%), ketebalan 0,081 – 0,107 (mm), persen pemanjangan 14,13 – 79,67 (%), kekuatan tarik 5,18 – 39,71 (MPa). Plastic are food packaging that potentially causes toxicity when it is used in food, so we need packaging materials which is safe when consumed by humans being, one of them is edible film. Edible film is made from proteins which have hydrophilic properties so it can be absorbed a certain amount of water at high RH. The used of transglutaminase help to improve the quality of edible film. The aimed of this study was to determine the effect of transglutaminase on water vapor permeability value, moisture content, thickness, percent elongation, tensile strength, and solubility. The materials used in this study were gelatin, transglutaminase, and glycerol. The researched method was experimental laboratories used completely randomized design (CRD), which consists of 3 different treatments of transglutaminase concentration (0.2%; 0.4%; 0.6%) and control in triplicates. Data were analyzed using ANOVA, if the result Fcount ≥ Ftable then the treatment performed by Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that the addition of transglutaminase decrease the water vapor permeability and water content, as well as increasing the thickness, tensile strength, and percent elongation. The research showed that the addition of transglutaminase compared to without transglutaminase indicates changes on water vapor permeability values 0,775 to 1,13 (g.m-1.s-1.pa-1), the water content of 13,45 to 15,26 (% ), thickness 0,081 to 0,107 (mm), percent elongation 14,13 to 79,67 (%), tensile strength 5,18 to 39,71 (MPa).